<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ibadah ramadhan - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/ibadah-ramadhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Mar 2026 06:08:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
	<item>
		<title>Fiqih Lailatul Qadar</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Ammi Nur Baits, ST. BA.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2026 06:05:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[fikih lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[itikaf ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[kajian ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan malam qadar]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[malam lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[malam seribu bulan]]></category>
		<category><![CDATA[tanda lailatul qadar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2882</guid>

					<description><![CDATA[<p>Fiqih Lailatul Qadar Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du, Al-Qadr bisa dibaca dengan 2 cara : [1] Dibaca dengan huruf dal di-sukun [ليلةُ القَدْرِ] (lailatul qadr) artinya malam kemuliaan. [2] Dibaca dengan huruf dal di-fathah [ليلةُ القَدَرِ] (lailatul qadr) artinya malam taqdir. Keutamaan Ada banyak keutamaan di malam qadar. [1] Malam diturunkannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/">Fiqih Lailatul Qadar</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Fiqih Lailatul Qadar</strong></h2>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du,</em></p>
<p><strong>Al-Qadr</strong> bisa dibaca dengan 2 cara :</p>
<p>[1] Dibaca dengan huruf dal di-sukun [ليلةُ القَدْرِ] (lailatul qadr) artinya malam kemuliaan.</p>
<p>[2] Dibaca dengan huruf dal di-fathah [ليلةُ القَدَرِ] (lailatul qadr) artinya malam taqdir.</p>
<h3><strong>Keutamaan</strong></h3>
<p>Ada banyak keutamaan di malam qadar.</p>
<p><strong>[1] Malam diturunkannya al-Quran</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatulqadar.” (QS. al-Qadar: 1)</p>
<p><strong>[2] Allah tetapkan takdir tahunan</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ</p>
<p>“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu sebagai ketetapan dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami-lah yang mengutus (para rasul).” (QS. ad-Dukhan: 4-5)</p>
<p><strong>[3] Malam yang diberkahi</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ</p>
<p>“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang penuh berkah.” (QS. ad-Dukhan: 3)</p>
<p><strong>[4] Ibadah di malam itu lebih baik dari pada ibadah 1000 bulan</strong></p>
<p>1000 bulan = 83 tahun + 4 bulan.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</p>
<p>“Malam Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadar : 3)</p>
<p><strong>[5] Jibril turun dengan membawa kebaikan</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ( ) سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>“Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. al-Qadar: 5-6)</p>
<p>Amalan Saat Lailatul Qadar</p>
<p>Dianjurkan untuk melakukan amal soleh apapun saat lailatul qadar, terutama qiyamul lail.</p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">ومن قامَ ليلةَ القَدرِ إيمانًا واحتسابًا غُفِرَ له ما تقَدَّمَ مِن ذَنبِه</p>
<p>“Barang siapa menghidupkan malam Lailatulqadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Juga dianjurkan untuk itikaf, agar selalu bertahan dalam amal soleh.</p>
<p>Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">من كان اعتكَفَ معي، فلْيعتكِفِ العَشرَ الأواخِرَ، وقد أُريتُ هذه الليلةَ ثم أُنسِيتُها، وقد رأيتُني أسجُدُ في ماءٍ وطِينٍ مِن صَبيحَتِها فالتَمِسوها في العَشرِ الأواخِرِ، والتَمِسوها في كُلِّ وِترٍ</p>
<p>“Barang siapa yang pernah <a href="https://tanyaislam.com/2878/hukum-seputar-itikaf-bag-2/" target="_blank" rel="noopener">beri‘tikaf bersamaku</a>, maka hendaklah ia beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir (Ramadan). Aku pernah diperlihatkan malam itu (Lailatulqadar), kemudian aku dibuat lupa mengenainya. Aku juga melihat diriku bersujud di air dan tanah pada pagi harinya. Maka carilah malam itu pada sepuluh malam terakhir, dan carilah pada setiap malam ganjil.” (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<h3><strong>Waktu Lailatul Qadar</strong></h3>
<p>Lailatul qadar ada di salah satu malam diantara 10 malam terakhir Ramadhan, terutama di malam ganjil.</p>
<p>Demikian yang dipahami dalam Madzhab Syafiiyah, Hambali, dan salah satu pendapat dalam madhzab Malikiyah, pendapat Ibnu Taimiyah, as-Shan’ani, Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.</p>
<p>Ibnu Taimiyah mengatakan,</p>
<p class="arab">ليلةُ القَدرِ في العَشرِ الأواخِرِ مِن شَهرِ رمضان، هكذا صحَّ عن النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم؛ أنَّه قال: هي في العَشرِ الأواخِرِ مِن رمضان، وتكونُ في الوِترِ منها</p>
<p>Lailatulqadar berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Demikianlah yang sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: malam tersebut berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, dan terjadi pada malam-malam ganjil di dalamnya. (Majmu’ al-Fatawa, 25/284)</p>
<p>Diantara dalil yang mendukung pendapat ini adalah</p>
<p>[1] Hadis dari Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">تَحَرَّوْا ليلةَ القَدْرِ في الوِترِ مِنَ العَشرِ الأواخِرِ مِن رَمَضانَ</p>
<p>“Carilah Lailatulqadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>[2] Hadis Ibnu Abbas Radhiyallahu &#8216;anhuma, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">التَمِسُوها في العَشرِ الأواخِرِ مِن رمضانَ، ليلةُ القَدْرِ في تاسعةٍ تبقى، في سابعةٍ تبقى، في خامسةٍ تبقى</p>
<p>“Carilah Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan: pada malam kesembilan yang tersisa, malam ketujuh yang tersisa, dan malam kelima yang tersisa.” (HR. Bukhari)</p>
<p>[3] Hadis Ibnu Umar Radhiyallahu &#8216;anhuma,</p>
<p>bahwa beberapa sahabat Nabi ﷺ diperlihatkan dalam mimpi tentang Lailatulqadar yang terjadi pada tujuh malam terakhir (Ramadan).</p>
<p>Lalu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">أرى رُؤيَاكم قد تواطَأَتْ في السَّبعِ الأواخِرِ، فمن كان مُتَحَرِّيَها فلْيتحَرَّها في السَّبعِ الأواخِرِ</p>
<p>“Aku melihat bahwa mimpi kalian saling bersesuaian pada tujuh malam terakhir. Karena itu, siapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<h3><strong>Tanda Lailatul Qadar</strong></h3>
<p>Tandanya terlihat di pagi harinya, matahari terbit dalam keadaan putih dan tidak terik.</p>
<p>Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">وأمارَتُها أن تطلُعَ الشَّمسُ في صبيحةِ يَومِها بيضاءَ لا شُعاعَ لها</p>
<p>“Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan putih dan tidak memancarkan sinar yang menyilaukan.” (HR. Muslim)</p>
<h3><strong>Tanda Orang yang Dapat Lailatul Qadar</strong></h3>
<p>Keyakinan bahwa tanda orang yang mendapat lailatul qadar akan mengalami kejadian luar biasa, adalah keyakinan yang tidak benar.</p>
<p>Bukan syarat untuk mendapat lailatul qadar harus mengalami kejadian aneh atau kejadian luar biasa. Bahkan keyakinan ini menjadikan orang pesimis dan mutung untuk beribadah. Karena merasa sudah sering ibadah di malam-malam ganjil, namun ternyata selama dia beribadah tidak mendapatkan kejadian aneh apapun.</p>
<p>lailatul qadar terjadi sepanjang malam, sejak maghrib hingga subuh. Semua orang yang melakukan ibadah ketika itu, berarti dia telah melakukan ibadah di lailatul qadar. Besar dan kecilnya pahala yang dia dapatkan, tergantung dari kualitas dan kuantitas ibadah yang dia kerjakan di malam itu.</p>
<p>Sekalipun dia hanya mengerjakan ibadah wajib saja, shalat maghrib dan isya di malam qadar, dia mendapatkan bagian pahala beribadah di lailatul qadar.</p>
<p>Imam Malik meriwayatkan secara balaghan (tanpa sanad), menukil keterangan Said bin Musayib tentang orang yang beribadah ketika lailatul qadar.</p>
<p class="arab">أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ كَانَ يَقُولُ: مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا</p>
<p>Bahwa Said bin Musayib pernah mengatakan, “Siapa yang ikut shalat isya berjamaah di lailatul qadar, berarti dia telah mengambil bagian lailatul qadar.” (Muwatha’ Malik, no. 1146).</p>
<p>Az-Zarqani menjelaskan,</p>
<p class="arab">فقد أخذ بحظه منها، أي: نصيبه من ثوابها</p>
<p>“dia telah mengambil bagian lailatul qadar” maknanya dia mendapat bagian dari pahala lailatul qadar. (Syarh az-Zarqani ‘ala Muwatha, 3/463).</p>
<h3><strong>Lailatul Qadar akan Selalu Ada</strong></h3>
<p>Sebagian orang meyakini bahwa lailatul qadar hanya ada di zaman Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam. Dan ini keyakinan yang salah.</p>
<p>Lailatul qadar akan senantiasa ada sampai kiamat.</p>
<p>Dari Abdullah bin Unais Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">أُرِيتُ ليلةَ القَدْرِ ثمَّ أُنْسِيتُها، وأُراني صُبْحَها أسجُدُ في ماءٍ وطِينٍ، قال: فمُطِرْنَا ليلةَ ثلاثٍ وعِشرينَ، فصلَّى بنا رسولُ الله، فانصرَفَ، وإنَّ أثَرَ الماءِ والطِّينِ على جَبهَتِه وأنفِه</p>
<p>“Aku pernah diperlihatkan tentang Lailatulqadar, kemudian aku dibuat lupa mengenainya. Dan aku melihat diriku pada pagi harinya bersujud di air dan tanah.”</p>
<p>Abdullah mengatakan: “Lalu pada malam kedua puluh tiga kami diguyur hujan. Rasulullah ﷺ pun mengimami kami salat. Setelah beliau selesai, tampak bekas air dan tanah pada dahi dan hidung beliau.” (HR. Muslim)</p>
<p>An-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">وأجمَعَ مَن يُعتَدُّ به على وُجودِها ودوامِها إلى آخِرِ الدَّهرِ؛ للأحاديثِ الصحيحةِ المشهورةِ</p>
