<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>fiqih thaharah - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/fiqih-thaharah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Dec 2025 09:13:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>fiqih thaharah - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Macam-Macam Najis Dan Cara Mencucikannya</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2687/macam-macam-najis-dan-cara-mencucikannya/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2687/macam-macam-najis-dan-cara-mencucikannya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2025 09:05:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[belajar fikih dasar]]></category>
		<category><![CDATA[bersuci dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[cara menyucikan najis]]></category>
		<category><![CDATA[contoh najis]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih najis]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum najis]]></category>
		<category><![CDATA[jenis najis]]></category>
		<category><![CDATA[kajian thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[macam najis]]></category>
		<category><![CDATA[materi thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[najis ainiyah]]></category>
		<category><![CDATA[najis babi dan anjing]]></category>
		<category><![CDATA[najis dalam kehidupan sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[najis dan cara mensucikannya]]></category>
		<category><![CDATA[najis hukmiyah]]></category>
		<category><![CDATA[najis menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[najis mughaladzah]]></category>
		<category><![CDATA[najis mukhaffafah]]></category>
		<category><![CDATA[najis mutawassithah]]></category>
		<category><![CDATA[najis ringan sedang berat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2687</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hukum Seputar Najis Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Dalam agama Islam, memahami konsep najis sangat penting, karena suci dan bersih dari najis adalah syarat sahnya ibadah terutama shalat, wudhu, mandi junub, dan lain-lain. Dalam tulisan ini kita akan membahas: apa itu najis, macam-macamnya, derajatnya, serta bagaimana cara mensucikan dari najis. Definisi Najis Najis secara bahasa adalah kotoran. Adapun secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2687/macam-macam-najis-dan-cara-mencucikannya/">Macam-Macam Najis Dan Cara Mencucikannya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Seputar Najis</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em><br />
Dalam agama Islam, memahami konsep<strong> najis</strong> sangat penting, karena suci dan bersih dari najis adalah syarat sahnya ibadah terutama shalat, wudhu, mandi junub, dan lain-lain. Dalam tulisan ini kita akan membahas: apa itu najis, macam-macamnya, derajatnya, serta bagaimana cara mensucikan dari najis.</p>
<h3><strong>Definisi Najis</strong></h3>
<p>Najis secara <strong>bahasa</strong> adalah kotoran. Adapun secara <strong>istilah</strong> adalah suatu benda yang dipandang jijik menurut syariat. Ada yang mengatakan Ia adalah setiap benda yang diharamkan untuk dikonsumsi; bukan karena kehormatannya, bukan karena kejijikannya dan bukan pula karena bahayanya bagi tubuh atau akal. Ada yang mengatakan: Ia adalah suatu sifat hukum yang menyebabkan bagi sesuatu yang disifati dengannya larangan untuk membolehkan salat dengannya atau di dalamnya. <a href="#_edn1" name="_ednref1">[1]</a></p>
<h3><strong>Klasifikasi Najis</strong></h3>
<p>Menurut sumber-sumber fiqh dan fatwa, najis dibagi berdasarkan beberapa aspek:</p>
<ul>
<li>Berdasarkan zat asal: <a href="#_edn2" name="_ednref2">[2]</a></li>
</ul>
<ol>
<li><strong>Najis ʿAiniyyah:</strong> Najis yang pada zatnya sendiri terdapat kotoran (najis), misalnya: air kencing, darah, air liur anjing dan sebagainya.</li>
