Gempa dan Gunung Api Meningkat, Bagaimana Seharusnya Sikap Seorang Muslim?
Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Belakangan ini masyarakat Indonesia kembali dihadapkan dengan berbagai kabar tentang gempa bumi dan meningkatnya aktivitas sejumlah gunung api. Berita seperti ini tentu menimbulkan rasa khawatir. Apalagi ketika muncul informasi tentang gunung yang mengalami peningkatan aktivitas hingga berada pada Level III (Siaga).
Dalam situasi seperti ini, seorang muslim membutuhkan dua hal sekaligus: ketenangan dalam menyikapi fakta dan kesadaran dalam mengambil pelajaran dari kebesaran Allah.
Islam tidak mengajarkan kita untuk menghadapi bencana dengan kepanikan. Namun Islam juga tidak mengajarkan sikap acuh seakan-akan berbagai kejadian tersebut tidak perlu direnungkan.
Lalu, bagaimana sikap yang semestinya dimiliki seorang muslim?
Bencana Alam Tetap Terjadi Dengan Izin Allah
Gempa bumi mempunyai penjelasan secara ilmiah. Begitu pula aktivitas gunung api dapat diteliti dan dipantau berdasarkan ilmu kebumian.
Seorang muslim tidak perlu mempertentangkan penjelasan ilmiah tersebut dengan keimanan kepada Allah. Sebab, mengetahui sebab terjadinya sebuah peristiwa tidak berarti mengingkari bahwa Allah adalah Dzat yang menetapkan dan mengizinkan seluruh kejadian tersebut.
Allah Ta’ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11).
Karena itu, ketika terjadi gempa, seorang muslim boleh mempelajari penyebab geologisnya, mengikuti informasi BMKG, memperhatikan peringatan kebencanaan, dan melakukan evakuasi. Pada saat yang sama, hatinya tetap meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam ini di luar kehendak Allah.
Inilah keseimbangan yang penting: ilmu menjelaskan sebab, sedangkan iman mengajarkan siapa yang menguasai segala sebab tersebut.
Apakah Setiap Gempa Dan Erupsi Pasti Merupakan Adzab?
Pertanyaan ini sering muncul ketika bencana terjadi. Sebagian orang langsung menyimpulkan, “Ini adzab karena masyarakat sudah banyak maksiat.” Kesimpulan seperti itu perlu disikapi dengan hati-hati.
Memang Allah mengingatkan manusia bahwa berbagai kerusakan di muka bumi mempunyai kaitan dengan perbuatan manusia:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah hendak membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia perlu melakukan muhasabah ketika melihat berbagai musibah. Tetapi kita tidak boleh gegabah menentukan status seseorang atau suatu masyarakat sebagai orang yang sedang mendapatkan adzab Allah. Sebab kita tidak mengetahui perkara ghaib secara pasti.
Musibah bisa menjadi ujian, peringatan, penghapus dosa, atau sebab naiknya derajat seorang hamba. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573).
Karena itu, yang lebih tepat adalah mengatakan, “Musibah ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita untuk kembali kepada Allah,” bukan memastikan, “Orang yang tertimpa bencana ini pasti sedang diazab Allah.”
Rasulullah ﷺ Mengajarkan Kita Untuk Mengambil Pelajaran Dari Fenomena Alam
Ketika melihat perubahan alam yang menimbulkan kekhawatiran, Nabi ﷺ tidak bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِي السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ، وَدَخَلَ وَخَرَجَ، وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ، فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّيَ عَنْهُ، فَعَرَّفَتْهُ عَائِشَةُ ذَلِكَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَا أَدْرِي، لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ : فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Apabila Nabi ﷺ melihat awan yang mengandung tanda-tanda hujan di langit, beliau berjalan maju dan mundur, keluar dan masuk, dan raut wajah beliau berubah. Namun ketika hujan turun, kegelisahan itu pun hilang dari beliau. Aisyah mengetahui keadaan beliau tersebut. Lalu Nabi ﷺ bersabda, ‘Aku tidak tahu, boleh jadi awan itu seperti yang dikatakan oleh suatu kaum: ‘Ketika mereka melihat awan itu datang menuju lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’ (Allah berfirman), ‘Bukan! Bahkan itulah (adzab) yang kalian minta agar disegerakan, yaitu angin yang mengandung adzab yang pedih.’ (QS. Al-Ahqaf: 24)” (HR. Bukhari no. 3206).
Bencana Seharusnya Mengingatkan Kita Untuk Memperbaiki Diri
Salah satu pertanyaan yang lebih bermanfaat ketika melihat bencana bukanlah, “Apakah akan ada gempa yang lebih besar?” Tetapi, “Bagaimana keadaan saya jika kematian datang setelah ini?”
Bencana mengingatkan kita bahwa kematian dapat datang tanpa pemberitahuan. Karena itu, kesempatan seperti ini seharusnya mendorong kita untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.
Sudahkah shalat kita terjaga? Sudahkah kita bertaubat dari dosa-dosa yang selama ini dilakukan? Apakah masih ada hutang yang belum diselesaikan? Apakah masih ada hak orang lain yang belum kita tunaikan? Adakah kezholiman yang belum kita tinggalkan? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang semestinya muncul dalam hati seorang muslim.
Allah Ta’ala berfirman:
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).
Dengan demikian, musibah tidak hanya dilihat dari sisi kerugian materi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melakukan taubat dan muhasabah.
Apa Yang Harus Dilakukan Seorang Muslim Ketika Mendengar Kabar Gempa Dan Gunung Api Meningkat?
Pada akhirnya, sikap seorang muslim dapat diringkas dalam beberapa hal.
Pertama, tetap tenang dan tidak mudah panik.
Kedua, menyadari bahwa seluruh kejadian berada di bawah ilmu dan kehendak Allah.
Ketiga, melakukan muhasabah dan memperbanyak taubat.
Keempat, tidak memastikan suatu bencana sebagai adzab Allah tanpa dalil.
Kelima, mengikuti informasi dan arahan keselamatan dari pihak yang berwenang.
Keenam, tidak menyebarkan berita yang belum terbukti.
Ketujuh, mendoakan dan membantu saudara-saudara yang terkena musibah.
Inilah sikap yang seimbang.
Kita tidak menjadi takhayul dengan menghubungkan setiap fenomena kepada ramalan-ramalan yang tidak berdasar. Tetapi kita juga tidak menjadi manusia yang hanya melihat bencana sebagai peristiwa fisik tanpa mengambil pelajaran iman.
Bagi seorang muslim, bumi yang berguncang dapat menjadi pengingat bahwa kekuatan manusia ternyata sangat terbatas. Gunung yang terlihat kokoh mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini berada di bawah kekuasaan Allah. Dan kabar tentang kematian orang lain seharusnya membuat kita bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana persiapan saya jika ternyata giliran itu datang kepada saya?” Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3).
Maka hadapilah bencana dengan iman, ilmu, kehati-hatian, taubat, kepedulian, dan tawakal.
Bukan dengan kepanikan. Bukan pula dengan meremehkannya. Dan bukan dengan mengklaim perkara ghaib yang tidak kita ketahui. Wallahu a’lamu bishshawab.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.




