Benarkah Syi’ah Sudah Ada Sejak Zaman Nabi ﷺ? Bagian 2
Berikut lanjutan dari artikel sebelumnya Benarkah Syi’ah Sudah Ada Sejak Zaman Nabi ﷺ? Tinjauan Sejarah dan Dalil – Part 1
Para Sahabat Tidak Dikenal dengan Sebutan Sunni atau Syi’ah
Pada masa Rasulullah ﷺ (w.11 H), kaum muslimin hanya dikenal sebagai umat Islam dan para sahabat Rasulullah ﷺ. Perselisihan yang kemudian melahirkan berbagai kelompok baru muncul setelah wafat beliau. Hal ini dijelaskan oleh para sejarawan dan ulama yang membahas sejarah aliran-aliran dalam Islam, seperti Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah (w. 324 H) dalam Maqalat Al-Islamiyyin dan Imam Al-Baghdadi rahimahullah (w. 429 H) dalam Al-Farq Bain Al-Firaq, yang sama-sama memulai pembahasan mereka dengan menjelaskan perselisihan yang terjadi setelah wafat Rasulullah ﷺ (w. 11 H).
Kedudukan Ali bin Abi Thalib Menurut Ahlus Sunnah
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa mencintai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) merupakan ciri khas kelompok tertentu. Padahal Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa mencintai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) termasuk bagian dari keimanan.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) menceritakan sabda Rasulullah ﷺ (w. 11 H) kepadanya:
وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ، وَبَرَأَ النَّسَمَةَ، إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ ﷺ إِلَيَّ أَنْ لَا يُحِبَّنِي إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضَنِي إِلَّا مُنَافِقٌ
“Demi Zat yang membelah biji dan menciptakan makhluk bernyawa, sesungguhnya termasuk janji (pesan) Nabi yang ummi ﷺ kepadaku adalah bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali seorang munafik.” (HR. Muslim no. 78)
Seluruh Ahlus Sunnah mencintai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H), menghormati beliau, serta mengakui keutamaan beliau sebagai salah seorang sahabat terbaik Rasulullah ﷺ.
Apakah Ali Pernah Mengaku Ditunjuk Sebagai Imam?
Dalam sumber-sumber sejarah yang kuat, tidak ditemukan riwayat shahih bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) pernah menyatakan di hadapan para sahabat bahwa Rasulullahﷺ (w. 11 H) telah menunjuk beliau sebagai khalifah yang wajib ditaati.
Riwayat shahih dalam HR. al-Bukhari no. 4240, 4241 dan Muslim no. 1759, menjelaskan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) baru membaiat Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu (w. 13 H) setelah wafatnya Fathimah radhiyallahu ‘anha (w. 11 H), sekitar enam bulan setelah wafat Rasulullah ﷺ (w. 11 H). Tidak disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) mengklaim adanya nash (penunjukan tegas) dari Nabi ﷺ (w. 11 H) yang menetapkannya sebagai khalifah.
Kapan Istilah “Syi’ah Ali” Mulai Digunakan?
Dalam kitab-kitab sejarah Islam disebutkan bahwa setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu (w. 35 H), sebagian kaum muslimin memberikan dukungan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H), sementara sebagian yang lain berada pada pihak yang berbeda. Dari konteks inilah dikenal penyebutan “Syi’ah Ali”, yaitu para pendukung Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H).
Pada masa-masa berikutnya, berbagai kelompok yang menisbatkan diri kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) berkembang dengan keyakinan yang berbeda-beda. Perkembangan tersebut dijelaskan oleh para penulis kitab tentang Al-firaq (kelompok-kelompok), seperti Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah (w. 324 H) dalam Maqalat Al-Islamiyyin dan Imam Al-Baghdadi rahimahullah (w. 429 H) dalam Al-Farq Bain Al-Firaq.
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal penting; Pertama, kata Syi’ah secara bahasa berarti pengikut, pendukung, atau golongan.
Kedua, Al-Qur’an menggunakan kata tersebut sesuai makna bahasa, bukan sebagai nama mazhab tertentu.
Ketiga, tidak terdapat riwayat shahih bahwa Rasulullahﷺ (w. 11 H) pernah menamai suatu madzhab dengan nama Syi’ah atau memerintahkan umat untuk mengikutinya.
Keempat, pada masa Rasulullahﷺ (w. 11 H) para sahabat belum terbagi menjadi kelompok Sunni dan Syi’ah sebagaimana dikenal pada masa sekarang.
Kelima, mencintai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) merupakan bagian dari akidah Ahlus Sunnah berdasarkan hadits-hadits shahih.
Keenam, istilah Syi’ah Ali pada awal sejarah Islam lebih menunjukkan kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) pasca terbunuhnya Khalifah ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu (w. 35 H), bukan seperti yang berkembang pada masa-masa berikutnya.
Oleh karena itu, ketika membahas sejarah Syi’ah, penting untuk membedakan antara makna bahasa, penggunaan dalam Al-Qur’an, istilah politik pada masa fitnah, dan perkembangan menjadi madzhab teologis yang terjadi secara bertahap dalam perjalanan sejarah Islam. Wallahu a’lamu bishshawab.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

