<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tafsir surat an-naba - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/tag/tafsir-surat-an-naba/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Apr 2026 07:46:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>tafsir surat an-naba - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 29</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 23:10:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[hisab amal]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ketelitian Allah mencatat amal]]></category>
		<category><![CDATA[makna an naba 29]]></category>
		<category><![CDATA[malaikat pencatat amal]]></category>
		<category><![CDATA[pencatatan amal manusia]]></category>
		<category><![CDATA[tadabbur quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba 29]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2907</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surah an Naba’: 29 &#8211; Ketelitian Allah ﷻ dalam Mencatat Setiap Amal Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴾وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴿ “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.” [QS. an Naba’: 29] &#160; Ayat ini menjadi pondasi penting dalam akidah tentang ilmu Allah, pencatatan amal dan keadilan-Nya pada hari pembalasan, maka mari kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/">Tafsir Surat An-Naba’ 29</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surah an Naba’: 29 &#8211; Ketelitian Allah ﷻ dalam Mencatat Setiap Amal</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p>﴾وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴿</p>
<p><em>“</em><em>Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.</em><em>”</em> [QS. an Naba’: 29]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ayat ini menjadi pondasi penting dalam akidah tentang ilmu Allah, pencatatan amal dan keadilan-Nya pada hari pembalasan, maka mari kita tadabburi lebih dalam lagi.</p>
<h2><strong>Ketelitian </strong><strong>Allah </strong><strong>ﷻ</strong><strong> yang Total</strong></h2>
<p>Imam ath Thabari <strong>رحمه الله</strong> (w. 310 H) berkata:</p>
<p>وَقَوْلُهُ: ﴿وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴾ يَقُولُ تَعَالَىٰ ذِكْرُهُ: وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فَكَتَبْنَاهُ كِتَابًا، كَتَبْنَا عَدَدَهُ وَمَبْلَغَهُ وَقَدْرَهُ، فَلَا يَعْزُبُ عَنَّا عِلْمُ شَيْءٍ مِنْهُ، وَنَصَبَ ﴿كِتَابًاُ﴾ ؛ لِأَنَّ فِي قَوْلِهِ: ﴿أَحْصَيْنَاهُ﴾ مَصْدَرًا أَثْبَتْنَاهُ وَكَتَبْنَاهُ، كَأَنَّهُ قِيلَ: وَكُلَّ شَيْءٍ كَتَبْنَاهُ كِتَابًا</p>
<p>“Dan firman-Nya: <em>‘Dan segala sesuatu telah Kami hitung dan Kami catat dalam suatu kitab,’</em> maksudnya: Kami telah menghitung segala sesuatu lalu Kami menuliskannya sebagai suatu penulisan; Kami tuliskan jumlahnya, batasnya dan ukurannya. Maka tidak ada satu pun darinya yang luput dari pengetahuan Kami. Lafal <em>kitaban</em> dibaca dalam bentuk manshub karena pada firman-Nya <em>ahshaynahu</em> terkandung makna mashdar, yaitu “Kami menetapkannya dan Kami menuliskannya,” seakan-akan dikatakan: “Dan setiap sesuatu Kami tuliskan dalam sebuah kitab.”” [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/36, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Beliau menekankan betapa totalitasnya ilmu Allah <strong>ﷻ</strong><strong>, </strong>dimana jumlah, batas dan kadar semuanya presisi. Tidak ada yang samar dan luput dari pencatatan dan ilmu-Nya.</p>
