<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>qurban atas nama orang meninggal - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/qurban-atas-nama-orang-meninggal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 May 2026 00:31:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
	<item>
		<title>Hukum Qurban untuk Orang Meninggal</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2989/hukum-qurban-untuk-orang-meninggal/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2989/hukum-qurban-untuk-orang-meninggal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2026 00:29:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[dalil qurban untuk orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih qurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berqurban untuk keluarga yang sudah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam tentang qurban mayit]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qurban mayit]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qurban menurut ulama]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qurban untuk orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah qurban]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan qurban mayit]]></category>
		<category><![CDATA[qurban atas nama orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[qurban atas nama orang tua meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[qurban dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[qurban keluarga meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[qurban untuk mayit]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara qurban untuk mayit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2989</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bolehkah Berqurban Atas Nama Orang yang Telah Meninggal Pada dasarnya, qurban disyariatkan untuk orang yang masih hidup. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yaitu mereka berqurban untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Adapun anggapan sebagian masyarakat bahwa qurban itu khusus untuk orang yang telah meninggal, maka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2989/hukum-qurban-untuk-orang-meninggal/">Hukum Qurban untuk Orang Meninggal</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Bolehkah Berqurban Atas Nama Orang yang Telah Meninggal</strong></h2>
<p>Pada dasarnya, qurban disyariatkan untuk orang yang masih hidup. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong> dan para sahabatnya, yaitu mereka berqurban untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka.</p>
<p>Adapun anggapan sebagian masyarakat bahwa qurban itu khusus untuk orang yang telah meninggal, maka anggapan tersebut tidak memiliki dasar.</p>
<h3><strong>Hukum Berqurban untuk Orang yang Telah Meninggal</strong></h3>
<p>Qurban untuk orang yang telah meninggal dapat dibagi menjadi tiga bentuk:</p>
<p><strong>Pertama: Berqurban untuk Orang yang Meninggal sebagai Bagian dari Qurban Orang yang Masih Hidup</strong></p>
<p>Bentuk pertama adalah seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya, lalu ia meniatkan pahala qurban tersebut untuk anggota keluarganya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.</p>
<p>Bentuk seperti ini diperbolehkan.</p>
<p>Dasarnya adalah praktik Nabi Muhammad <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong>, ketika beliau berqurban untuk dirinya dan keluarganya. Di antara keluarga beliau tentu ada yang telah meninggal sebelumnya.</p>
<p>Dalam masalah ini, apabila beberapa orang ikut serta dalam satu ekor kambing, atau dalam sepertujuh bagian dari seekor unta atau sapi, maka perlu dibedakan antara dua bentuk berikut:</p>
