<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ANB Channel - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/anb-channel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 18 Aug 2026 04:56:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>ANB Channel - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hukum Merayakan Maulid Nabi ﷺ, Tidak Sesuai Syariat ?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3155/hukum-merayakan-maulid-nabi-%ef%b7%ba-tidak-sesuai-syariat/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3155/hukum-merayakan-maulid-nabi-%ef%b7%ba-tidak-sesuai-syariat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2026 04:50:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ANB Channel]]></category>
		<category><![CDATA[bidah dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[bidah maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[dalil islam]]></category>
		<category><![CDATA[dalil maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merayakan maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum perayaan maulid]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi muhammad ﷺ]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi sesuai syariat]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi tidak sesuai syariat]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan ulama tentang maulid]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah nabi]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz ammi nur baits]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3155</guid>

					<description><![CDATA[<p>Maulid Nabi, Antara Cinta kepada Rasulullah dan Tuntunan Syariat Mencintai Nabi Muhammad ﷺ merupakan bagian dari iman. Setiap Muslim yang mengenal Rasulullah ﷺ, mengetahui perjuangan beliau, mengenal akhlaknya, merasakan kasih sayangnya kepada umat, serta memahami besarnya jasa beliau dalam menyampaikan risalah Allah, tentu akan semakin mencintai dan menghormati beliau. Karena itu, ketika memasuki bulan Rabiul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3155/hukum-merayakan-maulid-nabi-%ef%b7%ba-tidak-sesuai-syariat/">Hukum Merayakan Maulid Nabi ﷺ, Tidak Sesuai Syariat ?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Maulid Nabi, Antara Cinta kepada Rasulullah dan Tuntunan Syariat</strong></h2>
<p>Mencintai Nabi Muhammad ﷺ merupakan bagian dari iman. Setiap Muslim yang mengenal Rasulullah ﷺ, mengetahui perjuangan beliau, mengenal akhlaknya, merasakan kasih sayangnya kepada umat, serta memahami besarnya jasa beliau dalam menyampaikan risalah Allah, tentu akan semakin mencintai dan menghormati beliau.</p>
<p>Karena itu, ketika memasuki bulan Rabiul Awal, khususnya pada tanggal yang biasa disebut sebagai hari kelahiran Nabi ﷺ, sebagian kaum Muslimin mengadakan berbagai kegiatan yang dikenal dengan peringatan Maulid Nabi. Di dalamnya biasanya terdapat pembacaan sirah, shalawat, ceramah, pembagian makanan, dan berbagai kegiatan lainnya.</p>
<p>Namun, di balik semangat mencintai Rasulullah ﷺ tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu dijawab:</p>
<p><strong>Apakah perayaan Maulid Nabi ﷺ merupakan amalan yang disyariatkan dalam Islam?</strong></p>
<p>Untuk menjawabnya, kita tidak cukup hanya melihat niat orang yang melakukannya. Niat yang baik tentu merupakan perkara yang terpuji, tetapi dalam masalah ibadah, yang perlu diperhatikan bukan hanya niat, melainkan juga apakah amalan tersebut memiliki dasar dari Al-Qur&#8217;an dan Sunnah, apakah pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan generasi terbaik setelah mereka, serta bagaimana para ulama menilainya.</p>
<p>Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bahwa Rasulullah ﷺ hidup kurang lebih selama 23 tahun setelah diangkat menjadi nabi. Dalam rentang waktu tersebut, beliau tidak pernah membuat perayaan khusus untuk memperingati hari kelahirannya.</p>
<p>Demikian pula para sahabat. Mereka adalah manusia yang paling mencintai Rasulullah ﷺ, paling memahami sunnah beliau, dan paling bersemangat dalam melakukan berbagai bentuk kebaikan. Namun, tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, atau sahabat lainnya mengadakan perayaan Maulid Nabi ﷺ.</p>
<p>Begitu pula generasi setelah mereka, yaitu para tabi&#8217;in dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Selama tiga generasi pertama yang dikenal sebagai generasi utama umat ini, tidak dikenal adanya perayaan Maulid Nabi ﷺ.</p>
<p>Hal ini penting untuk diperhatikan. Sebab, jika perayaan Maulid merupakan ibadah yang dianjurkan, tentu orang-orang yang paling layak mendahului kita dalam melakukannya adalah para sahabat <em>Radhiyallahu &#8216;anhum</em>.</p>
<p>Mereka bukan sekadar mengetahui tanggal kelahiran Rasulullah ﷺ. Mereka hidup bersama beliau, melihat langsung akhlaknya, mendengar sabdanya, mengikuti perjuangannya, dan menjadi saksi langsung kehidupan beliau.</p>
<p>Lalu, kapan perayaan Maulid mulai dikenal?</p>
<p>Perayaan Maulid pertama kali diadakan pada masa pemerintahan Bani Ubaid yang dikenal sebagai kelompok Fatimiyah yang menguasai Mesir. Mereka disebut sebagai kelompok Syiah yang merupakan gerakan Batiniyah.</p>
<p>Al-Maqrizi menyebutkan bahwa pemerintahan tersebut membuat beberapa perayaan Maulid. Bukan hanya Maulid Nabi ﷺ, tetapi juga Maulid Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, al-Hasan, al-Husain, dan penguasa yang sedang berkuasa.</p>
