<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>fiqih haji - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/fiqih-haji/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Jun 2026 04:51:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.3</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>fiqih haji - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hukum Walimah Haji Menyambut dan Menjamu Jamaah</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2026 04:51:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Haji & Umrah]]></category>
		<category><![CDATA[adab menyambut jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[amalan setelah haji]]></category>
		<category><![CDATA[doa untuk jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum acara penyambutan haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menjamu jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum syar'i penyambutan haji.]]></category>
		<category><![CDATA[hukum syukuran haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum walimah haji]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>
		<category><![CDATA[islam dan haji]]></category>
		<category><![CDATA[jamaah haji pulang]]></category>
		<category><![CDATA[kajian fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[kajian islam tentang haji]]></category>
		<category><![CDATA[manasik haji]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah menyambut jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi menyambut haji]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan haji sesuai sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz ammi nur baits]]></category>
		<category><![CDATA[walimah haji dalam islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3034</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bolehkah Menyambut dan Mengadakan Jamuan Makan atas Kepulangan Jamaah Haji Kepulangan seseorang dari ibadah haji biasanya menjadi momen yang sangat membahagiakan. Keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat sekitar sering kali ikut menyambut kedatangannya dengan rasa syukur. Di sebagian tempat, penyambutan itu dilakukan dengan kunjungan, ucapan selamat, doa, bahkan jamuan makan. Lalu, bagaimana hukum merayakan kepulangan jamaah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/">Hukum Walimah Haji Menyambut dan Menjamu Jamaah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Bolehkah Menyambut dan Mengadakan Jamuan Makan atas Kepulangan Jamaah Haji</strong></h2>
<p>Kepulangan seseorang dari ibadah haji biasanya menjadi momen yang sangat membahagiakan. Keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat sekitar sering kali ikut menyambut kedatangannya dengan rasa syukur. Di sebagian tempat, penyambutan itu dilakukan dengan kunjungan, ucapan selamat, doa, bahkan jamuan makan.</p>
<p>Lalu, bagaimana hukum merayakan kepulangan jamaah haji dan membuatkan makanan untuknya? Apakah hal seperti ini dibolehkan dalam syariat?</p>
<p>Secara umum, menyambut orang yang datang dari haji, memberi ucapan selamat, dan membuatkan jamuan makan untuknya adalah perkara yang dibolehkan. Bahkan, jika orang yang baru pulang dari haji itu sendiri membuat makanan lalu mengundang orang lain, hal tersebut juga dibolehkan. Maka, apabila keluarga atau masyarakat yang membuatkan makanan untuknya sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur, tentu hal itu juga masuk dalam perkara yang boleh, selama tidak disertai hal-hal yang dilarang.</p>
<p>Dasar kebolehannya adalah karena dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat riwayat yang menunjukkan adanya penyambutan terhadap orang yang datang dari perjalanan. Penyambutan ini tidak hanya terbatas pada perjalanan haji, tetapi juga mencakup perjalanan lain seperti umrah, dagang, jihad, atau safar secara umum.</p>
<p>Dalil tentang Menyambut Orang yang Datang dari Perjalanan</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:</p>
<p class="arab">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ اسْتَقْبَلَتْهُ أُغَيْلِمَةُ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَحَمَلَ وَاحِدًا بَيْنَ يَدَيْهِ وَآخَرَ خَلْفَهُ.</p>
