<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bidah maulid nabi - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/bidah-maulid-nabi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 18 Aug 2026 04:56:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>bidah maulid nabi - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hukum Merayakan Maulid Nabi ﷺ, Tidak Sesuai Syariat ?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3155/hukum-merayakan-maulid-nabi-%ef%b7%ba-tidak-sesuai-syariat/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3155/hukum-merayakan-maulid-nabi-%ef%b7%ba-tidak-sesuai-syariat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2026 04:50:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ANB Channel]]></category>
		<category><![CDATA[bidah dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[bidah maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[dalil islam]]></category>
		<category><![CDATA[dalil maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merayakan maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum perayaan maulid]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi muhammad ﷺ]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi sesuai syariat]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi tidak sesuai syariat]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan ulama tentang maulid]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah nabi]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz ammi nur baits]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3155</guid>

					<description><![CDATA[<p>Maulid Nabi, Antara Cinta kepada Rasulullah dan Tuntunan Syariat Mencintai Nabi Muhammad ﷺ merupakan bagian dari iman. Setiap Muslim yang mengenal Rasulullah ﷺ, mengetahui perjuangan beliau, mengenal akhlaknya, merasakan kasih sayangnya kepada umat, serta memahami besarnya jasa beliau dalam menyampaikan risalah Allah, tentu akan semakin mencintai dan menghormati beliau. Karena itu, ketika memasuki bulan Rabiul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3155/hukum-merayakan-maulid-nabi-%ef%b7%ba-tidak-sesuai-syariat/">Hukum Merayakan Maulid Nabi ﷺ, Tidak Sesuai Syariat ?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Maulid Nabi, Antara Cinta kepada Rasulullah dan Tuntunan Syariat</strong></h2>
<p>Mencintai Nabi Muhammad ﷺ merupakan bagian dari iman. Setiap Muslim yang mengenal Rasulullah ﷺ, mengetahui perjuangan beliau, mengenal akhlaknya, merasakan kasih sayangnya kepada umat, serta memahami besarnya jasa beliau dalam menyampaikan risalah Allah, tentu akan semakin mencintai dan menghormati beliau.</p>
<p>Karena itu, ketika memasuki bulan Rabiul Awal, khususnya pada tanggal yang biasa disebut sebagai hari kelahiran Nabi ﷺ, sebagian kaum Muslimin mengadakan berbagai kegiatan yang dikenal dengan peringatan Maulid Nabi. Di dalamnya biasanya terdapat pembacaan sirah, shalawat, ceramah, pembagian makanan, dan berbagai kegiatan lainnya.</p>
<p>Namun, di balik semangat mencintai Rasulullah ﷺ tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu dijawab:</p>
<p><strong>Apakah perayaan Maulid Nabi ﷺ merupakan amalan yang disyariatkan dalam Islam?</strong></p>
