<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Al-Quran - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/category/alquran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Jun 2026 16:35:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
	<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 32</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3053/tafsir-surat-an-naba-32/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3053/tafsir-surat-an-naba-32/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2026 16:34:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3053</guid>

					<description><![CDATA[<p>Surah an Naba’: 32 &#8211; Keindahan Makna Hadaiq dalam Gambaran Surga bagi Orang Bertakwa Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴾ حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا ﴿ “(Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur.” [QS. an Naba’: 32]  Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pemilihan kata dalam ayat ini bukan sekadar hiasan bahasa, tetapi mengandung makna kemenangan, kenikmatan, dan kesempurnaan yang sangat mendalam. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3053/tafsir-surat-an-naba-32/">Tafsir Surat An-Naba’ 32</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Surah an Naba’: 32 &#8211; Keindahan Makna <em>Hadaiq</em> dalam Gambaran Surga bagi Orang Bertakwa</strong></h2>
<p><em>Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴾ حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا ﴿</p>
<p><em>“</em><em>(Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur.</em><em>”</em> [QS. an Naba’: 32]<strong> </strong></p>
<p>Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pemilihan kata dalam ayat ini bukan sekadar hiasan bahasa, tetapi mengandung makna kemenangan, kenikmatan, dan kesempurnaan yang sangat mendalam. Menariknya, setiap mufassir menyoroti sisi yang berbeda sehingga menghadirkan gambaran surga yang lebih hidup dan menyentuh hati.</p>
<h3><strong>Kemenangan Besar yang Dicari Orang Bertakwa</strong></h3>
<p>Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">وَالْحَدَائِقُ: تَرْجَمَةٌ وَبَيَانٌ عَنِ الْمَفَازِ، وَجَازَ أَنْ يُتَرْجَمَ عَنْهُ، لِأَنَّ الْمَفَازَ مَصْدَرٌ مِنْ قَوْلِ الْقَائِلِ: فَازَ فُلَانٌ بِهَذَا الشَّيْءِ، إِذَا طَلَبَهُ فَظَفِرَ بِهِ، فَكَأَنَّهُ قِيلَ: إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ ظَفَرًا بِمَا طَلَبُوا مِنْ حَدَائِقَ وَأَعْنَابٍ، وَالْحَدَائِقُ: جَمْعُ حَدِيقَةٍ، وَهِيَ الْبَسَاتِينُ مِنَ النَّخْلِ وَالْأَعْنَابِ وَالْأَشْجَارِ الْمُحَوَّطِ عَلَيْهَا الْحِيطَانُ الْمُحْدِقَةُ بِهَا، لِإِحْدَاقِ الْحِيطَانِ بِهَا تُسَمَّى الْحَدِيقَةُ حَدِيقَةً، فَإِنْ لَمْ تَكُنِ الْحِيطَانُ بِهَا مُحْدِقَةً، لَمْ يُقَلْ لَهَا حَدِيقَةٌ، وَإِحْدَاقُهَا بِهَا: اشْتِمَالُهَا عَلَيْهَا. وَقَوْلُهُ: ﴿ وَأَعْنَابًا ﴾ يَعْنِي: وَكُرُومَ أَعْنَابٍ، وَاسْتُغْنِيَ بِذِكْرِ الْأَعْنَابِ عَنْ ذِكْرِ الْكُرُومِ</p>
<p>“Maksud dari <em>“hadaiq”</em> (kebun-kebun) adalah penjelasan dan keterangan dari kata <em>“mafaz”</em> (keberuntungan atau kemenangan). Kata itu boleh dijelaskan dengannya, karena <em>“mafaz” </em>merupakan mashdar dari ucapan seseorang: “Si Fulan memperoleh kemenangan dengan ini,” yaitu ketika ia mencarinya lalu berhasil mendapatkannya. Seakan-akan dikatakan: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa terdapat kemenangan terhadap apa yang mereka cari, berupa kebun-kebun dan buah anggur.” Kata <em>“hadaiq”</em> adalah bentuk jamak dari <em>“hadiqah”,</em> yaitu kebun-kebun yang berisi pohon kurma, tanaman anggur, dan pepohonan yang dikelilingi oleh tembok-tembok yang melingkupinya. Karena tembok-tembok itu mengelilinginya, maka kebun tersebut dinamakan <em>“hadiqah”</em>. Jika tidak ada tembok yang mengelilinginya, maka tidak disebut <em>“hadiqah”</em>. Makna <em>“iḥdaq”</em> (pengelilingan) tembok terhadapnya ialah mencakup dan meliputinya. Firman-Nya: <em>“dan buah anggur,”</em> maksudnya ialah kebun-kebun anggur. Penyebutan “buah anggur” sudah mencukupi tanpa harus menyebutkan kata “kebun-kebunnya”. (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/38, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>Pada ayat sebelumnya Allah tidak langsung menyebut kenikmatan surga, tetapi terlebih dahulu menyebut “kemenangan”. Seakan-akan Allah ingin menanamkan bahwa semua kelelahan orang bertakwa di dunia tidak pernah sia-sia. Artinya, surga adalah kemenangan hakiki. Orang-orang bertakwa dahulu bersabar meninggalkan maksiat, menahan hawa nafsu, menjaga iman, dan berjuang menaati Allah. Maka, ketika mereka masuk surga, itulah puncak keberhasilan yang selama ini mereka cari.</p>
<h3><strong>Keindahannya Sangat Terjaga</strong></h3>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong>  (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">هَذَا تَفْسِيرُ الْفَوْزِ. وَقِيلَ: ﴿ إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ﴾ أَيْ: إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ حَدَائِقَ؛ جَمْعُ حَدِيقَةٍ، وَهِيَ الْبُسْتَانُ الْمُحَوَّطُ عَلَيْهِ، يُقَالُ: أَحْدَقَ بِهِ؛ أَيْ أَحَاطَ. وَالْأَعْنَابُ: جَمْعُ عِنَبٍ، أَيْ: كُرُومُ أَعْنَابٍ، فَحُذِفَ</p>
<p>“Ini adalah penafsiran dari makna “kemenangan”. Ada pula yang mengatakan bahwa firman Allah, <em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan.”</em> maksudnya ialah sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa tersedia <em>“hadaiq”</em> (kebun-kebun), yaitu bentuk jamak dari <em>“hadiqah”</em> (kebun), yakni taman atau kebun yang dikelilingi pagar atau tembok. Dikatakan, <em>“ahdaqa bihi,”</em> artinya “mengelilinginya”. Adapun <em>“al-a‘nab”</em> adalah bentuk jamak dari <em>“‘inab”</em> (anggur), maksudnya kebun-kebun anggur, lalu (kata <em>“hadaiq”</em> (kebun-kebun)) dihilangkan karena sudah dipahami maknanya.” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</em>, 19/183, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<p>Penjelasan ini menunjukkan bahwa surga bukan sekadar tempat hijau yang indah. Ia adalah taman yang sempurna, terjaga, nyaman, aman, dan penuh ketenangan. Tidak ada rasa takut kehilangan, tidak ada kerusakan, tidak ada kekurangan, semua kenikmatan di dalamnya benar-benar terpelihara untuk penghuninya.</p>
<h3><strong>Surga Dipenuhi Pepohonan dan Buah yang Menyejukkan Jiwa</strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H) memberikan penjelasan singkat:</p>
<p class="arab">﴿ حَدَائِقَ ﴾ وَالْحَدَائِقُ: الْبَسَاتِينُ مِنَ النَّخِيلِ وَغَيْرِهَا</p>
<p>“Kebun-kebun,” dan yang dimaksud dengan <em>“hadaiq”</em> ialah taman-taman atau kebun-kebun yang berisi pohon-pohon kurma dan selainnya.” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/308, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).</p>
<p>Pohon kurma disebut karena menjadi simbol kemewahan, kesejukan, makanan, dan kenikmatan bagi masyarakat Arab. Namun Allah tidak membatasi hanya pada satu jenis pohon. Artinya, surga dipenuhi berbagai pepohonan, buah-buahan, dan pemandangan yang melampaui bayangan manusia. Setiap sudutnya menghadirkan kenyamanan dan setiap kenikmatannya menenangkan jiwa.</p>
<h3><strong>Sungai-Sungai Mengalir di Tengah Kebun yang Indah</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong>  </strong><strong>رحمه الله </strong>(w. 1376 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">وَفِي ذَالِكَ الْمَفَازِ لَهُمْ ﴿ حَدَائِقَ ﴾ وَهِيَ الْبَسَاتِينُ الْجَامِعَةُ لِأَصْنَافِ الْأَشْجَارِ الزَّاهِيَةِ فِي الثِّمَارِ الَّتِي تَتَفَجَّرُ بَيْنَ خِلَالِهَا الْأَنْهَارُ، وَخُصَّ الْأَعْنَابُ لِشَرَفِهَا وَكَثْرَتِهَا فِي تِلْكَ الْحَدَائِقِ</p>
<p>“Di dalam tempat kemenangan itu, mereka memperoleh <em>“kebun-kebun,”</em> yaitu taman-taman yang menghimpun berbagai jenis pepohonan yang indah dengan aneka buah-buahan, yang di sela-selanya mengalir sungai-sungai. Penyebutan anggur secara khusus disebabkan kemuliaan dan banyaknya buah tersebut di dalam kebun-kebun itu.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1073, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam).</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa kenikmatan surga bukan hanya lengkap, tetapi juga indah dipandang, nyaman dirasakan, dan membahagiakan hati. Bahkan aliran sungainya tidak berada jauh dari kebun, tetapi mengalir di tengah-tengahnya. Gambaran ini menghadirkan suasana yang sangat hidup dan menenteramkan.</p>
<p>Ayat ini bukan sekadar gambaran taman yang indah. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang kemenangan besar bagi orang bertakwa, tempat yang aman dan terjaga, kebun-kebun yang penuh kenikmatan, sungai-sungai yang mengalir, serta buah-buahan terbaik yang Allah siapkan bagi hamba-Nya. Semua itu adalah balasan bagi orang-orang yang bersabar dalam ketaatan dan menjaga ketakwaan di dunia. Karena itu, ketika Allah berfirman:</p>
<p class="arab">﴾ إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ﴿</p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan</em><em>.”</em> [QS. an Naba’: 31]</p>
<p>Maka kemenangan itu bukan kemenangan semu, bukan pujian manusia, bukan kemewahan dunia yang sementara, tetapi kemenangan abadi yang penuh kenikmatan dan tidak pernah berakhir. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3053/tafsir-surat-an-naba-32/">Tafsir Surat An-Naba’ 32</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3053/tafsir-surat-an-naba-32/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 31</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 00:12:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[ayat tentang surga]]></category>
		<category><![CDATA[balasan orang bertakwa]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan takwa]]></category>
		<category><![CDATA[pahala bagi orang bertakwa]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran iman]]></category>
		<category><![CDATA[surat an naba]]></category>
