Tafsir An-Naba’ Ayat 22: Neraka Jahanam Seburuk-buruknya Tempat Kembali
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Pernahkah Anda bertanya-tanya, apa makna sesungguhnya dari ‘tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas’? Dalam artikel ini, insyaallah kita akan menyelami tafsir An-Naba’ ayat 22, mengupas tuntas mengapa neraka Jahanam disebut sebagai ‘tempat kembali’ bagi mereka yang berbuat durhaka. Dengan pemahaman yang lebih dalam, semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kehidupan. Allah Ta’ala berfirman:
لِّلطَّاغِينَ مَآبًا
“Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas,” (Q.S An Naba’: 22)
Imam At Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan:
يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: إِنَّ جَهَنَّمَ لِلَّذِينَ طَغَوْا فِي الدُّنْيَا، فَتَجَاوَزُوا حُدُودَ اللَّهِ اسْتِكْبَارًا عَلَى رَبِّهِمْ كَانَتْ مَنْزِلًا وَمَرْجِعًا يَرْجِعُونَ إِلَيْهِ، وَمَصِيرًا يَصِيرُونَ إِلَيْهِ يَسْكُنُونَهُ.
“Allah Ta‘ala berfirman (yang maknanya): Sesungguhnya neraka Jahanam bagi orang-orang yang melampaui batas di dunia, yaitu mereka yang melewati ketentuan-ketentuan Allah dengan kesombongan terhadap Rabb mereka. Neraka itu akan menjadi tempat tinggal bagi mereka, tempat kembali yang pasti mereka datangi, dan tempat menetap yang mereka huni.” (Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran, 24/21, cet. Dar Hajar, Kairo).
Penjelasan beliau ini dikuatkan dengan pendapat Imam Qatadah As Sadusi (w. 117 H) dan Sufyan Ats Tsauri (w. 161 H) bahwa kata مَآبًا maknanya ialah “tempat kembali dan menetap.” (Tafsir Ath Thabari, 24/21).
Lalu Imam Al Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) menyampaikan:
﴿لِلطَّاغِينَ مَآبًا﴾ بَدَلٌ مِنْ قَوْلِهِ: ﴿مِرْصَادًا﴾، وَالْمَآبُ: الْمَرْجِعُ، أَيْ مَرْجِعًا يَرْجِعُونَ إِلَيْهَا. يُقَالُ: آبَ يَئُوبُ أَوْبَةً: إِذَا رَجَعَ. وَقَالَ قَتَادَةُ: مَأْوًى وَمَنْزِلًا. وَالْمُرَادُ بِالطَّاغِينَ: مَنْ طَغَى فِي دِينِهِ بِالْكُفْرِ، أَوْ فِي دُنْيَاهُ بِالظُّلْمِ.
“Firman Allah, “Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas,” merupakan badal dari firman-Nya sebelumnya “(Padanya) ada tempat pengintai,” (Q.S An Naba’: 21). Kata “Al Ma-ab” berarti tempat kembali, yakni tempat yang akan mereka datangi. Dalam bahasa Arab dikatakan, “Aaba–Ya-uubu–Awbatan” yang artinya kembali.
Menurut Imam Qatadah As Sadusi (w. 117 H), kata tersebut bermakna sebagai tempat tinggal dan tempat menetap.
Adapun yang dimaksud dengan orang-orang yang melampaui batas (Ath Thaghin) adalah mereka yang melampaui batas dalam agamanya dengan kekafiran, atau melampaui batas dalam urusan dunia dengan berbuat kezhaliman.” (Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran, 19/177, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).
Adapun maksud dari “badal untuk ayat sebelumnya” ialah secara bahasa kata ﴾مَآبًا﴿ memiliki kedudukan yang sama dengan kata ﴾مِرْصَادًا﴿ pada ayat ke 21. Sehingga maknanya ditinjau dari nahwu ialah bahwasanya Neraka Jahannam adalah tempat pengintaian dan pengawasan sekaligus tempat kembali dan menetapnya orang -orang yang telah melampaui batasan-batasan yang telah Allah tetapkan. Makna ini merupakan penguatan sekaligus pelengkap dari penjelasan Imam Qatadah (w. 117 H) di atas sekaligus menegaskan bahwa ayat ini memiliki hubungan kuat dengan ayat sebelumnya.
Berikutnya Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) menyampaikan dalam tafsirnya:
﴿للِطَّاغِينَ﴾ وَهُمُ: المَرَدَةُ الْعُصَاةُ الْمُخَالِفُونَ لِلرُّسُلِ، ﴿مَآبًا﴾ أَيْ: مَرْجِعًا وَمُنْقَلَبًا وَمَصِيرًا وَنُزُلًا.
“Firman Allah,“Bagi orang-orang yang melampaui batas,” yaitu para pembangkang dan para pendosa keras kepala yang menentang para rasul. Sementara itu, kata “Lagi menjadi tempat kembali” berarti tempat kembali, tempat kepulangan, tempat kesudahan, sekaligus tempat tinggal.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/305, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).
Kemudian Syaikh As Sa‘di rahimahullah (w. 1376 H) menyampaikan dalam tafsirnya:
وَأَعَدَّهَا لِلطَّاغِينَ، وَجَعَلَهَا مَثْوًى لَهُمْ وَمَآبًا.
“Allah telah menyiapkan neraka itu bagi orang-orang yang melampaui batas. Dia menjadikannya sebagai tempat tinggal yang kekal dan tempat kembali bagi mereka.” (Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam).
Dari tafsir para ulama diatas, dapat kita simpulkan beberapa hal:
- Selain Surga yang Allah janjikan sebagai tempat kembali hamba-hamba-Nya yang beriman, Allah juga menciptakan Neraka sebagai tempat kembali hamba-hamba-Nya yang kufur dan melampaui batasan-batasan syari’at Allah.
- Bagi orang yang kufur dan tidak beriman kepada Allah Neraka akan menjadi tempat tinggalnya selamanya, bukan hanya sebagai tempat singgah saja.
- Diantara yang termasuk dalam kategori “Ath Thaghin” ialah tidak hanya mereka yang mengingkari rukun iman seluruhnya ataupun sebagiannya, akan tetapi mereka yang berbuat zhalim dalam urusan dunia juga termasuk dalam kategori “Ath Thaghin” walaupun secara zhahir beriman dengan 6 rukun iman.
Wallahu a’lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.



