Tanya.Islam
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
Tanya.Islam
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
Tanya.Islam
No Result
View All Result

Tradisi Pecah Kendi di Acara Peresmian

Redaksi by Redaksi
April 23, 2025
in Aqidah
Reading Time: 3 mins read

Tradisi Pecah Kendi di Acara Peresmian
Mohon pencerahan mengenai tradisi pecah kendi ketika melepas jamaah haji.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terkait pecah kendi, kita sepakat ini berangkat dari budaya. Islam sama sekali tidak pernah mengajarkannya, baik dalam bentuk dalil tegas maupun isyarat.

Selanjutnya kita akan bicara masalah budaya.

Dalam melakukan sebuah budaya, ada dua motivasi yang menjadi pertimbangan bagi pelakunya,

[1] Karena disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan dan selera masyarakat.
Seperti budaya pakaian, jenis makanan, bentuk tempat tinggal, jenis pekerjaan, dan seterusnya.

Melakukan kegiatan budaya semacam ini, pada asalnya tidak dilarang selama tidak melanggar syariat.

Sebagaimana dinyatakan dalam hadis,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih paham tentang urusan dunia kalian.” (HR. Muslim 6277)

Dan seperti yang kita maklumi, sebab keberadaan hadis ini berkaitan dengan masalah pekerjaan. Di mana para sahabat asli Madinah, mereka mengkawinkan kurma, yang itu membutuhkan banyak effort dalam melakukannya. Karena petani harus naik ke kurma jantan, ambil benang sari, lalu turun, kemudian naik lagi ke pohon kurma betina, untuk menaruhnya di putik.

Melihat ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang aslinya penduduk Mekah merasa terheran, dan menurut beliau itu tindakan yang terlalu banyak buang-buang tenaga. Sehingga beliau sarankan kepada mereka untuk dibiarkan saja, jika memang sudah ditaqdirkan berbuah, pasti akan berbuah.

Walhasil, di tahun itu, banyak kurma gagal berbuah. Dari situlah, beliau menyatakan bahwa urusan dunia, masyarakat lebih paham.

Budaya semacam ini sangat mungkin mengalami perubahan seiring dengan perkembangan interaksi masyarakat dan asimilasi budaya diantara mereka.

[2] Karena dorongan keyakinan tertentu.
Kita menyebutnya dengan filosofi budaya. Lalu dianggap sebagai bagian dari kearifan lokal.

Mengingat berangkat dari filosofi budaya, masing-masing daerah bisa jadi berbeda-beda, tergantung budaya masing-masing.

Pamali yang berlaku di Jogja, berbeda dengan pamali yang berlaku di Sumatra, berbeda pula dengan yang berlaku di Papua atau Lombok.

Demikian pula yang kaitannya dengan sebab keberuntungan. Di Solo, sebab keberuntungan adalah kerbau. Di Papua, sebab keberuntungan adalah babi. Dan mungkin akan berbeda dengan sebab keberuntungan yang berlaku di Lombok ataupun Bali.

Itulah efek dari keberadaan mitos mereka yang berbeda-beda antara satu masyarakat dengan masyarakat lain.

Dan umumnya budaya semacam ini tidak mengalami perubahan. Dari dulu sampai sekarang, sama.

Sekalipun orang menyebut zaman IT, masyarakat sudah modern, budaya dengan latar belakang mitos ini, protap-nya tetap sama.

Yang menjadi persoalan adalah budaya semacam ini seringnya dikait-kaitkan dengan takdir, baik berupa keberuntungan maupun kecelakaan.

Di masyarakat Jogja misalnya, mengadakan hajatan saat bulan Suro (Muharram) adalah sumber ciloko (kecelakaan). Sehingga dijadikan pantangan. Rumah menghadap ke utara dianggap lambang keberkahan, dan seterusnya. Pecah kendi dianggap mendatangkan rizki, dan seterusnya.

Padahal bagi seorang muslim, kita meyakini bahwa takdir adalah ketetapan Allah, di mana tidak ada satupun makhluk yang tahu. Sehingga ketika takdir itu dikaitkan dengan budaya tertentu, kita bisa sebut, ini seperti nekad meraba ‘perbuatan Allah’ dengan aktivitas makhluk-Nya.

Dari mana anda tahu melakukan hajatan saat bulan Muharram adalah sumber musibah?

