Tafsir Surat An-Naba’ : 35 – Mengapa di Surga Tidak Ada Perkataan Sia-Sia dan Dusta?
Pendahuluan
Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Surga merupakan tempat kenikmatan sempurna yang Allah janjikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Kenikmatan tersebut bukan hanya berupa makanan, minuman, dan tempat tinggal yang indah, tetapi juga kehidupan yang bersih dari berbagai keburukan. Di antara gambaran kenikmatan surga adalah bahwa penghuninya tidak mendengar perkataan sia-sia dan dusta, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا
“Mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan dusta di dalamnya.” (QS. An-Naba’: 35).
Berikut penjelasan beberapa ahli tafsir mengenai ayat yang menggambarkan kesempurnaan kenikmatan surga ini.
Makna Perkataan Sia-Sia dan Dusta
Di antara kenikmatan surga adalah terbebasnya para penghuninya dari perkataan yang sia-sia dan dusta. Tidak ada ucapan batil maupun kebiasaan saling mendustakan yang mengotori kehidupan mereka. Berikut penjelasan Imam Ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H):
وَقَوْلُهُ: ﴿لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا﴾ يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: لَا يَسْمَعُونَ فِي الْجَنَّةِ لَغْوًا، يَعْنِي بَاطِلًا مِنَ الْقَوْلِ، وَلَا كِذَّابًا، يَقُولُ: وَلَا مُكَاذَبَةً، أَيْ لَا يَكْذِبُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا. وَقَرَأَتِ الْقُرَّاءُ فِي الْأَمْصَارِ بِتَشْدِيدِ الذَّالِ عَلَى مَا بَيَّنْتُ فِي قَوْلِهِ: ﴿وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا﴾، سِوَى الْكِسَائِيِّ، فَإِنَّهُ خَفَّفَهَا لِمَا وَصَفْتُ قَبْلُ، وَالتَّشْدِيدُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ التَّخْفِيفِ، وَبِالتَّشْدِيدِ الْقِرَاءَةُ، وَلَا أَرَى قِرَاءَةَ ذَلِكَ بِالتَّخْفِيفِ لِإِجْمَاعِ الْحُجَّةِ مِنَ الْقُرَّاءِ عَلَى خِلَافِهِ، وَمِنَ التَّخْفِيفِ قَوْلُ الْأَعْشَى: فَصَدَقْتُهَا وَكَذَبْتُهَا وَالْمَرْءُ يَنْفَعُهُ كِذَابُهُ.
“Mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan dusta di dalamnya.” Maksudnya, mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia di surga, yaitu perkataan yang bathil. Mereka juga tidak mendengar kedustaan atau saling mendustakan, yakni sebagian mereka tidak berdusta kepada sebagian yang lain. Para ahli qiraah di berbagai wilayah membaca kata كِذَّابًا dengan tasydid pada huruf dzal, sebagaimana telah aku jelaskan pada firman Allah, “Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan yang nyata.” (QS. An-Naba: 28). Pengecualiannya adalah Al-Kisa’i, yang membaca kata tersebut dengan meringankan huruf dzal, tanpa tasydid, sebagaimana telah aku jelaskan sebelumnya. Menurutku, bacaan dengan tasydid lebih aku sukai daripada bacaan tanpa tasydid. Bacaan yang dipilih adalah bacaan dengan tasydid. Aku tidak memilih bacaan dengan meringankan huruf tersebut karena para ahli qiraah yang menjadi pegangan bersepakat pada bacaan yang berbeda darinya. Salah satu contoh penggunaan bentuk bacaan tanpa tasydid terdapat dalam syair Al-A’sya, “Aku membenarkannya dan mendustakannya; seseorang dapat memperoleh manfaat dari dustanya.” (Jami‘ Al Bayan, QS. An-Naba’: 35, 24/42-43).
Kemudian Imam Ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H) menukilkan yang semakna dari Imam Qatadah rahimahullah (w. 117 H) dan Imam Ibnu Zaid rahimahullah (w. 182 H) dimana mereka menjelaskan bahwa maksud dari ayat ini ialah di dalam surga tidak akan ada lagi perkataan yang sia-sia dan buruk yang bisa jadi sering didengar dalam kehidupan dunia ini. (lihat: Jami‘ Al Bayan, QS. An-Naba’: 35, 24/43).
