Keutamaan Membaca Surah al Fatihah: Kunci Rahmat dan Inti Ibadah
Bismillah, walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.
Surah al Fatihah adalah surah yang paling agung dalam al Qur-an. Ia juga menjadi rukun dalam setiap rakaat shalat, dan sumber ketenangan bagi hati yang beriman. Rasulullah ﷺ bersabda:
»لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ«
“Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca al Fatihah.”[[1]]
Dalam setiap shalat, umat Islam mengulang bacaan ini berkali-kali, bukan sekadar kewajiban, tapi juga bentuk dzikir paling sempurna kepada Allah ﷻ. Insyaallah kita akan mengulas keutamaan membaca Surah Al-Fatihah berdasarkan penjelasan ulama, serta hikmah yang bisa kita amalkan sehari-hari.
Inti dari Seluruh al Qur-an
Ulama menamainya dengan berbagai gelar mulia seperti Ummul Kitab (Induk Kitab) dan as Sab‘ ul Matsani (Tujuh ayat yang diulang-ulang) yang sebagian nama-nama tersebeut ini berasal dari firman Allah ﷻ dan sabda Rasulullah ﷺ. Dalam situs IslamWeb.net (dikelola oleh: Departemen Dakwah dan Bimbingan Keagamaan Kementerian Wakaf dan Urusan Islam – Qatar) dijelaskan:
»حَوَتْ مَعَانِيَ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَاشْتَمَلَتْ عَلَى مَقَاصِدِهِ الْأَسَاسِيَّةِ«
“Surah ini memuat seluruh makna al Qur-an dan tujuan utamanya.”[[2]]
Makna ini mengandung unsur pokok ajaran Islam:
- Tauhid Rububiyyah, pada ayat:
﴿ ٱلْـحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ ٱلْعٰلَمِينَ ﴾
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”[[3]] Mengandung pengakuan bahwa Allah ﷻ satu-satunya Rabb.
- Tauhid Uluhiyyah, pada ayat:
﴿ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴾
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”[[4]] Mengandung pengesaan Allah ﷻ dalam ibadah.
- Tauhid Asma wa Sifat, pada ayat:
﴿ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴾
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”[[5]] Mengandung pengakuan akan nama dan sifat-sifat Allah ﷻ yang penuh kasih sayang.
Surah yang Tak Terpisahkan dari Shalat
Setiap rakaat shalat wajib dimulai dengan bacaan al Fatihah. Tanpanya, shalat tidak sah. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah ﷺ:
»لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ«
“Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca al Fatihah.”[[6]]
Maknanya, al Fatihah bukan hanya bacaan pembuka, tapi juga poros komunikasi langsung antara hamba dan Rabb-nya.
Dan Allah berfirman dalam hadits Qudsi,
»قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ«
“Aku membagi ash-Shalat (surat Al-Fatihah) antara Diri-Ku dan diri hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku adalah apa yang dipintanya.”
»فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: ﴿الْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾، قَالَ اللهُ: حَمِدَنِي عَبْدِي«
“Apabila hamba tersebut membaca, ‘Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam,’ maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’”
»وَإِذَا قَالَ: ﴿الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾، قَالَ اللهُ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي«
“Jika ia mengucapkan, ‘Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang,’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memujiku.’”
»وَإِذَا قَالَ: ﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴾، قَالَ اللهُ: مَجَّدَنِي عَبْدِي، وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي«
“Jika ia mengucapkan, ‘Yang Menguasai hari Pembalasan,’ maka Allah berfirman, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” Dalam riwayat lain, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.””
»وَإِذَا قَالَ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ«
“Jika ia mengucapkan, ‘Hanya kepada-Nya kami menyembah, dan hanya kepada-Nya kami memohon,’ maka Allah berfirman, ‘Inilah bagian bagi Diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku dalah apa yang dia minta.’”
