Bolehkah Menyambut dan Mengadakan Jamuan Makan atas Kepulangan Jamaah Haji
Kepulangan seseorang dari ibadah haji biasanya menjadi momen yang sangat membahagiakan. Keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat sekitar sering kali ikut menyambut kedatangannya dengan rasa syukur. Di sebagian tempat, penyambutan itu dilakukan dengan kunjungan, ucapan selamat, doa, bahkan jamuan makan.
Lalu, bagaimana hukum merayakan kepulangan jamaah haji dan membuatkan makanan untuknya? Apakah hal seperti ini dibolehkan dalam syariat?
Secara umum, menyambut orang yang datang dari haji, memberi ucapan selamat, dan membuatkan jamuan makan untuknya adalah perkara yang dibolehkan. Bahkan, jika orang yang baru pulang dari haji itu sendiri membuat makanan lalu mengundang orang lain, hal tersebut juga dibolehkan. Maka, apabila keluarga atau masyarakat yang membuatkan makanan untuknya sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur, tentu hal itu juga masuk dalam perkara yang boleh, selama tidak disertai hal-hal yang dilarang.
Dasar kebolehannya adalah karena dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat riwayat yang menunjukkan adanya penyambutan terhadap orang yang datang dari perjalanan. Penyambutan ini tidak hanya terbatas pada perjalanan haji, tetapi juga mencakup perjalanan lain seperti umrah, dagang, jihad, atau safar secara umum.
Dalil tentang Menyambut Orang yang Datang dari Perjalanan
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ اسْتَقْبَلَتْهُ أُغَيْلِمَةُ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَحَمَلَ وَاحِدًا بَيْنَ يَدَيْهِ وَآخَرَ خَلْفَهُ.
“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ‘Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Makkah, anak-anak kecil dari Bani Abdul Muthalib menyambut beliau. Lalu beliau membawa salah seorang dari mereka di depan beliau dan yang lain di belakang beliau.’”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1704, dalam Kitab Al-‘Umrah. Imam Al-Bukhari membuat judul bab untuk hadis ini:
بَابُ اسْتِقْبَالِ الْحَاجِّ الْقَادِمِينَ، وَالثَّلَاثَةِ عَلَى الدَّابَّةِ
“Bab menyambut orang-orang haji yang datang, dan tiga orang berada di atas kendaraan.”
Pemberian judul bab oleh Imam Al-Bukhari ini menunjukkan bahwa menyambut orang yang datang dari haji termasuk perkara yang dikenal dan memiliki dasar dalam sunnah.
Dalam riwayat lain, Ibnu Az-Zubair pernah berkata kepada Ibnu Ja‘far radhiyallahu ‘anhum:
وَقَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ لِابْنِ جَعْفَرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ: أَتَذْكُرُ إِذْ تَلَقَّيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَأَنْتَ وَابْنُ عَبَّاسٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَحَمَلَنَا وَتَرَكَكَ.
“Ibnu Az-Zubair berkata kepada Ibnu Ja‘far radhiyallahu ‘anhum, ‘Apakah engkau ingat ketika aku, engkau, dan Ibnu Abbas menyambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ibnu Ja‘far menjawab, ‘Ya, lalu beliau membawa kami dan meninggalkanmu.’”(HR. Al-Bukhari, no. 2916).
Dari Abdullah bin Ja‘far radhiyallahu ‘anhu, beliau juga berkata:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا. قَالَ: فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ. قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.
“Dari Abdullah bin Ja‘far, ia berkata, ‘Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari perjalanan, kami biasa dibawa untuk menyambut beliau.’ Ia berkata, ‘Maka aku bersama Al-Hasan atau Al-Husain dibawa untuk menyambut beliau. Lalu beliau membawa salah seorang dari kami di depan beliau dan yang lain di belakang beliau, sampai kami masuk ke Madinah.’” (HR. Muslim, no. 2428).
Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa menyambut kedatangan orang yang pulang dari perjalanan adalah perkara yang dibolehkan. Jika penyambutan terhadap musafir secara umum dibolehkan, maka menyambut orang yang pulang dari ibadah haji juga dibolehkan, selama tidak disertai perkara yang melanggar syariat.
Jamuan Makan untuk Orang yang Pulang dari Safar
Di antara bentuk penyambutan orang yang datang dari perjalanan adalah membuat makanan untuknya. Dalam istilah fikih, makanan yang dibuat karena kedatangan seseorang dari safar disebut النقيعة (an-naqī‘ah).