<ol>
<li><strong> Ikut Serta dalam Pahala Qurban</strong></li>
</ol>
<p>Yang dimaksud dengan ikut serta dalam pahala qurban adalah pemilik hewan qurban hanya satu orang, tetapi ia mengikutsertakan orang lain dari kalangan kaum muslimin dalam pahala qurban tersebut.</p>
<p>Bentuk seperti ini diperbolehkan, berapa pun jumlah orang yang diikutsertakan, karena karunia Allah sangat luas. Namun, penyertaan pahala tersebut dilakukan sebelum penyembelihan.</p>
<p class="arab">فعن عائشة -رضي الله عنها-: أن النَّبي &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; أمر بكبشٍ أقرنَ يَطَأُ في سواد، ويَبْرُك في سَواد، وينظر في سواد، فأتي به، ليضحي به، وقال لها: &#8220;يا عائشة! هَلُمِّي المُدْيَةَ&#8221;، ثم قال: &#8220;اشْحذيها بِحَجَر&#8221;، ففعلت، ثم أخذ الكبش فأضجعه، ثم ذبحه، ثم قال: &#8220;‌باسم ‌الله، ‌اللهم ‌تقبلْ ‌من ‌محمدٍ وآلِ محمدٍ، ومن أمةِ محمدٍ&#8221;</p>
<p>Dari ‘Āisyah <strong>radhiyallāhu ‘anhā</strong>, disebutkan bahwa Nabi <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong> memerintahkan agar dibawakan seekor domba jantan bertanduk, yang bagian kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Lalu domba itu dibawakan kepada beliau untuk diqurbankan.</p>
<p>Beliau berkata kepada ‘Āisyah:m“Wahai ‘Āisyah, bawakan kepadaku pisau.”</p>
<p>Kemudian beliau berkata: “Asahlah pisau itu dengan batu.”</p>
<p>‘Āisyah pun melakukannya. Setelah itu, Nabi <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong> mengambil domba tersebut, membaringkannya, lalu menyembelihnya seraya membaca:</p>
<p>“Bismillāh, Allāhumma taqabbal min Muḥammad, wa āli Muḥammad, wa min ummati Muḥammad.”<br />
“Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.”</p>
<p>Kemudian beliau menyembelihnya. <strong><em>(HR. Muslim no. 1967 dan Abū Dāwud no. 2792).</em></strong></p>
<p>Imam al-Nawawī <strong>rahimahullāh</strong> menjelaskan bahwa hadis ini dijadikan dalil oleh ulama yang membolehkan seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya, serta mengikutsertakan mereka dalam pahala qurban. Ini adalah pendapat mazhab Syafi‘I. <strong><em>(Syarh Shahih Muslim al-Nawawī, 5/105–106).</em></strong></p>
<p>Dengan demikian, apabila seseorang menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan dan menyertakn pahala berqurban untuk keluarganya, atau untuk siapa saja yang ia kehendaki dari kalangan kaum muslimin, maka hal itu sah.</p>
<p>Demikian pula, apabila seseorang berqurban dengan sepertujuh bagian dari seekor unta atau sapi untuk dirinya dan keluarganya, atau untuk siapa saja yang ia kehendaki dari kalangan kaum muslimin, maka hal itu juga sah. Sebab, Nabi <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong> telah menjadikan sepertujuh bagian dari unta atau sapi setara dengan satu ekor kambing dalam masalah hadyu. Maka, demikian pula dalam masalah qurban, tidak ada perbedaan.</p>
<p>Namun, menurut sebagian ulama, kebolehan mengikutsertakan orang lain dalam pahala qurban ini memiliki tiga syarat:</p>
<ol>
<li>Orang yang diikutsertakan tinggal bersama orang yang berqurban.</li>
<li>Orang tersebut merupakan kerabatnya, meskipun hubungan kekerabatannya jauh, atau ia adalah istrinya.</li>
<li>Orang yang berqurban menanggung nafkah orang yang diikutsertakan, baik nafkah itu wajib, seperti nafkah kepada kedua orang tua dan anak-anaknya yang masih kecil lagi miskin, maupun nafkah sukarela, seperti kepada anak-anaknya yang kaya, paman, saudara laki-laki, atau paman dari pihak ibu.</li>
</ol>
