<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hukum shalat tarawih - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/hukum-shalat-tarawih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 28 Dec 2025 23:27:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
	<item>
		<title>Shalat Tarawih Berjamaah atau Sendiri? Ini Penjelasan Ulama</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2740/shalat-tarawih-berjamaah-atau-sendiri-ini-penjelasan-ulama/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2740/shalat-tarawih-berjamaah-atau-sendiri-ini-penjelasan-ulama/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2025 13:20:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat ulama]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih berjamaah]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih sendiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2740</guid>

					<description><![CDATA[<p>Shalat Tarawih Berjamaah atau Sendiri? Ini Penjelasan Ulama Shalat Tarawih adalah salah satu amalan paling khas di bulan Ramadan. Hampir setiap malam, masjid-masjid dipenuhi jamaah yang ingin menghidupkan malam Ramadan dengan qiyamul lail. Namun, sering muncul pertanyaan: lebih utama Shalat Tarawih berjamaah di masjid atau dikerjakan sendiri di rumah? Untuk menjawab pertanyaan ini, para ulama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2740/shalat-tarawih-berjamaah-atau-sendiri-ini-penjelasan-ulama/">Shalat Tarawih Berjamaah atau Sendiri? Ini Penjelasan Ulama</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Shalat Tarawih Berjamaah atau Sendiri? Ini Penjelasan Ulama</strong></h2>
<p>Shalat Tarawih adalah salah satu amalan paling khas di bulan Ramadan. Hampir setiap malam, masjid-masjid dipenuhi jamaah yang ingin menghidupkan malam Ramadan dengan qiyamul lail. Namun, sering muncul pertanyaan: lebih utama Shalat Tarawih berjamaah di masjid atau dikerjakan sendiri di rumah<strong>?</strong></p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan ini, para ulama telah membahasnya secara panjang lebar. Menariknya, meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam hal keutamaan, para ulama sepakat bahwa Shalat Tarawih berjamaah adalah amalan yang disyariatkan dalam Islam.</p>
<h3><strong>Kesepakatan Ulama: Tarawih Berjamaah Itu Disyariatkan</strong></h3>
<p>Para ulama sepakat bahwa Shalat Tarawih boleh dan disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah. Dasarnya adalah praktik Nabi Muhammad ﷺ, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, terutama sejak masa Khalifah Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu.</p>
<p>Al-Kasani rahimahullah menjelaskan:</p>
<p>“Adapun sunnah-sunnah Shalat Tarawih, di antaranya adalah dilaksanakan secara berjamaah dan di masjid. Hal ini karena Nabi ﷺ pada saat beliau melaksanakan Shalat Tarawih, beliau melakukannya secara berjamaah di masjid. Demikian pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum melaksanakannya secara berjamaah di masjid. Maka pelaksanaan Tarawih secara berjamaah di masjid menjadi sunnah.” (<em>Bada’i‘ ash-Shana’i‘</em>, 3/145)</p>
<p>Artinya, berjamaah dalam Tarawih bukanlah hal baru, melainkan memiliki akar kuat dalam sunnah dan praktik generasi awal Islam.</p>
<p><strong>Pendapat Empat Mazhab tentang Tarawih Berjamaah</strong></p>
<ol>
<li><strong> Mazhab Hanafi</strong></li>
</ol>
<p>Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa Shalat Tarawih berjamaah hukumnya sunnah kifayah. Jika seluruh penduduk suatu daerah meninggalkannya, maka mereka dianggap melakukan perbuatan tercela. Namun, jika seseorang melaksanakannya di rumah, ia tetap sah, hanya saja kehilangan keutamaan jamaah masjid.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Mazhab Maliki</strong></li>