		<category><![CDATA[surga dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tadabbur quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba ayat 31]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir juz amma]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an naba 31]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3044</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Ringkas Qur-an Surah an Naba’: 31 Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴾ إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ﴿ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan.” [QS. an Naba’: 31] Setelah Allah ﷻ menggambarkan nasib mengerikan orang-orang yang durhaka, Al-Qur’an langsung mengalihkan perhatian kepada kelompok yang berlawanan: orang-orang yang bertakwa. Peralihan ini bukan sekadar kontras, tetapi penegasan bahwa jalan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/">Tafsir Surat An-Naba’ 31</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Ringkas Qur-an Surah an Naba’: 31</strong></h2>
<p><em>Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴾ إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ﴿</p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan</em><em>.”</em> [QS. an Naba’: 31]</p>
<p>Setelah Allah ﷻ menggambarkan nasib mengerikan orang-orang yang durhaka, Al-Qur’an langsung mengalihkan perhatian kepada kelompok yang berlawanan: orang-orang yang bertakwa. Peralihan ini bukan sekadar kontras, tetapi <strong>penegasan bahwa jalan keselamatan itu nyata dan bisa diraih</strong>.</p>
<h3><strong>Keselamatan Nyata dari Neraka</strong></h3>
<p>Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) berkata:</p>
<p class="arab">إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَنْجًى مِنَ النَّارِ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمُخْلَصًا مِنْهَا لَهُمْ إِلَيْهَا، وَظَفَرًا بِمَا طَلَبُوا</p>
<p>“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa terdapat jalan keselamatan dari neraka menuju surga, serta tempat keluar yang menyelamatkan mereka darinya menuju ke sana, dan kemenangan dalam memperoleh apa yang mereka harapkan.” (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/37, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>Tafsir ini semakna dengan penjelasan dari Mujahid رحمه الله (w. 104 H), Qatadah رحمه الله (w. 117 H) dan Ibnu ‘Abbasرضي الله عنها  (w. 68 H). (lihat: <em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/37, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>“Mafaza” bukan sekadar <strong>tempat enak</strong>, tetapi merupakan bentuk proses kemenangan bagi orang yang bertaqwa: selamat dan keluar dari neraka, lalu berhasil masuk surga.</p>
<h3><strong>Mengapa Disebut “Mafazan”?</strong></h3>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong>  (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">ذَكَرَ جَزَاءَ مَنْ اتَّقَى مُخَالَفَةَ أَمْرِ اللَّهِ «مَفَازًا»، أَيْ مَوْضِعَ فَوْزٍ وَنَجَاةٍ وَخَلَاصٍ مِمَّا فِيهِ أَهْلُ النَّارِ، وَلِذَلِكَ قِيلَ لِلْفَلَاةِ إِذَا قَلَّ مَاؤُهَا: «مَفَازَةٌ»، تَفَاؤُلًا بِالْخَلَاصِ مِنْهَا.</p>
<p>“Ia menyebutkan balasan bagi orang yang menjaga diri dari menyelisihi perintah Allah <em>“mafazan”</em> yaitu tempat kemenangan, keselamatan, dan kebebasan dari keadaan yang dialami oleh para penghuni neraka. Oleh karena itu, padang sahara yang sedikit airnya disebut <em>“mafazah”</em> sebagai bentuk optimisme akan keselamatan darinya.” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</em>, 19/182, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<p>Kata <em>mafazan</em> mengandung <strong>optimisme</strong>, bahkan di tempat yang tampak mematikan (padang pasir), orang Arab tetap menamainya dengan harapan dan optimisme akan keselamatan darinya.</p>
<h3><strong>Tempat Nikmat atau Proses Selamat?</strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H) mengatakan:</p>
<p class="arab">يَقُولُ تَعَالَى مُخْبِرًا عَنِ السُّعَدَاءِ وَمَا أَعَدَّ لَهُمْ مِنَ الْكَرَامَةِ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ، فَقَالَ ﴿إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا﴾، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَالضَّحَّاكُ مُنْتَزَهًا، وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَقَتَادَةُ فَازُوا فَنَجَوْا مِنَ النَّارِ، وَالْأَظْهَرُ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ</p>
<p>“Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang yang berbahagia dan apa yang Dia siapkan bagi mereka berupa kemuliaan dan kenikmatan yang kekal. Maka Dia berfirman: <em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan</em><em>.”</em> Ibnu ‘Abbasرضي الله عنها  (w. 68 H) dan Adh-Dhahhak <strong>رحمه الله</strong> (w. 105 H) berkata, “Yaitu tempat bersenang-senang.” Mujahid رحمه الله (w. 104 H), Qatadah رحمه الله (w. 117 H) berkata, “Mereka memperoleh kemenangan sehingga selamat dari neraka.” Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Ibnu ‘Abbasرضي الله عنها  (w. 68 H).” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).</p>
<p>Ada dua sudut pandang yang dinukilkan oleh Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H):</p>
<ol>
<li><strong>Hasil Akhir   :</strong> tempat kenikmatan</li>
<li><strong>Proses           :</strong> selamat dari neraka</li>
</ol>
<p>Dan beliau <strong>رحمه الله</strong> menguatkan: <strong>hasil akhir lebih dominan</strong>.</p>
<h3><strong>Siapa Itu Orang Bertakwa?</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong>  </strong><strong>رحمه الله </strong>(w. 1376 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">لَمَّا ذَكَرَ حَالَ الْمُجْرِمِينَ، ذَكَرَ مَآلَ الْمُتَّقِينَ، فَقَالَ: ﴿إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا﴾، أَيْ: الَّذِينَ اتَّقَوْا سَخَطَ رَبِّهِمْ بِالتَّمَسُّكِ بِطَاعَتِهِ، وَالِانْكِفَافِ عَنْ مَعْصِيَتِهِ، فَلَهُمْ مَفَازٌ وَمَنْجًى، وَبُعْدٌ عَنِ النَّارِ</p>
<p>“Ketika disebutkan keadaan orang-orang yang berdosa, disebutkan pula tempat kembali orang-orang yang bertakwa, Karenanya Dia berfirman, <em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan</em><em>.”</em>. Yaitu mereka yang menjaga diri dari kemurkaan Tuhan mereka dengan berpegang teguh pada ketaatan kepada-Nya dan menahan diri dari kemaksiatan. Maka bagi mereka kemenangan, keselamatan, dan jarak dari neraka.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam).</p>
<p><strong>Kemenangan sejati hanya diraih oleh orang yang bertakwa</strong>, yaitu mereka yang menjaga diri dari murka Allah dengan cara:</p>
<ul>
<li>Istiqamah dalam ketaatan;</li>
<li>Menjauhi kemaksiatan.</li>
</ul>
<p>Balasan bagi mereka bukan sekadar kenikmatan surga, tetapi juga keselamatan dari neraka dan keamanan dari azab Allah.</p>
<p>Makna ﴿إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا﴾ adalah kemenangan sempurna bagi orang-orang bertakwa yaitu selamat dari neraka, dijauhkan dari azab Allah, dan dimasukkan ke dalam surga penuh kenikmatan. Kemenangan ini diraih dengan istiqamah dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.</p>
<p>Dengan demikian, takwa bukan sekadar identitas atau pengakuan, tetapi jalan menuju kemenangan terbesar di sisi Allah ﷻ.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/">Tafsir Surat An-Naba’ 31</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 30</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2929/tafsir-surat-an-naba-30/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2929/tafsir-surat-an-naba-30/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2026 02:49:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[ancaman bagi orang kafir]]></category>
		<category><![CDATA[azab tidak pernah berhenti]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[makna an naba 30]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[siksa neraka]]></category>
		<category><![CDATA[tadabbur quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba 30]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surah an naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2929</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surah an Naba’: 30 &#8211; Ketika Azab Tidak Pernah Berhenti Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman:  فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا “Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.” [QS. an Naba’: 30] Di antara ayat Al-Qur’an yang paling menggugah rasa takut, adalah ayat ini. Ia bukan sekadar ancaman, tetapi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2929/tafsir-surat-an-naba-30/">Tafsir Surat An-Naba’ 30</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surah an Naba’: 30 &#8211; Ketika Azab Tidak Pernah Berhenti</strong></h2>
<p><em>Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab"> فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا</p>
<p><em>“Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.”</em> [QS. an Naba’: 30]</p>
<p>Di antara ayat Al-Qur’an yang paling menggugah rasa takut, adalah ayat ini. Ia bukan sekadar ancaman, tetapi gambaran final tentang nasib penghuni Neraka yang tidak lagi memiliki harapan keringanan. Para ulama tafsir dari berbagai generasi menegaskan, <strong>inilah salah satu ayat paling keras bagi penghuni neraka.</strong></p>
<h3><strong>Tidak Ada Keringanan, Tidak Ada Jeda Azab</strong></h3>
<p>Imam ath Thabari <strong>رحمه الله</strong> (w. 310 H) berkata:</p>
<p class="arab">يَقُولُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ: يُقَالُ لِهَؤُلَاءِ الْكُفَّارِ فِي جَهَنَّمَ إِذَا شَرِبُوا الْحَمِيمَ وَالْغَسَّاقَ: ذُوقُوا أَيُّهَا الْقَوْمُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ فِي الدُّنْيَا تُكَذِّبُونَ، فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا عَلَى الْعَذَابِ الَّذِي أَنْتُمْ فِيهِ، لَا تَخْفِيفًا مِنْهُ، وَلَا تَرَفُّهًا</p>
<p>“Allah Yang Mahamulia menjelaskan bahwa dikatakan kepada orang-orang kafir di dalam Jahanam ketika mereka meminum air yang sangat panas dan cairan nanah: “Rasakanlah, wahai kaum, azab Allah yang dahulu kalian dustakan di dunia; Kami tidak akan menambah kepada kalian kecuali azab di atas azab yang sedang kalian rasakan, tanpa adanya keringanan sedikit pun dan tanpa kenikmatan.”” [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/36, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Penjelasan beliau ini, berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Amru bin Al Ash <strong>رضي الله عنه</strong> (w. 65 H), dari jalur Qatadah <strong>رحمه الله</strong> (w. 117 H) dari Abu Ayyub Al Uzdi <strong>رحمه الله</strong>.</p>
