Tafsir Surat An-Naba’ 28: Pendustaan yang Disengaja dan Membangkang
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Allah ﷻ berfirman:
﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾
“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.” [QS. an Naba’: 28]
Ayat ini menyingkap hakikat sikap orang-orang kafir terhadap wahyu bukan sekadar ragu atau lalai, tetapi sebuah pendustaan yang sadar, keras dan penuh perlawanan. Para ulama tafsir memberikan penjelasan yang saling melengkapi tentang makna kata كِذَّابًا (kidzdzaban). Mari kita simak penjelasannya.
Pendustaan yang Sangat Keras dan Disengaja
Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) menjelaskan:
وَقَوْلُهُ تَعَالَى ﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: وَكَذَّبَ هَؤُلَاءِ الْكُفَّارُ بِحُجَجِنَا وَأَدِلَّتِنَا تَكْذِيبًا، وَقِيلَ: كِذَّابًا وَلَمْ يُقَلْ: تَكْذِيبًا، تَصْدِيرًا عَلَى فِعْلِهِ؛
“Firman-Nya “Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.”: (Maksudnya) Allah ﷻ menjelaskan bahwa orang-orang kafir itu mendustakan hujah-hujah dan dalil-dalil Kami dengan pendustaan; dan dikatakan “kidzdzaban”, bukan “takdziban”, sebagai penegasan yang mengikuti perbuatannya.” [Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an, 24/35, cet. Dar Hajar, Kairo].
Beliau menjelaskan bahwa kata “kidzdzaban” digunakan sebagai bentuk penegasan pendustaan. Sebagian ulama bahasa menjelaskan bahwa bentuk ini mengikuti pola bahasa Arab tertentu, termasuk dialek Yaman yang fasih. Karena pada ayat ini kata “kadzdzabu” hadir, para qari’ sepakat membaca “kidzdzaban” dengan penegasan (tasydid), sementara pada ayat lain yang tidak terikat oleh kata kerja, sebagian ulama—seperti al-Kisā’ī—membacanya dengan peringanan. [Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an, 24/35-36, cet. Dar Hajar, Kairo].
Pendustaan Besar dan Berlapis Makna
Imam al Qurthubi رحمه الله (w. 671 H) menjelaskan:
﴿وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا﴾ أَيْ: بِمَا جَاءَتْ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ، وَقِيلَ: بِمَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْكُتُبِ، وَقِرَاءَةُ الْعَامَّةِ كِذَّابًا بِتَشْدِيدِ الذَّالِ وَكَسْرِ الْكَافِ، عَلَى كَذَبَ؛ أَيْ: كَذَّبُوا تَكْذِيبًا كَبِيرًا، قَالَ الْفَرَّاءُ رحمه الله (ت ٢٠٧ هـ): هِيَ لُغَةٌ يَمَانِيَّةٌ فَصِيحَةٌ، يَقُولُونَ: كَذَبْتُ بِهِ كِذَّابًا، وَخَرَقْتُ الْقَمِيصَ خِرَاقًا، وَكُلُّ فِعْلٍ عَلَى وَزْنِ فَعَّلَ فَمَصْدَرُهُ فِعَّالٌ مُشَدَّدٌ فِي لُغَتِهِمْ؛
“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni terhadap apa yang dibawa oleh para nabi dan dikatakan pula: terhadap apa yang Kami turunkan berupa kitab-kitab. Bacaan kebanyakan qari’ adalah “kidzdzaban” dengan penegasan huruf dzal dan kasrah pada kaf, dari kata “kadzaba”, maksudnya mereka mendustakan dengan pendustaan yang besar. Al Farra’ رحمه الله (w. 207 H) berkata: ini adalah bahasa Yaman yang fasih; mereka mengatakan ‘aku mendustakannya dengan kidzdzaban’ dan ‘aku merobek baju dengan khiraqan’; setiap fi‘il pada pola fa’‘ala bermashdar fi‘‘al dalam bahasa mereka.” [Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an, 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].
Ini menunjukkan bahwa pendustaan mereka bukan insidental, melainkan sikap permanen dan ideologis.
Pendustaan yang Disertai Pengingkaran Akhirat
Imam Ibnu Katsir رحمه الله (w. 774 H) menyampaikan:
“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni mereka mendustakan hujjah-hujjah Allah ﷻ dan dalil-dalil-Nya atas makhluk-Nya yang Dia turunkan kepada para rasul-Nya, lalu mereka menyambutnya dengan pendustaan dan sikap membangkang. Firman-Nya kidzdzaban bermakna ‘pendustaan’ dan ia adalah mashdar yang tidak berasal dari bentuk fi‘ilnya. Disebutkan bahwa pernah terdengar seorang Arab Badui meminta fatwa kepada al Farra’ رحمه الله (w. 207 H) di Bukit Marwah: “Al Halq (mencukur rambut) atau al qishar (memendekkan rambut), mana yang lebih engkau sukai?” Dan sebagian mereka melantunkan syair: ‘Sungguh telah lama ia menghalangiku dari sahabat-sahabatku, dan dari kebutuhan yang qadha-uha (pemenuhannya) menjadi kesembuhanku.’” [Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].
Kata kidzdzaban di sini dipahami sebagai mashdar yang menunjukkan intensitas dan kesinambungan pendustaan.
Pendustaan yang Jelas dan Sadar
Syaikh as Sa‘di رحمه الله (w. 1376 H) menyampaikan:
﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ أَيْ: كَذَّبُوا بِهَا تَكْذِيبًا وَاضِحًا صَرِيحًا، وَجَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَانَدُوهَا
“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni mereka mendustakannya dengan pendustaan yang jelas dan tegas, padahal bukti-bukti yang nyata telah datang kepada mereka, lalu mereka menyikapinya dengan penentangan.” [Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].
Beliau menegaskan bahwa:
- Al Bayyinat(bukti-bukti) dari Allah ﷻ melalui rasul-Nya telah datang kepada mereka;
- Kebenaran sudah nyata bagi mereka tanpa sedikitpun keraguan;
- Namun mereka tetap memilih sikap ‘inad(keras kepala dan membangkang).
Ini menunjukkan bahwa masalah utama mereka bukan kurangnya bukti, melainkan rusaknya sikap hati.
Kesimpulan: Pendustaan yang Mengantarkan pada Kebinasaan
Dari keempat tafsir di atas, dapat disimpulkan bahwa kata كِذَّابًا dalam an Naba’: 28 menggambarkan pendustaan yang disengaja, kuat dan berulang, yang lahir dari penolakan terhadap hari hisab dan sikap membangkang terhadap kebenaran yang sudah jelas.
Pendustaan ini bukan karena kurangnya dalil, melainkan karena hati yang menolak tunduk kepada Allah ﷻ. Inilah sebab mengapa ayat ini menjadi landasan penting dalam memahami hubungan antara akidah akhirat, penerimaan wahyu dan keselamatan manusia.
Pemahaman ini relevan sepanjang zaman, siapa pun yang menolak kebenaran setelah jelas baginya, sejatinya sedang mengulang sikap kaum yang Allah ﷻ cela dalam ayat ini, wal’iyadzu billah semoga kita dijauhkan dan terlindungi dari sikap demikian.
Wallahu a’lamu bishshawab.