<p>Beliau berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وكان للخلفاء الفاطميين في طول السنة أعياد ومواسم؛ هي: موسم رأس السنة، وموسم أول العام، ويوم عاشوراء، ومولد النبي صلى الله عليه وسلم، ومولد علي بن أبي طالب، ومولد الحسن، ومولد الحسين عليهما السلام، ومولد فاطمة الزهراء عليها السلام، ومولد الخليفة الحاضر &#8230;&#8221;؛</p>
<p>“Para khalifah Fatimiyah memiliki berbagai hari raya dan musim perayaan sepanjang tahun, yaitu: perayaan tahun baru, perayaan awal tahun, hari Asyura, Maulid Nabi ﷺ, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid al-Hasan, Maulid al-Husain ‘alaihimas-salām, Maulid Fatimah az-Zahra ‘alaihas-salām, dan Maulid khalifah yang sedang berkuasa …” (<em>Al-Mawa‘izh wal-I‘tibar</em>, juz 2, hlm. 43).</p>
<p>Dengan demikian, Maulid bukanlah ajaran yang dikenal sejak zaman Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi&#8217;in, dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, tetapi merupakan sebuah perayaan yang muncul kemudian.</p>
<p>Hal ini semakin jelas ketika Jamaluddin as-Surramari <em>Rahimahullah</em> membahas tentang Maulid. Beliau menjelaskan bahwa adanya perbedaan pendapat mengenai bulan dan tanggal kelahiran Nabi ﷺ justru menunjukkan bahwa generasi salaf tidak menjadikan hari tersebut sebagai musim khusus untuk berkumpul, mengadakan jamuan, membuat makanan dan minuman, serta melakukan berbagai bentuk perayaan.</p>
<p>Beliau berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وفي هذا الخِلافِ ما يَدلُّ على أنَّ السَّلفَ لم يكونوا يَجعلون ذلك مَوسِمًا للاجتِماعِ والولائمِ والاحتِفالِ في صُنعِ الأطعمةِ والأشربةِ والسَّماعاتِ؛ إذ السَّلفُ كانوا أعظمَ الناسِ تَوقيرًا ومحبَّةً وتَعظيمًا للنبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم، وأحرصَ الخَلقِ على نَشْرِ مَحاسنِه؛ فلو كان يومُ مولدِه عِندَهم موسِمًا لتوفَّرتْ هِمَمُهم على حِفظِه&#8230;&#8221;</p>
<p>“Dalam perbedaan pendapat ini (tentang kelahiran Nabi) terdapat petunjuk bahwa generasi salaf tidak menjadikan hari tersebut sebagai musim untuk berkumpul, mengadakan jamuan, dan melakukan perayaan berupa penyediaan makanan, minuman, serta berbagai kegiatan lainnya. Sebab, generasi salaf adalah manusia yang paling besar penghormatan, kecintaan, dan pengagungannya kepada Nabi ﷺ, serta paling bersemangat menyebarkan keutamaan-keutamaan beliau. Seandainya hari kelahiran beliau merupakan musim yang semestinya dirayakan, tentu mereka akan bersungguh-sungguh dalam menjaga dan menetapkannya&#8230;” (<em>Manhaj al-Imam Jamaluddin as-Surramari fi Taqrir al-&#8216;Aqidah</em>, hlm. 72).</p>
<p>Dari sini, inti persoalan hukum Maulid mulai terlihat. Bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan bentuk ibadah yang baru dibuat jauh setelah Nabi ﷺ wafat. Karena tidak diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan tidak pula dicontohkan oleh para sahabat, sehingga para ulama kemudian menghukuminya sebagai sebuah bid&#8217;ah.</p>
<p><strong>Benarkah Maulid Merupakan Bentuk Cinta kepada Nabi ﷺ?</strong></p>
<p>Jika seseorang mengatakan bahwa Maulid dilakukan karena cinta kepada Rasulullah ﷺ, maka tidak diragukan bahwa kecintaan kepada beliau merupakan sesuatu yang mulia.</p>
<p>Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah: <strong>bagaimana cara membuktikan cinta kepada Rasulullah ﷺ?</strong></p>
<p>Apakah cukup dengan membuat sebuah bentuk peribadatan yang tidak pernah beliau ajarkan, ataukah kecintaan tersebut harus diwujudkan dengan mengikuti apa yang beliau ajarkan?</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:</p>
<p class="arab">(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ)</p>
<p>“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. Ali &#8216;Imran: 31).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menjadikan bukti kecintaan kepada-Nya adalah dengan mengikuti Rasul-Nya. Sebaliknya, Allah menjadikan balasan bagi orang yang mengikuti Rasul-Nya berupa kecintaan-Nya kepada hamba tersebut.</p>
<p>Rasulullah ﷺ juga bersabda:</p>
<p class="arab">&#8220;عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة&#8221;</p>
<p>“Wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah dengan kuat dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid&#8217;ah dan setiap bid&#8217;ah adalah kesesatan.” (HR. Ahmad 4/126, Abu Dawud no. 4607, dan at-Tirmidzi no. 2676).</p>
<p>Karena itu, kecintaan kepada Nabi ﷺ tidak cukup hanya dengan mengaku mencintai beliau. Kecintaan yang benar harus diwujudkan dengan mengikuti sunnahnya, menaati perintahnya, membenarkan berita yang beliau sampaikan, menjauhi larangannya, dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan yang beliau bawa.</p>
<p>Sebagaimana dinukil dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah</em>:</p>
<p class="arab">(وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره وإحياء سنته باطناً وظاهراً)</p>
<p>“Kesempurnaan dalam mencintai dan mengagungkan beliau adalah dengan mengikuti beliau, menaati beliau, mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara lahir dan batin&#8230;” (<em>Iqtidha&#8217; ash-Shirath al-Mustaqim</em>, hlm. 404).</p>
<p>Dengan demikian, pembahasan tentang Maulid tidak semestinya berhenti pada argumen, <strong>“kita merayakan Maulid sebagai bentuk mencintai Nabi ﷺ.”</strong> Yang lebih penting adalah bertanya:</p>
<p><strong>“Bagaimana cara mencintai Nabi ﷺ yang benar menurut syariat?”</strong></p>
<p>Jawabannya tentu adalah dengan mengikuti beliau, bukan dengan membuat bentuk ibadah baru yang tidak pernah beliau ajarkan.</p>
<p>Dengan demikian, seseorang tidak cukup hanya mengaku mencintai Nabi <strong>ﷺ</strong>. Cinta kepada beliau harus dibuktikan dengan mengikuti ajaran dan tuntunan yang beliau contohkan. Sebab, seseorang yang mengaku mencintai Nabi <strong>ﷺ</strong>, tetapi justru melakukan amalan dan ibadah yang tidak pernah beliau contohkan, tentu perlu mempertanyakan kembali sejauh mana kecintaan tersebut benar-benar diwujudkan.</p>
