• Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Cara Menentukan Hadits Shahih atau Dhaif dengan Mushtholah Hadits

Ustadz Dhiaurrahman, Lc by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
September 30, 2026
in Hadis
Reading Time: 5 mins read
Cara Menentukan Hadits Shahih atau Dhaif dengan Mushtholah Hadits

Menentukan Hadits Shahih atau Dhaif

Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.

Ketika seseorang membaca sebuah tulisan di media sosial yang berbunyi, “Rasulullah ﷺ bersabda…”, seorang muslim tidak cukup hanya bertanya, “Apa makna hadits ini?” Ada pertanyaan yang lebih mendasar: Benarkah perkataan tersebut memang berasal dari Rasulullah ﷺ?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu perhatian utama dalam ilmu hadits. Para ulama tidak menerima setiap berita yang dinisbatkan kepada Nabi ﷺ begitu saja. Mereka meneliti siapa yang meriwayatkannya, bagaimana keadaan para perawinya, apakah sanadnya bersambung, bagaimana redaksinya, serta apakah terdapat cacat yang tersembunyi. Hal ini sangat penting karena Rasulullah ﷺ memberikan ancaman keras terhadap orang yang berdusta atas nama beliau:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR.Bukhari no. 110 dan Muslim no. 3).

Karena itu, mempelajari mushtholah hadits bukan sekadar mempelajari istilah. Ia merupakan sarana untuk menjaga amanah ketika berbicara tentang sunnah Rasulullah ﷺ.

Apa itu ilmu mushtholah hadits?

Secara sederhana, ilmu mushtholah hadits adalah ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan sanad dan matan (redaksi) sebuah riwayat, sehingga dapat diketahui apakah riwayat tersebut termasuk riwayat yang diterima atau ditolak. Para ulama kemudian membahas berbagai istilah yang berkaitan dengan penerimaan dan penolakan riwayat, seperti shahih, hasan, dhaif, mursal, munqathi’, marfu’, mawquf, syadz, ‘illah, dan sebagainya.

Syaikh Bin Baz rahimahullah (w. 1420 H) menjelaskan Nukhbat Al-Fikar karya al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (w. 852 H) yang memang membahas pembagian berita, syarat penerimaan, sanad, dan berbagai bentuk riwayat yang ditolak. Penjelasan beliau menunjukkan bahwa mushtholah hadits pada dasarnya adalah kumpulan kaidah yang digunakan untuk memahami status sebuah berita. (lihat: Syarh Nuzhat an-Nazhar ‘ala Nukhbat al-Fikar, pelajaran awal).

Sanad dan Matan

Dua istilah paling dasar yang harus dikuasai oleh seorang pemula adalah sanad dan matan.

1. Sanad

Imam As-Suyuthi rahimahullah (w. 911 H) menukilkan definisi sanad yang dikenal para muhadditsin diantaranya:

الإِخْبَارُ عَنْ طَرِيقِ الْمَتْنِ

“Pemberitaan tentang jalur menuju matan.” (Tadrib Ar-Rawi Fi Syarh Taqrib An-Nawawi, 1/41).

Maksudnya, sanad berkaitan dengan jalur periwayatan yang menyampaikan kita kepada matan atau isi suatu riwayat. Dengan kata sederhana, sanad adalah rangkaian para perawi yang meriwayatkan sebuah hadits hingga sampai kepada sumbernya. Contoh sederhananya sebagai berikut: Imam Bukhari → guru Imam Bukhari → guru sebelumnya → sahabat → Rasulullah ﷺ

2. Matan

Imam Ibnu Jama’ah rahimahullah (w. 733 H) mendefinisikan:

هُوَ مَا يَنْتَهِي إِلَيْهِ غَايَةُ السَّنَدِ مِنَ الْكَلَامِ

“Matan adalah perkataan yang menjadi ujung akhir dari sanad.” (Tadrib Ar-Rawi Fi Syarh Taqrib An-Nawawi, 1/42).

