<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>macam najis - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/macam-najis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Dec 2025 09:13:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.1</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>macam najis - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Macam-Macam Najis Dan Cara Mencucikannya</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2687/macam-macam-najis-dan-cara-mencucikannya/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2687/macam-macam-najis-dan-cara-mencucikannya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2025 09:05:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[belajar fikih dasar]]></category>
		<category><![CDATA[bersuci dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[cara menyucikan najis]]></category>
		<category><![CDATA[contoh najis]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih najis]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum najis]]></category>
		<category><![CDATA[jenis najis]]></category>
		<category><![CDATA[kajian thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[macam najis]]></category>
		<category><![CDATA[materi thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[najis ainiyah]]></category>
		<category><![CDATA[najis babi dan anjing]]></category>
		<category><![CDATA[najis dalam kehidupan sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[najis dan cara mensucikannya]]></category>
		<category><![CDATA[najis hukmiyah]]></category>
		<category><![CDATA[najis menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[najis mughaladzah]]></category>
		<category><![CDATA[najis mukhaffafah]]></category>
		<category><![CDATA[najis mutawassithah]]></category>
		<category><![CDATA[najis ringan sedang berat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2687</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hukum Seputar Najis Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Dalam agama Islam, memahami konsep najis sangat penting, karena suci dan bersih dari najis adalah syarat sahnya ibadah terutama shalat, wudhu, mandi junub, dan lain-lain. Dalam tulisan ini kita akan membahas: apa itu najis, macam-macamnya, derajatnya, serta bagaimana cara mensucikan dari najis. Definisi Najis Najis secara bahasa adalah kotoran. Adapun secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2687/macam-macam-najis-dan-cara-mencucikannya/">Macam-Macam Najis Dan Cara Mencucikannya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Seputar Najis</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em><br />
Dalam agama Islam, memahami konsep<strong> najis</strong> sangat penting, karena suci dan bersih dari najis adalah syarat sahnya ibadah terutama shalat, wudhu, mandi junub, dan lain-lain. Dalam tulisan ini kita akan membahas: apa itu najis, macam-macamnya, derajatnya, serta bagaimana cara mensucikan dari najis.</p>
<h3><strong>Definisi Najis</strong></h3>
<p>Najis secara <strong>bahasa</strong> adalah kotoran. Adapun secara <strong>istilah</strong> adalah suatu benda yang dipandang jijik menurut syariat. Ada yang mengatakan Ia adalah setiap benda yang diharamkan untuk dikonsumsi; bukan karena kehormatannya, bukan karena kejijikannya dan bukan pula karena bahayanya bagi tubuh atau akal. Ada yang mengatakan: Ia adalah suatu sifat hukum yang menyebabkan bagi sesuatu yang disifati dengannya larangan untuk membolehkan salat dengannya atau di dalamnya. <a href="#_edn1" name="_ednref1">[1]</a></p>
