<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>persatuan umat islam - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/persatuan-umat-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Feb 2026 10:41:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>persatuan umat islam - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Penentuan Awal Ramadhan dan 1 Syawal Ikut Siapa?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2838/penentuan-awal-ramadhan-dan-1-syawal-ikut-siapa/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2838/penentuan-awal-ramadhan-dan-1-syawal-ikut-siapa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2026 10:14:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[1 syawal berbeda]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hilal dan rukyat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengikuti pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[ikut pemerintah atau tidak]]></category>
		<category><![CDATA[keputusan pemerintah tentang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat ulama tentang hilal]]></category>
		<category><![CDATA[penentuan idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[penentuan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan awal ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[persatuan umat islam]]></category>
		<category><![CDATA[sidang isbat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2838</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penentuan Ramadhan &#38; Idul Fitri Ikut Pemerintah atau Ikut Pendapat Sendiri? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Setelah memahami bahwa perbedaan penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal (‘Idul Fitri) adalah khilaf fiqih yang telah ada sejak masa sahabat, muncul pertanyaan lanjutan yang jauh lebih sensitif dan sering memicu konflik di tengah umat: haruskah seorang Muslim mengikuti keputusan pemerintah atau boleh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2838/penentuan-awal-ramadhan-dan-1-syawal-ikut-siapa/">Penentuan Awal Ramadhan dan 1 Syawal Ikut Siapa?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Penentuan Ramadhan &amp; Idul Fitri Ikut Pemerintah atau Ikut Pendapat Sendiri?</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Setelah memahami bahwa perbedaan penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal (‘Idul Fitri) adalah khilaf fiqih yang telah ada sejak masa sahabat, muncul pertanyaan lanjutan yang jauh lebih sensitif dan sering memicu konflik di tengah umat: <em>haruskah seorang Muslim mengikuti keputusan pemerintah atau boleh ber’idul fithri sendiri berdasarkan keyakinannya?</em> Artikel ini mengulas persoalan tersebut dengan pendekatan ilmiah, sekaligus membaca realitas sosial modern agar umat tidak terjebak pada sikap ekstrem.</p>
<h3><strong>Prinsip Dasar Ahlus Sunnah</strong></h3>
<p>Rasulullah ﷺ (w. 11 H) bersabda:</p>
<p class="arab">«الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ»</p>
<p>&#8220;Puasa itu adalah hari ketika kalian semua berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika kalian semua berkurban.&#8221; (HR. at Tirmidzi no. 697; dinilai <em>hasan gharib</em>)</p>
<p>Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam at Tirmidzi <strong>رحمه الله</strong> (w. 279 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ ‏.‏ وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ</p>
<p>‏&#8221;Hadits ini derajatnya ialah <em>Hasan Gharib </em>(hadits yang terpercaya meskipun jalurnya jarang). Sebagian ulama menafsirkan hadits ini bahwa maknanya adalah bahwa puasa dan berbuka dilakukan bersama jama‘ah dan kebanyakan manusia.” (<em>al Jami’ al Kabir – Sunan at Tirmidzi, </em>Kitab Puasa dari Rasulullah ﷺ, no 697, cet. Maktabah al Ma’arif, Riyadh).</p>
<h3><strong>Praktik Sahabat</strong></h3>