<p>“Para ulama yang pendapatnya diperhitungkan telah bersepakat bahwa Lailatulqadar itu ada dan tetap berlangsung hingga akhir zaman, berdasarkan hadis-hadis sahih yang masyhur.” (Syarah Sahih Muslim, 8/57).</p>
<p>Allahu a’lam.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/">Fiqih Lailatul Qadar</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Seputar I‘tikaf (Bag. 2)</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2878/hukum-seputar-itikaf-bag-2/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2878/hukum-seputar-itikaf-bag-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2026 02:31:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan 10 hari terakhir ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf di masjid]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah di masjid]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[itikaf ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[kajian ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan itikaf]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[malam lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah itikaf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2878</guid>

					<description><![CDATA[<p>Waktu Pelaksanaan I‘tikaf Secara umum, i‘tikaf boleh dilakukan pada seluruh hari dalam setahun. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ juga pernah beri‘tikaf di luar Ramadan. Ketika sebagian istri beliau mendirikan kemah-kemah kecil, beliau bersabda: (آلْبِرَّ تُرِدْنَ؟) “Apakah kalian menghendaki kebaikan?” Kemudian beliau meninggalkan i‘tikaf pada Ramadan tersebut dan beri‘tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Syawal. (HR.al-Bukhari nomor 1928 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2878/hukum-seputar-itikaf-bag-2/">Hukum Seputar I‘tikaf (Bag. 2)</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><b>Waktu Pelaksanaan I‘tikaf</b></strong></h2>
<p>Secara umum, i‘tikaf boleh dilakukan pada seluruh hari dalam setahun.</p>
<p>Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ juga pernah beri‘tikaf di luar Ramadan. Ketika sebagian istri beliau mendirikan kemah-kemah kecil, beliau bersabda:</p>
<p class="arab">(آلْبِرَّ تُرِدْنَ؟)</p>
<p>“Apakah kalian menghendaki kebaikan?”</p>
<p>Kemudian beliau meninggalkan i‘tikaf pada Ramadan tersebut dan beri‘tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Syawal. (HR.al-Bukhari nomor 1928 dan Muslim nomor 1173)</p>
<p>Hal ini menunjukkan bolehnya i‘tikaf di luar Ramadan.</p>
<p>Namun demikian, i‘tikaf lebih dianjurkan pada bulan Ramadan, terutama pada sepuluh hari terakhir, dalam rangka mencari Lailatul Qadar.</p>
<p>Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:</p>
<p class="arab">(كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ)</p>
<p>“Nabi ﷺ beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau beri‘tikaf setelahnya.” (HR.al-Bukhari nomor 2026 dan Muslim nomor 1172)</p>
<p>Pendapat tentang bolehnya i‘tikaf pada seluruh hari dalam setahun juga berkaitan dengan perbedaan pendapat ulama mengenai hari-hari yang dilarang berpuasa, karena mereka berbeda pendapat apakah puasa merupakan syarat sah i‘tikaf atau tidak.</p>
<p>Ibnu ‘Abd al-Barr menyatakan:</p>
<p>“Ahlul ilmi telah bersepakat bahwa i‘tikaf itu boleh dilakukan sepanjang waktu, kecuali pada hari-hari yang Rasulullah ﷺ melarang berpuasa padanya. Hari-hari tersebut menjadi tempat perbedaan pendapat, karena perbedaan mereka tentang bolehnya i‘tikaf tanpa puasa.” (<em><i>al-Istidzkar</i></em>, 3/384).</p>
<ul>
<li><b></b><strong><b>Waktu Terbaik untuk I‘tikaf</b></strong></li>
</ul>
<p>Waktu terbaik untuk i‘tikaf adalah <strong><b>sepuluh hari terakhir bulan Ramadan</b></strong>, dalam rangka mencari (mengharap) <strong><b>Lailatul Qadar</b></strong>, sebagaimana telah tetap dalam hadis dari Abu Sa‘id Al-Khudri <strong><b>radhiyallahu ‘anhu</b></strong>:</p>
<p>“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ beri‘tikaf pada sepuluh hari pertama Ramadan, kemudian beri‘tikaf pada sepuluh hari pertengahan… lalu dikatakan kepada beliau: Sesungguhnya (Lailatul Qadar) itu ada pada sepuluh hari terakhir…” (HR.Al-Bukhari (813, 2027) dan Muslim (1167)).</p>
<ul>
<li><b></b><strong><b>Waktu Mulai I‘tikaf pada Sepuluh Hari Terakhir</b></strong></li>
</ul>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang kapan dimulainya i‘tikaf, menjadi dua pendapat:</p>
<h4><strong><b> Pendapat Pertama</b></strong></h4>
<p>Dimulai <strong><b>sebelum terbenam matahari malam ke-21 Ramadan</b></strong>.</p>
<p>Ini adalah mazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi‘iyah, dan Hanabilah.</p>
<p>Mereka berdalil dengan hadis Abu Sa‘id Al-Khudri <strong><b>radhiyallahu ‘anhu</b></strong> di atas, bahwa kata <em><i>“‘asyr”</i></em> (sepuluh) tanpa ta’ marbuthah menunjukkan hitungan malam, karena bilangan mengikuti kata yang muannats (feminin), sebagaimana firman Allah:</p>
<p class="arab">(وَليالٍ عَشْر )</p>
<p>“Demi malam-malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 2 )</p>
<p>Malam pertama dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-21. (Lihat: Hasyiyah Ibnu ‘Abidin (2/452), Raudhatut Thalibin (2/389), Al-Mughni (3/208))</p>
<h3><strong><b> Pendapat Kedua</b></strong></h3>
<p>Dimulai <strong><b>setelah salat Subuh pada hari ke-21 Ramadan</b></strong>.</p>
<p>Ini adalah salah satu pendapat dari Imam Ahmad, dan dipilih oleh Ibnu Al-Mundzir, Ibnul Qayyim, Ash-Shan‘ani, dan Ibnu Baz.</p>
<p>Mereka berdalil dengan hadis ‘Aisyah <strong><b>radhiyallahu ‘anha</b></strong>:</p>
<p class="arab">»كان إذا أراد أن يعتكف صلى الفجر ثم دخل معتكفه«</p>
<p>“Apabila Rasulullah ﷺ ingin beri‘tikaf, beliau salat Subuh terlebih dahulu kemudian masuk ke tempat i‘tikafnya.” (HR.Al-Bukhari (2033) dan Muslim (1173)). Lihat : Zadul Ma‘ad (2/89), Subulus Salam (2/174), Majmu‘ Fatawa Ibnu Baz (15/442).</p>
<ul>
<li><b></b><strong><b>Akhir I‘tikaf</b></strong></li>
</ul>
<p>I‘tikaf berakhir dengan <strong><b>terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadan</b></strong>.</p>
<p>Hal ini telah disepakati oleh seluruh mazhab yang empat. (Lihat : Hasyiyah Ibnu ‘Abidin (2/452), Al-Hawi Al-Kabir (3/488), Al-Furu‘ (5/161)).</p>
<ul>
<li><b></b><strong><b>Durasi (Lama) I‘tikaf</b></strong></li>
<li><strong><b> Durasi Minimal</b></strong></li>
</ul>
<p>Tidak ada batas minimal i‘tikaf.</p>
<p>Ini adalah mazhab Hanafiyah dan Syafi‘iyah, serta salah satu pendapat dalam mazhab Hanabilah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Hazm dan Asy-Syaukani, dan dinukil oleh Ibnu ‘Abdil Barr sebagai pendapat mayoritas fuqaha. (Lihat : <em><i>Al-Istidzkar (10/314), As-Sailul Jarrar (hlm. 293)</i></em>).</p>
<p>Dalilnya adalah keumuman firman Allah:</p>
<p class="arab">﴿ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد﴾</p>
<p>“Dan janganlah kalian mencampuri mereka (istri-istri kalian), sedangkan kalian sedang beri‘tikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)</p>
<ul>
<li><strong><b> Durasi Maksimal</b></strong></li>
</ul>
<p>Tidak ada batas maksimal i‘tikaf.</p>
<p>Imam An-Nawawi berkata:</p>
<p>“Para ulama telah berijma‘ bahwa tidak ada batas maksimal bagi i‘tikaf.” (<em><i>Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim</i></em> 8/68)</p>
<h3><strong><b>Hal-Hal yang Membatalkan I‘tikaf</b></strong></h3>
<p>I‘tikaf batal karena beberapa perkara berikut:</p>
<ol>
<li><strong><b> Jima‘ dan Pendahuluannya dengan Syahwat</b></strong></li>
</ol>
<p>Termasuk hubungan suami istri dengan syahwat dan semua pendahuluannya. Termasuk pula keluar mani karena syahwat tanpa jima‘, seperti onani atau bercumbu dengan istri.</p>
<p>Dalilnya adalah firman Allah:</p>
<p class="arab">﴿وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ﴾</p>
<p>“Dan janganlah kalian mencampuri mereka sedangkan kalian beri‘tikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)</p>
<ol start="2">
<li><strong><b> Haid, Nifas, dan Junub</b></strong></li>
</ol>
<p>Jika wanita yang beri‘tikaf mengalami haid atau nifas, maka wajib keluar dari masjid. Demikian pula orang yang junub sampai ia mandi wajib, karena tidak boleh berdiam di masjid dalam keadaan tersebut.</p>
<ol start="3">
<li><strong><b> Keluar dari Masjid Tanpa Uzur</b></strong></li>
</ol>
<p><a href="https://tanyaislam.com/2874/hukum-seputar-itikaf-bag-1/" target="_blank" rel="noopener">I‘tikaf batal</a> jika seseorang keluar dengan seluruh badannya tanpa kebutuhan atau darurat, atau hanya untuk bermain-main, atau bukan untuk ketaatan yang diperintahkan.</p>
<p>‘Aisyah <strong><b>radhiyallahu ‘anha</b></strong> berkata:</p>
<p class="arab">»وكان لا يدخل البيت إلا لحاجة إذا كان معتكفًا»</p>
<p>“Dan beliau tidak masuk ke rumah kecuali untuk suatu kebutuhan ketika sedang beri‘tikaf.” (HR.Al-Bukhari (2029) dan Muslim (297)).</p>
<ol start="4">
<li><strong><b> Hilangnya Akal</b></strong></li>
</ol>
<p>Seperti gila atau mabuk, karena keduanya menghilangkan kelayakan seseorang untuk beribadah.</p>
<p class="arab">(رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ، وَفِي رِوَايَةٍ: وَعَنِ الْمَجْنُونِ – وَفِي لَفْظٍ: الْمَعْتُوهِ – حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَكْبُرَ، وَفِي رِوَايَةٍ: حَتَّى يَحْتَلِمَ)</p>
<p>“Diangkat pena (tidak dicatat dosa) dari tiga golongan: Dari orang yang tidur sampai ia bangun. Dari orang yang tertimpa gangguan (akalnya) sampai ia sembuh. Dalam riwayat lain: dari orang gila — dan dalam lafaz lain: orang yang kurang akalnya (ma‘tūh) — sampai ia berakal kembali atau sadar. Dari anak kecil sampai ia besar. (HR. Abu Dawud nomor 4398 — dan An-Nasa’i (2/100).</p>
