<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Haji &amp; Umrah - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/category/fiqih/haji-umrah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Jun 2026 04:51:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.1</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>Haji &amp; Umrah - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hukum Walimah Haji Menyambut dan Menjamu Jamaah</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2026 04:51:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Haji & Umrah]]></category>
		<category><![CDATA[adab menyambut jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[amalan setelah haji]]></category>
		<category><![CDATA[doa untuk jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum acara penyambutan haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menjamu jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum syar'i penyambutan haji.]]></category>
		<category><![CDATA[hukum syukuran haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum walimah haji]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>
		<category><![CDATA[islam dan haji]]></category>
		<category><![CDATA[jamaah haji pulang]]></category>
		<category><![CDATA[kajian fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[kajian islam tentang haji]]></category>
		<category><![CDATA[manasik haji]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah menyambut jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi menyambut haji]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan haji sesuai sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz ammi nur baits]]></category>
		<category><![CDATA[walimah haji dalam islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3034</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bolehkah Menyambut dan Mengadakan Jamuan Makan atas Kepulangan Jamaah Haji Kepulangan seseorang dari ibadah haji biasanya menjadi momen yang sangat membahagiakan. Keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat sekitar sering kali ikut menyambut kedatangannya dengan rasa syukur. Di sebagian tempat, penyambutan itu dilakukan dengan kunjungan, ucapan selamat, doa, bahkan jamuan makan. Lalu, bagaimana hukum merayakan kepulangan jamaah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/">Hukum Walimah Haji Menyambut dan Menjamu Jamaah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Bolehkah Menyambut dan Mengadakan Jamuan Makan atas Kepulangan Jamaah Haji</strong></h2>
<p>Kepulangan seseorang dari ibadah haji biasanya menjadi momen yang sangat membahagiakan. Keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat sekitar sering kali ikut menyambut kedatangannya dengan rasa syukur. Di sebagian tempat, penyambutan itu dilakukan dengan kunjungan, ucapan selamat, doa, bahkan jamuan makan.</p>
<p>Lalu, bagaimana hukum merayakan kepulangan jamaah haji dan membuatkan makanan untuknya? Apakah hal seperti ini dibolehkan dalam syariat?</p>
<p>Secara umum, menyambut orang yang datang dari haji, memberi ucapan selamat, dan membuatkan jamuan makan untuknya adalah perkara yang dibolehkan. Bahkan, jika orang yang baru pulang dari haji itu sendiri membuat makanan lalu mengundang orang lain, hal tersebut juga dibolehkan. Maka, apabila keluarga atau masyarakat yang membuatkan makanan untuknya sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur, tentu hal itu juga masuk dalam perkara yang boleh, selama tidak disertai hal-hal yang dilarang.</p>
<p>Dasar kebolehannya adalah karena dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat riwayat yang menunjukkan adanya penyambutan terhadap orang yang datang dari perjalanan. Penyambutan ini tidak hanya terbatas pada perjalanan haji, tetapi juga mencakup perjalanan lain seperti umrah, dagang, jihad, atau safar secara umum.</p>
<p>Dalil tentang Menyambut Orang yang Datang dari Perjalanan</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:</p>
<p class="arab">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ اسْتَقْبَلَتْهُ أُغَيْلِمَةُ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَحَمَلَ وَاحِدًا بَيْنَ يَدَيْهِ وَآخَرَ خَلْفَهُ.</p>
<p>“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ‘Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Makkah, anak-anak kecil dari Bani Abdul Muthalib menyambut beliau. Lalu beliau membawa salah seorang dari mereka di depan beliau dan yang lain di belakang beliau.’”</p>
<p>Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam <em>Shahih Al-Bukhari</em>, no. 1704, dalam Kitab Al-‘Umrah. Imam Al-Bukhari membuat judul bab untuk hadis ini:</p>
<p class="arab">بَابُ اسْتِقْبَالِ الْحَاجِّ الْقَادِمِينَ، وَالثَّلَاثَةِ عَلَى الدَّابَّةِ</p>
<p>“Bab menyambut orang-orang haji yang datang, dan tiga orang berada di atas kendaraan.”</p>
<p>Pemberian judul bab oleh Imam Al-Bukhari ini menunjukkan bahwa menyambut orang yang datang dari haji termasuk perkara yang dikenal dan memiliki dasar dalam sunnah.</p>
<p>Dalam riwayat lain, Ibnu Az-Zubair pernah berkata kepada Ibnu Ja‘far radhiyallahu ‘anhum:</p>
<p class="arab">وَقَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ لِابْنِ جَعْفَرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ: أَتَذْكُرُ إِذْ تَلَقَّيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَأَنْتَ وَابْنُ عَبَّاسٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَحَمَلَنَا وَتَرَكَكَ.</p>
<p>“Ibnu Az-Zubair berkata kepada Ibnu Ja‘far radhiyallahu ‘anhum, ‘Apakah engkau ingat ketika aku, engkau, dan Ibnu Abbas menyambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ibnu Ja‘far menjawab, ‘Ya, lalu beliau membawa kami dan meninggalkanmu.’”(HR. Al-Bukhari, no. 2916).</p>
<p>Dari Abdullah bin Ja‘far radhiyallahu ‘anhu, beliau juga berkata:</p>
<p class="arab">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا. قَالَ: فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ. قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.</p>
<p>“Dari Abdullah bin Ja‘far, ia berkata, ‘Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari perjalanan, kami biasa dibawa untuk menyambut beliau.’ Ia berkata, ‘Maka aku bersama Al-Hasan atau Al-Husain dibawa untuk menyambut beliau. Lalu beliau membawa salah seorang dari kami di depan beliau dan yang lain di belakang beliau, sampai kami masuk ke Madinah.’” (HR. Muslim, no. 2428).</p>
<p>Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa menyambut kedatangan orang yang pulang dari perjalanan adalah perkara yang dibolehkan. Jika penyambutan terhadap musafir secara umum dibolehkan, maka menyambut orang yang pulang dari ibadah haji juga dibolehkan, selama tidak disertai perkara yang melanggar syariat.</p>
<p>Jamuan Makan untuk Orang yang Pulang dari Safar</p>
<p>Di antara bentuk penyambutan orang yang datang dari perjalanan adalah membuat makanan untuknya. Dalam istilah fikih, makanan yang dibuat karena kedatangan seseorang dari safar disebut النقيعة (<em>an-naqī‘ah</em>).</p>
<p>Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">يُسْتَحَبُّ النَّقِيعَةُ، وَهِيَ طَعَامٌ يُعْمَلُ لِقُدُومِ الْمُسَافِرِ، وَيُطْلَقُ عَلَى مَا يَعْمَلُهُ الْمُسَافِرُ الْقَادِمُ، وَعَلَى مَا يَعْمَلُهُ غَيْرُهُ لَهُ.</p>
<p>“Dianjurkan an-naqī‘ah, yaitu makanan yang dibuat karena kedatangan musafir. Istilah ini digunakan untuk makanan yang dibuat oleh musafir yang baru datang, dan juga untuk makanan yang dibuat oleh orang lain untuknya.”</p>
<p>Kemudian beliau melanjutkan, Di antara dalil yang digunakan dalam masalah ini adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu:</p>
<p class="arab">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً.</p>
<p>“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah dari perjalanannya, beliau menyembelih seekor unta atau sapi.” (<em>Al-Majmu‘ Syarh Al-Muhadzdzab</em>, 4/400).</p>
<p>Dalam kitab <em>Manasik Al-Hajj wa Al-‘Umrah fi Al-Islam fi Dhau’ Al-Kitab wa As-Sunnah</em> (hlm. 704), disebutkan:</p>
