<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tafsir al quran - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/tafsir-al-quran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Sep 2026 15:10:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>tafsir al quran - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ : 34</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3205/tafsir-surat-an-naba-34/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3205/tafsir-surat-an-naba-34/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2026 15:10:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[gambaran surga dalam al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[gelas penuh di surga]]></category>
		<category><![CDATA[gelas surga]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[kenikmatan penghuni surga]]></category>
		<category><![CDATA[kenikmatan surga]]></category>
		<category><![CDATA[minuman penghuni surga]]></category>
		<category><![CDATA[surat an-naba ayat 34]]></category>
		<category><![CDATA[surga dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an-naba ayat 34]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz minanurrohman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3205</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ : 34 &#8211; Mengapa Allah Menyebut Gelas Surga &#8220;Penuh&#8221;? Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah Ta&#8217;ala berfirman: وَكَأْسًا دِهَاقًا &#8220;Dan (disediakan) gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).&#8221; (QS. An-Naba&#8217;: 34). Tafsir:  Sekilas ayat ini tampak sederhana. Namun, para ahli tafsir menjelaskan bahwa satu kata دِهَاقًا (dihaqan) mengandung makna yang sangat kaya. Kata ini bukan sekadar menunjukkan &#8220;gelas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3205/tafsir-surat-an-naba-34/">Tafsir Surat An-Naba’ : 34</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surat An-Naba’ : 34 &#8211; Mengapa Allah Menyebut Gelas Surga &#8220;Penuh&#8221;?</strong></h2>
<p><em>Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p class="arab">وَكَأْسًا دِهَاقًا</p>
<p><em>&#8220;Dan (disediakan) gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).&#8221;</em> (QS. An-Naba&#8217;: 34).</p>
<p><strong>Tafsir: </strong></p>
<p>Sekilas ayat ini tampak sederhana. Namun, para ahli tafsir menjelaskan bahwa satu kata دِهَاقًا (dihaqan) mengandung makna yang sangat kaya. Kata ini bukan sekadar menunjukkan &#8220;gelas yang penuh&#8221;, tetapi juga menggambarkan kesempurnaan nikmat yang Allah sediakan bagi penghuni Surga.</p>
<p><strong>Gelas yang Penuh dan Terus Disuguhkan</strong></p>
<p>Kata دِهَاقًا (dihaqan) menunjukkan sesuatu yang penuh dan berlimpah. Imam Ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah gelas yang penuh dan terus-menerus disuguhkan kepada para peminumnya. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">وَكَأْسًا مَلْأَى مُتَتَابِعَةً عَلَى شَارِبِيهَا بِكَثْرَةٍ وَامْتِلَاءٍ، وَأَصْلُهُ مِنَ الدَّهْقِ، وَهُوَ مُتَابَعَةُ الضَّغْطِ عَلَى الْإِنْسَانِ بِشِدَّةٍ وَعُنْفٍ، وَكَذَالِكَ الْكَأْسُ الدِّهَاقُ: مُتَابَعَتُهَا عَلَى شَارِبِيهَا بِكَثْرَةٍ وَامْتِلَاءٍ</p>
<p>“Ialah gelas-gelas yang penuh, yang terus-menerus disuguhkan kepada para peminumnya dalam jumlah yang banyak dan berlimpah. Asal makna kata ‘<em>Ad-Dihaq’</em> adalah tekanan yang dilakukan secara terus-menerus dengan kuat dan keras. Demikian pula gelas yang ‘<em>Dihaq’</em> maknanya gelas tersebut terus-menerus disuguhkan kepada para peminumnya dalam keadaan penuh dan berlimpah.” (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, QS. An-Naba&#8217;: 34).</p>
<p>Penjelasan ini diperkuat oleh sejumlah ulama salaf. Ibnu &#8216;Abbas radhiyallahu ‘anhu (w. 68 H) menafsirkannya dengan مَلْأَى (<em>mal&#8217;a</em>), yaitu “penuh”. Dalam riwayat lain, beliau menjelaskanدِهَاقًا dengan maknaمُمْتَلِئًا  (<em>mumtali&#8217;an</em>), “dalam keadaan penuh”. Mujahid rahimahullah (w. 104 H) juga menafsirkannya dengan مَلْأَى, sementara Qatadah rahimahullah (w. 117 H) mengatakan مُتْرَعَةٌ مَلْأَى, yaitu “penuh dan melimpah”. Ada pula riwayat dari sebagian ulama salaf yang menafsirkannya dengan makna “terus-menerus disuguhkan” atau “berturut-turut”. Imam Ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H) kemudian menghimpun berbagai penafsiran tersebut, sehingga ayat ini menggambarkan minuman surga yang disediakan dalam keadaan penuh, berlimpah, dan terus disuguhkan kepada penghuninya. (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, QS. An-Naba&#8217;: 34).</p>
<p>Yang menarik, kenikmatan ini disebutkan setelah Allah menyebutkan kebun-kebun, anggur, dan gadis-gadis yang sebaya, kemudian Allah menyebutkan كَأْسًا دِهَاقًا, gelas-gelas yang penuh. Ini menunjukkan betapa sempurnanya kenikmatan yang Allah persiapkan bagi orang-orang yang bertakwa. Namun, kenikmatan tersebut tentu tidak boleh disamakan dengan minuman dunia. Minuman yang diharamkan di dunia karena memabukkan sama sekali berbeda dengan minuman surga yang Allah halalkan dan sempurnakan kenikmatannya. Kenikmatan surga adalah sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia, sehingga hakikatnya jauh melampaui gambaran yang mampu kita bayangkan.</p>
<p><strong>Minuman yang Penuh, Berlimpah, dan Berturut-turut</strong></p>
<p>Imam Al-Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) juga menjelaskan bahwa kata دِهَاقًا (dihaqan) memiliki beberapa penafsiran dari ulama salaf. Beliau menukil dari Ibnu &#8216;Abbas radhiyallahu ‘anhuma (w. 68 H), Hasan Al-Bashri (w. 110 H), Qatadah (w. 117 H), dan Ibnu Zaid (w. 182 H) rahimahumullah bahwa maknanya adalah مُتْرَعَةٌ مَمْلُوءَةٌ, yaitu “penuh dan terisi dengan sempurna”. Al-Qurthubi berkata:</p>
<p class="arab">كَأْسًا دِهَاقًا، قَالَ الْحَسَنُ وَقَتَادَةُ وَابْنُ زَيْدٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ: مُتْرَعَةً مَمْلُوءَةً؛ يُقَالُ: أَدْهَقْتُ الْكَأْسَ، أَيْ مَلَأْتُهَا، وَكَأْسٌ دِهَاقٌ أَيْ مُمْتَلِئَةٌ</p>
<p>“Firman Allah, ‘gelas-gelas yang penuh’. Al-Hasan, Qatadah, Ibnu Zaid, dan Ibnu &#8216;Abbas mengatakan: maksudnya adalah gelas yang penuh dan terisi. Dikatakan: adhaqtu al-ka&#8217;sa, artinya ‘aku memenuhi gelas tersebut’. Maka ka&#8217;sun dihaq berarti gelas yang penuh.” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran</em>, QS. An-Naba&#8217;: 34)</p>
<p>Al-Qurthubi juga menyebutkan penafsiran lain dari Ibnu &#8216;Abbas radhiyallahu ‘anhuma (w. 68 H), Sa&#8217;id bin Jubair (w. 95 H), &#8216;Ikrimah (w. 105 H), dan Mujahid (w. 104 H) rahimahumullah, yaitu مُتَتَابِعَةٌ, “berturut-turut” atau “terus-menerus disuguhkan”; satu gelas mengikuti gelas yang lainnya. Dengan demikian, makna ayat ini bukan hanya menggambarkan gelas yang penuh, tetapi juga adanya kenikmatan yang terus mengalir dan diberikan kepada penghuni surga. Imam Al-Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَعِكْرِمَةُ وَمُجَاهِدٌ وَابْنُ عَبَّاسٍ أَيْضًا: مُتَتَابِعَةٌ، يَتْبَعُ بَعْضُهَا بَعْضًا</p>
<p>“Sa&#8217;id bin Jubair, &#8216;Ikrimah, Mujahid, dan Ibnu &#8216;Abbas juga mengatakan: maknanya adalah berturut-turut; sebagian mengiringi sebagian yang lainnya.” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran</em>, QS. An-Naba&#8217;: 34).</p>
<p>Beliau juga menukil pendapat &#8216;Ikrimah (w. 105 H) dan Zaid bin Aslam (w. 136 H) rahimahumallah bahwa دِهَاقًا berarti صَافِيَةٌ, yaitu “jernih” atau “bersih”. Namun, penafsiran yang paling banyak dinukil menunjukkan, bahwa maknanya ialah minuman yang penuh, melimpah, dan disuguhkan secara berturut-turut. Hal ini memberikan gambaran kepada kita tentang kesempurnaan kenikmatan di surga: tidak ada kekurangan, tidak ada kehabisan, dan tidak ada rasa khawatir bahwa kenikmatan tersebut akan berhenti. (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran</em>, QS. An-Naba&#8217;: 34).</p>
<p><strong>Penuh, Jernih, dan Terus Mengalir</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) juga menjelaskan ayat ini dengan menghimpun beberapa penafsiran dari ulama salaf. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: مَمْلُوءَةٌ مُتَتَابِعَةٌ، وَقَالَ عِكْرِمَةُ: صَافِيَةٌ، وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَالْحَسَنُ وَقَتَادَةُ وَابْنُ زَيْدٍ: «دِهَاقًا» الْمَلْأَى الْمُتْرَعَةُ، وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: هِيَ الْمُتَتَابِعَةُ</p>
<p>“Ibnu &#8216;Abbas mengatakan: ‘penuh dan berturut-turut.’ &#8216;Ikrimah mengatakan: ‘jernih.’ Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa dihāqan berarti ‘penuh dan melimpah’. Mujahid dan Sa&#8217;id bin Jubair mengatakan: ‘berturut-turut.’” (<em>Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim,</em> QS. An-Naba&#8217;: 34)</p>
<p>Dari penjelasan para ulama tersebut, dapat dipahami bahwa kata دِهَاقًا tidak sekadar menggambarkan sebuah gelas yang berisi minuman, tetapi menggambarkan minuman yang penuh, melimpah, jernih, dan terus-menerus disuguhkan. Ini merupakan salah satu gambaran kesempurnaan kenikmatan yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka tidak hanya mendapatkan kenikmatan yang lezat, tetapi juga mendapatkannya dalam keadaan sempurna dan tanpa kekurangan.</p>