<p>Di antara contohnya adalah perayaan Maulid Nabi. Perayaan seperti ini tidak dikenal pada masa Rasulullah <strong>ﷺ</strong>, para sahabat, tabi&#8217;in, maupun tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Mereka tidak pernah merayakannya dan tidak pula mencontohkannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Karena itu, kecintaan kepada Nabi <strong>ﷺ</strong> semestinya diwujudkan dengan mengikuti sunnah dan petunjuk beliau, bukan dengan membuat bentuk ibadah baru yang tidak pernah beliau ajarkan.</p>
<p>Hal ini dijelaskan dengan sangat tegas oleh Abu Hafsh Tajuddin al-Fakihani <em>Rahimahullah</em>. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">(لا أعلم له أصلا في كتاب ولا سنة ولم ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة الذين هم القدوة في الدين المتمسكون بآثار المتقدمين بل هو بدعة أحدثها المبطلون وشهوة نفس اعتني بها الآكلون. فليس هو بواجب إجماعا ولا مندوبا لأن حقيقة المندوب ما طلبه الشارع من غير ذم على تركه وهذا لم يأذن فيه الشارع ولا فعله الصحابة والتابعون ولا العلماء المتدينون فيما علمت.. ولا جائزا ولا مباحا لأن الابتداع في الدين ليس مباحا بإجماع المسلمين فلم يبق إلا أن يكون مكروها أو محرما&#8230;</p>
<p>“Aku tidak mengetahui adanya dasar bagi perayaan Maulid ini dalam Al-Qur&#8217;an maupun Sunnah. Tidak pula dinukil bahwa amalan tersebut pernah dilakukan oleh seorang pun dari ulama umat yang menjadi teladan dalam agama dan berpegang teguh kepada atsar generasi terdahulu. Bahkan, ia merupakan bid&#8217;ah yang dibuat oleh orang-orang yang melakukan kebatilan dan dorongan hawa nafsu yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang suka makan.</p>
<p>Maulid bukanlah sesuatu yang wajib berdasarkan ijma&#8217;. Ia juga bukan sesuatu yang sunnah, karena hakikat amalan sunnah adalah sesuatu yang diminta oleh syariat tanpa adanya celaan bagi orang yang meninggalkannya. Sedangkan perkara ini tidak diizinkan oleh syariat, tidak dilakukan oleh para sahabat dan tabi&#8217;in, dan tidak pula dilakukan oleh para ulama yang beragama dengan baik, sejauh yang aku ketahui.</p>
<p>Maulid juga bukan sesuatu yang boleh atau mubah, karena membuat-buat perkara baru dalam agama bukanlah sesuatu yang dibolehkan berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Maka yang tersisa hanyalah kemungkinan bahwa ia makruh atau haram.” (<em>al-Mawrid fi &#8216;Amal al-Mawlid</em>, hlm. 20).</p>
<p><strong>Bagaimana Jika Maulid Diisi dengan </strong><strong>ketaatan </strong><strong>?</strong></p>
<p>Sebagian orang berusaha menghindari nyanyian atau kegiatan yang mengandung pelanggaran terhadap syariat dalam acara Maulid. Mereka kemudian menggantinya dengan membaca kajian atau kitab-kitab hadis, seperti membaca <em>Shahih al-Bukhari</em> dan kitab-kitab hadis lainnya.</p>
<p>Secara umum, membaca hadis tentu merupakan amal yang sangat baik. Namun, menurut Ibnul Haj, persoalannya bukan terletak pada membaca hadis itu sendiri, melainkan pada menjadikannya sebagai bagian dari ritual Maulid.</p>
<p>Beliau <em>Rahimahullah</em> berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وبعضهم يتورع عن هذا – أي : السماع المحرم &#8211; ويعمل المولد بقراءة &#8221; البخاري &#8221; وغيره عوضاً عن ذلك ، وهذا وإن كانت قراءة الحديث في نفسها من أكبر القرَب والعبادات ، وفيها البركة العظيمة والخير الكثير : لكن إذا فعل ذلك بشرطه اللائق به على الوجه الشرعي كما ينبغي ، لا بنية المولد&#8230;&#8221;</p>
<p>“Sebagian orang berusaha menghindari hal tersebut—yakni mendengarkan sesuatu yang haram—lalu melaksanakan Maulid dengan membaca <em>al-Bukhari</em> dan kitab lainnya sebagai gantinya. Membaca hadis pada dirinya sendiri memang termasuk amal ibadah dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang paling besar, serta mengandung keberkahan dan kebaikan yang banyak. Akan tetapi, hal itu harus dilakukan dengan ketentuan yang sesuai dan dengan cara yang disyariatkan sebagaimana mestinya, bukan dengan niat Maulid.”</p>
<p>Kemudian Ibnul Haj memberikan sebuah perumpamaan yang sangat jelas:</p>
<p class="arab">&#8220;ألا ترى أن الصلاة من أعظم القرَب إلى الله تعالى ، ومع ذلك فلو فعلها إنسان في غير الوقت المشرع لها لكان مذموماً مخالفاً&#8230;”</p>
<p>“Tidakkah engkau melihat bahwa shalat termasuk bentuk ibadah yang paling agung kepada Allah Ta&#8217;ala, tetapi seandainya seseorang melakukannya di luar waktu yang telah disyariatkan, ia akan tercela karena menyelisihi syariat. Jika shalat saja demikian, maka bagaimana dengan amalan lainnya?” (Lihat: <em>al-Madkhal</em>, 2/25).</p>
<p>Ada pula sebagian orang yang mengisi Maulid dengan mempelajari kehidupan dan sirah Rasulullah ﷺ, mengenal akhlak beliau, mengetahui perjuangan beliau, mempelajari mukjizat beliau, dan berbagai hal lainnya. Tujuannya agar kegiatan tersebut tidak terlihat sebagai sekadar perayaan Maulid, tetapi sebagai kegiatan mempelajari sirah Nabi ﷺ.</p>
<p>Pada dasarnya, mempelajari sirah Nabi ﷺ adalah amalan yang baik. Akan tetapi, persoalannya terletak pada <strong>penetapan waktu dan bentuk amalan tertentu yang dikhususkan sebagai bentuk perayaan Maulid karena dilakukan bertepatan dengan perayaan Maulid.</strong></p>
<p>Hal ini telah dijelaskan oleh Imam Jamaluddin as-Surramari <em>Rahimahullah</em>. Beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">&#8220;ولكنَّ الاجتِماعَ على قِراءةِ القُرآنِ ونَشرِ مُعجزاتِ النبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم، وذِكرِ أخلاقِه وآدابِه، والتعريفِ لحقوقِه، وامتثالِ أوامرِه والوقوفِ لزواجرِه، وتَعليمِ سُنَنِه؛ مُستَحَبٌّ في كلِّ وقتٍ، بل واجبٌ&#8221;</p>