<li><strong>Najis Ḥukmiyyah</strong><strong>:</strong> Najis yang bukan berasal dari zatnya yang mengandung najis, tetapi karena terkena sesuatu yang najis menempel padanya, misalnya pakaian suci yang terkena darah atau kencing. Dalam hal ini, asal zatnya suci, tetapi tempat atau pakaian menjadi najis karena kontaminasi.</li>
</ol>
<p>Pada kasus air: jika air terkena najis dan berubah sifatnya seperti warna, bau, atau rasa, maka air tersebut dianggap najis. Karena itu, tidak boleh menggunakan air yang sudah berubah sifat akibat najis untuk wudhu, mandi, atau mencuci najis lainnya. <a href="#_edn3" name="_ednref3">[3]</a></p>
<ul>
<li>Berdasarkan derajat / tingkatan najis: <a href="#_edn4" name="_ednref4">[4]</a></li>
</ul>
<ol>
<li><strong>Najis Khafifah / Ringan,</strong> misalnya kencing bayi laki-laki yang masih menyusu dan belum makan makanan padat. Cara menyucikannya hanya dengan dicipratkan dengan air hingga bagian itu basah tidak perlu dicuci menyeluruh.</li>
<li><strong>Najis Mutawashshithah / Sedang,</strong> misalnya kencing orang dewasa, tinja, darah haid/nifas, najis manusia umum, dll. Cara menyucikannya wajib dicuci sampai hilang najisnya artinya air mengalir dan hilang sifat najis.</li>
<li><strong>Najis Ghalizhah / Berat, </strong>misalnya air liur / darah dari anjing dan menurut sebagian ulama pula babi. Cara menyucikannya wajib dicuci tujuh kali, salah satunya dengan tanah (biasanya sabun tanah, atau air bercampur tanah) menurut praktek salaf.</li>
</ol>
<p>Pembagian ini sangat membantu agar meminimalisir khilafiyyah di tengah komunitas, karena setiap derajat najis memiliki tata cara berbeda dalam mensucikannya.</p>
<p><strong>Cara Mensucikan (Tathhir) Najis</strong></p>
<p>Setelah mengetahui macam dan derajat najis, kita harus tahu bagaimana cara mensucikannya agar barang/badan/air kembali suci, berikut ringkasan berdasarkan fiqh salaf:</p>
<ol>
<li><strong>Air sebagai sarana utama</strong></li>
</ol>
<p>Mayoritas ulama menegaskan bahwa air adalah sarana thaharah utama, sesuai petunjuk dalam al Qur-an dan Sunnah. <a href="#_edn5" name="_ednref5">[5]</a></p>
<p>Jika najis pada pakaian, badan, lantai, dsb, maka cukup dicuci dengan air sampai hilang najisnya (hilang warna, bau, atau rasa), kecuali kencing bayi laki-laki yang belum makan makanan padat. <a href="#_edn6" name="_ednref6">[6]</a></p>
<p>Jika tempat najis adalah tanah atau lantai semen/pasir, maka najis harus diangkat terlebih dahulu (misalnya kotoran, tinja), kemudian dicuci atau disiram air hingga hilang najis. Jika air tak tersedia, boleh ditimbun dengan tanah suci. <a href="#_edn7" name="_ednref7">[7]</a></p>
<ol start="2">
<li><strong>Apabila air terkena najis</strong></li>
</ol>
<p>Apabila air berubah sifat karena najis (mis. warna, bau, rasa), maka air itu dianggap najis dan tidak boleh digunakan untuk wudhu/mandi. <a href="#_edn8" name="_ednref8">[8]</a></p>
<p>Namun jika air sedikit tercampur najis tetapi tidak berubah sifatnya dan jumlah air cukup, maka sebagian ulama membolehkan memakai air tersebut untuk thaharah (tergantung madzhab). <a href="#_edn9" name="_ednref9">[9]</a></p>
<ol start="3">
<li><strong>Tathhir untuk najis berat (anjing, babi, dsb)</strong></li>
</ol>
<p>Najis dari anjing (dan dalam beberapa pendapat termasuk juga babi) termasuk kategori ghalizhah (berat), maka menurut sebagian besar ulama, harus dicuci tujuh kali, salah satunya dengan tanah.</p>
<p>Jika najis mengenai tubuh, pakaian, atau tempat — tetap dicuci tujuh kali sesuai ketentuan. <a href="#_edn10" name="_ednref10">[10]</a></p>
<ol start="4">
<li><strong>Niat dan syarat thaharah</strong></li>
</ol>
<p>Untuk menghilangkan najis menurut sebagian besar ulama tidak diperlukan niat khusus. Karena penghilangan najis bukan ibadah, melainkan sekedar mengangkat kotoran. <a href="#_edn11" name="_ednref11">[11]</a></p>