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
يُسْتَحَبُّ النَّقِيعَةُ، وَهِيَ طَعَامٌ يُعْمَلُ لِقُدُومِ الْمُسَافِرِ، وَيُطْلَقُ عَلَى مَا يَعْمَلُهُ الْمُسَافِرُ الْقَادِمُ، وَعَلَى مَا يَعْمَلُهُ غَيْرُهُ لَهُ.
“Dianjurkan an-naqī‘ah, yaitu makanan yang dibuat karena kedatangan musafir. Istilah ini digunakan untuk makanan yang dibuat oleh musafir yang baru datang, dan juga untuk makanan yang dibuat oleh orang lain untuknya.”
Kemudian beliau melanjutkan, Di antara dalil yang digunakan dalam masalah ini adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً.
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah dari perjalanannya, beliau menyembelih seekor unta atau sapi.” (Al-Majmu‘ Syarh Al-Muhadzdzab, 4/400).
Dalam kitab Manasik Al-Hajj wa Al-‘Umrah fi Al-Islam fi Dhau’ Al-Kitab wa As-Sunnah (hlm. 704), disebutkan:
يُسْتَحَبُّ جَمْعُ الْأَصْحَابِ وَإِطْعَامُهُمْ عِنْدَ الْقُدُومِ مِنَ السَّفَرِ؛ لِفِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Dianjurkan mengumpulkan sahabat dan memberi mereka makan ketika datang dari perjalanan, berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Kemudian disebutkan hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma diatas.
Keterangan ini menunjukkan bahwa membuat makanan karena kedatangan seseorang dari perjalanan memiliki dasar dalam pembahasan fikih. Karena itu, apabila seorang jamaah haji yang baru pulang membuat makanan dan mengundang orang lain, hal itu dibolehkan. Demikian pula jika keluarga, kerabat, atau masyarakat membuatkan makanan untuk menyambutnya.
Al-Qalyubi rahimahullah menyebutkan beberapa adab ketika seseorang kembali dari perjalanan. Beliau berkata:
يُنْدَبُ أَنْ يَحُجَّ الرَّجُلُ بِأَهْلِهِ، وَأَنْ يَحْمِلَ هَدِيَّةً مَعَهُ، وَأَنْ يَأْتِيَ إِذَا عَادَ مِنْ سَفَرٍ – وَلَوْ قَصِيرًا – بِهِبَةٍ لِأَهْلِهِ، وَأَنْ يُرْسِلَ لَهُمْ مَنْ يُخْبِرُهُمْ بِقُدُومِهِ إِنْ لَمْ يَعْلَمُوا بِهِ، وَأَنْ يَقْصِدَ أَقْرَبَ مَسْجِدٍ فَيُصَلِّيَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةَ الْقُدُومِ، وَأَنْ يُصْنَعَ لَهُ وَلِيمَةٌ تُسَمَّى النَّقِيعَةَ، وَأَنْ يَتَلَقَّوْهُ كَغَيْرِهِمْ، وَأَنْ يُقَالَ لَهُ – إِنْ كَانَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا – تَقَبَّلَ اللَّهُ حَجَّكَ وَعُمْرَتَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَأَخْلَفَ عَلَيْكَ نَفَقَتَكَ.
“Dianjurkan bagi seseorang untuk berhaji bersama keluarganya, membawa hadiah bersamanya, dan ketika ia kembali dari perjalanan — meskipun perjalanan singkat — ia membawa pemberian untuk keluarganya. Dianjurkan pula mengirim orang untuk memberi tahu keluarganya tentang kedatangannya apabila mereka belum mengetahuinya, menuju masjid terdekat lalu shalat dua rakaat sebagai sunnah kedatangan (dari safar), dibuatkan untuknya jamuan yang disebut an-naqī‘ah, disambut sebagaimana orang lain disambut, dan dikatakan kepadanya jika ia seorang haji atau umrah: ‘Semoga Allah menerima haji dan umrahmu, mengampuni dosamu, dan mengganti nafkahmu.’” (Hasyiyah Al-Qalyubi ‘ala Syarh Al-Minhaj, 2/190).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang kebiasaan sebagian masyarakat, khususnya di desa-desa, yang membuat jamuan setelah jamaah haji pulang dari Makkah. Jamuan tersebut terkadang disebut “sembelihan untuk jamaah haji”, “kegembiraan atas kepulangan jamaah haji”, atau “syukuran keselamatan jamaah haji”. Dalam pertanyaan itu juga disebutkan bahwa terkadang acara tersebut disertai sikap berlebihan dan pemborosan.