<p>Artinya, azab yang mereka rasakan tidak pernah berkurang, tidak pernah ditunda, bahkan terus bertambah di atas azab yang sudah ada.</p>
<h3><strong>Ayat yang Dianggap Paling Keras oleh Para Sahabat</strong></h3>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong>  (w. 671 H) menukilkan:</p>
<p class="arab">قَالَ أَبُو بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيُّ نَضْلَةُ بْنُ عُبَيْدٍ<strong> رضي الله عنه</strong> (ت ٦٤هـ): سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ (ت 11هـ) عَنْ أَشَدِّ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ؟ فَقَالَ: قَوْلُهُ تَعَالَى: فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا﴾ أَيْ: ﴿كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا﴾ وَ ﴿كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا</p>
<p>“Abu Barzah Al-Aslami, Nadhalah bin Ubaid <strong>رضي الله عنه</strong> (w. 64 H), berkata: “Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ (w. 11 H) tentang ayat yang paling keras dalam Al-Qur’an.” Maka beliau menjawab: “Firman Allah Ta‘ala: <em>“Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.”</em> [QS. an Naba’: 30], juga firman-Nya: <em>“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab.”</em> (QS. An-Nisa: 56) dan firman-Nya: <em>“Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.”</em> (QS. Al-Isra: 97).” [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</em>, 19/182, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Seluruh ayat ini menunjukkan satu pola yang sama yaitu azab tidak hanya berlanjut, tetapi terus diperbarui dan diperparah.</p>
<h3><strong>Azab yang Sejenis dan Terus Bertambah Tanpa Akhir</strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">أَيْ: يُقَالُ لِأَهْلِ النَّارِ: ذُوقُوا مَا أَنْتُمْ فِيهِ، فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا مِنْ جِنْسِهِ، ﴿وَآخَرُ مِنْ شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ</p>
<p>“Yaitu dikatakan kepada penghuni neraka: “Rasakanlah apa yang sedang kalian alami; Kami tidak akan menambah kepada kalian kecuali azab yang sejenis dengannya,” dan <em>“Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” </em>(QS. Sad: 58)” [<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>Maksudnya ialah, bukan hanya bertambah jumlahnya, akan tetapi bertambah variasi dan bentuknya.</p>
<h3><strong>Inti Makna: Azab yang Terus Bertambah Setiap Saat</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong>  </strong><strong>رحمه الله </strong>(w. 1376 H) merangkum dengan sangat padat:</p>
<p class="arab">﴿فَذُوقُوا﴾ أَيُّهَا الْمُكَذِّبُونَ هَذَا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ وَالْخِزْيَ الدَّائِمَ، ﴿فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا﴾ وَكُلَّ وَقْتٍ وَحِينٍ يَزْدَادُ عَذَابُهُمْ، وَهَذِهِ الْآيَةُ أَشَدُّ الْآيَاتِ فِي شِدَّةِ عَذَابِ أَهْلِ النَّارِ أَجَارَنَا اللَّهُ مِنْهَا</p>
<p>“<em>“Karena itu rasakanlah.” </em>wahai orang-orang yang mendustakan, azab yang sangat menyakitkan ini dan kehinaan yang terus-menerus; <em>“</em><em>Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.”</em> dan pada setiap waktu serta setiap saat azab mereka terus bertambah; dan ayat ini merupakan ayat yang paling keras dalam menggambarkan dahsyatnya azab penghuni neraka, semoga Allah melindungi kita darinya.” [<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Beliau <strong>رحمه الله</strong> menegaskan ayat ini adalah yang paling keras dalam menggambarkan azab penghuni neraka.</p>
<h3><strong>Kesimpulan: Ayat yang Memutus Harapan di Neraka</strong></h3>
<ol>
<li>an Naba’: 30 adalah peringatan paling keras, gambaran paling final dan ancaman tanpa jeda. Tidak ada istirahat, pengurangan atau adaptasi terhadap azab. Yang ada hanyalah penambahan azab secara terus-menerus dan tanpa akhir. Maka ayat ini seharusnya tidak hanya dibaca, tetapi direnungkan, ditakuti dan dijadikan dorongan untuk meninggalkan maksiat.</li>
</ol>
<p>Karena yang paling berbahaya bukanlah azab itu sendiri, tetapi kondisi ketika azab itu tidak lagi berkurang justru terus bertambah selamanya.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2929/tafsir-surat-an-naba-30/">Tafsir Surat An-Naba’ 30</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2929/tafsir-surat-an-naba-30/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 29</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 23:10:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[hisab amal]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ketelitian Allah mencatat amal]]></category>
		<category><![CDATA[makna an naba 29]]></category>
		<category><![CDATA[malaikat pencatat amal]]></category>
		<category><![CDATA[pencatatan amal manusia]]></category>
		<category><![CDATA[tadabbur quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba 29]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2907</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surah an Naba’: 29 &#8211; Ketelitian Allah ﷻ dalam Mencatat Setiap Amal Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴾وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴿ “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.” [QS. an Naba’: 29] &#160; Ayat ini menjadi pondasi penting dalam akidah tentang ilmu Allah, pencatatan amal dan keadilan-Nya pada hari pembalasan, maka mari kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/">Tafsir Surat An-Naba’ 29</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surah an Naba’: 29 &#8211; Ketelitian Allah ﷻ dalam Mencatat Setiap Amal</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p>﴾وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴿</p>
<p><em>“</em><em>Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.</em><em>”</em> [QS. an Naba’: 29]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ayat ini menjadi pondasi penting dalam akidah tentang ilmu Allah, pencatatan amal dan keadilan-Nya pada hari pembalasan, maka mari kita tadabburi lebih dalam lagi.</p>
<h2><strong>Ketelitian </strong><strong>Allah </strong><strong>ﷻ</strong><strong> yang Total</strong></h2>
<p>Imam ath Thabari <strong>رحمه الله</strong> (w. 310 H) berkata:</p>
<p>وَقَوْلُهُ: ﴿وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴾ يَقُولُ تَعَالَىٰ ذِكْرُهُ: وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فَكَتَبْنَاهُ كِتَابًا، كَتَبْنَا عَدَدَهُ وَمَبْلَغَهُ وَقَدْرَهُ، فَلَا يَعْزُبُ عَنَّا عِلْمُ شَيْءٍ مِنْهُ، وَنَصَبَ ﴿كِتَابًاُ﴾ ؛ لِأَنَّ فِي قَوْلِهِ: ﴿أَحْصَيْنَاهُ﴾ مَصْدَرًا أَثْبَتْنَاهُ وَكَتَبْنَاهُ، كَأَنَّهُ قِيلَ: وَكُلَّ شَيْءٍ كَتَبْنَاهُ كِتَابًا</p>
<p>“Dan firman-Nya: <em>‘Dan segala sesuatu telah Kami hitung dan Kami catat dalam suatu kitab,’</em> maksudnya: Kami telah menghitung segala sesuatu lalu Kami menuliskannya sebagai suatu penulisan; Kami tuliskan jumlahnya, batasnya dan ukurannya. Maka tidak ada satu pun darinya yang luput dari pengetahuan Kami. Lafal <em>kitaban</em> dibaca dalam bentuk manshub karena pada firman-Nya <em>ahshaynahu</em> terkandung makna mashdar, yaitu “Kami menetapkannya dan Kami menuliskannya,” seakan-akan dikatakan: “Dan setiap sesuatu Kami tuliskan dalam sebuah kitab.”” [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/36, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Beliau menekankan betapa totalitasnya ilmu Allah <strong>ﷻ</strong><strong>, </strong>dimana jumlah, batas dan kadar semuanya presisi. Tidak ada yang samar dan luput dari pencatatan dan ilmu-Nya.</p>
<h2><strong>Dimensi Bahasa dan Makna</strong></h2>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong>  (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p>“<em>“</em><em>Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.</em><em>”</em> Lafal <em>kulla</em> dibaca manshub karena adanya fi‘il yang diperkirakan, yang ditunjukkan oleh kata <em>ahshaynahu</em>, yaitu: “Dan Kami telah menghitung setiap sesuatu, Kami menghitungnya.” Abus Sammal <strong>رحمه الله</strong> (w. ±160 H) membacanya <em>wa kullu syai-in</em> dengan rafa‘ sebagai mubtada’. Lafaz <em>kitaban</em> dibaca manshub sebagai mashdar karena makna <em>ahshayna</em> adalah “Kami menulis,” yaitu “Kami menuliskannya sebagai suatu penulisan.” Kemudian dikatakan: yang dimaksud adalah ilmu, sebab sesuatu yang ditulis lebih jauh dari kelupaan. Ada pula yang mengatakan: maksudnya Kami menuliskannya di Lauhul Mahfuz agar para malaikat mengetahuinya. Dan ada yang berpendapat: yang dimaksud adalah apa yang dituliskan atas para hamba berupa amal-amal mereka. Maka ini adalah pencatatan yang dilakukan para malaikat yang ditugaskan atas para hamba, berdasarkan perintah Allah <strong>ﷻ</strong> kepada mereka untuk menulis; dalilnya adalah firman-Nya, “Sesungguhnya atas kalian ada para penjaga, yang mulia lagi mencatat.” [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</em>, 19/182, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Beliau <strong>رحمه الله</strong>  membuka tiga kemungkinan makna atau maksud dari ayat ini:</p>
<ol>
<li>Ilmu Allah <strong>ﷻ</strong>;</li>
<li>Lauhul Mahfuzh;</li>
<li>Catatan malaikat atas amal manusia.</li>
</ol>
<p>Semuanya menunjukkan akan <strong>sistem dokumentasi </strong><strong>Allah </strong><strong>ﷻ</strong> <strong>yang sangat sempurna</strong>, sehingga tidak ada celah bagi manusia untuk mengelak dari catatan amalnya<strong>.</strong></p>
<p><strong>Konsekuensi Balasan Amal</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H) berkata:</p>
<p>أَيْ: وَقَدْ عَلِمْنَا أَعْمَالَ الْعِبَادِ كُلَّهُمْ، وَكَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ، وَسَنَجْزِيهِمْ عَلَىٰ ذَلِكَ، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ شَرًّا فَشَر</p>