<p>“Akan tetapi, berkumpul untuk membaca Al-Qur&#8217;an, menyebarkan mukjizat-mukjizat Nabi ﷺ, menyebutkan akhlak dan adab beliau, menjelaskan hak-hak beliau, menjalankan perintah-perintah beliau, menjauhi larangan-larangannya, dan mengajarkan sunnah-sunnah beliau adalah sesuatu yang dianjurkan pada setiap waktu (bukan saat-saat tertentu), bahkan wajib.” (Lihat: <em>Manhaj al-Imam Jamaluddin as-Surramari fi Taqrir al-&#8216;Aqidah</em>, hlm. 72–73).</p>
<p>Dengan demikian, seorang Muslim tetap dapat mempelajari sirah Nabi ﷺ sepanjang tahun, bukan hanya pada waktu-waktu tertentu yang dikhususkan. Yang menjadi persoalan adalah ketika hari tertentu dijadikan sebagai syiar dan musim ibadah khusus, padahal tidak ada tuntunan dari Rasulullah ﷺ untuk menjadikannya demikian.</p>
<p>Dari penjelasan di atas terdapat sebuah kaidah penting:</p>
<p><strong>Tidak semua amalan yang asalnya disyariatkan boleh dikhususkan dengan waktu, tempat, cara, atau sebab tertentu tanpa dalil.</strong></p>
<p>Ada hal lain yang juga perlu diperhatikan. Tanggal 12 Rabiul Awal bukan hanya dikenal sebagai salah satu pendapat tentang kelahiran Nabi ﷺ, tetapi juga merupakan tanggal yang disebutkan oleh sebagian ulama sebagai hari wafat beliau.</p>
<p>Para ulama sepakat bahwa Nabi <strong>ﷺ</strong> wafat pada hari Senin. Namun, mereka berbeda pendapat mengenai tanggalnya. Di antara pendapat yang paling masyhur dalam kitab-kitab sejarah adalah bahwa beliau wafat pada 12 Rabiul Awal. Dengan demikian, tanggal yang oleh sebagian orang diperingati sebagai hari kelahiran Nabi <strong>ﷺ</strong> juga merupakan tanggal yang masyhur disebut sebagai hari wafat beliau.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>Rahimahullah</em> berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وكانت وفاته يوم الاثنين بلا خلاف من ربيع الأول، وكاد يكون إجماعا، لكن في حديث بن مسعود عند البزار في حادي عشر رمضان. ثم عند بن إسحاق والجمهور: أنها في الثاني عشر منه&#8221;</p>
<p>“Wafat beliau terjadi pada hari Senin di bulan Rabiul Awal tanpa adanya perselisihan dalam hal harinya, bahkan hampir dianggap sebagai ijma&#8217;. Namun, terdapat sebuah riwayat dari Ibnu Mas&#8217;ud yang diriwayatkan al-Bazzar yang menyebut tanggal sebelas. Sedangkan menurut Ibnu Ishaq dan mayoritas ulama, wafat beliau terjadi pada tanggal dua belas Rabiul Awal.” (Ibnu Hajar al-&#8216;Asqalani, <em>Fath al-Bari</em>, 8/129).</p>
<p>Karena itu, menjadikan tanggal 12 Rabiul Awal sebagai hari kegembiraan atas kelahiran Nabi ﷺ juga menimbulkan persoalan. Sebab, tanggal tersebut menurut pendapat mayoritas justru merupakan tanggal wafatnya Rasulullah ﷺ.</p>
<p>Maka lihatlah bagaimana setan memperdaya sebagian orang, sehingga mereka menjadikan hari wafat beliau sebagai hari raya, kegembiraan, dan kesenangan. Ini termasuk akibat buruk dari bid&#8217;ah dan membuat-buat perkara baru dalam agama.</p>
<p>Terlebih lagi, dalam sebagian pelaksanaannya ditambahkan berbagai keyakinan dan perkara yang tidak memiliki sumber, bahkan dilarang dalam syariat. Jika demikian, persoalannya tentu menjadi semakin berat karena adanya pelanggaran-pelanggaran tersebut.</p>
<p>Di antara perkara tersebut adalah kebiasaan sebagian orang berdiri ketika acara Maulid berlangsung karena beranggapan bahwa Nabi ﷺ hadir di tengah-tengah mereka. Keyakinan semacam ini kemudian dapat menyebabkan mereka terjatuh ke dalam berbagai bid&#8217;ah lainnya.</p>
<p>Selain berdiri dengan keyakinan tertentu, terdapat pula dzikir berjamaah dengan cara tertentu, pemukulan drum, dan penggunaan berbagai bentuk alat musik lainnya yang dapat masuk ke dalam perkara-perkara yang dilarang.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah</em> juga memberikan penjelasan yang tegas mengenai berkumpul dalam acara Maulid dengan nyanyian dan tarian. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;فأما الاجتماع في عمل المولد على غناء ورقص ونحو ذلك واتخاذه عبادة فلا يرتاب أحد من أهل العلم والإيمان في أن هذا من المنكرات التي ينهى عنها، ولا يستحب ذلك إلا جاهل أو زنديق&#8221;</p>
<p>“Adapun berkumpul dalam acara Maulid dengan nyanyian, tarian, dan semisalnya, lalu menjadikannya sebagai ibadah, maka tidak diragukan oleh seorang pun dari kalangan ahli ilmu dan iman bahwa hal tersebut termasuk kemungkaran yang dilarang. Tidak ada yang menganggapnya dianjurkan kecuali orang yang tidak mengetahui atau seorang zindik.” (<em>Risalah Hukm al-Ihtifal bil-Mawlid</em>, 1/34).</p>
<p>Selain kemungkaran di atas, Maulid juga dapat menjadi ajang berbagai bentuk kemaksiatan lainnya, seperti ikhtilat, musik, nyanyian, pemborosan harta, dan lain sebagainya.</p>
<p>Syaikh Ali Mahfuzh <em>Rahimahullah</em> mengatakan:</p>
<p class="arab">&#8220;ولا شبهة في أن هذه الموالد لا تخلو من المحرمات والمكروهات، وقد أصبحت مراتع الفسوق والفجور، وأسواقًا تباع فيها الأعراض، وتنتهك فيها محارمُ الله تعالى، وتعطل فيها بيوت العبادة، فلا ريبة في حرمتها، والمصلحة المقصودة منها لا تبيح هذه المحظورات التي فيها&#8230; ومنها خروج النساء متبرجات مع اختلاطهم بالرجال إلى حد لا يُؤمن معه وقوع الفاحشة.&#8221;</p>
<p>“Tidak diragukan bahwa berbagai Maulid tersebut tidak lepas dari perkara-perkara yang haram dan makruh. Bahkan ia telah menjadi tempat berkembangnya kefasikan dan kemaksiatan, tempat kehormatan manusia direndahkan, kehormatan-kehormatan Allah dilanggar, dan rumah-rumah ibadah menjadi terbengkalai. Maka tidak diragukan keharamannya, dan kemaslahatan yang dimaksudkan darinya tidak dapat membolehkan berbagai perkara terlarang yang terdapat di dalamnya. Di antaranya adalah keluarnya kaum perempuan dalam keadaan tabarruj (menampakkan perhiasan) disertai bercampurnya mereka dengan kaum laki-laki hingga dikhawatirkan terjadinya perbuatan keji” (Lihat: <em>al-Ibda&#8217; fi Madharr al-Ibtida&#8217;</em>, hlm. 256).</p>
