Langkah Pertama Saat Tiba Di Mekkah
Antara Sunnah Nabi ﷺ Dan Kesalahan Jamaah Masa Kini
Datang ke Makkah untuk Apa?
Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Tidak sedikit jamaah haji dan umrah yang ketika tiba di Makkah, justru disibukkan dengan urusan selain ibadah seperti hotel, istirahat panjang, bahkan aktivitas yang tidak ada kaitannya dengan tujuan utama safar ini.
Padahal, para ulama salaf telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa inti kedatangan ke Makkah adalah ibadah, bukan selainnya.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله (w. 728 H):
وَالطَّوَافُ بِالْبَيْتِ هُوَ الْمَقْصُودُ الْأَعْظَمُ لِمَنْ قَدِمَ مَكَّةَ
“Thawaf di Ka’bah adalah tujuan terbesar bagi orang yang datang ke Makkah.” (Majmu‘ Al-Fatawa, 26/120).
Dari sini, kita memahami satu prinsip besar, yaitu semua amalan ketika tiba di Makkah, harus mengarah kepada kesiapan untuk ibadah, bukan menjauh darinya.
Disunnahkan Mandi Sebelum Masuk Makkah
Sebagai bentuk persiapan lahir dan batin, para sahabat mencontohkan untuk membersihkan diri sebelum memasuki kota suci ini. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما (w. 73 H):
أَنَّهُ كَانَ إِذَا دَخَلَ مَكَّةَ بَاتَ بِذِي طُوًى حَتَّى يُصْبِحَ، ثُمَّ يَدْخُلُ مَكَّةَ نَهَارًا، وَيَذْكُرُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ فَعَلَهُ
“Beliau jika masuk Makkah bermalam di Dzu Thuwa hingga pagi, lalu masuk pada siang hari, dan beliau menyatakan Nabi ﷺ melakukannya.” (HR. Bukhari no. 1573).
Dalam riwayat lain disebutkan beliau mandi sebelum masuk Makkah. (lihat: Fath Al-Bari, 3/460).
Ini menunjukkan bahwa persiapan fisik adalah bagian dari adab menuju ibadah besar. Namun, setelah persiapan lahir ini, ada hal yang jauh lebih penting yaitu bagaimana kondisi hati saat memasuki Makkah?
Masuk Makkah dengan Tawadhu’, Bukan Dengan Gaya Wisata
Jika tubuh telah dipersiapkan, maka hati pun harus ditundukkan. Inilah yang ditunjukkan oleh Nabi ﷺ ketika memasuki Makkah. Berkata Ibnul Qayyim رحمه الله (w. 751 H):
وَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَكَّةَ وَهُوَ مُتَوَاضِعٌ لِلَّهِ حَتَّى إِنَّ ذِقْنَهُ لَيَمَسُّ رَحْلَهُ
“Rasulullah ﷺ masuk Makkah dalam keadaan sangat tawadhu’ kepada Allah, sampai dagunya hampir menyentuh pelana tunggangannya.” (Zad Al-Ma‘ad, 2/388).
Ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan ketundukan total kepada Allah. Namun, di tengah kondisi hati yang khusyuk ini, sering muncul pertanyaan yang keliru di kalangan jamaah: “Apakah ada doa khusus ketika pertama kali melihat Ka’bah?”
Tidak Ada Doa Khusus Saat Melihat Ka’bah
Pertanyaan ini sangat populer, namun jawabannya tegas dalam manhaj salaf. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H):
لَا أَعْلَمُ دُعَاءً خَاصًّا عِنْدَ رُؤْيَةِ الْكَعْبَةِ
“Saya tidak mengetahui adanya doa khusus ketika melihat Ka’bah.” (Majmu‘ Fatawa Ibnu Baz, 17/353).
Artinya boleh berdoa apa saja, tapi tidak boleh mengkhususkan doa tanpa dalil. Karena ibadah harus mengikuti dalil, bukan perasaan. Lalu jika tidak ada ritual khusus, apa yang seharusnya dilakukan setelah melihat Ka’bah?
Langsung Menuju Masjidil Haram dan Memulai Thawaf
Inilah jawaban inti dari seluruh pembahasan. Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al ʿUtsaimin رحمه الله (w. 1421 H)
إِذَا دَخَلَ الْمُعْتَمِرُ مَكَّةَ فَإِنَّهُ يَذْهَبُ مُبَاشَرَةً إِلَى الْمَسْجِدِ لِيَطُوفَ
“Jika seorang yang berumrah masuk Makkah, maka hendaknya langsung menuju Masjid untuk thawaf.” (Majmu‘ Fatawa wa Rasa’il, 22/338).
Sehingga tidak ada jeda panjang, ritual tambahan dan “pemanasan ibadah”, akan tetapi langsung ke ibadah inti yaitu thawaf. Namun di sinilah sering terjadi kekeliruan berikutnya yaitu menunda ibadah dengan alasan istirahat.
Boleh Istirahat, Tapi Jangan Mengalahkan Tujuan Utama
Islam adalah agama yang realistis, istirahat sejenak tentu diperbolehkan. Namun masalahnya muncul ketika istirahat justru mengalahkan tujuan utama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله (w. 728 H) menegaskan:
لْعِبَادَةُ هِيَ الْمَقْصُودُ، فَلَا يُشْغَلُ عَنْهَا بِغَيْرِهَا
“Ibadah adalah tujuan utama, maka tidak boleh disibukkan dengan selainnya.” (Majmu‘ Al-Fatawa, 26/120).
Maka kaidahnya jelas, istirahat itu boleh, sedangkan menunda ibadah tanpa alasan akan menimbulkan masalah.Setelah memahami prioritas ini, kita masuk ke adab teknis ketika memasuki Masjidil Haram.
Masuk Masjid dengan Adab Umum (Bukan Ritual Khusus)
Ketika memasuki Masjidil Haram, tidak ada ritual khusus selain adab umum masuk masjid. Doa yang diajarkan Nabi ﷺ:
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
“Ya Allah, bukakan untukku pintu-pintu rahmat-Mu.”HR. Sahih Muslim no.
Adab ini berlaku untuk semua masjid termasuk Masjidil Haram, hanya saja yang berbeda ialah apa yang dilakukan setelah itu, yaitu thawaf.
Kesimpulan
Yang harus dilakukan ketika pertama kali tiba di Makkah untuk haji atau umrah ialah menyempatkan diri untuk mandi sebelum masuk Makkah, lalu masuk dengan penuh tawadhu’ sebagaimana contoh dari Nabi ﷺ. Tidak ada doa khusus saat melihat Ka’bah dan langsung menuju Masjidil Haram untuk thawaf. Bagi yang merasa lelah setelah safar, maka boleh istirahat terlebih dahulu, tapi tidak sampai mengalahkan tujuan utama yaitu beribadah, serta tetap menjaga adab-adab di dalam masjid.
Wallahu a’lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.




