Tafsir An-Naba’ Ayat 20: Gunung yang Berjalan Lalu Berubah Menjadi Fatamorgana
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Alam semesta menyimpan banyak misteri dan tanda-tanda kebesaran Allah. Diantaranya ialah pada gunung. Gunung merupakan simbol kekuatan dan kemapanan di bumi, sehingga pemandangan fisiknya tak pernah berubah, selalu terlihat berdiri tegak dengan kokohnya. Namun, Al-Qur’an menawarkan sebuah gambaran yang kontras dan mengejutkan tentang masa depan dari gunung-gunung ini. Allah Ta’ala berfirman:
وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا
“Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.” (Q.S An Naba’: 20)
Imam At Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan:
يَقُولُ: وَنُسِفَتِ الْجِبَالُ فَاجْتُثَّتْ مِنْ أُصُولِهَا، فَصُيِّرَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا، لِعَيْنِ النَّاظِرِ، كَالسَّرَابِ الَّذِي يَظُنُّ مَنْ يَرَاهُ مِنْ بُعْدٍ مَاءً، وَهُوَ فِي الْحَقِيقَةِ هَبَاءٌ.
“Allah berfirman (yang maknanya): Gunung-gunung itu dihancurkan dan dicabut hingga ke akar-akarnya. Lalu dijadikan-Nya bagaikan debu yang beterbangan di mata orang yang melihatnya. Keadaannya tampak seperti fatamorgana, yang dari kejauhan disangka air, padahal pada hakikatnya hanyalah debu semata.” (Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran, 24/20, cet. Dar Hajar, Kairo).
Apakah anda dapat membayangkan hal tersebut? Gunung yang sebegitu besar dan kokohnya akan dicabut hingga ke akar-akarnya lalu ia berubah menjadi debu, siapakah yang mampu melakukannya?
Lalu Imam Al Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) menyampaikan:
أَيْ: لَا شَيْءَ، كَمَا أَنَّ السَّرَابَ كَذَلِكَ، يَظُنُّهُ الرَّائِي مَاءً وَلَيْسَ بِمَاءٍ. وَقِيلَ: ﴿سُيِّرَتْ﴾، نُسِفَتْ مِنْ أُصُولِهَا. وَقِيلَ: أُزِيلَتْ عَنْ مَوَاضِعِهَا.
“Yakni: gunung-gunung itu menjadi tidak ada sama sekali. Sebagaimana fatamorgana yang disangka air oleh orang yang melihatnya, padahal hakikatnya bukanlah air. Ada pula yang menafsirkan bahwa gunung-gunung itu “digerakkan” (maknanya) adalah dihancurkan hingga ke akar-akarnya. Ada pula yang mengatakan: ia dipindahkan dan dihilangkan dari tempatnya.” (Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran, 19/176, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).
Tidak hanya dicabut hingga ke akar-akarnya, akan tetapi ia akan dihilangkan dari tempat ia berdiri dengan kokohnya. Siapakah sosok yang mampu melakukan itu semua?
Berikutnya Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) menyampaikan dalam tafsirnya:
“Sebagaimana firman Allah: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” (QS. An Naml: 88). Dan firman-Nya: “Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur- hamburkan.” (QS. Al Qari‘ah: 5). Adapun di sini Allah berfirman: “Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.”, yakni, tampak oleh penglihatan seakan-akan ia sesuatu, padahal hakikatnya bukanlah sesuatu. Setelah itu ia benar-benar lenyap sama sekali, tidak tersisa bekas dan wujudnya. Sebagaimana firman-Nya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung- gunung, maka katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkan -nya (di hari kiamat) sehancur-hancur -nya, (105) maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, (106) tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi. (107)“ (QS. Tha-Ha: 105–107). Dan firman-Nya lagi: “Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar” (QS. Al Kahfi: 47).” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/305, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).
Kemudian Syaikh As Sa‘di rahimahullah (w. 1376 H) menyampaikan dalam tafsirnya:
فَتَسِيرُ الْجِبَالُ حَتَّى تَكُونَ كَالْهَبَاءِ الْمَبْثُوثِ
“Maka gunung-gunung itu bergerak, hingga akhirnya menjadi seperti debu halus yang berterbangan dan tercerai-berai.” (Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam).
Dari tafsir para ulama diatas, dapat kita simpulkan beberapa hal:
- Dalam kondisi normal, sebenarnya gunung itu terus bergerak dengan gerakan yang sangat halus seperti gerakan awan.
- Diantara tanda kebesaran Allah yang akan terjadi pada hari kiamat ialah dicabutnya gunung-gunung hingga ke akar-akarnya, kemudian dihancurkan hingga menjadi seperti debu.
- Pada hari kiamat bumi akan menjadi datar, tidak ada dataran tinggi juga rendah, tidak ada bukit atau gunung juga lembah atau jurang.
Wallahu a’lamu bishshawab



