Benarkah Syi’ah Sudah Ada Sejak Zaman Nabi ﷺ? – Part 1
Pertanyaan:
Apakah kelompok Syi’ah sudah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ? Benarkah Nabi ﷺ telah menamai sebagian sahabat sebagai “Syi’ah Ali”? Ataukah istilah tersebut baru muncul setelah wafatnya beliau?
Jawaban:
Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Untuk memahami masalah ini secara adil dan ilmiah, kita perlu membedakan antara makna bahasa, penggunaan istilah dalam Al-Qur’an, keadaan pada masa para sahabat, dan perkembangan sejarah setelahnya. Banyak kesalahpahaman muncul karena seluruh fase tersebut disamakan, padahal para ulama sejarah Islam menjelaskan bahwa istilah Syi’ah mengalami perkembangan makna dari masa ke masa.
Karena itu, pembahasan ini perlu dipisahkan menjadi beberapa bagian.
Makna Kata Syi’ah Secara Bahasa
Secara bahasa Arab, kata شِيعَة (syi’ah) berasal dari akar kata ش ي ع, yang bermakna: pengikut, pendukung, golongan, kelompok, dan orang-orang yang mengikuti seseorang.
Imam Ibnu Manzhur rahimahullah (w. 711 H) berkata dalam Lisan Al-‘Arab:
الشِّيعَةُ: الْأَتْبَاعُ وَالْأَنْصَارُ
“Syi’ah adalah para pengikut dan para pendukung.” (Lisan Al-‘Arab, jil. 6, entri شيع)
Beliau juga menjelaskan:
وَكُلُّ قَوْمٍ اجْتَمَعُوا عَلَى أَمْرٍ فَهُمْ شِيعَةٌ
“Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu urusan maka mereka disebut syi’ah.” (Lisan Al-‘Arab, jil. 6, entri شيع)
Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa secara bahasa, kata Syi’ah bukanlah nama mazhab tertentu, melainkan istilah umum untuk menyebut para pengikut atau pendukung seseorang.
Penggunaan Kata Syi’ah dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an beberapa kali menggunakan kata Syi’ah. Namun seluruh penggunaannya masih sesuai dengan makna bahasa, bukan sebagai nama kelompok akidah tertentu.
- Surah Ash-Shaffat: 83, Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ
“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya.”
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ialah Nabi Ibrahim mengikuti jalan Nabi Nuh dalam tauhid.
Imam Ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan:
يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: وَإِنَّ مِنْ أَشْيَاعِ نُوحٍ عَلَى مِنْهَاجِهِ وَمِلَّتِهِ، وَاللَّهِ، لَإِبْرَاهِيمَ خَلِيلُ الرَّحْمَنِ
“Allah Ta’ala menjelaskan, sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk pengikut Nabi Nuh, yaitu berada di atas manhaj dan agamanya. Demi Allah, yang dimaksud dalam ayat ini adalah Ibrahim, Kekasih Allah yang Maha Pengasih.” (Tafsir Ath-Thabari, tafsir QS. Ash-Shaffat: 83)
Ayat ini sama sekali tidak berkaitan dengan kelompok Syi’ah sebagaimana dikenal pada masa sekarang.
- Surah Al-Qashash: 15, Allah Ta’ala berfirman:
فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ
“Musa mendapati dua orang sedang berkelahi; yang satu termasuk golongannya dan yang satu termasuk musuhnya.”
Yang dimaksud dengan syi’atihi adalah seorang Bani Israil yang berada di pihak Nabi Musa, sedangkan lawannya berasal dari kaum Qibthi (kaumnya Fir’aun). Kembali, kata Syi’ah di sini berarti pihak atau golongan.
- Surah Ar-Rum: 32, Allah Ta’ala berfirman:
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا
“…Orang-orang yang memecah agama mereka dan menjadi bergolong-golongan.”
Pada ayat ini, kata syiya’an berarti kelompok-kelompok yang saling berpecah. Dengan demikian, seluruh penggunaan kata syi’ah dalam Al-Qur’an menunjukkan makna bahasa, bukan nama mazhab tertentu.
Apakah Pada Masa Rasulullahﷺ Sudah Ada Mazhab Syi’ah?
Inilah pokok pembahasan yang sering diperselisihkan. Sebagian kalangan berpendapat bahwa Nabiﷺ (w. 11 H) telah menetapkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) sebagai imam sehingga telah ada “Syi’ah Ali” sejak masa beliau ﷺ.
Sementara mayoritas ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa belum ada madzhab bernama Syi’ah dengan keyakinan sebagaimana dikenal sekarang pada masa Rasulullah ﷺ. Hal tersebut dapat dipahami dari beberapa sisi:
- Tidak Ada Hadits Shahih yang Menamai Mazhab Syi’ah
Tidak ditemukan riwayat shahih bahwa Rasulullahﷺ (w. 11 H) pernah bersabda:
“Kalian adalah mazhab Syi’ah.” Atau “Ikutilah mazhab Syi’ah.”
Ungkapan seperti ini, tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang disepakati ulama, dengan sanad yang shahih.
- Nabiﷺ Tidak Membagi Umat Menjadi Sunni dan Syi’ah
Tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan bahwa Rasulullahﷺ (w. 11 H) membagi umat menjadi dua kelompok dengan nama “Sunni” dan “Syi’ah”.
Sebaliknya, beliau memerintahkan agar kaum muslimin berpegang teguh kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan mengikuti jalan para Khulafaur Rasyidin. Beliau bersabda:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin), sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, niscaya ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegangteguhlah kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676; dinilai shahih oleh Al-Albani)
Hadits ini menunjukkan bahwa ketika perselisihan muncul, jalan keluar yang diperintahkan adalah kembali kepada Sunnah Rasulullahﷺ (w. 11 H) dan Sunnah para Khulafaur Rasyidin, bukan kepada identitas kelompok tertentu. Wallahu a’lamu bishshawab.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