<p>Diriwayatkan oleh Kuraib (bekas budak Abdullah bin ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> [w. 68 H]) (w. 98 H) tentang bagaimana Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) menyikapi perbedaan <em>Mathali’ </em>(Tempat terbit) dimana wilayah Syam melihat hilal pada malam Jum’at sehingga Mu‘awiyah bin Abi Sufyan <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 60 H) dan kaum muslimin yang berada di sana mulai berpuasa pada hari Jum’at, sedangkan Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) dan kaum muslimin Madinah mulai berpuasa pada hari Sabtu (1 hari lebih telat dari penduduk Syam) karena mereka baru melihat hilal pada malam Sabtu. Kemudian ketika di tanya, Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) menegaskan bahwa demikianlah sunnah dari Rasulullah <strong>ﷺ </strong>(w. 11 H) [lihat: <a href="https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/">Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan dan 1 Syawal &#8211; Tanya Islam</a>].</p>
<h3><strong>Pendapat Ulama</strong></h3>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) menjelaskan bahwa dalil-dalil umum dari Nabi ﷺ menunjukkan puasa dan berbuka ditetapkan berdasarkan rukyat tanpa adanya penjelasan tentang pembedaan wilayah terbit bulan, namun sebagian ulama berpendapat bahwa setiap negeri memiliki rukyat sendiri apabila terjadi perbedaan <em>mathla‘</em>, dengan berdalil pada praktik Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H), dan pendapat bahwa “setiap negeri dengan rukyatnya” ini dinilai memiliki kekuatan dalil serta dipilih oleh Majelis Ulama Besar Saudi sebagai bentuk penggabungan dan kompromi antara dalil-dalil yang ada. [lihat: <a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/10553/%D8%A7%D8%B9%D8%AA%D9%85%D8%A7%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%A4%D9%8A%D8%A9-%D9%88%D8%B9%D8%AF%D9%85-%D8%A7%D8%B9%D8%AA%D8%A8%D8%A7%D8%B1-%D8%A7%D8%AE%D8%AA%D9%84%D8%A7%D9%81-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D8%A7%D9%84%D8%B9">https://binbaz.org.sa/fatwas/10553/اعتماد-الرؤية-وعدم-اعتبار-اختلاف-المطالع</a>].</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al ʿUtsaimin <strong>رحمه الله</strong> (w. 1421 H) menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apakah rukyat hilal di satu negeri Islam berlaku untuk seluruh kaum Muslimin atau hanya untuk wilayah tertentu. Sebagian berpendapat rukyat berlaku global bagi semua Muslimin berdasarkan keumuman ayat dan hadis tentang puasa dan berbuka, sementara pendapat lain menyatakan bahwa setiap negeri mengikuti rukyatnya masing-masing apabila <em>mathla‘</em> (tempat terbit hilal) berbeda, dengan qiyas pada perbedaan waktu imsak dan ifthar harian; pendapat ini dinilai kuat dari sisi dalil dan analogi. Sebagian ulama juga menegaskan bahwa dalam praktik, penetapan puasa dan hari raya hendaknya mengikuti keputusan pemerintah demi persatuan dan mencegah perpecahan, berdasarkan hadis “puasa adalah hari kalian berpuasa.” Adapun kaum Muslimin yang tinggal di negeri non-Muslim dan tidak dapat melakukan rukyat, maka mereka menetapkan puasa dengan cara syar‘i yang memungkinkan atau mengikuti rukyat negeri Islam terdekat sebagai solusi terbaik. (baca: https://islamhouse.com/id/fatwa/368856)</p>
<p>Mengikuti pemerintah dalam penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal (‘Idul Fithri) merupakan prinsip kuat dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Dalil hadits, atsar sahabat dan fatwa ulama menunjukkan bahwa menjaga persatuan umat lebih didahulukan daripada mempertahankan pendapat pribadi dalam masalah ijtihadi. Dengan memahami hal ini, umat Islam diharapkan lebih tenang, dewasa  dan tidak mudah terprovokasi oleh polemik tahunan seputar perbedaan hari raya. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2838/penentuan-awal-ramadhan-dan-1-syawal-ikut-siapa/">Penentuan Awal Ramadhan dan 1 Syawal Ikut Siapa?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2838/penentuan-awal-ramadhan-dan-1-syawal-ikut-siapa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan dan 1 Syawal</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2026 22:56:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[awal puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hisab dan rukyat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum hisab rukyat]]></category>
