• Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Rahasia Doa Ta’awwudz : Bacaan dan Kapan Waktu Membacanya

Ustadz Dhiaurrahman, Lc by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
September 29, 2025
in Dzikir & Doa
Reading Time: 4 mins read

Lebih dari Sekadar Doa: Mengungkap Rahasia dan Waktu Pembacaan Ta’awwudz sebagai Perisai Spiritual

Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.

Seringkali kita hanya membaca ta’awwudz sebelum melantunkan ayat Al-Qur’an. Namun, tahukah Anda bahwa sunnah Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk mengamalkan ta’awwudz  sebagai perisai spiritual di berbagai aspek kehidupan?

Insyaallah kita akan mempelajari bersama dalil-dalil sahih dari Al-Qur’an dan Hadits untuk membongkar rahasia di balik bacaan yang mungkin selama ini kita anggap sepele.

Definisi Ta’awwudz

Secara linguistik, kata isti’adzah berasal dari kata dasar `adza-ya`udzu yang berarti ‘berlindung’ atau ‘memohon perlindungan’. Oleh karena itu, seseorang yang mengucapkan Ta’awwudz pada hakikatnya sedang meminta perlindungan dari Allah ﷻ agar membentengi dirinya dari segala bisikan dan gangguan setan yang merupakan musuh nyata bagi manusia.

Imam Ibnu Katsir رحمه الله (w. 774 H) mendefinisikan isti’adzah sebagai:

الِالْتِجَاءُ إِلَى اللهِ وَالِالْتِصَاقُ بِجَانِبِهِ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ.

“Berlindung dan bersandar kepada Allah, mendekat kepada-Nya, dari keburukan setiap makhluk yang memiliki keburukan.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/114, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).

Artinya yang ta’awwudz atau isti’adzah ialah merupakan permintaan kepada Allah ﷻ agar dilindungi dari gangguan setiap makhluknya yang bisa memberikan pengaruh buruk terhadap diri kita.

Dalil Disyari’atkannya Ta’awwudz

Banyak dalil yang menunjukkan bahwa ta’awwudz ini termasuk ibadah yang disyari’atkan dan bukan hanya sekadar kebiasaan dan tradisi biasa. Diantaranya ia diperintahkan untuk dilaksanakan sebagai rangkaian dari suatu ibadah yang sangat mulia seperti membaca Al Quran, sebagaimana firman Allah ﷻ:

﴿ فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ﴾

“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An Nahl: 98)

Berikutnya firman Allah ﷻ lainnya yang memerintahkan agar kita meminta perlindungan kepada-Nya setiap datang gangguan dari setan:

﴿ وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَّمِيعٌ عَلِيمٌ ﴾

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al A’raf: 200)

Kemudian hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Sulaiman bin Surad رضي الله عنه, beliau menceritakan bahwasanya ada 2 orang yang sedang berselisih di sisi Rasulullah ﷺ sampai memerah muka mereka, melihat hal itu Rasulullah ﷺ ber-komentar:

»إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ«

“Sungguh, aku mengetahui satu kalimat yang jika dia mengucapkannya, niscaya akan hilang apa yang dia rasakan: Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (HR. Bukhari no. 6048 dan Muslim no. 2610)

Dengan demikian, maka jangan kita remehkan kegiatan ta’awwudz ini, karena walaupun ia terlihat sederhana, akan tetapi ia mengandung manfaat yang luar biasa bagi kita dan merupakan salah satu bentuk penghambaan kita kepada Dzat yang Maha Mencipta dan Maha Melindungi segala sesuatu.

Beberapa Variasi Kalimat Ta’awwudz Sesuai Sunnah

Kalimat isti’adzah atau ta’awwudz memiliki beberapa redaksi yang berbeda-beda sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi ﷺ, berikut beberapa contohnya:

  1. Kalimat ta’awwudz yang dasar:

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk” (berdasarkan firman Allah ﷻ pada QS. An Nahl: 98)

  1. Diriwayatkan dalam konteks permulaan shalat (Istiftah), dimana Nabi ﷺ menambah penyebutan sifat Allah ﷻ, As Sami’ (Maha Mendengar) dan Al ‘Alim (Maha Mengetahui):

أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk.” (berdasarkan hadits riwayat Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, no. 764 dan Jami’ At Tirmidzi, Kitab Shalat, no. 242, dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه)

  1. Para ulama tafsir dan hadis juga menyebutkan variasi yang lebih panjang yang mencakup tiga jenis gangguan setan: hamz (godaan), nafkh (tiupan kuat), dan nafts (hembusan lembut):