<p>Menariknya, para ulama salaf memberikan beberapa ungkapan yang berbeda untuk menjelaskan kata دِهَاقًا, tetapi maknanya saling melengkapi, bukan saling bertentangan. Ada yang menekankan makna penuh, ada yang menekankan berturut-turut, dan ada yang menjelaskan jernih. Ini menunjukkan keluasan bahasa Al-Qur&#8217;an dalam menggambarkan kenikmatan surga yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia.</p>
<p><strong>Minuman Surga yang Penuh Kenikmatan</strong></p>
<p>Syaikh As-Sa&#8217;di rahimahullah (w. 1376 H) memberikan penjelasan yang ringkas namun indah tentang firman Allah وَكَأْسًا دِهَاقًا. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">﴿وَكَأْسًا دِهَاقًا﴾ أَيْ: مَمْلُوءَةً مِنْ رَحِيقٍ، لَذَّةً لِلشَّارِبِينَ</p>
<p>“Dan gelas-gelas yang penuh, yaitu gelas-gelas yang dipenuhi rahiq, minuman yang lezat bagi orang-orang yang meminumnya.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman</em>, tafsir QS. An-Naba&#8217;: 34).</p>
<p>Penjelasan Syaikh As-Sa&#8217;di rahimahullah (w. 1376 H) menunjukkan bahwa yang dimaksud bukan sekadar gelas yang penuh secara kuantitas, tetapi gelas yang dipenuhi dengan رَحِيقٌ, yaitu minuman surga yang memberikan kenikmatan bagi para peminumnya. Dengan demikian, ketika Allah menyebut كَأْسًا دِهَاقًا, ayat ini menggambarkan kenikmatan surga yang sempurna: minumannya tersedia dalam keadaan penuh dan kenikmatannya benar-benar menjadi kelezatan bagi orang yang meminumnya.</p>
<p>Ayat ini menggambarkan kesempurnaan kenikmatan surga. Para ulama salaf menafsirkannya dengan makna penuh, melimpah, jernih, dan terus disuguhkan. Semua ini menunjukkan bahwa kenikmatan surga jauh lebih sempurna daripada kenikmatan dunia.</p>
<p>Karena itu, jangan sampai kita hanya sibuk mengejar kenikmatan dunia yang sementara, sementara melupakan kenikmatan surga yang kekal. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang bertakwa yang mendapatkan kenikmatan tersebut. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3205/tafsir-surat-an-naba-34/">Tafsir Surat An-Naba’ : 34</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3205/tafsir-surat-an-naba-34/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 31</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 00:12:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[ayat tentang surga]]></category>
		<category><![CDATA[balasan orang bertakwa]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan takwa]]></category>
		<category><![CDATA[pahala bagi orang bertakwa]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran iman]]></category>
		<category><![CDATA[surat an naba]]></category>
		<category><![CDATA[surga dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tadabbur quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba ayat 31]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir juz amma]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an naba 31]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3044</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Ringkas Qur-an Surah an Naba’: 31 Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴾ إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ﴿ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan.” [QS. an Naba’: 31] Setelah Allah ﷻ menggambarkan nasib mengerikan orang-orang yang durhaka, Al-Qur’an langsung mengalihkan perhatian kepada kelompok yang berlawanan: orang-orang yang bertakwa. Peralihan ini bukan sekadar kontras, tetapi penegasan bahwa jalan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/">Tafsir Surat An-Naba’ 31</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Ringkas Qur-an Surah an Naba’: 31</strong></h2>
<p><em>Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴾ إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ﴿</p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan</em><em>.”</em> [QS. an Naba’: 31]</p>
<p>Setelah Allah ﷻ menggambarkan nasib mengerikan orang-orang yang durhaka, Al-Qur’an langsung mengalihkan perhatian kepada kelompok yang berlawanan: orang-orang yang bertakwa. Peralihan ini bukan sekadar kontras, tetapi <strong>penegasan bahwa jalan keselamatan itu nyata dan bisa diraih</strong>.</p>
<h3><strong>Keselamatan Nyata dari Neraka</strong></h3>
<p>Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) berkata:</p>
<p class="arab">إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَنْجًى مِنَ النَّارِ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمُخْلَصًا مِنْهَا لَهُمْ إِلَيْهَا، وَظَفَرًا بِمَا طَلَبُوا</p>
<p>“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa terdapat jalan keselamatan dari neraka menuju surga, serta tempat keluar yang menyelamatkan mereka darinya menuju ke sana, dan kemenangan dalam memperoleh apa yang mereka harapkan.” (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/37, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>Tafsir ini semakna dengan penjelasan dari Mujahid رحمه الله (w. 104 H), Qatadah رحمه الله (w. 117 H) dan Ibnu ‘Abbasرضي الله عنها  (w. 68 H). (lihat: <em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/37, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>“Mafaza” bukan sekadar <strong>tempat enak</strong>, tetapi merupakan bentuk proses kemenangan bagi orang yang bertaqwa: selamat dan keluar dari neraka, lalu berhasil masuk surga.</p>
<h3><strong>Mengapa Disebut “Mafazan”?</strong></h3>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong>  (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">ذَكَرَ جَزَاءَ مَنْ اتَّقَى مُخَالَفَةَ أَمْرِ اللَّهِ «مَفَازًا»، أَيْ مَوْضِعَ فَوْزٍ وَنَجَاةٍ وَخَلَاصٍ مِمَّا فِيهِ أَهْلُ النَّارِ، وَلِذَلِكَ قِيلَ لِلْفَلَاةِ إِذَا قَلَّ مَاؤُهَا: «مَفَازَةٌ»، تَفَاؤُلًا بِالْخَلَاصِ مِنْهَا.</p>
<p>“Ia menyebutkan balasan bagi orang yang menjaga diri dari menyelisihi perintah Allah <em>“mafazan”</em> yaitu tempat kemenangan, keselamatan, dan kebebasan dari keadaan yang dialami oleh para penghuni neraka. Oleh karena itu, padang sahara yang sedikit airnya disebut <em>“mafazah”</em> sebagai bentuk optimisme akan keselamatan darinya.” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</em>, 19/182, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<p>Kata <em>mafazan</em> mengandung <strong>optimisme</strong>, bahkan di tempat yang tampak mematikan (padang pasir), orang Arab tetap menamainya dengan harapan dan optimisme akan keselamatan darinya.</p>
<h3><strong>Tempat Nikmat atau Proses Selamat?</strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H) mengatakan:</p>
<p class="arab">يَقُولُ تَعَالَى مُخْبِرًا عَنِ السُّعَدَاءِ وَمَا أَعَدَّ لَهُمْ مِنَ الْكَرَامَةِ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ، فَقَالَ ﴿إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا﴾، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَالضَّحَّاكُ مُنْتَزَهًا، وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَقَتَادَةُ فَازُوا فَنَجَوْا مِنَ النَّارِ، وَالْأَظْهَرُ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ</p>
<p>“Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang yang berbahagia dan apa yang Dia siapkan bagi mereka berupa kemuliaan dan kenikmatan yang kekal. Maka Dia berfirman: <em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan</em><em>.”</em> Ibnu ‘Abbasرضي الله عنها  (w. 68 H) dan Adh-Dhahhak <strong>رحمه الله</strong> (w. 105 H) berkata, “Yaitu tempat bersenang-senang.” Mujahid رحمه الله (w. 104 H), Qatadah رحمه الله (w. 117 H) berkata, “Mereka memperoleh kemenangan sehingga selamat dari neraka.” Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Ibnu ‘Abbasرضي الله عنها  (w. 68 H).” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).</p>
<p>Ada dua sudut pandang yang dinukilkan oleh Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H):</p>
<ol>
<li><strong>Hasil Akhir   :</strong> tempat kenikmatan</li>
<li><strong>Proses           :</strong> selamat dari neraka</li>
</ol>
<p>Dan beliau <strong>رحمه الله</strong> menguatkan: <strong>hasil akhir lebih dominan</strong>.</p>
<h3><strong>Siapa Itu Orang Bertakwa?</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong>  </strong><strong>رحمه الله </strong>(w. 1376 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">لَمَّا ذَكَرَ حَالَ الْمُجْرِمِينَ، ذَكَرَ مَآلَ الْمُتَّقِينَ، فَقَالَ: ﴿إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا﴾، أَيْ: الَّذِينَ اتَّقَوْا سَخَطَ رَبِّهِمْ بِالتَّمَسُّكِ بِطَاعَتِهِ، وَالِانْكِفَافِ عَنْ مَعْصِيَتِهِ، فَلَهُمْ مَفَازٌ وَمَنْجًى، وَبُعْدٌ عَنِ النَّارِ</p>
<p>“Ketika disebutkan keadaan orang-orang yang berdosa, disebutkan pula tempat kembali orang-orang yang bertakwa, Karenanya Dia berfirman, <em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan</em><em>.”</em>. Yaitu mereka yang menjaga diri dari kemurkaan Tuhan mereka dengan berpegang teguh pada ketaatan kepada-Nya dan menahan diri dari kemaksiatan. Maka bagi mereka kemenangan, keselamatan, dan jarak dari neraka.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam).</p>