<p class="arab">يُسْتَحَبُّ جَمْعُ الْأَصْحَابِ وَإِطْعَامُهُمْ عِنْدَ الْقُدُومِ مِنَ السَّفَرِ؛ لِفِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.</p>
<p>“Dianjurkan mengumpulkan sahabat dan memberi mereka makan ketika datang dari perjalanan, berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”</p>
<p>Kemudian disebutkan hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma diatas.</p>
<p>Keterangan ini menunjukkan bahwa membuat makanan karena kedatangan seseorang dari perjalanan memiliki dasar dalam pembahasan fikih. Karena itu, apabila seorang jamaah haji yang baru pulang membuat makanan dan mengundang orang lain, hal itu dibolehkan. Demikian pula jika keluarga, kerabat, atau masyarakat membuatkan makanan untuk menyambutnya.</p>
<p>Al-Qalyubi rahimahullah menyebutkan beberapa adab ketika seseorang kembali dari perjalanan. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">يُنْدَبُ أَنْ يَحُجَّ الرَّجُلُ بِأَهْلِهِ، وَأَنْ يَحْمِلَ هَدِيَّةً مَعَهُ، وَأَنْ يَأْتِيَ إِذَا عَادَ مِنْ سَفَرٍ &#8211; وَلَوْ قَصِيرًا &#8211; بِهِبَةٍ لِأَهْلِهِ، وَأَنْ يُرْسِلَ لَهُمْ مَنْ يُخْبِرُهُمْ بِقُدُومِهِ إِنْ لَمْ يَعْلَمُوا بِهِ، وَأَنْ يَقْصِدَ أَقْرَبَ مَسْجِدٍ فَيُصَلِّيَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةَ الْقُدُومِ، وَأَنْ يُصْنَعَ لَهُ وَلِيمَةٌ تُسَمَّى النَّقِيعَةَ، وَأَنْ يَتَلَقَّوْهُ كَغَيْرِهِمْ، وَأَنْ يُقَالَ لَهُ &#8211; إِنْ كَانَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا &#8211; تَقَبَّلَ اللَّهُ حَجَّكَ وَعُمْرَتَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَأَخْلَفَ عَلَيْكَ نَفَقَتَكَ.</p>
<p>“Dianjurkan bagi seseorang untuk berhaji bersama keluarganya, membawa hadiah bersamanya, dan ketika ia kembali dari perjalanan — meskipun perjalanan singkat — ia membawa pemberian untuk keluarganya. Dianjurkan pula mengirim orang untuk memberi tahu keluarganya tentang kedatangannya apabila mereka belum mengetahuinya, menuju masjid terdekat lalu shalat dua rakaat sebagai sunnah kedatangan (dari safar), dibuatkan untuknya jamuan yang disebut an-naqī‘ah, disambut sebagaimana orang lain disambut, dan dikatakan kepadanya jika ia seorang haji atau umrah: ‘Semoga Allah menerima haji dan umrahmu, mengampuni dosamu, dan mengganti nafkahmu.’” (<em>Hasyiyah Al-Qalyubi ‘ala Syarh Al-Minhaj</em>, 2/190).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang kebiasaan sebagian masyarakat, khususnya di desa-desa, yang membuat jamuan setelah jamaah haji pulang dari Makkah. Jamuan tersebut terkadang disebut “sembelihan untuk jamaah haji”, “kegembiraan atas kepulangan jamaah haji”, atau “syukuran keselamatan jamaah haji”. Dalam pertanyaan itu juga disebutkan bahwa terkadang acara tersebut disertai sikap berlebihan dan pemborosan.</p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p class="arab">هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ، لَا بَأْسَ بِإِكْرَامِ الْحُجَّاجِ عِنْدَ قُدُومِهِمْ؛ لِأَنَّ هَذَا يَدُلُّ عَلَى الِاحْتِفَاءِ بِهِمْ، وَيُشَجِّعُهُمْ أَيْضًا عَلَى الْحَجِّ، لَكِنِ التَّبْذِيرُ الَّذِي أَشَرْتَ إِلَيْهِ وَالْإِسْرَافُ هُوَ الَّذِي يُنْهَى عَنْهُ؛ لِأَنَّ الْإِسْرَافَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ، سَوَاءٌ بِهَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ، أَوْ غَيْرِهَا.</p>
<p>“Hal itu tidak mengapa. Tidak mengapa memuliakan para jamaah haji ketika mereka datang, karena hal ini menunjukkan penghormatan kepada mereka dan juga dapat mendorong mereka untuk melaksanakan haji. Akan tetapi, pemborosan yang engkau sebutkan dan sikap berlebihan itulah yang dilarang. Sebab, berlebihan itu dilarang, baik dalam kesempatan ini maupun kesempatan lainnya.”</p>
<p>Kemudian beliau menyebutkan firman Allah Ta‘ala:</p>
<p class="arab">وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ</p>
<p>“Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An‘am: 141).</p>
<p>Allah Ta‘ala juga berfirman:</p>
<p class="arab">إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang melakukan pemborosan itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 27).</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah kemudian melanjutkan:</p>
<p class="arab">لَكِنْ إِذَا كَانَتْ وَلِيمَةً مُنَاسِبَةً، عَلَى قَدْرِ الْحَاضِرِينَ، أَوْ تَزِيدُ قَلِيلًا: فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ مِنَ النَّاحِيَةِ الشَّرْعِيَّةِ، وَمِنَ النَّاحِيَةِ الِاجْتِمَاعِيَّةِ.</p>
<p>“Namun, apabila jamuan itu sesuai, sekadar jumlah orang yang hadir atau lebih sedikit, maka hal itu tidak mengapa, baik dari sisi syariat maupun dari sisi sosial.”(<em>Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh</em>, pertemuan ke-154, pertanyaan no. 12).</p>
<p>Dari fatwa ini dapat disimpulkan bahwa yang dilarang bukanlah acara penyambutan atau jamuan itu sendiri, melainkan pemborosan, sikap berlebihan, dan memaksakan diri di luar kemampuan.</p>
<p>Berdasarkan ulasan di atas, mengadakan jamuan setelah kepulangan jamaah haji pada dasarnya termasuk perkara yang dibolehkan, selama tidak diyakini sebagai sesuatu yang wajib atau sebagai bagian khusus dari rangkaian ibadah haji yang harus dilakukan. Jamuan tersebut juga harus dijaga dari penyimpangan, kemaksiatan, sikap berlebihan, pemborosan, dan hal-hal yang memberatkan.</p>
<p>Apabila jamuan itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, penghormatan kepada tamu, penyambutan terhadap orang yang baru pulang dari perjalanan, serta sarana mempererat silaturahmi, maka hukumnya boleh. Terlebih dalam pembahasan fikih dikenal istilah <em>an-naqī‘ah</em>, yaitu makanan yang dibuat karena kedatangan seorang musafir.</p>
<p>Dengan demikian, selama batasan-batasan syariat tersebut dijaga, maka acara penyambutan jamaah haji dan jamuan makan untuknya termasuk perkara yang dibolehkan.</p>
<p>Dan tidak mengapa memberi ucapan selamat kepada orang yang baru pulang dari haji. Ucapan tersebut boleh menggunakan kalimat apa saja selama maknanya baik, dibolehkan dalam syariat, dan berisi doa.</p>
<p>Di antara ucapan yang baik adalah:</p>
<p class="arab">تَقَبَّلَ اللَّهُ طَاعَتَكُمْ</p>
<p>“Semoga Allah menerima ketaatan kalian.”</p>
<p>Atau:</p>
<p class="arab">حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا</p>
<p>“Semoga menjadi haji yang mabrur dan usaha yang diterima.”</p>
<p>Atau:</p>
<p class="arab">تَقَبَّلَ اللَّهُ نُسُكَكَ، وَأَعْظَمَ أَجْرَكَ، وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ</p>
<p>“Semoga Allah menerima ibadah manasikmu, memperbesar pahalamu,</p>
<p>Ibnu Muflih rahimahullah menyebutkan:</p>
<p class="arab">وَأَمَّا الْحَاجُّ فَسَمِعْنَا عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي قِلَابَةَ، وَأَنَّ النَّاسَ لَيَدْعُونَ.</p>
<p>“Adapun tentang orang yang berhaji, kami mendengar dari Ibnu Umar dan Abu Qilabah bahwa orang-orang mendoakannya.” (Ibnu Muflih, <em>Al-Furu‘</em>, 6/193–194).</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/">Hukum Walimah Haji Menyambut dan Menjamu Jamaah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untukmu yang Baru Pulang Berhaji</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3030/untukmu-yang-baru-pulang-berhaji/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3030/untukmu-yang-baru-pulang-berhaji/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2026 22:30:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Haji & Umrah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3030</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untukmu yang Baru Pulang Berhaji Betapa cepat hari-hari berlalu. Rasanya baru sekejap kita menanti datangnya Dzulhijjah, lalu hari-hari agung itu pun telah pergi. Musim ketaatan datang membawa peluang amal, lalu berlalu meninggalkan catatan yang kelak akan dibuka di hadapan Allah. Allah Ta’ala berfirman: ﴿وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3030/untukmu-yang-baru-pulang-berhaji/">Untukmu yang Baru Pulang Berhaji</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Untukmu yang Baru Pulang Berhaji</strong></h2>