<ol start="5">
<li><strong><b> Murtad (Keluar dari Islam)</b></strong></li>
</ol>
<p>Karena Islam adalah syarat sah i‘tikaf, berdasarkan firman Allah:</p>
<p class="arab">﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾</p>
<p>“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum engkau, jika engkau berbuat syirik, niscaya akan gugur amalmu dan engkau termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65)</p>
<p><strong><b>Penutup</b></strong></p>
<p>I‘tikaf memberikan kepada seorang hamba kejernihan hati dan bertambahnya rasa kedekatan dengan Allah Ta‘ala, karena ia memutuskan diri dari kesibukan dunia dan memfokuskan diri untuk beribadah dan berdzikir kepada-Nya.</p>
<p>Dengan demikian, ia mempersiapkan dirinya untuk tetap istiqamah dalam ketaatan, merasakan manisnya kedekatan dengan Allah di dunia, serta semakin siap menghadapi kehidupan akhirat dengan sebaik-baiknya menghadap kepada Allah Ta‘ala.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2878/hukum-seputar-itikaf-bag-2/">Hukum Seputar I‘tikaf (Bag. 2)</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2878/hukum-seputar-itikaf-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Seputar I‘tikaf (Bag. 1)</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2874/hukum-seputar-itikaf-bag-1/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2874/hukum-seputar-itikaf-bag-1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2026 07:28:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan 10 malam terakhir ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan malam ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan sunnah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[dalil itikaf]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih itikaf.]]></category>
		<category><![CDATA[hukum itikaf]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf di masjid]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf sepuluh malam terakhir]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah di masjid]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[itikaf ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[kajian ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan itikaf]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan malam lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[mencari lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah nabi ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah rasulullah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara itikaf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2874</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hukum Seputar I‘tikaf (Bag. 1) Di antara amalan paling agung yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala pada bulan Ramadan adalah i‘tikaf pada sepuluh hari terakhir. Amalan ini merupakan bentuk ittiba’ (meneladani) sunnah Nabi ﷺ sekaligus upaya sungguh-sungguh dalam mencari Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2874/hukum-seputar-itikaf-bag-1/">Hukum Seputar I‘tikaf (Bag. 1)</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><b>Hukum Seputar I‘tikaf (Bag. 1)</b></strong></h2>
<p>Di antara amalan paling agung yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala pada bulan Ramadan adalah i‘tikaf pada sepuluh hari terakhir. Amalan ini merupakan bentuk ittiba’ (meneladani) sunnah Nabi ﷺ sekaligus upaya sungguh-sungguh dalam mencari Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.</p>
<p>Dalam <em><i>Shahih al-Bukhari</i></em> dan <em><i>Shahih Muslim</i></em> disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah beri‘tikaf pada sepuluh hari pertama Ramadan, kemudian pada sepuluh hari pertengahan untuk mencari Lailatul Qadar. Setelah diberitahukan bahwa malam tersebut berada pada sepuluh hari terakhir, beliau terus-menerus beri‘tikaf pada waktu tersebut hingga Allah mewafatkan beliau.</p>
<p>Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan:</p>
<p class="arab">عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: (أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ)</p>
<p>“Sesungguhnya Nabi ﷺ beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga Allah mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri beliau beri‘tikaf setelahnya.” (HR. al-Bukhari nomor 1921 dan Muslim nomor 1171)</p>
<p>Dengan demikian, i‘tikaf pada sepuluh hari terakhir merupakan sunnah yang terus beliau lakukan dan tidak pernah beliau tinggalkan. Praktik tersebut menjadi dalil yang sangat kuat atas keutamaan dan kedudukan tinggi ibadah ini.</p>
<h3><strong><b>Definisi I‘tikaf</b></strong></h3>
<p><strong><b> Definisi Secara Bahasa</b></strong></p>
<p>Secara bahasa, i‘tikaf berarti menetapi sesuatu, menghadapinya secara terus-menerus, dan menahan diri untuk tetap berada padanya.</p>
<p>Allah Ta‘ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ﴾</p>
<p>“Mereka tetap menyembah berhala-berhala mereka.” (QS. Al-A‘raf [7]: 138)</p>
<p class="arab">﴿مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ﴾</p>
<p>“Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (QS. al-Anbiya’ [21]: 52)</p>
<p>Dalam penggunaan bahasa Arab, dikatakan ‘<em><i>akafa ‘ala asy-syai’</i></em> apabila seseorang memusatkan diri pada sesuatu secara terus-menerus tanpa berpaling darinya. Oleh karena itu, orang yang menetap di masjid disebut <em><i>‘akif</i></em> atau <em><i>mu‘takif</i></em>. (Lihat: <em><i>Ibnu Manzhur, Lisan al-‘Arab, 9/255; al-Fayyumi, al-Mishbah al-Munir, 2/424).</i></em></p>
<p><strong><b> Definisi Secara Istilah</b></strong></p>
<p>Secara syar‘i, i‘tikaf adalah menetapnya seorang Muslim yang telah mumayyiz di dalam masjid untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta‘ala. Ada pula yang mendefinisikannya sebagai berdiam di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, baik pada malam maupun siang hari. (Lihat: <em><i>Ibnu Hazm, al-Muhalla, 5/179)</i></em>.</p>
<h3><strong><b>Tujuan dan Hikmah I‘tikaf</b></strong></h3>
<p>Tujuan utama i‘tikaf adalah memusatkan hati sepenuhnya kepada Allah, menyibukkan diri dengan zikir, memperbanyak ibadah, serta memutuskan diri dari kesibukan dunia. I‘tikaf juga melatih jiwa untuk mengurangi interaksi yang berlebihan, pembicaraan yang tidak perlu, serta tidur yang melampaui kebutuhan.</p>
<p>Ibnu al-Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan terbesar i‘tikaf adalah agar zikir dan kecintaan kepada Allah menggantikan seluruh kegelisahan duniawi. Dengan demikian, seorang hamba terbiasa merasa tenteram bersama Allah, sehingga ia siap menghadapi kesendirian di alam kubur dengan hati yang telah terbiasa ber-‘uns (merasa dekat) kepada-Nya. (Lihat: <em><i>Zad al-Ma‘ad</i></em>, 2/87).</p>
<p>Karena itu, penggabungan antara puasa dan i‘tikaf lebih sempurna dalam mewujudkan tujuan tersebut. Puasa membersihkan hati dan mempersempit jalan hawa nafsu, sehingga hati lebih siap untuk khusyuk dan mendekat kepada Allah. Oleh sebab itu, para salaf menganjurkan penggabungan antara puasa dan i‘tikaf.</p>
<h3><strong><b>Hukum dan Dasar Pensyariatan I‘tikaf</b></strong></h3>
<p>I‘tikaf merupakan sunnah bagi laki-laki dan perempuan berdasarkan kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafi, Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali. Bahkan dinukil adanya ijma‘ dalam hal ini. (Lihat: <em><i>al-Kasani, Bada’i‘ al-Shana’i‘, 2/113; ad-Dasuqi, Hasyiyah ad-Dasuqi, 5/205; an-Nawawi, al-Majmu‘, 6/475; Ibnu Qudamah, al-Mughni, 3/186</i></em>).</p>
<p>Ibnu al-Mundzir menyatakan:</p>
<p class="arab">(وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الاعْتِكَافَ لَا يَجِبُ عَلَى النَّاسِ فَرْضًا، إِلَّا أَنْ يُوجِبَهُ الْمَرْءُ عَلَى نَفْسِهِ فَيَجِبُ عَلَيْهِ)</p>
<p>“Mereka bersepakat bahwa i‘tikaf tidak wajib atas manusia sebagai kewajiban syariat, kecuali jika seseorang mewajibkannya atas dirinya (melalui nazar), maka wajib baginya untuk menunaikannya.”<em><i> (al-Ijma‘, hlm. 50)</i></em></p>
<p>Nabi ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">)فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ)</p>
<p>Artinya:<br />
“Barang siapa di antara kalian yang ingin beri‘tikaf, maka hendaklah ia beri‘tikaf.” (HR.Muslim nomor 1167)</p>
<p>Redaksi ini menunjukkan bahwa i‘tikaf tidak bersifat wajib karena digantungkan pada kehendak masing masing.</p>
<p><strong><b>I‘tikaf bagi Perempuan</b></strong></p>
<p>Pensyariatan i‘tikaf bagi perempuan juga tetap berlaku. Sebagian istri Nabi ﷺ pernah beri‘tikaf</p>
<p class="arab">عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ –</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em><i>radhiyallahu ‘anha</i></em>, ia berkata bahwasanya Nabi <em><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></em> biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)</p>
<p>Namun disyaratkan adanya keamanan dari fitnah serta terjaganya kehormatan dan keselamatan. Jika dikhawatirkan terjadi fitnah, maka dapat dicegah demi menjaga tujuan syariat. (Lihat: as-Sarakhsi, <em><i>al-Mabsuth</i></em>, 3/110).</p>
<h3><strong><b>Pembagian Hukum I‘tikaf</b></strong></h3>
<ol>
<li><b></b><strong><b>I‘tikaf Wajib</b></strong>, yaitu karena nazar.</li>
</ol>
<p>Dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu:</p>
<p class="arab">(يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، فَقَالَ: أَوْفِ بِنَذْرِكَ)</p>