</ol>
<p>Ulama Malikiyah justru menganjurkan Tarawih dilakukan di rumah selama tidak menyebabkan masjid menjadi sepi. Dasarnya adalah sabda Nabi ﷺ:</p>
<p class="arab">‌«أيها ‌الناس! ‌صلوا ‌في ‌بيوتكم؛ ‌فإن ‌أفضل ‌صلاة ‌المرء ‌في ‌بيته ‌إلَّا ‌المكتوبة».</p>
<p>“Wahai sekalian manusia shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baik Shalat seseorang adalah di rumahnya, kecuali Shalat wajib.” (HR. Muslim (no. 1794), Abu Dawud (no. 1397) dan at-Tirmidzi (no. 450).”</p>
<p>Namun, anjuran ini disertai syarat:</p>
<ol>
<li>Tidak menyebabkan masjid-masjid menjadi kosong.</li>
<li>Orang tersebut memiliki semangat untuk melaksanakannya di rumah dan tidak bermalas-malasan.</li>
<li>Ia bukan termasuk pendatang (afaqi) yang berada di dua tanah haram (Makkah dan Madinah).</li>
</ol>
<p>Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka Shalat Tarawih di masjid lebih utama.</p>
<p>Al-Zarqani rahimahullah bahkan menegaskan bahwa <strong>makruh</strong> seseorang yang berada di masjid Shalat Tarawih sendirian dan meninggalkan jamaah, apalagi jika membuat jamaah berkurang.</p>
<ol start="3">
<li><strong> Mazhab Syafi‘i</strong></li>
</ol>
<p>Menurut ulama Syafi‘iyah, Shalat Tarawih berjamaah adalah sunnah menurut pendapat terkuat. Meski begitu, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa Shalat sendiri lebih utama, karena lebih dekat dengan keikhlasan dan lebih jauh dari riya, sebagaimana Shalat malam pada umumnya.</p>
<ol start="4">
<li><strong> Mazhab Hanbali</strong></li>
</ol>
<p>Ulama Hanabilah menegaskan bahwa Shalat Tarawih berjamaah lebih utama daripada sendirian. Imam Ahmad rahimahullah menyebutkan bahwa Ali, Jabir, dan Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhum melaksanakan Tarawih secara berjamaah. <em>(Al-Mawsu‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah</em> (27/147)).</p>
<h3><strong>Dalil Kuat Keutamaan Tarawih Berjamaah</strong></h3>
<p>beberapa dalil yang menunjukkan kesunnahan Shalat Tarawih secara berjamaah, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ mengumpulkan keluarga dan para istrinya, lalu bersabda:</li>
</ol>
<p class="arab">« مَنْ صَلَّى مَعَ إمَامِه حَتَى ‌يَنْصَرِفَ ‌كُتِبَ ‌له ‌قِيامُ ‌لَيْلَةٍ».</p>
<p>“Barang siapa Shalat bersama imam hingga imam selesai, maka dicatat baginya pahala Shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad 35/352 no. 21447, Abu Dawud no. 1375, an-Nasa’i 3/83–84, dan Ibnu Majah no. 1327).</p>
<ol start="2">
<li>Hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ keluar pada beberapa malam di bulan Ramadan dan Shalat di masjid, lalu orang-orang ikut Shalat bersamanya. Jumlah mereka semakin banyak, hingga pada malam keempat beliau tidak keluar, lalu bersabda:</li>
</ol>
<p class="arab">« خشيت أن تفرض عليكم فتعجزوا عنها».</p>
<p>“Aku khawatir Shalat itu akan diwajibkan atas kalian, sehingga kalian merasa berat melaksanakannya.”<br />
(HR. al-Bukhari no. 924 dan Muslim no. 761).</p>
<ol start="3">
<li>Riwayat dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mengumpulkan kaum Muslimin untuk Shalat Tarawih di belakang Ubay bin Ka‘b radhiyallahu ‘anhu pada tahun keempat belas Hijriah, setelah kurang lebih dua tahun beliau menjabat sebagai khalifah, tepatnya pada Ramadan kedua masa kekhilafahannya. (HR. Abu Dawud no. 1428, al-Bayhaqi dalam <em>as-Sunan al-Kubra</em> 2/498 dan <em>as-Sunan ash-Shughra</em> 1/287).</li>
</ol>
