<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>fiqih ramadhan - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/fiqih-ramadhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Mar 2026 06:08:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>fiqih ramadhan - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Fiqih Lailatul Qadar</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Ammi Nur Baits, ST. BA.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2026 06:05:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[fikih lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[itikaf ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[kajian ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan malam qadar]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[malam lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[malam seribu bulan]]></category>
		<category><![CDATA[tanda lailatul qadar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2882</guid>

					<description><![CDATA[<p>Fiqih Lailatul Qadar Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du, Al-Qadr bisa dibaca dengan 2 cara : [1] Dibaca dengan huruf dal di-sukun [ليلةُ القَدْرِ] (lailatul qadr) artinya malam kemuliaan. [2] Dibaca dengan huruf dal di-fathah [ليلةُ القَدَرِ] (lailatul qadr) artinya malam taqdir. Keutamaan Ada banyak keutamaan di malam qadar. [1] Malam diturunkannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/">Fiqih Lailatul Qadar</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Fiqih Lailatul Qadar</strong></h2>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du,</em></p>
<p><strong>Al-Qadr</strong> bisa dibaca dengan 2 cara :</p>
<p>[1] Dibaca dengan huruf dal di-sukun [ليلةُ القَدْرِ] (lailatul qadr) artinya malam kemuliaan.</p>
<p>[2] Dibaca dengan huruf dal di-fathah [ليلةُ القَدَرِ] (lailatul qadr) artinya malam taqdir.</p>
<h3><strong>Keutamaan</strong></h3>
<p>Ada banyak keutamaan di malam qadar.</p>
<p><strong>[1] Malam diturunkannya al-Quran</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatulqadar.” (QS. al-Qadar: 1)</p>
<p><strong>[2] Allah tetapkan takdir tahunan</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ</p>
<p>“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu sebagai ketetapan dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami-lah yang mengutus (para rasul).” (QS. ad-Dukhan: 4-5)</p>
<p><strong>[3] Malam yang diberkahi</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ</p>
<p>“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang penuh berkah.” (QS. ad-Dukhan: 3)</p>
<p><strong>[4] Ibadah di malam itu lebih baik dari pada ibadah 1000 bulan</strong></p>
<p>1000 bulan = 83 tahun + 4 bulan.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</p>
<p>“Malam Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadar : 3)</p>
<p><strong>[5] Jibril turun dengan membawa kebaikan</strong></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ( ) سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>“Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. al-Qadar: 5-6)</p>
<p>Amalan Saat Lailatul Qadar</p>
<p>Dianjurkan untuk melakukan amal soleh apapun saat lailatul qadar, terutama qiyamul lail.</p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">ومن قامَ ليلةَ القَدرِ إيمانًا واحتسابًا غُفِرَ له ما تقَدَّمَ مِن ذَنبِه</p>
<p>“Barang siapa menghidupkan malam Lailatulqadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Juga dianjurkan untuk itikaf, agar selalu bertahan dalam amal soleh.</p>
<p>Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">من كان اعتكَفَ معي، فلْيعتكِفِ العَشرَ الأواخِرَ، وقد أُريتُ هذه الليلةَ ثم أُنسِيتُها، وقد رأيتُني أسجُدُ في ماءٍ وطِينٍ مِن صَبيحَتِها فالتَمِسوها في العَشرِ الأواخِرِ، والتَمِسوها في كُلِّ وِترٍ</p>
<p>“Barang siapa yang pernah <a href="https://tanyaislam.com/2878/hukum-seputar-itikaf-bag-2/" target="_blank" rel="noopener">beri‘tikaf bersamaku</a>, maka hendaklah ia beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir (Ramadan). Aku pernah diperlihatkan malam itu (Lailatulqadar), kemudian aku dibuat lupa mengenainya. Aku juga melihat diriku bersujud di air dan tanah pada pagi harinya. Maka carilah malam itu pada sepuluh malam terakhir, dan carilah pada setiap malam ganjil.” (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<h3><strong>Waktu Lailatul Qadar</strong></h3>
<p>Lailatul qadar ada di salah satu malam diantara 10 malam terakhir Ramadhan, terutama di malam ganjil.</p>
<p>Demikian yang dipahami dalam Madzhab Syafiiyah, Hambali, dan salah satu pendapat dalam madhzab Malikiyah, pendapat Ibnu Taimiyah, as-Shan’ani, Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.</p>
<p>Ibnu Taimiyah mengatakan,</p>
<p class="arab">ليلةُ القَدرِ في العَشرِ الأواخِرِ مِن شَهرِ رمضان، هكذا صحَّ عن النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم؛ أنَّه قال: هي في العَشرِ الأواخِرِ مِن رمضان، وتكونُ في الوِترِ منها</p>
<p>Lailatulqadar berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Demikianlah yang sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: malam tersebut berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, dan terjadi pada malam-malam ganjil di dalamnya. (Majmu’ al-Fatawa, 25/284)</p>
<p>Diantara dalil yang mendukung pendapat ini adalah</p>
<p>[1] Hadis dari Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">تَحَرَّوْا ليلةَ القَدْرِ في الوِترِ مِنَ العَشرِ الأواخِرِ مِن رَمَضانَ</p>
<p>“Carilah Lailatulqadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>[2] Hadis Ibnu Abbas Radhiyallahu &#8216;anhuma, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">التَمِسُوها في العَشرِ الأواخِرِ مِن رمضانَ، ليلةُ القَدْرِ في تاسعةٍ تبقى، في سابعةٍ تبقى، في خامسةٍ تبقى</p>
<p>“Carilah Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan: pada malam kesembilan yang tersisa, malam ketujuh yang tersisa, dan malam kelima yang tersisa.” (HR. Bukhari)</p>
<p>[3] Hadis Ibnu Umar Radhiyallahu &#8216;anhuma,</p>
<p>bahwa beberapa sahabat Nabi ﷺ diperlihatkan dalam mimpi tentang Lailatulqadar yang terjadi pada tujuh malam terakhir (Ramadan).</p>
<p>Lalu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">أرى رُؤيَاكم قد تواطَأَتْ في السَّبعِ الأواخِرِ، فمن كان مُتَحَرِّيَها فلْيتحَرَّها في السَّبعِ الأواخِرِ</p>
<p>“Aku melihat bahwa mimpi kalian saling bersesuaian pada tujuh malam terakhir. Karena itu, siapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<h3><strong>Tanda Lailatul Qadar</strong></h3>
<p>Tandanya terlihat di pagi harinya, matahari terbit dalam keadaan putih dan tidak terik.</p>
<p>Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">وأمارَتُها أن تطلُعَ الشَّمسُ في صبيحةِ يَومِها بيضاءَ لا شُعاعَ لها</p>
<p>“Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan putih dan tidak memancarkan sinar yang menyilaukan.” (HR. Muslim)</p>