<p>Al-Hattab al-Ru‘ainī al-Mālikī menyebutkan bahwa penyertaan orang lain dalam pahala qurban itu sah, meskipun jumlahnya lebih dari tujuh orang, selama orang tersebut tinggal bersamanya, memiliki hubungan kekerabatan dengannya, dan ia menafkahinya, walaupun nafkah tersebut bersifat sukarela. (Lihat: <strong><em>Mawāhib al-Jalīl, jilid 3, hlm. 240 dan setelahnya. Lihat juga: al-Mausū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 5/78</em></strong>).</p>
<ol start="2">
<li><strong> Ikut Serta dalam Kepemilikan Hewan Qurban</strong></li>
</ol>
<p>Bentuk kedua adalah dua orang atau lebih bersama-sama memiliki hewan qurban, lalu mereka menyembelih hewan tersebut sebagai qurban.</p>
<p>Bentuk seperti ini tidak diperbolehkan, kecuali pada hewan qurban berupa unta atau sapi, dan itu pun maksimal untuk tujuh orang saja.</p>
<p>Hal ini karena qurban adalah ibadah dan bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta‘ālā. Karena itu, ibadah qurban tidak boleh dilakukan kecuali sesuai dengan cara yang telah disyariatkan, baik dari sisi waktu, jumlah, maupun tata caranya.</p>
<p>Maksud utama qurban bukan sekadar mendapatkan daging untuk dimanfaatkan atau disedekahkan. Maksud utama qurban adalah menegakkan salah satu syiar Allah sesuai dengan cara yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, pelaksanaannya harus dibatasi sesuai dengan ketentuan syariat.</p>
<p>Seandainya kepemilikan bersama dalam qurban selain unta dan sapi itu diperbolehkan, tentu para sahabat <strong>radhiyallāhu ‘anhum</strong> akan melakukannya. Sebab, alasan untuk melakukannya sangat kuat pada masa mereka. Mereka adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam kebaikan, sementara di antara mereka juga terdapat orang-orang miskin yang mungkin tidak mampu membeli hewan qurban secara utuh.</p>
<p>Jika praktik seperti itu pernah mereka lakukan, tentu akan dinukilkan kepada umat, karena masalah ini termasuk perkara yang sangat dibutuhkan oleh kaum muslimin. (Lihat: <strong><em>Ibn ‘Utsaimīn, Aḥkām al-Uḍḥiyah wa al-Dzakāh, 2/230–232</em></strong>).</p>
<p>Al-Kāsānī menjelaskan bahwa seekor kambing atau domba dalam qurban tidak sah kecuali untuk satu orang. Satu ekor sapi atau satu ekor unta tidak mencukupi untuk lebih dari tujuh orang. Namun, satu ekor sapi atau unta boleh dijadikan qurban untuk tujuh orang atau kurang dari itu.</p>
<p>Ini adalah pendapat mayoritas ulama, berdasarkan hadis Jābir <strong>radhiyallāhu ‘anhu</strong>, dari Rasulullah <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong>:</p>
<p class="arab">&#8220;البدنة تجزئ عن سبعة والبقرة عن سبعة &#8220;</p>
<p>“Seekor unta mencukupi untuk tujuh orang, dan seekor sapi mencukupi untuk tujuh orang.” <strong><em>(HR. Muslim no. 1318, Abū Dāwud no. 2809, dan al-Tirmiżī no. 904).</em></strong></p>
<p>Ketentuan ini berlaku secara umum, tanpa membedakan apakah tujuh orang tersebut berasal dari satu rumah tangga atau dari rumah tangga yang berbeda.</p>
<p>Secara qiyās, qurban pada asalnya tidak boleh dilakukan untuk lebih dari satu orang. Akan tetapi, qiyās tersebut ditinggalkan karena adanya hadis yang menunjukkan kebolehan satu ekor unta atau sapi untuk tujuh orang. Maka, kebolehan itu dibatasi sampai tujuh orang saja. <strong><em>(Badā’i‘ al-Ṣanā’i‘, jilid 5, hlm. 70).</em></strong></p>
<p><strong>Kedua: Berqurban untuk Orang yang Telah Meninggal Berdasarkan Wasiatnya</strong></p>
<p>Bentuk kedua adalah berqurban untuk orang yang telah meninggal karena adanya wasiat dari orang tersebut.</p>
<p>Jika seseorang yang telah meninggal berwasiat agar dilakukan qurban untuknya, maka wasiat itu boleh dilaksanakan. Bahkan, pelaksanaannya menjadi wajib berdasarkan kesepakatan ulama, selama orang yang menerima amanah wasiat mampu melaksanakannya.</p>
