Tafsir Surat An-Naba’ 25: Balasan yang Setimpal
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Surah an Naba’: 26 menegaskan prinsip agung dalam al Qur-an yaitu keadilan Allah yang sempurna. adalah Allah ﷻ berfirman:
﴿ جَزَاءً وِفَاقًا ﴾
“Sebagai pembalasan yang setimpal,” (QS. an Naba’: 25)
Ungkapan “Sebagai pembalasan yang setimpal,” bukan sekadar ancaman, melainkan penjelasan objektif bahwa setiap konsekuensi akhirat benar-benar sepadan dengan amal manusia.
Balasan yang Sepadan dengan Amal
Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) menjelaskan:
يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: هٰذَا الْعِقَابُ الَّذِي عُوقِبَ بِهِ هٰؤُلَاءِ الْكُفَّارُ فِي الْآخِرَةِ فَعَلَهُ بِهِمْ رَبُّهُمْ ﴿ جَزَاءً ﴾، يَعْنِي: ثَوَابًا لَهُمْ عَلَى أَفْعَالِهِمْ وَأَقْوَالِهِمُ الرَّدِيئَةِ الَّتِي كَانُوا يَعْمَلُونَهَا فِي الدُّنْيَا، وَهُوَ مَصْدَرٌ مِنْ قَوْلِ الْقَائِلِ: وَافَقَ هٰذَا الْعِقَابُ هٰذَا الْعَمَلَ وِفَاقًا
“Allah ﷻ berfirman (yang bermakna): Hukuman ini yang ditimpakan kepada orang-orang kafir itu di akhirat dilakukan oleh Rabb mereka “Sebagai pembalasan”. Maksudnya, sebagai ganjaran atas perbuatan dan ucapan mereka yang buruk, yang dahulu mereka lakukan di dunia. Ia (jaza-an wifaqan) merupakan bentuk mashdar dari ungkapan seseorang: “Hukuman ini sesuai dengan perbuatan itu,” yakni sepadan dan seimbang dengannya.” [Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran, 24/32, cet. Dar Hajar, Kairo].
Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) menjelaskan bahwa hukuman akhirat yang menimpa orang-orang kafir merupakan balasan yang sesuai dengan perbuatan dan ucapan buruk yang mereka lakukan di dunia. Istilah wifaqan menunjukkan kesepadanan sempurna antara amal dan balasan. Makna ini dikuatkan oleh atsar sahabat dan tabi‘in seperti Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما (w. 68 H), Qatadah رحمه الله (w. 117 H), Mujahid رحمه الله (w. 104 H), ar-Rabi‘ bin Anas رحمه الله (w. 139 H) dan Ibnu Zayd رحمه الله (w. 182 H). [Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran, 24/33-34, cet. Dar Hajar, Kairo].
Analisis Bahasa dan Kesepadanan Hukuman
Imam al Qurthubi رحمه الله (w. 671 H) menjelaskan:
﴿ جَزَاءً وِفَاقًا ﴾ أَيْ مُوَافِقًا لِأَعْمَالِهِمْ
“Sebagai pembalasan yang setimpal,”; balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.” [Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran, 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].
Imam al Qurthubi رحمه الله (w. 671 H) menekankan sisi kebahasaan. Kata wifaq bermakna kesesuaian, sebagaimana qital bermakna saling berperang. Secara gramatikal, jaza’an adalah mashdar penegas: “Kami membalas mereka dengan balasan yang sepadan dengan amal mereka.” Ia juga mengutip pandangan Muqatil رحمه الله (w. 150 H) bahwa tidak ada dosa lebih besar dari syirik dan tidak ada azab lebih besar dari neraka. [Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran, 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].
Penegasan Kesepakatan Ulama Salaf (Klasik)
Imam Ibnu Katsir رحمه الله (w. 774 H) menyampaikan:
أَيْ هٰذَا الَّذِي صَارُوا إِلَيْهِ مِنْ هٰذِهِ الْعُقُوبَةِ وَفْقَ أَعْمَالِهِمُ الْفَاسِدَةِ الَّتِي كَانُوا يَعْمَلُونَهَا فِي الدُّنْيَا؛ قَالَهُ مُجَاهِدٌ وَقَتَادَةُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ
“Maksudnya, keadaan yang mereka alami berupa hukuman tersebut benar-benar sepadan dengan perbuatan-perbuatan rusak yang dahulu mereka kerjakan di dunia. Penafsiran ini disampaikan oleh Mujahid رحمه الله (w. 104 H), Qatadah رحمه الله (w. 117 H) dan sejumlah ulama tafsir lainnya.” [Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].
Imam Ibnu Katsir رحمه الله (w. 774 H) meringkas pandangan salaf yaitu hukuman akhirat sepadan dengan amal rusak yang dikerjakan di dunia. Ia menukil pendapat Mujahid رحمه الله (w. 104 H) dan Qatadah رحمه الله (w. 117 H) yang menegaskan konsensus makna ayat ini.
Keadilan Allah dan Tanggung Jawab Manusia
Syaikh as Sa‘di رحمه الله (w. 1376 H) menyampaikan:
اسْتَحَقُّوا هٰذِهِ الْعُقُوبَاتِ الْفَظِيعَةَ جَزَاءً لَهُمْ وَوِفَاقًا عَلَى مَا عَمِلُوا مِنَ الْأَعْمَالِ الْمُوصِلَةِ إِلَيْهَا، لَمْ يَظْلِمْهُمُ اللَّهُ، وَلٰكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ
“Mereka pantas menerima hukuman-hukuman yang dahsyat tersebut sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan—perbuatan yang mengantarkan mereka kepada hukuman itu. Allah tidak menzalimi mereka sedikit pun, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” [Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].
Syaikh as Sa‘di رحمه الله (w. 1376 H) menegaskan prinsip keadilan Ilahi bahwa Allah ﷻ tidak menzhalimi hamba-Nya; manusialah yang menzhalimi diri sendiri. Hukuman datang sebagai konsekuensi logis dari perbuatan yang mengantarkan kepadanya.
Surah an Naba’ ayat 26 menegaskan keadilan Allah ﷻ yang absolut. Kesemuanya (semua tafsir yang dinukilkan pada artikel ini) berpadu menyatakan satu pesan yaitu setiap amal memiliki konsekuensi yang setimpal. Inilah pondasi etika Qur-ani yang relevan sepanjang zaman, adil, objektif dan mendidik jiwa untuk bertanggung jawab atas setiap pilihan.
Wallahu a’lamu bishshawab.