<h3><strong>Tanda Orang yang Dapat Lailatul Qadar</strong></h3>
<p>Keyakinan bahwa tanda orang yang mendapat lailatul qadar akan mengalami kejadian luar biasa, adalah keyakinan yang tidak benar.</p>
<p>Bukan syarat untuk mendapat lailatul qadar harus mengalami kejadian aneh atau kejadian luar biasa. Bahkan keyakinan ini menjadikan orang pesimis dan mutung untuk beribadah. Karena merasa sudah sering ibadah di malam-malam ganjil, namun ternyata selama dia beribadah tidak mendapatkan kejadian aneh apapun.</p>
<p>lailatul qadar terjadi sepanjang malam, sejak maghrib hingga subuh. Semua orang yang melakukan ibadah ketika itu, berarti dia telah melakukan ibadah di lailatul qadar. Besar dan kecilnya pahala yang dia dapatkan, tergantung dari kualitas dan kuantitas ibadah yang dia kerjakan di malam itu.</p>
<p>Sekalipun dia hanya mengerjakan ibadah wajib saja, shalat maghrib dan isya di malam qadar, dia mendapatkan bagian pahala beribadah di lailatul qadar.</p>
<p>Imam Malik meriwayatkan secara balaghan (tanpa sanad), menukil keterangan Said bin Musayib tentang orang yang beribadah ketika lailatul qadar.</p>
<p class="arab">أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ كَانَ يَقُولُ: مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا</p>
<p>Bahwa Said bin Musayib pernah mengatakan, “Siapa yang ikut shalat isya berjamaah di lailatul qadar, berarti dia telah mengambil bagian lailatul qadar.” (Muwatha’ Malik, no. 1146).</p>
<p>Az-Zarqani menjelaskan,</p>
<p class="arab">فقد أخذ بحظه منها، أي: نصيبه من ثوابها</p>
<p>“dia telah mengambil bagian lailatul qadar” maknanya dia mendapat bagian dari pahala lailatul qadar. (Syarh az-Zarqani ‘ala Muwatha, 3/463).</p>
<h3><strong>Lailatul Qadar akan Selalu Ada</strong></h3>
<p>Sebagian orang meyakini bahwa lailatul qadar hanya ada di zaman Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam. Dan ini keyakinan yang salah.</p>
<p>Lailatul qadar akan senantiasa ada sampai kiamat.</p>
<p>Dari Abdullah bin Unais Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">أُرِيتُ ليلةَ القَدْرِ ثمَّ أُنْسِيتُها، وأُراني صُبْحَها أسجُدُ في ماءٍ وطِينٍ، قال: فمُطِرْنَا ليلةَ ثلاثٍ وعِشرينَ، فصلَّى بنا رسولُ الله، فانصرَفَ، وإنَّ أثَرَ الماءِ والطِّينِ على جَبهَتِه وأنفِه</p>
<p>“Aku pernah diperlihatkan tentang Lailatulqadar, kemudian aku dibuat lupa mengenainya. Dan aku melihat diriku pada pagi harinya bersujud di air dan tanah.”</p>
<p>Abdullah mengatakan: “Lalu pada malam kedua puluh tiga kami diguyur hujan. Rasulullah ﷺ pun mengimami kami salat. Setelah beliau selesai, tampak bekas air dan tanah pada dahi dan hidung beliau.” (HR. Muslim)</p>
<p>An-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">وأجمَعَ مَن يُعتَدُّ به على وُجودِها ودوامِها إلى آخِرِ الدَّهرِ؛ للأحاديثِ الصحيحةِ المشهورةِ</p>
<p>“Para ulama yang pendapatnya diperhitungkan telah bersepakat bahwa Lailatulqadar itu ada dan tetap berlangsung hingga akhir zaman, berdasarkan hadis-hadis sahih yang masyhur.” (Syarah Sahih Muslim, 8/57).</p>
<p>Allahu a’lam.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/">Fiqih Lailatul Qadar</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2882/fiqih-lailatul-qadar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Tarawih dan Tahajjud Digabung?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2861/bolehkah-tarawih-dan-tahajjud-digabung/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2861/bolehkah-tarawih-dan-tahajjud-digabung/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2026 03:49:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah tarawih dan tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[dalil tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[dalil tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan tarawih dan tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[qiyamul lail]]></category>
		<category><![CDATA[shalat malam ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih dan tahajud]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2861</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bolehkah Tarawih dan Tahajjud Digabung? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Banyak pertanyaan yang muncul pada bulan Ramadhan: “apakah shalat Tarawih boleh digabung dengan Tahajjud dalam satu rangkaian ibadah malam?” Ataukah justru keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri, meskipun sama-sama termasuk shalat malam. Ulama salaf telah menjelaskan batasan istilah, waktu dan perbedaan praktiknya secara mendalam. Penjelasan berikut akan menguraikannya secara ringkas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2861/bolehkah-tarawih-dan-tahajjud-digabung/">Bolehkah Tarawih dan Tahajjud Digabung?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><b>Bolehkah Tarawih dan Tahajjud Digabung?</b></strong></h2>
<p><em><i>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</i></em></p>
<p>Banyak pertanyaan yang muncul pada bulan Ramadhan: “<em><i>apakah shalat Tarawih boleh digabung dengan Tahajjud dalam satu rangkaian ibadah malam?”</i></em> Ataukah justru keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri, meskipun sama-sama termasuk shalat malam. Ulama salaf telah menjelaskan batasan istilah, waktu dan perbedaan praktiknya secara mendalam. Penjelasan berikut akan menguraikannya secara ringkas namun ilmiah <em><i>insyaallah.</i></em></p>
<h3><strong><b>Istilah dan Definisi: Tarawih vs Tahajjud</b></strong></h3>
<p><b></b><strong><b>Tarawih</b></strong></p>
<ul>
<li>Secara istilah: <em><i>Tarawih</i></em>adalah sebutan populer bagi shalat malam yang dilakukan pada malam Ramadhan setelah shalat ‘Isya’ dengan tujuan mengikuti sunnah.</li>
<li>Ini bukan istilah syarʿi yang unik, namun para ulama memakai istilah ini untuk membedakan pelaksaan ibadah khusus di dalam rangkaian ibadah bulan Ramadhan.</li>
</ul>
<p><b></b><strong><b>Tahajjud</b></strong></p>
<ul>
<li><i></i><em><i>Tahajjud</i></em>adalah shalat malam yang dilaksanakan setelah tidur, biasanya dilaksanakan di waktu <em><i>akhir malam</i></em> yakni setelah sepertiga malam terakhir.</li>
<li>Istilah ini muncul dalam al Qur-an:</li>
</ul>
<p class="arab">﴿ وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ ﴾</p>
<p><em><i>“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu;.”</i></em> )QS. Al Isra’: 79). [https://binbaz.org.sa/fatwas/4259/الفرق-بين-صلاة-التراويح-والقيام-والتهجد]</p>
<p>Dengan demikian, keduanya termasuk <em><i>shalat malam</i></em>, tetapi dikaitkan dengan waktu dan tujuan yang berbeda. Walaupun secara penamaan bisa saja shalat <em><i>tarawih </i></em>disebut juga <em><i>tahajjud</i></em> apabila ia dilaksanakan pada waktu sepertiga malam terakhir.</p>
<h3><strong><b>Dasar Syariat Shalat Malam</b></strong></h3>
<p>Ibnu Umar رضي الله عنهما (w. 73 H) tentang seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi <strong><b>ﷺ</b></strong>, ia berkata:</p>