<h2><strong>Dimensi Bahasa dan Makna</strong></h2>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong>  (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p>“<em>“</em><em>Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.</em><em>”</em> Lafal <em>kulla</em> dibaca manshub karena adanya fi‘il yang diperkirakan, yang ditunjukkan oleh kata <em>ahshaynahu</em>, yaitu: “Dan Kami telah menghitung setiap sesuatu, Kami menghitungnya.” Abus Sammal <strong>رحمه الله</strong> (w. ±160 H) membacanya <em>wa kullu syai-in</em> dengan rafa‘ sebagai mubtada’. Lafaz <em>kitaban</em> dibaca manshub sebagai mashdar karena makna <em>ahshayna</em> adalah “Kami menulis,” yaitu “Kami menuliskannya sebagai suatu penulisan.” Kemudian dikatakan: yang dimaksud adalah ilmu, sebab sesuatu yang ditulis lebih jauh dari kelupaan. Ada pula yang mengatakan: maksudnya Kami menuliskannya di Lauhul Mahfuz agar para malaikat mengetahuinya. Dan ada yang berpendapat: yang dimaksud adalah apa yang dituliskan atas para hamba berupa amal-amal mereka. Maka ini adalah pencatatan yang dilakukan para malaikat yang ditugaskan atas para hamba, berdasarkan perintah Allah <strong>ﷻ</strong> kepada mereka untuk menulis; dalilnya adalah firman-Nya, “Sesungguhnya atas kalian ada para penjaga, yang mulia lagi mencatat.” [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</em>, 19/182, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Beliau <strong>رحمه الله</strong>  membuka tiga kemungkinan makna atau maksud dari ayat ini:</p>
<ol>
<li>Ilmu Allah <strong>ﷻ</strong>;</li>
<li>Lauhul Mahfuzh;</li>
<li>Catatan malaikat atas amal manusia.</li>
</ol>
<p>Semuanya menunjukkan akan <strong>sistem dokumentasi </strong><strong>Allah </strong><strong>ﷻ</strong> <strong>yang sangat sempurna</strong>, sehingga tidak ada celah bagi manusia untuk mengelak dari catatan amalnya<strong>.</strong></p>
<p><strong>Konsekuensi Balasan Amal</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H) berkata:</p>
<p>أَيْ: وَقَدْ عَلِمْنَا أَعْمَالَ الْعِبَادِ كُلَّهُمْ، وَكَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ، وَسَنَجْزِيهِمْ عَلَىٰ ذَلِكَ، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ شَرًّا فَشَر</p>
<p>“Sungguh, Kami telah mengetahui seluruh amal para hamba dan Kami telah mencatatnya atas mereka, dan Kami pasti akan membalas mereka berdasarkan hal itu; jika (amalnya) baik maka (balasannya) kebaikan, dan jika (amalnya) buruk maka (balasannya) keburukan.” [<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beliau <strong>رحمه الله</strong> menjelaskan bahwa pencatatan bukan sekadar dokumentasi, akan tetapi ia adalah <strong>dasar keadilan pembalasan </strong>yang menegaskan bahwasanya setiap balasan yang diterima oleh seorang hamba merupakan akibat dari perbuatannya dan Allah ﷻ tidak akan menzhalimi hambanya <strong>.</strong></p>
<p><strong>Jaminan Keadilan</strong></p>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong>  </strong><strong>رحمه الله </strong>(w. 1376 H) menyampaikan:</p>
<p>“<em>“Dan segala sesuatu,”</em> yang kecil maupun yang besar, baik maupun buruk, <em>“</em><em>telah Kami catat dalam suatu kitab.”</em> yakni Kami tuliskan di Lauh Mahfuz. Maka para pendosa tidak perlu takut, bahwa Kami mengazab mereka atas dosa-dosa yang tidak mereka lakukan, dan jangan pula mereka mengira bahwa ada sesuatu dari amal mereka yang hilang atau dilupakan walaupun seberat dzarah”. [<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Beliau mengaitkannya dengan firman Allah ﷻ:</p>
<p>﴿ وَوُضِعَ ٱلْكِتَـٰبُ فَتَرَى ٱلْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَـٰوَيْلَتَنَا مَالِ هَـٰذَا ٱلْكِتَـٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةًۭ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحْصَىٰهَا ۚ وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ ﴾  حَاضِرًۭا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًۭا</p>
<p><em>“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: &#8220;Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”.</em>(QS. Al Kahfi: 49).</p>
<p>Beliau <strong>رحمه الله</strong> menegaskan bahwa Allah ﷻ tidak akan mengazab hambanya atas apa yang tidak dilakukannya dan sekecil apapun maksiat itu, ia pasti akan diberikan hukuman yang setimpal tidak lebih, tidak pula kurang.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<ol>
