Tanya.Islam
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
Tanya.Islam
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
Tanya.Islam
No Result
View All Result

Hukum Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Puasa Sunnah Lainnya

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. MPd. by Ustadz Ahmad Anshori, Lc. MPd.
April 27, 2025
in Puasa
Reading Time: 3 mins read

Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Puasa Sunnah Lainnya

Ust, apakah boleh meniatkan puasa syawal sekalian puasa senin kamis, ayyamul bidh?

Jawaban:

Dalam literatur fikih, para ulama menyebut praktik menggabungkan dua ibadah dalam satu niat dengan istilah “tasyrik”. Artinya, seseorang menjalankan satu amal ibadah dengan niat untuk mendapatkan pahala dari dua jenis ibadah sekaligus. Misalnya, seseorang berpuasa dengan niat membayar hutang puasa Ramadhan dan sekaligus mendapatkan keutamaan puasa sunnah.

Namun, meskipun praktik ini dikenal dalam kajian fikih, hukum memperbolehkannya tidak mutlak. Ada ketentuan dan batasan yang harus diperhatikan, bergantung pada jenis ibadah yang hendak digabungkan.

Dua Jenis Ibadah Berdasarkan Tujuan Niat

Para ulama membagi ibadah menjadi dua jenis berdasarkan tujuannya:

  1. Ibadah Maqsudah Bidzatiha
     Ibadah yang dituju secara langsung oleh syariat, artinya ia berdiri sendiri sebagai bentuk ketaatan yang memiliki dalil dan keutamaan tersendiri. Indikatornya niat yang khusus menjadi syarat keabsahan ibadah. Contohnya seperti shalat wajib, puasa Ramadhan, puasa enam hari di bulan Syawal, dan sebagainya.
  2. Ibadah Ghoiru Maqsudah Bidzatiha
     Ibadah yang tidak dituju secara langsung, melainkan berperan sebagai sarana untuk menyempurnakan ibadah lain.  Indikatornya niat yang khusus tidak menjadi syarat keabsahan ibadah alias cukup sah dengan niat yang global untuk melakukan ibadah di situasi tertentu. Contohnya seperti wudhu (sarana untuk shalat), Shalat Tahiyyatul Masjid, Puasa Senin Kamis, Puasa Aayyamul Bidh dll.

Kapan Tasyrik Diperbolehkan?

Tasyrik diperbolehkan jika ibadah yang digabungkan berbeda jenis, yaitu antara ibadah Maqsudah Bidzatiha dengan Ghoiru Maqsudah Bidzatiha.

Disebutkan dalam Fatawa Islam (no. 6579):

وحكمه أنه إذا كان في الوسائل أو مما يتداخل صح، وحصل المطلوب من العبادتين

 “Hukumnya, jika berada dalam ranah ibadah sebagai sarana atau ibadah yang bisa saling masuk, maka tasyrik itu sah. Sehingga seseorang akan mendapatkan pahala dari dua ibadah tersebut.”

Contoh:
Seseorang membayar hutang puasa Ramadhan pada tanggal 13-15 bulan hijriah, dan ia niatkan sekaligus untuk puasa sunnah Ayyamul Bidh. Atau puasa Syawal sekalian puasa Senin Kamis dan Puasa Ayyamul Bidh. Dalam hal ini, tasyrik diperbolehkan.

Kapan Tasyrik Tidak Diperbolehkan?

Tasyrik tidak diperbolehkan jika dua ibadah yang digabungkan sama-sama Maqsudah Bidzatiha. Karena masing-masing memiliki perintah syariat yang berdiri sendiri dan tidak bisa saling mewakili.

Dalam lanjutan Fatawa Islam (no. 6579) dijelaskan:

“وأما الجمع بين عبادتين مقصودتين بذاتهما…. فلا يصح التشريك، لأن كل عبادة مستقلة عن الأخرى مقصودة بذاتها لا تندرج تحت العبادة الأخرى”

“Adapun menggabungkan dua ibadah yang sama-sama Maqsudah Bidzatiha, maka tasyrik tidak sah. Karena masing-masing ibadah itu berdiri sendiri, memiliki tujuan syariat tersendiri, dan tidak bisa masuk ke dalam ibadah lainnya.”

Contoh:

Seseorang yang ingin menggabungkan shalat dhuhur wajib dengan shalat sunnah rawatib, atau shalat subuh dengan shalat sunnah fajar, maka ini tidak sah. Karena kedua ibadah tersebut berdiri sendiri dan masing-masing menuntut niat yang khusus.