<p class="arab">سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ <strong><b>ﷺ</b></strong> وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَا تَرَى فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ ؟ قَالَ: مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِيَ الصُّبْحَ صَلَّى وَاحِدَةً ، فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا صَلَّى</p>
<p>“Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi <strong><b>ﷺ</b></strong> ketika beliau berada di atas mimbar, ‘Bagaimana pendapatmu tentang shalat malam?’ Beliau <strong><b>ﷺ</b></strong> menjawab: ‘Dua (rakaat), dua-dua. Maka apabila ia khawatir masuk waktu Subuh, hendaklah ia shalat satu rakaat, sehingga satu rakaat itu menjadi witir bagi shalat yang telah ia kerjakan.’” (HR. Bukhari no. 472 dan Muslim no. 749). [https://islamqa.info/ar/answers/293059]</p>
<p>Ini merupakan landasan syariat bahwa:</p>
<ul>
<li>Shalat malam baik itu <em><i>tarawih</i></em>ataupun <em><i>tahajjud</i></em> bersifat fleksibel jumlahnya dengan paling minimal 2 rakaat;</li>
<li>Tidak ada ketentuan tetap (batasan maksimal) mengenai bilangan rakaat;</li>
<li>Tujuan utamanya adalah menghidupkan malam dan mendekatkan diri kepada Allah <strong><b>ﷻ</b></strong>.</li>
</ul>
<h3><strong><b>Tarawih dan Tahajjud: Satu Ibadah Malam, Beragam Waktu dan Bentuk</b></strong></h3>
<p>Shalat malam secara umum disunnahkan sepanjang tahun dan semakin ditekankan di bulan Ramadhan, dengan waktu pelaksanaan sejak selesai salat sunah Isya hingga terbit fajar, tanpa batasan jumlah rakaat. Adapun Tarawih maka pada hakikatnya adalah shalat malam Ramadhan yang biasa dikerjakan di awal malam dan dinamakan demikian karena adanya jeda istirahat setelah beberapa rakaat, sedangkan Tahajjud juga termasuk shalat malam, yang menurut sebagian ulama dikhususkan bagi shalat yang dilakukan setelah tidur.</p>
<p>Seluruh malam merupakan waktu sah untuk shalat malam, sehingga mengerjakannya di awal malam lalu melanjutkannya kembali di akhir malam tidak terlarang secara syariat, bahkan telah dipraktikkan kaum muslimin sejak generasi awal sebagai bentuk kemudahan dan upaya memperbanyak kebaikan. Tidak ada dalil sahih yang membatasi jumlah rakaat Tarawih pada bilangan tertentu atau melarang pembagian shalat malam menjadi dua waktu, karena Nabi ﷺ memberi ketentuan umum bahwa shalat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat (lihat sub judul: <strong><b>Dasar Syariat Shalat Malam</b></strong>), sementara para sahabat dan ulama setelah mereka melaksanakannya dengan jumlah yang beragam. Oleh karena itu, mengerjakan Tarawih di awal malam dan Tahajjud di akhir malam, dengan tetap menjadikan witir sebagai penutup shalat malam, merupakan amalan yang sah, memiliki landasan dari praktik salaf dan tidak lebih dari perbedaan penamaan serta pengaturan waktu dalam satu jenis ibadah yang sama, yaitu <em><i>qiyamul lail</i></em> (shalat malam). [https://islamqa.info/ar/answers/293059]</p>
<p><strong><b>Hal-hal Praktis yang Perlu Dipahami</b></strong></p>
<p><strong><b><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/2714.png" alt="✔" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></b></strong><strong><b> Tidak Ada Kewajiban Jumlah Rakaat Dalam Shalat Tarawih</b></strong></p>
<p>Tarawih tidak perlu terpaku pada jumlah tertentu. Nabi <strong><b>ﷺ</b></strong> tidak menetapkan jumlah yang wajib. Jumlahnya bisa 8, 20 atau sesuai kemampuan jamaah atau individu.</p>
<p><strong><b><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/2714.png" alt="✔" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></b></strong><strong><b> Waktu Tahajjud Bebas selepas Tidur</b></strong></p>
<p>Meskipun qiyamul lail atau Tahajjud boleh dilakukan kapan saja setelah Isya sampai sebelum Subuh, tetapi waktu utama dan yang paling dianjurkan adalah setelah tidur di sepertiga malam terakhir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><b>Kesimpulan: Optimalkan Ibadah Malam Anda dengan Pemahaman yang Benar</b></strong></p>
<ul>
<li>Tarawih dan Tahajjud adalah dua ibadah malam yang diajarkan oleh Nabi <strong><b>ﷺ</b></strong>;</li>
<li>Tarawih dilaksanakan pada awal malam Ramadhan setelah ‘Isya’ berdasarkan contoh dari Nabi <strong><b>ﷺ</b></strong><b></b>dan<strong><b> </b></strong>para salaf, walaupun ia boleh ditunda hingga ke akhir malam, karena ia termasuk <em><i>qiyamul lail</i></em>;</li>
<li>Tahajjud dilakukan pada akhir malam setelah tidur, bukan sebagai satu rangkaian Tarawih, karena demikianlah contoh dari para salaf.</li>
<li>Tidak disarankan untuk menggabungkan kedua ibadah ini dalam satu shalat dengan satu niat, karena keduanya memiliki waktu dan konteks yang berbeda dan karena demikianlah contoh dari para salaf.</li>
<li>Yang dicontohkan oleh para salaf ialah tarawih dilakukan setelah ‘Isya’; setelah itu, jika mampu, tetap lakukan Tahajjud di akhir malam sebagai ibadah tambahan tanpa mencampurkan niatnya.</li>
</ul>
<p><em><i>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</i></em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2861/bolehkah-tarawih-dan-tahajjud-digabung/">Bolehkah Tarawih dan Tahajjud Digabung?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2861/bolehkah-tarawih-dan-tahajjud-digabung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Perbedaan Awal Ramadhan &#038; Idul Fitri Selalu Viral?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2843/mengapa-perbedaan-awal-ramadhan-idul-fitri-selalu-viral/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2843/mengapa-perbedaan-awal-ramadhan-idul-fitri-selalu-viral/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2026 05:57:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[awal puasa berbeda]]></category>
		<category><![CDATA[berita ramadhan viral]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih puasa]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hilal]]></category>
		<category><![CDATA[hisab dan rukyat]]></category>
		<category><![CDATA[islam indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[khilafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran berbeda]]></category>