<p><strong>Kemenangan sejati hanya diraih oleh orang yang bertakwa</strong>, yaitu mereka yang menjaga diri dari murka Allah dengan cara:</p>
<ul>
<li>Istiqamah dalam ketaatan;</li>
<li>Menjauhi kemaksiatan.</li>
</ul>
<p>Balasan bagi mereka bukan sekadar kenikmatan surga, tetapi juga keselamatan dari neraka dan keamanan dari azab Allah.</p>
<p>Makna ﴿إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا﴾ adalah kemenangan sempurna bagi orang-orang bertakwa yaitu selamat dari neraka, dijauhkan dari azab Allah, dan dimasukkan ke dalam surga penuh kenikmatan. Kemenangan ini diraih dengan istiqamah dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.</p>
<p>Dengan demikian, takwa bukan sekadar identitas atau pengakuan, tetapi jalan menuju kemenangan terbesar di sisi Allah ﷻ.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/">Tafsir Surat An-Naba’ 31</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 30</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2929/tafsir-surat-an-naba-30/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2929/tafsir-surat-an-naba-30/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2026 02:49:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[ancaman bagi orang kafir]]></category>
		<category><![CDATA[azab tidak pernah berhenti]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[makna an naba 30]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[siksa neraka]]></category>
		<category><![CDATA[tadabbur quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba 30]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surah an naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2929</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surah an Naba’: 30 &#8211; Ketika Azab Tidak Pernah Berhenti Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman:  فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا “Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.” [QS. an Naba’: 30] Di antara ayat Al-Qur’an yang paling menggugah rasa takut, adalah ayat ini. Ia bukan sekadar ancaman, tetapi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2929/tafsir-surat-an-naba-30/">Tafsir Surat An-Naba’ 30</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surah an Naba’: 30 &#8211; Ketika Azab Tidak Pernah Berhenti</strong></h2>
<p><em>Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab"> فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا</p>
<p><em>“Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.”</em> [QS. an Naba’: 30]</p>
<p>Di antara ayat Al-Qur’an yang paling menggugah rasa takut, adalah ayat ini. Ia bukan sekadar ancaman, tetapi gambaran final tentang nasib penghuni Neraka yang tidak lagi memiliki harapan keringanan. Para ulama tafsir dari berbagai generasi menegaskan, <strong>inilah salah satu ayat paling keras bagi penghuni neraka.</strong></p>
<h3><strong>Tidak Ada Keringanan, Tidak Ada Jeda Azab</strong></h3>
<p>Imam ath Thabari <strong>رحمه الله</strong> (w. 310 H) berkata:</p>
<p class="arab">يَقُولُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ: يُقَالُ لِهَؤُلَاءِ الْكُفَّارِ فِي جَهَنَّمَ إِذَا شَرِبُوا الْحَمِيمَ وَالْغَسَّاقَ: ذُوقُوا أَيُّهَا الْقَوْمُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ فِي الدُّنْيَا تُكَذِّبُونَ، فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا عَلَى الْعَذَابِ الَّذِي أَنْتُمْ فِيهِ، لَا تَخْفِيفًا مِنْهُ، وَلَا تَرَفُّهًا</p>
<p>“Allah Yang Mahamulia menjelaskan bahwa dikatakan kepada orang-orang kafir di dalam Jahanam ketika mereka meminum air yang sangat panas dan cairan nanah: “Rasakanlah, wahai kaum, azab Allah yang dahulu kalian dustakan di dunia; Kami tidak akan menambah kepada kalian kecuali azab di atas azab yang sedang kalian rasakan, tanpa adanya keringanan sedikit pun dan tanpa kenikmatan.”” [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/36, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Penjelasan beliau ini, berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Amru bin Al Ash <strong>رضي الله عنه</strong> (w. 65 H), dari jalur Qatadah <strong>رحمه الله</strong> (w. 117 H) dari Abu Ayyub Al Uzdi <strong>رحمه الله</strong>.</p>
<p>Artinya, azab yang mereka rasakan tidak pernah berkurang, tidak pernah ditunda, bahkan terus bertambah di atas azab yang sudah ada.</p>
<h3><strong>Ayat yang Dianggap Paling Keras oleh Para Sahabat</strong></h3>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong>  (w. 671 H) menukilkan:</p>
<p class="arab">قَالَ أَبُو بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيُّ نَضْلَةُ بْنُ عُبَيْدٍ<strong> رضي الله عنه</strong> (ت ٦٤هـ): سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ (ت 11هـ) عَنْ أَشَدِّ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ؟ فَقَالَ: قَوْلُهُ تَعَالَى: فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا﴾ أَيْ: ﴿كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا﴾ وَ ﴿كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا</p>
<p>“Abu Barzah Al-Aslami, Nadhalah bin Ubaid <strong>رضي الله عنه</strong> (w. 64 H), berkata: “Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ (w. 11 H) tentang ayat yang paling keras dalam Al-Qur’an.” Maka beliau menjawab: “Firman Allah Ta‘ala: <em>“Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.”</em> [QS. an Naba’: 30], juga firman-Nya: <em>“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab.”</em> (QS. An-Nisa: 56) dan firman-Nya: <em>“Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.”</em> (QS. Al-Isra: 97).” [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</em>, 19/182, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Seluruh ayat ini menunjukkan satu pola yang sama yaitu azab tidak hanya berlanjut, tetapi terus diperbarui dan diperparah.</p>
<h3><strong>Azab yang Sejenis dan Terus Bertambah Tanpa Akhir</strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">أَيْ: يُقَالُ لِأَهْلِ النَّارِ: ذُوقُوا مَا أَنْتُمْ فِيهِ، فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا مِنْ جِنْسِهِ، ﴿وَآخَرُ مِنْ شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ</p>
<p>“Yaitu dikatakan kepada penghuni neraka: “Rasakanlah apa yang sedang kalian alami; Kami tidak akan menambah kepada kalian kecuali azab yang sejenis dengannya,” dan <em>“Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” </em>(QS. Sad: 58)” [<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>Maksudnya ialah, bukan hanya bertambah jumlahnya, akan tetapi bertambah variasi dan bentuknya.</p>
<h3><strong>Inti Makna: Azab yang Terus Bertambah Setiap Saat</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong>  </strong><strong>رحمه الله </strong>(w. 1376 H) merangkum dengan sangat padat:</p>
<p class="arab">﴿فَذُوقُوا﴾ أَيُّهَا الْمُكَذِّبُونَ هَذَا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ وَالْخِزْيَ الدَّائِمَ، ﴿فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا﴾ وَكُلَّ وَقْتٍ وَحِينٍ يَزْدَادُ عَذَابُهُمْ، وَهَذِهِ الْآيَةُ أَشَدُّ الْآيَاتِ فِي شِدَّةِ عَذَابِ أَهْلِ النَّارِ أَجَارَنَا اللَّهُ مِنْهَا</p>
<p>“<em>“Karena itu rasakanlah.” </em>wahai orang-orang yang mendustakan, azab yang sangat menyakitkan ini dan kehinaan yang terus-menerus; <em>“</em><em>Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.”</em> dan pada setiap waktu serta setiap saat azab mereka terus bertambah; dan ayat ini merupakan ayat yang paling keras dalam menggambarkan dahsyatnya azab penghuni neraka, semoga Allah melindungi kita darinya.” [<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Beliau <strong>رحمه الله</strong> menegaskan ayat ini adalah yang paling keras dalam menggambarkan azab penghuni neraka.</p>
<h3><strong>Kesimpulan: Ayat yang Memutus Harapan di Neraka</strong></h3>
<ol>
<li>an Naba’: 30 adalah peringatan paling keras, gambaran paling final dan ancaman tanpa jeda. Tidak ada istirahat, pengurangan atau adaptasi terhadap azab. Yang ada hanyalah penambahan azab secara terus-menerus dan tanpa akhir. Maka ayat ini seharusnya tidak hanya dibaca, tetapi direnungkan, ditakuti dan dijadikan dorongan untuk meninggalkan maksiat.</li>
</ol>
<p>Karena yang paling berbahaya bukanlah azab itu sendiri, tetapi kondisi ketika azab itu tidak lagi berkurang justru terus bertambah selamanya.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2929/tafsir-surat-an-naba-30/">Tafsir Surat An-Naba’ 30</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2929/tafsir-surat-an-naba-30/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 29</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 23:10:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[hisab amal]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ketelitian Allah mencatat amal]]></category>
		<category><![CDATA[makna an naba 29]]></category>
		<category><![CDATA[malaikat pencatat amal]]></category>
		<category><![CDATA[pencatatan amal manusia]]></category>
