<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keutamaan lailatul qadar - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/keutamaan-lailatul-qadar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Mar 2026 09:00:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>keutamaan lailatul qadar - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kapan Lailatul Qadar Turun?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2888/kapan-lailatul-qadar-turun/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2888/kapan-lailatul-qadar-turun/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2026 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[10 malam terakhir ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[hadits lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[kapan lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[malam ganjil ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[malam lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[malam seribu bulan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tanda lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[tanda malam lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[waktu lailatul qadar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2888</guid>

					<description><![CDATA[<p>Malam yang Lebih Baik daripada 1000 Bulan, Kapan Itu? Menelusuri Dalil dan Penjelasan Syar’i Tentang Lailatul Qadar Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴾إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣)﴿ “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. (1) Dan tahukah kamu apakah malam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2888/kapan-lailatul-qadar-turun/">Kapan Lailatul Qadar Turun?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Malam yang Lebih Baik daripada 1000 Bulan, Kapan Itu?</strong></h2>
<p>Menelusuri Dalil dan Penjelasan Syar’i Tentang Lailatul Qadar</p>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah ﷻ berfirman:</p>
<p class="arab">﴾إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (<strong>١</strong>) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣)<strong>﴿</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (3)” </em>(QS. Al Qadr: 1-3)</p>
<p>Lailatul Qadar adalah malam paling agung dalam Islam. Namun pertanyaan yang selalu muncul setiap Ramadhan adalah <strong>Kapan tepatnya Lailatul Qadar terjadi? Apakah tanggal 27? Apakah selalu malam ganjil? Ataukah berpindah-pindah?</strong></p>
<p>Untuk menjawabnya, kita harus kembali kepada al Qur-an, hadits shahih, serta penjelasan para  ulama.</p>
<h3><strong>Lailatul Qadar Berada di Sepuluh Malam Terakhir Bulan Ramadhan</strong></h3>
<p>Dari oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah رضي الله عنها (w. 57 H), bahwasanya Rasulullah ﷺَ (w. 11 H) bersabda:</p>
<p class="arab">«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»</p>
<p><em>&#8220;Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.&#8221; </em>(HR. Muslim no. 1169)</p>
<p>Ini adalah pondasi utama terkait letak lailatul qadr. Tidak ada khilaf bahwa ia berada di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.</p>
<h3><strong>Apakah Hanya di Malam Ganjil?</strong></h3>
<p>Dari oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah رضي الله عنها (w. 57 H), bahwasanya Rasulullah ﷺَ (w. 11 H) bersabda:</p>
<p class="arab">«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»</p>
<p><em>“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” </em>(HR. al-Bukhari no. 2017).</p>
<p>Yang dimaksud dengan malam ganjil ialah malam ke 21, 23, 25, 27 dan 29. Maksudnya ialah Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dan lebih sering terjadi pada malam-malam ganjil, namun tidak terbatas pada satu malam tertentu. Karena itu seorang mukmin dianjurkan mencarinya dengan bersungguh-sungguh pada seluruh sepuluh malam terakhir. (<em>Majmu‘ Al Fatawa</em> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 25/284–286.)</p>
<h3><strong>Penjelasan Para Ulama</strong></h3>
<p>Zirr bin Hubaisy رحمه الله (w. 82 H) bertanya kepada Ubay bin Ka‘ab رضي الله عنه (w. 22 H)<strong>:</strong><br />
