Ayat Kursi: Keutamaan, Makna Utama dan Pedoman Praktis
Ayat Kursi adalah ayat ke 255 dari Surah al Baqarah:
﴿ اللَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ ﴾
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Salah satu ulama kontemporer yaitu Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H), menukilkan ayat ini disebut sebagai “Ayat teragung dalam Kitab Allah”. [[1]]
Kursi adalah dasar kekuasaan dan simbol kerajaan serta ia menunjukkan kepada ketuhanan yang mutlak. [[2]]
Makna Utama di Balik Ayat
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin رحمه الله (w. 1421 H) menjelaskan bahwa ayat ini secara ringkas memuat seluruh aspek besar tauhid dan pengajaran utama al Qur-an sebagai berikut:
- Tauhid Uluhiyyah & Rububiyyah: Ayat ini menegaskan bahwa Allah ﷻ adalah satu-satunya Ilah dan Dia yang Maha Hidup, Yang Memelihara seluruh ciptaan.
- Sifat-sifat Allah: ﴿ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ﴾ menunjukkan kehidupan dan keberlangsungan yang sangat-tinggi.
- Tidak tertidur/terlena: ﴿ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ﴾ artinya Allah ﷻ tidak terlena atau kehilangan arah pengawasan-
- Pengetahuan-Nya meliputi segalanya: ﴿ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ﴾ menunjukkan bahwa ilmu-Nya mencakup masa lalu, kini dan masa depan.
- Kekuasaan yang Maha Luas: ﴿ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ﴾ menunjukkan “kursi” kekuasaan-Nya meliputi seluruh langit dan bumi. [[3]]
Keutamaan yang Dipahami Ulama Salaf dan Kontemporer
Beberapa keutamaan yang sering disebut terkait Ayat Kursi:
- Disunnahkan membacanya setiap selesai shalat fardhu dan amalan ini merupakan amalan yang istimewa, sebagaimana yang dijelaskan dalam banyak hadits yang derajatnya sampai kepada hasan. [[4]]
- Disunnahkan membaca saat hendak tidur agar mendapat perlindungan dari setan. [[5]]
- Disunnahkan pula dibaca pada dzikir pagi dan sore hari agar sepanjang hari dilindungi dari gangguan setan. [[6]]
Namun demikian adapula beberapa keutamaan yang beredar di masyarakat terkait keutamaan Ayat Kursi ini akan tetapi kita perlu lebih berhati-hati karena sebagiannya berasal dari riwayat-riwayat palsu.
Pedoman Praktis: Kapan dan Bagaimana Membacanya
Berikut panduan praktis berdasarkan ulama salaf:
- Setelah shalat fardhu (wajib): Membaca Ayat Kursi setelah selesainya shalat dan dzikir wajib, sebagai amalan sunnah. [[7]]
- Malam sebelum tidur agar terjaga dari gangguan setan: Sebagaimana riwayat kisah antara Abu Hurairah رضي الله عنه (w. 59 H) dengan Jin Pencuri zakat. [[8]]
- Dalam rangkaian dzikir pagi dan sore hari: Agar terlindungi dari setan sepanjang hari. [[9]]
Kemudian lebih afdhal dibaca dengan tadabbur akan maknanya, karena ia mengandung tentang sifat-sifat Allah ﷻ yang agung.
Kesimpulan dan Rekomendasi Amalan
Ayat al Kursi adalah salah satu ayat paling mulia dalam al Qur-an yang mencakup ringkasan tauhid, sifat-sifat Allah ﷻ yang agung dan kekuasaan-Nya yang melingkupi langit dan bumi. Ulama salaf menekankan pembacaan yang rutin setelah shalat dan sebelum tidur dengan pemahaman makna yang mendalam. Namun, penting untuk membedakan antara keutamaan yang berdasarkan dalil yang kongkrit dengan keutamaan yang tersebar secara populer namun sanadnya lemah.
Lalu ajarkan pula kepada anak-anak atau keluarga bahwa ayat ini adalah pembuka jalan kepada pengenalan Allah ﷻ : siapa Dia, bagaimana sifat-Nya, dan bagaimana kita memohon perlindungan-Nya. Hindari menyebarkan klaim-klaim yang tidak memiliki sanad kuat, agar dakwah kita tetap autentik dan bertanggung-jawab.
Semoga Allah ﷻ menjaga kita dari gangguan setan beserta seluruh makhluknya yang buruk dan menjadikan kita termasuk hamba-hambanya yang selalu memohon pertolongan dan perlindungan hanya kepada-Nya dan bukan kepada selain-Nya. Wallahu a’lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Refrensi:
[[1]] https://binbaz.org.sa/fatwas/10739/ تفسير-آية-الكرسي-وفضلها.
[[2]] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/135452/ما-صح-في-فضل-آية-الكرسي-وما-لم-يصح.
[[3]] https://tafsir.app/ibn-uthaymeen/2/255.
[[4]] https://binbaz.org.sa/fatwas/16661/فضل-قراءة-آية-الكرسي-بعد-الصلاة.
[[5]] HR. Bukhari no. 3275.
[[6]] HR. Al Hakim 1: 562. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits tersebut dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 655.
[[7]] HR. An-Nasai dalam Al Kubro 9: 44. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban.
[[8]] HR. Bukhari no. 2311.
[[9]] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 6).