<p>“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah bernazar pada masa jahiliah untuk beri‘tikaf satu malam di Masjidil Haram.” Beliau bersabda: “Tunaikanlah nazarmu.” (HR.al-Bukhari jilid 4 halaman 809)</p>
<ol start="2">
<li><b></b><strong><b>I‘tikaf Sunnah Muakkadah</b></strong>, yaitu i‘tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan yang senantiasa dilakukan Nabi ﷺ.</li>
</ol>
<p><strong><b>Tata Cara I‘tikaf</b></strong></p>
<p>Nabi ﷺ memasuki tempat i‘tikafnya sebelum terbenam matahari pada malam yang hendak memulai i‘tikaf. Barang siapa ingin beri‘tikaf sepuluh hari terakhir, maka ia masuk sebelum terbenam matahari pada malam ke-21 Ramadan.</p>
<p>Dalam riwayat disebutkan bahwa beliau beri‘tikaf di dalam kemah:</p>
<p class="arab">) اعتَكفَ في قُبَّةٍ تُركيَّةٍ علَى سُدَّتِها قِطعةُ حَصيرٍ(</p>
<p>“Beliau beri‘tikaf di dalam sebuah kemah kecil (qubbah) dari kain Turki, dan pada pintunya terdapat selembar tikar.” (HR.Muslim nomor 1167)</p>
<p>Disebutkan pula bahwa apabila beliau hendak beri‘tikaf, diletakkan untuknya tempat tidur atau alas di belakang tiang Taubat. (HR.Ibnu Majah jilid 1 halaman 564)</p>
<h3><strong><b>Syarat-Syarat I‘tikaf</b></strong></h3>
<p>Para ulama menyebutkan bahwa sahnya i‘tikaf bergantung pada beberapa syarat berikut:</p>
<ol>
<li><strong><b> Islam</b></strong></li>
</ol>
<p>I‘tikaf tidak sah dilakukan oleh orang kafir maupun orang yang murtad, karena i‘tikaf adalah ibadah mahdhah (ibadah murni) yang tidak diterima kecuali dari seorang Muslim.</p>
<ol start="2">
<li><strong><b> Berakal dan Mumayyiz</b></strong></li>
</ol>
<p>I‘tikaf tidak sah dari orang yang gila, dan tidak sah pula dari anak kecil yang belum mumayyiz (belum mampu membedakan baik dan buruk). Adapun anak yang telah mumayyiz, maka i‘tikafnya sah apabila ia telah memahami makna ibadah dan ketentuannya.</p>
<ol start="3">
<li><strong><b> Suci dari Hadats Besar</b></strong></li>
</ol>
<p>Menurut jumhur (mayoritas) ulama, i‘tikaf tidak sah dilakukan oleh orang yang sedang junub, perempuan haid, maupun nifas, karena mereka tidak diperbolehkan berdiam di masjid dalam keadaan hadats besar.</p>
<p>Apabila hadats besar terjadi ketika seseorang sedang beri‘tikaf, maka ia wajib keluar dari masjid hingga suci, kemudian kembali untuk menyempurnakan i‘tikafnya, baik i‘tikaf tersebut wajib (karena nazar) maupun sunnah. (Lihat: an-Nawawi, <em><i>al-Majmu‘</i></em>, 6/519; asy-Syarbini, <em><i>Mughni al-Muhtaj</i></em>, 1/454).</p>
<ol start="4">
<li><strong><b> Tempat Pelaksanaan</b></strong></li>
</ol>
<p>Disyaratkan bahwa i‘tikaf dilakukan di dalam masjid, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:</p>
<p class="arab">﴿وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ﴾</p>
<p>“Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kamu) sedang kamu beri‘tikaf di dalam masjid.” (QS. al-Baqarah [2]: 187)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa tempat i‘tikaf adalah masjid. Oleh karena itu, i‘tikaf sah dilakukan di masjid mana pun, kecuali masjid yang berada di dalam rumah (mushalla rumah), karena tidak termasuk dalam pengertian masjid secara syar‘i.</p>
<p>Disunnahkan agar i‘tikaf dilakukan di masjid yang ditegakkan salat berjamaah, sehingga orang yang beri‘tikaf tidak perlu sering keluar untuk menunaikan salat fardu. Lebih utama lagi apabila dilakukan di masjid jami‘ yang ditegakkan salat Jumat, agar tidak perlu keluar pada hari Jumat.</p>
<p>Adapun bagi perempuan, tidak disyaratkan masjid tersebut harus ditegakkan salat Jumat, karena salat Jumat tidak wajib atasnya.</p>
<p>Para imam empat mazhab sepakat bahwa i‘tikaf sah dilakukan di setiap masjid jami‘ dan tidak ada satu pun dari mereka yang mensyaratkan harus di tiga masjid utama saja. (Lihat: al-Jassas, <em><i>Ahkam al-Qur’an</i></em>, 1/243; Ibnu Qudamah, <em><i>al-Mughni</i></em>, 4/461).</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa i‘tikaf yang paling utama atau yang dimaksud dalam sebagian riwayat adalah i‘tikaf di tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsha</p>
<p>Adapun hujjah mereka hadis:</p>
<p class="arab">(لَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ)</p>
<p>“Tidak ada i‘tikaf kecuali di tiga masjid.” (HR.ath-Thahawi dalam <em><i>Musykil al-Atsar</i></em>, 4/20).</p>
<p>Para ulama menakwilkannya sebagai penjelasan tentang i‘tikaf yang paling sempurna atau i‘tikaf nazar yang disertai perjalanan menuju masjid tersebut.</p>
<p>Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan:</p>
<p>“Masjid yang paling utama untuk i‘tikaf berdasarkan keutamaannya adalah Masjidil Haram, kemudian Masjid Nabawi, kemudian Masjid al-Aqsha, lalu seluruh masjid lainnya. Akan tetapi, menjaga kehadiran hati dan kekhusyukan dalam ibadah lebih utama daripada sekadar mempertimbangkan keutamaan tempat. Bisa jadi seseorang beri‘tikaf di masjid yang lebih jauh dari gangguan justru lebih sempurna dalam mewujudkan tujuan i‘tikaf dan lebih sesuai dengan ruh ibadah tersebut.” (<em><i>Fatawa Ibni ‘Utsaimin</i></em>, Bab I‘tikaf dan Puasa, hlm. 233).</p>
<ol start="5">
<li><strong><b> Niat</b></strong></li>
</ol>
<p>I‘tikaf tidak sah kecuali dengan niat, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:</p>
<p class="arab">(إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى)</p>
<p>Artinya:<br />
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR.al-Bukhari nomor 1/15 dan pada tempat lain nomor 6689).</p>
<p><em><i>Bersambung…!</i></em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2874/hukum-seputar-itikaf-bag-1/">Hukum Seputar I‘tikaf (Bag. 1)</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2874/hukum-seputar-itikaf-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teladan Salaf dalam Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadhan</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2853/teladan-salaf-dalam-membaca-al-quran-di-bulan-ramadhan/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2853/teladan-salaf-dalam-membaca-al-quran-di-bulan-ramadhan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2026 04:30:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[kajian islam ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan ulama salaf]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan membaca al quran]]></category>
		<category><![CDATA[khatam al quran ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[membaca al quran di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[semangat ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[teladan salaf]]></category>
		<category><![CDATA[tilawah ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2853</guid>

					<description><![CDATA[<p>Teladan Salaf dalam Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadhan Bulan Ramadhan punya kenangan dan keistimewaan tersendiri dalam kehidupan seorang muslim yang tak dimiliki bulan lain. Ia datang setiap tahun sebagai tamu yang mulia.  Di bulan ini, Allah membuka pintu surga, menutup pintu neraka, mengikat syaitan, dan terdengar panggilan: &#8220;Hai pencari kebaikan, datanglah! Hai pencari keburukan, berhentilah!&#8221; [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2853/teladan-salaf-dalam-membaca-al-quran-di-bulan-ramadhan/">Teladan Salaf dalam Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadhan</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Teladan Salaf dalam Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadhan</strong></h2>
<p>Bulan Ramadhan punya kenangan dan keistimewaan tersendiri dalam kehidupan seorang muslim yang tak dimiliki bulan lain. Ia datang setiap tahun sebagai tamu yang mulia.  Di bulan ini, Allah membuka pintu surga, menutup pintu neraka, mengikat syaitan, dan terdengar panggilan:</p>
<p><em>&#8220;Hai pencari kebaikan, datanglah! Hai pencari keburukan, berhentilah!&#8221; (HR.  At-Tirmidzi, no. 682, dan Ibnu Majah, no. 1642.)</em></p>
<p>Rasulullah ﷺ menyambut Ramadhan dengan persiapan yang berbeda dari bulan-bulan lain. Beliau memperbanyak ibadah, amal shalih, dan mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, setiap tahun beliau membawa bekal dan pergi ke Gua Hira, meninggalkan dunia sejenak, dan mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>Lalu, bagaimana para salaf menyambut Ramadhan?</p>
<p>Para salaf shalih mengikuti jejak beliau. Ketika Ramadhan datang, mereka bersungguh-sungguh dalam beramal, berharap keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya. Mereka mempelajari Al-Qur’an seperti yang dilakukan Rasulullah ﷺ, dan begadang di malam hari untuk membaca Al-Qur’an, meneladani sunnah beliau. Salah seorang dari mereka mengatakan:</p>
<p class="arab">أتى رمضان مزرعة العبــاد *** لتطهير القلوب من الفساد</p>
<p class="arab">فأدِّ حقوقه قولاً وفعـــلاً *** و زادك فاتخذه للمعــاد</p>
<p class="arab">فمن زرع الحبوب وما سقاها ***  تأوه نادمـاً يوم الحصـاد</p>
<p>“Telah datang Ramadhan sebagai ladang bagi para hamba untuk membersihkan hati dari berbagai kerusakan.</p>
<p>Maka tunaikanlah hak-haknya dengan ucapan dan perbuatan, dan jadikan ia sebagai bekal menuju negeri akhirat.</p>
<p>Barang siapa menanam benih namun tidak menyiraminya, ia akan merintih penuh penyesalan pada saat panen.”</p>
<p>Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Allah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p class="arab">﴿ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ ﴾</p>
<p>“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan yang nyata tentang petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p class="arab">﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴾</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)</p>