<p>Namun, bagi mereka yang berhati-hati atau mengikuti madzhab tertentu, ada pendapat yang mewajibkan niat meskipun ini bukan pendapat yang umum. <a href="#_edn12" name="_ednref12">[12]</a></p>
<p><strong>Mengapa Penting Memahami Pembagian Ini?</strong></p>
<p>Hal yang menyebabkan pentingnya memahami uraian di atas ialah:</p>
<ul>
<li>Memudahkan umat dalam mengetahui bagaimana mensucikan diri/pakaian/tempat tanpa berlebihan (ghuluw) atau terlalu ringan (taqshir).</li>
<li>Menghindarkan dari keraguan berlebihan (waswas) yang sering terjadi dalam masalah najis terutama ketika air, percikan, noda kecil, dsb. Jika kita memahami klasifikasi dan kaidah fiqh, kita bisa lebih yakin.</li>
<li>Menjaga sahnya ibadah: karena thaharah adalah syarat sahnya banyak ibadah seperti shalat, wudhu, dan juga menjaga kehormatan badan/pakaian/lingkungan dari najis.<strong style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;"> </strong></li>
</ul>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Najis secara bahasa berarti <strong>“kotoran”</strong>, secara syar‘i berarti kotoran yang diharamkan jika tidak disucikan. Najis dibagi menjadi <strong>ʿAiniyyah</strong> (asal zatnya najis) dan <strong>Hukmiyyah</strong> (kontaminasi terhadap yang suci). Selain itu, paling penting najis dikategorikan berdasarkan derajat <strong>ringan, sedang, berat/ghalizhah</strong> dan setiap derajat punya tata cara penyucian yang berbeda, dari sekadar disiram air, sampai dicuci tujuh kali dengan campuran tanah.</p>
<p>Air adalah sarana utama thaharah tetapi jika air tercemar dan berubah sifat (warna, bau, rasa), maka air itu dianggap najis. Oleh sebab itu, penting mengetahui apakah air yang kita pakai benar-benar suci atau tidak.</p>
<p>Bagi umat Muslim memahami pembagian ini membantu kita menjaga kebersihan secara legalistik (fiqh), agar ibadah dan kehidupan sehari-hari senantiasa bersih, suci, dan sesuai sunnah.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p>
<p><a href="#_ednref1" name="_edn1"></a><strong>Referensi:</strong></p>
<p>[1] https://dorar.net/feqhia/146/المبحث-الأوَّل-تعريف-النَّجاسة.</p>
<p>[2] https://islamqa.info/ar/answers/510163/النجاسة-أنواعها-وما-كيفية-التطهر-منها.</p>
<p>[3] https://dorar.net/feqhia/المبحث-الثَّالث-الماء-النَّجِس.</p>
<p>[4] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 2).</p>
<p>[5] https://dorar.net/feqhia/المبحث-الأوَّل-إزالة-النَّجاسةِ-بالماء.</p>
<p>[6] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 2).</p>
<p>[7] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 2).</p>
<p>[8] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 3).</p>
<p>[9] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 5).</p>
<p>[10] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 2).</p>
<p>[11] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 5).</p>
<p>[12] https://dorar.net/feqhia/المبحث-الرَّابع-حُكم-النِّية-للاستنجاء.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2687/macam-macam-najis-dan-cara-mencucikannya/">Macam-Macam Najis Dan Cara Mencucikannya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2687/macam-macam-najis-dan-cara-mencucikannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Adab-adab Masuk Kamar Mandi Sesuai Sunnah</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2678/adab-adab-masuk-kamar-mandi-sesuai-sunnah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2678/adab-adab-masuk-kamar-mandi-sesuai-sunnah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2025 09:38:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adab & Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[adab buang hajat]]></category>
		<category><![CDATA[adab ke kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[adab masuk kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[doa masuk kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[etika ke toilet menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[etika kebersihan dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu fiqih dasar]]></category>