Dari mana anda tahu saat melepas merpati lalu terbang lurus adalah tanda berkah?

Dari mana anda tahu pecah kendi akan membuka pintu rizki?

Karena itulah, melestarikan budaya semacam ini tidak diperkenankan dalam Islam. Dalam kajian aqidah, ini disebut tiyaroh, meyakini keberuntungan dan kesialan disebabkan kejadian tertentu.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، وما منا إلا ، ولكنَّ اللهَ يُذهِبُه بالتَّوَكُّلِ

“Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan.”

Kata Ibnu Mas’ud, “dan setiap kita pasti pernah mengalaminya. Namun Allah hilangkan itu dengan memberikan tawakkal (dalam hati)” (HR. Abu Daud no. 3910).

Sebab Musibah adalah Durhaka
Bukan berarti tidak ada sebab musibah. Islam juga mengajarkan adanya sebab musibah bagi manusia, yaitu durhaka kepada Sang Pencipta. Sebaliknya sebab keberuntungan adalah ketaatan kepada Sang Pencipta.

Dari mana anda tahu hal ini?

Al-Quran yang menyebutkan itu.

Allah berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. as-Syuro: 30)

Mengenai sebab keberuntungan, Allah berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. al-A’raf: 96)

Demikian, semoga bermanfaat…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits

SummarizeShare234
Previous Post

Hukum Booking Hotel yang Ada Patungnya

Next Post

Orang Shalat Isya Sendirian, Apakah Bacaannya Dikeraskan?

Redaksi

Redaksi

Tanyaislam.com adalah website yang dikelola tim ANB Channel dengan asatidzah yang berkompeten dibidangnya.

Related Stories

polemik tabarruk, tabarruk dalam islam, hadis malik ad dar, kubur nabi, ziarah kubur nabi, tawassu

Polemik Tabarruk: Telaah Hadis Malik ad Dar yang Datang ke Kubur Nabi ﷺ (Bag: 2)

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
February 10, 2026
0

Telaah Hadis Malik ad Dar (Kritik Ilmiah terhadap kisah “Orang yang Datang ke Kubur Nabi ﷺ”) (bag:2) Kedua: Telaah Kritis Terhadap Cacat Pada Matannya Selain tedapat cacat pada...

Polemik Tabarruk Telaah Hadis Malik ad Dar yang Datang ke Kubur Nabi

Polemik Tabarruk: Telaah Hadis Malik ad Dar yang Datang ke Kubur Nabi ﷺ (Bag: 1)

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
February 8, 2026
0

Telaah Hadis Malik ad Dar (Kritik Ilmiah terhadap kisah “Orang yang Datang ke Kubur Nabi ﷺ”) (Bag: 1) Kisah ini merupakan dalil terkuat yang biasa digunakan oleh kelompok...

biografi syaikh muhammad bin abdul wahhab, muhammad bin abdul wahhab, biografi ulama, ulama pembaharu islam, dakwah tauhid, sejarah islam, tokoh islam, aqidah islam, salafi, wahabi, ulama najd

Biografi Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
February 5, 2026
0

Biografi Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Serial Syarh Ushul Tsalatsah ke 1 Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Di tengah banjir narasi keislaman, umat justru kerap kehilangan arah paling mendasar: kepada siapa ibadah...

Hukum Tabarruk, Tabarruk dalam Islam, Pengertian Tabarruk, Dalil Tabarruk, Tabarruk yang Dibolehkan, Tabarruk yang Dilarang, Tabarruk Menurut Sunnah, Tabarruk dan Syirik, Akidah Islam, Fiqih Islam

Hukum Tabarruk

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
January 28, 2026
0

Tabarruk Sesuai Tuntunan Syariah Masalah tabarruk (mencari keberkahan) termasuk persoalan yang sering disalahpahami akibat sikap berlebihan dan tidak terkontrol. Akibatnya, terjadi pencampuradukan antara tabarruk yang disyariatkan dan yang...

Next Post

Orang Shalat Isya Sendirian, Apakah Bacaannya Dikeraskan?

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Menjaga Nyala Iman Sepanjang Tahun
  • Ramadhan Pergi, Masjid Sepi, Apa yang Terjadi?
  • Hukum Menggabungkan Puasa Sunnah Syawwal dengan Puasa Qadha

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official