<p>Untuk menjawabnya, kita tidak cukup hanya melihat niat orang yang melakukannya. Niat yang baik tentu merupakan perkara yang terpuji, tetapi dalam masalah ibadah, yang perlu diperhatikan bukan hanya niat, melainkan juga apakah amalan tersebut memiliki dasar dari Al-Qur&#8217;an dan Sunnah, apakah pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan generasi terbaik setelah mereka, serta bagaimana para ulama menilainya.</p>
<p>Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bahwa Rasulullah ﷺ hidup kurang lebih selama 23 tahun setelah diangkat menjadi nabi. Dalam rentang waktu tersebut, beliau tidak pernah membuat perayaan khusus untuk memperingati hari kelahirannya.</p>
<p>Demikian pula para sahabat. Mereka adalah manusia yang paling mencintai Rasulullah ﷺ, paling memahami sunnah beliau, dan paling bersemangat dalam melakukan berbagai bentuk kebaikan. Namun, tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, atau sahabat lainnya mengadakan perayaan Maulid Nabi ﷺ.</p>
<p>Begitu pula generasi setelah mereka, yaitu para tabi&#8217;in dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Selama tiga generasi pertama yang dikenal sebagai generasi utama umat ini, tidak dikenal adanya perayaan Maulid Nabi ﷺ.</p>
<p>Hal ini penting untuk diperhatikan. Sebab, jika perayaan Maulid merupakan ibadah yang dianjurkan, tentu orang-orang yang paling layak mendahului kita dalam melakukannya adalah para sahabat <em>Radhiyallahu &#8216;anhum</em>.</p>
<p>Mereka bukan sekadar mengetahui tanggal kelahiran Rasulullah ﷺ. Mereka hidup bersama beliau, melihat langsung akhlaknya, mendengar sabdanya, mengikuti perjuangannya, dan menjadi saksi langsung kehidupan beliau.</p>
<p>Lalu, kapan perayaan Maulid mulai dikenal?</p>
<p>Perayaan Maulid pertama kali diadakan pada masa pemerintahan Bani Ubaid yang dikenal sebagai kelompok Fatimiyah yang menguasai Mesir. Mereka disebut sebagai kelompok Syiah yang merupakan gerakan Batiniyah.</p>
<p>Al-Maqrizi menyebutkan bahwa pemerintahan tersebut membuat beberapa perayaan Maulid. Bukan hanya Maulid Nabi ﷺ, tetapi juga Maulid Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, al-Hasan, al-Husain, dan penguasa yang sedang berkuasa.</p>
<p>Beliau berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وكان للخلفاء الفاطميين في طول السنة أعياد ومواسم؛ هي: موسم رأس السنة، وموسم أول العام، ويوم عاشوراء، ومولد النبي صلى الله عليه وسلم، ومولد علي بن أبي طالب، ومولد الحسن، ومولد الحسين عليهما السلام، ومولد فاطمة الزهراء عليها السلام، ومولد الخليفة الحاضر &#8230;&#8221;؛</p>
<p>“Para khalifah Fatimiyah memiliki berbagai hari raya dan musim perayaan sepanjang tahun, yaitu: perayaan tahun baru, perayaan awal tahun, hari Asyura, Maulid Nabi ﷺ, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid al-Hasan, Maulid al-Husain ‘alaihimas-salām, Maulid Fatimah az-Zahra ‘alaihas-salām, dan Maulid khalifah yang sedang berkuasa …” (<em>Al-Mawa‘izh wal-I‘tibar</em>, juz 2, hlm. 43).</p>
<p>Dengan demikian, Maulid bukanlah ajaran yang dikenal sejak zaman Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi&#8217;in, dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, tetapi merupakan sebuah perayaan yang muncul kemudian.</p>