		<category><![CDATA[khilafiyah dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[menyikapi perbedaan ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[penetapan idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan 1 syawal]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan awal ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[persatuan umat islam]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi dalam islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2834</guid>

					<description><![CDATA[<p>Fenomena Perbedaan Penentuan Awal Ramadhan dan ‘Idul Fithri Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Setiap tahun, umat Islam khususnya di Indonesia kembali dihadapkan pada satu isu yang selalu viral, emosional dan berulang yaitu isu perbedaan penetapan awal Ramadhan dan ‘Idul Fithri. Isu ini bukan sekadar persoalan teknis rukyat atau hisab, tetapi telah berkembang menjadi polemik sosial, perdebatan publik, bahkan alat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/">Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan dan 1 Syawal</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Fenomena Perbedaan Penentuan Awal Ramadhan dan ‘Idul Fithri</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Setiap tahun, umat Islam khususnya di Indonesia kembali dihadapkan pada satu isu yang selalu viral, emosional dan berulang yaitu <em>isu perbedaan penetapan <a href="https://tanyaislam.com/" target="_blank" rel="noopener">awal Ramadhan</a> dan ‘Idul Fithri</em>. Isu ini bukan sekadar persoalan teknis rukyat atau hisab, tetapi telah berkembang menjadi polemik sosial, perdebatan publik, bahkan alat ejekan di media sosial. Artikel ini mengajak pembaca naik satu level dengan: memahami akar ilmiahnya menurut para ulama, sekaligus menata sikap umat dengan pendekatan dakwah yang bernilai dan relevan secara digital.</p>
<h3><strong>Dasar Syar‘i Penetapan Awal Bulan</strong></h3>
<p>Pertama dalil dari al Qur-an firman Allah ﷻ:</p>
<p class="arab">﴾يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ﴿</p>
<p>&#8220;Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: &#8220;Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; &#8221; (QS. Al-Baqarah: 189)</p>
<p>Ayat ini menjadi dasar bahwa penentuan waktu ibadah tertentu dikaitkan dengan fenomena hilal, contohnya ialah penentuan waktu untuk pelaksanaan haji.</p>
<p>Berikutnya ialah hadits Rasulullah ﷺ (w. 11 H) dimana beliau bersabda:</p>
<p class="arab">«صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ»</p>
<p>&#8220;Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah (‘Idul Fithri) karena melihatnya. Jika tertutup awan, maka sempurnakan bilangan Sya‘ban menjadi tiga puluh.&#8221; (HR. al Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081).</p>
<p>Hadits ini merupakan kaidah pokok dalam seluruh pembahasan rukyat hilal, karena Rasulullah ﷺ (w. 11 H) mengarahkan ummatnya agar <strong>Melihat </strong>terbitnya hilal (bulan sabit) sebagai acuan penentuan awal bulan hijriah yang berfungsi sebagai waktu dimulainya dan berakhirnya ibadah puasa.</p>
<h3><strong>Ikhtilaf Mathali‘ (Perbedaan tempat terbit): Keniscayaan Sejak Zaman Sahabat dan Tabi‘in</strong></h3>
<p>Atsar Sahabat:</p>
<p>Dari Kasus Kuraib (bekas budak Abdullah bin ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> [w. 68 H]<strong>)</strong>, bahwa Ummul Fadhl binti al-Harits <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 50 H) mengutusnya menemui Mu‘awiyah bin Abi Sufyan <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 60 H) di negeri Syam. Ia berkata:</p>