<h3><strong>Klasifikasi Najis</strong></h3>
<p>Menurut sumber-sumber fiqh dan fatwa, najis dibagi berdasarkan beberapa aspek:</p>
<ul>
<li>Berdasarkan zat asal: <a href="#_edn2" name="_ednref2">[2]</a></li>
</ul>
<ol>
<li><strong>Najis ʿAiniyyah:</strong> Najis yang pada zatnya sendiri terdapat kotoran (najis), misalnya: air kencing, darah, air liur anjing dan sebagainya.</li>
<li><strong>Najis Ḥukmiyyah</strong><strong>:</strong> Najis yang bukan berasal dari zatnya yang mengandung najis, tetapi karena terkena sesuatu yang najis menempel padanya, misalnya pakaian suci yang terkena darah atau kencing. Dalam hal ini, asal zatnya suci, tetapi tempat atau pakaian menjadi najis karena kontaminasi.</li>
</ol>
<p>Pada kasus air: jika air terkena najis dan berubah sifatnya seperti warna, bau, atau rasa, maka air tersebut dianggap najis. Karena itu, tidak boleh menggunakan air yang sudah berubah sifat akibat najis untuk wudhu, mandi, atau mencuci najis lainnya. <a href="#_edn3" name="_ednref3">[3]</a></p>
<ul>
<li>Berdasarkan derajat / tingkatan najis: <a href="#_edn4" name="_ednref4">[4]</a></li>
</ul>
<ol>
<li><strong>Najis Khafifah / Ringan,</strong> misalnya kencing bayi laki-laki yang masih menyusu dan belum makan makanan padat. Cara menyucikannya hanya dengan dicipratkan dengan air hingga bagian itu basah tidak perlu dicuci menyeluruh.</li>
<li><strong>Najis Mutawashshithah / Sedang,</strong> misalnya kencing orang dewasa, tinja, darah haid/nifas, najis manusia umum, dll. Cara menyucikannya wajib dicuci sampai hilang najisnya artinya air mengalir dan hilang sifat najis.</li>
<li><strong>Najis Ghalizhah / Berat, </strong>misalnya air liur / darah dari anjing dan menurut sebagian ulama pula babi. Cara menyucikannya wajib dicuci tujuh kali, salah satunya dengan tanah (biasanya sabun tanah, atau air bercampur tanah) menurut praktek salaf.</li>
</ol>
<p>Pembagian ini sangat membantu agar meminimalisir khilafiyyah di tengah komunitas, karena setiap derajat najis memiliki tata cara berbeda dalam mensucikannya.</p>
<p><strong>Cara Mensucikan (Tathhir) Najis</strong></p>
<p>Setelah mengetahui macam dan derajat najis, kita harus tahu bagaimana cara mensucikannya agar barang/badan/air kembali suci, berikut ringkasan berdasarkan fiqh salaf:</p>
<ol>
<li><strong>Air sebagai sarana utama</strong></li>
</ol>
<p>Mayoritas ulama menegaskan bahwa air adalah sarana thaharah utama, sesuai petunjuk dalam al Qur-an dan Sunnah. <a href="#_edn5" name="_ednref5">[5]</a></p>
<p>Jika najis pada pakaian, badan, lantai, dsb, maka cukup dicuci dengan air sampai hilang najisnya (hilang warna, bau, atau rasa), kecuali kencing bayi laki-laki yang belum makan makanan padat. <a href="#_edn6" name="_ednref6">[6]</a></p>
<p>Jika tempat najis adalah tanah atau lantai semen/pasir, maka najis harus diangkat terlebih dahulu (misalnya kotoran, tinja), kemudian dicuci atau disiram air hingga hilang najis. Jika air tak tersedia, boleh ditimbun dengan tanah suci. <a href="#_edn7" name="_ednref7">[7]</a></p>
<ol start="2">
<li><strong>Apabila air terkena najis</strong></li>
</ol>
<p>Apabila air berubah sifat karena najis (mis. warna, bau, rasa), maka air itu dianggap najis dan tidak boleh digunakan untuk wudhu/mandi. <a href="#_edn8" name="_ednref8">[8]</a></p>
<p>Namun jika air sedikit tercampur najis tetapi tidak berubah sifatnya dan jumlah air cukup, maka sebagian ulama membolehkan memakai air tersebut untuk thaharah (tergantung madzhab). <a href="#_edn9" name="_ednref9">[9]</a></p>