<li>An-Naba’: 29 menegaskan, bahwa seluruh amal manusia kecil maupun besar, dicatat secara presisi dalam sistem pencatatan Allah ﷻ melalui malaikat pencatat amal. Dari tafsir para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa Allah ﷻ Maha Mengetahui secara detail, Allah ﷻ Maha Teliti dalam mencatat, Allah ﷻ Maha Adil dalam membalas dan tidak ada kezaliman sedikit pun pada Hari Kiamat.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi orang beriman, ayat ini adalah motivasi untuk menjaga amal. Adapun bagi pelaku maksiat, ini adalah peringatan keras. Karena tidak ada yang hilang, tidak ada yang terlupa, tidak ada yang tidak dibalas dan di situlah letak keadilan yang sempurna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/">Tafsir Surat An-Naba’ 29</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2907/tafsir-surat-an-naba-29/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 28</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 07:22:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[ancaman bagi pendusta]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[makna an naba 28]]></category>
		<category><![CDATA[pembangkangan terhadap ayat Allah]]></category>
		<category><![CDATA[pendustaan yang disengaja]]></category>
		<category><![CDATA[tadabbur quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba 28]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2866</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ 28: Pendustaan yang Disengaja dan Membangkang Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ “Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.” [QS. an Naba’: 28] Ayat ini menyingkap hakikat sikap orang-orang kafir terhadap wahyu bukan sekadar ragu atau lalai, tetapi sebuah pendustaan yang sadar, keras dan penuh perlawanan. Para ulama tafsir memberikan penjelasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/">Tafsir Surat An-Naba’ 28</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><b>Tafsir Surat An-Naba’ 28: Pendustaan yang Disengaja dan Membangkang</b></strong></p>
<p><em><i>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</i></em></p>
<p>Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾</p>
<p><em><i>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.”</i></em> [QS. an Naba’: 28]</p>
<p>Ayat ini menyingkap hakikat sikap orang-orang kafir terhadap wahyu bukan sekadar ragu atau lalai, tetapi sebuah pendustaan yang sadar, keras dan penuh perlawanan. Para ulama tafsir memberikan penjelasan yang saling melengkapi tentang makna kata كِذَّابًا (kidzdzaban). Mari kita simak penjelasannya.</p>
<p><strong><b>Pendustaan yang Sangat Keras dan Disengaja</b></strong></p>
<p>Imam ath Thabari<strong><b> </b></strong><strong><b>ر</b></strong><strong><b>حمه الله</b></strong><strong><b> </b></strong><strong><b> </b></strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p>وَقَوْلُهُ تَعَالَى ﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: وَكَذَّبَ هَؤُلَاءِ الْكُفَّارُ بِحُجَجِنَا وَأَدِلَّتِنَا تَكْذِيبًا، وَقِيلَ: كِذَّابًا وَلَمْ يُقَلْ: تَكْذِيبًا، تَصْدِيرًا عَلَى فِعْلِهِ؛</p>
<p>“Firman-Nya <em><i>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.”</i></em>: (Maksudnya) Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> menjelaskan bahwa orang-orang kafir itu mendustakan hujah-hujah dan dalil-dalil Kami dengan pendustaan; dan dikatakan <em><i>“kidzdzaban”</i></em>, bukan <em><i>“takdziban”</i></em>, sebagai penegasan yang mengikuti perbuatannya.” [<em><i>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</i></em>, 24/35, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Beliau menjelaskan bahwa kata <em><i>“kidzdzaban” </i></em>digunakan sebagai bentuk penegasan pendustaan. Sebagian ulama bahasa menjelaskan bahwa bentuk ini mengikuti pola bahasa Arab tertentu, termasuk dialek Yaman yang fasih. Karena pada ayat ini kata “<em><i>kadzdzabu</i></em>” hadir, para qari’ sepakat membaca <em><i>“kidzdzaban” </i></em>dengan penegasan (tasydid), sementara pada ayat lain yang tidak terikat oleh kata kerja, sebagian ulama—seperti al-Kisā’ī—membacanya dengan peringanan. [<em><i>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</i></em>, 24/35-36, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p><strong><b>Pendustaan Besar dan Berlapis Makna</b></strong></p>