		<category><![CDATA[penentuan 1 ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[penentuan 1 syawal]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan awal ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[sidang isbat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2843</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengapa Perbedaan Idul Fitri Selalu Viral? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Jika perbedaan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal (Idul Fithri) hanyalah masalah fiqih, mengapa ia selalu menjadi isu paling viral setiap tahun di Indonesia? Mengapa persoalan yang telah dibahas tuntas sejak zaman sahabat justru berubah menjadi konflik, ejekan dan delegitimasi ulama di era digital? Mari kita bahas apa hukumnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2843/mengapa-perbedaan-awal-ramadhan-idul-fitri-selalu-viral/">Mengapa Perbedaan Awal Ramadhan & Idul Fitri Selalu Viral?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1><strong>Mengapa Perbedaan Idul Fitri Selalu Viral?</strong></h1>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Jika perbedaan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal (Idul Fithri) hanyalah masalah fiqih, mengapa ia selalu menjadi isu <strong>paling viral setiap tahun</strong> di Indonesia? Mengapa persoalan yang telah dibahas tuntas sejak zaman sahabat justru berubah menjadi konflik, ejekan dan delegitimasi ulama di era digital?</p>
<p>Mari kita bahas <strong>apa hukumnya</strong> dan mencari tahu <strong>mengapa terkadang umat bereaksi secara berlebihan.</strong></p>
<p><strong>Akar Masalah Pertama: Gagal Memahami Hakikat Ikhtilaf</strong></p>
<p>Ikhtilaf (Perbedaan pandangan) adalah sunnatullah (ketetapan Allah) dalam masalah ijtihadi (Masalah yang terbuka untuk penafsiran hukum), karena tidak ada dalil tegas dari al Qur-an dan hadits sehingga ini tidak bisa secara mutlaq di hindari dan perlu disikapi dengan adab dan ilmu tanpa ada paksaan.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <strong>رحمه الله</strong><strong>  </strong>(w. 728 H) berkata:</p>
<p class="arab">وَأَمَّا مَسَائِلُ الاجْتِهَادِ فَلَا يُنْكَرُ فِيهَا بِالْيَدِ، وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يُلْزِمَ النَّاسَ بِاتِّبَاعِهِ فِيهَا، وَلَكِنْ يَتَكَلَّمُ فِيهَا بِالْعِلْمِ وَالْحُجَّةِ، فَمَنْ تَبَيَّنَ لَهُ صِحَّةُ أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ اتَّبَعَهُ، وَمَنْ قَلَّدَ أَهْلَ الْقَوْلِ الْآخَرِ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ</p>
<p>“Dalam masalah ijtihad, tidak boleh diingkari dengan paksaan dan tidak boleh seseorang memaksa orang lain untuk mengikutinya. Namun ia boleh menjelaskannya berdasarkan dalil. Siapa yang memandang salah satu pendapat lebih kuat, hendaklah ia mengikutinya. Dan siapa yang mengikuti pendapat lain tidak boleh diingkari.” (<em>Majmu’ al Fatawa</em>, 30/80).</p>
<p><strong>Akar Masalah Kedua: Penyederhanaan Ilmu di Era Media Sosial</strong></p>
<p>Fiqih yang kompleks dipaksa menjadi konten singkat, seperti dalam masalah rukyat hilal yang mana ia perlu melibatkan:</p>
<ul>
<li>Dalil syar‘i, untuk menjadi dasar penetapan awal bulan hijriah;</li>
<li>Perbedaan mathla‘ (tempat terbit), ini akan mempengaruhi terlihat atau tidaknya hilal pada wilayah tersebut;</li>
<li>Otoritas hakim, sebagai penentu dari hasil rukyat hilal di lapangan;</li>
<li>Maslahat jamaah, ialah sebagai salah satu bahan pertimbangan hakim dalam mengambil keputusan ketika ada perbedaan hasil rukyat pada suatu wilayah.</li>
</ul>
<p>Namun di media sosial, ia direduksi menjadi: “Ikut pemerintah atau ikut sunnah?”</p>
<p>Ini adalah <em>false dichotomy</em> (seolah-olah hanya ada 2 pilihan) yang tidak dikenal dalam metodologi ulama salaf, karena perkara ini bukanlah perkara yang sederhana dalam menentukan hasil.</p>
<p><strong>Akar Masalah Ketiga: Ego Keshalihan dan Identitas Kelompok</strong></p>
<p>Ketika idul fithri menjadi simbol identitas bagi sebagian orang dan bukan tidak lagi beribadah karena Allah, sehingga hanya untuk menunjukkan:</p>
<ul>
<li>“Kami paling sunnah”</li>
<li>“Kami berbeda dari mayoritas”</li>
</ul>
<p>Padahal Rasulullah ﷺ (w. 11 H) bersabda:</p>
<p class="arab">«مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ»</p>
<p>“Siapa yang memperdengarkan (amalnya agar dipuji), Allah akan memperdengarkan aibnya. Siapa yang berbuat riya’, Allah akan memperlihatkan (niat buruknya).” (HR. al-Bukhari no. 6499)</p>
<p>Karena seharusnya sunnah beliau ﷺ adalah untuk menyatukan umat, bukan ajang memamerkan perbedaan.</p>
<p><strong>Akar Masalah Keempat: Hilangnya Kepercayaan kepada Ulama dan Otoritas</strong></p>
<p>Di era <em>post-truth</em>, kepercayaan tidak lagi dibangun oleh keilmuan, akan tetapi oleh:</p>
<ul>
<li>Jumlah follower, sehingga semakin banya follower maka akan semakin dipercaya;</li>
<li>Potongan video, karena semakin banyak potongan-potongan video yang tersebar maka akan semakin meyakinkan untuk didengar;</li>
<li>Narasi emosional, semakin menyentuh hati narasi-narasi yang disampaikan, maka akan semakin meyakinkan untuk dipercaya bahwa itulah kebenaran.</li>
</ul>
<p>Padahal Allah ﷻ berfirman:</p>
<p class="arab">﴾فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴿</p>
<p>&#8220;Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,&#8221;  (QS. an-Nahl: 43).</p>
<p>Maka berdasarkan ayat ini yang hendaknya menjadi ukuran ialah keilmuan bukan hal-hal receh disebutkan di atas.</p>
<p><strong>Mengapa Para Ulama Bisa Berbeda Pendapat Tapi Tidak Sampai Viral Seperti Fenomena Saat Ini?</strong></p>
<p>Jawabannya ialah karena perbedaan mereka itu dibangun atas dasar ilmu dan dengan niat untuk mencari serta menegakkan kebenaran bukan ketenaran.</p>
<p>Perbedaan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal bukanlah masalah baru dalam Islam, namun viralitas dan konflik yang menyertainya adalah fenomena modern. Ketidakpahaman terhadap ikhtilaf, penyederhanaan ilmu di media sosial dan krisis kepercayaan terhadap ulama menjadikan masalah fiqih berubah menjadi polemik tahunan. Dengan kembali kepada manhaj salaf, adab ilmiah dan kesadaran bermedia, umat Islam dapat menyikapi perbedaan dengan lebih dewasa, tenang dan penuh hikmah. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2843/mengapa-perbedaan-awal-ramadhan-idul-fitri-selalu-viral/">Mengapa Perbedaan Awal Ramadhan & Idul Fitri Selalu Viral?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2843/mengapa-perbedaan-awal-ramadhan-idul-fitri-selalu-viral/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan dan 1 Syawal</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2026 22:56:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[awal puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hisab dan rukyat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum hisab rukyat]]></category>
		<category><![CDATA[khilafiyah dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[menyikapi perbedaan ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[penetapan idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan 1 syawal]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan awal ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[persatuan umat islam]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi dalam islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2834</guid>

