<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sidang isbat - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/sidang-isbat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Feb 2026 05:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>sidang isbat - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mengapa Perbedaan Awal Ramadhan &#038; Idul Fitri Selalu Viral?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2843/mengapa-perbedaan-awal-ramadhan-idul-fitri-selalu-viral/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2843/mengapa-perbedaan-awal-ramadhan-idul-fitri-selalu-viral/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2026 05:57:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[awal puasa berbeda]]></category>
		<category><![CDATA[berita ramadhan viral]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih puasa]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hilal]]></category>
		<category><![CDATA[hisab dan rukyat]]></category>
		<category><![CDATA[islam indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[khilafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran berbeda]]></category>
		<category><![CDATA[penentuan 1 ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[penentuan 1 syawal]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan awal ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[sidang isbat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2843</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengapa Perbedaan Idul Fitri Selalu Viral? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Jika perbedaan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal (Idul Fithri) hanyalah masalah fiqih, mengapa ia selalu menjadi isu paling viral setiap tahun di Indonesia? Mengapa persoalan yang telah dibahas tuntas sejak zaman sahabat justru berubah menjadi konflik, ejekan dan delegitimasi ulama di era digital? Mari kita bahas apa hukumnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2843/mengapa-perbedaan-awal-ramadhan-idul-fitri-selalu-viral/">Mengapa Perbedaan Awal Ramadhan & Idul Fitri Selalu Viral?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1><strong>Mengapa Perbedaan Idul Fitri Selalu Viral?</strong></h1>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Jika perbedaan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal (Idul Fithri) hanyalah masalah fiqih, mengapa ia selalu menjadi isu <strong>paling viral setiap tahun</strong> di Indonesia? Mengapa persoalan yang telah dibahas tuntas sejak zaman sahabat justru berubah menjadi konflik, ejekan dan delegitimasi ulama di era digital?</p>
<p>Mari kita bahas <strong>apa hukumnya</strong> dan mencari tahu <strong>mengapa terkadang umat bereaksi secara berlebihan.</strong></p>
<p><strong>Akar Masalah Pertama: Gagal Memahami Hakikat Ikhtilaf</strong></p>
<p>Ikhtilaf (Perbedaan pandangan) adalah sunnatullah (ketetapan Allah) dalam masalah ijtihadi (Masalah yang terbuka untuk penafsiran hukum), karena tidak ada dalil tegas dari al Qur-an dan hadits sehingga ini tidak bisa secara mutlaq di hindari dan perlu disikapi dengan adab dan ilmu tanpa ada paksaan.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <strong>رحمه الله</strong><strong>  </strong>(w. 728 H) berkata:</p>
<p class="arab">وَأَمَّا مَسَائِلُ الاجْتِهَادِ فَلَا يُنْكَرُ فِيهَا بِالْيَدِ، وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يُلْزِمَ النَّاسَ بِاتِّبَاعِهِ فِيهَا، وَلَكِنْ يَتَكَلَّمُ فِيهَا بِالْعِلْمِ وَالْحُجَّةِ، فَمَنْ تَبَيَّنَ لَهُ صِحَّةُ أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ اتَّبَعَهُ، وَمَنْ قَلَّدَ أَهْلَ الْقَوْلِ الْآخَرِ فَلَا يُنْكَرُ عَلَيْهِ</p>