<p>Maka setelah masa Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, shalat tarawih menjadi salah satu syiar Islam yang paling nyata. Inilah pertama kalinya kaum Muslimin dikumpulkan di bulan Ramadan di bawah satu imam. Umat Islam terus melestarikan praktik ini, sehingga para ulama sepakat akan keutamaan pelaksanaan shalat tarawih di masjid. (Lihat: <em>Fath al-Bârî</em>, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid 4, hlm. 252; <em>Al-Mudawwanah al-Kubrâ</em>, karya Sahnun, jilid 1, hlm. 222; <em>Shalât at-Tarâwîh</em>, karya Syaikh Muhammad Dhiya’ ar-Rahman al-A‘zami, hlm. 28–29).</p>
<p>Al-Kasani berkata:</p>
<p class="arab">«جمع عمرُ أصحابَ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان على أُبَيِّ بن كعب رضي الله عنه، ولم يُنكر عليه أحد، فيكون إجماعًا منهم على ذلك».</p>
<p>“Umar radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan para sahabat Rasulullah ﷺ pada bulan Ramadan di bawah kepemimpinan Ubay bin Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu, dan tidak seorang pun mengingkarinya. Hal ini menjadi ijmak mereka.” (<em>Badâ’i‘ ash-Shanâ’i‘</em>, karya al-Kasani, jilid 1, hlm. 288).</p>
<h3><strong>Bolehkah Tarawih Sendiri di Rumah?</strong></h3>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya mengenai hukum Shalat Tarawih sendirian. Beliau menjawab:</p>
<p>“Shalat Tarawih secara berjamaah lebih utama. Nabi ﷺ melaksanakannya bersama para sahabat selama beberapa malam, kemudian beliau meninggalkannya seraya bersabda:</p>
<p class="arab">«ولكني خشيت أن تفرض عليكم صلاة الليل فتعجزوا عنها»</p>
<p>‘Aku khawatir Shalat malam itu akan diwajibkan atas kalian sehingga kalian merasa berat melaksanakannya.” (HR. al-Bukhari no. 924 dan Muslim no. 761).</p>
<p>Beliau melanjutkan:</p>
<p>“Setelah Nabi ﷺ wafat dan wahyu terputus, Umar radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan manusia di bawah satu imam di Masjid Nabawi pada bulan Ramadan. Nabi ﷺ juga bersabda:</p>
<p class="arab">«مَنْ صَلَّى مَعَ إمَامِه حَتَى ‌يَنْصَرِفَ ‌كُتِبَ ‌له ‌قِيامُ ‌لَيْلَةٍ».</p>
<p>“Barang siapa Shalat bersama imam hingga imam selesai, maka dicatat baginya pahala Shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad 35/352 no. 21447, Abu Dawud no. 1375, an-Nasa’i 3/83–84, dan Ibnu Majah no. 1327).</p>
<p>beliau rahimahullah menegaskan bahwa Shalat bersama jamaah lebih utama karena pahalanya sangat besar. Namun, apabila seseorang melaksanakannya di rumah, maka hal itu tetap boleh karena Tarawih adalah Shalat sunnah. Akan tetapi, ia kehilangan keutamaan berjamaah dan pahala qiyamul lail secara sempurna jika tidak Shalat bersama imam hingga selesai. (<em>Fatawa Nur ‘ala ad-Darb</em>, Ibnu Baz, edisi asy-Syuwai‘ir, 9/475).</p>
<p>Olehkarena itu apabila seseorang tidak mendapatkan kesempatan untuk Shalat Tarawih berjamaah, maka ia boleh melaksanakannya sendirian di rumah. Namun ia dianggap meninggalkan keutamaan berjamaah. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi  ﷺ tentang keutamaan melaksanakan shlat tarawih:</p>
<p>Rasulullah ﷺ juga bersabda:</p>
<p class="arab">«‌من ‌قام ‌رمضان ‌إيماناً ‌واحتساباً غُفِر له ما تقدم من ذنبه».</p>
<p>“Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)</p>
<p>Dan diriwayatkan pula bahwa beberapa sahabat dan tabi‘in seperti Umar bin al-Khattab, Ibrahim an-Nakha‘i, Sa‘id bin Jubair, dan lainnya, lebih memilih Shalat malam sendirian di bulan Ramadan. (<em>Syarh Ma‘ani al-Atsar</em>, 1/351).