<p>Semoga Allah Ta&#8217;ala menganugerahkan kepada kita kecintaan yang benar kepada Nabi-Nya ﷺ, kecintaan yang mendorong kita untuk menghidupkan sunnahnya, meneladani akhlaknya, dan istiqamah mengikuti petunjuknya hingga akhir hayat. Aamiin.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3155/hukum-merayakan-maulid-nabi-%ef%b7%ba-tidak-sesuai-syariat/">Hukum Merayakan Maulid Nabi ﷺ, Tidak Sesuai Syariat ?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3155/hukum-merayakan-maulid-nabi-%ef%b7%ba-tidak-sesuai-syariat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Asal-Usul Perayaan Maulid Nabi ﷺ</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3151/asal-usul-perayaan-maulid-nabi-%ef%b7%ba/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3151/asal-usul-perayaan-maulid-nabi-%ef%b7%ba/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2026 04:48:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ANB Channel]]></category>
		<category><![CDATA[asal usul maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[bidah maulid]]></category>
		<category><![CDATA[dalil islam]]></category>
		<category><![CDATA[dalil maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad ﷺ]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan ulama tentang maulid]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kelahiran nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah perayaan maulid]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah nabi]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz ammi nur baits]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3151</guid>

					<description><![CDATA[<p>Asal-Usul Perayaan Maulid Nabi ﷺ Pembicaraan tentang Maulid Nabi ﷺ hampir selalu muncul setiap kali bulan Rabiul Awal tiba. Di tengah masyarakat Muslim, Maulid telah hadir dalam berbagai bentuk: ada yang mengisinya dengan pembacaan sirah dan shalawat, ada yang mengadakan pengajian dan jamuan, dan ada pula yang menjadikannya sebagai sebuah perayaan keagamaan yang diselenggarakan secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3151/asal-usul-perayaan-maulid-nabi-%ef%b7%ba/">Asal-Usul Perayaan Maulid Nabi ﷺ</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Asal-Usul Perayaan Maulid Nabi ﷺ</strong></p>
<p>Pembicaraan tentang Maulid Nabi ﷺ hampir selalu muncul setiap kali bulan Rabiul Awal tiba. Di tengah masyarakat Muslim, Maulid telah hadir dalam berbagai bentuk: ada yang mengisinya dengan pembacaan sirah dan shalawat, ada yang mengadakan pengajian dan jamuan, dan ada pula yang menjadikannya sebagai sebuah perayaan keagamaan yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun.</p>
<p>Lantas dari mana sebenarnya tradisi perayaan Maulid Nabi ﷺ berasal?</p>
<p>Apabila perjalanan tersebut ditelusuri berdasarkan sumber-sumber sejarah, kita akan mendapati bahwa perayaan Maulid dalam bentuk yang dikenal sebagai sebuah perayaan tahunan <strong>tidak ditemukan pada masa Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi&#8217;in, maupun tabi&#8217;ut tabi&#8217;in</strong>. Tradisi tersebut baru muncul beberapa abad kemudian, dan catatan sejarah paling jelas mengenai penyelenggaraannya membawa kita kepada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir. Setelah itu, perayaan Maulid berkembang dan menyebar.</p>
<p>Karena itu, untuk memahami persoalan ini dengan lebih utuh, pembahasannya perlu mengikuti urutan zaman.</p>
<p><strong>Masa Rasulullah ﷺ: Kelahiran Beliau Diketahui, tetapi Tidak Dijadikan Perayaan Tahunan</strong></p>
<p>Rasulullah ﷺ lahir di Makkah pada <strong>Tahun Gajah</strong>. Para ulama sepakat bahwa beliau lahir pada hari Senin dan pada Tahun Gajah, sedangkan mengenai tanggal kelahirannya terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah.</p>
<p>Dalam perjalanan hidup beliau, tidak terdapat riwayat bahwa Rasulullah ﷺ menetapkan hari kelahirannya sebagai hari raya atau mengadakan pertemuan tahunan untuk memperingatinya. Yang justru diriwayatkan secara sahih adalah bahwa beliau mengaitkan <strong>hari Senin</strong> dengan kelahirannya. Ketika ditanya tentang puasa hari Senin, beliau bersabda:</p>
<p class="arab">«ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ»</p>
<p>“Itu adalah hari ketika aku dilahirkan.” <strong>[HR. Muslim no. 1162].</strong></p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengingat hari kelahirannya dan menjadikan hari tersebut sebagai kesempatan untuk beribadah kepada Allah dengan berpuasa. Namun, tidak ada riwayat bahwa beliau menjadikannya sebagai perayaan tahunan.</p>
<p>Karena itu, jika seseorang ingin menghidupkan hari Senin sebagai bentuk syukur atas kelahiran Nabi ﷺ, tuntunan yang jelas adalah berpuasa, sebagaimana yang beliau lakukan. Adapun menjadikannya sebagai perayaan dengan berkumpul untuk membaca Al-Qur’an, melantunkan pujian kepada Nabi ﷺ, atau kegiatan khusus lainnya, tidak terdapat tuntunan dari Rasulullah ﷺ dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, tabi&#8217;in, maupun tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Dengan demikian, sejarah menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah menyelenggarakan perayaan tahunan atas kelahirannya.</p>
<p><strong>Masa Khulafa al-Rasyidin: Tidak Ada Tradisi Perayaan Maulid</strong></p>