<p>Imam al Qurthubi <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">﴿وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا﴾ أَيْ: بِمَا جَاءَتْ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ، وَقِيلَ: بِمَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْكُتُبِ، وَقِرَاءَةُ الْعَامَّةِ كِذَّابًا بِتَشْدِيدِ الذَّالِ وَكَسْرِ الْكَافِ، عَلَى كَذَبَ؛ أَيْ: كَذَّبُوا تَكْذِيبًا كَبِيرًا، قَالَ الْفَرَّاءُ <strong><b>رحمه الله</b></strong> (ت ٢٠٧ هـ): هِيَ لُغَةٌ يَمَانِيَّةٌ فَصِيحَةٌ، يَقُولُونَ: كَذَبْتُ بِهِ كِذَّابًا، وَخَرَقْتُ الْقَمِيصَ خِرَاقًا، وَكُلُّ فِعْلٍ عَلَى وَزْنِ فَعَّلَ فَمَصْدَرُهُ فِعَّالٌ مُشَدَّدٌ فِي لُغَتِهِمْ؛</p>
<p>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni terhadap apa yang dibawa oleh para nabi dan dikatakan pula: terhadap apa yang Kami turunkan berupa kitab-kitab. Bacaan kebanyakan qari’ adalah “<em><i>kidzdzaban”</i></em> dengan penegasan huruf dzal dan kasrah pada kaf, dari kata “<em><i>kadzaba”</i></em>, maksudnya mereka mendustakan dengan pendustaan yang besar. Al Farra’ <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 207 H) berkata: ini adalah bahasa Yaman yang fasih; mereka mengatakan ‘aku mendustakannya dengan <em><i>kidzdzaban</i></em>’ dan ‘aku merobek baju dengan <em><i>khiraqan</i></em>’; setiap fi‘il pada pola fa’‘ala bermashdar fi‘‘al dalam bahasa mereka.” [<em><i>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</i></em>, 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa pendustaan mereka bukan insidental, melainkan sikap permanen dan ideologis.</p>
<p><strong><b>Pendustaan yang Disertai Pengingkaran Akhirat</b></strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 774 H) menyampaikan:</p>
<p>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni mereka mendustakan hujjah-hujjah Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> dan dalil-dalil-Nya atas makhluk-Nya yang Dia turunkan kepada para rasul-Nya, lalu mereka menyambutnya dengan pendustaan dan sikap membangkang. Firman-Nya <em><i>kidzdzaban</i></em> bermakna ‘pendustaan’ dan ia adalah mashdar yang tidak berasal dari bentuk fi‘ilnya. Disebutkan bahwa pernah terdengar seorang Arab Badui meminta fatwa kepada al Farra’ <strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 207 H) di Bukit Marwah: “<em><i>Al Halq </i></em>(mencukur rambut) atau <em><i>al qishar </i></em>(memendekkan rambut), mana yang lebih engkau sukai?” Dan sebagian mereka melantunkan syair: ‘Sungguh telah lama ia menghalangiku dari sahabat-sahabatku, dan dari kebutuhan yang <em><i>qadha-uha </i></em>(pemenuhannya) menjadi kesembuhanku.’” [<em><i>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</i></em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>Kata <em><i>kidzdzaban</i></em> di sini dipahami sebagai mashdar yang menunjukkan intensitas dan kesinambungan pendustaan.</p>
<p><strong><b>Pendustaan yang Jelas dan Sadar</b></strong></p>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong><b> </b></strong><strong><b>رحمه الله</b></strong> (w. 1376 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ أَيْ: كَذَّبُوا بِهَا تَكْذِيبًا وَاضِحًا صَرِيحًا، وَجَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَانَدُوهَا</p>
<p>“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni mereka mendustakannya dengan pendustaan yang jelas dan tegas, padahal bukti-bukti yang nyata telah datang kepada mereka, lalu mereka menyikapinya dengan penentangan.” [Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa:</p>
<ul>
<li><i></i><em><i>Al Bayyinat</i></em>(bukti-bukti) dari Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> melalui rasul-Nya telah datang kepada mereka;</li>
<li>Kebenaran sudah nyata bagi mereka tanpa sedikitpun keraguan;</li>
<li>Namun mereka tetap memilih sikap <em><i>‘inad</i></em>(keras kepala dan membangkang).</li>