<p>“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ‘Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Makkah, anak-anak kecil dari Bani Abdul Muthalib menyambut beliau. Lalu beliau membawa salah seorang dari mereka di depan beliau dan yang lain di belakang beliau.’”</p>
<p>Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam <em>Shahih Al-Bukhari</em>, no. 1704, dalam Kitab Al-‘Umrah. Imam Al-Bukhari membuat judul bab untuk hadis ini:</p>
<p class="arab">بَابُ اسْتِقْبَالِ الْحَاجِّ الْقَادِمِينَ، وَالثَّلَاثَةِ عَلَى الدَّابَّةِ</p>
<p>“Bab menyambut orang-orang haji yang datang, dan tiga orang berada di atas kendaraan.”</p>
<p>Pemberian judul bab oleh Imam Al-Bukhari ini menunjukkan bahwa menyambut orang yang datang dari haji termasuk perkara yang dikenal dan memiliki dasar dalam sunnah.</p>
<p>Dalam riwayat lain, Ibnu Az-Zubair pernah berkata kepada Ibnu Ja‘far radhiyallahu ‘anhum:</p>
<p class="arab">وَقَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ لِابْنِ جَعْفَرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ: أَتَذْكُرُ إِذْ تَلَقَّيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَأَنْتَ وَابْنُ عَبَّاسٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَحَمَلَنَا وَتَرَكَكَ.</p>
<p>“Ibnu Az-Zubair berkata kepada Ibnu Ja‘far radhiyallahu ‘anhum, ‘Apakah engkau ingat ketika aku, engkau, dan Ibnu Abbas menyambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ibnu Ja‘far menjawab, ‘Ya, lalu beliau membawa kami dan meninggalkanmu.’”(HR. Al-Bukhari, no. 2916).</p>
<p>Dari Abdullah bin Ja‘far radhiyallahu ‘anhu, beliau juga berkata:</p>
<p class="arab">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا. قَالَ: فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ. قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.</p>
<p>“Dari Abdullah bin Ja‘far, ia berkata, ‘Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari perjalanan, kami biasa dibawa untuk menyambut beliau.’ Ia berkata, ‘Maka aku bersama Al-Hasan atau Al-Husain dibawa untuk menyambut beliau. Lalu beliau membawa salah seorang dari kami di depan beliau dan yang lain di belakang beliau, sampai kami masuk ke Madinah.’” (HR. Muslim, no. 2428).</p>
<p>Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa menyambut kedatangan orang yang pulang dari perjalanan adalah perkara yang dibolehkan. Jika penyambutan terhadap musafir secara umum dibolehkan, maka menyambut orang yang pulang dari ibadah haji juga dibolehkan, selama tidak disertai perkara yang melanggar syariat.</p>
<p>Jamuan Makan untuk Orang yang Pulang dari Safar</p>
<p>Di antara bentuk penyambutan orang yang datang dari perjalanan adalah membuat makanan untuknya. Dalam istilah fikih, makanan yang dibuat karena kedatangan seseorang dari safar disebut النقيعة (<em>an-naqī‘ah</em>).</p>
<p>Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">يُسْتَحَبُّ النَّقِيعَةُ، وَهِيَ طَعَامٌ يُعْمَلُ لِقُدُومِ الْمُسَافِرِ، وَيُطْلَقُ عَلَى مَا يَعْمَلُهُ الْمُسَافِرُ الْقَادِمُ، وَعَلَى مَا يَعْمَلُهُ غَيْرُهُ لَهُ.</p>
<p>“Dianjurkan an-naqī‘ah, yaitu makanan yang dibuat karena kedatangan musafir. Istilah ini digunakan untuk makanan yang dibuat oleh musafir yang baru datang, dan juga untuk makanan yang dibuat oleh orang lain untuknya.”</p>
<p>Kemudian beliau melanjutkan, Di antara dalil yang digunakan dalam masalah ini adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu:</p>
<p class="arab">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً.</p>
<p>“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah dari perjalanannya, beliau menyembelih seekor unta atau sapi.” (<em>Al-Majmu‘ Syarh Al-Muhadzdzab</em>, 4/400).</p>
<p>Dalam kitab <em>Manasik Al-Hajj wa Al-‘Umrah fi Al-Islam fi Dhau’ Al-Kitab wa As-Sunnah</em> (hlm. 704), disebutkan:</p>
<p class="arab">يُسْتَحَبُّ جَمْعُ الْأَصْحَابِ وَإِطْعَامُهُمْ عِنْدَ الْقُدُومِ مِنَ السَّفَرِ؛ لِفِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.</p>
