<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>memahami hadits - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/memahami-hadits/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Oct 2026 07:18:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>memahami hadits - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Istilah-Istilah dalam Musthalah Hadits</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3214/istilah-istilah-dalam-musthalah-hadits/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3214/istilah-istilah-dalam-musthalah-hadits/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2026 07:17:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[belajar ilmu hadits]]></category>
		<category><![CDATA[belajar musthalah hadits]]></category>
		<category><![CDATA[dasar ilmu hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hadits ahad]]></category>
		<category><![CDATA[hadits dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[hadits hasan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits mutawatir]]></category>
		<category><![CDATA[hadits shahih]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu hadits]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu musthalah hadits]]></category>
		<category><![CDATA[istilah dalam hadits]]></category>
		<category><![CDATA[istilah hadits dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[istilah hadits shahih]]></category>
		<category><![CDATA[istilah istilah hadits]]></category>
		<category><![CDATA[istilah musthalah hadits]]></category>
		<category><![CDATA[kajian hadits]]></category>
		<category><![CDATA[klasifikasi hadits]]></category>
		<category><![CDATA[matan hadits]]></category>
		<category><![CDATA[memahami hadits]]></category>
		<category><![CDATA[musthalah hadits]]></category>
		<category><![CDATA[pembagian hadits]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian musthalah hadits]]></category>
		<category><![CDATA[perawi hadits]]></category>
		<category><![CDATA[sanad hadits]]></category>
		<category><![CDATA[ulumul hadits]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3214</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengenal Sebagian Istilah Penting dalam Mushtholah Hadits Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Pada artikel sebelumnya, kita telah mengenal dasar-dasar mushtholah hadits dan memahami bahwa sebuah hadits tidak cukup hanya dinilai dari isi atau popularitasnya, tetapi perlu diteliti melalui sanad dan matan serta berbagai kaidah yang telah dijelaskan para ulama. Namun, pembahasan ilmu hadits ternyata tidak berhenti pada istilah shahih, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3214/istilah-istilah-dalam-musthalah-hadits/">Istilah-Istilah dalam Musthalah Hadits</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Mengenal Sebagian Istilah Penting dalam Mushtholah Hadits</strong></h2>
<p><em>Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Pada artikel sebelumnya, kita telah mengenal dasar-dasar mushtholah hadits dan memahami bahwa sebuah hadits tidak cukup hanya dinilai dari isi atau popularitasnya, tetapi perlu diteliti melalui sanad dan matan serta berbagai kaidah yang telah dijelaskan para ulama. Namun, pembahasan ilmu hadits ternyata tidak berhenti pada istilah <strong>shahih, hasan, dan dhaif</strong>. Kita masih akan menemukan banyak istilah lain seperti <strong>marfu&#8217;, mawquf, maqthu&#8217;, mursal, munqathi&#8217;, mu&#8217;dhal, mu&#8217;allaq, gharib, syadz, &#8216;illah dst</strong>. Memahami istilah-istilah ini akan membantu kita membaca kitab hadits dengan lebih tepat, memahami ucapan para ulama, dan tidak terburu-buru menyimpulkan status sebuah riwayat hanya berdasarkan istilah yang kita dengar. Karena artikel ini hanya memuat sebagian kecilnya saja, maka bagi yang ingin lebih mendalami, disarankan untuk belajar kepada guru yang kompeten di bidangnya.</p>
