Apakah Boleh Memakai Tisu Saja atau Harus Pakai Air?
Bismillah, walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba‘du.
Diantara bentuk kemudahan dalam syariat Islam adalah adanya dua cara bersuci setelah buang hajat, yaitu “Istinja’” (bersuci dengan air) dan Iistijmar” (bersuci dengan benda padat yang suci seperti batu, tisu, atau daun).
Namun di zaman modern ini, banyak yang bertanya:
“Apakah cukup bersuci hanya dengan tisu saja tanpa air?”
“Apakah penggunaan air tetap wajib setelah istijmar?”
Mari kita telusuri penjelasan para ulama besar dan lembaga fatwa terpercaya dalam masalah ini.
Makna Umum Istijmar
“Istijmar” (الاستجمار) secara bahasa berarti mengusap dengan “Jamarah” (batu). Secara syar‘i, ia berarti menghilangkan najis dari tempat keluarnya hadats kecil dengan benda padat yang suci seperti batu, tisu, atau daun tanpa menggunakan air.
Tujuan utama “Istijmar” bukan pada alatnya, tetapi pada hilangnya najis. Selama kotoran benar-benar terhapus, maka bersucinya sah, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits tentang cara bersuci Rasulullah ﷺ dengan batu diantaranya ialah kisah Salman Al Farisi رضي الله عنه (w. 35 H) ketika beliau ditanya oleh seseorang:
قِيلَ له: قدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ ﷺ كُلَّ شيءٍ حتَّى الخِراءَةَ، فقالَ: أجَلْ لقَدْ نَهانا أنْ نَسْتَقْبِلَ القِبْلَةَ لِغائِطٍ، أوْ بَوْلٍ، أوْ أنْ نَسْتَنْجِيَ باليَمِينِ، أوْ أنْ نَسْتَنْجِيَ بأَقَلَّ مِن ثَلاثَةِ أحْجارٍ، أوْ أنْ نَسْتَنْجِيَ برَجِيعٍ، أوْ بعَظْمٍ
“Salman pernah ditanya, ‘apakah Nabi ﷺ kalian mengajarkan segala sesuatu sampai masalah buang air?’. Salman menjawab, ‘Benar. Beliau melarang kami untuk menghadap kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil. Beliau melarang kami untuk beristinja (cebok) dengan tangan kanan. Beliau melarang kami untuk beristinja dengan batu yang jumlahnya kurang dari tiga. Beliau melarang kami untuk beristinja dengan kotoran hewan atau tulang’”[1]
Penjelasan Para Ulama dan Lembaga Fatwa
1. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H)
نَعَمْ يَجْزِئُ الاسْتِجْمَارُ وَلَوْ مَعَ قُرْبِ الْمَاءِ إِذَا أَزَالَ الأَذَى، وَإِنِ اسْتَعْمَلَ الْمَاءَ مَعَ ذٰلِكَ كَانَ أَفْضَلَ وَأَكْمَلَ
“Ya, “istijmar” sudah mencukupi, meskipun air tersedia di dekatnya, apabila telah menghilangkan kotoran. Namun, jika menggunakan air setelahnya maka itu lebih baik dan lebih sempurna.”[2]
2. Syaikh Muhammad bin Shālih al-‘Utsaimīn رحمه الله (w. 1421 H)
نَعَمْ يَجْزِئُ فِي الاسْتِجْمَارِ اسْتِعْمَالُ الْمَنَادِيلِ، لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ الاسْتِجْمَارِ هُوَ إِزَالَةُ النَّجَاسَةِ، سَوَاءٌ كَانَ ذٰلِكَ بِالْمَنَادِيلِ أَوْ بِالْأَحْجَارِ
“Ya, diperbolehkan melakukan “istijmar” dengan tisu, karena tujuan “istijmar” adalah menghilangkan najis, baik dengan tisu maupun batu.”[3]
3. Lembaga Fatwa Islamweb (Departemen Dakwah dan Bimbingan Keagamaan Kementerian Wakaf dan Urusan Islam – Qatar)
يَجُوزُ الاسْتِجْمَارُ بِالْمَنَادِيلِ الْوَرَقِيَّةِ، وَيَكْفِي إِذَا أَزَالَ أَثَرَ النَّجَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ اسْتِعْمَالُ الْمَاءِ أَفْضَلَ
“Boleh melakukan “istijmar” dengan tisu, dan itu sudah cukup jika telah menghilangkan bekas najis. Namun, menggunakan air lebih baik.”[4]
4. Dar al Ifta’ al Mishriyyah (Lembaga Fatwa – Mesir)
يَجُوزُ شَرْعًا الاسْتِنْجَاءُ بِالْمَنَادِيلِ الْوَرَقِيَّةِ، قِيَاسًا عَلَى الْحَجَرِ الْمَنْصُوصِ عَلَيْهِ، وَالأَفْضَلُ الْجَمْعُ بَيْنَ الْمَاءِ وَالْمَنَادِيلِ
“Secara syar‘i, diperbolehkan bersuci dengan tisu, sebagaimana diperbolehkan bersuci dengan batu. Namun yang paling utama adalah menggabungkan antara air dan tisu.”[5]
Tata Cara Istijmar yang Benar
Agar “istijmar” sah dan sesuai sunnah, perhatikan hal-hal berikut:
1. Menggunakan benda suci dan kering seperti batu, tisu, atau daun kering.
2. Minimal tiga kali usapan, atau lebih hingga yakin najis telah hilang seluruhnya.
3. Tidak menggunakan benda yang haram atau najis, seperti tulang atau kotoran hewan.
4. Bila masih tersisa bekas najis setelah diseka, maka wajib disempurnakan dengan air.
Kesimpulan
- Dari berbagai fatwa di atas dapat disimpulkan bahwa ber-“istijmar” dengan tisu saja hukumnya sah, selama najis benar-benar hilang dan dilakukan minimal tiga kali usapan;
- Air tidak wajib, namun tetap lebih utama dan lebih sempurna untuk menjaga kebersihan;
- Tisu boleh digunakan sebagai pengganti batu dalam “istijmar” dan yang paling baik adalah menggabungkan tisu dengan air agar lebih bersih dan sesuai adab bersuci dalam Islam.
Penutup
Nabi ﷺ bersabda:
تَنَزَّهُوا مِنَ الْبَوْلِ، فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ
“Bersucilah dari sisa air kencing, karena umumnya siksa kubur disebabkan karenanya.”[6]
Islam adalah agama yang seimbang antara kemudahan dan kebersihan. Tisu, batu, atau air hanyalah sarana; yang terpenting adalah hilangnya najis dan terjaganya kesucian diri. Dengan memahami panduan para ulama di atas, umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan lebih praktis tanpa meninggalkan tuntunan syariat.
Wallahu a’lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Referensi:
[1] HR. Muslim, no 262.
[2] Ibn Baz, Majmu‘ Fatawa no. 9997 – https://binbaz.org.sa/fatwas/9997
[3] Ibn ‘Utsaimin, Fatwa Islamway – https://ar.islamway.net/fatwa/11079
[4] Islamweb Fatwa no. 121390 – https://www.islamweb.net/ar/fatwa/121390
[5] Dar al Ifta’ al Mishriyya Fatwa no. 15733 – https://www.dar-alifta.org/ar/fatwa/details/15733
[6] HR. Ibnu Majah, no. 349