</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Shalat Tarawih berjamaah merupakan sunnah yang kuat dan bagian dari syiar Islam, dengan keutamaan besar bagi yang mengerjakannya bersama imam hingga selesai. Meski demikian, Shalat Tarawih sendirian di rumah tetap sah dan bernilai ibadah. Wallahu a‘lam…</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2740/shalat-tarawih-berjamaah-atau-sendiri-ini-penjelasan-ulama/">Shalat Tarawih Berjamaah atau Sendiri? Ini Penjelasan Ulama</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2740/shalat-tarawih-berjamaah-atau-sendiri-ini-penjelasan-ulama/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih: Hukum, dan Jumlah Rakaatnya</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2737/shalat-tarawih-hukum-dan-jumlah-rakaatnya/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2737/shalat-tarawih-hukum-dan-jumlah-rakaatnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2025 23:07:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[jumlah rakaat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat sunnah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih 20 rakaat]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih 8 rakaat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2737</guid>

					<description><![CDATA[<p>Shalat Tarawih: Hukum, dan Jumlah Rakaatnya Shalat tarawih merupakan salah satu syiar terbesar di bulan Ramadan yang mulia. Kaum Muslimin senantiasa menghidupkan malam-malam nya diantaranya dengan shalat tarawih berjama&#8217;ah dimasjid. Para fuqaha dan ahli hadis pun memberikan perhatian besar terhadap penjelasan hakikat shalat tarawih, hukumnya, tata cara pelaksanaannya, serta jumlah rakaatnya, sembari menegaskan keluasan syariat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2737/shalat-tarawih-hukum-dan-jumlah-rakaatnya/">Shalat Tarawih: Hukum, dan Jumlah Rakaatnya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Shalat Tarawih: Hukum, dan Jumlah Rakaatnya</strong></h2>
<p>Shalat tarawih merupakan salah satu syiar terbesar di bulan Ramadan yang mulia. Kaum Muslimin senantiasa menghidupkan malam-malam nya diantaranya dengan shalat tarawih berjama&#8217;ah dimasjid. Para fuqaha dan ahli hadis pun memberikan perhatian besar terhadap penjelasan hakikat shalat tarawih, hukumnya, tata cara pelaksanaannya, serta jumlah rakaatnya, sembari menegaskan keluasan syariat dan pengangkatan kesulitan dari umat. Sehingga mereka leluasa memilih jumalah rakat tarawih sesuai kemampuan mereka.</p>
<h3><strong>Definisi Shalat Tarawih</strong></h3>
<p>Kata <em>tarawih</em> merupakan bentuk jamak dari <em>tarwîhah</em>, yang bermakna istirahat dan ketenangan jiwa. Dari makna inilah dikenal istilah <em>tarwîhah Ramadan</em>, yaitu waktu istirahat setelah setiap empat rakaat. Dikatakan <em>istarâha</em> atau <em>istarwaha</em>, yakni memperoleh ketenangan dan kelegaan.</p>
<p>Kemudian, istilah tarawih secara khusus digunakan untuk menyebut shalat yang dikerjakan pada malam-malam bulan Ramadan. Imam duduk beristirahat setelah setiap empat rakaat, sehingga dikatakan: duduk di antara dua tarwîhah selama satu tarwîhah.</p>
<p>Shalat ini dinamakan tarawih karena kaum Muslimin pada masa awal memperpanjang berdiri, rukuk, dan sujud. Apabila mereka telah menunaikan empat rakaat, mereka beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan empat rakaat berikutnya, lalu beristirahat kembali, dan ditutup dengan shalat witir.</p>
<p>Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam <em>As-Sunan al-Kubrâ</em> dengan sanadnya dari al-Mughirah bin Ziyad al-Mushili, dari ‘Atha’, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:</p>
<p class="arab">«كان رسولُ الله صلى الله عليه وسلم يُصلِّي أربعَ ركعاتٍ في الليل ثم يتروَّح، فأطال حتى رحمته، فقلت: بأبي أنتَ وأمي يا رسولَ الله، قد غفر الله لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّر، قال: أفلا أكونُ عبدًا شكورًا»</p>