<p>Betapa cepat hari-hari berlalu. Rasanya baru sekejap kita menanti datangnya Dzulhijjah, lalu hari-hari agung itu pun telah pergi. Musim ketaatan datang membawa peluang amal, lalu berlalu meninggalkan catatan yang kelak akan dibuka di hadapan Allah.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا ۝ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا﴾</p>
<p>“Dan setiap manusia telah Kami kalungkan catatan amalnya di lehernya. Dan pada Hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” <em>[QS. Al-Isra’: 13–14]</em></p>
<p>Sungguh, kaum muslimin baru saja melewati hari-hari yang mulia: sepuluh hari pertama Dzulhijjah, hari Arafah, hari Nahr, dan hari-hari Tasyriq. Pada hari-hari itu, lisan kaum muslimin basah dengan takbir, tahlil, talbiyah, doa, dan zikir. Hati mereka diarahkan untuk mengagungkan Allah, mentauhidkan-Nya, dan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.</p>
<p>Di hari-hari itu pula, para jamaah haji menunaikan salah satu ibadah terbesar. Mereka berihram dari miqat, berdiri di Arafah dengan penuh harap dan ketundukan, bermalam di Muzdalifah, melontar jumrah, thawaf di Baitullah, dan sa’i antara Shafa dan Marwah. Itulah perjalanan iman; perjalanan seorang hamba yang datang dengan kelemahan dirinya, lalu berharap pulang membawa rahmat dan ampunan Rabb-nya.</p>
<p>Maka siapa yang dimudahkan oleh Allah untuk berhaji, hendaklah ia bergembira dengan karunia itu; bukan gembira karena bangga, tetapi gembira karena syukur karena sadar itu semua berkat kemudahan dan karunia dari Allah.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ﴾</p>
<p>“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” <em>[QS. Yunus: 58]</em></p>
<p>Haji adalah amal yang sangat utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal yang paling utama. Beliau menjawab:</p>
<p class="arab">&#8220;إِيمان بالله ورسوله، قال: ثم ماذا؟ قال: جِهادٌ في سبيل الله، قال: ثم ماذا؟ ‌قال: ‌حَجٌّ ‌مبرورٌ&#8221;</p>
<p>“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Dikatakan, “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berjihad di jalan Allah.”</p>
<p>Dikatakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Haji yang mabrur.” <em>(Muttafaqun ‘alaih)</em></p>
<p>Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<p class="arab">«مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»</p>
<p>“Barang siapa menunaikan haji, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti pada hari ketika ibunya melahirkannya.” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Dan beliau bersabda:</p>
<p class="arab">«الحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ»</p>
<p>“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (<em>Muttafaqun ‘alaih)</em>.</p>
<p>Jika haji memiliki kedudukan sedemikian agung, maka nikmat dapat menunaikannya harus disambut dengan syukur dengan banyak memuji dan menyebut nama nama Allah dan dijaga dengan istiqamah. Sebab nikmat yang disyukuri akan mengundang tambahan karunia, sedangkan nikmat yang dilalaikan dapat menjadi sebab kerugian.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan penyelesaian manasik:</p>
<p class="arab">﴿فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا﴾</p>
<p>“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu.” <em>[QS. Al-Baqarah: 200]</em></p>
<p>Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:</p>
<p class="arab">»إِنَّ النِّعْمَةَ مَوْصُولَةٌ بِالشُّكْرِ، وَالشُّكْرُ يَتَعَلَّقُ بِالْمَزِيدِ، وَهُمَا مَقْرُونَانِ فِي قَرَنٍ، فَلَنْ يَنْقَطِعَ الْمَزِيدُ مِنَ اللهِ حَتَّى يَنْقَطِعَ الشُّكْرُ مِنَ الْعَبْدِ«</p>
<p>“Sesungguhnya nikmat itu tersambung dengan syukur. Syukur berkaitan erat dengan bertambahnya nikmat. Keduanya terikat dalam satu ikatan. Maka tambahan karunia dari Allah tidak akan terputus, sampai syukur dari seorang hamba itu terputus<em>.” (‘Uddatush Shabirin, hlm. 123)</em>.</p>
<p>Maka pertanyaan besar setelah haji adalah: apa yang berubah dalam diri kita?</p>
<p>Apakah setelah talbiyah berhenti, hati juga berhenti mengingat Allah? Apakah setelah ihram ditanggalkan, ketakwaan juga ikut ditanggalkan? Apakah setelah kembali dari Tanah Suci, seorang hamba kembali kepada kebiasaan lamanya, atau justru memulai hidup baru yang lebih dekat kepada Allah?</p>
<p>Sesungguhnya musim ketaatan bukanlah sekadar hari-hari yang datang lalu pergi. Ia adalah madrasah bagi hati, pintu taubat, dan kesempatan untuk memperbarui janji dengan Allah.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾</p>
<p>“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung<em>.” [QS. An-Nur: 31]</em></p>
<p>Tanda seseorang mengambil manfaat dari musim ketaatan adalah ketika bekasnya tampak setelah musim itu berlalu. Salatnya lebih terjaga. Lisannya lebih bersih. Hatinya lebih lembut. Akhlaknya lebih baik. Ia lebih berhati-hati dari dosa, lebih mudah bersimpuh dihadapan Allah, kembali kepada Allah, dan lebih takut menyia-nyiakan amalnya.</p>
<p>Adapun orang yang giat di musim ibadah, lalu setelah itu kembali kepada kelalaian dan maksiat, maka ia seperti orang yang membongkar kembali tenunan yang telah ia pintal sendiri.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا﴾</p>
<p>“Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali benangnya yang telah dipintal dengan kuat, sehingga tercerai-berai kembali.” <em>[QS. An-Nahl: 92]</em></p>
<p>Karena itu, setelah haji seorang hamba membutuhkan dua hal besar: istiqamah dan istighfar. Istiqamah agar ia tetap berjalan di atas ketaatan. Istighfar karena ia sadar bahwa amalnya selalu memiliki kekurangan.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ﴾</p>
<p>“Maka istiqamahlah kalian menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” <em>[QS. Fussilat: 6]</em></p>
<p>Orang beriman tidak hanya beramal, tetapi juga takut amalnya tidak diterima. Ia tidak tertipu oleh ibadahnya. Ia tidak merasa aman karena banyaknya ketaatan. Ia beramal dengan harap, tetapi juga membawa rasa takut yang mendidik hatinya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ۝ أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ﴾</p>
<p>“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut, karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” <em>[QS. Al-Mu’minun: 60–61]</em></p>
<p>Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat tersebut, apakah yang dimaksud adalah orang yang mencuri, berzina, dan meminum khamar, sementara ia takut kepada Allah? Maka beliau bersabda:</p>
<p class="arab">»لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ«</p>
<p>“Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang berpuasa, salat, dan bersedekah, namun mereka takut amal-amal itu tidak diterima dari mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3175, dan Ibnu Majah, no. 4198).</p>
<p>Maka janganlah seorang hamba tertipu oleh banyaknya amal. Sebab amal hanya diterima apabila ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾</p>
<p>“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” <em>[QS. Al-Kahfi: 110]</em></p>
<p>Maka perkara pertama yang harus dijaga setelah haji adalah tauhid kepada Allah. Tidak ada yang disembah selain Allah. Tidak ada yang dimintai doa selain Allah. Tidak ada tempat bergantung dan bertawakal kecuali kepada Allah. Tauhid adalah pokok agama; dengannya amal diterima, dan dengan rusaknya tauhid, amal menjadi terancam.</p>
<p>Setelah tauhid, jagalah tanda-tanda haji yang mabrur: salat yang lebih terjaga, hati yang lebih lembut, akhlak yang lebih baik, lisan yang lebih bersih, harta yang lebih hati-hati, hubungan keluarga yang lebih tersambung, dan kehidupan yang lebih dekat kepada akhirat.</p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya, “Apa tanda haji mabrur?” Beliau menjawab:</p>
<p class="arab">«آيَةُ ذَلِكَ أَنْ يَرْجِعَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الآخِرَةِ»</p>
<p>“Tandanya adalah seseorang kembali dalam keadaan lebih zuhud terhadap dunia dan lebih merindukan akhirat<em>.” (Lathā’if al-Ma‘ārif, hlm. 125).</em></p>
<p>Mendawamkan ketaatan memiliki pengaruh besar bagi hati. Ia menyambungkan hati dengan Allah, melatih jiwa di atas kebaikan, dan membuka pintu cinta Allah kepada hamba-Nya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi:</p>