<p>Serta firman-Nya:</p>
<p class="arab">﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ﴾</p>
<p>“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhan: 3)</p>
<p>Allah <em>ta‘ala</em> memilih bulan Ramadhan di antara semua bulan lainnya karena pada bulan inilah Al-Qur’anul ‘Azim diturunkan. Allah <em>ta‘ala</em> menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih dan mengistimewakan dari ciptaanya apa yang Dia kehendaki. Dalam sunnah disebutkan bahwa bulan ini juga merupakan waktu turunnya kitab-kitab suci sebelumnya kepada para Nabi <em>‘alaihimus salam</em>.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">)أُنزِلت صُحُف إبراهيم عليه السلام في أول ليلة من رمضان، وأُنزِلت التوراة لستٍّ مَضَيْنَ من رمضان، والإنجيل لثلاث عشرة خلَتْ من رمضان، وأُنْزِل القرآن لأربع وعشرين خلت من رمضان(</p>
<p>“Lembaran-lembaran wahyu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan enam malam dari Ramadhan, Injil diturunkan tiga belas malam dari Ramadhan, dan Al-Qur’an diturunkan pada dua puluh empat malam dari Ramadhan.” (<em>HR. At-Tabarani dalam Al-Awsath (no. 3740), Ahmad (no. 16984), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihah (no. 1575).</em></p>
<p>Maka apabila seorang hamba berpuasa di bulan Ramadhan, lalu memperbanyak tilawah Al-Qur’an, menghafalnya, mentadabburinya, dan berusaha memahami tafsirnya, niscaya setelah Ramadhan jiwanya akan menjadi lebih bersih dan hatinya lebih suci.</p>
<p>Ibnu Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p>“Hati yang suci, karena kesempurnaan kehidupannya, cahayanya, dan terbebasnya dari kotoran serta penyakit batin, tidak akan kenyang dari Al-Qur’an kecuali dengan hakikat-hakikatnya, dan tidak akan sembuh kecuali dengan obat-obatnya. Berbeda halnya dengan hati yang belum disucikan Allah <em>ta‘ala</em>; hati itu hanya bisa “makan” dari makanan yang sesuai dengan kadar kotorannya. Sebagaimana tubuh yang sakit, hati yang kotor tidak bisa menerima manfaat dari hal-hal yang bermanfaat bagi hati yang sehat.” (<em>Ighāthatul Lahfān</em> (1/52)).</p>
<p>Sesungguhnya Al-Qur’an tidaklah diturunkan kecuali untuk dibaca, ditadabburi, dan diamalkan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">) فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به(</p>
<p>“Al-Qur’an diturunkan untuk tiga tujuan: beribadah dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya.” (Syarh Ushul fi At-Tafsir  hlm. 7)</p>
<p>Termasuk petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan yang penuh berkah ini adalah memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Bahkan beliau melakukan mudarasah Al-Qur’an bersama Malaikat Jibril ‘alaihis salam, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma:</p>
<p class="arab">)كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ (</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau paling dermawan pada bulan Ramadhan, terutama ketika bertemu dengan Jibril. Setiap malam di bulan Ramadhan, beliau bertemu Jibril untuk mempelajari Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang dilemparkan.” (HR. Bukhari no. 6, dan Muslim no. 2308)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">) دلَّ الحديثُ على استحباب دراسة القرآن في رمضان، والاجتماع على ذلك، وعَرْض القرآن على مَن هو أحفظ منه، وفيه دليلٌ على استحباب الإكثار من تلاوة القرآن في شهر رمضان(</p>
<p>“Hadis ini menunjukkan disunnahkannya mempelajari Al-Qur’an di bulan Ramadhan, berkumpul untuk itu, menyetorkan bacaan kepada orang yang lebih hafal, serta anjuran memperbanyak tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan.” <em>(Latha’if Al-Ma‘arif, hlm. 242–243)</em></p>
<p>Para salaf shalih <em>rahimahumullah</em> punya hubungan yang istimewa dengan Al-Qur’an di bulan yang mulia ini. Keadaan mereka dengan Al-Qur’an sungguh luar biasa. Mereka mendekat dengan semangat tinggi, memperhatikannya dengan penuh perhatian, dan memperbanyak bekal di bulan suci ini dengan membaca Al-Qur’an.</p>
<p>Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Mas‘ud dari ayahnya bahwa Ibnu Mas‘ud radiyallahu ‘anhu biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap tiga hari sekali.</p>
<p>Mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tiga hari bukanlah penghalang untuk memahami maknanya. Bahkan Ibnu Mas‘ud termasuk sahabat yang paling fakih, dan beliau adalah pendiri madrasah ilmu dan fiqih di Kufah. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab"><strong>«</strong><strong>لَا يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ</strong><strong>»</strong></p>
<p>“Tidak akan memahami (Al-Qur’an dengan baik) orang yang membacanya dalam waktu kurang dari tiga hari.” (<em>HR.At-Tirmidzi (no. 2949), Abu Dawud (no. 1390), dan Ibnu Majah (no. 1347). dihasankan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani.</em></p>
<p>Para ulama salaf bahkan mengurangi majelis ilmu dan ibadah sunnah lainnya untuk lebih fokus kepada Al-Qur’an. Diceritakan bahwa Imam Malik rahimahullah apabila memasuki bulan Ramadhan, beliau meninggalkan halaqah haditsnya dan majelis ilmu untuk membaca Al-Qur’an dari mushaf.</p>
<p>An-Nawawi <em>rahimahullah</em> juga menyebutkan sebagian kebiasaan para salaf dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Beliau berkata:</p>
<p>“Seseorang hendaknya menjaga konsistensi dalam membaca Al-Qur’an dan memperbanyaknya. Para salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam jumlah khatam mereka. Ada yang mengkhatamkan setiap lima malam, ada yang setiap empat malam, banyak yang setiap tiga malam, ada pula yang setiap dua malam. Sebagian mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari dan malam sekali, ada yang dua kali, ada yang tiga kali, bahkan ada yang delapan kali—empat kali pada malam hari dan empat kali pada siang hari.<br />
Dari mereka yang mengkhatamkan sekali sehari dan malam antara lain: ‘Utsman bin ‘Affan, Tamim Ad-Dari, Sa‘id bin Jubair, Mujahid, Imam Asy-Syafi‘i, dan lainnya. Sedangkan yang mengkhatamkan tiga kali adalah Sulaim bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.”( <em>At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an</em>, hlm. 59–63).</p>
<p>Semangat para salaf semakin bertambah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan. Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha‘i rahimahullah: “Dahulu mereka mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari di bulan Ramadhan. Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir, mereka mengkhatamkannya setiap dua malam<em>.” (Musannaf ‘Abdurrazzaq, no. 5955).</em></p>
<p>Adapun larangan mengkhatamkan Al Quran kurang dari tiga hari maka pada bulan bulan mulia seperti Ramadhan adalah sebuah pengecualian, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Rajab dalam <em>Lathā’if al-Ma‘ārif</em> (hlm. 171):</p>
<p>Larangan membaca Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari berlaku jika dilakukan secara terus-menerus dan kebiasaan. Namun, pada waktu yang mulia, seperti bulan Ramadhan—terutama malam-malam yang berpotensi Lailatul Qadar—atau di tempat-tempat yang istimewa, seperti Makkah bagi orang yang bukan penduduknya, dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini dilakukan untuk memanfaatkan waktu dan tempat yang penuh berkah. Pendapat ini juga didukung oleh Imam Ahmad, Ishaq, dan beberapa imam lainnya, serta sesuai dengan praktik sebagian salaf seperti telah disebutkan sebelumnya.</p>
<p>Ramadhan adalah sebuah kesempatan emas yang Allah berikan setiap tahun untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, dan mempererat hubungan dengan Al-Qur’an. Maka hendaknya seorang muslim menyibukkan diri dengan membaca Al Quran sebagiana yang dicontohkan oleh para salaf terdahulu.</p>
<p>Wallahu a‘lam.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2853/teladan-salaf-dalam-membaca-al-quran-di-bulan-ramadhan/">Teladan Salaf dalam Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadhan</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2853/teladan-salaf-dalam-membaca-al-quran-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih: Hukum, dan Jumlah Rakaatnya</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2737/shalat-tarawih-hukum-dan-jumlah-rakaatnya/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2737/shalat-tarawih-hukum-dan-jumlah-rakaatnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2025 23:07:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[jumlah rakaat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat sunnah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih 20 rakaat]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih 8 rakaat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2737</guid>

					<description><![CDATA[<p>Shalat Tarawih: Hukum, dan Jumlah Rakaatnya Shalat tarawih merupakan salah satu syiar terbesar di bulan Ramadan yang mulia. Kaum Muslimin senantiasa menghidupkan malam-malam nya diantaranya dengan shalat tarawih berjama&#8217;ah dimasjid. Para fuqaha dan ahli hadis pun memberikan perhatian besar terhadap penjelasan hakikat shalat tarawih, hukumnya, tata cara pelaksanaannya, serta jumlah rakaatnya, sembari menegaskan keluasan syariat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2737/shalat-tarawih-hukum-dan-jumlah-rakaatnya/">Shalat Tarawih: Hukum, dan Jumlah Rakaatnya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Shalat Tarawih: Hukum, dan Jumlah Rakaatnya</strong></h2>