<p>Hal ini semakin jelas ketika Jamaluddin as-Surramari <em>Rahimahullah</em> membahas tentang Maulid. Beliau menjelaskan bahwa adanya perbedaan pendapat mengenai bulan dan tanggal kelahiran Nabi ﷺ justru menunjukkan bahwa generasi salaf tidak menjadikan hari tersebut sebagai musim khusus untuk berkumpul, mengadakan jamuan, membuat makanan dan minuman, serta melakukan berbagai bentuk perayaan.</p>
<p>Beliau berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وفي هذا الخِلافِ ما يَدلُّ على أنَّ السَّلفَ لم يكونوا يَجعلون ذلك مَوسِمًا للاجتِماعِ والولائمِ والاحتِفالِ في صُنعِ الأطعمةِ والأشربةِ والسَّماعاتِ؛ إذ السَّلفُ كانوا أعظمَ الناسِ تَوقيرًا ومحبَّةً وتَعظيمًا للنبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم، وأحرصَ الخَلقِ على نَشْرِ مَحاسنِه؛ فلو كان يومُ مولدِه عِندَهم موسِمًا لتوفَّرتْ هِمَمُهم على حِفظِه&#8230;&#8221;</p>
<p>“Dalam perbedaan pendapat ini (tentang kelahiran Nabi) terdapat petunjuk bahwa generasi salaf tidak menjadikan hari tersebut sebagai musim untuk berkumpul, mengadakan jamuan, dan melakukan perayaan berupa penyediaan makanan, minuman, serta berbagai kegiatan lainnya. Sebab, generasi salaf adalah manusia yang paling besar penghormatan, kecintaan, dan pengagungannya kepada Nabi ﷺ, serta paling bersemangat menyebarkan keutamaan-keutamaan beliau. Seandainya hari kelahiran beliau merupakan musim yang semestinya dirayakan, tentu mereka akan bersungguh-sungguh dalam menjaga dan menetapkannya&#8230;” (<em>Manhaj al-Imam Jamaluddin as-Surramari fi Taqrir al-&#8216;Aqidah</em>, hlm. 72).</p>
<p>Dari sini, inti persoalan hukum Maulid mulai terlihat. Bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan bentuk ibadah yang baru dibuat jauh setelah Nabi ﷺ wafat. Karena tidak diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan tidak pula dicontohkan oleh para sahabat, sehingga para ulama kemudian menghukuminya sebagai sebuah bid&#8217;ah.</p>
<p><strong>Benarkah Maulid Merupakan Bentuk Cinta kepada Nabi ﷺ?</strong></p>
<p>Jika seseorang mengatakan bahwa Maulid dilakukan karena cinta kepada Rasulullah ﷺ, maka tidak diragukan bahwa kecintaan kepada beliau merupakan sesuatu yang mulia.</p>
<p>Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah: <strong>bagaimana cara membuktikan cinta kepada Rasulullah ﷺ?</strong></p>
<p>Apakah cukup dengan membuat sebuah bentuk peribadatan yang tidak pernah beliau ajarkan, ataukah kecintaan tersebut harus diwujudkan dengan mengikuti apa yang beliau ajarkan?</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:</p>
<p class="arab">(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ)</p>
<p>“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. Ali &#8216;Imran: 31).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menjadikan bukti kecintaan kepada-Nya adalah dengan mengikuti Rasul-Nya. Sebaliknya, Allah menjadikan balasan bagi orang yang mengikuti Rasul-Nya berupa kecintaan-Nya kepada hamba tersebut.</p>
<p>Rasulullah ﷺ juga bersabda:</p>
<p class="arab">&#8220;عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة&#8221;</p>
<p>“Wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah dengan kuat dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid&#8217;ah dan setiap bid&#8217;ah adalah kesesatan.” (HR. Ahmad 4/126, Abu Dawud no. 4607, dan at-Tirmidzi no. 2676).</p>
<p>Karena itu, kecintaan kepada Nabi ﷺ tidak cukup hanya dengan mengaku mencintai beliau. Kecintaan yang benar harus diwujudkan dengan mengikuti sunnahnya, menaati perintahnya, membenarkan berita yang beliau sampaikan, menjauhi larangannya, dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan yang beliau bawa.</p>