<h3><strong>Marfu&#8217;, Mawquf, dan Maqthu&#8217;</strong></h3>
<p>Dalam ilmu mushtholah hadits, sebuah riwayat dapat dibedakan berdasarkan <strong>kepada siapa riwayat tersebut disandarkan pada ujung sanadnya</strong>.</p>
<p>Apakah sampai kepada Rasulullah ﷺ? Apakah berhenti pada sahabat? Ataukah berhenti pada tabi&#8217;in? Dari sinilah muncul tiga istilah penting: <strong>marfu&#8217;, mawquf, dan maqthu&#8217;</strong>.</p>
<p>Namun, para ulama terdahulu memberikan beberapa rincian dalam penggunaan istilah tersebut. Karena itu, memahami definisi mereka akan membantu kita agar tidak keliru ketika membaca kitab-kitab hadits.</p>
<h3><strong>Pertama: Marfu&#8217;</strong></h3>
<p><strong>Marfu&#8217;</strong> adalah riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah ﷺ.</p>
<p>Imam Ibnu Shalah rahimahullah (w. 643 H) mendefinisikannya:</p>
<p class="arab">وَهُوَ مَا أُضِيفَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ خَاصَّةً</p>
<p>“Marfu&#8217; adalah riwayat yang disandarkan secara khusus kepada Rasulullah ﷺ.” (<em>Muqaddimah Ibnu ash-Shalah</em>, Pengertian Hadits Marfu’, 1/45).</p>
<p>Ibnu Shalah menjelaskan bahwa dalam istilah ini termasuk riwayat yang sanadnya <strong>bersambung maupun terputus</strong>, bahkan termasuk mursal dan bentuk keterputusan lainnya. Dengan demikian, istilah <strong>marfu&#8217; menjelaskan kepada siapa riwayat itu disandarkan</strong>, bukan otomatis menunjukkan bahwa sanadnya shahih atau bersambung. Ini poin yang sangat penting. Misalnya seseorang meriwayatkan:</p>
<p class="arab">قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ &#8230;</p>
<p>“Rasulullah ﷺ bersabda&#8230;” Maka riwayat itu disebut <strong>marfu&#8217;</strong>, meskipun sanad yang sampai kepada Rasulullah ﷺ ternyata terputus. Jadi <strong>Marfu&#8217; tidak otomatis berarti shahih.</strong></p>
<p>Sebuah riwayat bisa berstatus <strong>marfu&#8217; tetapi dhaif</strong>, karena penisbatan kepada Nabi ﷺ adalah satu pembahasan, sedangkan kualitas sanad merupakan pembahasan yang lain.</p>
<h3><strong>Kedua: Mawquf</strong></h3>
<p><strong>Mawquf</strong> adalah riwayat yang berhenti pada sahabat dan tidak melewati mereka sampai kepada Rasulullah ﷺ.</p>
<p>Imam Ibnu Shalah rahimahullah (w. 643 H) mendefinisikannya:</p>
<p class="arab">وَهُوَ مَا يُرْوَى عَنِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مِنْ أَقْوَالِهِمْ أَوْ أَفْعَالِهِمْ وَنَحْوِهَا، فَيُوقَفُ عَلَيْهِمْ، وَلَا يُتَجَاوَزُ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ</p>
<p>“Mawquf adalah apa yang diriwayatkan dari para sahabat berupa perkataan, perbuatan, dan semisalnya, lalu riwayat itu berhenti pada mereka dan tidak melewatinya sampai kepada Rasulullah ﷺ.” (<em>Muqaddimah Ibnu ash-Shalah</em>, Pengertian Hadits Mauquf, 1/46).</p>
<p>Contohnya:</p>
<p class="arab">قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ&#8230;</p>
<p>“Umar bin al-Khaththab radhiyallahu &#8216;anhu berkata&#8230;”</p>
<p>Jika perkataan tersebut memang berhenti pada Umar radhiyallahu &#8216;anhu dan tidak dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ, maka secara istilah disebut <strong>mawquf</strong>.</p>
<h3><strong>Ketiga: Maqthu&#8217;</strong></h3>
<p>Adapun <strong>maqthu&#8217;</strong> adalah riwayat yang berhenti pada <strong>tabi&#8217;in</strong>.</p>
<p>Imam Ibnu Shalah rahimahullah (w. 643 H) berkata:</p>