<p>“Dianjurkan mengumpulkan sahabat dan memberi mereka makan ketika datang dari perjalanan, berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”</p>
<p>Kemudian disebutkan hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma diatas.</p>
<p>Keterangan ini menunjukkan bahwa membuat makanan karena kedatangan seseorang dari perjalanan memiliki dasar dalam pembahasan fikih. Karena itu, apabila seorang jamaah haji yang baru pulang membuat makanan dan mengundang orang lain, hal itu dibolehkan. Demikian pula jika keluarga, kerabat, atau masyarakat membuatkan makanan untuk menyambutnya.</p>
<p>Al-Qalyubi rahimahullah menyebutkan beberapa adab ketika seseorang kembali dari perjalanan. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">يُنْدَبُ أَنْ يَحُجَّ الرَّجُلُ بِأَهْلِهِ، وَأَنْ يَحْمِلَ هَدِيَّةً مَعَهُ، وَأَنْ يَأْتِيَ إِذَا عَادَ مِنْ سَفَرٍ &#8211; وَلَوْ قَصِيرًا &#8211; بِهِبَةٍ لِأَهْلِهِ، وَأَنْ يُرْسِلَ لَهُمْ مَنْ يُخْبِرُهُمْ بِقُدُومِهِ إِنْ لَمْ يَعْلَمُوا بِهِ، وَأَنْ يَقْصِدَ أَقْرَبَ مَسْجِدٍ فَيُصَلِّيَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةَ الْقُدُومِ، وَأَنْ يُصْنَعَ لَهُ وَلِيمَةٌ تُسَمَّى النَّقِيعَةَ، وَأَنْ يَتَلَقَّوْهُ كَغَيْرِهِمْ، وَأَنْ يُقَالَ لَهُ &#8211; إِنْ كَانَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا &#8211; تَقَبَّلَ اللَّهُ حَجَّكَ وَعُمْرَتَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَأَخْلَفَ عَلَيْكَ نَفَقَتَكَ.</p>
<p>“Dianjurkan bagi seseorang untuk berhaji bersama keluarganya, membawa hadiah bersamanya, dan ketika ia kembali dari perjalanan — meskipun perjalanan singkat — ia membawa pemberian untuk keluarganya. Dianjurkan pula mengirim orang untuk memberi tahu keluarganya tentang kedatangannya apabila mereka belum mengetahuinya, menuju masjid terdekat lalu shalat dua rakaat sebagai sunnah kedatangan (dari safar), dibuatkan untuknya jamuan yang disebut an-naqī‘ah, disambut sebagaimana orang lain disambut, dan dikatakan kepadanya jika ia seorang haji atau umrah: ‘Semoga Allah menerima haji dan umrahmu, mengampuni dosamu, dan mengganti nafkahmu.’” (<em>Hasyiyah Al-Qalyubi ‘ala Syarh Al-Minhaj</em>, 2/190).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang kebiasaan sebagian masyarakat, khususnya di desa-desa, yang membuat jamuan setelah jamaah haji pulang dari Makkah. Jamuan tersebut terkadang disebut “sembelihan untuk jamaah haji”, “kegembiraan atas kepulangan jamaah haji”, atau “syukuran keselamatan jamaah haji”. Dalam pertanyaan itu juga disebutkan bahwa terkadang acara tersebut disertai sikap berlebihan dan pemborosan.</p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p class="arab">هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ، لَا بَأْسَ بِإِكْرَامِ الْحُجَّاجِ عِنْدَ قُدُومِهِمْ؛ لِأَنَّ هَذَا يَدُلُّ عَلَى الِاحْتِفَاءِ بِهِمْ، وَيُشَجِّعُهُمْ أَيْضًا عَلَى الْحَجِّ، لَكِنِ التَّبْذِيرُ الَّذِي أَشَرْتَ إِلَيْهِ وَالْإِسْرَافُ هُوَ الَّذِي يُنْهَى عَنْهُ؛ لِأَنَّ الْإِسْرَافَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ، سَوَاءٌ بِهَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ، أَوْ غَيْرِهَا.</p>
<p>“Hal itu tidak mengapa. Tidak mengapa memuliakan para jamaah haji ketika mereka datang, karena hal ini menunjukkan penghormatan kepada mereka dan juga dapat mendorong mereka untuk melaksanakan haji. Akan tetapi, pemborosan yang engkau sebutkan dan sikap berlebihan itulah yang dilarang. Sebab, berlebihan itu dilarang, baik dalam kesempatan ini maupun kesempatan lainnya.”</p>
<p>Kemudian beliau menyebutkan firman Allah Ta‘ala:</p>
<p class="arab">وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ</p>
<p>“Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An‘am: 141).</p>
<p>Allah Ta‘ala juga berfirman:</p>
<p class="arab">إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang melakukan pemborosan itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 27).</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah kemudian melanjutkan:</p>
<p class="arab">لَكِنْ إِذَا كَانَتْ وَلِيمَةً مُنَاسِبَةً، عَلَى قَدْرِ الْحَاضِرِينَ، أَوْ تَزِيدُ قَلِيلًا: فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ مِنَ النَّاحِيَةِ الشَّرْعِيَّةِ، وَمِنَ النَّاحِيَةِ الِاجْتِمَاعِيَّةِ.</p>
