Tanya.Islam
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
Tanya.Islam
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
Tanya.Islam
No Result
View All Result

Ancaman Berdusta Atas Nama Nabi Muhammad ﷺ

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
November 28, 2025
in Aqidah
Reading Time: 3 mins read

ANCAMAN BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH

“Sesungguhnya berdusta atas nama Nabi ﷺ adalah kejahatan besar yang tidak ada bandingannya dengan kedustaan terhadap siapa pun. Karena dalam kedustaan itu terkandung unsur mengada-adakan atas nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta mengubah ubah apa yang telah Allah turunkan, atau menambah dalam syariat Allah sesuatu yang bukan bagian darinya. Allah Ta’ala berfirman dalam banyak tempat diantaranya dalam surat Al-An’am:

ﵟ‌وَمَنۡ ‌أَظۡلَمُ ‌مِمَّنِ ‌ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﵞ [الأنعام: 21]

Artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah.” [QS. Al-An’am: 93].

Maka tidak diragukan lagi, siapa saja yang berdusta atas nama Nabi ﷺ sama saja ia juga telah berdusta atas nama Allah, karena beliau adalah penyampai risalah dari Allah kepada ummatnya”

Berdusta atas nama Rasulullah ancamannya adalah neraka, dalam hadits yang diriwayatkan sahabat mulia Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa ia mendengar Nabi ﷺ bersabda:

سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: “‌إن ‌كذبا ‌علي ‌ليس ‌ككذب ‌على ‌أحد، ‌من ‌كذب ‌علي ‌متعمدا ‌فليتبوأ ‌مقعده ‌من ‌النار”»

Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak seperti berdusta atas nama orang lain. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap menempati tempat duduknya di neraka.” (H.R al-Bukhari, no. 1291)

Bahkan hadis hadis yang memuat larangan serta ancaman berdusta atas nama Nabi ﷺ mencapai derajat hadis yang mutawatir (yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang banya k yang sangat mustahil adanya kesepakatan mereka untuk berdusta (sejak awal mata rantai sanad) sampai akhir sanad berdasarkan pancaindra).”sebagaimana yang disebutkan oleh As-Suyuti bahwanya hadits tersebut telah  diriwayatkan oleh lebih dari tujuh puluh dua sahabat, dan di antara mereka termasuk juga sepuluh sahabat yang dijanjikan masuk surga.”
(TadrībuRaawi, hal. 190)

Menyebarkan Hadis Palsu = Berdusta Atas Nama Nabi 

Maka hendaknya sesorang wajib memastikan kesahihan hadits-hadits yang akan ia sampaikan dan bersungguh sungguh didalamya.

Al Qodhi Iyadh belia berkata: “Ketahuilah — semoga Allah memberikanmu taufik — bahwa setiap orang yang sudah mampu membedakan antara riwayat hadits yang sahih dan yang lemah, serta mengenali perawi-perawi yang terpercaya dari perawi perawi yang tertuduh berdusta, wajib baginya untuk hanya meriwayatkan hadits yang ia ketahui kebenaran sumbernya dan kejujuran para perawinya. Dan Ia juga harus menghindari meriwayatkan hadits yang berasal dari orang-orang yang cacat kejujurannya, dan orang orang yang memusuhi islam dari para pembuat kebid’ahan.” (lihat: Ikmāl al-Mu‘allim bi-Fawā’id Muslim 1/107)

Adapun bagaimana caranya seseorang dapat mengetahui derajat sebuah hadis sebelum ia sampakan adalah dengan mengetahui siapa yang meriwayatkan hadits tersebut. Jika hadits itu terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, atau salah satunya, maka hal itu menunjukkan bahwa hadits tersebut sahih karena kedua kitab tersebut adalah kitab hadis yang paling shahih. Namun jika haditsnya ada di luar kedua kitab tersebut, maka ia harus bersungguh-sungguh mencari keterangan para ulama alhi hadis yang menjelaskan tentang status derajat hadits tersebut.”

Oleh karenanya seseorang harus berhati hati didalam menyampaikan hadis dari Nabi ﷺ karena hak dan kedudukan Nabi ﷺ lebih agung dari siapapun, terlebih lebih hak syariat maka lebih kuat untuk dijaga. sehingga berbohong atas nama beliau menjadi pembuka jalan untuk merusak syariatnya dan mengubah agamanya.”

Dan sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim didalam menerima maupun menyampaikan sesuatu harus berlandaskan pada metode meneliti, memeriksa dengan cermat, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil hukum serta keputusan berdasarkan berita yang datang, terutama bila berita itu berasal dari orang fasik atau orang yang tidak dikenal. Sehingga jika terbukti ada tanda-tanda menunjukkan bahwa beritanya benar, maka berita tersebut diterima. Tetapi terbukti ada tanda-tanda menunjukkan bahwa dia berdusta, maka beritanya ditolak dan tidak dijadikan dasar. Allah ta,ala berfirman:

ﵟيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ‌إِن ‌جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَﵞ [الحجرات: 6]

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Wallahua’lam…

Ditulis oleh: Ustadz Muhammad Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

 

Tags: hadis palsu
SummarizeShare234
Previous Post

Hukum Muntahan Apakah Najis?

Next Post

Hukum Menikah

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. S1 hadis UIM, S2 Aqidah UIM. Saat ini menempuh program S3 Aqidah di UIM.

Related Stories

Hukum Tabarruk, Tabarruk dalam Islam, Pengertian Tabarruk, Dalil Tabarruk, Tabarruk yang Dibolehkan, Tabarruk yang Dilarang, Tabarruk Menurut Sunnah, Tabarruk dan Syirik, Akidah Islam, Fiqih Islam

Hukum Tabarruk

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
January 28, 2026
0

Tabarruk Sesuai Tuntunan Syariah Masalah tabarruk (mencari keberkahan) termasuk persoalan yang sering disalahpahami akibat sikap berlebihan dan tidak terkontrol. Akibatnya, terjadi pencampuradukan antara tabarruk yang disyariatkan dan yang...

Larangan Merayakan Hari Raya Orang Kafir dalam Islam dan Dalil-Dalilnya

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
October 26, 2025
0

Larangan Merayakan Hari Raya Orang Kafir Salah satu ujian besar bagi umat Islam adalah kebiasaan sebagian dari kita meniru orang ajaran kaum Yahudi dan Nasrani, terutama dalam merayakan...

Saya Mukmin insyaaAllah… Bolehkah Mengatakan Seperti Ini?

by Redaksi
April 28, 2025
0

Saya Mukmin insyaaAllah..? Jika kita ditanya, ‘Apakah anda mukmin?’ Bolehkah kita menjawab, ‘Saya mukmin insyaaAllah’. Apakah jawaban seperti ini benar? ** Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah,...

Tradisi Pecah Kendi di Acara Peresmian

by Redaksi
April 23, 2025
0

Tradisi Pecah Kendi di Acara Peresmian Mohon pencerahan mengenai tradisi pecah kendi ketika melepas jamaah haji. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terkait pecah...

Next Post

Hukum Menikah

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Tafsir Surat An-Naba’ 26
  • Tafsir Surat An-Naba’ 25
  • Menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban: Antara Tuntunan dan Tradisi

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official