<p>Rasulullah ﷺ wafat pada tahun 11 H. Setelah beliau wafat, estafet kepemimpinan umat dilanjutkan oleh para sahabat.</p>
<p>Mereka adalah generasi yang paling dekat dengan Nabi ﷺ. Mereka mengetahui kehidupan beliau secara langsung, menghafal sabda-sabdanya, menyaksikan ibadahnya, dan memahami bagaimana beliau menjalankan agama. Kecintaan mereka kepada Rasulullah ﷺ pun tidak perlu dipertanyakan.</p>
<p>Namun, dalam riwayat yang sampai kepada kita, tidak ditemukan bahwa Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, maupun para sahabat lainnya mengadakan perayaan tahunan untuk memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ.</p>
<p>Demikian pula tidak ditemukan bahwa mereka menetapkan 12 Rabiul Awal, atau tanggal tertentu lainnya, sebagai hari khusus untuk berkumpul, membaca sesuatu, menyantap makanan, atau melakukan bentuk perayaan tertentu dalam rangka memperingati Maulid Nabi ﷺ.</p>
<p>Padahal, apabila perayaan semacam itu merupakan bagian dari ajaran agama, para sahabat adalah orang-orang yang paling layak untuk mengetahuinya dan paling dahulu melaksanakannya.</p>
<p><strong>Masa Tabi&#8217;in dan Tabi&#8217;ut Tabi&#8217;in</strong></p>
<p>Setelah masa sahabat, umat Islam memasuki generasi tabi&#8217;in, kemudian tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Ketiganya dikenal sebagai <strong>tiga generasi utama</strong> dalam sejarah Islam. Pada masa ini, Islam berkembang luas, ilmu hadis dan fikih semakin maju, para ulama besar bermunculan, dan berbagai cabang ilmu keislaman mulai dibukukan. Namun, tradisi perayaan Maulid tidak ditemukan sebagai kegiatan keagamaan tahunan yang dikenal di tengah mereka.</p>
<p>Al-Hafizh al-Sakhawi rahimahullah memberikan kesaksian penting mengenai hal ini. Ia berkata:</p>
<p class="arab">«عَمَلُ الْمَوْلِدِ الشَّرِيفِ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِي الْقُرُونِ الثَّلَاثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَا حَدَثَ بَعْدُ»</p>
<p>“Amalan Maulid yang mulia tidak dinukil dari seorang pun dari kalangan salaf yang saleh pada tiga generasi utama; ia baru muncul setelahnya.” <strong>[Dinukil oleh al-Shalihi dalam <em>Subul al-Huda wa al-Rasyad</em>, 1/439].</strong></p>
<p>Keterangan ini penting karena menunjukkan bahwa berdasarkan catatan para ulama, perayaan Maulid bukanlah tradisi yang diwariskan dari masa Nabi ﷺ, para sahabat, tabi&#8217;in, dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Praktik tersebut baru dikenal setelah tiga generasi utama itu berlalu.</p>
<p>Dengan demikian, dari sisi sejarah, terdapat satu kesimpulan yang sulit diabaikan: <strong>perayaan Maulid bukan </strong>tradisi yang berasal dari tiga generasi pertama umat Islam, melainkan tradisi yang muncul pada masa setelah mereka.</p>
<p><strong>Memasuki Abad Ke-Empat</strong></p>
<p>Setelah tiga abad pertama berlalu, muncul Dinasti Ubaidiyah yang dikenal sebagai Dinasti Fatimiyah. Dinasti ini berdiri di Afrika Utara pada <strong>297 H</strong> dan menguasai Mesir pada <strong>362 H</strong>. Dalam berbagai kitab sejarah, identitas, nasab, dan ajaran mereka mendapat kritik keras dari para ulama.</p>
<p>Abu Syamah al-Maqdisi menukil tentang Ubaidullah:</p>
<p class="arab">«زِنْدِيقًا خَبِيثًا عَدُوًّا لِلْإِسْلَامِ، مُتَظَاهِرًا بِالتَّشَيُّعِ، مُتَسَتِّرًا بِهِ»</p>
<p>“Seorang zindik yang buruk, musuh Islam, yang menampakkan sikap tasyayyu&#8217; (Syiah) dan berlindung di baliknya.” <strong>[<em>Al-Raudhatain fi Akhbar al-Daulatain</em>, hlm. 200–202].</strong></p>
<p>Al-Qadhi &#8216;Iyadh rahimahullah menukil dari Abu Yusuf al-Ru&#8217;aini:</p>
<p class="arab">«أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ بِالْقَيْرَوَانِ أَنَّ حَالَ بَنِي عُبَيْدٍ حَالُ الْمُرْتَدِّينَ وَالزَّنَادِقَةِ»</p>
<p>“Para ulama Qairawan bersepakat bahwa keadaan Bani Ubaid adalah keadaan orang-orang murtad dan para zindik.” <strong>[<em>Tartib al-Madarik</em>, 4/720].</strong></p>
<p>Al-Dzahabi rahimahullah juga berkata:</p>
<p class="arab">«وَأَمَّا الْعُبَيْدِيُّونَ فَأَعْدَاءُ اللهِ وَرَسُولِهِ»</p>
<p>“Adapun orang-orang Ubaidiyah, mereka adalah musuh Allah dan Rasul-Nya.” <strong>[<em>Siyar A&#8217;lam al-Nubala&#8217;</em>, 15/373].</strong></p>
<p>Dengan demikian, dalam catatan sejarah, kemunculan awal tradisi perayaan Maulid berkaitan dengan lingkungan Dinasti Ubaidiyah/Fatimiyah, bukan dengan Nabi ﷺ, para sahabat, tabi&#8217;in, maupun tabi&#8217;ut tabi&#8217;in.<strong> </strong></p>
<p><strong>Dinast Fatimiyah di Mesir</strong></p>
<p>Ketika Dinasti Fatimiyah telah menguasai Mesir, mereka tidak hanya memiliki perayaan Maulid Nabi ﷺ. Mereka membangun sebuah kalender perayaan kerajaan yang sangat luas.</p>
<p>Sejarawan besar Mesir, Ahmad bin Ali al-Maqrizi Rahimahullah, mencatat secara rinci berbagai perayaan tersebut dalam kitabnya <em>al-Khithath</em>. Ia mengatakan:</p>
<p class="arab">»وَكَانَ لِلْخُلَفَاءِ الْفَاطِمِيِّينَ فِي طُولِ السَّنَةِ أَعْيَادٌ وَمَوَاسِمُ، وَهِيَ: مَوْسِمُ رَأْسِ السَّنَةِ، وَمَوْسِمُ أَوَّلِ الْعَامِ، وَيَوْمُ عَاشُورَاءَ، وَمَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَوْلِدُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَمَوْلِدُ الْحَسَنِ، وَمَوْلِدُ الْحُسَيْنِ، وَمَوْلِدُ فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ، وَمَوْلِدُ الْخَلِيفَةِ الْحَاضِرِ&#8230; «</p>
<p>“Para khalifah Fatimiyah memiliki berbagai hari raya dan musim perayaan sepanjang tahun, yaitu: perayaan tahun baru, awal tahun, hari Asyura, Maulid Nabi ﷺ, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Hasan, Maulid Husain, Maulid Fatimah az-Zahra, dan Maulid khalifah yang sedang berkuasa&#8230;” <strong>[Al<em> -Mawa&#8217;izh wa al-I&#8217;tibar bi Dzikr al-Khithath wa al-Atsar</em>, 2/436].</strong></p>