<p>Shalat tarawih merupakan salah satu syiar terbesar di bulan Ramadan yang mulia. Kaum Muslimin senantiasa menghidupkan malam-malam nya diantaranya dengan shalat tarawih berjama&#8217;ah dimasjid. Para fuqaha dan ahli hadis pun memberikan perhatian besar terhadap penjelasan hakikat shalat tarawih, hukumnya, tata cara pelaksanaannya, serta jumlah rakaatnya, sembari menegaskan keluasan syariat dan pengangkatan kesulitan dari umat. Sehingga mereka leluasa memilih jumalah rakat tarawih sesuai kemampuan mereka.</p>
<h3><strong>Definisi Shalat Tarawih</strong></h3>
<p>Kata <em>tarawih</em> merupakan bentuk jamak dari <em>tarwîhah</em>, yang bermakna istirahat dan ketenangan jiwa. Dari makna inilah dikenal istilah <em>tarwîhah Ramadan</em>, yaitu waktu istirahat setelah setiap empat rakaat. Dikatakan <em>istarâha</em> atau <em>istarwaha</em>, yakni memperoleh ketenangan dan kelegaan.</p>
<p>Kemudian, istilah tarawih secara khusus digunakan untuk menyebut shalat yang dikerjakan pada malam-malam bulan Ramadan. Imam duduk beristirahat setelah setiap empat rakaat, sehingga dikatakan: duduk di antara dua tarwîhah selama satu tarwîhah.</p>
<p>Shalat ini dinamakan tarawih karena kaum Muslimin pada masa awal memperpanjang berdiri, rukuk, dan sujud. Apabila mereka telah menunaikan empat rakaat, mereka beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan empat rakaat berikutnya, lalu beristirahat kembali, dan ditutup dengan shalat witir.</p>
<p>Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam <em>As-Sunan al-Kubrâ</em> dengan sanadnya dari al-Mughirah bin Ziyad al-Mushili, dari ‘Atha’, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:</p>
<p class="arab">«كان رسولُ الله صلى الله عليه وسلم يُصلِّي أربعَ ركعاتٍ في الليل ثم يتروَّح، فأطال حتى رحمته، فقلت: بأبي أنتَ وأمي يا رسولَ الله، قد غفر الله لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّر، قال: أفلا أكونُ عبدًا شكورًا»</p>
<p>“Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan shalat empat rakaat pada malam hari, kemudian beliau beristirahat. Beliau memperpanjangnya hingga aku merasa kasihan kepadanya. Maka aku berkata: ‘Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, sungguh Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.’ Beliau bersabda: ‘Tidakkah pantas aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?&#8217; (As-Sunan al-Kubrâ, karya al-Baihaqi, jilid 2, hlm. 700, no. 4294).</p>
<p>Oleh karnanya para ulama fikih sepakat akan disyariatkannya istirahat setelah setiap empat rakaat, karena hal tersebut diwariskan dari generasi salaf. Mereka dahulu memanjangkan berdiri dalam shalat tarawih dan duduk setelah setiap empat rakaat untuk beristirahat. Tidak disyariatkan zikir tertentu atau bacaan khusus pada waktu istirahat tersebut. (<em>Mathâlib Ulî an-Nuhâ</em>, jilid 1, hlm. 564).</p>
<h3><strong>Hukum Shalat Tarawih</strong></h3>
<p>Hukum shalat tarawih adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">«فصلاة التراويح سنةٌ بإجماع العلماء».</p>
<p>“Shalat tarawih adalah sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (<em>Al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab</em>, karya an-Nawawi, jilid 4, hlm. 37).</p>
<h3><strong>Hukum Shalat Tarawih Berjamaah</strong></h3>
<p>Para ulama berbeda pendapat mengenai mana yang lebih utama antara shalat tarawih berjamaah di masjid atau dikerjakan di rumah.</p>
<p><strong>Pendapat Pertama: Berjamaah di Masjid Lebih Utama</strong></p>
<p>Ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, Imam asy-Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, dan sebagian ulama Malikiyah. Bahkan, Imam ath-Thahawi dari kalangan Hanafiyah menyatakan bahwa shalat tarawih berjamaah hukumnya wajib kifayah.</p>
<p><strong>Pendapat Kedua: Shalat di Rumah Lebih Utama</strong></p>
<p>Ini merupakan pendapat Imam Malik, Abu Yusuf, dan sebagian ulama Syafi‘iyah. Imam Malik pernah ditanya tentang shalat malam seseorang di bulan Ramadan, lalu beliau berkata:</p>
<p>“Apabila ia mampu melaksanakannya di rumah, maka itu lebih aku sukai. Tidak semua orang mampu melakukan hal tersebut. Dahulu Ibnu Harmuz pulang dan melaksanakan shalat bersama keluarganya, demikian pula Rabi‘ah. Sejumlah ulama lainnya juga pulang dan tidak shalat bersama orang banyak. Dan aku lebih memilih hal tersebut.” (Lihat: <em>Fath al-Bârî</em>, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid 4, hlm. 252; <em>Al-Mudawwanah al-Kubrâ</em>, karya Sahnun, jilid 1, hlm. 222).</p>
<h3><strong>Jumlah Rakaat Shalat Tarawih</strong></h3>
<p>Para fuqaha berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat shalat tarawih.</p>
<p><strong>(Pertama) Pendapat Jumhur Ulama</strong> Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat tarawih berjumlah dua puluh rakaat, tidak termasuk shalat witir yang dikerjakan sebanyak tiga rakaat, sehingga total keseluruhan menjadi dua puluh tiga rakaat. Mereka berdalil dengan riwayat yang menyebutkan bahwa ‘Umar bin al-Khaṭṭāb <em>raḍiyallāhu ‘anhu</em> mengumpulkan kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah rakaat tersebut.</p>
<p><strong>(Kedua) Mazhab Imam Malik</strong> Imam Malik dalam salah satu riwayat berpendapat bahwa shalat tarawih berjumlah tiga puluh enam rakaat. Pendapat ini didasarkan pada praktik penduduk Madinah pada masa kekhalifahan ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, di mana mereka melaksanakan shalat tarawih dengan jumlah tersebut. Dalam riwayat lain, Imam Malik berpendapat bahwa jumlah rakaat shalat tarawih adalah sebelas rakaat.</p>
<p><strong>(Ketiga) Pendapat Delapan Rakaat</strong> Sebagian ulama, khususnya para muḥaqqiq dari kalangan ahli hadis dan selain mereka, berpendapat bahwa shalat tarawih berjumlah delapan rakaat.</p>
<p>Dalam persoalan ini, syariat memberikan keluasan. Perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat shalat tarawih tidak menunjukkan ketiadaan nash yang sahih tentangnya, karena dalil-dalil dalam masalah ini memang ada dan valid. Sehingga tidak dibenarkan menolak nash hanya karena adanya perbedaan pendapat, terlebih lagi para ulama salaf yang berbeda pandangan dalam masalah ini tidak saling mengingkari satu sama lain. (Lihat: <em>Al-Fiqh al-Muyassar</em>, jilid 1, hlm. 360; <em>Shalāt at-Tarāwīḥ</em>, karya Syaikh Muhammad Dhiya’ ar-Rahman al-A‘zami, hlm. 34).</p>
<p>Ibnu Hajar al-‘Asqalani raḥimahullāh menjelaskan dalam <em>Fath al-Bārī</em>—secara ringkas berkaitan perbedaan pendapat jumlah rakat shalat tarawih, beliau berkata: &#8220;Bahwa telah terjadi perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat yang dikerjakan oleh Ubay bin Ka‘ab raḍiyallāhu ‘anhu ketika beliau diperintahkan oleh ‘Umar bin al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu untuk mengimami kaum Muslimin.</p>
<p>Dalam <em>Al-Muwaṭṭa’</em>, melalui riwayat Muḥammad bin Yūsuf dari as-Sā’ib bin Yazīd, disebutkan bahwa jumlah rakaat tersebut adalah sebelas rakaat. Riwayat ini juga dibawakan oleh Sa‘īd bin Manṣūr melalui jalur lain dengan tambahan keterangan bahwa mereka membaca sekitar dua ratus ayat, hingga harus bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri.</p>
<p>Riwayat ini juga dibawakan oleh Muḥammad bin Naṣr al-Marwazī melalui jalur Muḥammad bin Isḥāq dari Muḥammad bin Yūsuf dengan keterangan tiga belas rakaat. ‘Abdurrazzāq meriwayatkannya melalui jalur lain dari Muḥammad bin Yūsuf dengan jumlah dua puluh satu rakaat.</p>
<p>Imam Mālik meriwayatkan melalui jalur Yazīd bin Khuṣaifah dari as-Sā’ib bin Yazīd bahwa jumlahnya adalah dua puluh rakaat, dan ini dipahami tidak termasuk witir. Sementara Yazīd bin Rumān meriwayatkan bahwa pada masa ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhu, kaum Muslimin melaksanakan shalat malam Ramadan sebanyak dua puluh tiga rakaat.</p>
<p>Muḥammad bin Naṣr juga meriwayatkan dari jalur ‘Aṭā’ bahwa beliau mendapati kaum Muslimin pada bulan Ramadan melaksanakan dua puluh rakaat tarawih dan tiga rakaat witir.&#8221;</p>
<p>Kemudian beliau menegaskan bahwa seluruh riwayat ini dapat dikompromikan dengan mempertimbangkan perbedaan kondisi. Beliau berkata: &#8220;Perbedaan jumlah rakaat sangat mungkin disebabkan oleh perbedaan dalam memanjangkan atau memendekkan bacaan. Apabila bacaan dipanjangkan, jumlah rakaat dikurangi; dan apabila bacaan diringankan, rakaat diperbanyak. Pendapat ini ditegaskan oleh ad-Dāwūdī dan sejumlah ulama lainnya&#8221;.</p>
<p>Jumlah yang pertama sesuai dengan hadis ‘Aisyah <em>raḍiyallāhu ‘anhā</em> yang menyatakan:</p>
<p class="arab">«ما كان يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة»</p>
<p>“Rasulullah tidak pernah menambah (jumlah rakaat shalat malam) pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.”</p>
<p>Adapun jumlah yang kedua, maka ia masih dekat dengan jumlah tersebut. Sementara perbedaan jumlah rakaat yang melebihi dua puluh kembali kepada perbedaan dalam pelaksanaan shalat witir. Seakan-akan witir itu terkadang dikerjakan dengan satu rakaat, dan pada waktu lain dikerjakan dengan tiga rakaat.</p>
<p>(Fath al-Bārī, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid 4, hlm. 298).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah raḥimahullāh berkata dalam <em>Al-Fatāwā al-Kubrā</em> bahwa telah tetap Ubay bin Ka‘ab raḍiyallāhu ‘anhu mengimami kaum Muslimin dalam qiyam Ramadan sebanyak dua puluh rakaat dan berwitir tiga rakaat. Banyak ulama memandang praktik tersebut sebagai sunnah karena berlangsung di tengah para Muhajirin dan Anshar tanpa ada pengingkaran. Sebagian ulama lainnya menganjurkan tiga puluh sembilan rakaat berdasarkan praktik lama penduduk Madinah. Ada pula yang berpegang pada hadis sahih dari ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menambah dalam Ramadan dan di luar Ramadan lebih dari tiga belas rakaat.</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa seluruh bentuk tersebut adalah baik, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad raḥimahullāh, dan bahwa tidak ada penentuan jumlah tertentu dalam qiyam Ramadan karena Nabi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menetapkannya. Banyak atau sedikitnya rakaat dikembalikan kepada panjang atau pendeknya berdiri.</p>
