<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>fiqih puasa ramadhan - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/fiqih-puasa-ramadhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Feb 2026 04:11:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>fiqih puasa ramadhan - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hukum Menghirup Inhaler Saat Puasa</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2870/hukum-menghirup-inhaler-saat-puasa/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2870/hukum-menghirup-inhaler-saat-puasa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2026 04:11:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[dalil inhaler puasa]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa ulama inhaler]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum asma saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum inhaler saat puasa]]></category>
		<category><![CDATA[inhaler membatalkan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi fikih puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa dan obat semprot]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2870</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hukum Menghirup Inhaler Saat Puasa Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Puasa adalah ibadah agung yang dibangun di atas kejujuran niat dan ketaatan pada batasan syariat. Namun, perkembangan medis modern menghadirkan persoalan baru yang memerlukan penjelasan ilmiah dan fikih yang jernih. Salah satunya adalah pemakaian inhaler bagi penderita asma yang dalam bahasa arab disebut dengan بُخَّاخُ الرَّبْوِ (bukhakhur rabwi), yang mana diantara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2870/hukum-menghirup-inhaler-saat-puasa/">Hukum Menghirup Inhaler Saat Puasa</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Menghirup Inhaler Saat Puasa</strong></h2>
<p><em><i>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</i></em></p>
<p>Puasa adalah ibadah agung yang dibangun di atas kejujuran niat dan ketaatan pada batasan syariat. Namun, perkembangan medis modern menghadirkan persoalan baru yang memerlukan penjelasan ilmiah dan fikih yang jernih. Salah satunya adalah pemakaian inhaler bagi penderita asma yang dalam bahasa arab disebut dengan بُخَّاخُ الرَّبْوِ <em><i>(bukhakhur rabwi)</i></em>, yang mana<em><i> </i></em>diantara waktu penggunaannya ialah pada siang hari. Apakah ia membatalkan puasa atau tetap sah puasanya?</p>
<p>Untuk mengetahui jawabannya, mari kita simak penjelasan para ulama berikut dengan pendekatan dalil, kaidah fikih, dan keterangan medis yang proporsional <em><i>insyaallah.</i></em></p>
<h3><strong><b>Hakikat Inhaler dalam Tinjauan Medis dan Fikih</b></strong></h3>
<p>Secara medis, inhaler adalah alat medis portabel yang digunakan untuk mengantarkan obat langsung ke paru-paru melalui saluran pernapasan, khususnya pada penderita asma atau gangguan napas lainnya. Obat di dalam inhaler berbentuk partikel atau aerosol yang sangat halus, sehingga bekerja secara lokal di paru-paru untuk melebarkan saluran napas yang menyempit dan/atau mengurangi peradangan, tanpa ditujukan untuk masuk ke lambung dan tanpa berfungsi sebagai nutrisi. Karena itu, inhaler bukan obat oral, bukan makanan atau minuman dan tidak dimaksudkan untuk memberikan asupan gizi, melainkan sebagai alat bantu pernapasan dengan efek yang relatif cepat dan dosis yang sangat kecil. [<a href="https://www.antaranews.com/berita/5021321/jenis-jenis-inhaler-asma-dan-fungsinya-kenali-sebelum-menggunakannya"><u>https://www.antaranews.com/berita/5021321/jenis-jenis-inhaler-asma-dan-fungsinya-kenali-sebelum-menggunakannya</u></a>]</p>
<p>Dari sudut pandang fikih, penjelasan medis ini sangat penting karena para ulama menegaskan bahwa sesuatu yang tidak masuk ke lambung dan tidak berfungsi sebagai makanan atau minuman pada asalnya tidak membatalkan puasa. Oleh karena itu, pembahasan hukum inhaler tidak bisa dilepaskan dari hakikat medisnya.</p>