<p>Keterangan ini merupakan salah satu sumber sejarah yang paling penting ketika membicarakan asal-usul Maulid. Ia menunjukkan bahwa Maulid Nabi ﷺ telah menjadi bagian dari perayaan resmi istana Fatimiyah di Mesir yang mana mereka beraqiah batiniyah.</p>
<p>Menariknya, informasi mengenai asal-usul perayaan Maulid ini tidak hanya disebutkan oleh para ulama yang dikenal kritis terhadap perayaan tersebut. Bahkan, salah seorang tokoh yang membahas sejarahnya adalah Muhammad Bakhit al-Muthi‘i, mantan Mufti Mesir yang wafat pada tahun 1354 H. Ia dikenal sebagai seorang sufi Naqsyabandi, bukan tokoh yang dapat dikategorikan sebagai Wahabi atau Salafi yang mereka anggap kelompok yang paling anti terhadap maulid. Bahkan, ia sendiri termasuk yang membolehkan pelaksanaan Maulid.</p>
<p>Dalam kitabnya <em>Ahsan al-Kalam fima Yata‘allaqu bis-Sunnah wal-Bid‘ah minal-Ahkam</em>, Muhammad Bakhit al-Muthi‘i secara jelas menyebut bahwa perayaan Maulid pertama kali diadakan di Kairo oleh khalifah-khalifah Fatimiyah, khususnya al-Mu‘izz li Dinillah. Ia menggambarkan bagaimana perayaan tersebut diselenggarakan secara besar-besaran dengan berbagai bentuk kemeriahan dan pemberian kepada masyarakat.</p>
<p>Beliau berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;إن أول من أحدثها في القاهرة الخلفاء الفاطميون، المعز لدين الله، ولقد كان المعز يغدق فيها بالأموال والعطايا للفقراء، ويعلق الزينات، ويقيم الولائم العظيمة، والجند الكثير بالأعلام والأبواق، فاستولى بتلك الاحتفالات والشعائر على قلوب العامة&#8221;</p>
<p>“Sesungguhnya orang pertama yang mengadakan perayaan tersebut di Kairo adalah para khalifah Fatimiyah, yaitu al-Mu‘izz li Dinillah. Al-Mu‘izz banyak mengeluarkan harta dan memberikan berbagai pemberian kepada orang-orang fakir pada perayaan tersebut. Ia memasang berbagai hiasan, mengadakan jamuan-jamuan besar, serta menghadirkan banyak pasukan dengan membawa bendera dan meniup terompet. Dengan berbagai perayaan dan syiar tersebut, ia berhasil menguasai hati masyarakat umum.” [Lihat: <strong><em>Ahsan al-Kalam fima Yata‘allaqu bis-Sunnah wal-Bid‘ah minal-Ahkam</em>, hlm. 59–61].</strong></p>
<p>Kesaksian ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa informasi mengenai asal-usul Maulid sebagai tradisi yang pertama kali muncul pada masa Fatimiyah tidak hanya berasal dari kalangan ulama yang menolak Maulid. Seorang mufti Mesir yang dikenal sebagai seorang sufi dan bahkan membolehkan Maulid pun mencatat bahwa perayaan tersebut pertama kali diadakan di Kairo oleh pemerintahan Fatimiyah.</p>
<p>Dengan demikian, ketika disebutkan bahwa tradisi perayaan Maulid muncul pada masa Dinasti Ubaidiyah/Fatimiyah, hal tersebut bukan sekadar klaim yang dibangun oleh kelompok tertentu untuk menolak Maulid.</p>
<p>Hal ini sekaligus mengkonfirmasi sejarah yang telah disebutkan sebelumnya: Maulid Nabi ﷺ bukanlah tradisi yang dikenal pada masa Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi&#8217;in, maupun tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, tetapi muncul kemudian dalam sejarah Islam, dan salah satu catatan sejarah paling awal tentang penyelenggaraannya menunjuk kepada dinasti Fatimiyah di Mesir.</p>
<p>Hal yang menarik dari catatan tersebut adalah bahwa <strong>Maulid Nabi ﷺ ternyata bukan satu-satunya perayaan Maulid yang dikenal dalam tradisi Dinasti Fatimiyah</strong>. Al-Maqrizi menyebutkan bahwa dalam kalender perayaan mereka juga terdapat Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid al-Hasan, Maulid al-Husain, Maulid Fatimah az-Zahra, bahkan Maulid khalifah yang sedang berkuasa.</p>
<p>Dengan demikian, istilah <em>mawlid</em> pada masa itu digunakan dalam konteks yang lebih luas, yakni sebagai sebutan bagi berbagai perayaan yang diselenggarakan oleh pemerintahan Fatimiyah. Ini menunjukkan bahwa perayaan Maulid Nabi ﷺ pada masa tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari tradisi perayaan yang lebih luas dalam kehidupan politik dan keagamaan Dinasti Fatimiyah.</p>
<p><strong>Tahun 567 H: Runtuhnya Dinasti Fatimiyah</strong></p>
<p>Dinasti Fatimiyah akhirnya berakhir pada tahun <strong>567 H</strong>. Kekuasaan mereka di Mesir kemudian digantikan oleh pemerintahan Ayyubiyah di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi <em>Rahimahullah</em>.</p>
<p>Namun, berakhirnya kekuasaan Fatimiyah tidak serta-merta membuat tradisi Maulid menghilang dari sejarah. Beberapa waktu setelahnya, kita justru menemukan tokoh lain yang kemudian sangat terkenal dalam sejarah perayaan Maulid, yaitu Abu Sa&#8217;id Kukburi, penguasa Irbil. Ia dikenal dengan gelar <em>al-Malik al-Mu&#8217;azzam Muzaffaruddin</em>. Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan bahwa dialah yang mengadakan perayaan tersebut pada akhir abad ke- 6/7 H.</p>
<p>Kukburi sendiri merupakan penguasa yang hidup pada masa pemerintahan Ayyubiyah. Karena itu, ketika sejarah dibaca hanya dari masa ini, muncul anggapan bahwa Kukburi adalah orang pertama yang mengadakan perayaan Maulid.</p>
<p>Anggapan tersebut memang mudah muncul apabila setiap peristiwa dibaca secara terpisah. Akan tetapi, jika berbagai sumber sejarah disusun berdasarkan urutan waktunya, gambaran yang kita dapatkan menjadi berbeda. Perayaan Maulid ternyata telah tercatat sebelum masa Kukburi, yaitu dalam lingkungan pemerintahan Fatimiyah di Mesir<strong>.</strong></p>