<p>“Sungguh, Kami telah mengetahui seluruh amal para hamba dan Kami telah mencatatnya atas mereka, dan Kami pasti akan membalas mereka berdasarkan hal itu; jika (amalnya) baik maka (balasannya) kebaikan, dan jika (amalnya) buruk maka (balasannya) keburukan.” [<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beliau <strong>رحمه الله</strong> menjelaskan bahwa pencatatan bukan sekadar dokumentasi, akan tetapi ia adalah <strong>dasar keadilan pembalasan </strong>yang menegaskan bahwasanya setiap balasan yang diterima oleh seorang hamba merupakan akibat dari perbuatannya dan Allah ﷻ tidak akan menzhalimi hambanya <strong>.</strong></p>
<p><strong>Jaminan Keadilan</strong></p>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong>  </strong><strong>رحمه الله </strong>(w. 1376 H) menyampaikan:</p>
<p>“<em>“Dan segala sesuatu,”</em> yang kecil maupun yang besar, baik maupun buruk, <em>“</em><em>telah Kami catat dalam suatu kitab.”</em> yakni Kami tuliskan di Lauh Mahfuz. Maka para pendosa tidak perlu takut, bahwa Kami mengazab mereka atas dosa-dosa yang tidak mereka lakukan, dan jangan pula mereka mengira bahwa ada sesuatu dari amal mereka yang hilang atau dilupakan walaupun seberat dzarah”. [<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Beliau mengaitkannya dengan firman Allah ﷻ:</p>
<p>﴿ وَوُضِعَ ٱلْكِتَـٰبُ فَتَرَى ٱلْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَـٰوَيْلَتَنَا مَالِ هَـٰذَا ٱلْكِتَـٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةًۭ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحْصَىٰهَا ۚ وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ ﴾  حَاضِرًۭا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًۭا</p>
<p><em>“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: &#8220;Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”.</em>(QS. Al Kahfi: 49).</p>
<p>Beliau <strong>رحمه الله</strong> menegaskan bahwa Allah ﷻ tidak akan mengazab hambanya atas apa yang tidak dilakukannya dan sekecil apapun maksiat itu, ia pasti akan diberikan hukuman yang setimpal tidak lebih, tidak pula kurang.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<ol>
<li>An-Naba’: 29 menegaskan, bahwa seluruh amal manusia kecil maupun besar, dicatat secara presisi dalam sistem pencatatan Allah ﷻ melalui malaikat pencatat amal. Dari tafsir para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa Allah ﷻ Maha Mengetahui secara detail, Allah ﷻ Maha Teliti dalam mencatat, Allah ﷻ Maha Adil dalam membalas dan tidak ada kezaliman sedikit pun pada Hari Kiamat.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi orang beriman, ayat ini adalah motivasi untuk menjaga amal. Adapun bagi pelaku maksiat, ini adalah peringatan keras. Karena tidak ada yang hilang, tidak ada yang terlupa, tidak ada yang tidak dibalas dan di situlah letak keadilan yang sempurna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/">Tafsir Surat An-Naba’ 29</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 28</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 07:22:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[ancaman bagi pendusta]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[makna an naba 28]]></category>
		<category><![CDATA[pembangkangan terhadap ayat Allah]]></category>
		<category><![CDATA[pendustaan yang disengaja]]></category>
		<category><![CDATA[tadabbur quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba 28]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2866</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ 28: Pendustaan yang Disengaja dan Membangkang Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ “Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.” [QS. an Naba’: 28] Ayat ini menyingkap hakikat sikap orang-orang kafir terhadap wahyu bukan sekadar ragu atau lalai, tetapi sebuah pendustaan yang sadar, keras dan penuh perlawanan. Para ulama tafsir memberikan penjelasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/">Tafsir Surat An-Naba’ 28</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><b>Tafsir Surat An-Naba’ 28: Pendustaan yang Disengaja dan Membangkang</b></strong></p>
<p><em><i>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</i></em></p>
<p>Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾</p>
<p><em><i>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.”</i></em> [QS. an Naba’: 28]</p>
<p>Ayat ini menyingkap hakikat sikap orang-orang kafir terhadap wahyu bukan sekadar ragu atau lalai, tetapi sebuah pendustaan yang sadar, keras dan penuh perlawanan. Para ulama tafsir memberikan penjelasan yang saling melengkapi tentang makna kata كِذَّابًا (kidzdzaban). Mari kita simak penjelasannya.</p>
<p><strong><b>Pendustaan yang Sangat Keras dan Disengaja</b></strong></p>
<p>Imam ath Thabari<strong><b> </b></strong><strong><b>ر</b></strong><strong><b>حمه الله</b></strong><strong><b> </b></strong><strong><b> </b></strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p>وَقَوْلُهُ تَعَالَى ﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: وَكَذَّبَ هَؤُلَاءِ الْكُفَّارُ بِحُجَجِنَا وَأَدِلَّتِنَا تَكْذِيبًا، وَقِيلَ: كِذَّابًا وَلَمْ يُقَلْ: تَكْذِيبًا، تَصْدِيرًا عَلَى فِعْلِهِ؛</p>
<p>“Firman-Nya <em><i>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.”</i></em>: (Maksudnya) Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> menjelaskan bahwa orang-orang kafir itu mendustakan hujah-hujah dan dalil-dalil Kami dengan pendustaan; dan dikatakan <em><i>“kidzdzaban”</i></em>, bukan <em><i>“takdziban”</i></em>, sebagai penegasan yang mengikuti perbuatannya.” [<em><i>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</i></em>, 24/35, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Beliau menjelaskan bahwa kata <em><i>“kidzdzaban” </i></em>digunakan sebagai bentuk penegasan pendustaan. Sebagian ulama bahasa menjelaskan bahwa bentuk ini mengikuti pola bahasa Arab tertentu, termasuk dialek Yaman yang fasih. Karena pada ayat ini kata “<em><i>kadzdzabu</i></em>” hadir, para qari’ sepakat membaca <em><i>“kidzdzaban” </i></em>dengan penegasan (tasydid), sementara pada ayat lain yang tidak terikat oleh kata kerja, sebagian ulama—seperti al-Kisā’ī—membacanya dengan peringanan. [<em><i>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</i></em>, 24/35-36, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p><strong><b>Pendustaan Besar dan Berlapis Makna</b></strong></p>
<p>Imam al Qurthubi <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">﴿وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا﴾ أَيْ: بِمَا جَاءَتْ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ، وَقِيلَ: بِمَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْكُتُبِ، وَقِرَاءَةُ الْعَامَّةِ كِذَّابًا بِتَشْدِيدِ الذَّالِ وَكَسْرِ الْكَافِ، عَلَى كَذَبَ؛ أَيْ: كَذَّبُوا تَكْذِيبًا كَبِيرًا، قَالَ الْفَرَّاءُ <strong><b>رحمه الله</b></strong> (ت ٢٠٧ هـ): هِيَ لُغَةٌ يَمَانِيَّةٌ فَصِيحَةٌ، يَقُولُونَ: كَذَبْتُ بِهِ كِذَّابًا، وَخَرَقْتُ الْقَمِيصَ خِرَاقًا، وَكُلُّ فِعْلٍ عَلَى وَزْنِ فَعَّلَ فَمَصْدَرُهُ فِعَّالٌ مُشَدَّدٌ فِي لُغَتِهِمْ؛</p>
<p>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni terhadap apa yang dibawa oleh para nabi dan dikatakan pula: terhadap apa yang Kami turunkan berupa kitab-kitab. Bacaan kebanyakan qari’ adalah “<em><i>kidzdzaban”</i></em> dengan penegasan huruf dzal dan kasrah pada kaf, dari kata “<em><i>kadzaba”</i></em>, maksudnya mereka mendustakan dengan pendustaan yang besar. Al Farra’ <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 207 H) berkata: ini adalah bahasa Yaman yang fasih; mereka mengatakan ‘aku mendustakannya dengan <em><i>kidzdzaban</i></em>’ dan ‘aku merobek baju dengan <em><i>khiraqan</i></em>’; setiap fi‘il pada pola fa’‘ala bermashdar fi‘‘al dalam bahasa mereka.” [<em><i>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</i></em>, 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa pendustaan mereka bukan insidental, melainkan sikap permanen dan ideologis.</p>
<p><strong><b>Pendustaan yang Disertai Pengingkaran Akhirat</b></strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 774 H) menyampaikan:</p>
<p>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni mereka mendustakan hujjah-hujjah Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> dan dalil-dalil-Nya atas makhluk-Nya yang Dia turunkan kepada para rasul-Nya, lalu mereka menyambutnya dengan pendustaan dan sikap membangkang. Firman-Nya <em><i>kidzdzaban</i></em> bermakna ‘pendustaan’ dan ia adalah mashdar yang tidak berasal dari bentuk fi‘ilnya. Disebutkan bahwa pernah terdengar seorang Arab Badui meminta fatwa kepada al Farra’ <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 207 H) di Bukit Marwah: “<em><i>Al Halq </i></em>(mencukur rambut) atau <em><i>al qishar </i></em>(memendekkan rambut), mana yang lebih engkau sukai?” Dan sebagian mereka melantunkan syair: ‘Sungguh telah lama ia menghalangiku dari sahabat-sahabatku, dan dari kebutuhan yang <em><i>qadha-uha </i></em>(pemenuhannya) menjadi kesembuhanku.’” [<em><i>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</i></em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>Kata <em><i>kidzdzaban</i></em> di sini dipahami sebagai mashdar yang menunjukkan intensitas dan kesinambungan pendustaan.</p>
<p><strong><b>Pendustaan yang Jelas dan Sadar</b></strong></p>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong><b> </b></strong><strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 1376 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ أَيْ: كَذَّبُوا بِهَا تَكْذِيبًا وَاضِحًا صَرِيحًا، وَجَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَانَدُوهَا</p>
<p>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni mereka mendustakannya dengan pendustaan yang jelas dan tegas, padahal bukti-bukti yang nyata telah datang kepada mereka, lalu mereka menyikapinya dengan penentangan.” [Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa:</p>
<ul>
<li><i></i><em><i>Al Bayyinat</i></em>(bukti-bukti) dari Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> melalui rasul-Nya telah datang kepada mereka;</li>