»فَإِذَا قَالَ: ﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ«
“Dan jika ia mengucpakan, ‘Berilah petunjuk kepda kami atas jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah Engkau beri kenikmatan bagi yang mengikutinya, bukan jalan-jalan yang Engkau murkai dan bukan pula yang Kau sesatkan,’ maka Allah berfirman, ‘Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.”[[7]]
Penyembuh dan Pelindung Hati
Bukan hanya dalam ibadah, surah al Fatiḥah juga menjadi ruqyah syar‘iyyah yang mujarab.
Ibnu Al-Qayyim رحمه الله berkata:
»فَمَا الظَّنُّ بِكَلَامِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الَّذِي فَضَّلَهُ عَلَى كُلِّ كَلَامٍ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ، الَّذِي هُوَ الشِّفَاءُ التَّامُّ، وَالْعِصْمَةُ النَّافِعَةُ، وَالنُّورُ الْهَادِي، وَالرَّحْمَةُ الْعَامَّةُ، الَّذِي لَوْ أُنزِلَ عَلَى جَبَلٍ لَتَصَدَّعَ مِنْ عَظَمَتِهِ وَجَلَالِهِ.«
“Maka bagaimana persangkaanmu terhadap firman Tuhan semesta alam — yang telah Dia lebihkan atas segala ucapan sebagaimana keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya — yaitu (Al-Qur’an) yang merupakan penyembuh yang sempurna, perlindungan yang bermanfaat, cahaya yang memberi petunjuk, dan rahmat yang menyeluruh. Sekiranya Al-Qur’an itu diturunkan kepada sebuah gunung, niscaya gunung itu akan hancur karena keagungan dan kebesaran-Nya.”[[8]]
Para sahabat juga pernah meruqyah orang sakit dengan bacaan al Fatihah dan Allah menyembuhkannya, sebagaimana riwayat sahih.[[9]] Ini menunjukkan bahwa al Fatihah bukan sekadar bacaan lisan, melainkan dzikir yang penuh kekuatan spiritual.
Menjadikan Bacaan al Fatihah Lebih Hidup
Agar bacaan al Fatihah memberi dampak ruhani, para ulama menganjurkan beberapa adab berikut:
- Baca dengan khusyuk dan penuh makna; Bayangkan Anda sedang berbicara langsung kepada Allah.
- Pelajari tafsirnya; Setiap ayat mengandung pesan tauhid dan doa.
- Ulangi dalam doa pribadi; ﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴾ “Tunjukilah kami jalan yang lurus” dapat dipanjatkan dalam semua urusan hidup.
- Ajarkan kepada anak-anak dengan makna yang lembut; Jadikan al Fatihah sebagai bagian dari pembiasaan ibadah sejak dini.
- Gabungkan ilmu dan amal; Jadikan makna al Fatihah sebagai prinsip dalam kehidupan: bersyukur, memohon pertolongan, dan istiqamah di jalan Allah.
Kesimpulan
Surah Al-Fātiḥah adalah intisari al Qur-an, rukun shalat, doa yang mustajab dan penyembuh hati serta jasmani. Membacanya dengan penuh kesadaran berarti menggabungkan seluruh unsur ibadah: dzikir, doa, dan tauhid.
»قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ«
“Aku membagi ash-Shalat (surat Al-Fatihah) antara Diri-Ku dan diri hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku adalah apa yang dipintanya.”[[10]]
Karena itu, perbanyaklah membacanya dengan tadabbur, bukan sekadar rutinitas. Jadikan setiap «إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ» sebagai komitmen hidup untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah. Wallahu a’lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Referensi:
[[1]] HR. Bukhari, no. 756 dan Muslim, no. 394.
[[2]] https://www.islamweb.net/ar/article/174393
[[3]] QS. al Fatihah: 2
[[4]] QS. al Fatihah: 5
[[5]] QS. al Fatihah: 3
[[6]] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 1).
[[7]] HR. Ahmad 7291, Muslim 395 dan yang lainnya.
[[8]] Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, 4/252, cet. Dar Ibnu Hazm, Beirut.
[[9]] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 8).
[[10]] Ibid. (Sumber yang sama dengan catatan no. 7).