<p>Sebagaimana dinukil dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah</em>:</p>
<p class="arab">(وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره وإحياء سنته باطناً وظاهراً)</p>
<p>“Kesempurnaan dalam mencintai dan mengagungkan beliau adalah dengan mengikuti beliau, menaati beliau, mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara lahir dan batin&#8230;” (<em>Iqtidha&#8217; ash-Shirath al-Mustaqim</em>, hlm. 404).</p>
<p>Dengan demikian, pembahasan tentang Maulid tidak semestinya berhenti pada argumen, <strong>“kita merayakan Maulid sebagai bentuk mencintai Nabi ﷺ.”</strong> Yang lebih penting adalah bertanya:</p>
<p><strong>“Bagaimana cara mencintai Nabi ﷺ yang benar menurut syariat?”</strong></p>
<p>Jawabannya tentu adalah dengan mengikuti beliau, bukan dengan membuat bentuk ibadah baru yang tidak pernah beliau ajarkan.</p>
<p>Dengan demikian, seseorang tidak cukup hanya mengaku mencintai Nabi <strong>ﷺ</strong>. Cinta kepada beliau harus dibuktikan dengan mengikuti ajaran dan tuntunan yang beliau contohkan. Sebab, seseorang yang mengaku mencintai Nabi <strong>ﷺ</strong>, tetapi justru melakukan amalan dan ibadah yang tidak pernah beliau contohkan, tentu perlu mempertanyakan kembali sejauh mana kecintaan tersebut benar-benar diwujudkan.</p>
<p>Di antara contohnya adalah perayaan Maulid Nabi. Perayaan seperti ini tidak dikenal pada masa Rasulullah <strong>ﷺ</strong>, para sahabat, tabi&#8217;in, maupun tabi&#8217;ut tabi&#8217;in. Mereka tidak pernah merayakannya dan tidak pula mencontohkannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Karena itu, kecintaan kepada Nabi <strong>ﷺ</strong> semestinya diwujudkan dengan mengikuti sunnah dan petunjuk beliau, bukan dengan membuat bentuk ibadah baru yang tidak pernah beliau ajarkan.</p>
<p>Hal ini dijelaskan dengan sangat tegas oleh Abu Hafsh Tajuddin al-Fakihani <em>Rahimahullah</em>. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">(لا أعلم له أصلا في كتاب ولا سنة ولم ينقل عمله عن أحد من علماء الأمة الذين هم القدوة في الدين المتمسكون بآثار المتقدمين بل هو بدعة أحدثها المبطلون وشهوة نفس اعتني بها الآكلون. فليس هو بواجب إجماعا ولا مندوبا لأن حقيقة المندوب ما طلبه الشارع من غير ذم على تركه وهذا لم يأذن فيه الشارع ولا فعله الصحابة والتابعون ولا العلماء المتدينون فيما علمت.. ولا جائزا ولا مباحا لأن الابتداع في الدين ليس مباحا بإجماع المسلمين فلم يبق إلا أن يكون مكروها أو محرما&#8230;</p>
<p>“Aku tidak mengetahui adanya dasar bagi perayaan Maulid ini dalam Al-Qur&#8217;an maupun Sunnah. Tidak pula dinukil bahwa amalan tersebut pernah dilakukan oleh seorang pun dari ulama umat yang menjadi teladan dalam agama dan berpegang teguh kepada atsar generasi terdahulu. Bahkan, ia merupakan bid&#8217;ah yang dibuat oleh orang-orang yang melakukan kebatilan dan dorongan hawa nafsu yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang suka makan.</p>
<p>Maulid bukanlah sesuatu yang wajib berdasarkan ijma&#8217;. Ia juga bukan sesuatu yang sunnah, karena hakikat amalan sunnah adalah sesuatu yang diminta oleh syariat tanpa adanya celaan bagi orang yang meninggalkannya. Sedangkan perkara ini tidak diizinkan oleh syariat, tidak dilakukan oleh para sahabat dan tabi&#8217;in, dan tidak pula dilakukan oleh para ulama yang beragama dengan baik, sejauh yang aku ketahui.</p>