		<category><![CDATA[tadabbur quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba 29]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2907</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surah an Naba’: 29 &#8211; Ketelitian Allah ﷻ dalam Mencatat Setiap Amal Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴾وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴿ “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.” [QS. an Naba’: 29] &#160; Ayat ini menjadi pondasi penting dalam akidah tentang ilmu Allah, pencatatan amal dan keadilan-Nya pada hari pembalasan, maka mari kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/">Tafsir Surat An-Naba’ 29</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surah an Naba’: 29 &#8211; Ketelitian Allah ﷻ dalam Mencatat Setiap Amal</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p>﴾وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴿</p>
<p><em>“</em><em>Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.</em><em>”</em> [QS. an Naba’: 29]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ayat ini menjadi pondasi penting dalam akidah tentang ilmu Allah, pencatatan amal dan keadilan-Nya pada hari pembalasan, maka mari kita tadabburi lebih dalam lagi.</p>
<h2><strong>Ketelitian </strong><strong>Allah </strong><strong>ﷻ</strong><strong> yang Total</strong></h2>
<p>Imam ath Thabari <strong>رحمه الله</strong> (w. 310 H) berkata:</p>
<p>وَقَوْلُهُ: ﴿وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴾ يَقُولُ تَعَالَىٰ ذِكْرُهُ: وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فَكَتَبْنَاهُ كِتَابًا، كَتَبْنَا عَدَدَهُ وَمَبْلَغَهُ وَقَدْرَهُ، فَلَا يَعْزُبُ عَنَّا عِلْمُ شَيْءٍ مِنْهُ، وَنَصَبَ ﴿كِتَابًاُ﴾ ؛ لِأَنَّ فِي قَوْلِهِ: ﴿أَحْصَيْنَاهُ﴾ مَصْدَرًا أَثْبَتْنَاهُ وَكَتَبْنَاهُ، كَأَنَّهُ قِيلَ: وَكُلَّ شَيْءٍ كَتَبْنَاهُ كِتَابًا</p>
<p>“Dan firman-Nya: <em>‘Dan segala sesuatu telah Kami hitung dan Kami catat dalam suatu kitab,’</em> maksudnya: Kami telah menghitung segala sesuatu lalu Kami menuliskannya sebagai suatu penulisan; Kami tuliskan jumlahnya, batasnya dan ukurannya. Maka tidak ada satu pun darinya yang luput dari pengetahuan Kami. Lafal <em>kitaban</em> dibaca dalam bentuk manshub karena pada firman-Nya <em>ahshaynahu</em> terkandung makna mashdar, yaitu “Kami menetapkannya dan Kami menuliskannya,” seakan-akan dikatakan: “Dan setiap sesuatu Kami tuliskan dalam sebuah kitab.”” [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/36, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Beliau menekankan betapa totalitasnya ilmu Allah <strong>ﷻ</strong><strong>, </strong>dimana jumlah, batas dan kadar semuanya presisi. Tidak ada yang samar dan luput dari pencatatan dan ilmu-Nya.</p>
<h2><strong>Dimensi Bahasa dan Makna</strong></h2>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong>  (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p>“<em>“</em><em>Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.</em><em>”</em> Lafal <em>kulla</em> dibaca manshub karena adanya fi‘il yang diperkirakan, yang ditunjukkan oleh kata <em>ahshaynahu</em>, yaitu: “Dan Kami telah menghitung setiap sesuatu, Kami menghitungnya.” Abus Sammal <strong>رحمه الله</strong> (w. ±160 H) membacanya <em>wa kullu syai-in</em> dengan rafa‘ sebagai mubtada’. Lafaz <em>kitaban</em> dibaca manshub sebagai mashdar karena makna <em>ahshayna</em> adalah “Kami menulis,” yaitu “Kami menuliskannya sebagai suatu penulisan.” Kemudian dikatakan: yang dimaksud adalah ilmu, sebab sesuatu yang ditulis lebih jauh dari kelupaan. Ada pula yang mengatakan: maksudnya Kami menuliskannya di Lauhul Mahfuz agar para malaikat mengetahuinya. Dan ada yang berpendapat: yang dimaksud adalah apa yang dituliskan atas para hamba berupa amal-amal mereka. Maka ini adalah pencatatan yang dilakukan para malaikat yang ditugaskan atas para hamba, berdasarkan perintah Allah <strong>ﷻ</strong> kepada mereka untuk menulis; dalilnya adalah firman-Nya, “Sesungguhnya atas kalian ada para penjaga, yang mulia lagi mencatat.” [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</em>, 19/182, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Beliau <strong>رحمه الله</strong>  membuka tiga kemungkinan makna atau maksud dari ayat ini:</p>
<ol>
<li>Ilmu Allah <strong>ﷻ</strong>;</li>
<li>Lauhul Mahfuzh;</li>
<li>Catatan malaikat atas amal manusia.</li>
</ol>
<p>Semuanya menunjukkan akan <strong>sistem dokumentasi </strong><strong>Allah </strong><strong>ﷻ</strong> <strong>yang sangat sempurna</strong>, sehingga tidak ada celah bagi manusia untuk mengelak dari catatan amalnya<strong>.</strong></p>
<p><strong>Konsekuensi Balasan Amal</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H) berkata:</p>
<p>أَيْ: وَقَدْ عَلِمْنَا أَعْمَالَ الْعِبَادِ كُلَّهُمْ، وَكَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ، وَسَنَجْزِيهِمْ عَلَىٰ ذَلِكَ، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ شَرًّا فَشَر</p>
<p>“Sungguh, Kami telah mengetahui seluruh amal para hamba dan Kami telah mencatatnya atas mereka, dan Kami pasti akan membalas mereka berdasarkan hal itu; jika (amalnya) baik maka (balasannya) kebaikan, dan jika (amalnya) buruk maka (balasannya) keburukan.” [<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beliau <strong>رحمه الله</strong> menjelaskan bahwa pencatatan bukan sekadar dokumentasi, akan tetapi ia adalah <strong>dasar keadilan pembalasan </strong>yang menegaskan bahwasanya setiap balasan yang diterima oleh seorang hamba merupakan akibat dari perbuatannya dan Allah ﷻ tidak akan menzhalimi hambanya <strong>.</strong></p>
<p><strong>Jaminan Keadilan</strong></p>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong>  </strong><strong>رحمه الله </strong>(w. 1376 H) menyampaikan:</p>
<p>“<em>“Dan segala sesuatu,”</em> yang kecil maupun yang besar, baik maupun buruk, <em>“</em><em>telah Kami catat dalam suatu kitab.”</em> yakni Kami tuliskan di Lauh Mahfuz. Maka para pendosa tidak perlu takut, bahwa Kami mengazab mereka atas dosa-dosa yang tidak mereka lakukan, dan jangan pula mereka mengira bahwa ada sesuatu dari amal mereka yang hilang atau dilupakan walaupun seberat dzarah”. [<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Beliau mengaitkannya dengan firman Allah ﷻ:</p>
<p>﴿ وَوُضِعَ ٱلْكِتَـٰبُ فَتَرَى ٱلْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَـٰوَيْلَتَنَا مَالِ هَـٰذَا ٱلْكِتَـٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةًۭ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحْصَىٰهَا ۚ وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ ﴾  حَاضِرًۭا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًۭا</p>
<p><em>“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: &#8220;Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”.</em>(QS. Al Kahfi: 49).</p>
<p>Beliau <strong>رحمه الله</strong> menegaskan bahwa Allah ﷻ tidak akan mengazab hambanya atas apa yang tidak dilakukannya dan sekecil apapun maksiat itu, ia pasti akan diberikan hukuman yang setimpal tidak lebih, tidak pula kurang.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<ol>
<li>An-Naba’: 29 menegaskan, bahwa seluruh amal manusia kecil maupun besar, dicatat secara presisi dalam sistem pencatatan Allah ﷻ melalui malaikat pencatat amal. Dari tafsir para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa Allah ﷻ Maha Mengetahui secara detail, Allah ﷻ Maha Teliti dalam mencatat, Allah ﷻ Maha Adil dalam membalas dan tidak ada kezaliman sedikit pun pada Hari Kiamat.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi orang beriman, ayat ini adalah motivasi untuk menjaga amal. Adapun bagi pelaku maksiat, ini adalah peringatan keras. Karena tidak ada yang hilang, tidak ada yang terlupa, tidak ada yang tidak dibalas dan di situlah letak keadilan yang sempurna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/">Tafsir Surat An-Naba’ 29</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 28</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 07:22:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[ancaman bagi pendusta]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[makna an naba 28]]></category>
		<category><![CDATA[pembangkangan terhadap ayat Allah]]></category>
		<category><![CDATA[pendustaan yang disengaja]]></category>
		<category><![CDATA[tadabbur quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba 28]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2866</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ 28: Pendustaan yang Disengaja dan Membangkang Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ “Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.” [QS. an Naba’: 28] Ayat ini menyingkap hakikat sikap orang-orang kafir terhadap wahyu bukan sekadar ragu atau lalai, tetapi sebuah pendustaan yang sadar, keras dan penuh perlawanan. Para ulama tafsir memberikan penjelasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/">Tafsir Surat An-Naba’ 28</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><b>Tafsir Surat An-Naba’ 28: Pendustaan yang Disengaja dan Membangkang</b></strong></p>