<p>“Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan shalat empat rakaat pada malam hari, kemudian beliau beristirahat. Beliau memperpanjangnya hingga aku merasa kasihan kepadanya. Maka aku berkata: ‘Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, sungguh Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.’ Beliau bersabda: ‘Tidakkah pantas aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?&#8217; (As-Sunan al-Kubrâ, karya al-Baihaqi, jilid 2, hlm. 700, no. 4294).</p>
<p>Oleh karnanya para ulama fikih sepakat akan disyariatkannya istirahat setelah setiap empat rakaat, karena hal tersebut diwariskan dari generasi salaf. Mereka dahulu memanjangkan berdiri dalam shalat tarawih dan duduk setelah setiap empat rakaat untuk beristirahat. Tidak disyariatkan zikir tertentu atau bacaan khusus pada waktu istirahat tersebut. (<em>Mathâlib Ulî an-Nuhâ</em>, jilid 1, hlm. 564).</p>
<h3><strong>Hukum Shalat Tarawih</strong></h3>
<p>Hukum shalat tarawih adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">«فصلاة التراويح سنةٌ بإجماع العلماء».</p>
<p>“Shalat tarawih adalah sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (<em>Al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab</em>, karya an-Nawawi, jilid 4, hlm. 37).</p>
<h3><strong>Hukum Shalat Tarawih Berjamaah</strong></h3>
<p>Para ulama berbeda pendapat mengenai mana yang lebih utama antara shalat tarawih berjamaah di masjid atau dikerjakan di rumah.</p>
<p><strong>Pendapat Pertama: Berjamaah di Masjid Lebih Utama</strong></p>
<p>Ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, Imam asy-Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, dan sebagian ulama Malikiyah. Bahkan, Imam ath-Thahawi dari kalangan Hanafiyah menyatakan bahwa shalat tarawih berjamaah hukumnya wajib kifayah.</p>
<p><strong>Pendapat Kedua: Shalat di Rumah Lebih Utama</strong></p>
<p>Ini merupakan pendapat Imam Malik, Abu Yusuf, dan sebagian ulama Syafi‘iyah. Imam Malik pernah ditanya tentang shalat malam seseorang di bulan Ramadan, lalu beliau berkata:</p>
<p>“Apabila ia mampu melaksanakannya di rumah, maka itu lebih aku sukai. Tidak semua orang mampu melakukan hal tersebut. Dahulu Ibnu Harmuz pulang dan melaksanakan shalat bersama keluarganya, demikian pula Rabi‘ah. Sejumlah ulama lainnya juga pulang dan tidak shalat bersama orang banyak. Dan aku lebih memilih hal tersebut.” (Lihat: <em>Fath al-Bârî</em>, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid 4, hlm. 252; <em>Al-Mudawwanah al-Kubrâ</em>, karya Sahnun, jilid 1, hlm. 222).</p>
<h3><strong>Jumlah Rakaat Shalat Tarawih</strong></h3>
<p>Para fuqaha berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat shalat tarawih.</p>
<p><strong>(Pertama) Pendapat Jumhur Ulama</strong> Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat tarawih berjumlah dua puluh rakaat, tidak termasuk shalat witir yang dikerjakan sebanyak tiga rakaat, sehingga total keseluruhan menjadi dua puluh tiga rakaat. Mereka berdalil dengan riwayat yang menyebutkan bahwa ‘Umar bin al-Khaṭṭāb <em>raḍiyallāhu ‘anhu</em> mengumpulkan kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah rakaat tersebut.</p>
<p><strong>(Kedua) Mazhab Imam Malik</strong> Imam Malik dalam salah satu riwayat berpendapat bahwa shalat tarawih berjumlah tiga puluh enam rakaat. Pendapat ini didasarkan pada praktik penduduk Madinah pada masa kekhalifahan ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, di mana mereka melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah tersebut. Dalam riwayat lain, Imam Malik berpendapat bahwa jumlah rakaat shalat tarawih adalah sebelas rakaat.</p>
<p><strong>(Ketiga) Pendapat Delapan Rakaat</strong> Sebagian ulama, khususnya para muḥaqqiq dari kalangan ahli hadis dan selain mereka, berpendapat bahwa shalat tarawih berjumlah delapan rakaat.</p>