Secara sederhana, maksudnya adalah matan merupakan isi atau redaksi riwayat yang menjadi tujuan akhir dari rangkaian sanad. Definisi ini menekankan hubungan antara sanad dan matan: sanad adalah jalur periwayatan, sedangkan matan adalah perkataan atau isi riwayat yang disampaikan melalui jalur tersebut.

Mengapa sanad diperiksa?

Jika seseorang mengatakan, “Ini hadits Nabi ﷺ,” maka pertanyaannya bukan hanya apa isi hadits itu. Para ahli hadits juga memeriksa: Siapa yang meriwayatkannya? Dari siapa dia menerima? Dst. Imam Khathib Al-Baghdadi rahimahullah (w. 463 H) menjelaskan bahwa dalam menilai para perawi, yang menjadi pegangan adalah penilaian para ulama kritikus hadits. Beliau berkata:

فَمَنْ عَدَّلُوهُ وَذَكَرُوا أَنَّهُ يُعْتَمَدُ عَلَى مَا يَرْوِيهِ جَازَ حَدِيثُهُ، وَمَنْ قَالُوا فِيهِ خِلَافَ ذَلِكَ وَجَبَ التَّوَقُّفُ عَنْهُ

“Barang siapa yang dinilai adil oleh para ulama dan mereka menyatakan bahwa riwayatnya dapat dijadikan pegangan, maka haditsnya dapat diterima. Adapun orang yang dinilai sebaliknya, maka harus ditahan dari menerima riwayatnya.” (Al Kifayah Fi ‘Ilmir Riwayah, hlm 117).

Lima Syarat Hadits Shahih

Para ulama hadits telah menjelaskan bahwa hadits shahih harus memenuhi sejumlah persyaratan. Imam Ibnu ash-Shalah rahimahullah (w. 643 H) mengatakan:

أَمَّا الْحَدِيثُ الصَّحِيحُ: فَهُوَ الْحَدِيثُ الْمُسْنَدُ الَّذِي يَتَّصِلُ إِسْنَادُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ عَنِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ إِلَى مُنْتَهَاهُ، وَلَا يَكُونُ شَاذًّا وَلَا مُعَلَّلًا

“Adapun hadits shahih adalah hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhobith dari perawi yang adil dan dhobith hingga akhir sanadnya, serta tidak mengandung syudzudz dan tidak memiliki ‘illah.” (Muqaddimah Ibnu ash-Shalah, Pengertian Hadits Shahih, hlm. 11–12).

Dari definisi tersebut, para ulama merangkum lima syarat utama hadits shahih:

  1. Sanadnya bersambung
    Setiap perawi dalam sanad memiliki hubungan periwayatan dengan perawi sebelumnya hingga Rasulullah ﷺ.
  2. Para perawinya adil
    Perawi memiliki integritas dan sifat yang menjadikannya layak diterima periwayatannya.
  3. Para perawinya dhobith
    Perawi memiliki ketelitian dalam menghafal dan menyampaikan riwayat.
  4. Tidak syadz
    Riwayat tersebut tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat darinya, dengan penyelisihan yang menyebabkan riwayat tersebut ditolak.
  5. Tidak memiliki ‘illah yang merusak
    Tidak terdapat cacat tersembunyi yang berpengaruh terhadap keabsahan hadits.

Dengan demikian, rumus sederhananya: Sanad bersambung + perawi adil + perawi dhobith + tidak syadz + tidak memiliki ‘illah = hadits shahih. Jika salah satu atau lebih dari syarat ada yang levelnya lebih rendah atau bahkan tidak terpenuhi, maka akan menurunkan derajat hadits ke Hasan atau lebih rendah lagi yaitu Dho’if  atau bahkan Palsu tergantung masalahnya.

