• Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Istilah-Istilah dalam Musthalah Hadits

Ustadz Dhiaurrahman, Lc by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
October 1, 2026
in Hadis
Reading Time: 3 mins read
istilah dalam musthalah hadis

Mengenal Sebagian Istilah Penting dalam Mushtholah Hadits

Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.

Pada artikel sebelumnya, kita telah mengenal dasar-dasar mushtholah hadits dan memahami bahwa sebuah hadits tidak cukup hanya dinilai dari isi atau popularitasnya, tetapi perlu diteliti melalui sanad dan matan serta berbagai kaidah yang telah dijelaskan para ulama. Namun, pembahasan ilmu hadits ternyata tidak berhenti pada istilah shahih, hasan, dan dhaif. Kita masih akan menemukan banyak istilah lain seperti marfu’, mawquf, maqthu’, mursal, munqathi’, mu’dhal, mu’allaq, gharib, syadz, ‘illah dst. Memahami istilah-istilah ini akan membantu kita membaca kitab hadits dengan lebih tepat, memahami ucapan para ulama, dan tidak terburu-buru menyimpulkan status sebuah riwayat hanya berdasarkan istilah yang kita dengar. Karena artikel ini hanya memuat sebagian kecilnya saja, maka bagi yang ingin lebih mendalami, disarankan untuk belajar kepada guru yang kompeten di bidangnya.

Marfu’, Mawquf, dan Maqthu’

Dalam ilmu mushtholah hadits, sebuah riwayat dapat dibedakan berdasarkan kepada siapa riwayat tersebut disandarkan pada ujung sanadnya.

Apakah sampai kepada Rasulullah ﷺ? Apakah berhenti pada sahabat? Ataukah berhenti pada tabi’in? Dari sinilah muncul tiga istilah penting: marfu’, mawquf, dan maqthu’.

Namun, para ulama terdahulu memberikan beberapa rincian dalam penggunaan istilah tersebut. Karena itu, memahami definisi mereka akan membantu kita agar tidak keliru ketika membaca kitab-kitab hadits.

Pertama: Marfu’

Marfu’ adalah riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah ﷺ.

Imam Ibnu Shalah rahimahullah (w. 643 H) mendefinisikannya:

وَهُوَ مَا أُضِيفَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ خَاصَّةً

“Marfu’ adalah riwayat yang disandarkan secara khusus kepada Rasulullah ﷺ.” (Muqaddimah Ibnu ash-Shalah, Pengertian Hadits Marfu’, 1/45).

Ibnu Shalah menjelaskan bahwa dalam istilah ini termasuk riwayat yang sanadnya bersambung maupun terputus, bahkan termasuk mursal dan bentuk keterputusan lainnya. Dengan demikian, istilah marfu’ menjelaskan kepada siapa riwayat itu disandarkan, bukan otomatis menunjukkan bahwa sanadnya shahih atau bersambung. Ini poin yang sangat penting. Misalnya seseorang meriwayatkan:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ …

“Rasulullah ﷺ bersabda…” Maka riwayat itu disebut marfu’, meskipun sanad yang sampai kepada Rasulullah ﷺ ternyata terputus. Jadi Marfu’ tidak otomatis berarti shahih.

Sebuah riwayat bisa berstatus marfu’ tetapi dhaif, karena penisbatan kepada Nabi ﷺ adalah satu pembahasan, sedangkan kualitas sanad merupakan pembahasan yang lain.

Kedua: Mawquf

Mawquf adalah riwayat yang berhenti pada sahabat dan tidak melewati mereka sampai kepada Rasulullah ﷺ.

Imam Ibnu Shalah rahimahullah (w. 643 H) mendefinisikannya:

وَهُوَ مَا يُرْوَى عَنِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مِنْ أَقْوَالِهِمْ أَوْ أَفْعَالِهِمْ وَنَحْوِهَا، فَيُوقَفُ عَلَيْهِمْ، وَلَا يُتَجَاوَزُ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ

“Mawquf adalah apa yang diriwayatkan dari para sahabat berupa perkataan, perbuatan, dan semisalnya, lalu riwayat itu berhenti pada mereka dan tidak melewatinya sampai kepada Rasulullah ﷺ.” (Muqaddimah Ibnu ash-Shalah, Pengertian Hadits Mauquf, 1/46).

Contohnya:

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ…

“Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata…”

Jika perkataan tersebut memang berhenti pada Umar radhiyallahu ‘anhu dan tidak dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ, maka secara istilah disebut mawquf.

Ketiga: Maqthu’

Adapun maqthu’ adalah riwayat yang berhenti pada tabi’in.

Imam Ibnu Shalah rahimahullah (w. 643 H) berkata:

وَهُوَ مَا جَاءَ عَنِ التَّابِعِينَ مَوْقُوفًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَقْوَالِهِمْ أَوْ أَفْعَالِهِمْ

“Maqthu’ adalah apa yang berasal dari tabi’in berupa perkataan atau perbuatan mereka yang berhenti pada mereka.” (Muqaddimah Ibnu ash-Shalah, Pengertian Hadits Maqthu’, 1/47).