<h3><strong><b>Hukum Asal Tetap Berlaku Hingga Ada Dalil yang Memalingkan</b></strong></h3>
<p>Dalam masalah ibadah, para ulama ushul fiqh menetapkan kaidah besar:</p>
<p class="arab">الأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ</p>
<p><em><i>“Hukum asal suatu ibadah tetap sebagaimana asalnya sampai ada dalil yang membatalkannya.”</i></em></p>
<p>Dalam konteks inhaler, tidak ada dalil shahih yang menyatakan bahwa menghirup obat ke paru-paru termasuk makan atau minum, sehingga hukum asal puasa tetap sah.</p>
<p>Hal ini ditegaskan secara khusus oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al ʿUtsaimin <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 1421 H):</p>
<p class="arab">هَذَا الْبُخَاخُ يَتَبَخَّرُ وَلَا يَصِلُ إِلَى الْمَعِدَةِ، فَحِينَئِذٍ نَقُولُ: لَا بَأْسَ أَنْ تَسْتَعْمِلَ هَذَا الْبُخَاخَ وَأَنْتَ صَائِمٌ، وَلَا تُفْطِرُ بِذَلِكَ</p>
<p>“Inhaler ini menguap dan tidak sampai ke lambung. Karena itu kami katakan: tidak mengapa engkau menggunakan inhaler ini saat berpuasa dan hal itu tidak membatalkan puasa.” (<em><i>Fatawa Arkan al Islam</i></em>, hlm. 475, cet. Dar ats-Tsurayya)</p>
<p>Demikian pula fatwa al Lajnah ad Da-imah (Komite Tetap Fatwa Kerajaan Saudi Arabia):</p>
<p class="arab">دَوَاءُ الرَّبْوِ الَّذِي يُسْتَعْمَلُ اسْتِنْشَاقًا يَصِلُ إِلَى الرِّئَتَيْنِ عَنْ طَرِيقِ الْقَصَبَةِ الْهَوَائِيَّةِ لَا إِلَى الْمَعِدَةِ، فَلَيْسَ أَكْلًا وَلَا شُرْبًا وَلَا شَبِيهًا بِهِمَا&#8230; وَالَّذِي يَظْهَرُ عَدَمُ الْفِطْرِ بِاسْتِعْمَالِ هَذَا الدَّوَاءِ</p>
<p>“Obat asma yang digunakan dengan cara dihirup hanya sampai ke paru-paru melalui saluran pernapasan, bukan ke lambung. Ia bukan makanan, bukan minuman, dan tidak menyerupai keduanya… Yang tampak jelas adalah tidak batalnya puasa dengan penggunaan obat ini.” (<em><i>Fatawa Islamiyyah</i></em>, 1/130) [https://islamqa.info/ar/answers/37650].</p>
<p>Keterangan para ulama ini menunjukkan keselarasan antara kaidah fikih, realitas medis dan tujuan syariat.</p>
<h3><strong><b>Dalil Hadits dan Kaidah Syar‘i</b></strong></h3>
<p><strong><b> Hadits tentang niat</b></strong></p>
<p>Rasulullah <strong><b>ﷺ</b></strong> bersabda:</p>
<p class="arab">« إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى<strong><b> </b></strong>»</p>
<p><em><i>“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”</i></em> [HR. al Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907].</p>
<p>Ditinjau dari niatnya, pemakai inhaler tidak berniat untuk makan atau minum dari penggunaan inhaler ini, melainkan berobat agar dapat bernapas normal.</p>
<p><strong><b> Dalil dari al Qur-an tentang kaidah </b></strong><strong><b>رفع الحرج</b></strong><strong><b>(menghilangkan kesulitan)</b></strong></p>
<p>Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ﴾</p>
<p><em><i>“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”</i></em> (QS. al Hajj: 78).</p>
<p>Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa syariat tidak dimaksudkan untuk menyulitkan orang sakit, adapun penggunaan inhaler ini dimaksudkan untuk mengurangi masalah pada pernapasan yang bisa mengganggu aktifitas sehari-hari dan bukan menjadi nutrisi atau penguat tubuh sehingga <em><i>insyaallah</i></em> kaidah yang terkandung dalam ayat di atas bisa diterapkan.</p>
<p>Hukum memakai inhaler saat puasa adalah tidak membatalkan puasa menurut mayoritas ulama kontemporer, karena inhaler bukan makanan atau minuman, ataupun berfungsi sebagai keduanya dan tidak ditujukan ke lambung hanya ke sistem pernapasan khususnya paru-paru. Pendapat ini didukung oleh dalil, kaidah fiki, serta penjelasan medis bisa dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Sehingga bagi penderita asma, menggunakan inhaler di siang hari Ramadhan diperbolehkan tanpa kewajiban qadha, selama tidak disertai unsur nutrisi.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2870/hukum-menghirup-inhaler-saat-puasa/">Hukum Menghirup Inhaler Saat Puasa</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2870/hukum-menghirup-inhaler-saat-puasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Witir Bersama Imam Tarawih Sampai Selesai</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2857/witir-bersama-imam-tarawih-sampai-selesai/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2857/witir-bersama-imam-tarawih-sampai-selesai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2026 03:17:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[dalil witir berjamaah]]></category>