<p>“Dalam masalah ijtihad, tidak boleh diingkari dengan paksaan dan tidak boleh seseorang memaksa orang lain untuk mengikutinya. Namun ia boleh menjelaskannya berdasarkan dalil. Siapa yang memandang salah satu pendapat lebih kuat, hendaklah ia mengikutinya. Dan siapa yang mengikuti pendapat lain tidak boleh diingkari.” (<em>Majmu’ al Fatawa</em>, 30/80).</p>
<p><strong>Akar Masalah Kedua: Penyederhanaan Ilmu di Era Media Sosial</strong></p>
<p>Fiqih yang kompleks dipaksa menjadi konten singkat, seperti dalam masalah rukyat hilal yang mana ia perlu melibatkan:</p>
<ul>
<li>Dalil syar‘i, untuk menjadi dasar penetapan awal bulan hijriah;</li>
<li>Perbedaan mathla‘ (tempat terbit), ini akan mempengaruhi terlihat atau tidaknya hilal pada wilayah tersebut;</li>
<li>Otoritas hakim, sebagai penentu dari hasil rukyat hilal di lapangan;</li>
<li>Maslahat jamaah, ialah sebagai salah satu bahan pertimbangan hakim dalam mengambil keputusan ketika ada perbedaan hasil rukyat pada suatu wilayah.</li>
</ul>
<p>Namun di media sosial, ia direduksi menjadi: “Ikut pemerintah atau ikut sunnah?”</p>
<p>Ini adalah <em>false dichotomy</em> (seolah-olah hanya ada 2 pilihan) yang tidak dikenal dalam metodologi ulama salaf, karena perkara ini bukanlah perkara yang sederhana dalam menentukan hasil.</p>
<p><strong>Akar Masalah Ketiga: Ego Keshalihan dan Identitas Kelompok</strong></p>
<p>Ketika idul fithri menjadi simbol identitas bagi sebagian orang dan bukan tidak lagi beribadah karena Allah, sehingga hanya untuk menunjukkan:</p>
<ul>
<li>“Kami paling sunnah”</li>
<li>“Kami berbeda dari mayoritas”</li>
</ul>
<p>Padahal Rasulullah ﷺ (w. 11 H) bersabda:</p>
<p class="arab">«مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ»</p>
<p>“Siapa yang memperdengarkan (amalnya agar dipuji), Allah akan memperdengarkan aibnya. Siapa yang berbuat riya’, Allah akan memperlihatkan (niat buruknya).” (HR. al-Bukhari no. 6499)</p>
<p>Karena seharusnya sunnah beliau ﷺ adalah untuk menyatukan umat, bukan ajang memamerkan perbedaan.</p>
<p><strong>Akar Masalah Keempat: Hilangnya Kepercayaan kepada Ulama dan Otoritas</strong></p>
<p>Di era <em>post-truth</em>, kepercayaan tidak lagi dibangun oleh keilmuan, akan tetapi oleh:</p>
<ul>
<li>Jumlah follower, sehingga semakin banya follower maka akan semakin dipercaya;</li>
<li>Potongan video, karena semakin banyak potongan-potongan video yang tersebar maka akan semakin meyakinkan untuk didengar;</li>
<li>Narasi emosional, semakin menyentuh hati narasi-narasi yang disampaikan, maka akan semakin meyakinkan untuk dipercaya bahwa itulah kebenaran.</li>
</ul>
<p>Padahal Allah ﷻ berfirman:</p>
<p class="arab">﴾فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴿</p>
<p>&#8220;Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,&#8221;  (QS. an-Nahl: 43).</p>
<p>Maka berdasarkan ayat ini yang hendaknya menjadi ukuran ialah keilmuan bukan hal-hal receh disebutkan di atas.</p>
<p><strong>Mengapa Para Ulama Bisa Berbeda Pendapat Tapi Tidak Sampai Viral Seperti Fenomena Saat Ini?</strong></p>
<p>Jawabannya ialah karena perbedaan mereka itu dibangun atas dasar ilmu dan dengan niat untuk mencari serta menegakkan kebenaran bukan ketenaran.</p>
<p>Perbedaan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal bukanlah masalah baru dalam Islam, namun viralitas dan konflik yang menyertainya adalah fenomena modern. Ketidakpahaman terhadap ikhtilaf, penyederhanaan ilmu di media sosial dan krisis kepercayaan terhadap ulama menjadikan masalah fiqih berubah menjadi polemik tahunan. Dengan kembali kepada manhaj salaf, adab ilmiah dan kesadaran bermedia, umat Islam dapat menyikapi perbedaan dengan lebih dewasa, tenang dan penuh hikmah. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2843/mengapa-perbedaan-awal-ramadhan-idul-fitri-selalu-viral/">Mengapa Perbedaan Awal Ramadhan & Idul Fitri Selalu Viral?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2843/mengapa-perbedaan-awal-ramadhan-idul-fitri-selalu-viral/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penentuan Awal Ramadhan dan 1 Syawal Ikut Siapa?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2838/penentuan-awal-ramadhan-dan-1-syawal-ikut-siapa/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2838/penentuan-awal-ramadhan-dan-1-syawal-ikut-siapa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2026 10:14:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[1 syawal berbeda]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih puasa]]></category>
