10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Ada satu waktu dalam setahun yang Allah sendiri bersumpah dengannya. Namun anehnya justru banyak yang melewatinya begitu saja. Allah ﷻ berfirman:
﴿ وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴾
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)
Imam Ibnu Katsir رحمه الله (w. 774 H) menjelaskan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dari “sepuluh malam” ini:
اللَّيَالِي الْعَشْرُ الْمُرَادُ بِهَا عَشْرُ ذِي الْحِجَّةِ، كَمَا قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَابْنُ الزُّبَيْرِ، وَمُجَاهِدٌ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ
“Yang dimaksud dengan ‘sepuluh malam’ adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Inilah penjelasan dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair, Mujahid, dan banyak ulama lainnya, baik dari generasi terdahulu maupun setelahnya.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/390, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).
Ini Adalah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Katsir رحمه الله, sehingga 10 hari ini merupakan salah satu waktu yang Allah muliakan.
Amal Terbaik Sepanjang Tahun
Telah kita ketahui bahwa Allah sudah bersumpah yang merupakan tanda kemuliaan hari-hari ini, lalu Rasulullah ﷺ pun diperintahkan untuk menjelaskan nilainya. Beliau bersabda:
« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ »
“Tidak ada hari di mana amal shalih lebih Allah cintai daripada (amalan pada) sepuluh hari ini.” (HR. Tirmidzi no. 757).
Perhatikan baik-baik, bukan pahalanya saja yang “dilipat gandakan”, akan tetapi menjadi amalan yang paling dicintai oleh Allah dan ini berlaku untuk semua amal, seperti shalat, sedekah, puasa, dzikir, bahkan amal kecil sekalipun.
Mengapa Begitu Istimewa?
Di sini para ulama tidak sekadar meriwayatkan, mereka juga menganalisa apa sebabnya. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani رحمه الله (w. 852 H) menjelaskan:
وَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ السَّبَبَ فِي امْتِيَازِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ، لِمَكَانِ اجْتِمَاعِ أُمَّهَاتِ الْعِبَادَةِ فِيهِ، وَهِيَ الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْحَجُّ، وَلَا يَأْتِي ذَلِكَ فِي غَيْرِهِ
“Yang paling jelas, sebab sepuluh hari Dzulhijjah itu istimewa adalah karena semua ibadah utama berkumpul di dalamnya: shalat, puasa, sedekah, dan haji. Hal seperti ini tidak ada di waktu yang lain.” (Fathul Bari, 2/460).
Artinya apa? Dalam 10 hari ini, semua “pintu ibadah utama” terbuka sekaligus, yaitu shalat, puasa, sedekah dan haji. Dimana tidak ada waktu lain dalam setahun yang seperti ini.
Lebih Utama dari 10 Hari Ramadhan? Jangan Salah Paham
Mungkin Anda berpikir, “Bukankah Ramadhan lebih utama?” Jawabannya perlu dirinci.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله (w. 728 H) berkata:
أَيَّامُ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ أَفْضَلُ مِنْ أَيَّامِ الْعَشْرِ مِنْ رَمَضَانَ، وَاللَّيَالِي الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ مِنْ رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْ لَيَالِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ.
“Sepuluh hari pertama Dzulhijjah lebih utama daripada sepuluh hari di bulan Ramadhan.
Namun, sepuluh malam terakhir Ramadhan lebih utama daripada malam-malam di sepuluh hari Dzulhijjah.” (Majmu‘ Al-Fatawa, 25/287).
Ini bukan kompetisi, tapi penempatan keutamaan yang ilmiah dan seimbang untuk mengetahui cara memaksimalkan ibadah sesuai pada waktu dan tempatnya.
Bagaimana Generasi Terdahulu Menyikapinya?
Lihat bagaimana generasi terbaik ummat ini hidup dengan ilmu ini. Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما (w. 68 H) menceritakan gambaran salah seorang sahabat Nabi ﷺ:
وَكَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا دَخَلَ أَيَّامُ الْعَشْرِ، اجْتَهَدَ اجْتِهَادًا شَدِيدًا حَتَّى مَا يَكَادُ يَقْدِرُ عَلَيْهِ
“Sa‘id bin Jubair, ketika masuk sepuluh hari (Dzulhijjah), beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah dengan sangat keras, sampai hampir tidak sanggup lagi.” (HR. Darim no. 1774).
Ini bukan sekadar “lebih rajin”, tapi ini adalah mode maksimal dan totalitas dalam ibadah.
10 hari pertama Dzulhijjah adalah salah satu waktu paling mulia dalam setahun yang Allah sendiri bersumpah dengannya dan Rasulullah ﷺ tegaskan sebagai hari paling dicintai untuk beramal; saat semua pintu ibadah terbuka sekaligus, maka jangan berhenti pada sekadar mengetahui keutamaannya, tapi jadikan ini momentum untuk meningkatkan amal secara maksimal dan sungguh-sungguh, sebagaimana dicontohkan oleh generasi terbaik ummat ini yang memanfaatkannya dengan totalitas. Wallahu a’lamu bishshawab.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.