<li>Kebenaran sudah nyata bagi mereka tanpa sedikitpun keraguan;</li>
<li>Namun mereka tetap memilih sikap <em><i>‘inad</i></em>(keras kepala dan membangkang).</li>
</ul>
<p>Ini menunjukkan bahwa masalah utama mereka bukan kurangnya bukti, melainkan rusaknya sikap hati.</p>
<p><strong><b>Kesimpulan: Pendustaan yang Mengantarkan pada Kebinasaan</b></strong></p>
<p>Dari keempat tafsir di atas, dapat disimpulkan bahwa kata <strong><b>كِذَّابًا</b></strong><strong><b> </b></strong>dalam an Naba’: 28 menggambarkan pendustaan yang disengaja, kuat dan berulang, yang lahir dari penolakan terhadap hari hisab dan sikap membangkang terhadap kebenaran yang sudah jelas.</p>
<p>Pendustaan ini bukan karena kurangnya dalil, melainkan karena hati yang menolak tunduk kepada Allah <strong><b>ﷻ</b></strong>. Inilah sebab mengapa ayat ini menjadi landasan penting dalam memahami hubungan antara akidah akhirat, penerimaan wahyu dan keselamatan manusia.</p>
<p>Pemahaman ini relevan sepanjang zaman, siapa pun yang menolak kebenaran setelah jelas baginya, sejatinya sedang mengulang sikap kaum yang Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> cela dalam ayat ini, <em><i>wal’iyadzu billah</i></em> semoga kita dijauhkan dan terlindungi dari sikap demikian.</p>
<p><em><i>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</i></em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/">Tafsir Surat An-Naba’ 28</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 27</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2848/tafsir-surat-an-naba-27/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2848/tafsir-surat-an-naba-27/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2026 15:41:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[hari hisab]]></category>
		<category><![CDATA[hari pembalasan]]></category>
		<category><![CDATA[iman kepada akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[makna la yarjuna hisaba]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa orang kafir tidak takut hisab]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[surat an naba]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba 27]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir juz amma]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir salaf]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an naba ayat 27]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2848</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ 27: Mengapa Orang Kafir Tidak Takut Hisab? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Al Qur-an tidak sekadar mengabarkan adanya azab, tetapi juga menjelaskan sebab-sebabnya secara rinci. Salah satu sebab utama yang Allah ﷻ sebutkan adalah hilangnya keyakinan terhadap hari perhitungan. Dalam Surah An-Naba’ ayat 27, Allah ﷻ menyingkap akar kerusakan akidah yang melahirkan kelalaian total terhadap akhirat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2848/tafsir-surat-an-naba-27/">Tafsir Surat An-Naba’ 27</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surat An-Naba’ 27: Mengapa Orang Kafir Tidak Takut Hisab?</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Al Qur-an tidak sekadar mengabarkan adanya azab, tetapi juga menjelaskan sebab-sebabnya secara rinci. Salah satu sebab utama yang Allah <strong>ﷻ</strong> sebutkan adalah hilangnya keyakinan terhadap hari perhitungan. Dalam Surah <em>An-Naba’</em> ayat 27, Allah <strong>ﷻ</strong> menyingkap akar kerusakan akidah yang melahirkan kelalaian total terhadap akhirat. Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا ﴾</p>
<p><em>“Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,” </em>(QS. an Naba’: 27)</p>
<p><strong>Akar Masalah: Tidak Takut Hisab</strong></p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">إِنَّ هَؤُلَاءِ الْكُفَّارَ كَانُوا فِي الدُّنْيَا لَا يَخَافُونَ مُحَاسَبَةَ اللَّهِ إِيَّاهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَلَى نِعَمِهِ عَلَيْهِمْ، وَإِحْسَانِهِ إِلَيْهِمْ، وَسُوءِ شُكْرِهِمْ لَهُ عَلَى ذٰلِكَ</p>
<p>“Bahwasanya orang-orang kafir itu ketika di dunia tidak takut akan perhitungan Allah <strong>ﷻ</strong> terhadap mereka di akhirat atas nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada mereka, kebaikan-Nya kepada mereka, serta buruknya rasa syukur mereka kepada-Nya atas semua itu.” [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/34, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Menurut Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H), masalahnya bukan sekadar maksiat, tetapi ketiadaan rasa takut terhadap hisab. Mereka hidup menikmati nikmat Allah <strong>ﷻ</strong>, namun tidak pernah membayangkan akan dimintai pertanggungjawaban atas nikmat tersebut. <em>Nas-alullah as Salamah wal ‘afiyah fid dun-ya wal akhirah.</em></p>
<p><strong>Hisab yang Tidak Ditakuti dan Pahala yang Tidak Diharapkan </strong></p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">﴿ إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ ﴾ أَيْ لَا يَخَافُونَ ﴿ حِسَابًا ﴾ أَيْ مُحَاسَبَةً عَلَى أَعْمَالِهِمْ، وَقِيلَ: مَعْنَاهُ لَا يَرْجُونَ ثَوَابَ حِسَابٍ، الزَّجَّاجُ: أَيْ إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يُؤْمِنُونَ بِالْبَعْثِ فَيَرْجُونَ حِسَابَهُمْ</p>
<p>“<em>“Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut),”</em> maksudnya ialah mereka tidak merasa takut.</p>
<p><em>“kepada hisab,”</em> yakni pertanggungjawaban atas amal perbuatan mereka. Ada pula yang mengatakan, maknanya adalah mereka tidak mengharapkan pahala dari adanya perhitungan.</p>
<p>Az Zajjaj <strong>رحمه الله</strong> (w. 311 H) menjelaskan bahwa maksud ayat ini adalah sesungguhnya mereka tidak beriman kepada kebangkitan, sehingga mereka tidak mengharapkan dan tidak mempercayai adanya perhitungan amal.” [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an,</em> 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menegaskan dua sisi kehancuran akidah:</p>
<ol>
<li>Tidak takut hukuman Allah <strong>ﷻ</strong>;</li>
<li>Tidak berharap pahala dari Allah <strong>ﷻ</strong>.</li>
</ol>
<p>Orang yang tidak berharap pahala, tidak memiliki motivasi amal. Inilah kematian spiritual sebelum kematian jasad.<strong> </strong></p>
<p><strong>Penolakan Akhirat: Sumber Segala Kerusakan</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">أَيْ: لَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ أَنَّ ثَمَّ دَارًا يُجَازَوْنَ فِيهَا وَيُحَاسَبُونَ</p>
<p>“Maksudnya, mereka tidak meyakini bahwa terdapat suatu negeri (kehidupan akhirat) tempat mereka akan dibalas dan diperhitungkan amal perbuatannya.” [<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menegaskan bahwa ayat ini berbicara tentang kerusakan akidah yang mendasar yaitu mereka tidak meyakini adanya negeri akhirat sama sekali.</p>
<p>Jika akhirat dianggap mitos, maka:</p>
<ul>
<li>Maksiat menjadi wajar;</li>
<li>Kezhaliman terasa aman;</li>
<li>Amal shaleh dianggap sia-sia.</li>
</ul>
<p><strong>Dampak Nyata: Mengabaikan Amal Akhirat</strong></p>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">وَذَكَرَ أَعْمَالَهُمْ، الَّتِي اسْتَحَقُّوا بِهَا هٰذَا الْجَزَاءَ، فَقَالَ: ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا﴾ أَيْ: لَا يُؤْمِنُونَ بِالْبَعْثِ، وَلَا أَنَّ اللَّهَ يُجَازِي الْخَلْقَ بِالْخَيْرِ وَالشَّرِّ، فَلِذٰلِكَ أَهْمَلُوا الْعَمَلَ لِلْآخِرَةِ</p>
<p>“Allah menyebutkan amal perbuatan mereka yang dengannya mereka pantas menerima balasan tersebut. Lalu Dia berfirman, <em>“Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,”</em> yakni mereka tidak beriman kepada kebangkitan dan tidak pula meyakini bahwa Allah membalas seluruh makhluk dengan kebaikan maupun keburukan. Oleh karena itu, mereka mengabaikan amal perbuatan untuk kehidupan akhirat.” [<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan,</em> hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menjelaskan dampak praktisnya:</p>
<p>Kerusakan akidah akan menyebabkan kelalaian dalam beramal, bukan karena mereka tidak tahu,<br />
akan tetapi karena mereka tidak percaya bahwa amal tersebut akan dibalas.</p>
<p>Surah an Naba’ ayat 27 menyingkap akar kehancuran moral dan spiritual manusia, yaitu hilangnya iman kepada hisab (pembalasan) dan akhirat. Empat tafsir utama Ahlus Sunnah sepakat bahwa orang yang tidak mengharapkan hisab maka ia:</p>
<ul>
<li>Tidak takut akan dosa;</li>
<li>Tidak berharap pahala atas amal mereka;</li>
<li>Tidak meyakini kebangkitan setelah kematian;</li>
<li>Dan akhirnya mengabaikan amal akhirat.</li>
</ul>
<p>Inilah sebab mengapa azab Allah <strong>ﷻ</strong> datang bukan secara tiba-tiba, tetapi sebagai konsekuensi logis dari akidah yang rusak. Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa iman kepada hari perhitungan adalah pondasi utama keshalihan seorang hamba.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2848/tafsir-surat-an-naba-27/">Tafsir Surat An-Naba’ 27</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2848/tafsir-surat-an-naba-27/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 26</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2026 16:32:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[azab neraka]]></category>
		<category><![CDATA[balasan amal]]></category>
		<category><![CDATA[balasan yang setimpal]]></category>
		<category><![CDATA[hari akhir]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan allah]]></category>
		<category><![CDATA[makna surat an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an-naba ayat 25]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat tentang neraka]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2809</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ 26: Balasan yang Setimpal Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Surah an Naba’: 26 menegaskan prinsip agung dalam al Qur-an yaitu keadilan Allah yang sempurna. adalah Allah ﷻ berfirman: ﴿ جَزَاءً وِفَاقًا ﴾ “Sebagai pembalasan yang setimpal,” (QS. an Naba’: 25) Ungkapan “Sebagai pembalasan yang setimpal,” bukan sekadar ancaman, melainkan penjelasan objektif bahwa setiap konsekuensi akhirat benar-benar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/">Tafsir Surat An-Naba’ 26</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2 class="jeg_post_title"><strong>Tafsir Surat An-Naba’ 26: Balasan yang Setimpal</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Surah an Naba’: 26 menegaskan prinsip agung dalam al Qur-an yaitu keadilan Allah yang sempurna. adalah Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ جَزَاءً وِفَاقًا ﴾</p>