</ul>
<p>Ini menunjukkan bahwa masalah utama mereka bukan kurangnya bukti, melainkan rusaknya sikap hati.</p>
<p><strong><b>Kesimpulan: Pendustaan yang Mengantarkan pada Kebinasaan</b></strong></p>
<p>Dari keempat tafsir di atas, dapat disimpulkan bahwa kata <strong><b>كِذَّابًا</b></strong><strong><b> </b></strong>dalam an Naba’: 28 menggambarkan pendustaan yang disengaja, kuat dan berulang, yang lahir dari penolakan terhadap hari hisab dan sikap membangkang terhadap kebenaran yang sudah jelas.</p>
<p>Pendustaan ini bukan karena kurangnya dalil, melainkan karena hati yang menolak tunduk kepada Allah <strong><b>ﷻ</b></strong>. Inilah sebab mengapa ayat ini menjadi landasan penting dalam memahami hubungan antara akidah akhirat, penerimaan wahyu dan keselamatan manusia.</p>
<p>Pemahaman ini relevan sepanjang zaman, siapa pun yang menolak kebenaran setelah jelas baginya, sejatinya sedang mengulang sikap kaum yang Allah <strong><b>ﷻ</b></strong> cela dalam ayat ini, <em><i>wal’iyadzu billah</i></em> semoga kita dijauhkan dan terlindungi dari sikap demikian.</p>
<p><em><i>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</i></em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/">Tafsir Surat An-Naba’ 28</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2866/tafsir-surat-an-naba-28/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 26</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2026 16:32:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[azab neraka]]></category>
		<category><![CDATA[balasan amal]]></category>
		<category><![CDATA[balasan yang setimpal]]></category>
		<category><![CDATA[hari akhir]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan allah]]></category>
		<category><![CDATA[makna surat an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an-naba ayat 25]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat tentang neraka]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2809</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ 26: Balasan yang Setimpal Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Surah an Naba’: 26 menegaskan prinsip agung dalam al Qur-an yaitu keadilan Allah yang sempurna. adalah Allah ﷻ berfirman: ﴿ جَزَاءً وِفَاقًا ﴾ “Sebagai pembalasan yang setimpal,” (QS. an Naba’: 25) Ungkapan “Sebagai pembalasan yang setimpal,” bukan sekadar ancaman, melainkan penjelasan objektif bahwa setiap konsekuensi akhirat benar-benar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/">Tafsir Surat An-Naba’ 26</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2 class="jeg_post_title"><strong>Tafsir Surat An-Naba’ 26: Balasan yang Setimpal</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Surah an Naba’: 26 menegaskan prinsip agung dalam al Qur-an yaitu keadilan Allah yang sempurna. adalah Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ جَزَاءً وِفَاقًا ﴾</p>
<p><em>“Sebagai pembalasan yang setimpal,”</em> (QS. an Naba’: 25)</p>
<p>Ungkapan <em>“Sebagai pembalasan yang setimpal,”</em> bukan sekadar ancaman, melainkan penjelasan objektif bahwa setiap konsekuensi akhirat benar-benar sepadan dengan amal manusia.</p>
<p><strong>Balasan yang Sepadan dengan Amal</strong></p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: هٰذَا الْعِقَابُ الَّذِي عُوقِبَ بِهِ هٰؤُلَاءِ الْكُفَّارُ فِي الْآخِرَةِ فَعَلَهُ بِهِمْ رَبُّهُمْ ﴿ جَزَاءً ﴾، يَعْنِي: ثَوَابًا لَهُمْ عَلَى أَفْعَالِهِمْ وَأَقْوَالِهِمُ الرَّدِيئَةِ الَّتِي كَانُوا يَعْمَلُونَهَا فِي الدُّنْيَا، وَهُوَ مَصْدَرٌ مِنْ قَوْلِ الْقَائِلِ: وَافَقَ هٰذَا الْعِقَابُ هٰذَا الْعَمَلَ وِفَاقًا</p>