		<category><![CDATA[fikih witir ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ikut imam sampai selesai]]></category>
		<category><![CDATA[hukum witir setelah tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[kajian ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[qiyamul lail ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat witir 3 rakaat]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih dan witir]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan shalat malam]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[witir bersama imam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2857</guid>

					<description><![CDATA[<p>Witir Bersama Imam Tarawih Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Shalat tarawih dan witir merupakan dua ibadah malam yang sangat lekat dengan bulan Ramadhan. Di tengah kaum muslimin, sering muncul pertanyaan “Apakah boleh seseorang mengikuti shalat tarawih berjamaah namun tidak ikut witir bersama imam?”. Pertanyaan ini bukan sekadar teknis, tetapi menyentuh aspek keutamaan, pahala dan pemahaman terhadap sunnah Nabi ﷺ [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2857/witir-bersama-imam-tarawih-sampai-selesai/">Witir Bersama Imam Tarawih Sampai Selesai</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Witir Bersama Imam Tarawih</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Shalat tarawih dan witir merupakan dua ibadah malam yang sangat lekat dengan bulan Ramadhan. Di tengah kaum muslimin, sering muncul pertanyaan <em>“Apakah boleh seseorang mengikuti shalat tarawih berjamaah namun tidak ikut witir bersama imam?”.</em> Pertanyaan ini bukan sekadar teknis, tetapi menyentuh aspek keutamaan, pahala dan pemahaman terhadap sunnah Nabi ﷺ sebagaimana dijelaskan para ulama Salaf.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 1421 H) menjelaskan bahwa shalat witir adalah sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), namun tidak sampai derajat wajib. Beliau menegaskan berdasarkan hadits berikut:</p>
<p class="arab">عَنْ عَلِيٍّ <strong>رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ </strong>قَالَ: اَلْوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَصَلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ، وَلَكِنَّهُ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُولُ اللَّهِ <strong>ﷺ</strong> ، قَالَ: « إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ، فَأَوْتِرُوا يَا أَهْلَ «الْقُرْآنِ</p>
<p>Dari ‘Ali <strong>رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ</strong> (w. 40 H), ia berkata: “Witir bukanlah suatu kewajiban yang mengikat seperti shalat yang diwajibkan, tetapi ia adalah sunnah Rasulullah <strong>ﷺ</strong>.” Beliau <strong>ﷺ</strong> bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Ganjil (Maha Esa) dan menyukai yang ganjil, maka lakukanlah shalat witir wahai para ahli al Qur-an.” (HR. Abu Dawud no. 1416, Ibnu Majah no. 1169 dan Tirmidzi no. 453, Tirmidzi berkata: hadis hasan).</p>
<p>Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 1421 H) menunjukkan bahwa witir boleh dikerjakan sendiri, boleh berjamaah dan waktunya fleksibel sepanjang malam, sehingga tidak mengikat secara mutlak dengan tarawih. (https://al-fatawa.com/fatwa/71270)</p>
<h3><strong>Mengikuti Imam Sampai Selesai</strong></h3>
<p>Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:</p>
<p class="arab">«إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ »</p>
<p>“Barang siapa shalat bersama imam sampai imam selesai, maka dituliskan baginya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Abu Dawud no. 1375 dan at Tirmidzi no. 806. Dishahihkan oleh al Albani)</p>