<p>Apabila qurban tersebut memang wajib atas orang yang meninggal, misalnya karena nazar atau sebab lain, maka ahli waris wajib melaksanakannya. (Lihat: <strong><em>al-Mausū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 5/106</em></strong>).</p>
<p>Dasar dari kewajiban menjalankan wasiat ini adalah firman Allah Ta‘ālā:</p>
<p class="arab">{‌فَمَنْ ‌بَدَّلَهُ ‌بَعْدَ ‌مَا ‌سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ}</p>
<p><strong> “</strong>Barangsiapa mengubahnya (wasiat itu), setelah mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya hanya bagi orang yang mengubahnya. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” ( <strong><em>QS. al-Baqarah: 181</em></strong>)</p>
<p>Selain itu, terdapat riwayat dari Ḥanasy. Ia berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;رأيت علياً يضحي بكبشين، فقلت له: ما هذا؟ فقال: &#8220;إن رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; أوصاني ‌أن ‌أضحي ‌عنه، فأنا أضحي عنه&#8221;</p>
<p>“Aku melihat ‘Alī berqurban dengan dua ekor kambing jantan. Lalu aku bertanya kepadanya, ‘Apa ini?’ Maka ‘Alī menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong> telah berwasiat kepadaku agar aku berqurban untuk beliau. Maka aku berqurban untuk beliau.’” (<strong><em>HR. al-Tirmiżī no. 1495, dan beliau berkata: “Hadis ini ḥasan gharīb.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Ḥākim dalam al-Mustadrak, dan beliau menilainya sahih, 4/255</em></strong>). I’m</p>
<p><strong>Ketiga: Berqurban untuk Orang yang Telah Meninggal Secara Mandiri sebagai Bentuk Sedekah atau Hadiah Pahala</strong></p>
<p>Bentuk ketiga adalah seseorang berqurban secara khusus untuk orang yang telah meninggal, bukan sebagai bagian dari qurban orang yang masih hidup, dan bukan pula karena wasiat. Misalnya, seseorang menyembelih satu hewan qurban secara khusus untuk ayahnya yang telah meninggal, atau untuk ibunya yang telah meninggal.</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berqurban untuk mayit secara mandiri sebagai bentuk tabarru‘ atau pemberian sukarela dari orang yang masih hidup.</p>
<p>Dalam masalah ini terdapat dua pendapat.</p>
<p><strong>Pendapat Pertama: Tidak Boleh Berqurban untuk Mayit Secara Mandiri Jika Tidak Ada Wasiat</strong></p>
<p>Pendapat pertama menyatakan bahwa qurban tidak boleh dilakukan untuk orang yang telah meninggal secara mandiri, meskipun sebagai bentuk sukarela dari orang yang masih hidup, jika mayit tersebut tidak pernah mewasiatkannya.</p>
<p>Pendapat ini dinyatakan oleh Abū Yūsuf dan diikuti oleh sebagian ulama Hanafiyyah. Ini juga merupakan pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi‘i.</p>
<p>Imam al-Nawawī <strong>rahimahullāh</strong> berkata:</p>
<p>“Tidak boleh berqurban untuk orang lain tanpa izinnya, dan tidak boleh pula berqurban untuk mayit jika ia tidak mewasiatkannya.”</p>
<p>Mayoritas ulama Mālikiyyah memakruhkannya. Imam Mālik bin Anas <strong>rahimahullāh</strong> berkata:</p>
<p>“Bukan termasuk amalan yang berlaku, seseorang berqurban untuk kedua orang tuanya yang telah meninggal. Aku tidak menyukai hal itu.”</p>
<p>Syekh Ibn ‘Utsaimīn <strong>rahimahullāh</strong> juga cenderung kepada pendapat yang melarang.</p>
<p>(Lihat: <strong><em>Ibn Nujaim, al-Baḥr al-Rā’iq, 8/202; Minhāj al-Ṭālibīn, hlm. 321; al-Ḥaṭṭāb, Mawāhib al-Jalīl, 3/247; Ibn ‘Utsaimīn, al-Syarḥ al-Mumti‘ ‘alā Zād al-Mustaqni‘, 7/423).</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>Pendapat Kedua: Boleh Berqurban untuk Mayit Secara Mandiri sebagai Bentuk Sukarela</strong></p>
<p>Pendapat kedua menyatakan bahwa berqurban untuk orang yang telah meninggal secara mandiri diperbolehkan sebagai bentuk sukarela dari orang yang masih hidup.</p>