Beliau menjawab:
هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ، لَا بَأْسَ بِإِكْرَامِ الْحُجَّاجِ عِنْدَ قُدُومِهِمْ؛ لِأَنَّ هَذَا يَدُلُّ عَلَى الِاحْتِفَاءِ بِهِمْ، وَيُشَجِّعُهُمْ أَيْضًا عَلَى الْحَجِّ، لَكِنِ التَّبْذِيرُ الَّذِي أَشَرْتَ إِلَيْهِ وَالْإِسْرَافُ هُوَ الَّذِي يُنْهَى عَنْهُ؛ لِأَنَّ الْإِسْرَافَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ، سَوَاءٌ بِهَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ، أَوْ غَيْرِهَا.
“Hal itu tidak mengapa. Tidak mengapa memuliakan para jamaah haji ketika mereka datang, karena hal ini menunjukkan penghormatan kepada mereka dan juga dapat mendorong mereka untuk melaksanakan haji. Akan tetapi, pemborosan yang engkau sebutkan dan sikap berlebihan itulah yang dilarang. Sebab, berlebihan itu dilarang, baik dalam kesempatan ini maupun kesempatan lainnya.”
Kemudian beliau menyebutkan firman Allah Ta‘ala:
وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An‘am: 141).
Allah Ta‘ala juga berfirman:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Sesungguhnya orang-orang yang melakukan pemborosan itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 27).
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah kemudian melanjutkan:
لَكِنْ إِذَا كَانَتْ وَلِيمَةً مُنَاسِبَةً، عَلَى قَدْرِ الْحَاضِرِينَ، أَوْ تَزِيدُ قَلِيلًا: فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ مِنَ النَّاحِيَةِ الشَّرْعِيَّةِ، وَمِنَ النَّاحِيَةِ الِاجْتِمَاعِيَّةِ.
“Namun, apabila jamuan itu sesuai, sekadar jumlah orang yang hadir atau lebih sedikit, maka hal itu tidak mengapa, baik dari sisi syariat maupun dari sisi sosial.”(Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan ke-154, pertanyaan no. 12).
Dari fatwa ini dapat disimpulkan bahwa yang dilarang bukanlah acara penyambutan atau jamuan itu sendiri, melainkan pemborosan, sikap berlebihan, dan memaksakan diri di luar kemampuan.
Berdasarkan ulasan di atas, mengadakan jamuan setelah kepulangan jamaah haji pada dasarnya termasuk perkara yang dibolehkan, selama tidak diyakini sebagai sesuatu yang wajib atau sebagai bagian khusus dari rangkaian ibadah haji yang harus dilakukan. Jamuan tersebut juga harus dijaga dari penyimpangan, kemaksiatan, sikap berlebihan, pemborosan, dan hal-hal yang memberatkan.
Apabila jamuan itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, penghormatan kepada tamu, penyambutan terhadap orang yang baru pulang dari perjalanan, serta sarana mempererat silaturahmi, maka hukumnya boleh. Terlebih dalam pembahasan fikih dikenal istilah an-naqī‘ah, yaitu makanan yang dibuat karena kedatangan seorang musafir.
Dengan demikian, selama batasan-batasan syariat tersebut dijaga, maka acara penyambutan jamaah haji dan jamuan makan untuknya termasuk perkara yang dibolehkan.
Dan tidak mengapa memberi ucapan selamat kepada orang yang baru pulang dari haji. Ucapan tersebut boleh menggunakan kalimat apa saja selama maknanya baik, dibolehkan dalam syariat, dan berisi doa.
Di antara ucapan yang baik adalah:
تَقَبَّلَ اللَّهُ طَاعَتَكُمْ
“Semoga Allah menerima ketaatan kalian.”
Atau:
حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا
“Semoga menjadi haji yang mabrur dan usaha yang diterima.”
Atau:
تَقَبَّلَ اللَّهُ نُسُكَكَ، وَأَعْظَمَ أَجْرَكَ، وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ
“Semoga Allah menerima ibadah manasikmu, memperbesar pahalamu,
Ibnu Muflih rahimahullah menyebutkan:
وَأَمَّا الْحَاجُّ فَسَمِعْنَا عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي قِلَابَةَ، وَأَنَّ النَّاسَ لَيَدْعُونَ.
“Adapun tentang orang yang berhaji, kami mendengar dari Ibnu Umar dan Abu Qilabah bahwa orang-orang mendoakannya.” (Ibnu Muflih, Al-Furu‘, 6/193–194).



