Hukum Puasa Tarwiyah: Sunnah Atau Bid’ah?
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Tanggal 8 Dzulhijjah dikenal dengan nama “Yaumut Tarwiyah”. Pada hari ini, jamaah haji mulai bergerak menuju Mina untuk mempersiapkan diri untuk wuquf di Arafah. Di tengah kaum muslimin, sering muncul pertanyaan, “Apakah puasa Tarwiyah memiliki keutamaan khusus?”, “Benarkah ada hadits shahih tentang puasa tanggal 8 Dzulhijjah?”
Pertanyaan ini penting dijawab secara ilmiah agar seorang muslim tidak mudah menolak amalan yang sebenarnya memiliki landasan syariat, dan tidak pula menetapkan keutamaan khusus tanpa dalil yang shahih.
Apa Itu Hari Tarwiyah?
Hari Tarwiyah adalah tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum Arafah. Disebut “Tarwiyah” karena dahulu para jamaah haji menyiapkan persediaan air (tarawwu) sebelum menuju Arafah dan Mina.
Hari ini termasuk bagian dari 10 hari pertama Dzulhijjah yang sangat agung kedudukannya dalam Islam. Allah ﷻ berfirman:
وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2) ﴾ ﴿ وَالْفَجْرِ (1)
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)
Beberapa ulama tafsir menjelaskan bahwa “malam yang sepuluh” adalah 10 hari pertama Dzulhijjah. (baca: Tafsir Ath Thabary, 24/348, Tafsir Al Qurthubi, 20/39, dan Tafsir Ibnu Katsir, 8/391).
Mengapa Ulama Menganjurkan Puasa Tarwiyah?
Sebab anjurannya ialah puasa tanggal 8 Dzulhijjah masuk dalam keumuman dalil tentang keutamaan amal shalih pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Nabi ﷺ bersabda:
«مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِي هَذِهِ»
“Tidak ada amal pada hari-hari lain yang lebih utama daripada amal pada sepuluh hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari no. 969).
Disebutkan dalam Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah (28/91):
اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ صَوْمِ الْأَيَّامِ الثَّمَانِيَةِ الَّتِي مِنْ أَوَّلِ ذِي الْحِجَّةِ قَبْلَ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Para fuqaha telah bersepakat tentang dianjurkannya puasa pada delapan hari pertama bulan Dzulhijjah sebelum Hari Arafah.”
وَصَرَّحَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ بِأَنَّهُ يُسَنُّ صَوْمُ هَذِهِ الْأَيَّامِ لِلْحَاجِّ أَيْضًا
“Madzhab Malikiyyah dan Syafi‘iyyah secara tegas menyatakan bahwa puasa pada hari-hari tersebut juga disunnahkan bagi jamaah haji.”
Dan disebutkan dalam kitab Nihayahtul Muhtaj (3/207):
وَيُسَنُّ صَوْمُ الثَّمَانِيَةِ أَيَّامٍ قَبْلَ يَوْمِ عَرَفَةَ، كَمَا صَرَّحَ بِهِ فِي «الرَّوْضَةِ»، سَوَاءٌ فِي ذَلِكَ الْحَاجُّ وَغَيْرُهُ
“Disunnahkan berpuasa pada delapan hari sebelum Hari Arafah, sebagaimana ditegaskan dalam kitab Raudhatuth Thalibin. Hal itu berlaku baik bagi jamaah haji maupun selain jamaah haji.”
Puasa termasuk amal shalih yang paling agung. Karena itu, banyak ulama memasukkan puasa 8 Dzulhijjah dalam amalan yang dianjurkan, karena masuk dalam keumuman hadits di atas.
Apakah Jamaah Haji Dianjurkan Puasa Tarwiyah?
Sebagaimana yang telah disebutkan, asalnya bagi jamaah haji tetap dianjurkan, akan tetapi melihat kondisi fisik lebih utama. Apabila puasa melemahkan mereka dalam manasik, dzikir, doa, dan persiapan Arafah, maka tidak berpuasa lebih baik. Karena inti dari ibadah haji itu adalah wukuf di ‘Arafah sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
« الْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ أَدْرَكَ لَيْلَةَ عَرَفَةَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ مِنْ لَيْلَةِ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ »
“Inti ibadah haji adalah wuquf di Arafah. Siapa yang sempat hadir di Arafah sebelum terbit fajar pada malam Muzdalifah, maka hajinya telah sempurna.” (HR. An Nasa’i no. 3016).
Kesalahan yang Sering Terjadi
Menganggap Puasa Tarwiyah Pasti Bid’ah
Ini keliru karena puasa tersebut masuk dalam keumuman amal 10 hari pertama Dzulhijjah.
Meyakini Adanya Pahala Khusus Terlebih Lagi Jika Bersandar dengan Hadits Lemah
Ini juga keliru, karena kami belum menemukan para ulama yang menukilkan hadits shahih tentang keutamaan khusus puasa Tarwiyah.
Menjadikannya Seolah Sunnah Muakkadah Setingkat Arafah
Keutamaan terbesar tetap pada puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah dengan dalil shahih, karena ia terletak pada hari inti atau puncaknya ibadah haji.
Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) bukan bid’ah, dianjurkan sebagai bagian dari amal shalih di 10 hari pertama Dzulhijjah, namun tidak memiliki hadits shahih yang menyebutkan keutamaan khusus secara spesifik. Wallahu a’lamu bishshawab.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.