<p><em>“Sebagai pembalasan yang setimpal,”</em> (QS. an Naba’: 25)</p>
<p>Ungkapan <em>“Sebagai pembalasan yang setimpal,”</em> bukan sekadar ancaman, melainkan penjelasan objektif bahwa setiap konsekuensi akhirat benar-benar sepadan dengan amal manusia.</p>
<p><strong>Balasan yang Sepadan dengan Amal</strong></p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: هٰذَا الْعِقَابُ الَّذِي عُوقِبَ بِهِ هٰؤُلَاءِ الْكُفَّارُ فِي الْآخِرَةِ فَعَلَهُ بِهِمْ رَبُّهُمْ ﴿ جَزَاءً ﴾، يَعْنِي: ثَوَابًا لَهُمْ عَلَى أَفْعَالِهِمْ وَأَقْوَالِهِمُ الرَّدِيئَةِ الَّتِي كَانُوا يَعْمَلُونَهَا فِي الدُّنْيَا، وَهُوَ مَصْدَرٌ مِنْ قَوْلِ الْقَائِلِ: وَافَقَ هٰذَا الْعِقَابُ هٰذَا الْعَمَلَ وِفَاقًا</p>
<p>“Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman (yang bermakna): Hukuman ini yang ditimpakan kepada orang-orang kafir itu di akhirat dilakukan oleh Rabb mereka <em>“Sebagai pembalasan”</em>. Maksudnya, sebagai ganjaran atas perbuatan dan ucapan mereka yang buruk, yang dahulu mereka lakukan di dunia. Ia (<em>jaza-an wifaqan</em>) merupakan bentuk mashdar dari ungkapan seseorang: “Hukuman ini sesuai dengan perbuatan itu,” yakni sepadan dan seimbang dengannya.” [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/32, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan bahwa hukuman akhirat yang menimpa orang-orang kafir merupakan balasan yang sesuai dengan perbuatan dan ucapan buruk yang mereka lakukan di dunia. Istilah <em>wifaqan</em> menunjukkan kesepadanan sempurna antara amal dan balasan. Makna ini dikuatkan oleh atsar sahabat dan tabi‘in seperti Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما </strong>(w. 68 H), Qatadah <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 117 H), Mujahid <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 104 H), ar-Rabi‘ bin Anas <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 139 H) dan Ibnu Zayd <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 182 H). [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/33-34, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p><strong>Analisis Bahasa dan Kesepadanan Hukuman</strong></p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">﴿ جَزَاءً وِفَاقًا ﴾ أَيْ مُوَافِقًا لِأَعْمَالِهِمْ</p>
<p>“<em>Sebagai pembalasan yang setimpal,</em>”; balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.” [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menekankan sisi kebahasaan. Kata <em>wifaq</em> bermakna kesesuaian, sebagaimana <em>qital</em> bermakna saling berperang. Secara gramatikal, <em>jaza’an</em> adalah mashdar penegas: “Kami membalas mereka dengan balasan yang sepadan dengan amal mereka.” Ia juga mengutip pandangan Muqatil <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 150 H) bahwa tidak ada dosa lebih besar dari syirik dan tidak ada azab lebih besar dari neraka. [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p><strong>Penegasan Kesepakatan Ulama Salaf (Klasik)</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">أَيْ هٰذَا الَّذِي صَارُوا إِلَيْهِ مِنْ هٰذِهِ الْعُقُوبَةِ وَفْقَ أَعْمَالِهِمُ الْفَاسِدَةِ الَّتِي كَانُوا يَعْمَلُونَهَا فِي الدُّنْيَا؛ قَالَهُ مُجَاهِدٌ وَقَتَادَةُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ</p>
<p>“Maksudnya, keadaan yang mereka alami berupa hukuman tersebut benar-benar sepadan dengan perbuatan-perbuatan rusak yang dahulu mereka kerjakan di dunia. Penafsiran ini disampaikan oleh Mujahid <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 104 H), Qatadah <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 117 H) dan sejumlah ulama tafsir lainnya.” [<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) meringkas pandangan salaf yaitu hukuman akhirat sepadan dengan amal rusak yang dikerjakan di dunia. Ia menukil pendapat Mujahid <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 104 H) dan Qatadah <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 117 H) yang menegaskan konsensus makna ayat ini.</p>
<p><strong>Keadilan Allah dan Tanggung Jawab Manusia</strong></p>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">اسْتَحَقُّوا هٰذِهِ الْعُقُوبَاتِ الْفَظِيعَةَ جَزَاءً لَهُمْ وَوِفَاقًا عَلَى مَا عَمِلُوا مِنَ الْأَعْمَالِ الْمُوصِلَةِ إِلَيْهَا، لَمْ يَظْلِمْهُمُ اللَّهُ، وَلٰكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ</p>
<p>“Mereka pantas menerima hukuman-hukuman yang dahsyat tersebut sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan—perbuatan yang mengantarkan mereka kepada hukuman itu. Allah tidak menzalimi mereka sedikit pun, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” [<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan,</em> hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menegaskan prinsip keadilan Ilahi bahwa Allah <strong>ﷻ</strong> tidak menzhalimi hamba-Nya; manusialah yang menzhalimi diri sendiri. Hukuman datang sebagai konsekuensi logis dari perbuatan yang mengantarkan kepadanya.</p>
<p>Surah an Naba’ ayat 26 menegaskan keadilan Allah <strong>ﷻ</strong> yang absolut. Kesemuanya (semua tafsir yang dinukilkan pada artikel ini) berpadu menyatakan satu pesan yaitu setiap amal memiliki konsekuensi yang setimpal. Inilah pondasi etika Qur-ani yang relevan sepanjang zaman, adil, objektif dan mendidik jiwa untuk bertanggung jawab atas setiap pilihan.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/">Tafsir Surat An-Naba’ 26</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 25</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2026 16:15:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[azab neraka]]></category>
		<category><![CDATA[hamim dan ghassaq]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[minuman penghuni neraka]]></category>
		<category><![CDATA[siksaan neraka dalam al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an-naba ayat 25]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat tentang neraka]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir islam]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2805</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ 25: Minuman Penghuni Neraka Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Al Qur-an menggambarkan siksa neraka tidak hanya melalui api, tetapi juga melalui minuman yang disediakan bagi penghuninya. Di antara gambaran yang paling menggetarkan adalah firman Allah ﷻ : ﴿ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ﴾ “Selain air yang mendidih dan nanah,” (QS. an Naba’: 25) Ayat ini telah dibahas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/">Tafsir Surat An-Naba’ 25</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surat An-Naba’ 25: Minuman Penghuni Neraka</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Al Qur-an menggambarkan siksa neraka tidak hanya melalui api, tetapi juga melalui minuman yang disediakan bagi penghuninya. Di antara gambaran yang paling menggetarkan adalah firman Allah <strong>ﷻ</strong> :</p>
<p class="arab">﴿ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ﴾</p>
<p><em>“Selain air yang mendidih dan nanah,”</em> (QS. an Naba’: 25)</p>
<p>Ayat ini telah dibahas secara mendalam oleh para mufasir klasik mengulas makna <em>Hamim</em> dan <em>Ghassaq</em>.</p>
<p><strong><em>Ghassaq</em></strong><strong> sebagai Cairan yang Mengalir, Dingin dan Busuk</strong></p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">﴿ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ﴾ يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا إِلَّا حَمِيمًا قَدْ أُغْلِيَ حَتَّى انْتَهَى حَرُّهُ، فَهُوَ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ، وَلَا بَرْدًا إِلَّا غَسَّاقًا</p>
<p>“<em>“Selain air yang mendidih dan nanah,”</em> (QS. an Naba’: 25), Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman (yang bermakna): mereka tidak merasakan di dalamnya kesejukan dan tidak pula minuman, kecuali air yang mendidih yang telah dipanaskan hingga mencapai puncak panasnya, sehingga ia seperti logam cair yang membakar wajah-wajah; dan tidak pula kesejukan, kecuali cairan yang busuk.” (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/28, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 310 H) menjelaskan bahwa <em>Ghassaq</em> adalah sesuatu yang mengalir, berasal dari nanah, darah, air mata dan cairan luka penghuni neraka. Ia juga menguatkan pendapat bahwa <em>Ghassaq</em> mencakup <em>Zamharir </em>(dingin yang sangat menusuk) namun dalam bentuk cairan yang busuk. Beliau menukil hadis berikut dari sahabat Abu Sa‘id al Khudri <strong>رضي الله عنه</strong> (w. 74 H):</p>
<p class="arab">« لَوْ أَنَّ دَلْوًا مِنْ غَسَّاقٍ يُهْرَاقُ إِلَى الدُّنْيَا لَأَنْتَنَ أَهْلَ الدُّنْيَا »</p>
<p>“Seandainya satu timba <em>ghassaq</em> ditumpahkan ke dunia, niscaya ia akan membusukkan seluruh penduduk dunia.” [HR. at Tirmidzi no. 2584] (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/28-32, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p><strong>Analisis Bahasa dan I‘rab (Gramatikal)</strong></p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 671 H) menyoroti aspek kebahasaan ayat ini. Beliau menyampaikan:</p>
<p class="arab">وَالْحَمِيمُ: الْمَاءُ الْحَارُّ&#8230; وَالْغَسَّاقُ: صَدِيدُ أَهْلِ النَّارِ وَقَيْحُهُمْ، وَقِيلَ: الزَّمْهَرِيرُ</p>