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari hamz-nya (bisikannya), nafkh-nya (tiupannya), dan nafts-nya (hembusannya).” (berdasarkan Musnad Ahmad, Kitab Musnad Syamiyyin no. 16584 dan Sunan Ibnu Majah, Kitab Adab no. 2826, dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه)

Beberapa Keadaan yang Disunnahkan untuk Berta’awwudz

Berikut ialah beberapa keadaan yang kita disunnahkan didalamnya untuk ber-ta’awwudz, ada diantaranya menggunakan redaksi isti’adzah yang khusus:

  1. Saat akan membaca Al Quran, Allah  ﷻ berfirman:

﴿فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ﴾

“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An Nahl: 98).

  1. Ketika marah, dari oleh Sulaiman bin Surad رضي الله عنه, beliau menceritakan bahwasa-nya ada 2 orang yang sedang berselisih di sisi Rasulullah ﷺ sampai memerah muka mereka, melihat hal itu Rasulullah ﷺberkomentar:

»إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ«

“Sungguh, aku mengetahui satu kalimat yang jika dia mengucapkannya, niscaya akan hilang apa yang dia rasakan: Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (HR. Bukhari no. 6048 dan Muslim no. 2610).

  1. Ketika kekhusyu’an shalatnya terganggu, dari ‘Utsman bin Abil ‘Ash رضي الله عنه, dia mendatangi Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh setan telah menghalangi antara aku dengan shalatku dan bacaanku, ia membuatku ragu.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

« ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلاَثًا«

“Itulah setan yang bernama Khanzab. Apabila kamu merasakannya, berlindunglah kepada Allah darinya, dan meludahlah sedikit ke arah kirimu tiga kali.” (HR. Muslim, Kitab Salam, no. 2203).

  1. Ketika masuk kamar mandi atau toilet, dari Anas bin Malik رضي الله عنه, beliau bercerita:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الخَلاَءَ قَالَ: « اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ«

“Apabila Nabi ﷺ masuk ke toilet (tempat buang hajat), beliau berdoa: ((Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan jantan dan setan betina)).” (HR. Bukhari, Kitab Wudhu’, no. 142 dan Muslim, Kitab Haid, no. 375)

  1. Sebelum berhubungan suami-istri, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas رضي الله عنهما beliau berkata: Nabi ﷺ bersabda,

« لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنْ قُضِيَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ أَبَدًا«

“Seandainya salah seorang dari kalian ketika ingin mendatangi istrinya (berhubungan intim) membaca: ((Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami)), maka jika ditetapkan bagi keduanya seorang anak, setan tidak akan membahayakannya selamanya.” (HR. Bukhari, Kitab Permulaan Penciptaan, no. 3271 dan Muslim, Kitab Nikah, no. 1434).

Kesimpulan

Dari materi diatas dapat kita simpulkan sebagai berikut:

  1. Ta’awwudz atau isti’adzah termasuk ibadah yang disyari’atkan dan sangat ditekankan, walaupun ia terlihat sangat sederhana;
  2. Adanya kalimat isti’adzah ini menegaskan agar kita tidak boleh sombong terhadap musuh utama manusia yaitu setan dan selalu mendekatkan diri kepada Allah ﷻ serta selalu memohon perlindungan-Nya;
  3. Ia memiliki beberapa redaksi yang sesuai sunnah yang umumnya bisa digunakan untuk berbagai keadaan, kecuali beberapa redaksi yang dikhususkan untuk keadaan tertentu.

Wallahu a’lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

SummarizeShare235
Previous Post

Tafsir Surat An-Naba’ 22

Next Post

Adab Buang Hajat dan Masuk Kamar Kecil dalam Islam (Bag:1)

Ustadz Dhiaurrahman, Lc

Ustadz Dhiaurrahman, Lc

Ustadz Dhiaurrahman, Lc. S1 Hadits Al Azhar - Mesir. Pengajar diniyah di Gistrav Islamia School

Related Stories

Keutamaan Ayat Kursi

Keutamaan Ayat Kursi

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
December 17, 2025
0

Ayat Kursi: Keutamaan, Makna Utama dan Pedoman Praktis Ayat Kursi adalah ayat ke 255 dari Surah al Baqarah: ﴿ اللَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا...

Next Post

Adab Buang Hajat dan Masuk Kamar Kecil dalam Islam (Bag:1)

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Hukum Puasa Arofah
  • Hukum Puasa Tarwiyah: Sunnah Atau Bid’ah?
  • Hukum Menggabungkan Niat Qurban dan Aqiqah

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Uncategorized
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official