<p class="arab">»وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَ بِي لَأُعِيذَنَّهُ«</p>
<p>“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memberinya. Dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya.” <em>(HR. Al-Bukhari, no. 6502).</em></p>
<p>Seorang hamba harus selalu bertakwalah kepada Allah, melaksanakan ketaatan kepadaNya, menjaga ibadah baik yang wajib maupun sunnahnya. Jangan sampai Allah melihat kita berada di tempat yang Dia larang, dan jangan sampai Allah tidak mendapati kita di tempat yang Dia perintahkan. Sesungguhnya Allah mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada.</p>
<p>Selain itu, seorang mukmin harus berbaik sangka kepada Allah. Ia berharap amalnya diterima, dosanya diampuni, dan rahmat Allah meliputi dirinya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi:</p>
<p class="arab">«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي»</p>
<p>“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku<em>.” (Muttafaqun ‘alaih).</em></p>
<p>Namun husnuzan kepada Allah bukan alasan untuk terus bermaksiat. Husnuzan yang benar adalah yang melahirkan taubat dan amal saleh. Adapun orang yang tenggelam dalam dosa, melampaui batas Allah, lalu berkata, “Aku berbaik sangka kepada Rabb-ku,” maka itu bukan husnuzan, melainkan angan-angan yang menipu.</p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">»إِنَّ قَوْمًا أَلْهَتْهُمُ الأَمَانِيُّ حَتَّى خَرَجُوا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا لَهُمْ مِنْ حَسَنَةٍ، يَقُولُ أَحَدُهُمْ: إِنِّي أُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّي. وَكَذَبَ&#8230; وَلَوْ أَحْسَنَ الظَّنَّ لَأَحْسَنَ العَمَلَ«</p>
<p>“Sesungguhnya ada suatu kaum yang dilalaikan oleh angan-angan, hingga mereka keluar dari dunia dalam keadaan tidak memiliki satu pun kebaikan. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Sesungguhnya aku berbaik sangka kepada Rabb-ku.’ Ia telah berdusta. Seandainya ia benar-benar berbaik sangka kepada Allah, niscaya ia akan memperbaiki amalnya.” <em>(At-Tadzkirah bi Ahwāl al-Mautā wa Umūr al-Ākhirah, hlm. 128).</em></p>
<p>Musim haji mungkin telah berlalu, tetapi ibadah tidak pernah selesai selama nyawa masih berada di badan. Seorang mukmin adalah hamba Allah di setiap waktu: dalam salatnya, zikirnya, akhlaknya, amanahnya, pekerjaannya, keluarganya, lisannya, hartanya, dan seluruh jalan hidupnya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾</p>
<p>“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” <em>[QS. Adz-Dzariyat: 56]</em></p>
<p>Maka alangkah indahnya bila seseorang pulang dari haji dengan hati yang lebih tunduk, akhlak yang lebih lembut, pikiran yang lebih jernih, dan hidup yang lebih dekat kepada Allah. Itulah buah haji yang berbekas.</p>
<p>Karena itu, tetaplah bermuhasabah. Perbanyaklah istighfar setelah amal, sebagaimana Allah memerintahkan istighfar di akhir rangkaian haji:</p>
<p class="arab">﴿ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾</p>
<p>“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak, yaitu Arafah, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” <em>[QS. Al-Baqarah: 199]</em></p>
<p>Maka teguhlah di atas ketaatan setelah berhaji. Jagalah tauhid. Rawatlah salat. Lembutkan hati. Bersihkan lisan. Perbaiki akhlak. Perbanyak zikir, syukur, dan istighfar. Mohonlah kepada Allah agar amal diterima dan hati diteguhkan.</p>
<p>Sebab ukuran sebenarnya bukanlah seberapa besar semangat seorang hamba di awal perjalanan, tetapi seberapa jujur ia menjaga ketaatan hingga akhir kehidupan.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3030/untukmu-yang-baru-pulang-berhaji/">Untukmu yang Baru Pulang Berhaji</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3030/untukmu-yang-baru-pulang-berhaji/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Haji Tamattu’, Qiran, dan Ifrad</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2968/mengenal-haji-tamattu-qiran-dan-ifrad/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2968/mengenal-haji-tamattu-qiran-dan-ifrad/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2026 07:06:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Haji & Umrah]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji ifrad]]></category>
		<category><![CDATA[haji mana yang paling utama]]></category>
		<category><![CDATA[haji qiran]]></category>
		<category><![CDATA[haji tamattu]]></category>
		<category><![CDATA[hukum haji ifrad]]></category>
		<category><![CDATA[hukum haji qiran]]></category>
		<category><![CDATA[hukum haji tamattu]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji sesuai sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[jenis jenis haji]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan haji]]></category>
		<category><![CDATA[manasik haji]]></category>
		<category><![CDATA[panduan haji lengkap]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan haji tamattu qiran ifrad]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2968</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa Perbedaan Tamattu’, Qiran, dan Ifrad dalam Haji, Dan Manakah Yang Utama ? Dalam pelaksanaan ibadah haji, seorang jamaah tidak hanya dituntut memahami rangkaian manasik secara umum, tetapi juga perlu mengetahui jenis nusuk yang akan ia pilih sejak awal ihram. Pemilihan nusuk ini penting karena masing-masing memiliki tata cara, konsekuensi hukum, dan ketentuan tersendiri, terutama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2968/mengenal-haji-tamattu-qiran-dan-ifrad/">Mengenal Haji Tamattu’, Qiran, dan Ifrad</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Apa Perbedaan Tamattu’, Qiran, dan Ifrad dalam Haji, Dan Manakah Yang Utama ?</strong></h2>
<p>Dalam pelaksanaan ibadah haji, seorang jamaah tidak hanya dituntut memahami rangkaian manasik secara umum, tetapi juga perlu mengetahui jenis nusuk yang akan ia pilih sejak awal ihram. Pemilihan nusuk ini penting karena masing-masing memiliki tata cara, konsekuensi hukum, dan ketentuan tersendiri, terutama berkaitan dengan niat, tahallul, serta kewajiban menyembelih hadyu. Ada tiga jenis nusuk yang dikenal dalam syariat, yaitu <strong>tamattu’</strong>, <strong>qiran</strong>, dan <strong>ifrad</strong>.</p>
<p>Seorang jamaah ketika hendak berihram untuk haji, maka ia boleh memilih salah satu dari tiga jenis nusuk tersebut.</p>
<p>Dalil bolehnya memilih salah satu dari tiga jenis nusuk ini adalah hadis dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">(خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; فَقَالَ: «مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍّ وَعُمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍّ فَلْيُهِلَّ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِعُمْرَةٍ فَلْيُهِلَّ» قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِي الله عَنْهَا: فَأَهَلَّ رَسُولُ الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; بِحَجٍّ، وَأَهَلَّ بِهِ نَاسٌ مَعَهُ وَأَهَلَّ نَاسٌ بِالْعُمْرَةِ وَالْحَجِّ، وَأَهَلَّ نَاسٌ بِعُمْرَةٍ، وَكُنْتُ فِيمَنْ أَهَلَّ بِالْعُمْرَةِ)</p>
<p>“Kami berangkat bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Lalu beliau bersabda: ”Barang siapa di antara kalian ingin bertalbiyah untuk haji dan umrah, maka lakukanlah. Barang siapa ingin bertalbiyah untuk haji saja, maka bertalbiyahlah. Dan barang siapa ingin bertalbiyah untuk umrah saja, maka bertalbiyahlah.’</p>
<p>‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata, “Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertalbiyah untuk haji. Sebagian orang juga bertalbiyah untuk haji bersama beliau. Sebagian lainnya bertalbiyah untuk umrah dan haji. Sebagian lainnya bertalbiyah untuk umrah. Dan aku termasuk orang yang bertalbiyah untuk umrah.”  <em>(HR. Muslim, no. 1211).</em></p>
<p>Para ulama juga sepakat bahwa seseorang boleh berihram dengan salah satu dari tiga jenis nusuk tersebut, baik <strong>ifrad</strong>, <strong>qiran</strong>, maupun <strong>tamattu’</strong>.</p>