<p>“<em>Hamim</em> adalah air panas… Adapun <em>ghassaq</em> adalah nanah dan cairan busuk penghuni neraka, dan ada pula yang mengatakan <em>zamharir </em>(cairan yang busuk).” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180-181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<p>Ia menjelaskan bahwa pengecualian dalam ayat ini bisa bersifat <em>munqathi‘</em> (terputus) atau <em>badal</em> (pengganti), tergantung penafsiran kata <em>al bard</em> pada ayat sebelumnya. (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<h3><strong>Kengerian </strong><strong><em>Hamim </em></strong><strong>dan </strong><strong><em>Ghassaq</em></strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menyampaikan rangkuman dari riwayat para sahabat dan tabi‘in, beliau berkata:</p>
<p class="arab">فَأَمَّا الْحَمِيمُ: فَهُوَ الْحَارُّ الَّذِي قَدِ انْتَهَى حَرُّهُ وحُموه. والغَسَّاق: هُوَ مَا اجْتَمَعَ مِنْ صَدِيدِ أَهْلِ النَّارِ وَعَرَقِهِمْ وَدُمُوعِهِمْ وَجُرُوحِهِمْ، فَهُوَ بَارِدٌ لَا يُسْتَطَاعُ مِنْ بَرْدِهِ، وَلَا يُوَاجَهُ مَنْ نَتَنِهِ</p>
<p>“Adapun <em>hamim</em>, maka ia adalah air panas yang telah mencapai puncak panas dan suhunya. Sedangkan <em>ghassaq</em>, yaitu sesuatu yang terkumpul dari nanah penghuni neraka, keringat mereka, air mata mereka, dan cairan dari luka-luka mereka; maka ia sangat dingin, tidak dapat ditahan karena dinginnya, dan tidak sanggup dihadapi karena baunya yang busuk.” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa <em>hamim</em> dan <em>ghassaq</em> adalah azab yang menggabungkan antara panas dan dingin ekstrem, bau busuk dan rasa yang menjijikkan, sehingga melengkapi makna azab yang total yang sangat mengerikan.</p>
<h3><strong>Penegasan Makna dengan Bahasa Ringkas</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menyampaikan makna ayat secara padat dan menghunjam, beliau berkata:</p>
<p class="arab">﴿ إِلَّا حَمِيمًا ﴾ أَيْ: مَاءً حَارًّا يَشْوِي وُجُوهَهُمْ وَيُقَطِّعُ أَمْعَاءَهُمْ، ﴿ وَغَسَّاقًا ﴾ وَهُوَ صَدِيدُ أَهْلِ النَّارِ فِي غَايَةِ النَّتَنِ وَكَرَاهَةِ الْمَذَاقِ</p>
<p><em>“Selain air yang mendidih”</em>, yaitu air panas yang membakar wajah-wajah mereka dan memutus usus-usus mereka; dan <em>“Dan nanah,”</em>, yaitu nanah penghuni neraka yang berada pada puncak kebusukan dan sangat menjijikkan rasanya.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan,</em> hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam)</p>
<p>Keempat ulama tafsir di atas sepakat bahwa <em>hamim</em> dan <em>ghassaq</em> adalah bentuk azab minuman neraka yang paling mengerikan. <em>Hamim</em> mewakili panas ekstrem yang membakar, sementara <em>ghassaq</em> menggabungkan antara dingin menusuk, dengan cairan busuk dan rasa yang menjijikkan. Perbedaan penafsiran bukanlah kontradiksi, melainkan saling melengkapi dalam menggambarkan kesempurnaan azab.</p>
<p>Semoga Allah melindungi kita dari azab tersebut dan menjadikan al Qur-an sebagai petunjuk dan rahmat bagi kita semua. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/">Tafsir Surat An-Naba’ 25</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 24</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2026 09:40:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[azab neraka]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[fisik penghuni neraka]]></category>
		<category><![CDATA[hari akhir]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jahannam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni neraka dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[siksaan neraka]]></category>
		<category><![CDATA[surah an naba]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba ayat 24]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat neraka]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surah an naba]]></category>
		<category><![CDATA[tausiyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2768</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surah an Naba’: 24 &#8211; Kondisi Neraka Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Surah an Naba’: 24 merupakan salah satu ayat yang menggambarkan kerasnya azab neraka dengan bahasa yang singkat namun sangat menghujam. Allah ﷻ berfirman: ﴿ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ﴾ “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,” (QS. an Naba’: 24) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/">Tafsir Surat An-Naba’ 24</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surah an Naba’: 24 &#8211; Kondisi Neraka</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Surah an Naba’: 24 merupakan salah satu ayat yang menggambarkan kerasnya azab neraka dengan bahasa yang singkat namun sangat menghujam. Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ﴾</p>
<p><em>“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,”</em> (QS. an Naba’: 24)</p>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa penghuni neraka tidak memperoleh sedikit pun bentuk kenyamanan, baik berupa kesejukan maupun minuman. Para ulama ahli tafsir dari generasi ke generasi telah menjelaskan ayat ini dengan pendekatan bahasa, riwayat dan makna yang saling melengkapi, mari kita simak bersama.<strong> </strong></p>
<h3><strong>Kesejukan dan Minuman yang Dicabut Total</strong></h3>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">لَا يَطْعَمُونَ فِيهَا بَرْدًا يُبَرِّدُ حَرَّ السَّعِيرِ عَنْهُمْ إِلَّا الْغَسَّاقَ، وَلَا شَرَابًا يُرْوِيهِمْ مِنْ شِدَّةِ الْعَطَشِ الَّذِي بِهِم إِلَّا الْحَمِيمَ</p>
<p>“Mereka tidak akan merasakan di neraka sesuatu yang dapat mendinginkan panas api yang menyala-nyala, kecuali <em>ghassaq</em> (cairan busuk yang sangat dingin dan menyiksa) dan tidak pula minuman yang dapat menghilangkan dahaga yang sangat, kecuali <em>hamim</em> (air yang sangat panas).” (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/27, cet. Dar Hajar, Kairo.)</p>
<p>Imam ath Thabari <strong>رحمه الله</strong> (w. 310 H) juga menyebutkan pendapat sebagian ahli bahasa yang menafsirkan <em>al bard</em> sebagai tidur, namun beliau menegaskan bahwa sepatutnya tafsir al Qur-an harus dikembalikan kepada makna bahasa Arab yang paling umum dan paling dikenal, bukan makna majazi yang jarang digunakan. (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/27-28, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<h3><strong>Neraka Tanpa Tidur dan Tanpa Istirahat</strong></h3>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: الْبَرْدُ بَرْدُ الشَّرَابِوَعَنْهُ أَيْضًا: الْبَرْدُ النَّوْمُ، وَالشَّرَابُ الْمَاء. وَقَالَ الزَّجَّاجُ: أَيْ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدَ رِيحٍ، وَلَا ظِلًّا، وَلَا نَوْمًا</p>
<p class="arab">فَجَعَلَ الْبَرْدَ بَرْدَ كُلِّ شَيْءٍ فِيهِ رَاحَةٌ، وَهَذَا بَرْدٌ يَنْفَعُهُمْ، فَأَمَّا الزَّمْهَرِيرُ فَهُوَ بَرْدٌ يَتَأَذَّوْنَ بِهِ فَلَا يَنْفَعُهُمْ</p>
<p>“Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) menafsirkan <em>al bard</em> sebagai kesejukan minuman dan dalam riwayat lain menyatakan <em>al bard</em> adalah tidur, sedangkan <em>asy syarab</em> adalah air. az Zajjaj <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 311 H) menjelaskan bahwa mereka tidak merasakan kesejukan angin, naungan, maupun tidur, yaitu segala bentuk kesejukan yang membawa kenyamanan. Adapun <em>zamharir </em>(dingin ekstrem di neraka), maka itu adalah dingin yang menyiksa, bukan menenangkan.” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<p>Imam Al-Qurthubi <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 671 H) menguraikan bahwa kata <em>al bard</em> dalam bahasa Arab juga digunakan untuk tidur, karena tidur memberi rasa sejuk dan jeda dari kelelahan. Oleh sebab itu, ayat ini menunjukkan bahwa penghuni neraka tidak diberi tidur, tidak diberi istirahat dan tidak diberi kelegaan fisik sama sekali.</p>
<p>Beliau menguatkan makna ini dengan hadis Nabi <strong>ﷺ</strong>:</p>
<p class="arab">« لَا؛ النَّوْمُ أَخُو الْمَوْتِ، وَالْجَنَّةُ لَا مَوْتَ فِيهَا »</p>
<p>“Tidak, tidur adalah saudara kematian dan di surga tidak ada kematian”; maka di neraka pun tidak ada tidur. (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<h3><strong>Tidak Ada Kesejukan Batin dan Minuman yang Layak</strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">أَيْ لَا يَجِدُونَ فِي جَهَنَّمَ بَرْدًا لِقُلُوبِهِمْ، وَلَا شَرَابًا طَيِّبًا يَتَغَذَّوْنَ بِهِ</p>
<p>“Yakni, mereka tidak akan mendapatkan di dalam neraka Jahanam kesejukan yang menenangkan hati mereka dan tidak pula minuman yang baik dan layak yang dapat mereka jadikan asupan untuk mempertahankan diri” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh)</p>
<p>Penafsiran ini menegaskan bahwa azab neraka bersifat lahir dan batin, yang artinya tubuh disiksa, hati pun tidak memperoleh ketenteraman sedikit pun.</p>
<h3><strong>Dicabutnya Dua Kebutuhan Dasar Manusia</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menyampaikan dalam tafsirnya:</p>
<p class="arab">فَإِذَا وَرَدُوهَا ﴿ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ﴾ أَيْ لَا مَا يُبَرِّدُ جُلُودَهُمْ، وَلَا مَا يَدْفَعُ ظَمَأَهُمْ</p>
<p>“Dan mereka, ketika telah masuk ke dalam neraka, tidak akan mencicipi di dalamnya sesuatu pun yang dapat mendinginkan kulit mereka dan tidak pula sesuatu yang dapat menolak atau menghilangkan rasa haus mereka.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan,</em> hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam)</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa neraka adalah tempat dicabutnya dua kebutuhan paling mendasar manusia yaitu kesejukan dan air.</p>
<p>Surah an Naba’ ayat 24 secara tegas menggambarkan neraka sebagai tempat tanpa kesejukan, tanpa minuman, tanpa tidur dan tanpa istirahat. Empat ulama tafsir di atas sepakat bahwa ayat ini menegaskan hilangnya seluruh bentuk kenyamanan fisik dan batin bagi peghuni neraka.</p>