					<description><![CDATA[<p>Fenomena Perbedaan Penentuan Awal Ramadhan dan ‘Idul Fithri Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Setiap tahun, umat Islam khususnya di Indonesia kembali dihadapkan pada satu isu yang selalu viral, emosional dan berulang yaitu isu perbedaan penetapan awal Ramadhan dan ‘Idul Fithri. Isu ini bukan sekadar persoalan teknis rukyat atau hisab, tetapi telah berkembang menjadi polemik sosial, perdebatan publik, bahkan alat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/">Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan dan 1 Syawal</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Fenomena Perbedaan Penentuan Awal Ramadhan dan ‘Idul Fithri</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Setiap tahun, umat Islam khususnya di Indonesia kembali dihadapkan pada satu isu yang selalu viral, emosional dan berulang yaitu <em>isu perbedaan penetapan <a href="https://tanyaislam.com/" target="_blank" rel="noopener">awal Ramadhan</a> dan ‘Idul Fithri</em>. Isu ini bukan sekadar persoalan teknis rukyat atau hisab, tetapi telah berkembang menjadi polemik sosial, perdebatan publik, bahkan alat ejekan di media sosial. Artikel ini mengajak pembaca naik satu level dengan: memahami akar ilmiahnya menurut para ulama, sekaligus menata sikap umat dengan pendekatan dakwah yang bernilai dan relevan secara digital.</p>
<h3><strong>Dasar Syar‘i Penetapan Awal Bulan</strong></h3>
<p>Pertama dalil dari al Qur-an firman Allah ﷻ:</p>
<p class="arab">﴾يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ﴿</p>
<p>&#8220;Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: &#8220;Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; &#8221; (QS. Al-Baqarah: 189)</p>
<p>Ayat ini menjadi dasar bahwa penentuan waktu ibadah tertentu dikaitkan dengan fenomena hilal, contohnya ialah penentuan waktu untuk pelaksanaan haji.</p>
<p>Berikutnya ialah hadits Rasulullah ﷺ (w. 11 H) dimana beliau bersabda:</p>
<p class="arab">«صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ»</p>
<p>&#8220;Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah (‘Idul Fithri) karena melihatnya. Jika tertutup awan, maka sempurnakan bilangan Sya‘ban menjadi tiga puluh.&#8221; (HR. al Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081).</p>
<p>Hadits ini merupakan kaidah pokok dalam seluruh pembahasan rukyat hilal, karena Rasulullah ﷺ (w. 11 H) mengarahkan ummatnya agar <strong>Melihat </strong>terbitnya hilal (bulan sabit) sebagai acuan penentuan awal bulan hijriah yang berfungsi sebagai waktu dimulainya dan berakhirnya ibadah puasa.</p>
<h3><strong>Ikhtilaf Mathali‘ (Perbedaan tempat terbit): Keniscayaan Sejak Zaman Sahabat dan Tabi‘in</strong></h3>
<p>Atsar Sahabat:</p>
<p>Dari Kasus Kuraib (bekas budak Abdullah bin ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> [w. 68 H]<strong>)</strong>, bahwa Ummul Fadhl binti al-Harits <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 50 H) mengutusnya menemui Mu‘awiyah bin Abi Sufyan <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 60 H) di negeri Syam. Ia berkata:</p>
<p>“Aku tiba di Syam dan menunaikan keperluan beliau. Ketika itu awal Ramadhan telah masuk, dan aku berada di Syam. Kami melihat hilal pada malam Jumat. Kemudian aku kembali ke Madinah di akhir bulan. Lalu Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) bertanya kepadaku, kemudian beliau menyebutkan tentang hilal dan berkata: ‘Kapan kalian melihat hilal?’ Aku menjawab, ‘Kami melihatnya pada malam Jumat.’ Ia berkata, ‘Apakah engkau sendiri yang melihatnya?’ Aku menjawab, ‘Ya. Orang-orang juga melihatnya, mereka berpuasa, dan Mu‘awiyah bin Abi Sufyan <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 60 H) pun berpuasa.’ Maka Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) berkata, ‘Namun kami melihatnya pada malam Sabtu. Karena itu kami akan terus berpuasa sampai genap tiga puluh hari atau kami melihat hilal.’ Aku berkata, ‘Tidakkah engkau cukup dengan rukyat Mu‘awiyah bin Abi Sufyan <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 60 H) dan puasanya?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Demikianlah Rasulullah <strong>ﷺ</strong> (w. 11 H) memerintahkan kami.’” (HR. Muslim no. 1087)</p>
<p>Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) tidak mengikuti rukyat Syam dan ini menunjukkan pengakuan ikhtilaf mathali‘ sejak generasi sahabat tanpa adanya konflik diantara mereka.</p>
<h3><strong>Pandangan Ulama</strong></h3>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">الصَّوَابُ اعْتِمَادُ الرُّؤْيَةِ وَعَدَمُ اعْتِبَارِ اخْتِلَافِ الْمَطَالِعِ فِي ذٰلِكَ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَ بِاعْتِمَادِ الرُّؤْيَةِ وَلَمْ يُفَصِّلْ فِي ذٰلِكَ</p>
<p>“Pendapat yang benar adalah berpegang pada rukyat dan tidak menjadikan perbedaan mathla‘ sebagai pertimbangan dalam hal ini; karena Nabi ﷺ memerintahkan untuk berpegang pada rukyat dan beliau tidak merinci masalah tersebut&#8230;”.</p>
<p>Lalu beliau menutup penjelasannya ini dengan menukilkan riwayat dari Kuraib pada pembahasan sebelumnya dan menjelaskan:</p>
<p class="arab">وَهٰذَا قَوْلٌ لَهُ حَظٌّ مِنَ الْقُوَّةِ، وَقَدْ رَأَى الْقَوْلَ بِهِ أَعْضَاءُ مَجْلِسِ هَيْئَةِ كِبَارِ الْعُلَمَاءِ فِي الْمَمْلَكَةِ الْعَرَبِيَّةِ السُّعُودِيَّةِ جَمْعًا بَيْنَ الْأَدِلَّةِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.</p>
<p>Pendapat ini memiliki kekuatan dan Dewan Ulama Senior di Kerajaan Arab Saudi memandang pendapat ini sebagai upaya menggabungkan dalil-dalil. Allah-lah Pemberi taufik. (<a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/10553/اعتماد-الرؤية-وعدم-اعتبار-اختلاف-المطالع">https://binbaz.org.sa/fatwas/10553/اعتماد-الرؤية-وعدم-اعتبار-اختلاف-المطالع</a>)</p>
<p>Dalam sebuah web berbahasa Inggris dinukilkan bahwa Syaikh Muhammad bin Shalih al ʿUtsaimin <strong>رحمه الله</strong> (w. 1421 H) pernah ditanya oleh seseorang dari wilayah Amerika Utara terkait penentuan hari ‘Arafah apakah mengikuti Saudi atau berdasarkan hasil rukyat setempat, beliau menegaskan:</p>
<p><em>&#8220;You should abide by the city you&#8217;re living in.&#8221;</em></p>
<p>“Kalian hendaknya berpegang pada kota tempat kalian tinggal.” (https://www.moonsighting.org.uk/moon/publications/fatawa.html).</p>
<p>Dengan demikian, mengikuti rukyat otoritas setempat dalam penentuan awal bulan hijriah adalah sikap yang sah secara syar‘i dan ilmiah, serta lebih dekat kepada tujuan syariat dalam menjaga persatuan umat, tanpa menafikan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama.</p>