<p>“Namun, apabila jamuan itu sesuai, sekadar jumlah orang yang hadir atau lebih sedikit, maka hal itu tidak mengapa, baik dari sisi syariat maupun dari sisi sosial.”(<em>Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh</em>, pertemuan ke-154, pertanyaan no. 12).</p>
<p>Dari fatwa ini dapat disimpulkan bahwa yang dilarang bukanlah acara penyambutan atau jamuan itu sendiri, melainkan pemborosan, sikap berlebihan, dan memaksakan diri di luar kemampuan.</p>
<p>Berdasarkan ulasan di atas, mengadakan jamuan setelah kepulangan jamaah haji pada dasarnya termasuk perkara yang dibolehkan, selama tidak diyakini sebagai sesuatu yang wajib atau sebagai bagian khusus dari rangkaian ibadah haji yang harus dilakukan. Jamuan tersebut juga harus dijaga dari penyimpangan, kemaksiatan, sikap berlebihan, pemborosan, dan hal-hal yang memberatkan.</p>
<p>Apabila jamuan itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, penghormatan kepada tamu, penyambutan terhadap orang yang baru pulang dari perjalanan, serta sarana mempererat silaturahmi, maka hukumnya boleh. Terlebih dalam pembahasan fikih dikenal istilah <em>an-naqī‘ah</em>, yaitu makanan yang dibuat karena kedatangan seorang musafir.</p>
<p>Dengan demikian, selama batasan-batasan syariat tersebut dijaga, maka acara penyambutan jamaah haji dan jamuan makan untuknya termasuk perkara yang dibolehkan.</p>
<p>Dan tidak mengapa memberi ucapan selamat kepada orang yang baru pulang dari haji. Ucapan tersebut boleh menggunakan kalimat apa saja selama maknanya baik, dibolehkan dalam syariat, dan berisi doa.</p>
<p>Di antara ucapan yang baik adalah:</p>
<p class="arab">تَقَبَّلَ اللَّهُ طَاعَتَكُمْ</p>
<p>“Semoga Allah menerima ketaatan kalian.”</p>
<p>Atau:</p>
<p class="arab">حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا</p>
<p>“Semoga menjadi haji yang mabrur dan usaha yang diterima.”</p>
<p>Atau:</p>
<p class="arab">تَقَبَّلَ اللَّهُ نُسُكَكَ، وَأَعْظَمَ أَجْرَكَ، وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ</p>
<p>“Semoga Allah menerima ibadah manasikmu, memperbesar pahalamu,</p>
<p>Ibnu Muflih rahimahullah menyebutkan:</p>
<p class="arab">وَأَمَّا الْحَاجُّ فَسَمِعْنَا عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي قِلَابَةَ، وَأَنَّ النَّاسَ لَيَدْعُونَ.</p>
<p>“Adapun tentang orang yang berhaji, kami mendengar dari Ibnu Umar dan Abu Qilabah bahwa orang-orang mendoakannya.” (Ibnu Muflih, <em>Al-Furu‘</em>, 6/193–194).</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/">Hukum Walimah Haji Menyambut dan Menjamu Jamaah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Haji Tamattu’, Qiran, dan Ifrad</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2968/mengenal-haji-tamattu-qiran-dan-ifrad/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2968/mengenal-haji-tamattu-qiran-dan-ifrad/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2026 07:06:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Haji & Umrah]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji ifrad]]></category>
		<category><![CDATA[haji mana yang paling utama]]></category>
		<category><![CDATA[haji qiran]]></category>
		<category><![CDATA[haji tamattu]]></category>
		<category><![CDATA[hukum haji ifrad]]></category>
		<category><![CDATA[hukum haji qiran]]></category>
		<category><![CDATA[hukum haji tamattu]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji sesuai sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[jenis jenis haji]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan haji]]></category>
		<category><![CDATA[manasik haji]]></category>
		<category><![CDATA[panduan haji lengkap]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan haji tamattu qiran ifrad]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2968</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa Perbedaan Tamattu’, Qiran, dan Ifrad dalam Haji, Dan Manakah Yang Utama ? Dalam pelaksanaan ibadah haji, seorang jamaah tidak hanya dituntut memahami rangkaian manasik secara umum, tetapi juga perlu mengetahui jenis nusuk yang akan ia pilih sejak awal ihram. Pemilihan nusuk ini penting karena masing-masing memiliki tata cara, konsekuensi hukum, dan ketentuan tersendiri, terutama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2968/mengenal-haji-tamattu-qiran-dan-ifrad/">Mengenal Haji Tamattu’, Qiran, dan Ifrad</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Apa Perbedaan Tamattu’, Qiran, dan Ifrad dalam Haji, Dan Manakah Yang Utama ?</strong></h2>