“Aku bertanya kepada Ubay bin Ka‘ab رضي الله عنه (w. 22 H), ‘Wahai Abu al-Mundzir, dari mana engkau mengetahui bahwa itu adalah malam ke-27?’ Ia menjawab, ‘Ya, Rasulullah ﷺ telah memberitahukan kepada kami bahwa malam itu adalah malam yang pada pagi harinya matahari terbit tanpa memiliki sinar yang menyilaukan.’” (HR. At Tirmidzi no. 793)</p>
<p>Namun ini ijtihad berdasarkan tanda yang beliau ketahui saat itu.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله (w. 728 H) menjelaskan terkait kapan terjadinya Lailatul Qadr:</p>
<p>“Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan. Demikianlah yang shahih dari Nabi ﷺ (w. 11 H) ketika beliau bersabda, <em>“Ia berada pada sepuluh malam terakhir dari Ramadhan.” </em>Malam tersebut terdapat pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam itu. Namun penentuan malam ganjil dapat dilihat dari dua sisi:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> dengan menghitung berdasarkan malam yang telah berlalu. Maka Lailatul Qadar dicari pada malam kedua puluh satu, malam kedua puluh tiga, malam kedua puluh lima, malam kedua puluh tujuh, dan malam kedua puluh sembilan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kedua,</strong> dengan menghitung berdasarkan malam yang masih tersisa, sebagaimana sabda Nabi ﷺ (w. 11 H): <em>“Pada malam ketika tersisa sembilan malam, tersisa tujuh malam, tersisa lima malam, dan tersisa tiga malam.” </em>Berdasarkan perhitungan ini, apabila bulan Ramadan berjumlah tiga puluh hari, maka malam-malam tersebut bisa jatuh pada malam genap. Dengan demikian, malam kedua puluh dua berarti tersisa sembilan malam, malam kedua puluh empat berarti tersisa tujuh malam, dan seterusnya.</p>
<p>Penafsiran seperti ini dijelaskan oleh Abu Sa‘id al-Khudri (w. 74 H) dalam hadits shahih. Demikian pula Nabi ﷺ (w. 11 H) beribadah pada malam-malam tersebut selama bulan Ramadan. Namun jika bulan Ramadan berjumlah dua puluh sembilan hari, maka perhitungan berdasarkan malam yang tersisa akan sama dengan perhitungan berdasarkan malam yang telah berlalu. Oleh karena itu, seorang mukmin seharusnya bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar pada seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan. (<em>Majmu‘ Al Fatawa,</em> 25/284-285).</p>
<p>Hikmah Allah ﷻ merahasiakan kapan terjadinya Lailatul Qadr adalah agar kaum muslimin bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan ibadah, sehingga peluang untuk meraih keutamaan malam yang lebih baik daripada seribu bulan menjadi lebih besar. Karena sebagaimana yang dijelaskan di atas ditekankan bahwasanya Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan dan lebih sering terjadi pada malam-malam ganjil, namun tidak ditentukan secara pasti pada satu malam tertentu dan sangat mungkin berpindah-pindah waktunya di setiap tahun. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2888/kapan-lailatul-qadar-turun/">Kapan Lailatul Qadar Turun?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2888/kapan-lailatul-qadar-turun/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fiqih Lailatul Qadar</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Ammi Nur Baits, ST. BA.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2026 06:05:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[fikih lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[itikaf ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[kajian ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan malam qadar]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[malam lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[malam seribu bulan]]></category>
		<category><![CDATA[tanda lailatul qadar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2882</guid>

					<description><![CDATA[<p>Fiqih Lailatul Qadar Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du, Al-Qadr bisa dibaca dengan 2 cara : [1] Dibaca dengan huruf dal di-sukun [ليلةُ القَدْرِ] (lailatul qadr) artinya malam kemuliaan. [2] Dibaca dengan huruf dal di-fathah [ليلةُ القَدَرِ] (lailatul qadr) artinya malam taqdir. Keutamaan Ada banyak keutamaan di malam qadar. [1] Malam diturunkannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/">Fiqih Lailatul Qadar</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Fiqih Lailatul Qadar</strong></h2>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du,</em></p>
