<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tausiyah - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/tausiyah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Jan 2026 22:40:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>tausiyah - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 24</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2026 09:40:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[azab neraka]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[fisik penghuni neraka]]></category>
		<category><![CDATA[hari akhir]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jahannam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni neraka dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[siksaan neraka]]></category>
		<category><![CDATA[surah an naba]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba ayat 24]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat neraka]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surah an naba]]></category>
		<category><![CDATA[tausiyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2768</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surah an Naba’: 24 &#8211; Kondisi Neraka Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Surah an Naba’: 24 merupakan salah satu ayat yang menggambarkan kerasnya azab neraka dengan bahasa yang singkat namun sangat menghujam. Allah ﷻ berfirman: ﴿ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ﴾ “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,” (QS. an Naba’: 24) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/">Tafsir Surat An-Naba’ 24</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surah an Naba’: 24 &#8211; Kondisi Neraka</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Surah an Naba’: 24 merupakan salah satu ayat yang menggambarkan kerasnya azab neraka dengan bahasa yang singkat namun sangat menghujam. Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ﴾</p>
<p><em>“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,”</em> (QS. an Naba’: 24)</p>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa penghuni neraka tidak memperoleh sedikit pun bentuk kenyamanan, baik berupa kesejukan maupun minuman. Para ulama ahli tafsir dari generasi ke generasi telah menjelaskan ayat ini dengan pendekatan bahasa, riwayat dan makna yang saling melengkapi, mari kita simak bersama.<strong> </strong></p>
<h3><strong>Kesejukan dan Minuman yang Dicabut Total</strong></h3>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">لَا يَطْعَمُونَ فِيهَا بَرْدًا يُبَرِّدُ حَرَّ السَّعِيرِ عَنْهُمْ إِلَّا الْغَسَّاقَ، وَلَا شَرَابًا يُرْوِيهِمْ مِنْ شِدَّةِ الْعَطَشِ الَّذِي بِهِم إِلَّا الْحَمِيمَ</p>
<p>“Mereka tidak akan merasakan di neraka sesuatu yang dapat mendinginkan panas api yang menyala-nyala, kecuali <em>ghassaq</em> (cairan busuk yang sangat dingin dan menyiksa) dan tidak pula minuman yang dapat menghilangkan dahaga yang sangat, kecuali <em>hamim</em> (air yang sangat panas).” (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/27, cet. Dar Hajar, Kairo.)</p>
<p>Imam ath Thabari <strong>رحمه الله</strong> (w. 310 H) juga menyebutkan pendapat sebagian ahli bahasa yang menafsirkan <em>al bard</em> sebagai tidur, namun beliau menegaskan bahwa sepatutnya tafsir al Qur-an harus dikembalikan kepada makna bahasa Arab yang paling umum dan paling dikenal, bukan makna majazi yang jarang digunakan. (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/27-28, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<h3><strong>Neraka Tanpa Tidur dan Tanpa Istirahat</strong></h3>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: الْبَرْدُ بَرْدُ الشَّرَابِوَعَنْهُ أَيْضًا: الْبَرْدُ النَّوْمُ، وَالشَّرَابُ الْمَاء. وَقَالَ الزَّجَّاجُ: أَيْ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدَ رِيحٍ، وَلَا ظِلًّا، وَلَا نَوْمًا</p>
<p class="arab">فَجَعَلَ الْبَرْدَ بَرْدَ كُلِّ شَيْءٍ فِيهِ رَاحَةٌ، وَهَذَا بَرْدٌ يَنْفَعُهُمْ، فَأَمَّا الزَّمْهَرِيرُ فَهُوَ بَرْدٌ يَتَأَذَّوْنَ بِهِ فَلَا يَنْفَعُهُمْ</p>
<p>“Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) menafsirkan <em>al bard</em> sebagai kesejukan minuman dan dalam riwayat lain menyatakan <em>al bard</em> adalah tidur, sedangkan <em>asy syarab</em> adalah air. az Zajjaj <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 311 H) menjelaskan bahwa mereka tidak merasakan kesejukan angin, naungan, maupun tidur, yaitu segala bentuk kesejukan yang membawa kenyamanan. Adapun <em>zamharir </em>(dingin ekstrem di neraka), maka itu adalah dingin yang menyiksa, bukan menenangkan.” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<p>Imam Al-Qurthubi <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 671 H) menguraikan bahwa kata <em>al bard</em> dalam bahasa Arab juga digunakan untuk tidur, karena tidur memberi rasa sejuk dan jeda dari kelelahan. Oleh sebab itu, ayat ini menunjukkan bahwa penghuni neraka tidak diberi tidur, tidak diberi istirahat dan tidak diberi kelegaan fisik sama sekali.</p>
<p>Beliau menguatkan makna ini dengan hadis Nabi <strong>ﷺ</strong>:</p>
<p class="arab">« لَا؛ النَّوْمُ أَخُو الْمَوْتِ، وَالْجَنَّةُ لَا مَوْتَ فِيهَا »</p>
<p>“Tidak, tidur adalah saudara kematian dan di surga tidak ada kematian”; maka di neraka pun tidak ada tidur. (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<h3><strong>Tidak Ada Kesejukan Batin dan Minuman yang Layak</strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">أَيْ لَا يَجِدُونَ فِي جَهَنَّمَ بَرْدًا لِقُلُوبِهِمْ، وَلَا شَرَابًا طَيِّبًا يَتَغَذَّوْنَ بِهِ</p>
<p>“Yakni, mereka tidak akan mendapatkan di dalam neraka Jahanam kesejukan yang menenangkan hati mereka dan tidak pula minuman yang baik dan layak yang dapat mereka jadikan asupan untuk mempertahankan diri” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh)</p>
<p>Penafsiran ini menegaskan bahwa azab neraka bersifat lahir dan batin, yang artinya tubuh disiksa, hati pun tidak memperoleh ketenteraman sedikit pun.</p>
<h3><strong>Dicabutnya Dua Kebutuhan Dasar Manusia</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menyampaikan dalam tafsirnya:</p>
<p class="arab">فَإِذَا وَرَدُوهَا ﴿ لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ﴾ أَيْ لَا مَا يُبَرِّدُ جُلُودَهُمْ، وَلَا مَا يَدْفَعُ ظَمَأَهُمْ</p>
<p>“Dan mereka, ketika telah masuk ke dalam neraka, tidak akan mencicipi di dalamnya sesuatu pun yang dapat mendinginkan kulit mereka dan tidak pula sesuatu yang dapat menolak atau menghilangkan rasa haus mereka.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan,</em> hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam)</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa neraka adalah tempat dicabutnya dua kebutuhan paling mendasar manusia yaitu kesejukan dan air.</p>
<p>Surah an Naba’ ayat 24 secara tegas menggambarkan neraka sebagai tempat tanpa kesejukan, tanpa minuman, tanpa tidur dan tanpa istirahat. Empat ulama tafsir di atas sepakat bahwa ayat ini menegaskan hilangnya seluruh bentuk kenyamanan fisik dan batin bagi peghuni neraka.</p>
<p>Ayat ini bukan sekadar informasi tentang akhirat, tetapi peringatan serius agar manusia tidak meremehkan dosa dan kekufuran. Di balik ancaman ini tersimpan rahmat Allah <strong>ﷻ</strong> berupa dorongan kuat agar manusia kembali kepada iman, taubat dan amal saleh sebelum datang hari ketika tidak ada lagi kesejukan dan tidak ada lagi minuman.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/">Tafsir Surat An-Naba’ 24</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2768/tafsir-surat-an-naba-24/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