		<category><![CDATA[hilal dan rukyat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mengikuti pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[ikut pemerintah atau tidak]]></category>
		<category><![CDATA[keputusan pemerintah tentang ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat ulama tentang hilal]]></category>
		<category><![CDATA[penentuan idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[penentuan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan awal ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[persatuan umat islam]]></category>
		<category><![CDATA[sidang isbat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2838</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penentuan Ramadhan &#38; Idul Fitri Ikut Pemerintah atau Ikut Pendapat Sendiri? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Setelah memahami bahwa perbedaan penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal (‘Idul Fitri) adalah khilaf fiqih yang telah ada sejak masa sahabat, muncul pertanyaan lanjutan yang jauh lebih sensitif dan sering memicu konflik di tengah umat: haruskah seorang Muslim mengikuti keputusan pemerintah atau boleh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2838/penentuan-awal-ramadhan-dan-1-syawal-ikut-siapa/">Penentuan Awal Ramadhan dan 1 Syawal Ikut Siapa?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Penentuan Ramadhan &amp; Idul Fitri Ikut Pemerintah atau Ikut Pendapat Sendiri?</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Setelah memahami bahwa perbedaan penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal (‘Idul Fitri) adalah khilaf fiqih yang telah ada sejak masa sahabat, muncul pertanyaan lanjutan yang jauh lebih sensitif dan sering memicu konflik di tengah umat: <em>haruskah seorang Muslim mengikuti keputusan pemerintah atau boleh ber’idul fithri sendiri berdasarkan keyakinannya?</em> Artikel ini mengulas persoalan tersebut dengan pendekatan ilmiah, sekaligus membaca realitas sosial modern agar umat tidak terjebak pada sikap ekstrem.</p>
<h3><strong>Prinsip Dasar Ahlus Sunnah</strong></h3>
<p>Rasulullah ﷺ (w. 11 H) bersabda:</p>
<p class="arab">«الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ»</p>
<p>&#8220;Puasa itu adalah hari ketika kalian semua berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika kalian semua berkurban.&#8221; (HR. at Tirmidzi no. 697; dinilai <em>hasan gharib</em>)</p>
<p>Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam at Tirmidzi <strong>رحمه الله</strong> (w. 279 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ ‏.‏ وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ</p>
<p>‏&#8221;Hadits ini derajatnya ialah <em>Hasan Gharib </em>(hadits yang terpercaya meskipun jalurnya jarang). Sebagian ulama menafsirkan hadits ini bahwa maknanya adalah bahwa puasa dan berbuka dilakukan bersama jama‘ah dan kebanyakan manusia.” (<em>al Jami’ al Kabir – Sunan at Tirmidzi, </em>Kitab Puasa dari Rasulullah ﷺ, no 697, cet. Maktabah al Ma’arif, Riyadh).</p>
<h3><strong>Praktik Sahabat</strong></h3>