<p>Dalam pelaksanaan ibadah haji, seorang jamaah tidak hanya dituntut memahami rangkaian manasik secara umum, tetapi juga perlu mengetahui jenis nusuk yang akan ia pilih sejak awal ihram. Pemilihan nusuk ini penting karena masing-masing memiliki tata cara, konsekuensi hukum, dan ketentuan tersendiri, terutama berkaitan dengan niat, tahallul, serta kewajiban menyembelih hadyu. Ada tiga jenis nusuk yang dikenal dalam syariat, yaitu <strong>tamattu’</strong>, <strong>qiran</strong>, dan <strong>ifrad</strong>.</p>
<p>Seorang jamaah ketika hendak berihram untuk haji, maka ia boleh memilih salah satu dari tiga jenis nusuk tersebut.</p>
<p>Dalil bolehnya memilih salah satu dari tiga jenis nusuk ini adalah hadis dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">(خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; فَقَالَ: «مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍّ وَعُمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍّ فَلْيُهِلَّ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِعُمْرَةٍ فَلْيُهِلَّ» قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِي الله عَنْهَا: فَأَهَلَّ رَسُولُ الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; بِحَجٍّ، وَأَهَلَّ بِهِ نَاسٌ مَعَهُ وَأَهَلَّ نَاسٌ بِالْعُمْرَةِ وَالْحَجِّ، وَأَهَلَّ نَاسٌ بِعُمْرَةٍ، وَكُنْتُ فِيمَنْ أَهَلَّ بِالْعُمْرَةِ)</p>
<p>“Kami berangkat bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Lalu beliau bersabda: ”Barang siapa di antara kalian ingin bertalbiyah untuk haji dan umrah, maka lakukanlah. Barang siapa ingin bertalbiyah untuk haji saja, maka bertalbiyahlah. Dan barang siapa ingin bertalbiyah untuk umrah saja, maka bertalbiyahlah.’</p>
<p>‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata, “Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertalbiyah untuk haji. Sebagian orang juga bertalbiyah untuk haji bersama beliau. Sebagian lainnya bertalbiyah untuk umrah dan haji. Sebagian lainnya bertalbiyah untuk umrah. Dan aku termasuk orang yang bertalbiyah untuk umrah.”  <em>(HR. Muslim, no. 1211).</em></p>
<p>Para ulama juga sepakat bahwa seseorang boleh berihram dengan salah satu dari tiga jenis nusuk tersebut, baik <strong>ifrad</strong>, <strong>qiran</strong>, maupun <strong>tamattu’</strong>.</p>
<p>Ibn Qudamah <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p class="arab">(أجمَعَ أَهْل العِلْم على جوازِ الإحرامِ بأيِّ الأنساكِ الثَّلاثة شاء)</p>
<p>“Para ulama telah sepakat tentang bolehnya berihram dengan salah satu dari tiga jenis nusuk yang ia kehendaki.” <em>(al-Mughni, 3/260).</em></p>
<p><strong>Macam – Macam Nusuk</strong></p>
<p>Macam macam nusuk dalam syariat ada tiga:</p>
<h2><strong> Tamattu’</strong></h2>
<p><strong>Tamattu’</strong> adalah seseorang berihram untuk umrah pada bulan-bulan haji, kemudian ia bertahallul dari umrah tersebut. Setelah itu, ia berihram kembali untuk haji pada tahun yang sama.</p>
<p>Orang yang melakukan tamattu’ wajib menyembelih hadyu, yang disebut <strong>hadyu tamattu’</strong>. Kewajiban ini berlaku karena ia menggabungkan umrah dan haji dalam satu perjalanan, tetapi di antara keduanya ia sempat bertahallul.</p>
<p><strong>Sebab Dinamakan Tamattu’</strong></p>
<p>Para ulama menyebutkan beberapa alasan mengapa nusuk ini disebut <strong>tamattu’</strong>. Dua alasan yang paling masyhur adalah sebagai berikut.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> orang yang melakukan tamattu’ mendapatkan kemudahan karena cukup melakukan satu perjalanan untuk dua ibadah, yaitu umrah dan haji.</p>
<p>Pada asalnya, masing-masing ibadah memiliki perjalanan tersendiri. Umrah dilakukan dengan berihram dari miqat dan melakukan perjalanan untuk umrah. Begitu pula haji dilakukan dengan berihram dari miqat dan melakukan perjalanan untuk haji.</p>