<p>Ibn Qudamah <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p class="arab">(أجمَعَ أَهْل العِلْم على جوازِ الإحرامِ بأيِّ الأنساكِ الثَّلاثة شاء)</p>
<p>“Para ulama telah sepakat tentang bolehnya berihram dengan salah satu dari tiga jenis nusuk yang ia kehendaki.” <em>(al-Mughni, 3/260).</em></p>
<p><strong>Macam – Macam Nusuk</strong></p>
<p>Macam macam nusuk dalam syariat ada tiga:</p>
<h2><strong> Tamattu’</strong></h2>
<p><strong>Tamattu’</strong> adalah seseorang berihram untuk umrah pada bulan-bulan haji, kemudian ia bertahallul dari umrah tersebut. Setelah itu, ia berihram kembali untuk haji pada tahun yang sama.</p>
<p>Orang yang melakukan tamattu’ wajib menyembelih hadyu, yang disebut <strong>hadyu tamattu’</strong>. Kewajiban ini berlaku karena ia menggabungkan umrah dan haji dalam satu perjalanan, tetapi di antara keduanya ia sempat bertahallul.</p>
<p><strong>Sebab Dinamakan Tamattu’</strong></p>
<p>Para ulama menyebutkan beberapa alasan mengapa nusuk ini disebut <strong>tamattu’</strong>. Dua alasan yang paling masyhur adalah sebagai berikut.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> orang yang melakukan tamattu’ mendapatkan kemudahan karena cukup melakukan satu perjalanan untuk dua ibadah, yaitu umrah dan haji.</p>
<p>Pada asalnya, masing-masing ibadah memiliki perjalanan tersendiri. Umrah dilakukan dengan berihram dari miqat dan melakukan perjalanan untuk umrah. Begitu pula haji dilakukan dengan berihram dari miqat dan melakukan perjalanan untuk haji.</p>
<p>Namun dalam tamattu’, keduanya dilakukan dalam satu perjalanan. Karena ada satu perjalanan yang seakan-akan “tergugurkan”, maka syariat menetapkan kewajiban menyembelih hadyu sebagai pengganti atau penyempurna.</p>
<p>Karena makna inilah, qarin juga diwajibkan menyembelih hadyu. Bahkan dalam istilah para sahabat, qiran juga memiliki makna tamattu’ dari sisi penggabungan dua nusuk dalam satu perjalanan.</p>
<p>Oleh sebab itu, penduduk Makkah tidak wajib menyembelih hadyu, baik ia melakukan tamattu’ maupun qiran. Sebab, penduduk Makkah tidak memiliki beban perjalanan dari luar dan tidak perlu datang dari miqat sebagaimana orang yang datang dari luar Makkah.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, orang yang melakukan tamattu’ dapat menikmati hal-hal yang sebelumnya dilarang ketika ihram, setelah ia selesai dari umrahnya dan sebelum berihram kembali untuk haji.</p>
<p>Di antara hal yang kembali boleh baginya adalah berhubungan suami-istri, memakai wewangian, dan melakukan hal-hal lain yang dilarang bagi orang yang sedang ihram.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">{‌فَمَنْ ‌تَمَتَّعَ ‌بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ}</p>
<p>“maka siapa yang mengerjakan umrah sebelum haji, dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat.” <em>(QS.  al-Baqarah: 196).</em></p>
<p>Ayat ini menunjukkan adanya masa menikmati kelonggaran antara umrah dan haji. Secara bahasa, kata <strong>tamattu’</strong> juga bermakna menikmati, mengambil manfaat, atau memperoleh kesenangan dari sesuatu.</p>
<p><strong>Bentuk-Bentuk Tamattu’</strong></p>
<p><strong>Bentuk Pertama: Tamattu’ yang Paling Umum</strong></p>
<p>Seseorang berihram untuk umrah pada bulan-bulan haji. Setelah selesai dari umrahnya, ia bertahallul. Kemudian setelah itu, ia berihram kembali untuk haji. Inilah bentuk tamattu’ yang asli dan paling umum.</p>
<p><strong>Bentuk Kedua: Bentuk yang Muncul karena Perubahan Niat</strong></p>
<p>Bentuk ini disebut juga <strong>fasakh al-hajj ila ‘umrah</strong>, yaitu mengubah niat ihram haji menjadi umrah.</p>
<p>Gambarnya adalah seseorang awalnya berihram untuk haji. Namun sebelum ia melakukan thawaf, ia mengubah hajinya menjadi umrah. Setelah selesai melakukan umrah dan bertahallul, ia kembali berihram untuk haji.</p>
<p>Hal ini termasuk perpindahan dari yang lebih rendah kepada yang lebih utama. Bentuk seperti ini dibolehkan.</p>
<p>Di antara dalil yang disebutkan adalah hadis Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah memerintahkan seseorang yang bernazar untuk shalat dua rakaat di Baitul Maqdis agar melaksanakannya di al-Haram. <em>(HR. Abu Dawud, no. 3305; dinilai sahih oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, no. 8050).</em></p>
<p>Bentuk tamattu’ seperti ini dinilai sah menurut mazhab <strong>Hanabilah</strong> dan <strong>Zhahiriyah</strong>. Pendapat ini juga dikatakan oleh sebagian ulama salaf, serta dipilih oleh <strong>Ibn Taymiyyah rahimahullah</strong>, <strong>Ibn al-Qayyim rahimahullah</strong>, <strong>al-Shinqithi rahimahullah</strong>, <strong>Ibn Baz rahimahullah</strong>, dan <strong>Ibn ‘Utsaimin rahimahullah</strong>.</p>
<h2><strong> Qiran</strong></h2>
<p><strong>Qiran</strong> adalah seorang jamaah menggabungkan umrah dan haji dalam satu nusuk.</p>
<p>Dalam talbiyah, ia mengucapkan, “<em>Labbaika Allahumma ‘umratan wa hajjan</em>.” Artinya: “Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk umrah dan haji.” Amalan umrah dalam haji qiran sudah masuk ke dalam amalan haji. Karena itu, qarin tidak perlu melakukan umrah tersendiri dengan rangkaian amalan yang terpisah setelah itu.</p>
<p>Secara umum, amalan qarin sama seperti amalan mufrid. Perbedaannya ada pada dua hal utama, yaitu <strong>niat</strong> dan <strong>kewajiban hadyu</strong>.</p>
<p><strong>Bentuk-Bentuk Qiran</strong></p>
<p><strong>Bentuk Pertama: Qiran yang Paling Umum</strong></p>
<p>Seseorang berihram untuk umrah dan haji sekaligus sejak awal ihramnya. Ia mengucapkan, “<em>Labbaika ‘umratan wa hajjan</em>.”  Atau ia mengucapkan, “<em>Labbaika hajjan wa ‘umratan</em>.”</p>
<p>Inilah bentuk qiran yang asli dan paling jelas.</p>
<p><strong>Bentuk Kedua: Memasukkan Haji ke dalam Umrah</strong></p>
<p>Seseorang awalnya berihram untuk umrah. Kemudian sebelum memulai thawaf umrah, ia memasukkan niat haji ke dalam umrahnya. Dengan begitu, ia menjadi qarin.</p>
<p>Bentuk ini dibolehkan, terutama ketika ada kebutuhan atau uzur. Misalnya, seorang wanita berihram untuk umrah, lalu ia mengalami haid atau nifas sebelum thawaf. Ia khawatir tidak sempat mengejar haji. Maka ia boleh memasukkan niat haji ke dalam umrahnya dan tetap berada dalam ihram sampai menyelesaikan amalan-amalan haji.</p>
<p><strong>Bentuk Ketiga: Memasukkan Umrah ke dalam Haji</strong></p>
<p>Seseorang berihram untuk haji secara ifrad, lalu setelah itu ia ingin memasukkan umrah ke dalam hajinya agar menjadi qarin.</p>
<p>Bentuk ini diperselisihkan oleh para ulama.</p>
<p><strong>Mayoritas</strong> ulama dari mazhab <strong>Malikiyah</strong>, <strong>Syafi’iyah</strong> menurut pendapat yang lebih sahih, dan <strong>Hanabilah</strong> berpendapat bahwa memasukkan umrah ke dalam haji tidak sah. Orang yang melakukannya tidak berubah menjadi qarin, tetapi tetap melanjutkan hajinya sebagai mufrid.</p>
<p><strong>Sementara itu</strong>, mazhab <strong>Hanafiyah</strong>, salah satu pendapat lama dari Imam al-Syafi’i <em>rahimahullah</em>, sebagian ulama lain, dan pendapat yang dikuatkan oleh <strong>Ibn ‘Utsaimin rahimahullah</strong>, membolehkan memasukkan umrah ke dalam haji. Menurut pendapat ini, orang tersebut berubah menjadi qarin.</p>
<h2><strong> Ifrad</strong></h2>
<p><strong>Ifrad</strong> adalah seseorang berihram untuk haji saja pada bulan-bulan haji. Ia mengucapkan, <em>“Labbaika Allahumma hajjan</em>.”</p>
<p>Dalam ifrad, ia tidak memasukkan umrah ke dalam niat hajinya. Ia melanjutkan amalan hajinya sampai selesai dan tetap berada dalam ihram sampai bertahallul pada hari Nahr.</p>
<p>Secara umum, amalan mufrid sama seperti amalan qarin dari sisi rangkaian amalan haji. Perbedaannya adalah mufrid tidak wajib menyembelih hadyu, karena ia tidak menggabungkan umrah dan haji. Berbeda dengan qarin yang menggabungkan keduanya.</p>
<p>Mufrid hanya memiliki satu thawaf wajib, yaitu <strong>thawaf ifadhah</strong>. Ia juga hanya memiliki satu sa’i, yaitu <strong>sa’i haji</strong>.</p>
<p>Adapun <strong>thawaf qudum</strong>, menurut mayoritas ulama, hukumnya tidak wajib. Thawaf qudum hanya dianjurkan bagi orang yang datang ke Makkah.</p>