<p><strong>Al-Qadr</strong> bisa dibaca dengan 2 cara :</p>
<p>[1] Dibaca dengan huruf dal di-sukun [ليلةُ القَدْرِ] (lailatul qadr) artinya malam kemuliaan.</p>
<p>[2] Dibaca dengan huruf dal di-fathah [ليلةُ القَدَرِ] (lailatul qadr) artinya malam taqdir.</p>
<h3><strong>Keutamaan</strong></h3>
<p>Ada banyak keutamaan di malam qadar.</p>
<p><strong>[1] Malam diturunkannya al-Quran</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatulqadar.” (QS. al-Qadar: 1)</p>
<p><strong>[2] Allah tetapkan takdir tahunan</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ</p>
<p>“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu sebagai ketetapan dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami-lah yang mengutus (para rasul).” (QS. ad-Dukhan: 4-5)</p>
<p><strong>[3] Malam yang diberkahi</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ</p>
<p>“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang penuh berkah.” (QS. ad-Dukhan: 3)</p>
<p><strong>[4] Ibadah di malam itu lebih baik dari pada ibadah 1000 bulan</strong></p>
<p>1000 bulan = 83 tahun + 4 bulan.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</p>
<p>“Malam Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadar : 3)</p>
<p><strong>[5] Jibril turun dengan membawa kebaikan</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ( ) سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>“Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. al-Qadar: 5-6)</p>
<p>Amalan Saat Lailatul Qadar</p>
<p>Dianjurkan untuk melakukan amal soleh apapun saat lailatul qadar, terutama qiyamul lail.</p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">ومن قامَ ليلةَ القَدرِ إيمانًا واحتسابًا غُفِرَ له ما تقَدَّمَ مِن ذَنبِه</p>
<p>“Barang siapa menghidupkan malam Lailatulqadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Juga dianjurkan untuk itikaf, agar selalu bertahan dalam amal soleh.</p>
<p>Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">من كان اعتكَفَ معي، فلْيعتكِفِ العَشرَ الأواخِرَ، وقد أُريتُ هذه الليلةَ ثم أُنسِيتُها، وقد رأيتُني أسجُدُ في ماءٍ وطِينٍ مِن صَبيحَتِها فالتَمِسوها في العَشرِ الأواخِرِ، والتَمِسوها في كُلِّ وِترٍ</p>
<p>“Barang siapa yang pernah <a href="https://tanyaislam.com/2878/hukum-seputar-itikaf-bag-2/" target="_blank" rel="noopener">beri‘tikaf bersamaku</a>, maka hendaklah ia beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir (Ramadan). Aku pernah diperlihatkan malam itu (Lailatulqadar), kemudian aku dibuat lupa mengenainya. Aku juga melihat diriku bersujud di air dan tanah pada pagi harinya. Maka carilah malam itu pada sepuluh malam terakhir, dan carilah pada setiap malam ganjil.” (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<h3><strong>Waktu Lailatul Qadar</strong></h3>
<p>Lailatul qadar ada di salah satu malam diantara 10 malam terakhir Ramadhan, terutama di malam ganjil.</p>
<p>Demikian yang dipahami dalam Madzhab Syafiiyah, Hambali, dan salah satu pendapat dalam madhzab Malikiyah, pendapat Ibnu Taimiyah, as-Shan’ani, Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.</p>
<p>Ibnu Taimiyah mengatakan,</p>
<p class="arab">ليلةُ القَدرِ في العَشرِ الأواخِرِ مِن شَهرِ رمضان، هكذا صحَّ عن النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم؛ أنَّه قال: هي في العَشرِ الأواخِرِ مِن رمضان، وتكونُ في الوِترِ منها</p>
<p>Lailatulqadar berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Demikianlah yang sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: malam tersebut berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, dan terjadi pada malam-malam ganjil di dalamnya. (Majmu’ al-Fatawa, 25/284)</p>
<p>Diantara dalil yang mendukung pendapat ini adalah</p>
<p>[1] Hadis dari Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">تَحَرَّوْا ليلةَ القَدْرِ في الوِترِ مِنَ العَشرِ الأواخِرِ مِن رَمَضانَ</p>
<p>“Carilah Lailatulqadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>[2] Hadis Ibnu Abbas Radhiyallahu &#8216;anhuma, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">التَمِسُوها في العَشرِ الأواخِرِ مِن رمضانَ، ليلةُ القَدْرِ في تاسعةٍ تبقى، في سابعةٍ تبقى، في خامسةٍ تبقى</p>