<p>Namun dalam tamattu’, keduanya dilakukan dalam satu perjalanan. Karena ada satu perjalanan yang seakan-akan “tergugurkan”, maka syariat menetapkan kewajiban menyembelih hadyu sebagai pengganti atau penyempurna.</p>
<p>Karena makna inilah, qarin juga diwajibkan menyembelih hadyu. Bahkan dalam istilah para sahabat, qiran juga memiliki makna tamattu’ dari sisi penggabungan dua nusuk dalam satu perjalanan.</p>
<p>Oleh sebab itu, penduduk Makkah tidak wajib menyembelih hadyu, baik ia melakukan tamattu’ maupun qiran. Sebab, penduduk Makkah tidak memiliki beban perjalanan dari luar dan tidak perlu datang dari miqat sebagaimana orang yang datang dari luar Makkah.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, orang yang melakukan tamattu’ dapat menikmati hal-hal yang sebelumnya dilarang ketika ihram, setelah ia selesai dari umrahnya dan sebelum berihram kembali untuk haji.</p>
<p>Di antara hal yang kembali boleh baginya adalah berhubungan suami-istri, memakai wewangian, dan melakukan hal-hal lain yang dilarang bagi orang yang sedang ihram.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">{‌فَمَنْ ‌تَمَتَّعَ ‌بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ}</p>
<p>“maka siapa yang mengerjakan umrah sebelum haji, dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat.” <em>(QS.  al-Baqarah: 196).</em></p>
<p>Ayat ini menunjukkan adanya masa menikmati kelonggaran antara umrah dan haji. Secara bahasa, kata <strong>tamattu’</strong> juga bermakna menikmati, mengambil manfaat, atau memperoleh kesenangan dari sesuatu.</p>
<p><strong>Bentuk-Bentuk Tamattu’</strong></p>
<p><strong>Bentuk Pertama: Tamattu’ yang Paling Umum</strong></p>
<p>Seseorang berihram untuk umrah pada bulan-bulan haji. Setelah selesai dari umrahnya, ia bertahallul. Kemudian setelah itu, ia berihram kembali untuk haji. Inilah bentuk tamattu’ yang asli dan paling umum.</p>
<p><strong>Bentuk Kedua: Bentuk yang Muncul karena Perubahan Niat</strong></p>
<p>Bentuk ini disebut juga <strong>fasakh al-hajj ila ‘umrah</strong>, yaitu mengubah niat ihram haji menjadi umrah.</p>
<p>Gambarnya adalah seseorang awalnya berihram untuk haji. Namun sebelum ia melakukan thawaf, ia mengubah hajinya menjadi umrah. Setelah selesai melakukan umrah dan bertahallul, ia kembali berihram untuk haji.</p>
<p>Hal ini termasuk perpindahan dari yang lebih rendah kepada yang lebih utama. Bentuk seperti ini dibolehkan.</p>
<p>Di antara dalil yang disebutkan adalah hadis Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah memerintahkan seseorang yang bernazar untuk shalat dua rakaat di Baitul Maqdis agar melaksanakannya di al-Haram. <em>(HR. Abu Dawud, no. 3305; dinilai sahih oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, no. 8050).</em></p>
<p>Bentuk tamattu’ seperti ini dinilai sah menurut mazhab <strong>Hanabilah</strong> dan <strong>Zhahiriyah</strong>. Pendapat ini juga dikatakan oleh sebagian ulama salaf, serta dipilih oleh <strong>Ibn Taymiyyah rahimahullah</strong>, <strong>Ibn al-Qayyim rahimahullah</strong>, <strong>al-Shinqithi rahimahullah</strong>, <strong>Ibn Baz rahimahullah</strong>, dan <strong>Ibn ‘Utsaimin rahimahullah</strong>.</p>
<h2><strong> Qiran</strong></h2>
<p><strong>Qiran</strong> adalah seorang jamaah menggabungkan umrah dan haji dalam satu nusuk.</p>
<p>Dalam talbiyah, ia mengucapkan, “<em>Labbaika Allahumma ‘umratan wa hajjan</em>.” Artinya: “Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk umrah dan haji.” Amalan umrah dalam haji qiran sudah masuk ke dalam amalan haji. Karena itu, qarin tidak perlu melakukan umrah tersendiri dengan rangkaian amalan yang terpisah setelah itu.</p>
<p>Secara umum, amalan qarin sama seperti amalan mufrid. Perbedaannya ada pada dua hal utama, yaitu <strong>niat</strong> dan <strong>kewajiban hadyu</strong>.</p>
<p><strong>Bentuk-Bentuk Qiran</strong></p>
<p><strong>Bentuk Pertama: Qiran yang Paling Umum</strong></p>