<p>Perbedaan awal Ramadhan dan Idul Fitri adalah masalah klasik dalam fiqh Islam yang telah terjadi sejak zaman sahabat. Islam tidak menafikan adanya perbedaan, namun mengecam perpecahan di tengah-tengah ummatnya. Dengan memahami dalil dan pandangan ulama secara utuh, diharapkan umat islam lebih dewasa, ilmiah dan bijak dalam menyikapi perbedaan rukyat hilal, sehingga ibadah tetap sah dan ukhuwah tetap terjaga. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/">Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan dan 1 Syawal</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seni Beribadah di Bulan Ramadhan Menurut Ulama Ahlus Sunnah</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2778/seni-beribadah-di-bulan-ramadhan-menurut-ulama-ahlus-sunnah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2778/seni-beribadah-di-bulan-ramadhan-menurut-ulama-ahlus-sunnah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2026 07:36:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[adab beribadah di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amalan ramadhan ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[bekal ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah ramadhan menurut ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[kajian ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[panduan ibadah ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan menurut ulama]]></category>
		<category><![CDATA[seni beribadah di bulan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah sunnah ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2778</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika Ramadhan Tidak Mengubah Kita, Lalu Apa yang Akan Mengubah Kita? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.  Bulan Ramadhan adalah musim ibadah dan ladang amal kebaikan bagi setiap muslim. Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan Ramadhan tidak hanya terletak pada puasanya, tetapi juga pada beragam amalan yang menyertainya, seperti qiyamul lail, tilawah al Qur-an, sedekah, serta menjaga diri dari maksiat. Insyaallah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2778/seni-beribadah-di-bulan-ramadhan-menurut-ulama-ahlus-sunnah/">Seni Beribadah di Bulan Ramadhan Menurut Ulama Ahlus Sunnah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Jika Ramadhan Tidak Mengubah Kita, Lalu Apa yang Akan Mengubah Kita?</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em><em> </em></p>
<p>Bulan Ramadhan adalah musim ibadah dan ladang amal kebaikan bagi setiap muslim. Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan Ramadhan tidak hanya terletak pada puasanya, tetapi juga pada beragam amalan yang menyertainya, seperti qiyamul lail, tilawah al Qur-an, sedekah, serta menjaga diri dari maksiat.</p>
<p><em>Insyaallah </em>artikel ini merangkum beberapa panduan amalan Ramadhan berdasarkan penjelasan para ulama agar ibadah di bulan mulia ini menjadi lebih maksimal.</p>
<h3><strong>Ramadhan Adalah Bulan Amal dan Kesempatan Perubahan Diri</strong></h3>
<p>Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid <strong>حفظه الله</strong> menegaskan bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya, karena di dalamnya terkumpul berbagai bentuk ketaatan yang tidak dijumpai di bulan lain.</p>
<p>Beliau menjelaskan bahwa Ramadan adalah:</p>
<ul>
<li>Bulan puasa</li>
<li>Bulan al Qur-an</li>
<li>Bulan qiyam (beribadah di malam hari)</li>
<li>Bulan taubat dan muhasabah</li>
</ul>
<p>Dalil utama tentang keistimewaan Ramadan adalah firman Allah <strong>ﷻ</strong> :</p>
<p class="arab">﴿ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ﴾</p>
<p><em>“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”</em> (QS. al Baqarah: 185) [<a href="https://almunajjid.com/books/lessons/146">https://almunajjid.com/books/lessons/146</a>]</p>
<p><strong>Tujuan dan Maksud dari Puasa Ramadhan</strong></p>
<p>Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan anggota badan dari maksiat. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz <strong>رحمه الله</strong> (w. 1420 H) menekankan bahwa puasa yang benar adalah puasa yang disertai dengan penjagaan lisan, pandangan dan perilaku dari pembatal atau perusak amal puasa. Rasulullah <strong>ﷺ</strong> bersabda:</p>
<p class="arab">« مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ »</p>
<p><em>“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” </em>(HR. Bukhari, no. 1903)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa esensi puasa adalah ketakwaan,d, bukan sekadar ritual fisik.</p>
<p>[<a href="https://binbaz.org.sa/articles/19/%D9%81%D8%B6%D9%84-%D8%B4%D9%87%D8%B1-%D8%B1%D9%85%D8%B6%D8%A7%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A8%D8%A7%D8%B1%D9%83?utm_source=chatgpt.com">https://binbaz.org.sa/articles/19/فضل-شهر-رمضان-المبارك</a>]</p>
<h3><strong>Menghidupkan Malam dengan Iman</strong></h3>
<p>Syaikh Shalih al Fauzan حفظه الله menjelaskan bahwa qiyam Ramadan (menghidupkan malam dengan ibadah) termasuk shalat tarawih adalah sunnah muakkadah (sangat ditekankan). Keutamaannya dijelaskan dalam sabda Nabi <strong>ﷺ</strong>:</p>
<p class="arab">« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »</p>
<p>“Barang siapa menegakkan (shalat malam di bulan) Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759).</p>
<p>Qiyam Ramadhan menjadi sarana:</p>
<ul>
<li>Penghapus dosa</li>
<li>Pembersih hati</li>
<li>Penguat keimanan [<a href="https://alfawzan.af.org.sa/ar/node/14891?utm_source=chatgpt.com">https://alfawzan.af.org.sa/ar/node/14891</a>]</li>
</ul>
<h3><strong>Ruh Ramadhan adalah Tilawah al Qur-an dan Tadabbur</strong></h3>
<p>Para ulama sepakat bahwa Ramadhan adalah bulan al Qur-an. Karena itu, memperbanyak membaca dan mentadabburi al Qur-an menjadi amalan utama.</p>
<p>Dijelaskan bahwa para salaf:</p>
<ul>
<li>Menyelesaikan Al-Qur’an berkali-kali di Ramadan, seperti kisah Imam Syafi‘i <strong>رحمه الله</strong> (w. 204 H) yang dikenal menghatamkan Al-Qur’an 60 kali selama Ramadhan, yakni dua kali khatam setiap hari: satu di siang hari dan satu di malam hari. [Disebutkan oleh Abu Nu‘aim al Ashbahani dalam <em>Hilyat al Awliya’,</em> 9/146 dan adz Dzahabi dalam <em>Siyar A‘lam an Nubala’, </em>10/36];</li>
<li>Mengurangi kesibukan dunia, seperti kisah Imam Malik <strong>رحمه الله</strong> (w. 179 H) yang memiliki kebiasaan khusus saat Ramadhan yaitu beliau meninggalkan majelis hadits dan aktivitas keilmuan lainnya, lalu fokus membaca Al-Qur’an. [Disebutkan oleh Ibnu Rajab al Hanbali dalam <em>Latha-if al Ma‘arif,</em> hlm. 171 dan Abu Bakr bin Abi Shaybah, <em>al Mushannaf,</em> disebutkan atsarnya];</li>
<li>Fokus pada ibadah dan tilawah, seperti kisah Sufyan ats Tsauri <strong>رحمه الله</strong> (w. 161 H) dimana apabila Ramadhan tiba, beliau fokus membaca Al-Qur’an dan meninggalkan aktivitas lain yang biasanya beliau lakukan. [Disebutkan oleh Ibnu Rajab al Hanbali dalam <em>Latha-if al Ma‘arif,</em> hlm. 171].</li>
</ul>
<p>Firman Allah <strong>ﷻ</strong> :</p>
<p class="arab">﴿ إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ ﴾</p>
<p>“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. al Isra’: 9)</p>
<h3><strong>Amalan Harian Ramadhan</strong></h3>
<p>Ramadhan adalah waktu terbaik untuk:</p>
<p><strong>Berusaha istiqamah menunaikan amalan yang wajib, lalu dilengkapi dengan amalan-amalan sunnah</strong>. Dalam sebuah hadits qudsi disampaikan:</p>