<ol start="3">
<li><strong>Tathhir untuk najis berat (anjing, babi, dsb)</strong></li>
</ol>
<p>Najis dari anjing (dan dalam beberapa pendapat termasuk juga babi) termasuk kategori ghalizhah (berat), maka menurut sebagian besar ulama, harus dicuci tujuh kali, salah satunya dengan tanah.</p>
<p>Jika najis mengenai tubuh, pakaian, atau tempat — tetap dicuci tujuh kali sesuai ketentuan. <a href="#_edn10" name="_ednref10">[10]</a></p>
<ol start="4">
<li><strong>Niat dan syarat thaharah</strong></li>
</ol>
<p>Untuk menghilangkan najis menurut sebagian besar ulama tidak diperlukan niat khusus. Karena penghilangan najis bukan ibadah, melainkan sekedar mengangkat kotoran. <a href="#_edn11" name="_ednref11">[11]</a></p>
<p>Namun, bagi mereka yang berhati-hati atau mengikuti madzhab tertentu, ada pendapat yang mewajibkan niat meskipun ini bukan pendapat yang umum. <a href="#_edn12" name="_ednref12">[12]</a></p>
<p><strong>Mengapa Penting Memahami Pembagian Ini?</strong></p>
<p>Hal yang menyebabkan pentingnya memahami uraian di atas ialah:</p>
<ul>
<li>Memudahkan umat dalam mengetahui bagaimana mensucikan diri/pakaian/tempat tanpa berlebihan (ghuluw) atau terlalu ringan (taqshir).</li>
<li>Menghindarkan dari keraguan berlebihan (waswas) yang sering terjadi dalam masalah najis terutama ketika air, percikan, noda kecil, dsb. Jika kita memahami klasifikasi dan kaidah fiqh, kita bisa lebih yakin.</li>
<li>Menjaga sahnya ibadah: karena thaharah adalah syarat sahnya banyak ibadah seperti shalat, wudhu, dan juga menjaga kehormatan badan/pakaian/lingkungan dari najis.<strong style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;"> </strong></li>
</ul>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Najis secara bahasa berarti <strong>“kotoran”</strong>, secara syar‘i berarti kotoran yang diharamkan jika tidak disucikan. Najis dibagi menjadi <strong>ʿAiniyyah</strong> (asal zatnya najis) dan <strong>Hukmiyyah</strong> (kontaminasi terhadap yang suci). Selain itu, paling penting najis dikategorikan berdasarkan derajat <strong>ringan, sedang, berat/ghalizhah</strong> dan setiap derajat punya tata cara penyucian yang berbeda, dari sekadar disiram air, sampai dicuci tujuh kali dengan campuran tanah.</p>
<p>Air adalah sarana utama thaharah tetapi jika air tercemar dan berubah sifat (warna, bau, rasa), maka air itu dianggap najis. Oleh sebab itu, penting mengetahui apakah air yang kita pakai benar-benar suci atau tidak.</p>
<p>Bagi umat Muslim memahami pembagian ini membantu kita menjaga kebersihan secara legalistik (fiqh), agar ibadah dan kehidupan sehari-hari senantiasa bersih, suci, dan sesuai sunnah.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p>
<p><a href="#_ednref1" name="_edn1"></a><strong>Referensi:</strong></p>
<p>[1] https://dorar.net/feqhia/146/المبحث-الأوَّل-تعريف-النَّجاسة.</p>
<p>[2] https://islamqa.info/ar/answers/510163/النجاسة-أنواعها-وما-كيفية-التطهر-منها.</p>
<p>[3] https://dorar.net/feqhia/المبحث-الثَّالث-الماء-النَّجِس.</p>
<p>[4] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 2).</p>
<p>[5] https://dorar.net/feqhia/المبحث-الأوَّل-إزالة-النَّجاسةِ-بالماء.</p>
<p>[6] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 2).</p>
<p>[7] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 2).</p>
<p>[8] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 3).</p>
<p>[9] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 5).</p>
