Ketika Ia Datang, Tetapi Hampir Tidak Terasa
Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Setiap tahun kaum muslimin memasuki bulan Muharram. Kalender Hijriah berganti, berbagai ucapan tahun baru Islam beredar, namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian: Muharram adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah.
Muharram hadir sebagai pengingat bahwa tidak semua waktu memiliki nilai yang sama di sisi Allah. Ada waktu-waktu tertentu yang Allah muliakan, dan seorang mukmin diajak untuk lebih berhati-hati sekaligus lebih bersemangat dalam beramal ketika memasuki waktu tersebut.
Allah Memuliakan Empat Bulan Haram
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.“ (QS. At-Taubah: 36).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits radhiyallahu ‘anhu (w. 51 H), Rasulullah ﷺ (w. 11 H) bersabda:
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
”Setahun itu terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram: tiga bulan berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab versi Suku Mudhar yang berada antara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 4662 dan Muslim no. 1679)
Muharram bukan sekadar bulan pertama dalam kalender Islam. Ia adalah bulan yang Allah pilih dan muliakan sejak penciptaan langit dan bumi. Karena itu para ulama menyebut bahwa penghormatan terhadap bulan haram bukan tradisi budaya, melainkan bagian dari syariat Allah. Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa‘di rahimahullah (w. 1376 H) menjelaskan:
فَلْتَحْذَرُوا مِنْ ظُلْمِ أَنْفُسِكُمْ فِيهَا، وَيُحْتَمَلُ أَنَّ الضَّمِيرَ يَعُودُ إِلَى الْأَرْبَعَةِ الْحُرُمِ، وَأَنَّ هَذَا نَهْيٌ لَهُمْ عَنِ الظُّلْمِ فِيهَا، خُصُوصًا مَعَ النَّهْيِ عَنِ الظُّلْمِ كُلَّ وَقْتٍ، لِزِيَادَةِ تَحْرِيمِهَا، وَكَوْنِ الظُّلْمِ فِيهَا أَشَدَّ مِنْهُ فِي غَيْرِهَا
“Maka hendaklah kalian berhati-hati dari menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan tersebut. Ada kemungkinan bahwa dhamir (kata ganti) dalam ayat itu kembali kepada empat bulan haram. Dengan demikian, ayat tersebut merupakan larangan untuk berbuat zhalim pada bulan-bulan itu, meskipun berbuat zhalim dilarang pada setiap waktu. Hal itu karena kehormatan dan pengharaman bulan-bulan tersebut lebih besar, dan karena kezhaliman yang dilakukan di dalamnya lebih berat dibandingkan kezhaliman pada bulan-bulan lainnya.” (Taysirul Karimur Rahman Fi Tafsir Kalamil Mannan, tafsir QS. At-Taubah: 36).
Mengapa Disebut Bulan Haram?
Kata “haram” dalam konteks ini bukan berarti bulan yang terlarang untuk beraktivitas. Yang dimaksud adalah bulan yang memiliki kehormatan dan kemuliaan khusus. Dalam tafsir ayat di atas, Imam Qatadah rahimahullah (w. 117 H) menjelaskan bahwa Allah secara khusus melarang kezhaliman pada bulan-bulan haram karena kemuliaannya lebih besar dibanding bulan-bulan lainnya. Beliau berkata:
﴿ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ﴾، فَإِنَّ الظُّلْمَ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيئَةً وَوِزْرًا مِنَ الظُّلْمِ فِيمَا سِوَاهَا، وَإِنْ كَانَ الظُّلْمُ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَظِيمًا، وَلَكِنَّ اللَّهَ يُعَظِّمُ مِنْ أَمْرِهِ مَا شَاءَ
““Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”. Sesungguhnya kezhaliman yang dilakukan pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezhaliman yang dilakukan pada bulan-bulan selainnya, meskipun kezhaliman dalam keadaan apa pun tetap merupakan dosa yang besar. Akan tetapi Allah mengagungkan dari urusan-Nya apa yang Dia kehendaki.” (Jami‘ul Bayan Fi Ta’wil Ayil Qur’an, tafsir QS. At-Taubah: 36).