<p>Ketika Ubay bin Ka‘ab mengimami mereka secara berjamaah, beliau tidak mungkin memanjangkan qiyam sebagaimana shalat sendirian, maka beliau memperbanyak rakaat sebagai pengganti panjangnya berdiri. Pada masa berikutnya, ketika orang-orang semakin lemah untuk berdiri lama, rakaat pun diperbanyak hingga mencapai tiga puluh sembilan. (Al-Fatāwā al-Kubrā, karya Ibnu Taimiyah, jilid 1, hlm. 176–227).</p>
<p>Ibnu ‘Abd al-Barr raḥimahullāh berkata:</p>
<p class="arab">«وقد أجمع العلماء على أن لا حدَّ ولا شيء مقدر في صلاة الليل، وأنها نافلة، فمن شاء أطال فيها القيام وقلَّت ركعاته، ومن شاء أكثر الركوع والسجود».</p>
<p>&#8220;Bahwa para ulama telah sepakat tidak ada batasan dan tidak ada jumlah tertentu dalam shalat malam. Shalat malam adalah ibadah sunnah; siapa yang ingin memanjangkan berdiri maka ia mengurangi rakaat, dan siapa yang ingin memperbanyak rukuk dan sujud maka ia memperbanyak rakaat.&#8221; (Al-Istidzkar, karya Ibnu ‘Abd al-Barr, jilid 2, hlm. 102).</p>
<p>Dalam persoalan jumlah rakaat shalat tarawih, terdapat dua kelompok yang bersikap berlebihan. Kelompok pertama mengingkari orang yang menambah rakaat di atas sebelas dan bahkan menuduhnya sebagai bid‘ah. Kelompok kedua mengingkari orang yang hanya melaksanakan sebelas rakaat dan menuduh mereka telah menyelisihi ijmak.</p>
<p>Yang benar, perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat shalat tarawih dan ibadah sejenisnya merupakan persoalan ijtihadi yang dibenarkan. Tidak sepantasnya hal ini menjadi sumber perpecahan dan pertikaian di tengah umat, terlebih para ulama salaf sendiri telah berbeda pendapat dalam masalah ini, dan tidak ada satu pun dalil yang menutup pintu ijtihad di dalamnya.</p>
<p>Sungguh indah ucapan salah seorang ulama kepada orang yang berbeda pendapat dengannya dalam perkara ijtihadi: “Dengan engkau menyelisihiku, sesungguhnya engkau telah sepakat denganku; karena kita sama-sama meyakini kewajiban mengikuti apa yang kita yakini sebagai kebenaran dalam perkara yang dibolehkan ijtihad.” (Lihat: Fatāwā Arkān al-Islām, hlm. 353).</p>
<p>Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa shalat tarawih merupakan ibadah agung yang disyariatkan. Perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat dan tata cara pelaksanaannya adalah perbedaan yang sah dan dapat diterima dalam koridor ijtihad. Semua itu kembali kepada kemampuan jama&#8217;ah dalam memanjangkan atau memendekkan qiyam. Oleh karena itu, kewajiban kaum Muslimin, menjaga persatuan, serta lapang dada dalam menyikapi perbedaan, demi meraih ruh dan tujuan utama ibadah. <em>Wallahua&#8217;lam.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2737/shalat-tarawih-hukum-dan-jumlah-rakaatnya/">Shalat Tarawih: Hukum, dan Jumlah Rakaatnya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2737/shalat-tarawih-hukum-dan-jumlah-rakaatnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyambut Bulan Ramadhan Penuh Berkah</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2703/menyambut-bulan-ramadhan-penuh-berkah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2703/menyambut-bulan-ramadhan-penuh-berkah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2025 15:30:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amal ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[bulan ramadhan berkah]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[menyambut ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[persiapan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan islami]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan penuh berkah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2703</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menyambut Bulan Ramadhan Mencapai bulan yang mulia ini merupakan sebuah nikmat dari Allah –‘Azza wa Jalla– atas diri seorang hamba. Bagaimana mungkin tidak disebut nikmat, sementara ada banyak orang yang tidak lagi mendapatkannya karena ajal telah menjemput mereka. Mereka telah berpindah dengan kematian dari “dar al-‘amal” (tempat beramal) menuju “dar al-jaza’ wal-hisab” (tempat pembalasan dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2703/menyambut-bulan-ramadhan-penuh-berkah/">Menyambut Bulan Ramadhan Penuh Berkah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Menyambut Bulan Ramadhan</strong></h2>
<p>Mencapai bulan yang mulia ini merupakan sebuah nikmat dari Allah –‘Azza wa Jalla– atas diri seorang hamba. Bagaimana mungkin tidak disebut nikmat, sementara ada banyak orang yang tidak lagi mendapatkannya karena ajal telah menjemput mereka. Mereka telah berpindah dengan kematian dari “dar al-‘amal” (tempat beramal) menuju “dar al-jaza’ wal-hisab” (tempat pembalasan dan perhitungan), dari alam dunia menuju alam akhirat.</p>
<p>Betapa banyak orang yang kita kenal telah berpuasa bersama kita pada Ramadan tahun lalu, namun tidak lagi mendapati Ramadan tahun ini. Mereka telah dijemput kematian; kini mereka berada di alam kubur, tergadai oleh amal-amal mereka, tidak mampu menambah kebaikan atau mengurangi keburukan. Setiap dari mereka tentu berharap dapat kembali ke dunia — bukan untuk mengumpulkan harta atau menikmati kesenangan yang fana — melainkan untuk memperbanyak bekal ketakwaan.</p>
<p>Ibn Rajab al-Hanbali Rahimahullah berkata dalam <em>Latā’if al-Ma‘ārif</em> (hlm. 265):</p>
<p class="arab"><em>&#8220;</em> بلوغُ شهر رمضان وصيامُه نعمة عظيمة على من أقدره الله عليه<em>”</em></p>
<p>“Mencapai bulan Ramadan dan mampu berpuasa di dalamnya adalah nikmat besar bagi siapa pun yang Allah beri kemampuan.”</p>
<p>Beliau kemudian menyebutkan hadis tentang tiga orang sahabat; dua gugur syahid, sedangkan yang ketiga meninggal biasa. Orang yang ketiga itu terlihat (dalam mimpi) lebih tinggi derajatnya. Ketika ditanyakan, Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">(أليس صلّى بعدهما كذا وكذا صلاة، وأدرك رمضان فصامه؟ فو الذي نفسي بيده، إنّ بينهما لأبعد ممّا بين السّماء والأرض)</p>
<p><em>“Bukankah ia telah melaksanakan beberapa salat setelah keduanya dan mendapatkan Ramadan lalu berpuasa? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh jarak antara keduanya lebih jauh daripada langit dan bumi.”</em> ( <em>HR. Ahmad (1/163), Ibn Mājah (3925); disahihkan Ibn Ḥibbān (7/248)).</em></p>
<p><strong>Waktu Berjalan</strong> begitu cepat, seakan-akan kemarin kita menyambut Ramadan tahun lalu. Hari demi hari berlalu, Ramadan pun pergi, dan kini kita kembali menyambut Ramadan tahun ini. Alangkah cepatnya waktu berjalan! Begitulah bulan dan tahun berlalu, demikian pula umur manusia habis sedikit demi sedikit. Apa yang telah berlalu terasa hanya seperti mimpi, sementara apa yang tersisa pun akan berlalu dengan cepat, hingga kematian mendatangi kita secara tiba-tiba. Saat itu manusia berharap untuk kembali, tetapi sia-sia.</p>
<p>Allah Ta‘ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ * كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا * وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾</p>
<p><em>“Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, ia berkata, &#8216;Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat berbuat kebajikan yang dulu aku tinggalkan.’ Tidak! Itu hanyalah kata-kata yang diucapkannya. Di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”</em> ( <em>QS. al-Mu’minūn: 99–100</em>)</p>
<p>Allah memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan menghadirkan musim-musim ibadah yang agung. Pada waktu-waktu tersebut, peluang ketaatan diperluas, dosa-dosa diampuni, rahmat diturunkan, dan karunia dilipatgandakan. Di antara musim yang paling mulia adalah bulan Ramadan, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p class="arab">﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ﴾</p>
<p><em>“Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk serta pembeda (antara yang hak dan batil).”</em> (<em>QS. al-Baqarah: 185</em>)</p>
<p>Dahulu Nabi ﷺ berdoa ketika memasuki bulan Rajab:</p>
<p class="arab">«اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان»</p>
<p><em>“Ya Allah berkahilah kami pada Rajab dan Sya‘ban serta sampaikanlah kami kepada Ramadan.”</em> (<em>HR. al-Bazzār dalam Kasyf al-Astār (1/457); al-Ṭabarānī dalam al-Awsath (3951)).</em></p>
<p>Dan kebiasaan salafpun demikian mereka berdo&#8217;a kepada Allah berharap berjumpa dengan bulan Ramdahan, Mu‘allā ibn al-Faḍl berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم رمضان، ثم يدعونه ستة أشهر أن يتقبله منهم&#8221;.</p>
<p>“Para salaf berdoa kepada Allah selama enam bulan agar disampaikan kepada Ramadan, dan enam bulan berikutnya agar amal mereka diterima.” ( <em>Latā’if al-Ma‘ārif, hlm. 264).</em></p>
<p>termasuk kebiasaan Rasulullah ﷺ kepada para sahabat tentang datangnya bulan mulia ini dan mendorong mereka supaya bersemangat di dalamnya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu&#8217;anhu ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dan berkata:</p>
<p class="arab">«قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ…»</p>
