Kaffarah Sumpah: Apakah Sama ‘Janji’ dengan ‘Sumpah’?
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali mengucap sumpah, janji, atau nazar tanpa menyadari perbedaan hukumnya. Islam sebagai agama yang sempurna telah menjelaskan dengan sangat rinci mengenai sumpah dan kaffarahnya, serta membedakannya dari janji dan nazar. Tulisan ini akan mengurai secara ilmiah bagaimana ulama Ahlus Sunnah memandang kaffarah sumpah, dan apakah janji termasuk di dalamnya.
Makna Sumpah dan Hukumnya
Para ulama menjelaskan bahwa sumpah adalah ikrar yang diucapkan dengan menyebut nama Allah ﷻ atau salah satu dari sifat-Nya untuk menegaskan sesuatu, baik untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) berkata:
اَلْيَمِينُ هُوَ أَنْ يَحْلِفَ الإِنْسَانُ بِاللّٰهِ تَعَالَى أَوْ بِأَحَدِ أَسْمَائِهِ أَوْ صِفَاتِهِ عَلَى فِعْلِ شَيْءٍ أَوْ تَرْكِهِ
“Sumpah ialah seseorang bersumpah dengan menyebut nama Allah atau salah satu dari nama dan sifat-Nya atas suatu perbuatan yang akan dilakukan atau ditinggalkan.”[[1]]
Allah ﷻ berfirman:
﴿ لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلٰكِنْ يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدْتُّمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴾
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. al Ma-idah: 89).
Ayat ini menjadi dasar utama bagi seluruh ulama Ahlus Sunnah dalam pembahasan kaffarah sumpah.
Bentuk Kaffarah Sumpah
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) menjelaskan bahwa kaffarah sumpah adalah sebagaimana yang disampaikan dalam firman Allah ﷻ berikut:
﴿ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ﴾
“Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar).” (QS. al Ma-idah: 89).
Kemudian beliau menjelaskan bahwa urutan ini tidak boleh dibalik; seseorang harus memulai dengan tiga pilihan pertama (memberi makan, memberi pakaian, atau memerdekakan budak). Jika semua itu tidak sanggup dilakukan, barulah ia boleh berpuasa tiga hari berturut-turut.[[2]]
Apakah Janji Sama dengan Sumpah?
Pertanyaan ini sering muncul: “Apakah janji kepada Allah ﷻ termasuk sumpah?”, lalu bagaimana jawabannya? Mari kita simak penjelasan berikut!
- Janji
Dijelaskan dalam situs IslamWeb.net (dikelola oleh: Kementerian Wakaf dan Urusan Islam – Qatar) yang dimaksud dengan janji ialah:
فَهُوَ الْإِخْبَارُ عَنْ فِعْلِ الْمَرْءِ أَمْرًا فِي الْمُسْتَقْبَلِ يَتَعَلَّقُ بِالْغَيْرِ
“Pemberitahuan seseorang tentang suatu perbuatan yang akan ia lakukan di masa depan dan berkaitan dengan orang lain.”[[3]]
Jadi, seseorang yang berkata: “Saya akan melakukan itu insyaallah”, tidak dianggap bersumpah, kecuali jika ia menambahkan lafaz sumpah seperti “Demi Allah!” (وَاللّٰهِ).
- Sumpah
Adapun, bila seseorang berkata: “Demi Allah, sungguh aku akan melakukan ini!”, maka itu adalah sumpah. Jika ia melanggarnya, wajib membayar kaffarah sebagaimana firman Allah ﷻ dalam QS. al Ma-idah: 89.[[4]]
- Nadzar
Nadzar juga berbeda dari sumpah. Ia adalah komitmen untuk melakukan ibadah yang sebelum-nya tidak wajib. Misalnya: “Demi Allah, aku akan berpuasa sehari jika aku berhasil.” Jika seseorang melanggar nazar, maka ia berdosa dan wajib menunaikannya atau membayar kaffarah sebagaimana kaffarah sumpah. Rasulullah ﷺ bersabda:
» كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ اليَمِينِ «
“Kafarat (tebusan) nadzar adalah kafarat sumpah.” (HR. Muslim no. 1645)
Perbandingan Singkat
Berikut ialah ringkasan perbandingan antara “Sumpah”, “Janji” dan “Nazar”
| Jenis Ucapan | Contoh Lafal | Hukum Bila Dilanggar | Ada Kaffarah? |
| Sumpah | “Demi Allah, sungguh aku akan melakukan ini!” | Dosa dan wajib kaffarah | ✅ Ya |
| Janji | “Saya akan melakukan itu insyaallah” | Dosa karena menyalahi janji | ❌ Tidak |
| Nazar | “Demi Allah, aku akan berpuasa sehari jika aku berhasil.” | Dosa dan wajib kaffarah | ✅ Ya |
Keterangan Ulama Kontemporer
Dr. Hisyam al Hamran رحمه الله (w. 1446 H) dari Dar al Iftaʾ al Urduniyyah (Lembaga Fatwa Yordania) menjelaskan:
كَفَّارَةُ الْيَمِينِ عِبَادَةٌ مَالِيَّةٌ تُظْهِرُ صِدْقَ التَّوْبَةِ وَتَعْظِيمَ اسْمِ اللّٰهِ، وَهِيَ وَاجِبَةٌ عِنْدَ الْحِنْثِ فِي الْيَمِينِ الْمُنْعَقِدَةِ
“Kaffārah sumpah adalah ibadah yang bersifat materi untuk menunjukkan kejujuran taubat dan pengagungan terhadap nama Allah, dan hukumnya wajib bila melanggar sumpah yang mengikat.” [[5]]
Kesimpulan:
Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa:
- Sumpah wajib dijaga; bila dilanggar maka harus ditebus dengan kaffarah sebagaimana firman Allah ﷻ dalam QS. al Ma-idah: 89 begitupula urutannya.
- Janji tidak sama dengan sumpah; ia tidak memiliki konsekuensi kaffarah kecuali disertai lafal sumpah.
- Nazar adalah ibadah tambahan yang wajib dipenuhi bila disyaratkan dan waib membayar kaffarah bila melanggar.
- Islam menuntun umatnya untuk menjaga ucapan dan tidak menjadikan sumpah sebagai hal yang ringan.
Penutup
Menjaga sumpah dan janji adalah tanda kejujuran dan ketakwaan. Rasulullah ﷺ bersabda:
»مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَلْيَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ، وَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ «
“Barang siapa bersumpah untuk melakukan sesuatu, lalu ia melihat yang lebih baik darinya, maka hendaklah ia melakukan yang lebih baik itu dan membayar kaffarah sumpahnya.” (HR. Bukhari no. 6622, Muslim no. 1650)
Wallahu a’lamu bishshawab.
[[1]] https://binbaz.org.sa/fatwas/5935/.توضيح-كيفية-كفارة-اليمين
[[2]] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 1).
[[3]] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/110211/.الفرق-بين-الوعد-والعهد
[[4]] https://islamqa.info/ar/answers/416822/هل-الوعد-مع-الله-له-حكم-اليمين
[[5]] https://www.aliftaa.jo/article/المسائل-المشهورة-في-كفارة-اليمين