<p>Dengan demikian, posisi Kukburi dalam sejarah lebih tepat dipahami sebagai tokoh yang kemudian mengembangkan dan menyelenggarakan perayaan Maulid secara besar-besaran, bukan sebagai pencetus pertama Maulid secara mutlak. Adapun catatan mengenai keberadaan Maulid sebelumnya telah ditemukan dalam sejarah pemerintahan Fatimiyah.</p>
<p>Ibn Kathir Rahimahullah mencatat kegiatan Kawkaburi dalam <em>al-Bidayah wa al-Nihayah</em>:</p>
<p class="arab">«وَكَانَ يَعْمَلُ الْمَوْلِدَ الشَّرِيفَ فِي رَبِيعٍ الْأَوَّلِ، وَيَحْتَفِلُ بِهِ احْتِفَالًا هَائِلًا»</p>
<p>“Ia biasa menyelenggarakan Maulid yang mulia pada bulan Rabiul Awal dan merayakannya dengan perayaan yang sangat besar.” <strong>[<em>Al-Bidayah wa al-Nihayah</em>, 17/205].</strong></p>
<p>Keterangan Ibn Kathir menunjukkan bahwa Maulid pada masa Kawkaburi telah berkembang menjadi perayaan publik yang besar.</p>
<p>Karena itu, nama Kawkaburi memang sangat penting dalam sejarah perkembangan Maulid. Namun, menyebutnya sebagai orang pertama yang pernah mengadakan Maulid secara mutlak tidak sesuai dengan urutan sumber sejarah yang mencatat adanya Maulid pada masa Fatimiyah sebelumnya.</p>
<p>Hal ini bahkan dijelaskan oleh Muhammad Bakhit al-Muthi&#8217;i Rahimahullah, seorang Mufti Mesir, Ia mengatakan:</p>
<p class="arab">»وَمِنْ ذَلِكَ تَعْلَمُ أَنَّ مُظَفَّرَ الدِّينِ إِنَّمَا أَحْدَثَ الْمَوْلِدَ النَّبَوِيَّ فِي مَدِينَةِ إِرْبِلَ؛ فَلَا يُنَافِي مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ أَنَّ أَوَّلَ مَنْ أَحْدَثَهُ بِالْقَاهِرَةِ الْخُلَفَاءُ الْفَاطِمِيُّونَ مِنْ قَبْلُ«</p>
<p>“Dari sini engkau mengetahui bahwa Muzhaffaruddin mengadakan Maulid Nabi di kota Irbil. Hal itu tidak bertentangan dengan apa yang telah kami sebutkan bahwa orang pertama yang mengadakannya di Kairo adalah para khalifah Fatimiyah sebelum itu.” <strong>[ <em>Ahsan al-Kalam fima Yata&#8217;allaq bi al-Sunnah wa al-Bid&#8217;ah min al-Ahkam</em>, hlm. 70].</strong></p>
<p>Jika kita telah mengetahui hal tersebut, maka tidak diragukan bahwa kaum Ubaidiyah adalah orang-orang pertama yang mengadakan perayaan Maulid Nabi, berdasarkan apa yang disebutkan dalam kitab-kitab sejarah dan sirah. Sebab, kaum Ubaidiyah memasuki Mesir dan mendirikan kekuasaan mereka pada paruh kedua abad keempat Hijriah. Pemerintahan mereka kemudian berlangsung sepanjang abad kelima dan hingga pertengahan abad keenam Hijriah.</p>
<p>Al-Mu&#8217;izz Ma&#8217;ad bin Isma&#8217;il memasuki Kairo pada bulan Ramadan tahun 362 H, dan itu menjadi awal kekuasaan mereka di Mesir. Ada pula yang mengatakan bahwa hal itu terjadi pada tahun 363 H.</p>
<p>Khalifah terakhir dari dinasti tersebut adalah al-&#8216;Adhid, yang wafat pada tahun 567 H.</p>
<p>Adapun Muzaffaruddin, penguasa Irbil, ia dilahirkan pada tahun 549 H dan wafat pada tahun 630 H.</p>
<p>Ini merupakan bukti yang tegas bahwa kaum Ubaidiyah telah lebih dahulu mengadakan perayaan Maulid Nabi dibandingkan penguasa Irbil, al-Malik al-Muzaffar.</p>
<p>Dengan demikian, penguasa Irbil bukanlah orang pertama yang mengadakan perayaan Maulid Nabi. Kaum Ubaidiyah telah mendahuluinya sekitar dua abad. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa penguasa Irbil merupakan orang pertama yang mengadakan perayaan Maulid Nabi di wilayah Mosul, karena perayaan yang dilakukan kaum Ubaidiyah berlangsung di wilayah kekuasaan mereka, yaitu Mesir, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sejarah. Wallahu a&#8217;lam.” (Lihat: <em>al-Bida&#8217; al-Hauliyyah</em>, hlm. 150).</p>
<p><strong>Jadi, Siapa yang Pertama Kali Mengadakan Maulid?</strong></p>
<p>Sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa tradisi perayaan Maulid telah dikenal di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah, sebelum kemudian berkembang secara besar-besaran pada masa Kawkaburi di Irbil. Karena itu, menyebut Kawkaburi sebagai pencetus pertama Maulid secara mutlak kurang tepat. Yang lebih tepat adalah membedakan antara <strong>awal kemunculan tradisi Maulid dalam catatan sejarah</strong> dan <strong>masa ketika perayaan tersebut berkembang luas</strong>, khususnya di lingkungan Sunni pada masa Kawkaburi.</p>
<p>Dengan demikian, Maulid tidak dikenal sebagai perayaan pada masa Nabi ﷺ, para sahabat, tabi&#8217;in, dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Tradisi ini muncul beberapa abad kemudian, tercatat dalam lingkungan Dinasti Fatimiyah di Mesir, lalu berkembang luas pada masa Kawkaburi di Irbil.</p>
<p>Ketika suatu hari tertentu kemudian ditetapkan sebagai waktu khusus untuk kegiatan keagamaan dan dijadikan perayaan tahunan, para ulama memandangnya sebagai perkara baru yang membutuhkan dalil. Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»</p>
<p>“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” <strong>[HR. al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718].</strong></p>
<p>Hadis ini menegaskan bahwa diterimanya suatu amalan dalam agama tidak hanya bergantung pada niat baik atau anggapan bahwa amalan tersebut mengandung kebaikan, tetapi juga harus memiliki dasar dari syariat. Karena itu, penetapan suatu ibadah atau perayaan dengan waktu dan tata cara tertentu tanpa tuntunan Rasulullah ﷺ tidak dapat dijadikan bagian dari syariat hanya berdasarkan niat baik atau banyaknya manfaat yang dianggap terkandung di dalamnya. <em>Wallahua’lam.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3151/asal-usul-perayaan-maulid-nabi-%ef%b7%ba/">Asal-Usul Perayaan Maulid Nabi ﷺ</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3151/asal-usul-perayaan-maulid-nabi-%ef%b7%ba/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