<p>Adapun <strong>thawaf wada’</strong>, menurut mayoritas ulama, hukumnya wajib bagi orang yang hendak keluar dari Makkah setelah selesai melaksanakan nusuk. Namun kewajiban ini gugur bagi wanita yang sedang haid. <strong>(</strong><em>al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 5/286–288; Majallat al-Buhuts al-Islamiyyah, 59/208–222; al-Sharh al-Mumti’, Ibn ‘Utsaimin)</em><strong>.</strong></p>
<h3><strong>Manakah Nusuk yang Paling Utama?</strong></h3>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang jenis nusuk yang paling utama di antara tiga jenis tersebut: <strong>ifrad</strong>, <strong>qiran</strong>, dan <strong>tamattu’</strong>. Secara umum, terdapat tiga pendapat utama.</p>
<p><strong>Pendapat Pertama: Ifrad Lebih Utama</strong></p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa <strong>ifrad</strong> adalah jenis nusuk yang paling utama.</p>
<p>Ini adalah pendapat Imam Malik <em>rahimahullah</em>, salah satu pendapat Imam al-Syafi’i <em>rahimahullah</em>, dan dinukil dari sejumlah sahabat, di antaranya ‘Utsman, ‘Ali, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Umar, Jabir, dan ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anhum</em>.</p>
<p>Makna ifrad adalah seseorang berihram untuk haji saja, tanpa menggabungkan umrah dalam nusuk yang sama.</p>
<p>Al-‘Allamah al-Shinqithi <em>rahimahullah</em> telah menyebutkan dalil-dalil pendapat ini dan membahasnya secara panjang lebar dalam kitab Adhwa’ al-Bayan. Adhwa’ al-Bayan<strong>, </strong> serta mendiskusikannya secara rinci dalam tiga puluh satu halaman. (lihat: <em>Adhwa’ al-Bayan. Adhwa’ al-Bayan, al-Shinqithi, 5/127–158).</em></p>
<p><strong>Pendapat Kedua: Qiran Lebih Utama</strong></p>
<p>Sebagian ulama lain berpendapat bahwa <strong>qiran</strong> adalah jenis nusuk yang paling utama.</p>
<p>Ini adalah mazhab Abu Hanifah <em>rahimahullah</em> dan para ulama yang sependapat dengannya. Pendapat ini juga dikatakan oleh Sufyan al-Tsauri <em>rahimahullah</em>, Ishaq bin Rahawaih <em>rahimahullah</em>, Ibn al-Mundzir <em>rahimahullah</em>, dan ulama lainnya.</p>
<p>Makna qiran adalah seseorang berihram untuk haji dan umrah sekaligus dalam satu nusuk, dan ia tidak bertahallul kecuali setelah menyelesaikan keduanya.</p>
<p>Dalil utama pendapat ini adalah bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukan qiran dalam Haji Wada’.</p>
<p>Ibn al-Qayyim <em>rahimahullah</em> menyebutkan bahwa terdapat lebih dari dua puluh hadis sahih dan tegas yang menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berihram sebagai qarin.</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan hadis ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> yang di dalamnya disebutkan, “Wa qul: ‘umratun fi hajjatin.” Artinya: “Katakanlah: umrah dalam haji.” <em>(HR. al-Bukhari, no. 2337).</em></p>
<p>Peristiwa ini terjadi di daerah al-‘Aqiq sebelum beliau berihram. <strong>( </strong><em>Lihat: Adhwa’ al-Bayan, al-Shinqithi, 5/158–163; Zad al-Ma’ad, Ibn al-Qayyim, 2/107 dan 2/118–119</em><strong>).</strong></p>
<p><strong>Pendapat Ketiga: Tamattu’ Lebih Utama</strong></p>
<p>Pendapat ketiga menyatakan bahwa <a href="https://tanyaislam.com/category/aqidah/" target="_blank" rel="noopener"><strong>tamattu’</strong></a> adalah jenis nusuk yang paling utama.</p>
<p>Ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad <em>rahimahullah</em>. Pendapat ini juga dikatakan oleh Ishaq <em>rahimahullah</em>, dan juga salah satu pendapat Imam al-Syafi’i <em>rahimahullah</em>, dan Ahl al-Zhahir.</p>
<p>Makna tamattu’ adalah seseorang berihram untuk umrah pada bulan-bulan haji, kemudian bertahallul darinya. Setelah itu, ia berihram kembali untuk haji pada tahun yang sama.</p>
<p>Dalil pendapat ini adalah bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan para sahabat yang tidak membawa hadyu agar mengubah haji mereka menjadi umrah, kemudian bertahallul, lalu berihram kembali untuk haji.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda:</p>
<p class="arab">(لو استقبلت من أمري ما استدبرت لما سقت الهدي، ولجعلتها عمرة)</p>
<p>“Seandainya aku mengetahui dahulu apa yang aku ketahui kemudian, niscaya aku tidak akan membawa hadyu, dan aku akan menjadikannya sebagai umrah.” (<em>HR.al-Bukhari, no. 1557; Muslim, no. 1218).</em></p>
<p>Menurut para ulama yang menguatkan pendapat ini, hadis tersebut menunjukkan bahwa tamattu’ adalah yang paling utama bagi orang yang tidak membawa hadyu. <em>(Lihat: Adhwa’ al-Bayan, al-Shinqithi, 5/163; al-Mughni, Ibn Qudamah, 5/82–83).</em></p>
<h3><strong>Pendapat yang Lebih Kuat</strong></h3>
<p>Pendapat yang lebih kuat menurut penulis — <em>wallahu a’lam</em> — adalah dengan perincian berikut.</p>
<ol>
<li>Jika jamaah membawa hadyu sejak awal, maka <strong>qiran lebih utama</strong>.</li>
<li>Jika jamaah tidak membawa hadyu, maka <strong>tamattu’ lebih utama</strong>.</li>
<li>Jika seseorang melakukan umrah dalam satu perjalanan tersendiri, lalu melakukan haji dalam perjalanan lain yang terpisah, maka <strong>ifrad lebih utama menurut kesepakatan imam mazhab yang empat</strong>.  <em>Wallahua’lam… </em><strong>(</strong>Lihat: al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah, Ibn Taymiyyah, hlm. 173; Zad al-Ma’ad, Ibn al-Qayyim, 2/114<strong>).</strong></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2968/mengenal-haji-tamattu-qiran-dan-ifrad/">Mengenal Haji Tamattu’, Qiran, dan Ifrad</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2968/mengenal-haji-tamattu-qiran-dan-ifrad/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kesalahan Fatal Jamaah Haji &#038; Umrah Saat Masuk Masjidil Haram</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2956/kesalahan-fatal-jamaah-haji-umrah-saat-masuk-masjidil-haram/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2956/kesalahan-fatal-jamaah-haji-umrah-saat-masuk-masjidil-haram/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 01:20:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Haji & Umrah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2956</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kesalahan Fatal Jamaah Haji &#38; Umrah Saat Masuk Masjidil Haram Bismillah, walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Semangat beribadah adalah hal yang mulia. Namun dalam Islam, niat yang baik tidak cukup tanpa cara yang benar. Berkata Abdullah bin Mas&#8217;ud رضي الله عنه (w. 32 H): كَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ “Betapa banyak orang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2956/kesalahan-fatal-jamaah-haji-umrah-saat-masuk-masjidil-haram/">Kesalahan Fatal Jamaah Haji & Umrah Saat Masuk Masjidil Haram</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Kesalahan Fatal Jamaah Haji &amp; Umrah Saat Masuk Masjidil Haram</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.</em></p>
<p>Semangat beribadah adalah hal yang mulia. Namun dalam Islam, niat yang baik tidak cukup tanpa cara yang benar. Berkata Abdullah bin Mas&#8217;ud رضي الله عنه (w. 32 H):</p>
<p class="arab">كَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ</p>
<p><em>“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tetapi tidak mendapatkannya.”</em> (Sunan Ad-Darimi no. 210)</p>
<p>Inilah yang sering terjadi pada masyarakat kita, semangat tinggi, tapi sayangnya tidak diiringi  dengan ilmu.</p>
<p><strong>Menunda Thawaf Tanpa Uzur: Sibuk Hotel, Koper, dan Istirahat Panjang</strong></p>
<p>Setelah perjalanan panjang, banyak jamaah memilih:</p>
<ul>
<li>check-in hotel untuk berleha-leha</li>
<li>tidur panjang menikmati fasilitas hotel</li>
<li>bahkan makan santai terlebih dahulu</li>
</ul>
<p>Padahal, para ulama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله (w. 728 H) menegaskan:</p>
<p class="arab">وَالطَّوَافُ بِالْبَيْتِ هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَعْظَمُ</p>
<p>“Thawaf adalah tujuan utama (kedatangan ke Makkah).” (<em>Majmu‘ Al-Fatawa</em>, 26/120).</p>