<p><em>“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah…”</em> ( <em>HR. Ahmad (2/230); disahihkan Syu‘aib al-Arna’ūṭ (7148)).</em></p>
<p>Dan dalam hadis yang lain:</p>
<p class="arab">«يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ…»</p>
<p><em>“Wahai pencari kebaikan, datanglah! Wahai pencari kejahatan, berhentilah…”</em> ( <em>HR. al-Tirmiḏī (682); Ibn Mājah (1642)).</em></p>
<p>Ibn Rajab Rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;كيف لا يُبشَّر المؤمن بفتح أبواب الجنان؟ كيف لا يُبشر المذنب بغلق أبواب النيران؟ كيف لا يُبشر العاقل بوقت يُغَلّ فيه الشيطان؟&#8221;</p>
<p>“Bagaimana bisa seorang mukmin tidak diberi kabar gembira tentang dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana bisa seorang yang berdosa tidak diberi kabar gembira tentang ditutupnya pintu-pintu neraka? Bagaimana bisa seorang yang berakal tidak diberi kabar gembira tentang saat di mana setan-setan dibelenggu?” (Diambil dari <em>Laṭā&#8217;if al-Ma&#8217;ārif</em> hlm. 264.)</p>
<h3><strong>Enam Renungan Penting Menyambut Bulan Ramadan</strong></h3>
<p><strong>Renungan Pertama: Memperbarui Niat yang Salih dan Mengikhlaskan Amal hanya untuk Allah</strong></p>
<p>Setiap amal yang hendak kita kerjakan harus diawali dengan niat yang baik serta keikhlasan semata-mata karena Allah Ta‘ālā. Setiap perbuatan yang ditujukan kepada selain-Nya tidak akan diterima, bahkan pelakunya dapat mendapat hukuman dan tidak memperoleh pahala. Allah berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾</p>
<p><em> </em><em>Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.”</em><em> (al-Kahf: 110)</em></p>
<p>Dalam <em>Ṣaḥīḥ Muslim</em> (no. 2985) dan <em>Sunan Ibn Mājah</em> (no. 4202) dari Abu Hurairah —dengan lafaz Ibn Mājah— Nabi ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:</p>
<p class="arab">((قال تبارك وتعالى: أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملًا أشرك فيه معي غيري، تركته وشركه))</p>
<p>“<em>Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.</em><br />
<em>Mari kita perbarui niat sejak sekarang,</em> ketika kita tinggal beberapa saat lagi memasuki pintu-pintu bulan Ramadan. Niat puasa itu ada pada setiap orang yang berpuasa, namun kesungguhan menghadirkan keikhlasan harus terus dijaga.</p>
<p><strong>Renungan Kedua: Ramadan sebagai Bulan Pendidikan Jiwa</strong></p>
<p>Allah Ta‘ālā berfirman:</p>
<p class="arab">﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُم الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾</p>
<p><em> Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (al-Baqarah: 183)</em></p>
<p>Al-Ḥāfiẓ Ibn Kaṡīr رحمه الله menjelaskan dalam tafsirnya:</p>
<p class="arab">إن الله أمر المؤمنين بالصيام لما فيه من زكاة النفوس وطهارتها وتنقيتها من الأخلاق الرذيلة، وذكر أنّ الأمم السابقة كُتب عليهم الصيام قبلنا، لنقتدي بهم، ولنجتهد في أداء هذا الفرض أكمل مما أدّوه</p>
<p>&#8220;Bahwa Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk berpuasa karena di dalamnya tersimpan “zakat” bagi jiwa; yakni pemurnian dan pembersihan dari akhlak-akhlak tercela. Beliau menyebutkan bahwa umat-umat sebelumnya juga diwajibkan puasa sebelum kita, sehingga kita mengikuti mereka dan bersungguh-sungguh melaksanakan kewajiban ini lebih sempurna dari yang mereka kerjakan. (<em>Tafsīr Ibn Kaṡīr</em>, 1/364)</p>
<p><strong>Renungan Ketiga: Menjaga Kehormatan Bulan Ramadan</strong></p>
<p>Sangat disayangkan apabila kehormatan bulan suci ini dilanggar dengan berbagai kemaksiatan. Maksiat itu buruk kapan pun dilakukan, namun pada waktu-waktu yang mulia, keburukannya semakin besar. Syaikhul Islām Ibn Taimiyah berkata:</p>
<p class="arab">المعاصي في الأيام المفضلة والأمكنة المفضلة ‌تغلظ، ‌وعقابها ‌بقدر ‌فضيلة ‌الزمان والمكان</p>
<p>“Maksiat pada hari-hari dan tempat-tempat yang terpilih (afdhal) menjadi lebih berat, dan siksanya setimpal dengan keutamaan waktu dan tempat tersebut.” (Lihat <em>Majmū&#8217; al-Fatāwā</em> 34.)</p>
<p><strong>Renungan Keempat: Ramadan Bulan Qiyām dan Tilawah al-Qur’an</strong></p>
<p>Dalam <em>Laṭā’if al-Ma‘ārif</em> disebutkan:</p>
<p class="arab">(استحباب الإكثار من تلاوة القرآن في شهر رمضان… وكان جبريل عليه السلام يعارض النبي صلى الله عليه وسلم القرآن كل عام مرة، وفي عام وفاته عارضه مرتين)</p>
<p>Disunnahkan memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadan… dan Jibril &#8216;alaihissalam biasa <em>mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an</em> bersama Nabi ﷺ setiap tahun sekali, dan pada tahun wafatnya beliau, Jibril mengulanginya dua kali.” (<em>Laṭā’if al-Ma‘ārif</em>, hlm. 169)</p>
<p>Oleh karena itu Ramadan memiliki keistimewaan sebagai bulan diturunkannya al-Qur’an:</p>
<p class="arab">{ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ}</p>
<p><em>&#8220;bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran&#8221; (al-Baqarah: 185)</em></p>
<p>Selain itu, malam-malam Ramadan juga dihidupkan dengan qiyām. Nabi ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">(من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه)</p>
<p>“Barang siapa yang menghidupkan malam-malam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhārī no. 2008, dan Muslim no. 759.)</p>
<p>“Dan kebiasaan Nabi ﷺ dahulu memperpanjang bacaan pada qiyām Ramadan di malam hari lebih daripada di waktu lain; dan beliau pernah shalat bersama Huzaifah suatu malam di Ramadan — ia berkata: beliau membaca surah al-Baqarah lalu an-Nisa&#8217; lalu Āli &#8216;Imrān; beliau tidak melewati suatu ayat yang memerintahkan peringatan tanpa berhenti dan bertanya (tadabbur), sehingga beliau belum menyelesaikan dua rakaat ketika Bilal mengumandangkan adzan shalat; (riwayat ini) disampaikan Imam Ahmad dan an-Nasa&#8217;i, dan menurut mereka beliau hanya shalat empat rakaat.” (Dikutip dari <em>Laṭā&#8217;if al-Ma&#8217;ārif</em> hlm.169.)</p>
<p><strong>Renungan Kelima: Ramadan Bulan Kedermawanan dan Kebaikan</strong></p>
<p>Ramadan menumbuhkan semangat kepedulian dan kasih sayang, terutama kepada anak yatim, janda, fakir miskin, orang terlantar, tawanan, dan kaum tertindas.</p>
<p>Nabi ﷺ adalah teladan terbesar dalam hal ini. Dalam <em>Ṣaḥīḥ al-Bukhārī</em> (no. 6) dan <em>Ṣaḥīḥ Muslim</em> (no. 2308), Ibn ‘Abbās Radhiyallahu&#8217;anhuma berkata:</p>
<p class="arab">كان النبي &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; أجودَ الناس بالخير، وأجود ‌ما ‌يكون ‌في ‌شهر ‌رمضان؛ لأن جبريل كان يلقاه في كل ليلة في شهر رمضان حتى ينسلخ، يَعْرِضُ عليه رسولُ الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; القرآنَ، فإذا لقيه جبريلُ كان أجودَ بالخير من الريح المرسلة&#8221;</p>
<p>“Nabi ﷺ adalah orang yang paling dermawan dalam hal kebaikan, dan beliau paling dermawan di bulan Ramadan; sebab Jibril datang kepada beliau pada setiap malam di bulan Ramadan hingga Ramadan berakhir, dan Jibril membacakan (membawa) Al-Qur&#8217;an kepadanya; tatkala Jibril bertemu beliau, beliau menjadi lebih murah hati daripada angin yang berhembus.”</p>
<p><strong>Renungan Keenam: Ramadan Bulan Muhāsabah dan Kembali kepada Allah</strong></p>
<p>Ramadan adalah bulan pengampunan dosa, bulan diterimanya amal, dilipatgandakannya pahala, serta bulan pembebasan dari api neraka. Dalam <em>Sunan at-Tirmiżī</em> (no. 682), <em>Ibn Mājah</em> (no. 1643), dan <em>Ibn Khuzaymah</em> (no. 1883) disebutkan:</p>
<p class="arab">«إنّ ‌لله ‌عتقاء ‌من ‌النّار، وذلك كلّ ليلة»</p>
<p>“Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang dibebaskan dari api neraka, dan itu (terjadi) pada setiap malam.”</p>
<p>‘Umar ibn al-Khaṭṭāb Radhiyallahu&#8217;anhu berkata ketika menyambut Ramadan:</p>
<p class="arab">&#8220;مرحبا بمطهرنا من الذنوب&#8221;</p>
<p>(selamat datang) bagi kita, penyuci dari dosa.” (<em>Tanbīh al-Ghāfilīn</em>, hlm. 455).</p>
<p>Maka termasuk do&#8217;a yang pernah Nabi ajarkan ketika seseorang berjumpa dengan malam lailatul qadar adalah memperbanyak do&#8217;a yang mengandung permohonan maaf kepada Allah, sebagaimana hadis yang diriwayata dari &#8216;Aisyah Radhiyallahu&#8217;anha beliau bertanya kepada Rasulullah ﷺ:</p>
<p class="arab">يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا ؟ قَالَ  قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى</p>
<p>“Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Berdo’alah: <em>Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni</em> (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah (no. 3850). Dan At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan shahih</em>. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>). Dan Hadits ini dibawakan oleh Imam Tirmidzi dalam bab “Keutamaan meminta maaf dan ampunan pada Allah”.</p>
<p>Marilah kita merencanakan bagaimana memanfaatkan bulan Ramadan, karena ia merupakan pendorong terbesar bagi amalan-amalan akhirat, dan hendaklah kita berhati-hati dari kesiapan orang-orang lalai, sehingga kita ermasuk orang orang yang celaka. Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">&#8220;رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يُغفر له&#8221;</p>
<p>“Celakalah orang yang Ramadan telah datang kepadanya, lalu ia melewatinya (selesai darinya) sedangkan (dosa-dosanya) belum diampuni baginya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 3545 dan al-Hakim no. 2016; disahihkan oleh al-Albani dalam <em>Sahih al-Jami&#8217;</em>, no. 3510.)</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2703/menyambut-bulan-ramadhan-penuh-berkah/">Menyambut Bulan Ramadhan Penuh Berkah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2703/menyambut-bulan-ramadhan-penuh-berkah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