<p>Diriwayatkan oleh Kuraib (bekas budak Abdullah bin ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> [w. 68 H]) (w. 98 H) tentang bagaimana Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) menyikapi perbedaan <em>Mathali’ </em>(Tempat terbit) dimana wilayah Syam melihat hilal pada malam Jum’at sehingga Mu‘awiyah bin Abi Sufyan <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 60 H) dan kaum muslimin yang berada di sana mulai berpuasa pada hari Jum’at, sedangkan Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) dan kaum muslimin Madinah mulai berpuasa pada hari Sabtu (1 hari lebih telat dari penduduk Syam) karena mereka baru melihat hilal pada malam Sabtu. Kemudian ketika di tanya, Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H) menegaskan bahwa demikianlah sunnah dari Rasulullah <strong>ﷺ </strong>(w. 11 H) [lihat: <a href="https://tanyaislam.com/2834/menyikapi-perbedaan-awal-ramadhan-dan-1-syawal/">Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan dan 1 Syawal &#8211; Tanya Islam</a>].</p>
<h3><strong>Pendapat Ulama</strong></h3>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) menjelaskan bahwa dalil-dalil umum dari Nabi ﷺ menunjukkan puasa dan berbuka ditetapkan berdasarkan rukyat tanpa adanya penjelasan tentang pembedaan wilayah terbit bulan, namun sebagian ulama berpendapat bahwa setiap negeri memiliki rukyat sendiri apabila terjadi perbedaan <em>mathla‘</em>, dengan berdalil pada praktik Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما</strong> (w. 68 H), dan pendapat bahwa “setiap negeri dengan rukyatnya” ini dinilai memiliki kekuatan dalil serta dipilih oleh Majelis Ulama Besar Saudi sebagai bentuk penggabungan dan kompromi antara dalil-dalil yang ada. [lihat: <a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/10553/%D8%A7%D8%B9%D8%AA%D9%85%D8%A7%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%A4%D9%8A%D8%A9-%D9%88%D8%B9%D8%AF%D9%85-%D8%A7%D8%B9%D8%AA%D8%A8%D8%A7%D8%B1-%D8%A7%D8%AE%D8%AA%D9%84%D8%A7%D9%81-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D8%A7%D9%84%D8%B9">https://binbaz.org.sa/fatwas/10553/اعتماد-الرؤية-وعدم-اعتبار-اختلاف-المطالع</a>].</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al ʿUtsaimin <strong>رحمه الله</strong> (w. 1421 H) menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apakah rukyat hilal di satu negeri Islam berlaku untuk seluruh kaum Muslimin atau hanya untuk wilayah tertentu. Sebagian berpendapat rukyat berlaku global bagi semua Muslimin berdasarkan keumuman ayat dan hadis tentang puasa dan berbuka, sementara pendapat lain menyatakan bahwa setiap negeri mengikuti rukyatnya masing-masing apabila <em>mathla‘</em> (tempat terbit hilal) berbeda, dengan qiyas pada perbedaan waktu imsak dan ifthar harian; pendapat ini dinilai kuat dari sisi dalil dan analogi. Sebagian ulama juga menegaskan bahwa dalam praktik, penetapan puasa dan hari raya hendaknya mengikuti keputusan pemerintah demi persatuan dan mencegah perpecahan, berdasarkan hadis “puasa adalah hari kalian berpuasa.” Adapun kaum Muslimin yang tinggal di negeri non-Muslim dan tidak dapat melakukan rukyat, maka mereka menetapkan puasa dengan cara syar‘i yang memungkinkan atau mengikuti rukyat negeri Islam terdekat sebagai solusi terbaik. (baca: https://islamhouse.com/id/fatwa/368856)</p>
<p>Mengikuti pemerintah dalam penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal (‘Idul Fithri) merupakan prinsip kuat dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Dalil hadits, atsar sahabat dan fatwa ulama menunjukkan bahwa menjaga persatuan umat lebih didahulukan daripada mempertahankan pendapat pribadi dalam masalah ijtihadi. Dengan memahami hal ini, umat Islam diharapkan lebih tenang, dewasa  dan tidak mudah terprovokasi oleh polemik tahunan seputar perbedaan hari raya. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2838/penentuan-awal-ramadhan-dan-1-syawal-ikut-siapa/">Penentuan Awal Ramadhan dan 1 Syawal Ikut Siapa?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2838/penentuan-awal-ramadhan-dan-1-syawal-ikut-siapa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