<p>Masalahnya bukan istirahat, tapi menjadikan istirahat sebagai prioritas utama. Kalau tujuan sudah bergeser di awal, maka biasanya kesalahan berikutnya juga ikut muncul yaitu menambah-nambah ibadah tanpa dasar.</p>
<p><strong>Mencari Doa Khusus Saat Pertama Melihat Ka’bah (Padahal Tidak Ada)</strong></p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">لَا أَعْلَمُ دُعَاءً خَاصًّا عِنْدَ رُؤْيَةِ الْكَعْبَةِ</p>
<p>“Saya tidak mengetahui adanya doa khusus ketika melihat Ka’bah.” (<em>Majmu‘ Fatawa Ibnu Baz</em>, 17/353).</p>
<p>Ini bukan masalah kecil, ini menyangkut prinsip ibadah dalam Islam. Jika doa tanpa dalil saja bisa menyebar, maka lebih parah lagi ketika jamaah mulai menciptakan “ritual-ritual baru” di sekitar Ka’bah.</p>
<p><strong>Melakukan Ritual Tambahan yang Tidak Pernah Dicontohkan Nabi </strong><strong>ﷺ</strong></p>
<p>Contoh nyata di lapangan:</p>
<ul>
<li>Mengangkat tangan seperti takbir saat melihat Ka’bah</li>
<li>Membaca wirid tertentu secara khusus</li>
<li>Menangis dengan “setting suasana” tanpa ilmu</li>
</ul>
<p>Padahal Nabi ﷺ tidak melakukan itu. Syaikh Muhammad bin Shalih al ʿUtsaimin رحمه الله (w. 1421 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">الْعِبَادَاتُ تَوْقِيفِيَّةٌ لَا تُشْرَعُ إِلَّا بِدَلِيلٍ</p>
<p>“Ibadah itu bersifat <em>tauqifiyah </em>(harus berdasarkan dalil), tidak disyariatkan kecuali dengan dalil.” (<em>Majmu‘ Fatawa</em>, 2/301).</p>
<p>Kreatif dalam ibadah itu tidak dibenarkan, sebagaimana yang dijelaskan di atas karena Allah tidak memberikan ruang untuk itu dalam hal ibadah, sehingga mengikuti dalil akan lebih selamat dan lebih menjamin akan diterimanya suatu ibadah.</p>
<p><strong>Berdesakan dan Mendorong Demi Mendekat ke Ka’bah</strong></p>
<p>Setelah ritual-ritual tambahan di atad, kesalahan berikutnya lebih terlihat secara fisik yaitu perilaku yang justru mengganggu jamaah lain.Seperti dorong-dorongan, memaksakan diri mencium Hajar Aswad dan bahkan menyakiti jamaah lain.</p>
<p>Padahal Rasulullah ﷺ (w. 11 H) bersabda:</p>
<p class="arab">« يَا عُمَرُ إِنَّكَ رَجُلٌ قَوِيٌّ، لَا تُزَاحِمْ عَلَى الْحَجَرِ فَتُؤْذِيَ الضَّعِيفَ »</p>
<p>“Wahai Umar, engkau orang yang kuat. Jangan berdesakan di Hajar Aswad hingga menyakiti orang lemah.” (HR. Musnad Ahmad no. 191).</p>
<p>Nabi ﷺ (w. 11 H) menegaskan kepada Umar رضي الله عنه (w. 23 H), bahwa tidak boleh mencari sunnah dengan cara menyakiti orang lain.</p>
<p><strong>Sibuk Dokumentasi: Foto, Video dan Konten Saat Thawaf</strong></p>
<p>Ironisnya, di era digital sekarang, kesalahan tidak berhenti pada hal-hal yang telah disebutkan, bahkan masuk ke level yang lebih “modern”.</p>
<p>Fenomena yang sering ditemukan seperti selfie depan Ka’bah, live video dan rekam setiap momen thawaf. Dimana secara zhahir terlihat “mengabadikan momen”, tapi akibatnya bisa merusak keikhlasan.</p>
<p>Allah سبحانه وتعالى berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ﴾</p>
<p>“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas.” (QS. Al-Bayyinah: 5)</p>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa ibadah bukan untuk dilihat oleh mahluk, akan tetapi untuk diterima oleh Allah Rabbul ‘Alamin. Karena jika hati sudah tersibukkan dengan dunia, maka puncaknya adalah hilangnya ruh ibadah itu sendiri.</p>
<p><strong>Hati Tidak Hadir: Thawaf Fisik, Tapi Lalai Secara Ruh</strong></p>
<p>Inilah kesalahan paling dalam dan paling berbahaya. Berkata Ibnul Qayyim رحمه الله (w. 751 H):</p>
<p class="arab">لَيْسَ الْمَقْصُودُ مِنَ الطَّوَافِ حَرَكَةُ الْبَدَنِ فَقَطْ، بَلْ حُضُورُ الْقَلْبِ</p>
<p>“Tujuan thawaf bukan sekadar gerakan badan, tetapi hadirnya hati.” (<em>Zad Al Ma‘ad</em>, 2/319).</p>
<p>Karena banyak orang yang melakukan thawaf, akan tetapi sedikit yang benar-benar hadir hatinya dan merasakan ruh dari thawaf itu sendiri.</p>
<p>Diantara kesalahan jamaah saat pertama masuk Masjidil Haram yang harus dihindari ialah menunda thawaf tanpa uzur, meyakini ada doa khusus saat melihat Ka’bah, menambah ritual tanpa dalil, berdesakan hingga menyakiti jamaah lain, sibuk dokumentasi dan kehilangan keikhlasan, thawaf tanpa menghadirkan hati, semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan taufik dan hidayahnya agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan tersebut juga yang semisalnya.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2956/kesalahan-fatal-jamaah-haji-umrah-saat-masuk-masjidil-haram/">Kesalahan Fatal Jamaah Haji & Umrah Saat Masuk Masjidil Haram</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2956/kesalahan-fatal-jamaah-haji-umrah-saat-masuk-masjidil-haram/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Miqat Haji dan Umrah</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2490/miqat-haji-dan-umrah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2490/miqat-haji-dan-umrah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2025 04:33:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Haji & Umrah]]></category>
		<category><![CDATA[batas miqat haji]]></category>
		<category><![CDATA[batas miqat umroh]]></category>
		<category><![CDATA[hukum melewati miqat tanpa ihram]]></category>
		<category><![CDATA[jenis miqat]]></category>
		<category><![CDATA[miqat haji]]></category>
		<category><![CDATA[miqat makani]]></category>
		<category><![CDATA[miqat makani haji dan umroh]]></category>
		<category><![CDATA[miqat umroh]]></category>
		<category><![CDATA[miqat zamani]]></category>
		<category><![CDATA[niat haji di miqat]]></category>
		<category><![CDATA[niat umroh di miqat]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian miqat]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan miqat menurut ulama]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara ihram di miqat]]></category>
		<category><![CDATA[tempat miqat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2490</guid>

					<description><![CDATA[<p>Miqat Haji dan Umrah Mawāqīt (batas/waktu &#38; tempat) adalah termasuk perkara penting dalam syariat Islam; haji dan umrah bergantung sepenuhnya pada mawāqīt baik yang bersifat zaman (waktu) maupun makan (tempat). Haji atau umrah tidak sah tanpa berihram pada mawāqīt yang ditetapkan. Rasulullah ﷺ telah menjelaskan rincian mawāqīt baik waktu maupun tempat; untuk setiap arah ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2490/miqat-haji-dan-umrah/">Miqat Haji dan Umrah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Miqat</strong><strong> Haji dan Umrah</strong></h2>
<p>Mawāqīt (batas/waktu &amp; tempat) adalah termasuk perkara penting dalam syariat Islam; haji dan umrah bergantung sepenuhnya pada mawāqīt baik yang bersifat <strong>zaman</strong> (waktu) maupun <strong>makan</strong> (tempat). Haji atau umrah tidak sah tanpa berihram pada mawāqīt yang ditetapkan. Rasulullah ﷺ telah menjelaskan rincian mawāqīt baik waktu maupun tempat; untuk setiap arah ada miqat (batas ihram) tertentu. Dalam tulisan ini kita akan membahas definisi miqat, pentingnya, dan penjelasan mawāqīt dalam Islam.</p>
<p>Dalam Al-Fiqhu al-Muyassar fī Ḍau’ al-Kitāb was-Sunnah (1/174) disebutkan:</p>
<p class="arab">»الميقات لغة: هو الحد. وشرعاً: هو موضع العبادة أو زمنها، فتنقسم المواقيت إلى: زمانية ومكانية«</p>
<p><em>“Miqat secara bahasa: adalah batas. Secara syariat: adalah tempat atau waktunya (pelaksanaan) ibadah. Maka mawāqīt terbagi menjadi: zamaniyah (waktu) dan makāniyah (tempat).”</em></p>
<p><strong>Pertama Mawāqīt Zamaniyah (Batas Waktu) untuk Haji dan Umrah</strong></p>
<p><strong>Miqat zamaniyah</strong> adalah waktu tertentu untuk melakukan suatu amalan, seperti waktu-waktu shalat. Dalam Al-Qur’an disebut:</p>
<p class="arab">(‌يَسْأَلُونَكَ ‌عَنِ ‌الأهِلَّةِ قُلْ هِىَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ)</p>
<p>“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: itu adalah penunjuk waktu bagi manusia dan (penunjuk waktu) bagi haji.” <em>(QS. al-Baqarah: 189)</em>.</p>
<ol>
<li><strong> Mawāqīt Zamaniyah untuk Umrah</strong></li>
</ol>