Ketika Maksiat Menjadi Hal Biasa
Salah satu tantangan terbesar umat Islam hari ini bukan sekadar banyaknya kemaksiatan, tetapi hilangnya rasa bersalah terhadap kemaksiatan itu sendiri. Ada masa ketika seseorang berusaha menyembunyikan dosanya karena malu kepada Allah dan manusia. Kini tidak sedikit yang justru bangga menampilkannya. Rasulullah ﷺ (w. 11 H) bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
“Seluruh umatku akan mendapatkan ampunan (atau keselamatan) kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan berbuat maksiat adalah seseorang melakukan suatu perbuatan (dosa) pada malam hari, lalu pada pagi harinya, padahal Allah telah menutupinya, ia berkata: ‘Wahai fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.’ Padahal semalam Rabb-nya telah menutupi dosanya, namun pada pagi harinya ia justru membuka sendiri tutupan Allah atas dirinya.” (HR. Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990).
Muharram mengajak kita berhenti sejenak dari arus normalisasi dosa yang semakin deras. Bulan ini mengingatkan bahwa ukuran benar dan salah tidak berubah hanya karena sebuah perbuatan semakin banyak dilakukan.
Jika Dosa Dilipatberatkan, Maka Pahala Juga Dilipatgandakan
Namun pembahasan Muharram tidak berhenti pada ancaman. Islam selalu menghadirkan keseimbangan antara rasa takut dan harapan. Jika bulan haram membuat seorang muslim lebih berhati-hati dari dosa, maka bulan haram juga menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal saleh. Muharram memiliki keutamaan yang sangat istimewa. Rasulullah ﷺ (w. 11 H) bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
”Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim no. 1163).
Perhatikan bagaimana Nabi ﷺ menyebutnya sebagai “Syahrullah” (bulan Allah). Penyandaran suatu perkara kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keistimewaannya. Imam Nawawi rahimahullah (w. 676 H) menjelaskan:
هَذَا تَصْرِيحٌ بِأَنَّ أَفْضَلَ الشُّهُورِ لِلصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Hadits ini merupakan penegasan bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah Bulan Allah, yaitu Muharram.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/55).
Karena itu Muharram bukan hanya bulan untuk menghindari dosa, tetapi juga momentum memperbanyak kebaikan, memperbanyak puasa sunnah, menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an lebih banyak, memperbanyak dzikir dan istighfar, memperbaiki hubungan dengan keluarga juga meningkatkan sedekah dan kepedulian sosial.
Muharram Adalah Kesempatan Memulai Kembali
Banyak orang memasuki tahun baru dengan daftar target duniawi: karier, bisnis, pendidikan, atau keuangan. Semua itu tentu tidak salah. Namun Muharram mengajarkan pertanyaan yang lebih mendasar, “Bagaimana keadaan hubungan kita dengan Allah dibanding tahun lalu?”
Muharram datang bukan untuk membuat kita tenggelam dalam penyesalan, melainkan membuka pintu perbaikan. Selama hayat masih dikandung badan, kesempatan kembali kepada Allah selalu terbuka. Rasulullah ﷺ(w. 11 H) bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi no. 3537).
Penutup: Jangan Lewatkan Kesempatan Emas Ini
Di tengah zaman ketika maksiat semakin dianggap biasa, Muharram mengingatkan kita untuk kembali menghormati apa yang Allah muliakan. Bukan dengan ritual-ritual yang tidak diajarkan, tetapi dengan memperbanyak ketaatan, menjauhi dosa, dan memperbarui tekad untuk menjadi hamba yang lebih baik.
Mungkin banyak kesempatan besar dalam hidup yang telah terlewat. Namun selama Muharram masih Allah pertemukan kepada kita, masih ada kesempatan emas yang belum terlambat untuk diraih. Karena boleh jadi, satu langkah kecil menuju Allah pada bulan yang mulia ini lebih bernilai daripada yang kita bayangkan. Wallahu a’lamu bishshawab.