Contohnya:

قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ رَحِمَهُ اللَّهُ…

“Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah berkata…”

Sa’id bin al-Musayyib adalah seorang tabi’in. Jika riwayat tersebut memang berhenti pada beliau dan tidak dinisbatkan kepada sahabat atau Rasulullah ﷺ, maka disebut maqthu’.

Maqthu’ berbeda dengan munqathi’

Ini kesalahan istilah yang cukup sering terjadi. Maqthu’ berkaitan dengan kepada siapa riwayat tersebut disandarkan, sedangkan munqathi’ berkaitan dengan terputusnya sanad.

Imam Ibnu Shalah rahimahullah (w. 643 H) berkata:

وَأَنَّ الْمُنْقَطِعَ مِنْهُ الْإِسْنَادُ فِيهِ قَبْلَ الْوُصُولِ إِلَى التَّابِعِيِّ رَاوٍ لَمْ يَسْمَعْ مِنَ الَّذِي فَوْقَهُ، وَالسَّاقِطُ بَيْنَهُمَا غَيْرُ مَذْكُورٍ، لَا مُعَيَّنًا وَلَا مُبْهَمًا. وَمِنْهُ: الْإِسْنَادُ الَّذِي ذُكِرَ فِيهِ بَعْضُ رُوَاتِهِ بِلَفْظٍ مُبْهَمٍ نَحْوَ رَجُلٍ، أَوْ شَيْخٍ، أَوْ غَيْرِهِمَا

“Adapun munqathi’ adalah sanad yang di dalamnya terjadi keterputusan sebelum sampai kepada tabi’in, yaitu terdapat seorang perawi yang meriwayatkan dari orang yang berada di atasnya, padahal ia tidak pernah mendengar riwayat darinya. Perawi yang terputus di antara keduanya tersebut tidak disebutkan, baik identitasnya secara jelas maupun secara samar. Termasuk kategori munqathi’ adalah sanad yang salah satu perawinya disebut dengan lafaz yang tidak jelas, seperti ‘rajulun’ (seorang lelaki), ‘syaikhun’ (seorang syaikh) atau ungkapan samar lainnya.” (Muqaddimah Ibnu ash-Shalah, Pengertian Hadits Munqathi’, 1/57).

Maka Maqthu’ ≠ Munqathi’. Karena Maqthu’ berkaitan dengan kepada siapa hadits dinisbatkan, sedangkan Munqathi’ berkaitan dengan putusnya sanad suatu hadits dari tabi’in hingga ke Rasulullah ﷺ.

Ilmu mushtholah hadits memang memiliki banyak istilah dan pembahasan yang cukup luas, artikel ini hanya memuat sebagian kecilnya saja, walau demikian, semuanya itu pada akhirnya mengajarkan kita satu hal yang sangat penting: bersikap amanah terhadap sunnah Rasulullah ﷺ. Dengan memahami perbedaan antara marfu’, mawquf, dan berbagai istilah lainnya, serta mengetahui proses bagaimana seorang ulama menilai sebuah hadits, kita akan semakin memahami betapa telitinya para ulama dalam menjaga hadits Nabi ﷺ dan bersikap hati-hati ketika menerima sebuah riwayat, dan mengembalikan perkara yang rumit kepada para ulama yang memiliki keahlian. Dengan demikian, mempelajari mushtholah hadits bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap ilmiah, kehati-hatian, dan kecintaan kita terhadap sunnah Nabi ﷺ. Wallahu a’lamu bishshawab.

Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Tags: belajar ilmu haditsbelajar musthalah haditsdasar ilmu haditshadits ahadhadits dhaifhadits hasanhadits mutawatirhadits shahihilmu haditsilmu musthalah haditsistilah dalam haditsistilah hadits dhaifistilah hadits shahihistilah istilah haditsistilah musthalah haditskajian haditsklasifikasi haditsmatan haditsmemahami haditsmusthalah haditspembagian haditspengertian musthalah haditsperawi haditssanad haditsulumul hadits
SummarizeShare234
Previous Post

Cara Menentukan Hadits Shahih atau Dhaif dengan Mushtholah Hadits

Ustadz Dhiaurrahman, Lc

Ustadz Dhiaurrahman, Lc

Ustadz Dhiaurrahman, Lc. S1 Hadits Al Azhar - Mesir. Pengajar diniyah di Gistrav Islamia School

Related Stories

Cara Menentukan Hadits Shahih atau Dhaif dengan Mushtholah Hadits

Cara Menentukan Hadits Shahih atau Dhaif dengan Mushtholah Hadits

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
September 30, 2026
0

Menentukan Hadits Shahih atau Dhaif Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Ketika seseorang membaca sebuah tulisan di media sosial yang berbunyi, “Rasulullah ﷺ bersabda...”, seorang muslim tidak cukup hanya bertanya, “Apa makna hadits...

Apa Itu Hadis Qudsi?

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
April 27, 2025
0

Hadis Qudsi Ditulis oleh Muhammad Faqihudin Ismail, B.A, M.A. Definisi Hadis Qudsi Nabi ﷺ terkadang beliau menyampaikan nasihat kepada para sahabatnya berupa kisah yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya...

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Istilah-Istilah dalam Musthalah Hadits
  • Cara Menentukan Hadits Shahih atau Dhaif dengan Mushtholah Hadits
  • Tafsir Surat An-Naba’ : 34

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Biografi
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Firqah
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Uncategorized
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official