Kesalahan Fatal Jamaah Haji & Umrah Saat Masuk Masjidil Haram
Bismillah, walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.
Semangat beribadah adalah hal yang mulia. Namun dalam Islam, niat yang baik tidak cukup tanpa cara yang benar. Berkata Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه (w. 32 H):
كَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tetapi tidak mendapatkannya.” (Sunan Ad-Darimi no. 210)
Inilah yang sering terjadi pada masyarakat kita, semangat tinggi, tapi sayangnya tidak diiringi dengan ilmu.
Menunda Thawaf Tanpa Uzur: Sibuk Hotel, Koper, dan Istirahat Panjang
Setelah perjalanan panjang, banyak jamaah memilih:
- check-in hotel untuk berleha-leha
- tidur panjang menikmati fasilitas hotel
- bahkan makan santai terlebih dahulu
Padahal, para ulama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله (w. 728 H) menegaskan:
وَالطَّوَافُ بِالْبَيْتِ هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَعْظَمُ
“Thawaf adalah tujuan utama (kedatangan ke Makkah).” (Majmu‘ Al-Fatawa, 26/120).
Masalahnya bukan istirahat, tapi menjadikan istirahat sebagai prioritas utama. Kalau tujuan sudah bergeser di awal, maka biasanya kesalahan berikutnya juga ikut muncul yaitu menambah-nambah ibadah tanpa dasar.
Mencari Doa Khusus Saat Pertama Melihat Ka’bah (Padahal Tidak Ada)
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) menjelaskan:
لَا أَعْلَمُ دُعَاءً خَاصًّا عِنْدَ رُؤْيَةِ الْكَعْبَةِ
“Saya tidak mengetahui adanya doa khusus ketika melihat Ka’bah.” (Majmu‘ Fatawa Ibnu Baz, 17/353).
Ini bukan masalah kecil, ini menyangkut prinsip ibadah dalam Islam. Jika doa tanpa dalil saja bisa menyebar, maka lebih parah lagi ketika jamaah mulai menciptakan “ritual-ritual baru” di sekitar Ka’bah.
Melakukan Ritual Tambahan yang Tidak Pernah Dicontohkan Nabi ﷺ
Contoh nyata di lapangan:
- Mengangkat tangan seperti takbir saat melihat Ka’bah
- Membaca wirid tertentu secara khusus
- Menangis dengan “setting suasana” tanpa ilmu
Padahal Nabi ﷺ tidak melakukan itu. Syaikh Muhammad bin Shalih al ʿUtsaimin رحمه الله (w. 1421 H) menjelaskan:
الْعِبَادَاتُ تَوْقِيفِيَّةٌ لَا تُشْرَعُ إِلَّا بِدَلِيلٍ
“Ibadah itu bersifat tauqifiyah (harus berdasarkan dalil), tidak disyariatkan kecuali dengan dalil.” (Majmu‘ Fatawa, 2/301).
Kreatif dalam ibadah itu tidak dibenarkan, sebagaimana yang dijelaskan di atas karena Allah tidak memberikan ruang untuk itu dalam hal ibadah, sehingga mengikuti dalil akan lebih selamat dan lebih menjamin akan diterimanya suatu ibadah.
Berdesakan dan Mendorong Demi Mendekat ke Ka’bah
Setelah ritual-ritual tambahan di atad, kesalahan berikutnya lebih terlihat secara fisik yaitu perilaku yang justru mengganggu jamaah lain.Seperti dorong-dorongan, memaksakan diri mencium Hajar Aswad dan bahkan menyakiti jamaah lain.
Padahal Rasulullah ﷺ (w. 11 H) bersabda:
« يَا عُمَرُ إِنَّكَ رَجُلٌ قَوِيٌّ، لَا تُزَاحِمْ عَلَى الْحَجَرِ فَتُؤْذِيَ الضَّعِيفَ »
“Wahai Umar, engkau orang yang kuat. Jangan berdesakan di Hajar Aswad hingga menyakiti orang lemah.” (HR. Musnad Ahmad no. 191).
Nabi ﷺ (w. 11 H) menegaskan kepada Umar رضي الله عنه (w. 23 H), bahwa tidak boleh mencari sunnah dengan cara menyakiti orang lain.
Sibuk Dokumentasi: Foto, Video dan Konten Saat Thawaf
Ironisnya, di era digital sekarang, kesalahan tidak berhenti pada hal-hal yang telah disebutkan, bahkan masuk ke level yang lebih “modern”.
Fenomena yang sering ditemukan seperti selfie depan Ka’bah, live video dan rekam setiap momen thawaf. Dimana secara zhahir terlihat “mengabadikan momen”, tapi akibatnya bisa merusak keikhlasan.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ﴾
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini menegaskan bahwa ibadah bukan untuk dilihat oleh mahluk, akan tetapi untuk diterima oleh Allah Rabbul ‘Alamin. Karena jika hati sudah tersibukkan dengan dunia, maka puncaknya adalah hilangnya ruh ibadah itu sendiri.
Hati Tidak Hadir: Thawaf Fisik, Tapi Lalai Secara Ruh
Inilah kesalahan paling dalam dan paling berbahaya. Berkata Ibnul Qayyim رحمه الله (w. 751 H):
لَيْسَ الْمَقْصُودُ مِنَ الطَّوَافِ حَرَكَةُ الْبَدَنِ فَقَطْ، بَلْ حُضُورُ الْقَلْبِ
“Tujuan thawaf bukan sekadar gerakan badan, tetapi hadirnya hati.” (Zad Al Ma‘ad, 2/319).
Karena banyak orang yang melakukan thawaf, akan tetapi sedikit yang benar-benar hadir hatinya dan merasakan ruh dari thawaf itu sendiri.
Diantara kesalahan jamaah saat pertama masuk Masjidil Haram yang harus dihindari ialah menunda thawaf tanpa uzur, meyakini ada doa khusus saat melihat Ka’bah, menambah ritual tanpa dalil, berdesakan hingga menyakiti jamaah lain, sibuk dokumentasi dan kehilangan keikhlasan, thawaf tanpa menghadirkan hati, semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan taufik dan hidayahnya agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan tersebut juga yang semisalnya.
Wallahu a’lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
