Biografi Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab
Serial Syarh Ushul Tsalatsah ke 1
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Di tengah banjir narasi keislaman, umat justru kerap kehilangan arah paling mendasar: kepada siapa ibadah ini ditujukan? dan dimana akar tauhid seharusnya berpijak?. Krisis identitas ini bukan lahir dari kurangnya simbol, tetapi dari jauhnya pemahaman terhadap inti ajaran para Nabi عليهم الصلاة والسلام. Dalam konteks inilah sosok Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله layak dibaca kembali, bukan sebagai label atau kontroversi, tetapi sebagai seorang ulama yang mengajak umat pulang ke pondasi iman yang paling awal dan paling menentukan.
Seorang Ulama dari Nasab Mulia dan Lingkungan Ilmu
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله adalah seorang ulama besar dari kabilah Bani Tamim, dengan nasab lengkap Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rusyd bin Buraid bin Muhammad bin Musyarraf bin ‘Umar. Beliau lahir pada tahun 1115 H di kota al-‘Uyainah, sebuah wilayah di Najd, dalam keluarga yang dikenal dengan kemuliaan nasab, kedalaman ilmu dan keteguhan dalam agama. [Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cetakan Dar ats Tsurayya, Riyadh, hlm 9].
Ayah beliau, Syaikh ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman رحمه الله (w. 1153 H), adalah seorang ulama terkemuka di Najd. Adapun kakeknya, Syaikh Sulaiman bin ‘Ali رحمه الله (w. 1110 H), dikenal sebagai salah satu ulama Najd yang paling berpengaruh pada masanya. Dengan latar belakang seperti ini, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله tumbuh dalam suasana ilmiah yang kuat, jauh dari gambaran tokoh yang muncul tanpa pondasi keilmuan. [Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cetakan Dar ats Tsurayya, Riyadh, hlm 9].
Masa Kecil yang Dibentuk oleh al Qur-an dan Disiplin Ilmu
Sejak usia sangat muda, kecerdasan dan kesungguhan beliau telah tampak jelas. Sebelum genap berusia sepuluh tahun, beliau telah menghafal al Qur-an. Dalam bidang fikih, beliau menunjukkan penguasaan yang baik hingga mendapat perhatian dan kekaguman langsung dari ayahnya, terutama karena kekuatan hapalan dan ketekunan dalam belajar. [Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cetakan Dar ats Tsurayya, Riyadh, hlm 9].
Kitab-kitab tafsir dan hadits menjadi bacaan utama beliau. Waktu siang dan malam diisi dengan membaca, menghapal dan menelaah matan-matan ilmiah dari berbagai disiplin keislaman. Pondasi ilmiah inilah yang kelak membentuk karakter dakwah beliau: tegas, terukur dan berbasis dalil. [Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cetakan Dar ats Tsurayya, Riyadh, hlm 9].
Dari Najd Menuju Dua Tanah Suci
Kesungguhan dalam menuntut ilmu mendorong Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله melakukan rihlah ilmiah ke berbagai wilayah. Setelah belajar kepada para ulama di sekitar Najd, beliau melanjutkan perjalanan ke Makkah al-Mukarramah dan menimba ilmu dari para ulamanya. [Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cetakan Dar ats Tsurayya, Riyadh, hlm 9].
Perjalanan ilmiah tersebut berlanjut ke Madinah an-Nabawiyah. Di kota Rasulullah ﷺ ini, beliau berguru kepada Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim asy Syammari رحمه الله (w. 1169 H), salah satu ulama hadits yang sangat berpengaruh pada keilmuan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله. Beliau juga belajar kepada putranya yaitu, Syaikh Ibrahim bin ‘Abdullah asy Syammari رحمه الله (w. 1177 H), seorang pakar ilmu faraidh yang masyhur dan penulis kitab al ‘Adzb al Fa’idh fi Syarh Alfiyyat al Fara-idh. [Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cetakan Dar ats Tsurayya, Riyadh, hlm 9].
Melalui keduanya, beliau diperkenalkan kepada ahli hadits ternama yang sangat berperngaruh pada keilmuan beliau yaitu Syaikh Muhammad Hayat as Sindi رحمه الله (w. 1163 H). Kepada ulama besar inilah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab belajar ilmu hadits dan ilmu rijal, serta memperoleh ijazah dalam kitab-kitab induk hadits. [Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cetakan Dar ats Tsurayya, Riyadh, hlm 9-10].
Ketajaman Intelektual dan Tradisi Menulis yang Kuat
Allah ﷻ menganugerahkan kepada beliau pemahaman yang tajam dan kecerdasan yang luar biasa. Beliau dikenal sangat tekun membaca, meneliti dan mencatat setiap faedah yang ditemuinya. Aktivitas menulis menjadi bagian dari keseharian beliau, tanpa rasa jemu. [Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cetakan Dar ats Tsurayya, Riyadh, hlm 10].
Beliau juga menyalin dengan tangan sendiri banyak karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله (w. 728 H) dan murid beliau Ibnu al Qayyim al Jauziyyah رحمه الله (w. 751 H) رحمهما الله. Hingga hari ini, sebagian manuskrip berharga dengan tulisan tangan beliau masih tersimpan di berbagai museum, menjadi saksi ketekunan ilmiah yang jarang dimiliki oleh seorang da‘i. [Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cetakan Dar ats Tsurayya, Riyadh, hlm 10].
Dakwah Tauhid yang Terbuka dan Mengubah Arah Umat
Setelah wafatnya sang ayah pada tahun 1153 H, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله mulai menyampaikan dakwahnya secara terbuka. Dakwah tersebut berporos pada pemurnian tauhid, penolakan terhadap berbagai bentuk kesyirikan dan pengingkaran terhadap praktik bid‘ah. [Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cetakan Dar ats Tsurayya, Riyadh, hlm 10].
Dakwah ini mendapatkan dukungan dari para penguasa keluarga Al Sa‘ud, sehingga pengaruhnya semakin kuat, jangkauannya semakin luas dan namanya pun dikenal di berbagai penjuru Jazirah Arab. Sejak saat itu, dakwah tauhid kembali menjadi isu sentral di tengah masyarakat. [Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cetakan Dar ats Tsurayya, Riyadh, hlm 10].
Warisan Ilmiah yang Terus Dibaca Lintas Generasi
Wafat pada tahun 1206 H, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله meninggalkan banyak karya ilmiah yang hingga kini menjadi rujukan utama dalam pembahasan tauhid. Di antaranya Kitab at Tauhid, Kasyf asy Syubuhat, Tsalatsatul Ushul, serta sejumlah ringkasan kitab dan kumpulan fatwa serta risalah yang dihimpun dalam Majmu‘ Mu’allafat al Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab di bawah supervisi Universitas Imam Muhammad bin Saud.
Membaca biografi Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله di tengah krisis identitas umat Islam hari ini bukanlah sekadar menengok sejarah, tetapi sebuah upaya memahami akar dakwah tauhid yang murni. Dengan nasab yang mulia, fondasi keilmuan yang kuat, rihlah ilmiah yang luas, dan karya-karya yang hidup hingga kini, beliau tampil sebagai ulama yang mengajak umat kembali kepada inti ajaran para Nabi عليهم الصلاة والسلام yaitu mengesakan Allah ﷻ dalam seluruh bentuk ibadah. Memahami sosok beliau adalah langkah awal yang penting untuk memahami Ushul Tsalatsah dan bangunan akidah Islam yang lurus serta relevan untuk setiap zaman.
Wallahu a’lamu bishshawab.