<p>[10] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 2).</p>
<p>[11] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 5).</p>
<p>[12] https://dorar.net/feqhia/المبحث-الرَّابع-حُكم-النِّية-للاستنجاء.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2687/macam-macam-najis-dan-cara-mencucikannya/">Macam-Macam Najis Dan Cara Mencucikannya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2687/macam-macam-najis-dan-cara-mencucikannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Macam-macam Najis dan Cara Mensucikanya</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2396/macam-macam-najis-dan-cara-mensucikanya/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2396/macam-macam-najis-dan-cara-mensucikanya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2025 23:01:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[hilang najis]]></category>
		<category><![CDATA[macam najis]]></category>
		<category><![CDATA[najis]]></category>
		<category><![CDATA[nama najis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2396</guid>

					<description><![CDATA[<p>Macam-macam Najis Para ulama fiqih memberikan beberapa definisi tentang najis yang berbeda beda. Hal tersebut Kembali kepada sudut pandang masing masing dalam menjelaskan makna Najis, kadang mereka mendefinisikan maksud yang terkandung dari najis itu sendiri, dan kadang mereka juga mendefinisikan berdasarkan hukum dari Najis tersebut, dengan mengatakan: &#8220;Najis adalah sifat yang menghalangi dari ini dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2396/macam-macam-najis-dan-cara-mensucikanya/">Macam-macam Najis dan Cara Mensucikanya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Macam-macam Najis</strong></h2>
<p>Para ulama fiqih memberikan beberapa definisi tentang najis yang berbeda beda. Hal tersebut Kembali kepada sudut pandang masing masing dalam menjelaskan makna Najis, kadang mereka mendefinisikan maksud yang terkandung dari najis itu sendiri, dan kadang mereka juga mendefinisikan berdasarkan hukum dari Najis tersebut, dengan mengatakan: <em>&#8220;Najis adalah sifat yang menghalangi dari ini dan itu&#8221;</em>. Sehingga dari sini ada perbedaan antara mendefinisikan zat najis itu sendiri, dan mendefinisikan hukumnya. Maka saya lebih memilih definisi najis berdasarkan defines zat najis itu sendiri karena ini yang saya anggap paling tepat:</p>
<p><strong>Najis adalah </strong>setiap zat (ain) yang dianggap menjijikkan menurut syariat dan diperintahkan oleh syariat untuk dijauhi.</p>
<ul>
<li>Kata <em>“zat (ain)”</em> maksudnya adalah sesuatu yang memiliki bentuk fisik atau dapat dirasakan dengan pancaindra, seperti warna, rasa, atau bau. Dengan batasan ini, maka keluar dari pengertian najis adalah <em>sifat (yang bersifat maknawi)</em>, karena itu termasuk ke dalam makna non-fisik (abstrak).</li>
<li>Kata <em>“yang dianggap menjijikkan menurut syariat”</em> dimaksudkan untuk mengecualikan sesuatu yang dianggap menjijikkan menurut tabiat manusia, tetapi tidak dinyatakan sebagai najis oleh syariat, seperti ingus, ludah, dan semisalnya.</li>
</ul>
<p>Para ulama sepakat bahwa najis wajib dihilangkan dan menjadi syarat sahnya shalat.</p>
<p>Al-Wazir (ulama fiqih) berkata:</p>
<p class="arab">أجمعوا على أن طهارة البدن من النجس شرط في صحة الصلاة للقادر عليها.</p>
<p><em>“Para ulama telah sepakat bahwa mensucikan badan dari najis merupakan syarat sah shalat bagi orang yang mampu.”</em></p>
<h3><strong>Pembagian Najis Menurut Ulama Fiqih:</strong></h3>