<p>Umrah boleh dilakukan kapan saja sepanjang tahun, termasuk di bulan-bulan haji; tidak ada perbedaan apakah seseorang berniat berhaji di tahun itu atau tidak. Nabi ﷺ berumrah empat kali — semuanya pada bulan <strong>Dhu al-Qa‘dah</strong>, yang termasuk salah satu dari bulan-bulan haji (Syawwal, Dhu al-Qa‘dah, Dhu al-Hijjah). Beliau hanya berhaji pada umrah terakhirnya (Haji Wada‘).</p>
<ol start="2">
<li><strong> Mawāqīt Zamaniyah untuk Haji</strong></li>
</ol>
<p>Bulan-bulan haji adalah <strong>Syawwal, Dhu al-Qa‘dah, dan Dhu al-Hijjah</strong>; artinya haji harus terjadi pada bulan-bulan ini, tidak boleh sebelum atau sesudahnya. Allah berfirman:</p>
<p class="arab">}الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ{</p>
<p>“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang telah diketahui.” <em>(QS. al-Baqarah: 197)</em></p>
<p>Sebagian ulama menyatakan bahwa bulan-bulan haji adalah Syawwal, Dhu al-Qa‘dah, dan sepuluh hari pertama Dhu al-Hijjah (Fatāwā al-Lajnah ad-Dā’imah (11/316)).</p>
<p>Ibn ‘Umar Radhiallahu’anhuma berkata:</p>
<p class="arab">»أشهر الحج: شوال، وذو القعدة، وعشر من ذي الحجة«</p>
<p>“Bulan-bulan haji: Syawwal, Dhu al-Qa‘dah, dan sepuluh (hari) Dhu al-Hijjah.” (HR. al-Bukhari — sebelum hadis no.1560)</p>
<p><strong>Kedua — Mawāqīt Makāniyah (Batas Tempat) untuk Haji dan Umrah</strong></p>
<p><strong>Miqat makāniyah</strong> adalah tempat-tempat yang ditetapkan Rasul ﷺ sebagai tempat untuk berihram bagi yang hendak menunaikan haji atau umrah. Dari titik-titik inilah manasik secara syar‘i dimulai; tidak sah melewatinya tanpa ihram. Nabi ﷺ menetapkan miqat bagi penduduk dari berbagai arah, sebagaimana dalam hadis Ibn ‘Abbas Radhiallahu’anhuma:</p>
<p class="arab">وَقَّتَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلّى الله عليه وسلّم &#8211; لأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ، وَلأَهْلِ الشَّامِ الْجُحْفَةَ، وَلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ، وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ. قَالَ «فَهُنَّ لَهُنَّ، وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ، فَمَنْ كَانَ دُونَهُنَّ فَمِنْ أَهْلِهِ، وَكَذَا فَكَذَلِكَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّونَ مِنْهَا«</p>
<p>&#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menetapkan miqat (tempat memulai Ihram) bagi penduduk Madinah di Dzulhulaifah, bagi penduduk Syam di Juhfah, bagi penduduk Nejed di Qarnalmanazil, dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Tempat-tempat itu berlaku pula bagi orang-orang yang bukan penduduk negeri-negeri tersebut, tetapi ia bermaksud menunaikan haji dan umrah melalui tempat-tempat itu. Dan bagi orang yang lebih dekat ke Makkah dari tempat-tempat tersebut atau bagi penduduk Makkah sendiri adalah dari mana mereka berada.&#8221;<br />
(HR. al-Bukhari 1524; Muslim 1181)</p>
<p>Dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha disebutkan:</p>
<p class="arab">»أن النبي صلى الله عليه وسلم وقت لأهل العراق ذات عرق«</p>
<p>(HR. Abu Dawud 1739; disahkan al-Albani dalam <em>Shahih Abi Dawud</em> 1531)</p>
<p>Para fuqaha bersepakat atas keberlakuan miqat-miqat ini bagi penduduknya dan bagi orang yang datang melewatinya. (<strong>Lihat:</strong> <em>Al-Ishrāf</em> karya <strong>Ibn al-Mundzir</strong> (3/177), <em>Marātib al-Ijmā‘</em> (hal. 42), <em>Al-Istidhkār</em> (11/76), dan <em>Al-Mughnī</em> (5/56).”).</p>
<p><strong>Rincian Lokasi Miqat dan Jarak dari Makkah</strong></p>
<ol>
<li><strong>ذو الحليفة</strong><strong> (Dhu al-Hulayfah)</strong> — miqat penduduk Madinah dan orang yang melewatinya; disebut juga <strong>Wadi al-‘Aqiq</strong>. Jaraknya kira-kira 6–7 mil dari Madinah; ini adalah miqat yang paling jauh dari Makkah, diperkirakan sekitar 10 marhalah (bergantung jalan).</li>
<li><strong>الجحفة</strong><strong> (Al-Juhfah)</strong> — dahulu desa makmur bernama <strong>Muhay‘ah</strong>, kini reruntuhan; orang sekarang umumnya berihram dari tempat yang disebut <strong>Rābigh</strong>. Ini miqat penduduk <strong>Syam, Mesir, dan wilayah Maghrib</strong>. Jika mereka melewati Madinah, mereka harus berihram dari miqat Madinah.</li>
<li><strong>قرن المنازل</strong><strong> (Qarn al-Manazil)</strong> — sekarang disebut <strong>as-Sail al-Kabir</strong>, kira-kira satu hari perjalanan menuju Makkah; miqat penduduk <strong>Najd</strong>.</li>
<li><strong>يلملم</strong><strong> (Yalamlam)</strong> — sekarang dikenal <strong>as-Sa‘diyyah</strong>, kira-kira dua malam perjalanan (±30 mil) dari Makkah; miqat penduduk <strong>Yaman</strong> dan siapa saja dari arah selatan via pantai seperti penduduk al-Bahah.</li>
<li><strong>ذات عرق</strong><strong> (Dhāt ‘Irq)</strong> — disebut juga <strong>ad-Dharibah</strong>, di perbatasan Najd–Tihamah, sekitar <strong>42 mil</strong> dari Makkah; miqat penduduk <strong>Irak</strong>.</li>
</ol>
<p><strong>Perbedaan Menurut Tempat Tinggal / Asal Jamaah</strong></p>
<ul>
<li><strong>Yang berada di Makkah:</strong></li>
</ul>
<p>Untuk <strong>umrah</strong> berihram dari tempat terdekat di luar haram, misalnya <strong>Masjid Ummul Mu’minīn ‘Aisyah (Masjid at-Tan‘īm)</strong>. Untuk <strong>haji</strong>, penduduk Makkah berihram dari tempat tinggal mereka.</p>
<ul>
<li><strong>Yang berada antara Makkah dan miqat</strong> (mis. penduduk Jeddah, Bahrah):</li>
</ul>
<p>Mereka boleh berihram dari rumah/ tempat tinggal mereka. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:</p>
<p class="arab">»وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ«</p>
<p>“Barang siapa berada di bawah (dalam batas itu), maka berihramlah dari tempat ia memulai; demikian pula penduduk Makkah berihram dari Makkah.” (dari hadis yang sama)</p>
<ul>
<li><strong>Yang berada setelah (di luar) miqat:</strong></li>
</ul>
<p>Wajib berihram dari salah satu dari lima miqat atau dari tempat yang sejajar dengannya, baik melalui darat, laut, maupun udara; tidak boleh melewatinya tanpa berihram. Ada riwayat bahwa ketika penduduk Kufah dan Bashrah mengadu kepada ‘Umar tentang posisi Qarn (miqat Najd) yang tidak sesuai jalur mereka, ‘Umar mengatakan:</p>
<p class="arab">»انظروا إلى حذوها من طريقكم «</p>
<p>“Carilah tempat yang sejajar dengannya dari jalur kalian.” (HR. al-Bukhari 1531)</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Penumpang Pesawat atau Kereta Cepat (Kereta Haramain Kapan mereka Berihram ?</strong></p>
<p>Seseorang harus berihram ketika <strong>sejajar</strong> dengan miqat. Jika tidak melewati miqat secara persis (mis. di udara), maka berihramlah ketika pesawat <strong>sejajar</strong> dengan miqat. Karena pesawat bergerak cepat, <strong>dianjurkan berihram sedikit sebelum mencapai miqat</strong> untuk berhati-hati agar tidak terlewat. Hal yang sama berlaku untuk kereta cepat Haramain.</p>
<p>Syaikh Ibn Jibrin Rahimahullah berkata:</p>
<p>“Barang siapa yang tidak memiliki miqat di jalannya: ia berihram ketika sejajar dengan yang terdekat, baik lewat darat, laut, atau udara. Penumpang pesawat berihram jika pesawat sejajar miqat atau disunnahkan berihram sedikit sebelum itu agar tidak terlewat; barang siapa berihram setelah melewati miqat maka atasnya <strong>dam jabrān</strong> — yaitu penyembelihan seekor kambing sebagai kaffarat (tebusan) karena meninggalkan kewajiban atau melakukan yang terlarang dalam haji/umrah. Allah ta‘ala lebih mengetahui.”<br />
(Sumber: <em>Fatawa Islamiyyah</em> 2/198)</p>
<p>Lajnah Daimah pernah ditanya tentang penumpang kereta cepat Haramain yang berangkat dari Madinah, maka dijawab:</p>
<p>“Tidak mengapa bagi calon haji/umrah mempersiapkan ihram di rumahnya di Madinah, lalu ketika kereta berangkat ia niat ihram dan bertalbiyah di dalam kereta. Hal ini karena jarak Madinah ke miqat dekat, dikhawatirkan kereta melewati miqat sebelum sempat berihram; berhenti di miqat dapat mengganggu keberangkatan dan menyulitkan penumpang.” (Fatwa No. 26952, 21/11/1437 H)</p>
<p><em>Wallahua’lam&#8230;</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2490/miqat-haji-dan-umrah/">Miqat Haji dan Umrah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2490/miqat-haji-dan-umrah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