<p>“Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman (yang bermakna): Hukuman ini yang ditimpakan kepada orang-orang kafir itu di akhirat dilakukan oleh Rabb mereka <em>“Sebagai pembalasan”</em>. Maksudnya, sebagai ganjaran atas perbuatan dan ucapan mereka yang buruk, yang dahulu mereka lakukan di dunia. Ia (<em>jaza-an wifaqan</em>) merupakan bentuk mashdar dari ungkapan seseorang: “Hukuman ini sesuai dengan perbuatan itu,” yakni sepadan dan seimbang dengannya.” [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/32, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan bahwa hukuman akhirat yang menimpa orang-orang kafir merupakan balasan yang sesuai dengan perbuatan dan ucapan buruk yang mereka lakukan di dunia. Istilah <em>wifaqan</em> menunjukkan kesepadanan sempurna antara amal dan balasan. Makna ini dikuatkan oleh atsar sahabat dan tabi‘in seperti Ibnu ‘Abbas <strong>رضي الله عنهما </strong>(w. 68 H), Qatadah <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 117 H), Mujahid <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 104 H), ar-Rabi‘ bin Anas <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 139 H) dan Ibnu Zayd <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 182 H). [<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/33-34, cet. Dar Hajar, Kairo].</p>
<p><strong>Analisis Bahasa dan Kesepadanan Hukuman</strong></p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">﴿ جَزَاءً وِفَاقًا ﴾ أَيْ مُوَافِقًا لِأَعْمَالِهِمْ</p>
<p>“<em>Sebagai pembalasan yang setimpal,</em>”; balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.” [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong> (w. 671 H) menekankan sisi kebahasaan. Kata <em>wifaq</em> bermakna kesesuaian, sebagaimana <em>qital</em> bermakna saling berperang. Secara gramatikal, <em>jaza’an</em> adalah mashdar penegas: “Kami membalas mereka dengan balasan yang sepadan dengan amal mereka.” Ia juga mengutip pandangan Muqatil <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 150 H) bahwa tidak ada dosa lebih besar dari syirik dan tidak ada azab lebih besar dari neraka. [<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].</p>
<p><strong>Penegasan Kesepakatan Ulama Salaf (Klasik)</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">أَيْ هٰذَا الَّذِي صَارُوا إِلَيْهِ مِنْ هٰذِهِ الْعُقُوبَةِ وَفْقَ أَعْمَالِهِمُ الْفَاسِدَةِ الَّتِي كَانُوا يَعْمَلُونَهَا فِي الدُّنْيَا؛ قَالَهُ مُجَاهِدٌ وَقَتَادَةُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ</p>
<p>“Maksudnya, keadaan yang mereka alami berupa hukuman tersebut benar-benar sepadan dengan perbuatan-perbuatan rusak yang dahulu mereka kerjakan di dunia. Penafsiran ini disampaikan oleh Mujahid <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 104 H), Qatadah <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 117 H) dan sejumlah ulama tafsir lainnya.” [<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].</p>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) meringkas pandangan salaf yaitu hukuman akhirat sepadan dengan amal rusak yang dikerjakan di dunia. Ia menukil pendapat Mujahid <strong> رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 104 H) dan Qatadah <strong>رحمه</strong> <strong>الله</strong> (w. 117 H) yang menegaskan konsensus makna ayat ini.</p>
<p><strong>Keadilan Allah dan Tanggung Jawab Manusia</strong></p>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menyampaikan:</p>
<p class="arab">اسْتَحَقُّوا هٰذِهِ الْعُقُوبَاتِ الْفَظِيعَةَ جَزَاءً لَهُمْ وَوِفَاقًا عَلَى مَا عَمِلُوا مِنَ الْأَعْمَالِ الْمُوصِلَةِ إِلَيْهَا، لَمْ يَظْلِمْهُمُ اللَّهُ، وَلٰكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ</p>
<p>“Mereka pantas menerima hukuman-hukuman yang dahsyat tersebut sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan—perbuatan yang mengantarkan mereka kepada hukuman itu. Allah tidak menzalimi mereka sedikit pun, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” [<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan,</em> hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].</p>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menegaskan prinsip keadilan Ilahi bahwa Allah <strong>ﷻ</strong> tidak menzhalimi hamba-Nya; manusialah yang menzhalimi diri sendiri. Hukuman datang sebagai konsekuensi logis dari perbuatan yang mengantarkan kepadanya.</p>