Penjelasan tersebut memberikan gambaran awal tentang bersihnya surga dari ucapan buruk, apapun itu bentuknya.
Bersihnya Surga dari Kebathilan dan Kedustaan
Surga bukan hanya tempat menikmati berbagai kenikmatan, tetapi juga tempat yang bersih dari keburukan perkataan. Para penghuninya tidak mendengar ucapan batil, tidak saling berdusta, dan tidak mengalami dampak buruk sebagaimana yang terjadi pada manusia di dunia. Imam Al-Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) menjelaskan:
قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا﴾ أَيْ فِي الْجَنَّةِ لَغْوًا وَلَا كَذَّابًا. اللَّغْوُ: الْبَاطِلُ، وَهُوَ مَا يُلْغَى مِنَ الْكَلَامِ وَيُطْرَحُ؛ وَمِنْهُ الْحَدِيثُ: «إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ: أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ». وَذَلِكَ أَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ إِذَا شَرِبُوا لَمْ تَتَغَيَّرْ عُقُولُهُمْ، وَلَمْ يَتَكَلَّمُوا بِلَغْوٍ؛ بِخِلَافِ أَهْلِ الدُّنْيَا. وَلَا كَذَّابًا تَقَدَّمَ، أَيْ لَا يَكْذِبُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَلَا يَسْمَعُونَ كَذِبًا. وَقَرَأَ الْكِسَائِيُّ ﴿كِذَابًا﴾ بِالتَّخْفِيفِ مِنْ «كَذَبْتُ كِذَابًا»، أَيْ لَا يَتَكَاذَبُونَ فِي الْجَنَّةِ. وَقِيلَ: هُمَا مَصْدَرَانِ لِلتَّكْذِيبِ، وَإِنَّمَا خَفَّفَهَا هَاهُنَا لِأَنَّهَا لَيْسَتْ مُقَيَّدَةً بِفِعْلٍ يَصِيرُ مَصْدَرًا لَهُ، وَشَدَّدَ قَوْلَهُ: ﴿وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا﴾؛ لِأَنَّ «كَذَّبُوا» يُقَيِّدُ الْمَصْدَرَ بِالْكَذَّابِ.
“Maksud dari firman Allah Ta’ala, “Mereka tidak mendengar di dalamnya,” yakni di surga, perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan dusta. Laghw berarti kebathilan, yaitu perkataan yang diabaikan dan dibuang karena tidak mengandung kebaikan. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadis Nabi ﷺ, “Apabila engkau berkata kepada temanmu, ‘Diamlah!’ pada hari Jumat ketika imam sedang berkhutbah, sungguh engkau telah melakukan perbuatan sia-sia.” (HR. Bukhari no. 934 dan Muslim no. 851). Hal itu karena para penghuni surga, ketika mereka minum, akal mereka tidak berubah dan mereka tidak berbicara dengan perkataan sia-sia. Berbeda halnya dengan keadaan manusia di dunia. Adapun makna firman Allah, “dan tidak pula perkataan dusta,” telah dijelaskan sebelumnya. Maksudnya, sebagian penghuni surga tidak berdusta kepada sebagian yang lain, dan mereka tidak mendengar kedustaan. Al-Kisa’i membaca kata كِذَابًا dengan meringankan huruf dzal (tanpa tasydid), mengikuti bentuk kata كَذَبْتُ كِذَابًا. Maksudnya, para penghuni surga tidak saling mendustakan. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa kedua bentuk kata tersebut merupakan bentuk masdar yang bermakna pendustaan. Al-Kisa’i meringankan bacaannya pada ayat ini karena kata tersebut tidak terikat dengan suatu kata kerja yang menjadikannya sebagai masdar bagi kata kerja itu. Adapun pada firman Allah, “Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan yang nyata,” kata كِذَّابًا dibaca dengan tasydid karena kata kerja كَذَّبُوا mengikat masdar tersebut dengan bentuk pendustaan itu.” (Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran, QS. An-Naba’: 35, 19/184).