<p>“Aku tiba di Syam dan menunaikan keperluan beliau. Ketika itu awal Ramadhan telah masuk, dan aku berada di Syam. Kami melihat hilal pada malam Jumat. Kemudian aku kembali ke Madinah di akhir bulan. Lalu Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) bertanya kepadaku, kemudian beliau menyebutkan tentang hilal dan berkata: ‘Kapan kalian melihat hilal?’ Aku menjawab, ‘Kami melihatnya pada malam Jumat.’ Ia berkata, ‘Apakah engkau sendiri yang melihatnya?’ Aku menjawab, ‘Ya. Orang-orang juga melihatnya, mereka berpuasa, dan Mu‘awiyah bin Abi Sufyan <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 60 H) pun berpuasa.’ Maka Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) berkata, ‘Namun kami melihatnya pada malam Sabtu. Karena itu kami akan terus berpuasa sampai genap tiga puluh hari atau kami melihat hilal.’ Aku berkata, ‘Tidakkah engkau cukup dengan rukyat Mu‘awiyah bin Abi Sufyan <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 60 H) dan puasanya?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Demikianlah Rasulullah <strong>ﷺ</strong> (w. 11 H) memerintahkan kami.’” (HR. Muslim no. 1087)</p>
<p>Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) tidak mengikuti rukyat Syam dan ini menunjukkan pengakuan ikhtilaf mathali‘ sejak generasi sahabat tanpa adanya konflik diantara mereka.</p>
<h3><strong>Pandangan Ulama</strong></h3>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">الصَّوَابُ اعْتِمَادُ الرُّؤْيَةِ وَعَدَمُ اعْتِبَارِ اخْتِلَافِ الْمَطَالِعِ فِي ذٰلِكَ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَ بِاعْتِمَادِ الرُّؤْيَةِ وَلَمْ يُفَصِّلْ فِي ذٰلِكَ</p>
<p>“Pendapat yang benar adalah berpegang pada rukyat dan tidak menjadikan perbedaan mathla‘ sebagai pertimbangan dalam hal ini; karena Nabi ﷺ memerintahkan untuk berpegang pada rukyat dan beliau tidak merinci masalah tersebut&#8230;”.</p>
<p>Lalu beliau menutup penjelasannya ini dengan menukilkan riwayat dari Kuraib pada pembahasan sebelumnya dan menjelaskan:</p>
<p class="arab">وَهٰذَا قَوْلٌ لَهُ حَظٌّ مِنَ الْقُوَّةِ، وَقَدْ رَأَى الْقَوْلَ بِهِ أَعْضَاءُ مَجْلِسِ هَيْئَةِ كِبَارِ الْعُلَمَاءِ فِي الْمَمْلَكَةِ الْعَرَبِيَّةِ السُّعُودِيَّةِ جَمْعًا بَيْنَ الْأَدِلَّةِ، وَاللَّهُ وَلِيُّ التَّوْفِيقِ.</p>
<p>Pendapat ini memiliki kekuatan dan Dewan Ulama Senior di Kerajaan Arab Saudi memandang pendapat ini sebagai upaya menggabungkan dalil-dalil. Allah-lah Pemberi taufik. (<a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/10553/اعتماد-الرؤية-وعدم-اعتبار-اختلاف-المطالع">https://binbaz.org.sa/fatwas/10553/اعتماد-الرؤية-وعدم-اعتبار-اختلاف-المطالع</a>)</p>
<p>Dalam sebuah web berbahasa Inggris dinukilkan bahwa Syaikh Muhammad bin Shalih al ʿUtsaimin <strong>رحمه الله</strong> (w. 1421 H) pernah ditanya oleh seseorang dari wilayah Amerika Utara terkait penentuan hari ‘Arafah apakah mengikuti Saudi atau berdasarkan hasil rukyat setempat, beliau menegaskan:</p>
<p><em>&#8220;You should abide by the city you&#8217;re living in.&#8221;</em></p>
<p>“Kalian hendaknya berpegang pada kota tempat kalian tinggal.” (https://www.moonsighting.org.uk/moon/publications/fatawa.html).</p>
<p>Dengan demikian, mengikuti rukyat otoritas setempat dalam penentuan awal bulan hijriah adalah sikap yang sah secara syar‘i dan ilmiah, serta lebih dekat kepada tujuan syariat dalam menjaga persatuan umat, tanpa menafikan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama.</p>
<p>Perbedaan awal Ramadhan dan Idul Fitri adalah masalah klasik dalam fiqh Islam yang telah terjadi sejak zaman sahabat. Islam tidak menafikan adanya perbedaan, namun mengecam perpecahan di tengah-tengah ummatnya. Dengan memahami dalil dan pandangan ulama secara utuh, diharapkan umat islam lebih dewasa, ilmiah dan bijak dalam menyikapi perbedaan rukyat hilal, sehingga ibadah tetap sah dan ukhuwah tetap terjaga. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/">Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan dan 1 Syawal</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