<p><em><i>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</i></em></p>
<p>Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾</p>
<p><em><i>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.”</i></em> [QS. an Naba’: 28]</p>
<p>Ayat ini menyingkap hakikat sikap orang-orang kafir terhadap wahyu bukan sekadar ragu atau lalai, tetapi sebuah pendustaan yang sadar, keras dan penuh perlawanan. Para ulama tafsir memberikan penjelasan yang saling melengkapi tentang makna kata كِذَّابًا (kidzdzaban). Mari kita simak penjelasannya.</p>
<p><strong><b>Pendustaan yang Sangat Keras dan Disengaja</b></strong></p>
<p>Imam ath Thabari<strong><b> </b></strong><strong><b>ر</b></strong><strong><b>حمه الله</b></strong><strong><b> </b></strong><strong><b> </b></strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p>وَقَوْلُهُ تَعَالَى ﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: وَكَذَّبَ هَؤُلَاءِ الْكُفَّارُ بِحُجَجِنَا وَأَدِلَّتِنَا تَكْذِيبًا، وَقِيلَ: كِذَّابًا وَلَمْ يُقَلْ: تَكْذِيبًا، تَصْدِيرًا عَلَى فِعْلِهِ؛</p>
<p>“Firman-Nya <em><i>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.”</i></em>: (Maksudnya) Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> menjelaskan bahwa orang-orang kafir itu mendustakan hujah-hujah dan dalil-dalil Kami dengan pendustaan; dan dikatakan <em><i>“kidzdzaban”</i></em>, bukan <em><i>“takdziban”</i></em>, sebagai penegasan yang mengikuti perbuatannya.” [<em><i>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</i></em>, 24/35, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Beliau menjelaskan bahwa kata <em><i>“kidzdzaban” </i></em>digunakan sebagai bentuk penegasan pendustaan. Sebagian ulama bahasa menjelaskan bahwa bentuk ini mengikuti pola bahasa Arab tertentu, termasuk dialek Yaman yang fasih. Karena pada ayat ini kata “<em><i>kadzdzabu</i></em>” hadir, para qari’ sepakat membaca <em><i>“kidzdzaban” </i></em>dengan penegasan (tasydid), sementara pada ayat lain yang tidak terikat oleh kata kerja, sebagian ulama—seperti al-Kisā’ī—membacanya dengan peringanan. [<em><i>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</i></em>, 24/35-36, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p><strong><b>Pendustaan Besar dan Berlapis Makna</b></strong></p>
<p>Imam al Qurthubi <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">﴿وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا﴾ أَيْ: بِمَا جَاءَتْ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ، وَقِيلَ: بِمَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْكُتُبِ، وَقِرَاءَةُ الْعَامَّةِ كِذَّابًا بِتَشْدِيدِ الذَّالِ وَكَسْرِ الْكَافِ، عَلَى كَذَبَ؛ أَيْ: كَذَّبُوا تَكْذِيبًا كَبِيرًا، قَالَ الْفَرَّاءُ <strong><b>رحمه الله</b></strong> (ت ٢٠٧ هـ): هِيَ لُغَةٌ يَمَانِيَّةٌ فَصِيحَةٌ، يَقُولُونَ: كَذَبْتُ بِهِ كِذَّابًا، وَخَرَقْتُ الْقَمِيصَ خِرَاقًا، وَكُلُّ فِعْلٍ عَلَى وَزْنِ فَعَّلَ فَمَصْدَرُهُ فِعَّالٌ مُشَدَّدٌ فِي لُغَتِهِمْ؛</p>
<p>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni terhadap apa yang dibawa oleh para nabi dan dikatakan pula: terhadap apa yang Kami turunkan berupa kitab-kitab. Bacaan kebanyakan qari’ adalah “<em><i>kidzdzaban”</i></em> dengan penegasan huruf dzal dan kasrah pada kaf, dari kata “<em><i>kadzaba”</i></em>, maksudnya mereka mendustakan dengan pendustaan yang besar. Al Farra’ <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 207 H) berkata: ini adalah bahasa Yaman yang fasih; mereka mengatakan ‘aku mendustakannya dengan <em><i>kidzdzaban</i></em>’ dan ‘aku merobek baju dengan <em><i>khiraqan</i></em>’; setiap fi‘il pada pola fa’‘ala bermashdar fi‘‘al dalam bahasa mereka.” [<em><i>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</i></em>, 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa pendustaan mereka bukan insidental, melainkan sikap permanen dan ideologis.</p>
<p><strong><b>Pendustaan yang Disertai Pengingkaran Akhirat</b></strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 774 H) menyampaikan:</p>
<p>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni mereka mendustakan hujjah-hujjah Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> dan dalil-dalil-Nya atas makhluk-Nya yang Dia turunkan kepada para rasul-Nya, lalu mereka menyambutnya dengan pendustaan dan sikap membangkang. Firman-Nya <em><i>kidzdzaban</i></em> bermakna ‘pendustaan’ dan ia adalah mashdar yang tidak berasal dari bentuk fi‘ilnya. Disebutkan bahwa pernah terdengar seorang Arab Badui meminta fatwa kepada al Farra’ <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 207 H) di Bukit Marwah: “<em><i>Al Halq </i></em>(mencukur rambut) atau <em><i>al qishar </i></em>(memendekkan rambut), mana yang lebih engkau sukai?” Dan sebagian mereka melantunkan syair: ‘Sungguh telah lama ia menghalangiku dari sahabat-sahabatku, dan dari kebutuhan yang <em><i>qadha-uha </i></em>(pemenuhannya) menjadi kesembuhanku.’” [<em><i>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</i></em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>Kata <em><i>kidzdzaban</i></em> di sini dipahami sebagai mashdar yang menunjukkan intensitas dan kesinambungan pendustaan.</p>
<p><strong><b>Pendustaan yang Jelas dan Sadar</b></strong></p>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong><b> </b></strong><strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 1376 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ أَيْ: كَذَّبُوا بِهَا تَكْذِيبًا وَاضِحًا صَرِيحًا، وَجَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَانَدُوهَا</p>
<p>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni mereka mendustakannya dengan pendustaan yang jelas dan tegas, padahal bukti-bukti yang nyata telah datang kepada mereka, lalu mereka menyikapinya dengan penentangan.” [Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa:</p>
<ul>
<li><i></i><em><i>Al Bayyinat</i></em>(bukti-bukti) dari Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> melalui rasul-Nya telah datang kepada mereka;</li>
<li>Kebenaran sudah nyata bagi mereka tanpa sedikitpun keraguan;</li>
<li>Namun mereka tetap memilih sikap <em><i>‘inad</i></em>(keras kepala dan membangkang).</li>
</ul>
<p>Ini menunjukkan bahwa masalah utama mereka bukan kurangnya bukti, melainkan rusaknya sikap hati.</p>
<p><strong><b>Kesimpulan: Pendustaan yang Mengantarkan pada Kebinasaan</b></strong></p>
<p>Dari keempat tafsir di atas, dapat disimpulkan bahwa kata <strong><b>كِذَّابًا</b></strong><strong><b> </b></strong>dalam an Naba’: 28 menggambarkan pendustaan yang disengaja, kuat dan berulang, yang lahir dari penolakan terhadap hari hisab dan sikap membangkang terhadap kebenaran yang sudah jelas.</p>
<p>Pendustaan ini bukan karena kurangnya dalil, melainkan karena hati yang menolak tunduk kepada Allah <strong><b>ﷻ</b></strong>. Inilah sebab mengapa ayat ini menjadi landasan penting dalam memahami hubungan antara akidah akhirat, penerimaan wahyu dan keselamatan manusia.</p>
<p>Pemahaman ini relevan sepanjang zaman, siapa pun yang menolak kebenaran setelah jelas baginya, sejatinya sedang mengulang sikap kaum yang Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> cela dalam ayat ini, <em><i>wal’iyadzu billah</i></em> semoga kita dijauhkan dan terlindungi dari sikap demikian.</p>
<p><em><i>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</i></em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/">Tafsir Surat An-Naba’ 28</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 27</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2848/tafsir-surat-an-naba-27/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2848/tafsir-surat-an-naba-27/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2026 15:41:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[hari hisab]]></category>
		<category><![CDATA[hari pembalasan]]></category>
		<category><![CDATA[iman kepada akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[makna la yarjuna hisaba]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa orang kafir tidak takut hisab]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[surat an naba]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba 27]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir juz amma]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir salaf]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an naba ayat 27]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2848</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ 27: Mengapa Orang Kafir Tidak Takut Hisab? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Al Qur-an tidak sekadar mengabarkan adanya azab, tetapi juga menjelaskan sebab-sebabnya secara rinci. Salah satu sebab utama yang Allah ﷻ sebutkan adalah hilangnya keyakinan terhadap hari perhitungan. Dalam Surah An-Naba’ ayat 27, Allah ﷻ menyingkap akar kerusakan akidah yang melahirkan kelalaian total terhadap akhirat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2848/tafsir-surat-an-naba-27/">Tafsir Surat An-Naba’ 27</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surat An-Naba’ 27: Mengapa Orang Kafir Tidak Takut Hisab?</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Al Qur-an tidak sekadar mengabarkan adanya azab, tetapi juga menjelaskan sebab-sebabnya secara rinci. Salah satu sebab utama yang Allah <strong>ﷻ</strong> sebutkan adalah hilangnya keyakinan terhadap hari perhitungan. Dalam Surah <em>An-Naba’</em> ayat 27, Allah <strong>ﷻ</strong> menyingkap akar kerusakan akidah yang melahirkan kelalaian total terhadap akhirat. Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا ﴾</p>