		<category><![CDATA[kajian adab islam]]></category>
		<category><![CDATA[panduan muslim sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah harian muslim]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah masuk kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara masuk kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[thaharah dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz ammi nur baits]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2678</guid>

					<description><![CDATA[<p>Adab ke Kamar Mandi dalam Islam: Panduan Lengkap Berdasarkan Sunnah Adab memasuki kamar mandi merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim. Syariat memberikan tuntunan agar seorang hamba terjaga dari gangguan syaitan, menjaga kebersihan, serta meneladani sunnah Nabi ﷺ. Para ulama telah menjelaskan adab-adab tersebut secara rinci dan bersumber dari hadits-hadits yang shahih.Artikel ini insyaallah akan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2678/adab-adab-masuk-kamar-mandi-sesuai-sunnah/">Adab-adab Masuk Kamar Mandi Sesuai Sunnah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Adab ke Kamar Mandi dalam Islam: Panduan Lengkap Berdasarkan Sunnah</strong></h2>
<p>Adab memasuki kamar mandi merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim. Syariat memberikan tuntunan agar seorang hamba terjaga dari gangguan syaitan, menjaga kebersihan, serta meneladani sunnah Nabi ﷺ. Para ulama telah menjelaskan adab-adab tersebut secara rinci dan bersumber dari hadits-hadits yang shahih.Artikel ini insyaallah akan merangkum adab-adab tersebut secara ringkas, elegan, dan aplikatif.</p>
<h3><strong>Adab-Adab Seputar Kamar Mandi</strong></h3>
<ol>
<li><strong>Membaca Doa Sebelum Masuk Kamar Mandi</strong></li>
</ol>
<p>Sebelum memasuki kamar mandi, dianjurkan membaca doa:</p>
<p class="arab">« اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ »</p>
<p><em>“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan setan laki-laki dan setan perempuan.” </em>[1]</p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) menjelaskan bahwa doa ini dibaca sebelum masuk, bukan ketika sudah di dalam karena dilarang berzikir di dalam kamar mandi. [2]</p>
<ol start="2">
<li><strong>Masuk dengan Kaki Kiri dan Keluar dengan Kaki Kanan,</strong></li>
</ol>
<p>Dalam salah satu kajiannya, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) menjelaskan bahwa adab ini mengikuti kaidah umum syariat yaitu “Memulai segala hal yang baik menggunakan anggota badan sebelah kanan dan memulai segala hal yang buruk menggunakan anggota badan sebelah kiri” [3]</p>
<p>Maka ketika masuk kamar mandi mendahulukan kaki kiri, lalu ketika keluar kamar mandi dengan kaki kanan, hal ini berdasarkan keumuman hadits ‘Aisyah رضي الله عنها (w. 58H), beliau menceritakan:</p>
<p class="arab">« كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ »</p>
<p><em>“Rasulullah </em><em>ﷺ</em> <em>sangat menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, ketika menyisir rambut dan ketika bersuci, juga dalam setiap perkara (yang baik-baik).”</em> [4]</p>
<ol start="3">
<li><strong>Tidak Membaca Dzikir di Dalam Kamar Mandi</strong></li>
</ol>
<p>Syaikh Muḥammad bin Shalih al ʿUtsaimin رحمه الله (w. 1421 H) dalam komentarnya pada <em>al Kafi </em>karya Ibnu Qudamah al Maqdisi رحمه الله (w. 620 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">&#8220;لا يُذكَرُ اللهُ في داخِلِ الخَلاءِ إلّا عند الضَّرورة&#8221;</p>
<p><em>“Tidak boleh menyebut nama Allah di dalam kamar mandi kecuali darurat.”</em> [5]</p>
<p>Karenanya, doa hanya dibaca di luar, baik saat akan masuk, maupun setelah menyelesaikan urusan dalam kamar mandi.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Tidak Menghadap atau Membelakangi Kiblat di Tempat Terbuka</strong></li>
</ol>