<p>Surah an Naba’ ayat 26 menegaskan keadilan Allah <strong>ﷻ</strong> yang absolut. Kesemuanya (semua tafsir yang dinukilkan pada artikel ini) berpadu menyatakan satu pesan yaitu setiap amal memiliki konsekuensi yang setimpal. Inilah pondasi etika Qur-ani yang relevan sepanjang zaman, adil, objektif dan mendidik jiwa untuk bertanggung jawab atas setiap pilihan.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/">Tafsir Surat An-Naba’ 26</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2809/tafsir-surat-an-naba-26/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 25</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2026 16:15:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[azab neraka]]></category>
		<category><![CDATA[hamim dan ghassaq]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[minuman penghuni neraka]]></category>
		<category><![CDATA[siksaan neraka dalam al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an-naba ayat 25]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir ayat tentang neraka]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir islam]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an-naba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2805</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Surat An-Naba’ 25: Minuman Penghuni Neraka Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Al Qur-an menggambarkan siksa neraka tidak hanya melalui api, tetapi juga melalui minuman yang disediakan bagi penghuninya. Di antara gambaran yang paling menggetarkan adalah firman Allah ﷻ : ﴿ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ﴾ “Selain air yang mendidih dan nanah,” (QS. an Naba’: 25) Ayat ini telah dibahas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/">Tafsir Surat An-Naba’ 25</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Surat An-Naba’ 25: Minuman Penghuni Neraka</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Al Qur-an menggambarkan siksa neraka tidak hanya melalui api, tetapi juga melalui minuman yang disediakan bagi penghuninya. Di antara gambaran yang paling menggetarkan adalah firman Allah <strong>ﷻ</strong> :</p>
<p class="arab">﴿ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ﴾</p>
<p><em>“Selain air yang mendidih dan nanah,”</em> (QS. an Naba’: 25)</p>
<p>Ayat ini telah dibahas secara mendalam oleh para mufasir klasik mengulas makna <em>Hamim</em> dan <em>Ghassaq</em>.</p>
<p><strong><em>Ghassaq</em></strong><strong> sebagai Cairan yang Mengalir, Dingin dan Busuk</strong></p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله </strong>(w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">﴿ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ﴾ يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا إِلَّا حَمِيمًا قَدْ أُغْلِيَ حَتَّى انْتَهَى حَرُّهُ، فَهُوَ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ، وَلَا بَرْدًا إِلَّا غَسَّاقًا</p>
<p>“<em>“Selain air yang mendidih dan nanah,”</em> (QS. an Naba’: 25), Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman (yang bermakna): mereka tidak merasakan di dalamnya kesejukan dan tidak pula minuman, kecuali air yang mendidih yang telah dipanaskan hingga mencapai puncak panasnya, sehingga ia seperti logam cair yang membakar wajah-wajah; dan tidak pula kesejukan, kecuali cairan yang busuk.” (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/28, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>Imam ath Thabari <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 310 H) menjelaskan bahwa <em>Ghassaq</em> adalah sesuatu yang mengalir, berasal dari nanah, darah, air mata dan cairan luka penghuni neraka. Ia juga menguatkan pendapat bahwa <em>Ghassaq</em> mencakup <em>Zamharir </em>(dingin yang sangat menusuk) namun dalam bentuk cairan yang busuk. Beliau menukil hadis berikut dari sahabat Abu Sa‘id al Khudri <strong>رضي الله عنه</strong> (w. 74 H):</p>
<p class="arab">« لَوْ أَنَّ دَلْوًا مِنْ غَسَّاقٍ يُهْرَاقُ إِلَى الدُّنْيَا لَأَنْتَنَ أَهْلَ الدُّنْيَا »</p>