<p>“Carilah Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan: pada malam kesembilan yang tersisa, malam ketujuh yang tersisa, dan malam kelima yang tersisa.” (HR. Bukhari)</p>
<p>[3] Hadis Ibnu Umar Radhiyallahu &#8216;anhuma,</p>
<p>bahwa beberapa sahabat Nabi ﷺ diperlihatkan dalam mimpi tentang Lailatulqadar yang terjadi pada tujuh malam terakhir (Ramadan).</p>
<p>Lalu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">أرى رُؤيَاكم قد تواطَأَتْ في السَّبعِ الأواخِرِ، فمن كان مُتَحَرِّيَها فلْيتحَرَّها في السَّبعِ الأواخِرِ</p>
<p>“Aku melihat bahwa mimpi kalian saling bersesuaian pada tujuh malam terakhir. Karena itu, siapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<h3><strong>Tanda Lailatul Qadar</strong></h3>
<p>Tandanya terlihat di pagi harinya, matahari terbit dalam keadaan putih dan tidak terik.</p>
<p>Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">وأمارَتُها أن تطلُعَ الشَّمسُ في صبيحةِ يَومِها بيضاءَ لا شُعاعَ لها</p>
<p>“Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan putih dan tidak memancarkan sinar yang menyilaukan.” (HR. Muslim)</p>
<h3><strong>Tanda Orang yang Dapat Lailatul Qadar</strong></h3>
<p>Keyakinan bahwa tanda orang yang mendapat lailatul qadar akan mengalami kejadian luar biasa, adalah keyakinan yang tidak benar.</p>
<p>Bukan syarat untuk mendapat lailatul qadar harus mengalami kejadian aneh atau kejadian luar biasa. Bahkan keyakinan ini menjadikan orang pesimis dan mutung untuk beribadah. Karena merasa sudah sering ibadah di malam-malam ganjil, namun ternyata selama dia beribadah tidak mendapatkan kejadian aneh apapun.</p>
<p>lailatul qadar terjadi sepanjang malam, sejak maghrib hingga subuh. Semua orang yang melakukan ibadah ketika itu, berarti dia telah melakukan ibadah di lailatul qadar. Besar dan kecilnya pahala yang dia dapatkan, tergantung dari kualitas dan kuantitas ibadah yang dia kerjakan di malam itu.</p>
<p>Sekalipun dia hanya mengerjakan ibadah wajib saja, shalat maghrib dan isya di malam qadar, dia mendapatkan bagian pahala beribadah di lailatul qadar.</p>
<p>Imam Malik meriwayatkan secara balaghan (tanpa sanad), menukil keterangan Said bin Musayib tentang orang yang beribadah ketika lailatul qadar.</p>
<p class="arab">أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ كَانَ يَقُولُ: مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا</p>
<p>Bahwa Said bin Musayib pernah mengatakan, “Siapa yang ikut shalat isya berjamaah di lailatul qadar, berarti dia telah mengambil bagian lailatul qadar.” (Muwatha’ Malik, no. 1146).</p>
<p>Az-Zarqani menjelaskan,</p>
<p class="arab">فقد أخذ بحظه منها، أي: نصيبه من ثوابها</p>
<p>“dia telah mengambil bagian lailatul qadar” maknanya dia mendapat bagian dari pahala lailatul qadar. (Syarh az-Zarqani ‘ala Muwatha, 3/463).</p>
<h3><strong>Lailatul Qadar akan Selalu Ada</strong></h3>
<p>Sebagian orang meyakini bahwa lailatul qadar hanya ada di zaman Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam. Dan ini keyakinan yang salah.</p>
<p>Lailatul qadar akan senantiasa ada sampai kiamat.</p>
<p>Dari Abdullah bin Unais Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">أُرِيتُ ليلةَ القَدْرِ ثمَّ أُنْسِيتُها، وأُراني صُبْحَها أسجُدُ في ماءٍ وطِينٍ، قال: فمُطِرْنَا ليلةَ ثلاثٍ وعِشرينَ، فصلَّى بنا رسولُ الله، فانصرَفَ، وإنَّ أثَرَ الماءِ والطِّينِ على جَبهَتِه وأنفِه</p>
<p>“Aku pernah diperlihatkan tentang Lailatulqadar, kemudian aku dibuat lupa mengenainya. Dan aku melihat diriku pada pagi harinya bersujud di air dan tanah.”</p>
<p>Abdullah mengatakan: “Lalu pada malam kedua puluh tiga kami diguyur hujan. Rasulullah ﷺ pun mengimami kami salat. Setelah beliau selesai, tampak bekas air dan tanah pada dahi dan hidung beliau.” (HR. Muslim)</p>
<p>An-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">وأجمَعَ مَن يُعتَدُّ به على وُجودِها ودوامِها إلى آخِرِ الدَّهرِ؛ للأحاديثِ الصحيحةِ المشهورةِ</p>
<p>“Para ulama yang pendapatnya diperhitungkan telah bersepakat bahwa Lailatulqadar itu ada dan tetap berlangsung hingga akhir zaman, berdasarkan hadis-hadis sahih yang masyhur.” (Syarah Sahih Muslim, 8/57).</p>
<p>Allahu a’lam.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/">Fiqih Lailatul Qadar</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