<p>Ayat ini bukan sekadar informasi tentang akhirat, tetapi peringatan serius agar manusia tidak meremehkan dosa dan kekufuran. Di balik ancaman ini tersimpan rahmat Allah <strong>ﷻ</strong> berupa dorongan kuat agar manusia kembali kepada iman, taubat dan amal saleh sebelum datang hari ketika tidak ada lagi kesejukan dan tidak ada lagi minuman.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/">Tafsir Surat An-Naba’ 24</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba&#8217; 23</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2496/tafsir-surat-an-naba-23/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2496/tafsir-surat-an-naba-23/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2025 23:00:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2496</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir An-Naba&#8217; Ayat 23: Apakah Azab Neraka Akan Berakhir Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Salah satu ayat yang paling menggugah dalam Al-Qur’an adalah firman Allah ﷻ tentang lamanya orang-orang yang durhaka tinggal di neraka yang berbunyi: ﴿ لَّـٰبِثِینَ فِيهَا أَحْقَابًا ﴾ &#8220;Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya,&#8221; (Q.S An Naba’: 23) Apakah kata “ahqaaban” di sini menunjukkan bahwa azab neraka memiliki batas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2496/tafsir-surat-an-naba-23/">Tafsir Surat An-Naba’ 23</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir An-Naba&#8217; Ayat 23:</strong> <strong>Apakah Azab Neraka Akan Berakhir</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Salah satu ayat yang paling menggugah dalam Al-Qur’an adalah firman Allah ﷻ tentang lamanya orang-orang yang durhaka tinggal di neraka yang berbunyi:</p>
<p class="arab">﴿ لَّـٰبِثِینَ فِيهَا أَحْقَابًا ﴾</p>
<p><em>&#8220;Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya,&#8221; </em>(Q.S An Naba’: 23)</p>
<p>Apakah kata <em>“ahqaaban”</em> di sini menunjukkan bahwa azab neraka memiliki batas waktu, ataukah menggambarkan keabadian? Mari kita telusuri penjelasan para ulama tafsir yang kami nukilkan dalam artikel ini.</p>
<h3><strong>Makna Umum</strong></h3>
<p>Ayat ini berbicara tentang orang-orang yang durhaka dan kafir, yang akan tinggal di dalam neraka dalam masa-masa yang amat panjang.<br />
Ungkapan <em>“ahqaaban”</em> tidak sekadar menunjukkan waktu lama, tetapi mengandung makna kesinambungan dan tanpa batas untuk menggambarkan berat dan panjangnya azab yang mereka alami.</p>
<h3><strong>Penjelasan Para Ulama Tafsir</strong></h3>
<p>Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">إِنَّ هَؤُلَاءِ الطَّاغِينَ فِي الدُّنْيَا لَابِثُونَ فِي جَهَنَّمَ، فَمَاكِثُونَ فِيهَا أَحْقَابًا.</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas di dunia akan tetap tinggal di Neraka Jahanam, maka mereka menetap di dalamnya selama masa-masa yang panjang.”<a href="#_edn1" name="_ednref1">[1]</a></p>
<p>Lalu Imam al Qurthubi رحمه الله (w. 671 H) menjelaskan pula bahwa:</p>
<p class="arab">أَيْ مَاكِثِينَ فِي النَّارِ مَا دَامَتِ الْأَحْقَابُ، وَهِيَ لَا تَنْقَطِعُ، فَكُلَّمَا مَضَى حُقُبٌ جَاءَ حُقُبٌ</p>
<p>“Yaitu mereka tetap berada di neraka selama masa-masa itu masih ada, dan masa-masa itu tidak terputus; setiap kali satu masa telah berlalu, datanglah masa yang lain.”<a href="#_edn2" name="_ednref2">[2]</a></p>
<p>Berikutnya Imam Ibnu Katsir رحمه الله (w. 774 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">أَيْ: مَاكِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا، وَهِيَ جَمْعُ &#8220;حُقُبٍ&#8221;، وَهُوَ: الْمُدَّةُ مِنَ الزَّمَانِ.</p>
<p>“Yaitu mereka menetap di dalamnya selama masa-masa (yang panjang), dan kata <em>ahqaab</em> adalah bentuk jamak dari <em>huqb</em>, yaitu suatu jangka waktu dari zaman.”<a href="#_edn3" name="_ednref3">[3]</a></p>
<p>Lalu beliau menukilkan bahwa seakan-akan ayat ini dengan ayat berikutnya, sehingga maknanya ialah azab itu datang secara terus menerus silih berganti tiada henti.<a href="#_edn4" name="_ednref4">[4]</a></p>
<p>Kemudian Syaikh as Sa‘di رحمه الله (w. 1376 H) menyampaikan dalam tafsirnya:</p>
<p class="arab">وَأَنَّهُمْ يَلْبَثُونَ فِيهَا أَحْقَابًا كَثِيرَةً، وَالحُقْبُ عَلَى مَا قَالَهُ كَثِيرٌ مِنَ المُفَسِّرِينَ: ثَمَانُونَ سَنَةً.</p>
<p>“Dan sesungguhnya mereka tinggal di dalamnya selama masa-masa yang panjang. Adapun satu <em>ḥuqb</em>, menurut banyak mufassir, adalah delapan puluh tahun.”<a href="#_edn5" name="_ednref5">[5]</a></p>
<h3><strong>Perbedaan Qira-ah (cara membaca)</strong></h3>
<p>Imam Ath Thabari رحمه الله (w. 310 H)  menjelaskan adanya perbedaan <em>qira’ah </em>(cara baca) pada kata <em>“laabitsiina”</em>:</p>
<ol>
<li><em>“laabitsiina”</em> (dengan memanjangkan <em>“laa”</em>) adalah bacaan paling fasih dan umum.</li>
<li><em>“labitsiina”</em> (dengan memendekkan <em>“la”</em>) adalah bacaan shahih dan diakui.</li>
</ol>
<p>Menurut beliau, bentuk <em>fa‘il</em> (nomor 2) jarang digunakan, adapun penggunaan dalam bentuk <em>faa‘il </em>(nomor 1) ini lebih banyak ditemukan karena lebih sesuai kaidah bahasa Arab klasik.<a href="#_edn6" name="_ednref6">[6]</a></p>
<p><strong>Perbedaan Pendapat Tentang Makna <em>“Ahqaaban”</em></strong></p>
<p>Kata <em>“Ahqaab”</em> adalah bentuk jamak dari <em>huqb </em>yang bermakna masa yang panjang atau zaman, berasal dari kata <em>hiqbah </em>yang bermakna satu tahun. Sehingga maknanya ialah masa-masa yang panjang tanpa batas. Istilah digunakan untuk menunjukkan keabadian dan menegaskan kedahsyatan azab sehingga lebih menggetarkan hati.<a href="#_edn7" name="_ednref7">[7]</a></p>
<p>Adapun tentang berapa lamanya satu <em>huqb,</em> maka disini ada perbedaan:</p>
<ul>
<li><strong>300 tahun</strong>, yang berpendapat demikian ialah Basyir bin Ka‘b al ‘Adawi رحمه الله (w. 87 H).<a href="#_edn8" name="_ednref8">[8]</a></li>
<li><strong>80 tahun</strong>, diantara yang berpendapat demikian ialah Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما (w. 68 H) dan Ibnu Umar رضي الله عنهما (w. 73 H), ini juga merupakan pendapat mayoritas sahabat dan tabi’in.</li>
<li><strong>40 tahun, </strong> riwayat lain dari pendapat Ibnu Umar رضي الله عنهما (w. 73 H).</li>
<li><strong>70.000 tahun</strong>, yang berpendapat demikian ialah Hasan al Bashri رحمه الله (w. 110 H).<a href="#_edn9" name="_ednref9">[9]</a></li>
<li><strong>Tanpa akhir</strong> (terus bersambung) diantara yang berpendapat demikian ialah Qatadah رحمه الله (w. 117 H) dan Rabi‘ bin Anas al Bakri رحمه الله (w. 139 H).</li>
</ul>
<p>Lalu terkait hal ini, Imam Ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) menukilkan pandangan khusus dari Khalid bin Ma‘dan رحمه الله (w. 103 H) bahwa ayat ini ditujukan kepada orang-orang beriman yang berdosa, bukan orang kafir, yaitu mereka yang akan disucikan terlebih dahulu di neraka sebelum akhirnya dikeluarkan, sehingga ia hanya bersifat sementara saja. Meskipun demikian, beliau lebih menguatkan pendapat dari Qatadah رحمه الله (w. 117 H) dan Rabi‘ bin Anas al Bakri رحمه الله (w. 139 H) yang berpendapat bahwa maknanya adalah <strong>abadi tiada ujungnya.</strong><a href="#_edn10" name="_ednref10">[10]</a></p>
<p>Adapun tahun yang dimaksudkan disini ialah tahun hitungan akhirat. Dimana 1 hari akhirat itu sama dengan 1000 tahun hitungan dunia, sebagaimana firman Allah ﷻ :</p>
<p class="arab">وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.</em>” (QS. Al Hajj: 48)</p>
<p>Setelah menukilkan sekian banyak pendapat dan penjelasan tentang kata <em>“Ahqaaban”</em> Imam al Qurthubi رحمه الله (w. 671 H) menyimpulkan bahwa dalam konteks orang beriman maka <em>“Ahqaaban”</em> adalah waktu yang panjang walaupun sifatnya sementara saja, sedangkan bagi orang kafir maka ia bermakna abadi selamanya.<a href="#_edn11" name="_ednref11">[11]</a></p>
<h3><strong>Kesimpulan</strong></h3>
<p>Dari berbagai penjelasan para ulama tafsir di atas, dapat disimpulkan bahwa istilah <em>“Ahqaaban” </em>disini menggambarkan <strong>masa-masa yang amat panjang</strong> dan <strong>berkesinambungan tanpa akhir.</strong> Kata tersebut tidak sekadar menunjukkan lamanya waktu, tetapi juga menegaskan keabadian azab bagi orang-orang kafir dan durhaka, sebagaimana ditegaskan oleh mayoritas mufassir klasik.</p>
<p>Walapun para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan lamanya satu <em>“Huqb”</em>, akan tetapi secara garis besar dapat dipahami bahwa ia adalah ungkapan keabadian dan kesinambungan azab yang tiada henti bagi orang kafir, sekaligus peringatan keras bagi manusia secara umum agar tidak melampaui batas dan durhaka kepada Allah.</p>
<p>Ayat ini juga menjadi pengingat mendalam tentang keadilan dan kebesaran Allah, bahwa siapa pun yang berpaling dari iman akan kekal dalam azab yang tak berujung, sedangkan yang beriman dan bertaubat akan diselamatkan dengan rahmat-Nya.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p>
<h3><a href="#_ednref1" name="_edn1"></a><strong>Refrensi:</strong></h3>
<p>[1] <em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran,</em> 24/22, cet. Dar Hajar, Kairo.<br />
<a href="#_ednref2" name="_edn2">[2]</a> <em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/177, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh.<br />
<a href="#_ednref3" name="_edn3">[3]</a> <em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim</em>, 8/305, cet. Dar Thayyibah, Riyadh.<br />
<a href="#_ednref4" name="_edn4">[4]</a> Baca: <em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim</em>, 8/306.<br />
<a href="#_ednref5" name="_edn5">[5]</a> <em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam.<br />
<a href="#_ednref6" name="_edn6">[6]</a> <em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran,</em> 24/22.<br />
<a href="#_ednref7" name="_edn7">[7]</a> <em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/177-178.<br />
<a href="#_ednref8" name="_edn8">[8]</a> <em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran,</em> 24/24.<br />
<a href="#_ednref9" name="_edn9">[9]</a> <em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/178.<br />
<a href="#_ednref10" name="_edn10">[10]</a> <em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran,</em> 24/26-27.<br />
<a href="#_ednref11" name="_edn11">[11]</a> <em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/179.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2496/tafsir-surat-an-naba-23/">Tafsir Surat An-Naba’ 23</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2496/tafsir-surat-an-naba-23/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