<p>Berdasarkan hadits ini, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz <strong>رحمه الله</strong> (w. 1420 H) menegaskan bahwa yang paling utama adalah mengikuti imam sampai selesai termasuk witir, agar mendapatkan keutamaan <em>qiyamullail</em> secara sempurna. Namun beliau juga menegaskan bahwa keutamaan tidak sama dengan kewajiban. (https://binbaz.org.sa/fatwas/11721/من-اكتفى-بالتراويح-مع-الامام-هل-يكتب-له-قيام-ليلة)</p>
<h3><strong>Bolehkah Tidak Ikut Witir Bersama Imam?</strong></h3>
<p>Para ulama menjelaskan bahwa tidak ikut witir bersama imam hukumnya boleh, terutama jika ada tujuan syar’i, seperti ingin mengerjakan shalat malam di akhir waktu.</p>
<p>Dalam situs IslamQA (asuhan Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid حفظه الله) dijelaskan bahwa seseorang yang keluar sebelum witir:</p>
<ul>
<li>Tidak berdosa (karena asalnya tidak diwajibkan);</li>
<li>Tetap mendapatkan pahala tarawih;</li>
<li>Namun tidak mendapatkan keutamaan penuh <em>qiyamullail</em> sebagaimana orang yang bersama imam hingga selesai. (https://islamqa.info/ar/answers/337231)</li>
</ul>
<h3><strong>Menyikapi Witir Imam bagi Makmum yang Ingin Menambah Shalat Malam</strong></h3>
<p>Apabila imam menutup tarawih dengan witir baik satu, tiga atau lebih lalu makmum ingin menambah shalat malam, maka ia boleh mengikuti imam hingga selesai untuk meraih keutamaan qiyam bersama imam, kemudian menyempurnakan witir imam dengan menambah satu rakaat agar menjadi genap, lalu shalat malam lagi dan menutupnya dengan witir sendiri di akhir malam. Praktik ini dijelaskan oleh Ibnu Qudamah <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 620 H) dalam <em>al Kafi,</em> bahwa siapa yang ingin menunda witir, hendaknya menambah satu rakaat setelah salam imam agar witir imam menjadi genap. Seluruh rakaat tersebut diniatkan sebagai sunnah<em> qiyamullail</em>, sedangkan witir terakhir harus dengan niat tersendiri, karena witir adalah shalat khusus, sebagaimana ditegaskan.</p>
<p>Adapun bentuk witir beragam satu, tiga, lima semuanya sah berdasarkan hadis:</p>
<p class="arab">« الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ »</p>
<p>“Witir adalah hak atas setiap muslim; siapa yang ingin berwitir lima maka lakukanlah, siapa yang ingin berwitir tiga maka lakukanlah dan siapa yang ingin berwitir satu maka lakukanlah” (HR. Abu Dawud no. 1416 dan an Nasa-i no. 1676; hadis ini diperselisihkan sanadnya dan dinilai hasan oleh sebagian ulama).</p>
<p>Jika seseorang sudah berwitir di awal malam lalu shalat lagi setelahnya, ia tidak mengulang witir, karena Nabi ﷺ pernah shalat setelah witir; pendapat ini dinilai paling kuat oleh at-Tirmiżī dan dipegang oleh para imam seperti Sufyan ats Tsauri <strong>رحمه الله</strong> (w. 161 H), Malik bin Anas <strong>رحمه الله</strong> (w. 179 H), ‘Abdullah bin al Mubarak <strong>رحمه الله</strong> (w. 181 H) dan Ahmad bin Hanbal <strong>رحمه الله</strong> (w. 241 H). (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/302302)</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Tidak ikut witir bersama imam tarawih hukumnya boleh dan sah, berdasarkan kesepakatan para ulama Ahlus Sunnah. Namun, yang paling utama dan lebih sempurna pahalanya adalah mengikuti imam hingga selesai, termasuk witir, sebagaimana tuntunan Nabi <strong>ﷺ</strong> dan penjelasan para ulama.</p>
<p>Bagi kaum muslimin yang ingin mengoptimalkan ibadah Ramadhan, memahami perbedaan antara <em>Afdhal</em> (lebih utama) dan <em>Jaiz</em> (boleh) adalah kunci agar ibadah dilakukan dengan ilmu, lapang dada dan sesuai sunnah.</p>
<p>Dengan pendekatan ini, umat dapat beribadah tanpa saling menyalahkan, serta tetap berpegang pada manhaj Salaf yang lurus dan penuh hikmah.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2857/witir-bersama-imam-tarawih-sampai-selesai/">Witir Bersama Imam Tarawih Sampai Selesai</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2857/witir-bersama-imam-tarawih-sampai-selesai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