Hadits dhaif berbeda dengan hadits palsu

Ini sangat penting, karena hadits dhaif tidak identik dengan hadits maudhu’. Imam Ibnu ash-Shalah rahimahullah (w. 643 H) mengatakan:

كُلُّ حَدِيثٍ لَمْ يَجْتَمِعْ فِيهِ صِفَاتُ الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وَلَا صِفَاتُ الْحَدِيثِ الْحَسَنِ الْمَذْكُورَةُ فِيمَا تَقَدَّمَ، فَهُوَ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ

“Setiap hadits yang tidak terpenuhi padanya sifat-sifat hadits shahih dan tidak pula hadits hasan yang telah disebutkan sebelumnya, maka hadits tersebut adalah hadits dhaif.” (Muqaddimah Ibnu ash-Shalah, Pengertian Hadits Dha’if, hlm. 16).

Beliau juga berkata tentang hadits maudhu’:

وَهُوَ الْمُخْتَلَقُ الْمَصْنُوعُ .اعْلَمْ: أَنَّ الْحَدِيثَ الْمَوْضُوعَ شَرُّ الْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ، وَلَا تَحِلُّ رِوَايَتُهُ لِأَحَدٍ عَلِمَ حَالَهُ فِي أَيِّ مَعْنًى كَانَ

“Ia adalah sesuatu yang dibuat-buat dan dipalsukan. Ketahuilah, bahwa hadits maudhu’ adalah hadits yang paling buruk di antara hadits-hadits dhaif. Tidak halal bagi siapa pun yang mengetahui keadaan (kepalsuan) hadits tersebut untuk meriwayatkannya, dalam makna apa pun.” (Muqaddimah Ibnu ash-Shalah, Pengertian Hadits Maudhu’ (Palsu), hlm. 37-38).

Dengan demikian, hadits dhaif tidak selalu berada pada tingkat kelemahan yang sama. Sebagian hadits dhaif memiliki kelemahan yang ringan sehingga, apabila ditemukan riwayat lain yang layak dijadikan penguat, kelemahannya dapat tertutupi dan hadits tersebut dapat naik menjadi hasan li ghairihi. Adapun hadits maudhu’, yang sejak awal merupakan riwayat yang dibuat-buat dan dinisbatkan kepada Nabi ﷺ secara dusta; banyaknya jalur yang sama-sama bersumber dari para pendusta tidak menjadikannya hasan li ghairihi.

Dari pembahasan ini kita memahami bahwa menilai sebuah hadits bukan sekadar melihat apakah isinya terdengar baik atau sering disampaikan oleh banyak orang. Para ulama memiliki kaidah yang sangat teliti dalam meneliti sanad, matan, keadaan para perawi, kesinambungan sanad, serta kemungkinan adanya syadz dan ‘illah. Dari penelitian tersebut kemudian diketahui apakah sebuah hadits dapat diterima sebagai shahih, hasan, atau termasuk riwayat yang lemah. Karena itu, sikap yang semestinya tumbuh dalam diri seorang muslim bukanlah tergesa-gesa menyebarkan setiap perkataan yang dinisbatkan kepada Nabi ﷺ, tetapi membiasakan diri untuk tabayyun dan merujuk kepada penjelasan para ulama ahli hadits. Setelah memahami dasar-dasar ini, kita siap melangkah lebih jauh untuk mengenal berbagai istilah penting dalam ilmu hadits dan memahami bagaimana para ulama mengklasifikasikan berbagai jenis riwayat. Wallahu a’lamu bishshawab.

Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

SummarizeShare234
Previous Post

Tafsir Surat An-Naba’ : 34

Ustadz Dhiaurrahman, Lc

Ustadz Dhiaurrahman, Lc

Ustadz Dhiaurrahman, Lc. S1 Hadits Al Azhar - Mesir. Pengajar diniyah di Gistrav Islamia School

Related Stories

Apa Itu Hadis Qudsi?

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
April 27, 2025
0

Hadis Qudsi Ditulis oleh Muhammad Faqihudin Ismail, B.A, M.A. Definisi Hadis Qudsi Nabi ﷺ terkadang beliau menyampaikan nasihat kepada para sahabatnya berupa kisah yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya...

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Cara Menentukan Hadits Shahih atau Dhaif dengan Mushtholah Hadits
  • Tafsir Surat An-Naba’ : 34
  • Menutup Celah dalam Shaf saat Shalat

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Biografi
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Firqah
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Uncategorized
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official