<p class="arab">« إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ&#8230; »</p>
<p>“Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman: Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasnya. Dan tidaklah hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya&#8230;.” (HR. Bukhari, no. 6502)</p>
<p><strong>Memperbanyak sedekah</strong>, dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) disampaikan:</p>
<p class="arab">« كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ »</p>
<p>“Rasulullah <strong>ﷺ</strong> adalah manusia yang paling dermawan dan beliau paling dermawan ketika berada di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 6, 1902 dan Muslim, no. 2308).</p>
<p><strong>Memperbanyak do’a</strong>, khususnya saat menjelang berbuka. Rasulullah <strong>ﷺ</strong> bersabda:</p>
<p class="arab">« ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ المَظْلُومِ »</p>
<p>“Ada tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Tirmidzi, no. 2525 dan Ibnu Majah, no. 1752. Dihasankan oleh Imam Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam <em>Shahih al Jami‘,</em> no. 3030).</p>
<p><strong>Menjaga sahur,</strong> karena ia mengandung keberkahan, sebagaimana yang disampaikan dalam hadits Nabi <strong>ﷺ</strong> berikut:</p>
<p class="arab">« تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً »</p>
<p>“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari, no. 1923 dan Muslim, no. 1095).</p>
<p>Juga menjadi salah satu sebab mendapatkan shalawat dari Allah <strong>ﷻ</strong> dan para malaikat. Rasulullah <strong>ﷺ</strong> bersabda:</p>
<p class="arab">« إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ »</p>
<p>“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR. Aḥmad, no. 11003. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiḥ al Jami‘ no. 1844).</p>
<p>Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebagai momentum dan kesempatan emas untuk perubahan hakiki. Adapun puasa, qiyam, al Qur-an, sedekah dan doa adalah sarana pembentukan takwa yang sejati.</p>
<p>Barang siapa keluar dari Ramadhan dengan iman yang lebih kuat dan amal yang lebih baik, maka dialah orang yang benar-benar beruntung dan mendapatkan gelar orang yang bertaqwa. Sebagaimana firman Allah <strong>ﷻ</strong> :</p>
<p class="arab">﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴾</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. al Baqarah: 183)</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2778/seni-beribadah-di-bulan-ramadhan-menurut-ulama-ahlus-sunnah/">Seni Beribadah di Bulan Ramadhan Menurut Ulama Ahlus Sunnah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2778/seni-beribadah-di-bulan-ramadhan-menurut-ulama-ahlus-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih Berjamaah atau Sendiri? Ini Penjelasan Ulama</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2740/shalat-tarawih-berjamaah-atau-sendiri-ini-penjelasan-ulama/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2740/shalat-tarawih-berjamaah-atau-sendiri-ini-penjelasan-ulama/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2025 13:20:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat ulama]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih berjamaah]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih sendiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2740</guid>

					<description><![CDATA[<p>Shalat Tarawih Berjamaah atau Sendiri? Ini Penjelasan Ulama Shalat Tarawih adalah salah satu amalan paling khas di bulan Ramadan. Hampir setiap malam, masjid-masjid dipenuhi jamaah yang ingin menghidupkan malam Ramadan dengan qiyamul lail. Namun, sering muncul pertanyaan: lebih utama Shalat Tarawih berjamaah di masjid atau dikerjakan sendiri di rumah? Untuk menjawab pertanyaan ini, para ulama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2740/shalat-tarawih-berjamaah-atau-sendiri-ini-penjelasan-ulama/">Shalat Tarawih Berjamaah atau Sendiri? Ini Penjelasan Ulama</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Shalat Tarawih Berjamaah atau Sendiri? Ini Penjelasan Ulama</strong></h2>
<p>Shalat Tarawih adalah salah satu amalan paling khas di bulan Ramadan. Hampir setiap malam, masjid-masjid dipenuhi jamaah yang ingin menghidupkan malam Ramadan dengan qiyamul lail. Namun, sering muncul pertanyaan: lebih utama Shalat Tarawih berjamaah di masjid atau dikerjakan sendiri di rumah<strong>?</strong></p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan ini, para ulama telah membahasnya secara panjang lebar. Menariknya, meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam hal keutamaan, para ulama sepakat bahwa Shalat Tarawih berjamaah adalah amalan yang disyariatkan dalam Islam.</p>
<h3><strong>Kesepakatan Ulama: Tarawih Berjamaah Itu Disyariatkan</strong></h3>
<p>Para ulama sepakat bahwa Shalat Tarawih boleh dan disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah. Dasarnya adalah praktik Nabi Muhammad ﷺ, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, terutama sejak masa Khalifah Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu.</p>
<p>Al-Kasani rahimahullah menjelaskan:</p>
<p>“Adapun sunnah-sunnah Shalat Tarawih, di antaranya adalah dilaksanakan secara berjamaah dan di masjid. Hal ini karena Nabi ﷺ pada saat beliau melaksanakan Shalat Tarawih, beliau melakukannya secara berjamaah di masjid. Demikian pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum melaksanakannya secara berjamaah di masjid. Maka pelaksanaan Tarawih secara berjamaah di masjid menjadi sunnah.” (<em>Bada’i‘ ash-Shana’i‘</em>, 3/145)</p>
<p>Artinya, berjamaah dalam Tarawih bukanlah hal baru, melainkan memiliki akar kuat dalam sunnah dan praktik generasi awal Islam.</p>
<p><strong>Pendapat Empat Mazhab tentang Tarawih Berjamaah</strong></p>
<ol>
<li><strong> Mazhab Hanafi</strong></li>
</ol>
<p>Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa Shalat Tarawih berjamaah hukumnya sunnah kifayah. Jika seluruh penduduk suatu daerah meninggalkannya, maka mereka dianggap melakukan perbuatan tercela. Namun, jika seseorang melaksanakannya di rumah, ia tetap sah, hanya saja kehilangan keutamaan jamaah masjid.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Mazhab Maliki</strong></li>
</ol>
<p>Ulama Malikiyah justru menganjurkan Tarawih dilakukan di rumah selama tidak menyebabkan masjid menjadi sepi. Dasarnya adalah sabda Nabi ﷺ:</p>
<p class="arab">‌«أيها ‌الناس! ‌صلوا ‌في ‌بيوتكم؛ ‌فإن ‌أفضل ‌صلاة ‌المرء ‌في ‌بيته ‌إلَّا ‌المكتوبة».</p>
<p>“Wahai sekalian manusia shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baik Shalat seseorang adalah di rumahnya, kecuali Shalat wajib.” (HR. Muslim (no. 1794), Abu Dawud (no. 1397) dan at-Tirmidzi (no. 450).”</p>
<p>Namun, anjuran ini disertai syarat:</p>
<ol>
<li>Tidak menyebabkan masjid-masjid menjadi kosong.</li>