<p>Dalilnya adalah qiyās kepada sedekah untuk mayit. Sebagaimana sedekah boleh diberikan atas nama orang yang telah meninggal dan pahalanya sampai kepadanya, maka demikian pula qurban.</p>
<p>Ini adalah pendapat mayoritas ulama Hanafiyyah. Bahkan, sebagian ulama Hanafiyyah menyebutkan adanya ijma‘ dalam mazhab mereka tentang kebolehannya.</p>
<p>Al-Faqīh al-Sindī al-Ḥanafī <strong>rahimahullāh</strong> berkata:</p>
<p>“Para ulama kami telah menegaskan kebolehannya. Dalam kitab al-Walwālijiyyah disebutkan: seseorang berqurban untuk mayit, maka itu boleh berdasarkan ijma‘.”</p>
<p>Pendapat ini juga didukung oleh sebagian ulama Syafi‘iyyah dan sebagian ulama Mālikiyyah. Ini juga merupakan mazhab Hanābilah, serta pendapat yang dipilih oleh Syekh Ibn Bāz <strong>rahimahullāh</strong>.</p>
<p>(Lihat: <strong><em>al-Kāsānī, Badā’i‘ al-Ṣanā’i‘, 5/72; al-Nawawī menukil pendapat bolehnya dari al-‘Abbādī dari kalangan Syafi‘iyyah dalam Rauḍah al-Ṭālibīn, 6/202; al-Damīrī juga menukilkannya dari al-Rāfi‘ī dalam al-Najm al-Wahhāj, 9/522; al-Dzakhīrah, 4/141; Ibn Mufliḥ, al-Furū‘, 6/101; dan Ibn Bāz, Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah, 18/40)</em></strong>.</p>
<p><strong>Pendapat yang Lebih Kuat</strong></p>
<p>Pendapat yang lebih kuat — wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb — adalah bolehnya berqurban untuk orang yang telah meninggal secara mandiri sebagai bentuk sukarela dari orang yang masih hidup.</p>
<p>Kebolehan ini berlaku baik satu hewan qurban diniatkan untuk satu mayit maupun untuk beberapa orang yang telah meninggal, selama qurban tersebut bukan qurban wajib yang harus ditunaikan untuk salah satu dari mereka.</p>
<p>Alasannya, qurban termasuk ibadah māliyyah, yaitu ibadah yang berkaitan dengan harta. Dalam ibadah yang bersifat harta, perwakilan atau niyābah diperbolehkan, dan pahalanya juga dapat dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal.</p>
<p>Adapun alasan penguat pendapat ini adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li><strong> Mayit Tidak Lagi Mampu Mengusahakan Pahala Sendiri</strong></li>
</ol>
<p>Orang yang telah meninggal tidak lagi mampu mengusahakan pahala untuk dirinya, sementara ia tetap membutuhkan pahala tersebut. Karena itu, berqurban atas namanya diperbolehkan.</p>
<p>Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah <strong>rahimahullāh</strong> sebagaimana disebutkan dalam <strong>al-Ikhtiyārāt</strong>, hlm. 120, berkata:</p>
<p class="arab">(والتضحية عن الميت أفضل من الصدقة بثمنها)</p>
<p>“Berqurban untuk orang yang telah meninggal lebih utama daripada bersedekah dengan harga hewan qurban tersebut.”</p>
<ol start="2">
<li><strong> Qurban untuk Mayit Tetap Mengandung Tujuan-Tujuan Syariat Qurban</strong></li>
</ol>
<p>Qurban untuk orang yang telah meninggal tetap mewujudkan tujuan-tujuan yang juga terdapat dalam qurban untuk orang yang masih hidup. Di antaranya adalah memberi kelapangan kepada fakir miskin, mengagungkan syiar Allah, menampakkan syiar qurban, menegakkan zikir kepada Allah, dan memberi kelapangan kepada keluarga.</p>
<p>Karena tujuan-tujuan tersebut tetap terwujud, maka tidak ada alasan kuat untuk melarangnya. <em>Wallahua’lam</em></p>
<p>(<strong><em>Lihat juga: Fatḥ al-‘Allām fī Dirāsah Aḥādīṡ Bulūgh al-Marām, 10/254; dan al-Uḍḥiyah ‘an al-Mayyit: Dirāsah Fiqhiyyah, hlm. 80</em></strong>).</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2989/hukum-qurban-untuk-orang-meninggal/">Hukum Qurban untuk Orang Meninggal</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2989/hukum-qurban-untuk-orang-meninggal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