<p>Maulid juga bukan sesuatu yang boleh atau mubah, karena membuat-buat perkara baru dalam agama bukanlah sesuatu yang dibolehkan berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Maka yang tersisa hanyalah kemungkinan bahwa ia makruh atau haram.” (<em>al-Mawrid fi &#8216;Amal al-Mawlid</em>, hlm. 20).</p>
<p><strong>Bagaimana Jika Maulid Diisi dengan </strong><strong>ketaatan </strong><strong>?</strong></p>
<p>Sebagian orang berusaha menghindari nyanyian atau kegiatan yang mengandung pelanggaran terhadap syariat dalam acara Maulid. Mereka kemudian menggantinya dengan membaca kajian atau kitab-kitab hadis, seperti membaca <em>Shahih al-Bukhari</em> dan kitab-kitab hadis lainnya.</p>
<p>Secara umum, membaca hadis tentu merupakan amal yang sangat baik. Namun, menurut Ibnul Haj, persoalannya bukan terletak pada membaca hadis itu sendiri, melainkan pada menjadikannya sebagai bagian dari ritual Maulid.</p>
<p>Beliau <em>Rahimahullah</em> berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وبعضهم يتورع عن هذا – أي : السماع المحرم &#8211; ويعمل المولد بقراءة &#8221; البخاري &#8221; وغيره عوضاً عن ذلك ، وهذا وإن كانت قراءة الحديث في نفسها من أكبر القرَب والعبادات ، وفيها البركة العظيمة والخير الكثير : لكن إذا فعل ذلك بشرطه اللائق به على الوجه الشرعي كما ينبغي ، لا بنية المولد&#8230;&#8221;</p>
<p>“Sebagian orang berusaha menghindari hal tersebut—yakni mendengarkan sesuatu yang haram—lalu melaksanakan Maulid dengan membaca <em>al-Bukhari</em> dan kitab lainnya sebagai gantinya. Membaca hadis pada dirinya sendiri memang termasuk amal ibadah dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang paling besar, serta mengandung keberkahan dan kebaikan yang banyak. Akan tetapi, hal itu harus dilakukan dengan ketentuan yang sesuai dan dengan cara yang disyariatkan sebagaimana mestinya, bukan dengan niat Maulid.”</p>
<p>Kemudian Ibnul Haj memberikan sebuah perumpamaan yang sangat jelas:</p>
<p class="arab">&#8220;ألا ترى أن الصلاة من أعظم القرَب إلى الله تعالى ، ومع ذلك فلو فعلها إنسان في غير الوقت المشرع لها لكان مذموماً مخالفاً&#8230;”</p>
<p>“Tidakkah engkau melihat bahwa shalat termasuk bentuk ibadah yang paling agung kepada Allah Ta&#8217;ala, tetapi seandainya seseorang melakukannya di luar waktu yang telah disyariatkan, ia akan tercela karena menyelisihi syariat. Jika shalat saja demikian, maka bagaimana dengan amalan lainnya?” (Lihat: <em>al-Madkhal</em>, 2/25).</p>
<p>Ada pula sebagian orang yang mengisi Maulid dengan mempelajari kehidupan dan sirah Rasulullah ﷺ, mengenal akhlak beliau, mengetahui perjuangan beliau, mempelajari mukjizat beliau, dan berbagai hal lainnya. Tujuannya agar kegiatan tersebut tidak terlihat sebagai sekadar perayaan Maulid, tetapi sebagai kegiatan mempelajari sirah Nabi ﷺ.</p>
<p>Pada dasarnya, mempelajari sirah Nabi ﷺ adalah amalan yang baik. Akan tetapi, persoalannya terletak pada <strong>penetapan waktu dan bentuk amalan tertentu yang dikhususkan sebagai bentuk perayaan Maulid karena dilakukan bertepatan dengan perayaan Maulid.</strong></p>
<p>Hal ini telah dijelaskan oleh Imam Jamaluddin as-Surramari <em>Rahimahullah</em>. Beliau mengatakan:</p>