<li>Orang tersebut memiliki semangat untuk melaksanakannya di rumah dan tidak bermalas-malasan.</li>
<li>Ia bukan termasuk pendatang (afaqi) yang berada di dua tanah haram (Makkah dan Madinah).</li>
</ol>
<p>Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka Shalat Tarawih di masjid lebih utama.</p>
<p>Al-Zarqani rahimahullah bahkan menegaskan bahwa <strong>makruh</strong> seseorang yang berada di masjid Shalat Tarawih sendirian dan meninggalkan jamaah, apalagi jika membuat jamaah berkurang.</p>
<ol start="3">
<li><strong> Mazhab Syafi‘i</strong></li>
</ol>
<p>Menurut ulama Syafi‘iyah, Shalat Tarawih berjamaah adalah sunnah menurut pendapat terkuat. Meski begitu, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa Shalat sendiri lebih utama, karena lebih dekat dengan keikhlasan dan lebih jauh dari riya, sebagaimana Shalat malam pada umumnya.</p>
<ol start="4">
<li><strong> Mazhab Hanbali</strong></li>
</ol>
<p>Ulama Hanabilah menegaskan bahwa Shalat Tarawih berjamaah lebih utama daripada sendirian. Imam Ahmad rahimahullah menyebutkan bahwa Ali, Jabir, dan Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhum melaksanakan Tarawih secara berjamaah. <em>(Al-Mawsu‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah</em> (27/147)).</p>
<h3><strong>Dalil Kuat Keutamaan Tarawih Berjamaah</strong></h3>
<p>beberapa dalil yang menunjukkan kesunnahan Shalat Tarawih secara berjamaah, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ mengumpulkan keluarga dan para istrinya, lalu bersabda:</li>
</ol>
<p class="arab">« مَنْ صَلَّى مَعَ إمَامِه حَتَى ‌يَنْصَرِفَ ‌كُتِبَ ‌له ‌قِيامُ ‌لَيْلَةٍ».</p>
<p>“Barang siapa Shalat bersama imam hingga imam selesai, maka dicatat baginya pahala Shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad 35/352 no. 21447, Abu Dawud no. 1375, an-Nasa’i 3/83–84, dan Ibnu Majah no. 1327).</p>
<ol start="2">
<li>Hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ keluar pada beberapa malam di bulan Ramadan dan Shalat di masjid, lalu orang-orang ikut Shalat bersamanya. Jumlah mereka semakin banyak, hingga pada malam keempat beliau tidak keluar, lalu bersabda:</li>
</ol>
<p class="arab">« خشيت أن تفرض عليكم فتعجزوا عنها».</p>
<p>“Aku khawatir Shalat itu akan diwajibkan atas kalian, sehingga kalian merasa berat melaksanakannya.”<br />
(HR. al-Bukhari no. 924 dan Muslim no. 761).</p>
<ol start="3">
<li>Riwayat dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mengumpulkan kaum Muslimin untuk Shalat Tarawih di belakang Ubay bin Ka‘b radhiyallahu ‘anhu pada tahun keempat belas Hijriah, setelah kurang lebih dua tahun beliau menjabat sebagai khalifah, tepatnya pada Ramadan kedua masa kekhilafahannya. (HR. Abu Dawud no. 1428, al-Bayhaqi dalam <em>as-Sunan al-Kubra</em> 2/498 dan <em>as-Sunan ash-Shughra</em> 1/287).</li>
</ol>
<p>Maka setelah masa Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, shalat tarawih menjadi salah satu syiar Islam yang paling nyata. Inilah pertama kalinya kaum Muslimin dikumpulkan di bulan Ramadan di bawah satu imam. Umat Islam terus melestarikan praktik ini, sehingga para ulama sepakat akan keutamaan pelaksanaan shalat tarawih di masjid. (Lihat: <em>Fath al-Bârî</em>, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid 4, hlm. 252; <em>Al-Mudawwanah al-Kubrâ</em>, karya Sahnun, jilid 1, hlm. 222; <em>Shalât at-Tarâwîh</em>, karya Syaikh Muhammad Dhiya’ ar-Rahman al-A‘zami, hlm. 28–29).</p>
<p>Al-Kasani berkata:</p>
<p class="arab">«جمع عمرُ أصحابَ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان على أُبَيِّ بن كعب رضي الله عنه، ولم يُنكر عليه أحد، فيكون إجماعًا منهم على ذلك».</p>
<p>“Umar radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan para sahabat Rasulullah ﷺ pada bulan Ramadan di bawah kepemimpinan Ubay bin Ka‘ab radhiyallahu ‘anhu, dan tidak seorang pun mengingkarinya. Hal ini menjadi ijmak mereka.” (<em>Badâ’i‘ ash-Shanâ’i‘</em>, karya al-Kasani, jilid 1, hlm. 288).</p>
<h3><strong>Bolehkah Tarawih Sendiri di Rumah?</strong></h3>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya mengenai hukum Shalat Tarawih sendirian. Beliau menjawab:</p>
<p>“Shalat Tarawih secara berjamaah lebih utama. Nabi ﷺ melaksanakannya bersama para sahabat selama beberapa malam, kemudian beliau meninggalkannya seraya bersabda:</p>
<p class="arab">«ولكني خشيت أن تفرض عليكم صلاة الليل فتعجزوا عنها»</p>
<p>‘Aku khawatir Shalat malam itu akan diwajibkan atas kalian sehingga kalian merasa berat melaksanakannya.” (HR. al-Bukhari no. 924 dan Muslim no. 761).</p>
<p>Beliau melanjutkan:</p>
<p>“Setelah Nabi ﷺ wafat dan wahyu terputus, Umar radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan manusia di bawah satu imam di Masjid Nabawi pada bulan Ramadan. Nabi ﷺ juga bersabda:</p>
<p class="arab">«مَنْ صَلَّى مَعَ إمَامِه حَتَى ‌يَنْصَرِفَ ‌كُتِبَ ‌له ‌قِيامُ ‌لَيْلَةٍ».</p>
<p>“Barang siapa Shalat bersama imam hingga imam selesai, maka dicatat baginya pahala Shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad 35/352 no. 21447, Abu Dawud no. 1375, an-Nasa’i 3/83–84, dan Ibnu Majah no. 1327).</p>
<p>beliau rahimahullah menegaskan bahwa Shalat bersama jamaah lebih utama karena pahalanya sangat besar. Namun, apabila seseorang melaksanakannya di rumah, maka hal itu tetap boleh karena Tarawih adalah Shalat sunnah. Akan tetapi, ia kehilangan keutamaan berjamaah dan pahala qiyamul lail secara sempurna jika tidak Shalat bersama imam hingga selesai. (<em>Fatawa Nur ‘ala ad-Darb</em>, Ibnu Baz, edisi asy-Syuwai‘ir, 9/475).</p>
<p>Olehkarena itu apabila seseorang tidak mendapatkan kesempatan untuk Shalat Tarawih berjamaah, maka ia boleh melaksanakannya sendirian di rumah. Namun ia dianggap meninggalkan keutamaan berjamaah. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi  ﷺ tentang keutamaan melaksanakan shlat tarawih:</p>
<p>Rasulullah ﷺ juga bersabda:</p>
<p class="arab">«‌من ‌قام ‌رمضان ‌إيماناً ‌واحتساباً غُفِر له ما تقدم من ذنبه».</p>
<p>“Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)</p>
<p>Dan diriwayatkan pula bahwa beberapa sahabat dan tabi‘in seperti Umar bin al-Khattab, Ibrahim an-Nakha‘i, Sa‘id bin Jubair, dan lainnya, lebih memilih Shalat malam sendirian di bulan Ramadan. (<em>Syarh Ma‘ani al-Atsar</em>, 1/351).</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Shalat Tarawih berjamaah merupakan sunnah yang kuat dan bagian dari syiar Islam, dengan keutamaan besar bagi yang mengerjakannya bersama imam hingga selesai. Meski demikian, Shalat Tarawih sendirian di rumah tetap sah dan bernilai ibadah. Wallahu a‘lam…</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2740/shalat-tarawih-berjamaah-atau-sendiri-ini-penjelasan-ulama/">Shalat Tarawih Berjamaah atau Sendiri? Ini Penjelasan Ulama</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2740/shalat-tarawih-berjamaah-atau-sendiri-ini-penjelasan-ulama/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