<p>Pembagian najis oleh para ulama sebenarbay adalah pembagian secara istilahi (konvensional), yang kadang mereka membagi ditinjau dari zat najis itu sendiri, dan kadang dari cara mensucikannya. Dan tidak ada perdebatan dalam penggunaan istilah ini.</p>
<p>Secara umum najis terbagi menjadi dua jenis:</p>
<ol>
<li><strong> Najis ‘Ainiyah (Najis Zat/Hakiki):</strong></li>
</ol>
<p>Yaitu najis yang <strong>zatnya memang najis</strong> dan tidak bisa menjadi suci dalam kondisi apa pun, seperti: kotoran keledai, darah, air seni dll.</p>
<p>Najis jenis ini wajib dihilangkan dari segi <strong>rasa, warna, dan bau</strong> jika ada.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Najis Hukmiyyah (Najis Hukum):</strong></li>
</ol>
<p>Yaitu najis yang bersifat <strong>maknawi atau tidak kasat mata</strong>, yang melekat pada anggota badan dan menghalangi sahnya shalat. Ini mencakup:</p>
<ul>
<li><strong>Hadats kecil</strong> (seperti buang air kecil atau besar) yang disucikan dengan <strong>wudhu</strong>,</li>
<li><strong>Hadats besar</strong> (seperti junub) yang disucikan dengan <strong>mandi besar (ghusl)</strong>.</li>
</ul>
<p>Inilah yang disebut dengan <strong>mutanajjis</strong> (benda yang terkena najis).</p>
<p>Dan alat utama untuk menghilangkan najis diatas adalah <strong>air</strong>, karena berdasarkan firman Allah ta’ala:</p>
<p class="arab">(وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ) [الأنفال: 11]</p>
<p><strong>&#8220;Dan Dia menurunkan kepadamu dari langit air (hujan) untuk mensucikan kamu dengannya.&#8221; </strong><em>(QS. Al-Anfal: 11)</em></p>
<p><strong>Pembagian Najis Berdasarkan Tingkatannya:</strong></p>
<p>Berdasarkan tingkatannya maka najis terbagi menjadi tiga tingkatan:</p>
<ol>
<li><strong> Najis Mughalazhah (Najis Berat):</strong></li>
</ol>
<p>Contohnya: <strong>anjing dan keturunannya</strong>.</p>
<p><strong>Cara mensucikannya:</strong><br />
Harus dicuci <strong>tujuh kali</strong>, dan <strong>salah satunya dengan tanah</strong>.</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">«طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ»</p>
<p><em>&#8220;Cara mensucikan bejana salah seorang dari kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, yang pertama kali dengan tanah.&#8221;</em> (HR. Bukhari no. 172, Muslim no. 279 – lafaz Muslim)</p>
<ol start="2">
<li><strong> Najis Mutawassitah (Najis Sedang):</strong></li>
</ol>
<p>Contohny seperti: air kencing, kotoran, bangkai dan semisalnya.</p>
<p><strong>Cara mensucikannya:</strong><br />
Dengan mencucinya menggunakan air hingga hilang najisnya. Jika najisnya berbentuk padat (berwujud), harus dibuang terlebih dahulu. Tidak mengapa bila warnanya masih tersisa setelah dicuci dengan baik, karena warna termasuk yang dimaafkan.</p>
<ol start="3">
<li><strong> Najis Mukhaffafah (Najis Ringan):</strong></li>
</ol>
<p>Contohnya: air kencing bayi laki-laki yang belum makan makanan (masih dalam usia menyusu).</p>
<p><strong>Cara mensucikannya:</strong><br />
Untuk air kencing <strong>bayi laki-laki</strong>, cukup memercikan air diatasnya secara merata. dan untuk bayi perempuan, air seninya <strong>harus dicuci</strong>. Dan jika bayi sudah makan makanan pokok, maka kencingnya disamakan dengan orang dewasa (harus dicuci).</p>
<p><strong>Cara Mensucikan Najis Berdasarkan Objek yang Terkena:</strong></p>
<p>Najis biasanya memiliki tiga ciri utama, yaitu: <strong>rasa</strong>, <strong>bau</strong>, dan <strong>warna</strong>.</p>
<ul>