<p class="arab">وَهُوَ مَا جَاءَ عَنِ التَّابِعِينَ مَوْقُوفًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَقْوَالِهِمْ أَوْ أَفْعَالِهِمْ</p>
<p>“Maqthu&#8217; adalah apa yang berasal dari tabi&#8217;in berupa perkataan atau perbuatan mereka yang berhenti pada mereka.” (<em>Muqaddimah Ibnu ash-Shalah</em>, Pengertian Hadits Maqthu&#8217;, 1/47).</p>
<p>Contohnya:</p>
<p class="arab">قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ رَحِمَهُ اللَّهُ&#8230;</p>
<p>“Sa&#8217;id bin al-Musayyib rahimahullah berkata&#8230;”</p>
<p>Sa&#8217;id bin al-Musayyib adalah seorang tabi&#8217;in. Jika riwayat tersebut memang berhenti pada beliau dan tidak dinisbatkan kepada sahabat atau Rasulullah ﷺ, maka disebut <strong>maqthu&#8217;.</strong></p>
<h2><strong>Maqthu&#8217; berbeda dengan munqathi&#8217;</strong></h2>
<p>Ini kesalahan istilah yang cukup sering terjadi. <strong>Maqthu&#8217;</strong> berkaitan dengan <strong>kepada siapa riwayat tersebut disandarkan</strong>, sedangkan <strong>munqathi&#8217;</strong> berkaitan dengan <strong>terputusnya sanad</strong>.</p>
<p>Imam Ibnu Shalah rahimahullah (w. 643 H) berkata:</p>
<p class="arab">
وَأَنَّ الْمُنْقَطِعَ مِنْهُ الْإِسْنَادُ فِيهِ قَبْلَ الْوُصُولِ إِلَى التَّابِعِيِّ رَاوٍ لَمْ يَسْمَعْ مِنَ الَّذِي فَوْقَهُ، وَالسَّاقِطُ بَيْنَهُمَا غَيْرُ مَذْكُورٍ، لَا مُعَيَّنًا وَلَا مُبْهَمًا. وَمِنْهُ: الْإِسْنَادُ الَّذِي ذُكِرَ فِيهِ بَعْضُ رُوَاتِهِ بِلَفْظٍ مُبْهَمٍ نَحْوَ رَجُلٍ، أَوْ شَيْخٍ، أَوْ غَيْرِهِمَا</p>
<p>“Adapun munqathi&#8217; adalah sanad yang di dalamnya terjadi keterputusan sebelum sampai kepada tabi&#8217;in, yaitu terdapat seorang perawi yang meriwayatkan dari orang yang berada di atasnya, padahal ia tidak pernah mendengar riwayat darinya. Perawi yang terputus di antara keduanya tersebut tidak disebutkan, baik identitasnya secara jelas maupun secara samar. Termasuk kategori munqathi&#8217; adalah sanad yang salah satu perawinya disebut dengan lafaz yang tidak jelas, seperti ‘rajulun’ (seorang lelaki), ‘syaikhun’ (seorang syaikh) atau ungkapan samar lainnya.” (<em>Muqaddimah Ibnu ash-Shalah</em>, Pengertian Hadits Munqathi&#8217;, 1/57).</p>
<p>Maka <strong>Maqthu&#8217; ≠ Munqathi&#8217;. </strong>Karena <strong>Maqthu&#8217; </strong>berkaitan dengan kepada siapa hadits dinisbatkan, sedangkan <strong>Munqathi&#8217;</strong> berkaitan dengan putusnya sanad suatu hadits dari tabi’in hingga ke Rasulullah ﷺ.</p>
<p>Ilmu mushtholah hadits memang memiliki banyak istilah dan pembahasan yang cukup luas, artikel ini hanya memuat sebagian kecilnya saja, walau demikian, semuanya itu pada akhirnya mengajarkan kita satu hal yang sangat penting: <strong>bersikap amanah terhadap sunnah Rasulullah </strong><strong>ﷺ</strong>. Dengan memahami perbedaan antara marfu&#8217;, mawquf, dan berbagai istilah lainnya, serta mengetahui proses bagaimana seorang ulama menilai sebuah hadits, kita akan semakin memahami betapa telitinya para ulama dalam menjaga hadits Nabi ﷺ dan bersikap hati-hati ketika menerima sebuah riwayat, dan mengembalikan perkara yang rumit kepada para ulama yang memiliki keahlian. Dengan demikian, mempelajari mushtholah hadits bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk <strong>sikap ilmiah, kehati-hatian, dan kecintaan kita terhadap sunnah Nabi </strong><strong>ﷺ</strong>. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3214/istilah-istilah-dalam-musthalah-hadits/">Istilah-Istilah dalam Musthalah Hadits</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3214/istilah-istilah-dalam-musthalah-hadits/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