<p>Dalam persoalan ini, syariat memberikan keluasan. Perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat shalat tarawih tidak menunjukkan ketiadaan nash yang sahih tentangnya, karena dalil-dalil dalam masalah ini memang ada dan valid. Sehingga tidak dibenarkan menolak nash hanya karena adanya perbedaan pendapat, terlebih lagi para ulama salaf yang berbeda pandangan dalam masalah ini tidak saling mengingkari satu sama lain. (Lihat: <em>Al-Fiqh al-Muyassar</em>, jilid 1, hlm. 360; <em>Shalāt at-Tarāwīḥ</em>, karya Syaikh Muhammad Dhiya’ ar-Rahman al-A‘zami, hlm. 34).</p>
<p>Ibnu Hajar al-‘Asqalani raḥimahullāh menjelaskan dalam <em>Fath al-Bārī</em>—secara ringkas berkaitan perbedaan pendapat jumlah rakat shalat tarawih, beliau berkata: &#8220;Bahwa telah terjadi perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat yang dikerjakan oleh Ubay bin Ka‘ab raḍiyallāhu ‘anhu ketika beliau diperintahkan oleh ‘Umar bin al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu untuk mengimami kaum Muslimin.</p>
<p>Dalam <em>Al-Muwaṭṭa’</em>, melalui riwayat Muḥammad bin Yūsuf dari as-Sā’ib bin Yazīd, disebutkan bahwa jumlah rakaat tersebut adalah sebelas rakaat. Riwayat ini juga dibawakan oleh Sa‘īd bin Manṣūr melalui jalur lain dengan tambahan keterangan bahwa mereka membaca sekitar dua ratus ayat, hingga harus bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri.</p>
<p>Riwayat ini juga dibawakan oleh Muḥammad bin Naṣr al-Marwazī melalui jalur Muḥammad bin Isḥāq dari Muḥammad bin Yūsuf dengan keterangan tiga belas rakaat. ‘Abdurrazzāq meriwayatkannya melalui jalur lain dari Muḥammad bin Yūsuf dengan jumlah dua puluh satu rakaat.</p>
<p>Imam Mālik meriwayatkan melalui jalur Yazīd bin Khuṣaifah dari as-Sā’ib bin Yazīd bahwa jumlahnya adalah dua puluh rakaat, dan ini dipahami tidak termasuk witir. Sementara Yazīd bin Rumān meriwayatkan bahwa pada masa ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhu, kaum Muslimin melaksanakan shalat malam Ramadan sebanyak dua puluh tiga rakaat.</p>
<p>Muḥammad bin Naṣr juga meriwayatkan dari jalur ‘Aṭā’ bahwa beliau mendapati kaum Muslimin pada bulan Ramadan melaksanakan dua puluh rakaat tarawih dan tiga rakaat witir.&#8221;</p>
<p>Kemudian beliau menegaskan bahwa seluruh riwayat ini dapat dikompromikan dengan mempertimbangkan perbedaan kondisi. Beliau berkata: &#8220;Perbedaan jumlah rakaat sangat mungkin disebabkan oleh perbedaan dalam memanjangkan atau memendekkan bacaan. Apabila bacaan dipanjangkan, jumlah rakaat dikurangi; dan apabila bacaan diringankan, rakaat diperbanyak. Pendapat ini ditegaskan oleh ad-Dāwūdī dan sejumlah ulama lainnya&#8221;.</p>
<p>Jumlah yang pertama sesuai dengan hadis ‘Aisyah <em>raḍiyallāhu ‘anhā</em> yang menyatakan:</p>
<p class="arab">«ما كان يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة»</p>
<p>“Rasulullah tidak pernah menambah (jumlah rakaat shalat malam) pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.”</p>
<p>Adapun jumlah yang kedua, maka ia masih dekat dengan jumlah tersebut. Sementara perbedaan jumlah rakaat yang melebihi dua puluh kembali kepada perbedaan dalam pelaksanaan shalat witir. Seakan-akan witir itu terkadang dikerjakan dengan satu rakaat, dan pada waktu lain dikerjakan dengan tiga rakaat.</p>