Ini mengingatkan kita bahwa kenikmatan surga mencakup kebersihan ucapan dan ketenangan jiwa. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya membiasakan diri menjaga lisan dari perkataan sia-sia dan dusta sejak di dunia, seraya berharap memperoleh kenikmatan surga yang Allah janjikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Surga, Negeri Keselamatan yang Bebas dari Kekurangan
Kenikmatan surga tidak terbatas pada makanan, minuman, dan keindahan tempat tinggal. Di sana, para penghuninya juga terbebas dari perkataan sia-sia, kebohongan, dan segala bentuk kekurangan. Berikut penjelasan Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) mengenai firman Allah dalam Surah An-Naba: 35.
وَقَوْلُهُ: ﴿لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا﴾ كَقَوْلِهِ: ﴿لَا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ﴾ [الطُّورِ: ٢٣]، أَيْ: لَيْسَ فِيهَا كَلَامٌ لَاغٍ عَارٍ عَنِ الْفَائِدَةِ، وَلَا إِثْمَ كَذِبٍ، بَلْ هِيَ دَارُ السَّلَامِ، وَكُلُّ مَا فِيهَا سَالِمٌ مِنَ النَّقْصِ
“Mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan dusta di dalamnya.” Ayat tersebut serupa dengan firman Allah: “Di dalamnya tidak ada perkataan sia-sia dan tidak pula perbuatan dosa.” (QS. Ath-Thur: 23). Maksudnya, di dalam surga tidak ada perkataan sia-sia yang tidak mengandung manfaat, dan tidak pula ada dosa berupa kedustaan. Bahkan, surga adalah negeri keselamatan, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya terbebas dari kekurangan.” (Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim, QS. An-Naba’: 35, 8/308).
Penjelasan Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) menunjukkan kesempurnaan kenikmatan surga, yaitu bukan hanya keindahan dan kesenangan, melainkan juga kehidupan yang bersih dari keburukan dan kekurangan sebagaimana kehidupan di dunia.
Perkataan Tanpa Manfaat dan Dosa Tidak Ada di Surga
Di antara kesempurnaan kenikmatan surga adalah terbebasnya para penghuninya dari perkataan yang tidak bermanfaat dan ucapan yang mengandung dosa. Syaikh Abdurrahman As-Sa’di (w. 1376 H) menjelaskan dengan menghubungkannya dengan firman Allah dalam Surah Al-Waqi’ah, beliau berkata:
﴿لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا﴾ أَيْ: كَلَامًا لَا فَائِدَةَ فِيهِ، ﴿وَلَا كِذَّابًا﴾ أَيْ: إِثْمًا. كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا﴾.
“Mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia di dalamnya.” Maksudnya, perkataan yang tidak mengandung manfaat. “Dan tidak pula perkataan dusta di dalamnya.” Maksudnya, dosa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,(25) selain ucapan, ‘Salam, salam.’(26)” (QS. Al-Waqi’ah: 25–26)”. (Taysirul Karimur Rahman, QS. An-Naba’: 35, hlm. 1073).
Itulah sebabnya kenapa kita perlu menjaga ucapan dari perkataan sia-sia dan segala bentuk perkataan yang mendatangkan dosa. Karena di surga, para penghuninya hanya mendengar perkataan yang baik dan menenteramkan.
Dari penjelasan para ulama tafsir di atas, kita dapat memahami bahwa salah satu kesempurnaan kenikmatan surga adalah terbebasnya para penghuninya dari perkataan sia-sia, kedustaan, dan ucapan yang mengandung dosa. Walaupun dalam menjelaskan ayat ini, mereka menggunakan penekanan yang beragam, tetapi semuanya menggambarkan keadaan surga yang bersih dari keburukan tersebut.
Pelajaran ini patut kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang muslim hendaknya membiasakan diri berbicara dengan baik, menjauhi dusta, serta meninggalkan ucapan yang tidak bermanfaat. Meskipun kehidupan dunia tidak mungkin sepenuhnya terbebas dari perkataan buruk, seorang muslim tetap berkewajiban menjaga lisannya dan memperbaiki adabnya. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita lisan yang senantiasa terjaga, perkataan yang bermanfaat, serta kenikmatan surga yang di dalamnya tidak ada perkataan sia-sia maupun keburukan. Wallahu a’lamu bishshawab.