<p>Seseorang berihram untuk umrah dan haji sekaligus sejak awal ihramnya. Ia mengucapkan, “<em>Labbaika ‘umratan wa hajjan</em>.”  Atau ia mengucapkan, “<em>Labbaika hajjan wa ‘umratan</em>.”</p>
<p>Inilah bentuk qiran yang asli dan paling jelas.</p>
<p><strong>Bentuk Kedua: Memasukkan Haji ke dalam Umrah</strong></p>
<p>Seseorang awalnya berihram untuk umrah. Kemudian sebelum memulai thawaf umrah, ia memasukkan niat haji ke dalam umrahnya. Dengan begitu, ia menjadi qarin.</p>
<p>Bentuk ini dibolehkan, terutama ketika ada kebutuhan atau uzur. Misalnya, seorang wanita berihram untuk umrah, lalu ia mengalami haid atau nifas sebelum thawaf. Ia khawatir tidak sempat mengejar haji. Maka ia boleh memasukkan niat haji ke dalam umrahnya dan tetap berada dalam ihram sampai menyelesaikan amalan-amalan haji.</p>
<p><strong>Bentuk Ketiga: Memasukkan Umrah ke dalam Haji</strong></p>
<p>Seseorang berihram untuk haji secara ifrad, lalu setelah itu ia ingin memasukkan umrah ke dalam hajinya agar menjadi qarin.</p>
<p>Bentuk ini diperselisihkan oleh para ulama.</p>
<p><strong>Mayoritas</strong> ulama dari mazhab <strong>Malikiyah</strong>, <strong>Syafi’iyah</strong> menurut pendapat yang lebih sahih, dan <strong>Hanabilah</strong> berpendapat bahwa memasukkan umrah ke dalam haji tidak sah. Orang yang melakukannya tidak berubah menjadi qarin, tetapi tetap melanjutkan hajinya sebagai mufrid.</p>
<p><strong>Sementara itu</strong>, mazhab <strong>Hanafiyah</strong>, salah satu pendapat lama dari Imam al-Syafi’i <em>rahimahullah</em>, sebagian ulama lain, dan pendapat yang dikuatkan oleh <strong>Ibn ‘Utsaimin rahimahullah</strong>, membolehkan memasukkan umrah ke dalam haji. Menurut pendapat ini, orang tersebut berubah menjadi qarin.</p>
<h2><strong> Ifrad</strong></h2>
<p><strong>Ifrad</strong> adalah seseorang berihram untuk haji saja pada bulan-bulan haji. Ia mengucapkan, <em>“Labbaika Allahumma hajjan</em>.”</p>
<p>Dalam ifrad, ia tidak memasukkan umrah ke dalam niat hajinya. Ia melanjutkan amalan hajinya sampai selesai dan tetap berada dalam ihram sampai bertahallul pada hari Nahr.</p>
<p>Secara umum, amalan mufrid sama seperti amalan qarin dari sisi rangkaian amalan haji. Perbedaannya adalah mufrid tidak wajib menyembelih hadyu, karena ia tidak menggabungkan umrah dan haji. Berbeda dengan qarin yang menggabungkan keduanya.</p>
<p>Mufrid hanya memiliki satu thawaf wajib, yaitu <strong>thawaf ifadhah</strong>. Ia juga hanya memiliki satu sa’i, yaitu <strong>sa’i haji</strong>.</p>
<p>Adapun <strong>thawaf qudum</strong>, menurut mayoritas ulama, hukumnya tidak wajib. Thawaf qudum hanya dianjurkan bagi orang yang datang ke Makkah.</p>
<p>Adapun <strong>thawaf wada’</strong>, menurut mayoritas ulama, hukumnya wajib bagi orang yang hendak keluar dari Makkah setelah selesai melaksanakan nusuk. Namun kewajiban ini gugur bagi wanita yang sedang haid. <strong>(</strong><em>al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 5/286–288; Majallat al-Buhuts al-Islamiyyah, 59/208–222; al-Sharh al-Mumti’, Ibn ‘Utsaimin)</em><strong>.</strong></p>
<h3><strong>Manakah Nusuk yang Paling Utama?</strong></h3>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang jenis nusuk yang paling utama di antara tiga jenis tersebut: <strong>ifrad</strong>, <strong>qiran</strong>, dan <strong>tamattu’</strong>. Secara umum, terdapat tiga pendapat utama.</p>
<p><strong>Pendapat Pertama: Ifrad Lebih Utama</strong></p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa <strong>ifrad</strong> adalah jenis nusuk yang paling utama.</p>
<p>Ini adalah pendapat Imam Malik <em>rahimahullah</em>, salah satu pendapat Imam al-Syafi’i <em>rahimahullah</em>, dan dinukil dari sejumlah sahabat, di antaranya ‘Utsman, ‘Ali, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Umar, Jabir, dan ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anhum</em>.</p>
<p>Makna ifrad adalah seseorang berihram untuk haji saja, tanpa menggabungkan umrah dalam nusuk yang sama.</p>