<p>(Fath al-Bārī, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid 4, hlm. 298).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah raḥimahullāh berkata dalam <em>Al-Fatāwā al-Kubrā</em> bahwa telah tetap Ubay bin Ka‘ab raḍiyallāhu ‘anhu mengimami kaum Muslimin dalam qiyam Ramadan sebanyak dua puluh rakaat dan berwitir tiga rakaat. Banyak ulama memandang praktik tersebut sebagai sunnah karena berlangsung di tengah para Muhajirin dan Anshar tanpa ada pengingkaran. Sebagian ulama lainnya menganjurkan tiga puluh sembilan rakaat berdasarkan praktik lama penduduk Madinah. Ada pula yang berpegang pada hadis sahih dari ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menambah dalam Ramadan dan di luar Ramadan lebih dari tiga belas rakaat.</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa seluruh bentuk tersebut adalah baik, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad raḥimahullāh, dan bahwa tidak ada penentuan jumlah tertentu dalam qiyam Ramadan karena Nabi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menetapkannya. Banyak atau sedikitnya rakaat dikembalikan kepada panjang atau pendeknya berdiri.</p>
<p>Ketika Ubay bin Ka‘ab mengimami mereka secara berjamaah, beliau tidak mungkin memanjangkan qiyam sebagaimana shalat sendirian, maka beliau memperbanyak rakaat sebagai pengganti panjangnya berdiri. Pada masa berikutnya, ketika orang-orang semakin lemah untuk berdiri lama, rakaat pun diperbanyak hingga mencapai tiga puluh sembilan. (Al-Fatāwā al-Kubrā, karya Ibnu Taimiyah, jilid 1, hlm. 176–227).</p>
<p>Ibnu ‘Abd al-Barr raḥimahullāh berkata:</p>
<p class="arab">«وقد أجمع العلماء على أن لا حدَّ ولا شيء مقدر في صلاة الليل، وأنها نافلة، فمن شاء أطال فيها القيام وقلَّت ركعاته، ومن شاء أكثر الركوع والسجود».</p>
<p>&#8220;Bahwa para ulama telah sepakat tidak ada batasan dan tidak ada jumlah tertentu dalam shalat malam. Shalat malam adalah ibadah sunnah; siapa yang ingin memanjangkan berdiri maka ia mengurangi rakaat, dan siapa yang ingin memperbanyak rukuk dan sujud maka ia memperbanyak rakaat.&#8221; (Al-Istidzkar, karya Ibnu ‘Abd al-Barr, jilid 2, hlm. 102).</p>
<p>Dalam persoalan jumlah rakaat shalat tarawih, terdapat dua kelompok yang bersikap berlebihan. Kelompok pertama mengingkari orang yang menambah rakaat di atas sebelas dan bahkan menuduhnya sebagai bid‘ah. Kelompok kedua mengingkari orang yang hanya melaksanakan sebelas rakaat dan menuduh mereka telah menyelisihi ijmak.</p>
<p>Yang benar, perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat shalat tarawih dan ibadah sejenisnya merupakan persoalan ijtihadi yang dibenarkan. Tidak sepantasnya hal ini menjadi sumber perpecahan dan pertikaian di tengah umat, terlebih para ulama salaf sendiri telah berbeda pendapat dalam masalah ini, dan tidak ada satu pun dalil yang menutup pintu ijtihad di dalamnya.</p>
<p>Sungguh indah ucapan salah seorang ulama kepada orang yang berbeda pendapat dengannya dalam perkara ijtihadi: “Dengan engkau menyelisihiku, sesungguhnya engkau telah sepakat denganku; karena kita sama-sama meyakini kewajiban mengikuti apa yang kita yakini sebagai kebenaran dalam perkara yang dibolehkan ijtihad.” (Lihat: Fatāwā Arkān al-Islām, hlm. 353).</p>
<p>Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa shalat tarawih merupakan ibadah agung yang disyariatkan. Perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat dan tata cara pelaksanaannya adalah perbedaan yang sah dan dapat diterima dalam koridor ijtihad. Semua itu kembali kepada kemampuan jama&#8217;ah dalam memanjangkan atau memendekkan qiyam. Oleh karena itu, kewajiban kaum Muslimin, menjaga persatuan, serta lapang dada dalam menyikapi perbedaan, demi meraih ruh dan tujuan utama ibadah. <em>Wallahua&#8217;lam.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2737/shalat-tarawih-hukum-dan-jumlah-rakaatnya/">Shalat Tarawih: Hukum, dan Jumlah Rakaatnya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2737/shalat-tarawih-hukum-dan-jumlah-rakaatnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