<li>Jika setelah dicuci masih tersisa rasa atau bau, maka najis belum hilang dan harus dibersihkan .</li>
<li>Tapi jika hanya warnanya saja yang tersisa setelah dicuci bersih, maka dimaafkan.</li>
</ul>
<p><strong>Berikut adalah empat jenis benda yang sering terkena najis:</strong></p>
<ol>
<li><strong> Tanah/Lantai:</strong></li>
</ol>
<p>Jika najis jatuh di tanah atau lantai:</p>
<ul>
<li>Bila najisnya berbentuk padat (seperti kotoran), buang dulu najisnya, lalu siram air ke tempatnya hingga hilang.</li>
<li>Jika berupa air kencing, cukup disiram air di tempat yang terkena hingga najisnya hilang.</li>
</ul>
<p class="arab">عَنْ أنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنهُ، أنَّ أعْرَابِيّاً بَالَ فِي المَسْجِدِ، فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْضُ القَوْمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم -: «دَعُوهُ وَلا تُزْرِمُوهُ». قالَ: فَلَمَّا فَرَغَ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ، فَصَبَّهُ عَلَيْهِ.</p>
<p>Dari Anas رضي الله عنه, seorang Arab Badui kencing di masjid, lalu sebagian sahabat berdiri untuk mencegahnya. Rasulullah ﷺ bersabda:<br />
<em>“Biarkan dia dan jangan ganggu dia.”</em> Setelah orang itu selesai, Rasulullah memerintahkan untuk membawa seember air kepada dirinya kemudian disiramkan ke tempat kencing tersebut. (HR. Bukhari no. 6025, Muslim no. 284 – lafaz Muslim)</p>
<ol start="2">
<li><strong> Air:</strong></li>
</ol>
<p>Jika najis masuk ke dalam air maka Air menjadi suci kembali jika najis itu <strong>diangkat</strong> atau hilang <strong>rasa, bau, dan warnanya</strong>, baik dengan cara:</p>
<ul>
<li>dikuras .</li>
<li>mengalir sendiri,</li>
<li>ditambah air yang banyak,</li>
<li>menggunakan alat penyaring modern, atau cara lainnya.</li>
</ul>
<ol start="3">
<li><strong> Pakaian dan Alas (Seperti Karpet, Kasur):</strong></li>
</ol>
<p>Jika terkena najis maka bisa disucikan dengan cara:</p>
<p>Dicuci menggunakan air atau pembersih suci lainnya, atau digosok sehingga najisnya terangkat dan diperas, lalu dikeringkan hingga hilang najisnya.</p>
<p>Adapun <strong>sepatu dan sandal</strong> yang terkena najis, bisa disucikan dengan menggosokkannya ke tanah hingga hilang bekas najisnya.</p>
<ol start="4">
<li><strong> Peralatan/Mangkuk/Bejana:</strong></li>
</ol>
<p>Jika terkena najis, maka dicuci dengan air atau pembersih lainnya seperti sabun dan semisalnya sampai najisnya hilang.</p>
<p>Allah ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">{مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (6)} [المائدة:6].</p>
<p><strong>&#8220;</strong><em>Allah tidak ingin menyulitkan kalian, tetapi Dia ingin mensucikan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian agar kalian bersyukur.&#8221; (QS. Al-Ma&#8217;idah: 6)</em>.</p>
<p><em>Wallahua’lam…</em></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ul>
<li><em>Al-Fiqh al-Muyassar fi Dhau’il-Kitab was-Sunnah</em> (1/35)</li>
<li><em>Mawsu’at Ahkam ath-Thaharah</em> karya Dr. Khalid al-Dubayyan (1/22, cet. 3)</li>
<li><em>Asy-Syarh al-Mumti’</em> oleh Syaikh Ibnu Utsaimin (1/414)</li>
<li><em>Mawsu’at al-Fiqh al-Islami</em> karya at-Tuwaijiri (2/327)</li>
<li><em>Tawdih al-Ahkam min Bulugh al-Maram</em> (1/168)</li>
</ul><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2396/macam-macam-najis-dan-cara-mensucikanya/">Macam-macam Najis dan Cara Mensucikanya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2396/macam-macam-najis-dan-cara-mensucikanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