<p><em>“Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,” </em>(QS. an Naba’: 27)</p>
<p><strong>Akar Masalah: Tidak Takut Hisab</strong></p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">إِنَّ هَؤُلَاءِ الْكُفَّارَ كَانُوا فِي الدُّنْيَا لَا يَخَافُونَ مُحَاسَبَةَ اللَّهِ إِيَّاهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَلَى نِعَمِهِ عَلَيْهِمْ، وَإِحْسَانِهِ إِلَيْهِمْ، وَسُوءِ شُكْرِهِمْ لَهُ عَلَى ذٰلِكَ</p>
<p>“Bahwasanya orang-orang kafir itu ketika di dunia tidak takut akan perhitungan Allah <strong>ﷻ</strong> terhadap mereka di akhirat atas nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada mereka, kebaikan-Nya kepada mereka, serta buruknya rasa syukur mereka kepada-Nya atas semua itu.” [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/34, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Menurut Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H), masalahnya bukan sekadar maksiat, tetapi ketiadaan rasa takut terhadap hisab. Mereka hidup menikmati nikmat Allah <strong>ﷻ</strong>, namun tidak pernah membayangkan akan dimintai pertanggungjawaban atas nikmat tersebut. <em>Nas-alullah as Salamah wal ‘afiyah fid dun-ya wal akhirah.</em></p>
<p><strong>Hisab yang Tidak Ditakuti dan Pahala yang Tidak Diharapkan </strong></p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">﴿ إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ ﴾ أَيْ لَا يَخَافُونَ ﴿ حِسَابًا ﴾ أَيْ مُحَاسَبَةً عَلَى أَعْمَالِهِمْ، وَقِيلَ: مَعْنَاهُ لَا يَرْجُونَ ثَوَابَ حِسَابٍ، الزَّجَّاجُ: أَيْ إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يُؤْمِنُونَ بِالْبَعْثِ فَيَرْجُونَ حِسَابَهُمْ</p>
<p>“<em>“Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut),”</em> maksudnya ialah mereka tidak merasa takut.</p>
<p><em>“kepada hisab,”</em> yakni pertanggungjawaban atas amal perbuatan mereka. Ada pula yang mengatakan, maknanya adalah mereka tidak mengharapkan pahala dari adanya perhitungan.</p>
<p>Az Zajjaj <strong>رحمه الله</strong> (w. 311 H) menjelaskan bahwa maksud ayat ini adalah sesungguhnya mereka tidak beriman kepada kebangkitan, sehingga mereka tidak mengharapkan dan tidak mempercayai adanya perhitungan amal.” [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an,</em> 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menegaskan dua sisi kehancuran akidah:</p>
<ol>
<li>Tidak takut hukuman Allah <strong>ﷻ</strong>;</li>
<li>Tidak berharap pahala dari Allah <strong>ﷻ</strong>.</li>
</ol>
<p>Orang yang tidak berharap pahala, tidak memiliki motivasi amal. Inilah kematian spiritual sebelum kematian jasad.<strong> </strong></p>
<p><strong>Penolakan Akhirat: Sumber Segala Kerusakan</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">أَيْ: لَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ أَنَّ ثَمَّ دَارًا يُجَازَوْنَ فِيهَا وَيُحَاسَبُونَ</p>
<p>“Maksudnya, mereka tidak meyakini bahwa terdapat suatu negeri (kehidupan akhirat) tempat mereka akan dibalas dan diperhitungkan amal perbuatannya.” [<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menegaskan bahwa ayat ini berbicara tentang kerusakan akidah yang mendasar yaitu mereka tidak meyakini adanya negeri akhirat sama sekali.</p>
<p>Jika akhirat dianggap mitos, maka:</p>
<ul>
<li>Maksiat menjadi wajar;</li>
<li>Kezhaliman terasa aman;</li>
<li>Amal shaleh dianggap sia-sia.</li>
</ul>
<p><strong>Dampak Nyata: Mengabaikan Amal Akhirat</strong></p>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">وَذَكَرَ أَعْمَالَهُمْ، الَّتِي اسْتَحَقُّوا بِهَا هٰذَا الْجَزَاءَ، فَقَالَ: ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا﴾ أَيْ: لَا يُؤْمِنُونَ بِالْبَعْثِ، وَلَا أَنَّ اللَّهَ يُجَازِي الْخَلْقَ بِالْخَيْرِ وَالشَّرِّ، فَلِذٰلِكَ أَهْمَلُوا الْعَمَلَ لِلْآخِرَةِ</p>
<p>“Allah menyebutkan amal perbuatan mereka yang dengannya mereka pantas menerima balasan tersebut. Lalu Dia berfirman, <em>“Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,”</em> yakni mereka tidak beriman kepada kebangkitan dan tidak pula meyakini bahwa Allah membalas seluruh makhluk dengan kebaikan maupun keburukan. Oleh karena itu, mereka mengabaikan amal perbuatan untuk kehidupan akhirat.” [<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan,</em> hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menjelaskan dampak praktisnya:</p>
<p>Kerusakan akidah akan menyebabkan kelalaian dalam beramal, bukan karena mereka tidak tahu,<br />
akan tetapi karena mereka tidak percaya bahwa amal tersebut akan dibalas.</p>
<p>Surah an Naba’ ayat 27 menyingkap akar kehancuran moral dan spiritual manusia, yaitu hilangnya iman kepada hisab (pembalasan) dan akhirat. Empat tafsir utama Ahlus Sunnah sepakat bahwa orang yang tidak mengharapkan hisab maka ia:</p>
<ul>
<li>Tidak takut akan dosa;</li>
<li>Tidak berharap pahala atas amal mereka;</li>
<li>Tidak meyakini kebangkitan setelah kematian;</li>
<li>Dan akhirnya mengabaikan amal akhirat.</li>
</ul>
<p>Inilah sebab mengapa azab Allah <strong>ﷻ</strong> datang bukan secara tiba-tiba, tetapi sebagai konsekuensi logis dari akidah yang rusak. Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa iman kepada hari perhitungan adalah pondasi utama keshalihan seorang hamba.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2848/tafsir-surat-an-naba-27/">Tafsir Surat An-Naba’ 27</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2848/tafsir-surat-an-naba-27/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 26</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2026 16:32:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[azab neraka]]></category>
		<category><![CDATA[balasan amal]]></category>
		<category><![CDATA[balasan yang setimpal]]></category>
		<category><![CDATA[hari akhir]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan allah]]></category>
		<category><![CDATA[makna surat an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an-naba ayat 25]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat tentang neraka]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2809</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ 26: Balasan yang Setimpal Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Surah an Naba’: 26 menegaskan prinsip agung dalam al Qur-an yaitu keadilan Allah yang sempurna. adalah Allah ﷻ berfirman: ﴿ جَزَاءً وِفَاقًا ﴾ “Sebagai pembalasan yang setimpal,” (QS. an Naba’: 25) Ungkapan “Sebagai pembalasan yang setimpal,” bukan sekadar ancaman, melainkan penjelasan objektif bahwa setiap konsekuensi akhirat benar-benar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/">Tafsir Surat An-Naba’ 26</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2 class="jeg_post_title"><strong>Tafsir Surat An-Naba’ 26: Balasan yang Setimpal</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Surah an Naba’: 26 menegaskan prinsip agung dalam al Qur-an yaitu keadilan Allah yang sempurna. adalah Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ جَزَاءً وِفَاقًا ﴾</p>
<p><em>“Sebagai pembalasan yang setimpal,”</em> (QS. an Naba’: 25)</p>
<p>Ungkapan <em>“Sebagai pembalasan yang setimpal,”</em> bukan sekadar ancaman, melainkan penjelasan objektif bahwa setiap konsekuensi akhirat benar-benar sepadan dengan amal manusia.</p>
<p><strong>Balasan yang Sepadan dengan Amal</strong></p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: هٰذَا الْعِقَابُ الَّذِي عُوقِبَ بِهِ هٰؤُلَاءِ الْكُفَّارُ فِي الْآخِرَةِ فَعَلَهُ بِهِمْ رَبُّهُمْ ﴿ جَزَاءً ﴾، يَعْنِي: ثَوَابًا لَهُمْ عَلَى أَفْعَالِهِمْ وَأَقْوَالِهِمُ الرَّدِيئَةِ الَّتِي كَانُوا يَعْمَلُونَهَا فِي الدُّنْيَا، وَهُوَ مَصْدَرٌ مِنْ قَوْلِ الْقَائِلِ: وَافَقَ هٰذَا الْعِقَابُ هٰذَا الْعَمَلَ وِفَاقًا</p>
<p>“Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman (yang bermakna): Hukuman ini yang ditimpakan kepada orang-orang kafir itu di akhirat dilakukan oleh Rabb mereka <em>“Sebagai pembalasan”</em>. Maksudnya, sebagai ganjaran atas perbuatan dan ucapan mereka yang buruk, yang dahulu mereka lakukan di dunia. Ia (<em>jaza-an wifaqan</em>) merupakan bentuk mashdar dari ungkapan seseorang: “Hukuman ini sesuai dengan perbuatan itu,” yakni sepadan dan seimbang dengannya.” [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/32, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan bahwa hukuman akhirat yang menimpa orang-orang kafir merupakan balasan yang sesuai dengan perbuatan dan ucapan buruk yang mereka lakukan di dunia. Istilah <em>wifaqan</em> menunjukkan kesepadanan sempurna antara amal dan balasan. Makna ini dikuatkan oleh atsar sahabat dan tabi‘in seperti Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما </strong>(w. 68 H), Qatadah <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 117 H), Mujahid <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 104 H), ar-Rabi‘ bin Anas <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 139 H) dan Ibnu Zayd <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 182 H). [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/33-34, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p><strong>Analisis Bahasa dan Kesepadanan Hukuman</strong></p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">﴿ جَزَاءً وِفَاقًا ﴾ أَيْ مُوَافِقًا لِأَعْمَالِهِمْ</p>