<p>“Seandainya satu timba <em>ghassaq</em> ditumpahkan ke dunia, niscaya ia akan membusukkan seluruh penduduk dunia.” [HR. at Tirmidzi no. 2584] (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran</em>, 24/28-32, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p><strong>Analisis Bahasa dan I‘rab (Gramatikal)</strong></p>
<p>Imam al Qurthubi <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 671 H) menyoroti aspek kebahasaan ayat ini. Beliau menyampaikan:</p>
<p class="arab">وَالْحَمِيمُ: الْمَاءُ الْحَارُّ&#8230; وَالْغَسَّاقُ: صَدِيدُ أَهْلِ النَّارِ وَقَيْحُهُمْ، وَقِيلَ: الزَّمْهَرِيرُ</p>
<p>“<em>Hamim</em> adalah air panas… Adapun <em>ghassaq</em> adalah nanah dan cairan busuk penghuni neraka, dan ada pula yang mengatakan <em>zamharir </em>(cairan yang busuk).” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180-181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<p>Ia menjelaskan bahwa pengecualian dalam ayat ini bisa bersifat <em>munqathi‘</em> (terputus) atau <em>badal</em> (pengganti), tergantung penafsiran kata <em>al bard</em> pada ayat sebelumnya. (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran,</em> 19/180, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<h3><strong>Kengerian </strong><strong><em>Hamim </em></strong><strong>dan </strong><strong><em>Ghassaq</em></strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir <strong>ر</strong><strong>حمه الله</strong> (w. 774 H) menyampaikan rangkuman dari riwayat para sahabat dan tabi‘in, beliau berkata:</p>
<p class="arab">فَأَمَّا الْحَمِيمُ: فَهُوَ الْحَارُّ الَّذِي قَدِ انْتَهَى حَرُّهُ وحُموه. والغَسَّاق: هُوَ مَا اجْتَمَعَ مِنْ صَدِيدِ أَهْلِ النَّارِ وَعَرَقِهِمْ وَدُمُوعِهِمْ وَجُرُوحِهِمْ، فَهُوَ بَارِدٌ لَا يُسْتَطَاعُ مِنْ بَرْدِهِ، وَلَا يُوَاجَهُ مَنْ نَتَنِهِ</p>
<p>“Adapun <em>hamim</em>, maka ia adalah air panas yang telah mencapai puncak panas dan suhunya. Sedangkan <em>ghassaq</em>, yaitu sesuatu yang terkumpul dari nanah penghuni neraka, keringat mereka, air mata mereka, dan cairan dari luka-luka mereka; maka ia sangat dingin, tidak dapat ditahan karena dinginnya, dan tidak sanggup dihadapi karena baunya yang busuk.” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).</p>
<p>Beliau menegaskan bahwa <em>hamim</em> dan <em>ghassaq</em> adalah azab yang menggabungkan antara panas dan dingin ekstrem, bau busuk dan rasa yang menjijikkan, sehingga melengkapi makna azab yang total yang sangat mengerikan.</p>
<h3><strong>Penegasan Makna dengan Bahasa Ringkas</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di <strong>رحمه الله</strong> (w. 1376 H) menyampaikan makna ayat secara padat dan menghunjam, beliau berkata:</p>
<p class="arab">﴿ إِلَّا حَمِيمًا ﴾ أَيْ: مَاءً حَارًّا يَشْوِي وُجُوهَهُمْ وَيُقَطِّعُ أَمْعَاءَهُمْ، ﴿ وَغَسَّاقًا ﴾ وَهُوَ صَدِيدُ أَهْلِ النَّارِ فِي غَايَةِ النَّتَنِ وَكَرَاهَةِ الْمَذَاقِ</p>
<p><em>“Selain air yang mendidih”</em>, yaitu air panas yang membakar wajah-wajah mereka dan memutus usus-usus mereka; dan <em>“Dan nanah,”</em>, yaitu nanah penghuni neraka yang berada pada puncak kebusukan dan sangat menjijikkan rasanya.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan,</em> hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam)</p>
<p>Keempat ulama tafsir di atas sepakat bahwa <em>hamim</em> dan <em>ghassaq</em> adalah bentuk azab minuman neraka yang paling mengerikan. <em>Hamim</em> mewakili panas ekstrem yang membakar, sementara <em>ghassaq</em> menggabungkan antara dingin menusuk, dengan cairan busuk dan rasa yang menjijikkan. Perbedaan penafsiran bukanlah kontradiksi, melainkan saling melengkapi dalam menggambarkan kesempurnaan azab.</p>
<p>Semoga Allah melindungi kita dari azab tersebut dan menjadikan al Qur-an sebagai petunjuk dan rahmat bagi kita semua. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/">Tafsir Surat An-Naba’ 25</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2805/tafsir-surat-an-naba-25/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