<p>Al-‘Allamah al-Shinqithi <em>rahimahullah</em> telah menyebutkan dalil-dalil pendapat ini dan membahasnya secara panjang lebar dalam kitab Adhwa’ al-Bayan. Adhwa’ al-Bayan<strong>, </strong> serta mendiskusikannya secara rinci dalam tiga puluh satu halaman. (lihat: <em>Adhwa’ al-Bayan. Adhwa’ al-Bayan, al-Shinqithi, 5/127–158).</em></p>
<p><strong>Pendapat Kedua: Qiran Lebih Utama</strong></p>
<p>Sebagian ulama lain berpendapat bahwa <strong>qiran</strong> adalah jenis nusuk yang paling utama.</p>
<p>Ini adalah mazhab Abu Hanifah <em>rahimahullah</em> dan para ulama yang sependapat dengannya. Pendapat ini juga dikatakan oleh Sufyan al-Tsauri <em>rahimahullah</em>, Ishaq bin Rahawaih <em>rahimahullah</em>, Ibn al-Mundzir <em>rahimahullah</em>, dan ulama lainnya.</p>
<p>Makna qiran adalah seseorang berihram untuk haji dan umrah sekaligus dalam satu nusuk, dan ia tidak bertahallul kecuali setelah menyelesaikan keduanya.</p>
<p>Dalil utama pendapat ini adalah bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukan qiran dalam Haji Wada’.</p>
<p>Ibn al-Qayyim <em>rahimahullah</em> menyebutkan bahwa terdapat lebih dari dua puluh hadis sahih dan tegas yang menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berihram sebagai qarin.</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan hadis ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> yang di dalamnya disebutkan, “Wa qul: ‘umratun fi hajjatin.” Artinya: “Katakanlah: umrah dalam haji.” <em>(HR. al-Bukhari, no. 2337).</em></p>
<p>Peristiwa ini terjadi di daerah al-‘Aqiq sebelum beliau berihram. <strong>( </strong><em>Lihat: Adhwa’ al-Bayan, al-Shinqithi, 5/158–163; Zad al-Ma’ad, Ibn al-Qayyim, 2/107 dan 2/118–119</em><strong>).</strong></p>
<p><strong>Pendapat Ketiga: Tamattu’ Lebih Utama</strong></p>
<p>Pendapat ketiga menyatakan bahwa <a href="https://tanyaislam.com/category/aqidah/" target="_blank" rel="noopener"><strong>tamattu’</strong></a> adalah jenis nusuk yang paling utama.</p>
<p>Ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad <em>rahimahullah</em>. Pendapat ini juga dikatakan oleh Ishaq <em>rahimahullah</em>, dan juga salah satu pendapat Imam al-Syafi’i <em>rahimahullah</em>, dan Ahl al-Zhahir.</p>
<p>Makna tamattu’ adalah seseorang berihram untuk umrah pada bulan-bulan haji, kemudian bertahallul darinya. Setelah itu, ia berihram kembali untuk haji pada tahun yang sama.</p>
<p>Dalil pendapat ini adalah bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan para sahabat yang tidak membawa hadyu agar mengubah haji mereka menjadi umrah, kemudian bertahallul, lalu berihram kembali untuk haji.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda:</p>
<p class="arab">(لو استقبلت من أمري ما استدبرت لما سقت الهدي، ولجعلتها عمرة)</p>
<p>“Seandainya aku mengetahui dahulu apa yang aku ketahui kemudian, niscaya aku tidak akan membawa hadyu, dan aku akan menjadikannya sebagai umrah.” (<em>HR.al-Bukhari, no. 1557; Muslim, no. 1218).</em></p>
<p>Menurut para ulama yang menguatkan pendapat ini, hadis tersebut menunjukkan bahwa tamattu’ adalah yang paling utama bagi orang yang tidak membawa hadyu. <em>(Lihat: Adhwa’ al-Bayan, al-Shinqithi, 5/163; al-Mughni, Ibn Qudamah, 5/82–83).</em></p>
<h3><strong>Pendapat yang Lebih Kuat</strong></h3>
<p>Pendapat yang lebih kuat menurut penulis — <em>wallahu a’lam</em> — adalah dengan perincian berikut.</p>
<ol>
<li>Jika jamaah membawa hadyu sejak awal, maka <strong>qiran lebih utama</strong>.</li>
<li>Jika jamaah tidak membawa hadyu, maka <strong>tamattu’ lebih utama</strong>.</li>
<li>Jika seseorang melakukan umrah dalam satu perjalanan tersendiri, lalu melakukan haji dalam perjalanan lain yang terpisah, maka <strong>ifrad lebih utama menurut kesepakatan imam mazhab yang empat</strong>.  <em>Wallahua’lam… </em><strong>(</strong>Lihat: al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah, Ibn Taymiyyah, hlm. 173; Zad al-Ma’ad, Ibn al-Qayyim, 2/114<strong>).</strong></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2968/mengenal-haji-tamattu-qiran-dan-ifrad/">Mengenal Haji Tamattu’, Qiran, dan Ifrad</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2968/mengenal-haji-tamattu-qiran-dan-ifrad/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