<p>“<em>Sebagai pembalasan yang setimpal,</em>”; balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.” [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menekankan sisi kebahasaan. Kata <em>wifaq</em> bermakna kesesuaian, sebagaimana <em>qital</em> bermakna saling berperang. Secara gramatikal, <em>jaza’an</em> adalah mashdar penegas: “Kami membalas mereka dengan balasan yang sepadan dengan amal mereka.” Ia juga mengutip pandangan Muqatil <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 150 H) bahwa tidak ada dosa lebih besar dari syirik dan tidak ada azab lebih besar dari neraka. [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p><strong>Penegasan Kesepakatan Ulama Salaf (Klasik)</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">أَيْ هٰذَا الَّذِي صَارُوا إِلَيْهِ مِنْ هٰذِهِ الْعُقُوبَةِ وَفْقَ أَعْمَالِهِمُ الْفَاسِدَةِ الَّتِي كَانُوا يَعْمَلُونَهَا فِي الدُّنْيَا؛ قَالَهُ مُجَاهِدٌ وَقَتَادَةُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ</p>
<p>“Maksudnya, keadaan yang mereka alami berupa hukuman tersebut benar-benar sepadan dengan perbuatan-perbuatan rusak yang dahulu mereka kerjakan di dunia. Penafsiran ini disampaikan oleh Mujahid <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 104 H), Qatadah <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 117 H) dan sejumlah ulama tafsir lainnya.” [<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) meringkas pandangan salaf yaitu hukuman akhirat sepadan dengan amal rusak yang dikerjakan di dunia. Ia menukil pendapat Mujahid <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 104 H) dan Qatadah <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 117 H) yang menegaskan konsensus makna ayat ini.</p>
<p><strong>Keadilan Allah dan Tanggung Jawab Manusia</strong></p>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">اسْتَحَقُّوا هٰذِهِ الْعُقُوبَاتِ الْفَظِيعَةَ جَزَاءً لَهُمْ وَوِفَاقًا عَلَى مَا عَمِلُوا مِنَ الْأَعْمَالِ الْمُوصِلَةِ إِلَيْهَا، لَمْ يَظْلِمْهُمُ اللَّهُ، وَلٰكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ</p>
<p>“Mereka pantas menerima hukuman-hukuman yang dahsyat tersebut sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan—perbuatan yang mengantarkan mereka kepada hukuman itu. Allah tidak menzalimi mereka sedikit pun, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” [<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan,</em> hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menegaskan prinsip keadilan Ilahi bahwa Allah <strong>ﷻ</strong> tidak menzhalimi hamba-Nya; manusialah yang menzhalimi diri sendiri. Hukuman datang sebagai konsekuensi logis dari perbuatan yang mengantarkan kepadanya.</p>
<p>Surah an Naba’ ayat 26 menegaskan keadilan Allah <strong>ﷻ</strong> yang absolut. Kesemuanya (semua tafsir yang dinukilkan pada artikel ini) berpadu menyatakan satu pesan yaitu setiap amal memiliki konsekuensi yang setimpal. Inilah pondasi etika Qur-ani yang relevan sepanjang zaman, adil, objektif dan mendidik jiwa untuk bertanggung jawab atas setiap pilihan.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/">Tafsir Surat An-Naba’ 26</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 25</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2026 16:15:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[azab neraka]]></category>
		<category><![CDATA[hamim dan ghassaq]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[minuman penghuni neraka]]></category>
		<category><![CDATA[siksaan neraka dalam al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an-naba ayat 25]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat tentang neraka]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir islam]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2805</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ 25: Minuman Penghuni Neraka Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Al Qur-an menggambarkan siksa neraka tidak hanya melalui api, tetapi juga melalui minuman yang disediakan bagi penghuninya. Di antara gambaran yang paling menggetarkan adalah firman Allah ﷻ : ﴿ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ﴾ “Selain air yang mendidih dan nanah,” (QS. an Naba’: 25) Ayat ini telah dibahas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/">Tafsir Surat An-Naba’ 25</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surat An-Naba’ 25: Minuman Penghuni Neraka</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Al Qur-an menggambarkan siksa neraka tidak hanya melalui api, tetapi juga melalui minuman yang disediakan bagi penghuninya. Di antara gambaran yang paling menggetarkan adalah firman Allah <strong>ﷻ</strong> :</p>
<p class="arab">﴿ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ﴾</p>
<p><em>“Selain air yang mendidih dan nanah,”</em> (QS. an Naba’: 25)</p>
<p>Ayat ini telah dibahas secara mendalam oleh para mufasir klasik mengulas makna <em>Hamim</em> dan <em>Ghassaq</em>.</p>
<p><strong><em>Ghassaq</em></strong><strong> sebagai Cairan yang Mengalir, Dingin dan Busuk</strong></p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">﴿ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ﴾ يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا إِلَّا حَمِيمًا قَدْ أُغْلِيَ حَتَّى انْتَهَى حَرُّهُ، فَهُوَ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ، وَلَا بَرْدًا إِلَّا غَسَّاقًا</p>
<p>“<em>“Selain air yang mendidih dan nanah,”</em> (QS. an Naba’: 25), Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman (yang bermakna): mereka tidak merasakan di dalamnya kesejukan dan tidak pula minuman, kecuali air yang mendidih yang telah dipanaskan hingga mencapai puncak panasnya, sehingga ia seperti logam cair yang membakar wajah-wajah; dan tidak pula kesejukan, kecuali cairan yang busuk.” (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/28, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 310 H) menjelaskan bahwa <em>Ghassaq</em> adalah sesuatu yang mengalir, berasal dari nanah, darah, air mata dan cairan luka penghuni neraka. Ia juga menguatkan pendapat bahwa <em>Ghassaq</em> mencakup <em>Zamharir </em>(dingin yang sangat menusuk) namun dalam bentuk cairan yang busuk. Beliau menukil hadis berikut dari sahabat Abu Sa‘id al Khudri <strong>رضي الله عنه</strong> (w. 74 H):</p>
<p class="arab">« لَوْ أَنَّ دَلْوًا مِنْ غَسَّاقٍ يُهْرَاقُ إِلَى الدُّنْيَا لَأَنْتَنَ أَهْلَ الدُّنْيَا »</p>
<p>“Seandainya satu timba <em>ghassaq</em> ditumpahkan ke dunia, niscaya ia akan membusukkan seluruh penduduk dunia.” [HR. at Tirmidzi no. 2584] (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/28-32, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p><strong>Analisis Bahasa dan I‘rab (Gramatikal)</strong></p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 671 H) menyoroti aspek kebahasaan ayat ini. Beliau menyampaikan:</p>
<p class="arab">وَالْحَمِيمُ: الْمَاءُ الْحَارُّ&#8230; وَالْغَسَّاقُ: صَدِيدُ أَهْلِ النَّارِ وَقَيْحُهُمْ، وَقِيلَ: الزَّمْهَرِيرُ</p>
<p>“<em>Hamim</em> adalah air panas… Adapun <em>ghassaq</em> adalah nanah dan cairan busuk penghuni neraka, dan ada pula yang mengatakan <em>zamharir </em>(cairan yang busuk).” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180-181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<p>Ia menjelaskan bahwa pengecualian dalam ayat ini bisa bersifat <em>munqathi‘</em> (terputus) atau <em>badal</em> (pengganti), tergantung penafsiran kata <em>al bard</em> pada ayat sebelumnya. (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<h3><strong>Kengerian </strong><strong><em>Hamim </em></strong><strong>dan </strong><strong><em>Ghassaq</em></strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menyampaikan rangkuman dari riwayat para sahabat dan tabi‘in, beliau berkata:</p>
<p class="arab">فَأَمَّا الْحَمِيمُ: فَهُوَ الْحَارُّ الَّذِي قَدِ انْتَهَى حَرُّهُ وحُموه. والغَسَّاق: هُوَ مَا اجْتَمَعَ مِنْ صَدِيدِ أَهْلِ النَّارِ وَعَرَقِهِمْ وَدُمُوعِهِمْ وَجُرُوحِهِمْ، فَهُوَ بَارِدٌ لَا يُسْتَطَاعُ مِنْ بَرْدِهِ، وَلَا يُوَاجَهُ مَنْ نَتَنِهِ</p>