Bagaimana dengan Puasa Syawal dan Puasa Sunnah Lainnya?

Persoalan yang cukup sering ditanyakan adalah: apakah boleh menggabungkan puasa puasa sunnah enam hari di bulan Syawal dengan puasa sunnah lainnya seperti senin kamis, ayyamul bid dan lainnya?

Untuk menjawabnya, kita perlu melihat status puasa 6 hari Syawal dan puasa sunah dengan berbagai jenisnya:

  • Puasa Syawal juga termasuk Maqsudah Bidzatiha, berdasarkan hadits:

“مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ”

“Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutkannya dengan enam hari puasa di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini, disebutkan secara eksplisit bahwa puasa Syawal adalah ibadah tersendiri yang mengikuti puasa Ramadhan. Artinya, sebagaimana puasa ramadhan adalah ibadah yang berdiri sendiri, maka demikian puasa syawal. Seperti shalat sunnah rawatib dan shalat fardu yang keduanya identik mengiringi dan berstatus maqsudah bidzatiha. Dalam Fatawa Islam (2001) terdapat fatwa yang mendukung penilaian ini:

فصيام شهر رمضان، ومثله قضاؤه مقصود لذاته، وصيام ست من شوال مقصود لذاته لأنهما معا كصيام الدهر، كما صح في الحديث، فلا يصح التداخل والجمع بينهما بنية واحدة

“Puasa bulan Ramadhan, demikian pula qadha-nya, adalah ibadah yang dituju secara langsung (maqsud li dzatihi). Demikian juga puasa enam hari di bulan Syawal adalah ibadah yang dituju secara langsung, karena keduanya — jika digabungkan — sebanding dengan puasa sepanjang tahun, sebagaimana sah dalam hadits. Maka tidak sah digabungkan dan disatukan dengan satu niat.”

Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menilai demikian:

فالست تحتاج إلى نية خاصة في أيام مخصوصة

“Puasa Syawal membutuhkan niat khusus pada hari-hari tertentu.”

Artinya puasa 6 hari Syawal adalah ibadah yang berdiri sendiri tidak bisa digabung dengan ibadah yang jenisnya sama-sama berdiri sendiri.

  • Puasa Sunnah lainnya seperti; puasa Senin Kamis, Ayyamul Bidh, Dawud, Arofah, ‘Asyura/Tasu’a, Muharram, Sya’ban, 9 hari awal Dzulhijjah.

Dari berbagai jenis puasa sunnah tersebut, ada yang berstatus Maqsudah Bidzatiha ada yang tidak/Ghoiru Maqsudah Bidzatiha.

Diantaranya yang Maqsudah adalah: puasa Arafah, dan Asyura/Tasu’a. Karena untuk melakukan ibadah ini diperlukan niat yang khusus.

Kemudian yang Ghoiru Maqsudah adalah: puasa Senin Kamis, Ayyamul Bidh, Dawud, Muharram, Sya’ban, 9 hari awal Dzulhijjah. Karena untuk melakukan puasa-puasa ini tidak harus dengan niat yang khusus. Sehingga bisa dimasukkan atau diisi dengan puasa yang maqsudah seperti puasa Syawal.

Wallahua’lam bis showab.

Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

Tags: puasa syawalqadha puasa
SummarizeShare234
Previous Post

Apa Itu Hadis Qudsi?

Next Post

Saya Mukmin insyaaAllah… Bolehkah Mengatakan Seperti Ini?

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. MPd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. MPd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. S1 Syariah UIM, S2 Manajemen Pendidikan UNY. Pembina di Rumuz for Islamic School Managers dan Shamsi Academy, Direktur PP Darussalam Prabumulih, Director of Diniyyah Program Gistrav Islamia School, dai di Jogjakarta.

Related Stories

Asal-Usul Puasa Asyura: Antara Tradisi Yahudi dan Ajaran Islam

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
May 30, 2025
0

Asal-Usul Puasa Asyura Pertanyaan: Mengapa Nabi Muhammad ﷺ berpuasa pada hari Asyura padahal hari itu dahulu dirayakan oleh orang Yahudi dan apa alasan Nabi ﷺ mengatakan bahwa beliau...

Next Post

Saya Mukmin insyaaAllah... Bolehkah Mengatakan Seperti Ini?

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Tafsir Surat An-Naba’ 26
  • Tafsir Surat An-Naba’ 25
  • Menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban: Antara Tuntunan dan Tradisi

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official