<p class="arab">&#8220;ولكنَّ الاجتِماعَ على قِراءةِ القُرآنِ ونَشرِ مُعجزاتِ النبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم، وذِكرِ أخلاقِه وآدابِه، والتعريفِ لحقوقِه، وامتثالِ أوامرِه والوقوفِ لزواجرِه، وتَعليمِ سُنَنِه؛ مُستَحَبٌّ في كلِّ وقتٍ، بل واجبٌ&#8221;</p>
<p>“Akan tetapi, berkumpul untuk membaca Al-Qur&#8217;an, menyebarkan mukjizat-mukjizat Nabi ﷺ, menyebutkan akhlak dan adab beliau, menjelaskan hak-hak beliau, menjalankan perintah-perintah beliau, menjauhi larangan-larangannya, dan mengajarkan sunnah-sunnah beliau adalah sesuatu yang dianjurkan pada setiap waktu (bukan saat-saat tertentu), bahkan wajib.” (Lihat: <em>Manhaj al-Imam Jamaluddin as-Surramari fi Taqrir al-&#8216;Aqidah</em>, hlm. 72–73).</p>
<p>Dengan demikian, seorang Muslim tetap dapat mempelajari sirah Nabi ﷺ sepanjang tahun, bukan hanya pada waktu-waktu tertentu yang dikhususkan. Yang menjadi persoalan adalah ketika hari tertentu dijadikan sebagai syiar dan musim ibadah khusus, padahal tidak ada tuntunan dari Rasulullah ﷺ untuk menjadikannya demikian.</p>
<p>Dari penjelasan di atas terdapat sebuah kaidah penting:</p>
<p><strong>Tidak semua amalan yang asalnya disyariatkan boleh dikhususkan dengan waktu, tempat, cara, atau sebab tertentu tanpa dalil.</strong></p>
<p>Ada hal lain yang juga perlu diperhatikan. Tanggal 12 Rabiul Awal bukan hanya dikenal sebagai salah satu pendapat tentang kelahiran Nabi ﷺ, tetapi juga merupakan tanggal yang disebutkan oleh sebagian ulama sebagai hari wafat beliau.</p>
<p>Para ulama sepakat bahwa Nabi <strong>ﷺ</strong> wafat pada hari Senin. Namun, mereka berbeda pendapat mengenai tanggalnya. Di antara pendapat yang paling masyhur dalam kitab-kitab sejarah adalah bahwa beliau wafat pada 12 Rabiul Awal. Dengan demikian, tanggal yang oleh sebagian orang diperingati sebagai hari kelahiran Nabi <strong>ﷺ</strong> juga merupakan tanggal yang masyhur disebut sebagai hari wafat beliau.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>Rahimahullah</em> berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وكانت وفاته يوم الاثنين بلا خلاف من ربيع الأول، وكاد يكون إجماعا، لكن في حديث بن مسعود عند البزار في حادي عشر رمضان. ثم عند بن إسحاق والجمهور: أنها في الثاني عشر منه&#8221;</p>
<p>“Wafat beliau terjadi pada hari Senin di bulan Rabiul Awal tanpa adanya perselisihan dalam hal harinya, bahkan hampir dianggap sebagai ijma&#8217;. Namun, terdapat sebuah riwayat dari Ibnu Mas&#8217;ud yang diriwayatkan al-Bazzar yang menyebut tanggal sebelas. Sedangkan menurut Ibnu Ishaq dan mayoritas ulama, wafat beliau terjadi pada tanggal dua belas Rabiul Awal.” (Ibnu Hajar al-&#8216;Asqalani, <em>Fath al-Bari</em>, 8/129).</p>
<p>Karena itu, menjadikan tanggal 12 Rabiul Awal sebagai hari kegembiraan atas kelahiran Nabi ﷺ juga menimbulkan persoalan. Sebab, tanggal tersebut menurut pendapat mayoritas justru merupakan tanggal wafatnya Rasulullah ﷺ.</p>
<p>Maka lihatlah bagaimana setan memperdaya sebagian orang, sehingga mereka menjadikan hari wafat beliau sebagai hari raya, kegembiraan, dan kesenangan. Ini termasuk akibat buruk dari bid&#8217;ah dan membuat-buat perkara baru dalam agama.</p>
<p>Terlebih lagi, dalam sebagian pelaksanaannya ditambahkan berbagai keyakinan dan perkara yang tidak memiliki sumber, bahkan dilarang dalam syariat. Jika demikian, persoalannya tentu menjadi semakin berat karena adanya pelanggaran-pelanggaran tersebut.</p>