<p>“Adapun <em>hamim</em>, maka ia adalah air panas yang telah mencapai puncak panas dan suhunya. Sedangkan <em>ghassaq</em>, yaitu sesuatu yang terkumpul dari nanah penghuni neraka, keringat mereka, air mata mereka, dan cairan dari luka-luka mereka; maka ia sangat dingin, tidak dapat ditahan karena dinginnya, dan tidak sanggup dihadapi karena baunya yang busuk.” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa <em>hamim</em> dan <em>ghassaq</em> adalah azab yang menggabungkan antara panas dan dingin ekstrem, bau busuk dan rasa yang menjijikkan, sehingga melengkapi makna azab yang total yang sangat mengerikan.</p>
<h3><strong>Penegasan Makna dengan Bahasa Ringkas</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menyampaikan makna ayat secara padat dan menghunjam, beliau berkata:</p>
<p class="arab">﴿ إِلَّا حَمِيمًا ﴾ أَيْ: مَاءً حَارًّا يَشْوِي وُجُوهَهُمْ وَيُقَطِّعُ أَمْعَاءَهُمْ، ﴿ وَغَسَّاقًا ﴾ وَهُوَ صَدِيدُ أَهْلِ النَّارِ فِي غَايَةِ النَّتَنِ وَكَرَاهَةِ الْمَذَاقِ</p>
<p><em>“Selain air yang mendidih”</em>, yaitu air panas yang membakar wajah-wajah mereka dan memutus usus-usus mereka; dan <em>“Dan nanah,”</em>, yaitu nanah penghuni neraka yang berada pada puncak kebusukan dan sangat menjijikkan rasanya.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan,</em> hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam)</p>
<p>Keempat ulama tafsir di atas sepakat bahwa <em>hamim</em> dan <em>ghassaq</em> adalah bentuk azab minuman neraka yang paling mengerikan. <em>Hamim</em> mewakili panas ekstrem yang membakar, sementara <em>ghassaq</em> menggabungkan antara dingin menusuk, dengan cairan busuk dan rasa yang menjijikkan. Perbedaan penafsiran bukanlah kontradiksi, melainkan saling melengkapi dalam menggambarkan kesempurnaan azab.</p>
<p>Semoga Allah melindungi kita dari azab tersebut dan menjadikan al Qur-an sebagai petunjuk dan rahmat bagi kita semua. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/">Tafsir Surat An-Naba’ 25</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 24</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2026 09:40:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[azab neraka]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[fisik penghuni neraka]]></category>
		<category><![CDATA[hari akhir]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jahannam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni neraka dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[siksaan neraka]]></category>
		<category><![CDATA[surah an naba]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba ayat 24]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat neraka]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surah an naba]]></category>
		<category><![CDATA[tausiyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2768</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surah an Naba’: 24 &#8211; Kondisi Neraka Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Surah an Naba’: 24 merupakan salah satu ayat yang menggambarkan kerasnya azab neraka dengan bahasa yang singkat namun sangat menghujam. Allah ﷻ berfirman: ﴿ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ﴾ “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,” (QS. an Naba’: 24) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/">Tafsir Surat An-Naba’ 24</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surah an Naba’: 24 &#8211; Kondisi Neraka</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Surah an Naba’: 24 merupakan salah satu ayat yang menggambarkan kerasnya azab neraka dengan bahasa yang singkat namun sangat menghujam. Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ﴾</p>
<p><em>“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,”</em> (QS. an Naba’: 24)</p>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa penghuni neraka tidak memperoleh sedikit pun bentuk kenyamanan, baik berupa kesejukan maupun minuman. Para ulama ahli tafsir dari generasi ke generasi telah menjelaskan ayat ini dengan pendekatan bahasa, riwayat dan makna yang saling melengkapi, mari kita simak bersama.<strong> </strong></p>
<h3><strong>Kesejukan dan Minuman yang Dicabut Total</strong></h3>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">لَا يَطْعَمُونَ فِيهَا بَرْدًا يُبَرِّدُ حَرَّ السَّعِيرِ عَنْهُمْ إِلَّا الْغَسَّاقَ، وَلَا شَرَابًا يُرْوِيهِمْ مِنْ شِدَّةِ الْعَطَشِ الَّذِي بِهِم إِلَّا الْحَمِيمَ</p>
<p>“Mereka tidak akan merasakan di neraka sesuatu yang dapat mendinginkan panas api yang menyala-nyala, kecuali <em>ghassaq</em> (cairan busuk yang sangat dingin dan menyiksa) dan tidak pula minuman yang dapat menghilangkan dahaga yang sangat, kecuali <em>hamim</em> (air yang sangat panas).” (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/27, cet. Dar Hajar, Kairo.)</p>
<p>Imam ath Thabari <strong>رحمه الله</strong> (w. 310 H) juga menyebutkan pendapat sebagian ahli bahasa yang menafsirkan <em>al bard</em> sebagai tidur, namun beliau menegaskan bahwa sepatutnya tafsir al Qur-an harus dikembalikan kepada makna bahasa Arab yang paling umum dan paling dikenal, bukan makna majazi yang jarang digunakan. (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/27-28, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<h3><strong>Neraka Tanpa Tidur dan Tanpa Istirahat</strong></h3>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: الْبَرْدُ بَرْدُ الشَّرَابِوَعَنْهُ أَيْضًا: الْبَرْدُ النَّوْمُ، وَالشَّرَابُ الْمَاء. وَقَالَ الزَّجَّاجُ: أَيْ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدَ رِيحٍ، وَلَا ظِلًّا، وَلَا نَوْمًا</p>
<p class="arab">فَجَعَلَ الْبَرْدَ بَرْدَ كُلِّ شَيْءٍ فِيهِ رَاحَةٌ، وَهَذَا بَرْدٌ يَنْفَعُهُمْ، فَأَمَّا الزَّمْهَرِيرُ فَهُوَ بَرْدٌ يَتَأَذَّوْنَ بِهِ فَلَا يَنْفَعُهُمْ</p>
<p>“Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) menafsirkan <em>al bard</em> sebagai kesejukan minuman dan dalam riwayat lain menyatakan <em>al bard</em> adalah tidur, sedangkan <em>asy syarab</em> adalah air. az Zajjaj <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 311 H) menjelaskan bahwa mereka tidak merasakan kesejukan angin, naungan, maupun tidur, yaitu segala bentuk kesejukan yang membawa kenyamanan. Adapun <em>zamharir </em>(dingin ekstrem di neraka), maka itu adalah dingin yang menyiksa, bukan menenangkan.” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<p>Imam Al-Qurthubi <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 671 H) menguraikan bahwa kata <em>al bard</em> dalam bahasa Arab juga digunakan untuk tidur, karena tidur memberi rasa sejuk dan jeda dari kelelahan. Oleh sebab itu, ayat ini menunjukkan bahwa penghuni neraka tidak diberi tidur, tidak diberi istirahat dan tidak diberi kelegaan fisik sama sekali.</p>
<p>Beliau menguatkan makna ini dengan hadis Nabi <strong>ﷺ</strong>:</p>
<p class="arab">« لَا؛ النَّوْمُ أَخُو الْمَوْتِ، وَالْجَنَّةُ لَا مَوْتَ فِيهَا »</p>
<p>“Tidak, tidur adalah saudara kematian dan di surga tidak ada kematian”; maka di neraka pun tidak ada tidur. (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<h3><strong>Tidak Ada Kesejukan Batin dan Minuman yang Layak</strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">أَيْ لَا يَجِدُونَ فِي جَهَنَّمَ بَرْدًا لِقُلُوبِهِمْ، وَلَا شَرَابًا طَيِّبًا يَتَغَذَّوْنَ بِهِ</p>
<p>“Yakni, mereka tidak akan mendapatkan di dalam neraka Jahanam kesejukan yang menenangkan hati mereka dan tidak pula minuman yang baik dan layak yang dapat mereka jadikan asupan untuk mempertahankan diri” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh)</p>
<p>Penafsiran ini menegaskan bahwa azab neraka bersifat lahir dan batin, yang artinya tubuh disiksa, hati pun tidak memperoleh ketenteraman sedikit pun.</p>
<h3><strong>Dicabutnya Dua Kebutuhan Dasar Manusia</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menyampaikan dalam tafsirnya:</p>
<p class="arab">فَإِذَا وَرَدُوهَا ﴿ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ﴾ أَيْ لَا مَا يُبَرِّدُ جُلُودَهُمْ، وَلَا مَا يَدْفَعُ ظَمَأَهُمْ</p>
<p>“Dan mereka, ketika telah masuk ke dalam neraka, tidak akan mencicipi di dalamnya sesuatu pun yang dapat mendinginkan kulit mereka dan tidak pula sesuatu yang dapat menolak atau menghilangkan rasa haus mereka.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan,</em> hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam)</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa neraka adalah tempat dicabutnya dua kebutuhan paling mendasar manusia yaitu kesejukan dan air.</p>
<p>Surah an Naba’ ayat 24 secara tegas menggambarkan neraka sebagai tempat tanpa kesejukan, tanpa minuman, tanpa tidur dan tanpa istirahat. Empat ulama tafsir di atas sepakat bahwa ayat ini menegaskan hilangnya seluruh bentuk kenyamanan fisik dan batin bagi peghuni neraka.</p>
<p>Ayat ini bukan sekadar informasi tentang akhirat, tetapi peringatan serius agar manusia tidak meremehkan dosa dan kekufuran. Di balik ancaman ini tersimpan rahmat Allah <strong>ﷻ</strong> berupa dorongan kuat agar manusia kembali kepada iman, taubat dan amal saleh sebelum datang hari ketika tidak ada lagi kesejukan dan tidak ada lagi minuman.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/">Tafsir Surat An-Naba’ 24</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