<p>Nabi ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">« إِذَا أَتَيْتُمُ الغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا القِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا »</p>
<p><em>“Apabila kalian mendatangi tempat buang hajat, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya.”</em> [6]</p>
<p>Dijelaskan dalam web IslamQA, larangan ini berlaku terutama di tempat terbuka, adapun toilet modern yang tertutup, terdapat kelonggaran menurut sebagian ulama. [7]</p>
<ol start="5">
<li><strong>Tidak Membawa Sesuatu yang Tertulis Nama Allah</strong></li>
</ol>
<p>Termasuk adab adalah menghindari membawa mushaf atau benda yang terdapat lafal &#8220;الله&#8221; atau ayat al Qur-an ke dalam kamar mandi kecuali sangat terpaksanm sebagai bentuk penghormatan kepada kalam-Nya. [8]</p>
<ol start="6">
<li><strong>Tidak Berbicara di Dalam Kamar Mandi Kecuali Jika Ada Kebutuhan Mendesak.</strong></li>
</ol>
<p>Para ulama termasuk di dalamnya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin رحمه الله (w. 1421 H) menegaskan bahwa berbicara tanpa kebutuhan termasuk adab buruk yang menyalahi ketenangan dan kesopanan tempat tersebut.</p>
<ol start="7">
<li><strong>Tidak Membawa atau Menggunakan Tangan Kanan untuk Bersuci</strong></li>
</ol>
<p>Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">« لَا يُمْسِكُنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ، وَلَا يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِهِ »</p>
<p><em>“Janganlah salah seorang memegang kemaluannya dengan tangan kanan saat buang air, dan jangan beristinja dengan tangan kanan.”</em> [9]</p>
<ol start="8">
<li><strong>Menutup Aurat dan Tidak Berlama-lama</strong></li>
</ol>
<p>Kamar mandi adalah tempat najis, sehingga dianjurkan tidak berlama-lama, menjaga aurat dan menjaga kebersihan.</p>
<ol start="9">
<li><strong>Keluar Dengan Membaca Do’a</strong></li>
</ol>
<p>Dalilnya adalah hadits dari ‘Aisyah رضي الله عنها (w. 58H), beliau berkata,</p>
<p class="arab">أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ « غُفْرَانَكَ ».</p>
<p><em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa setelah beliau keluar kamar mandi beliau ucapkan “ghufronaka” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).” </em>[10]</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Adab ke kamar mandi bukan sekadar kebiasaan, tetapi bagian dari ibadah yang mengajarkan:</p>
<ul>
<li>Berlindung kepada Allah ﷻ sebelum masuk.</li>
<li>Masuk dengan kaki kiri, keluar dengan kaki kanan.</li>
<li>Tidak berzikir di dalam kamar mandi.</li>
<li>Menghindari arah kiblat juga menjaga kesucian dan kebersihan.</li>
<li>Tidak berbicara dan tidak menggunakan tangan kanan untuk bersuci.</li>
<li>Menutup aurat, tidak berlama-lama, dan membaca غُفْرَانَكَ saat keluar.</li>
</ul>
<p>Dengan memahami dan mengamalkan adab-adab ini, seorang Muslim telah menjaga kehormatan dirinya, mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan memperoleh keberkahan dalam setiap aktivitas sehari-hari.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>[1] HR. Bukhari no. 142 dan Muslim no. 375.</p>
<p>[2] https://binbaz.org.sa/fatwas/3589/دعاء-دخول-الخلاء.</p>
<p>[3] https://binbaz.org.sa/audios/310/باب-ما-يقول-المتخلي-عند-دخوله-وخروجه.</p>
<p>[4] HR. Bukhari no. 186 dan Muslim no. 268.</p>
<p>[5] https://shamela.ws/book/96875/156.</p>
<p>[6] HR. Bukhari no. 394 dan Muslim no. 264.</p>
<p>[7] https://islamqa.info/ar/answers/2532/.آداب-قضاء-الحاجة-في-الإسلام</p>
<p>[8] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/176669.</p>
<p>[9] HR. Muslim no. 267.</p>
<p>[10] <em>HR. Abu Daud no. 30, At Tirmidzi no. 7, Ibnu Majah no. 300, Ad Darimi no. 680. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2678/adab-adab-masuk-kamar-mandi-sesuai-sunnah/">Adab-adab Masuk Kamar Mandi Sesuai Sunnah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2678/adab-adab-masuk-kamar-mandi-sesuai-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