<p>Di antara perkara tersebut adalah kebiasaan sebagian orang berdiri ketika acara Maulid berlangsung karena beranggapan bahwa Nabi ﷺ hadir di tengah-tengah mereka. Keyakinan semacam ini kemudian dapat menyebabkan mereka terjatuh ke dalam berbagai bid&#8217;ah lainnya.</p>
<p>Selain berdiri dengan keyakinan tertentu, terdapat pula dzikir berjamaah dengan cara tertentu, pemukulan drum, dan penggunaan berbagai bentuk alat musik lainnya yang dapat masuk ke dalam perkara-perkara yang dilarang.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah</em> juga memberikan penjelasan yang tegas mengenai berkumpul dalam acara Maulid dengan nyanyian dan tarian. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;فأما الاجتماع في عمل المولد على غناء ورقص ونحو ذلك واتخاذه عبادة فلا يرتاب أحد من أهل العلم والإيمان في أن هذا من المنكرات التي ينهى عنها، ولا يستحب ذلك إلا جاهل أو زنديق&#8221;</p>
<p>“Adapun berkumpul dalam acara Maulid dengan nyanyian, tarian, dan semisalnya, lalu menjadikannya sebagai ibadah, maka tidak diragukan oleh seorang pun dari kalangan ahli ilmu dan iman bahwa hal tersebut termasuk kemungkaran yang dilarang. Tidak ada yang menganggapnya dianjurkan kecuali orang yang tidak mengetahui atau seorang zindik.” (<em>Risalah Hukm al-Ihtifal bil-Mawlid</em>, 1/34).</p>
<p>Selain kemungkaran di atas, Maulid juga dapat menjadi ajang berbagai bentuk kemaksiatan lainnya, seperti ikhtilat, musik, nyanyian, pemborosan harta, dan lain sebagainya.</p>
<p>Syaikh Ali Mahfuzh <em>Rahimahullah</em> mengatakan:</p>
<p class="arab">&#8220;ولا شبهة في أن هذه الموالد لا تخلو من المحرمات والمكروهات، وقد أصبحت مراتع الفسوق والفجور، وأسواقًا تباع فيها الأعراض، وتنتهك فيها محارمُ الله تعالى، وتعطل فيها بيوت العبادة، فلا ريبة في حرمتها، والمصلحة المقصودة منها لا تبيح هذه المحظورات التي فيها&#8230; ومنها خروج النساء متبرجات مع اختلاطهم بالرجال إلى حد لا يُؤمن معه وقوع الفاحشة.&#8221;</p>
<p>“Tidak diragukan bahwa berbagai Maulid tersebut tidak lepas dari perkara-perkara yang haram dan makruh. Bahkan ia telah menjadi tempat berkembangnya kefasikan dan kemaksiatan, tempat kehormatan manusia direndahkan, kehormatan-kehormatan Allah dilanggar, dan rumah-rumah ibadah menjadi terbengkalai. Maka tidak diragukan keharamannya, dan kemaslahatan yang dimaksudkan darinya tidak dapat membolehkan berbagai perkara terlarang yang terdapat di dalamnya. Di antaranya adalah keluarnya kaum perempuan dalam keadaan tabarruj (menampakkan perhiasan) disertai bercampurnya mereka dengan kaum laki-laki hingga dikhawatirkan terjadinya perbuatan keji” (Lihat: <em>al-Ibda&#8217; fi Madharr al-Ibtida&#8217;</em>, hlm. 256).</p>
<p>Semoga Allah Ta&#8217;ala menganugerahkan kepada kita kecintaan yang benar kepada Nabi-Nya ﷺ, kecintaan yang mendorong kita untuk menghidupkan sunnahnya, meneladani akhlaknya, dan istiqamah mengikuti petunjuknya hingga akhir hayat. Aamiin.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3155/hukum-merayakan-maulid-nabi-%ef%b7%ba-tidak-sesuai-syariat/">Hukum Merayakan Maulid Nabi ﷺ, Tidak Sesuai Syariat ?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3155/hukum-merayakan-maulid-nabi-%ef%b7%ba-tidak-sesuai-syariat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
