Pembatal Wudhu
Pengertian Pembatal Pembatal Wudhu “Nawāqiḍ al-Wuḍū’”
Secara bahasa, nawāqiḍ adalah bentuk jamak dari nāqiḍ, yaitu isim fā’il dari kata naqadha al-syai’a yang berarti merusak atau membatalkan sesuatu. (Al-Muṭṭali‘ ‘alā Alfāẓ al-Muqni‘ Syams ad-Dīn al-Ba‘li, hlm. 38, dan “Syarḥ Ḥudūd Ibn ‘Arafah”, hlm. 36).
Secara istilah, nawāqiḍ al-wuḍū’ adalah segala hal yang merusak wudhu; bila ia terjadi setelah wudhu, maka wudhu menjadi batal. (“Asnā al-Maṭālib” karya Zakariyya al-Anshārī (1 / 54), dan “Syarḥ al-Mumti‘” karya Ibnu ‘Utsaimin (1 / 268).
Sebagian ulama mengkritik istilah “nawāqiḍ al-wudhu” karena terdengar seolah-olah wudhu sudah rusak dari asalnya, sehingga seakan salat yang dikerjakan sebelum munculnya pembatal juga ikut batal. Karena itu, ada yang lebih memilih istilah “al-ahdāts” (hadas-hadas) untuk menghindari kesan tersebut.
Namun yang dimaksud dengan nawāqiḍ al-wudhu adalah hal-hal yang membatalkan wudhu setelah terjadi, bukan menjadikan wudhu itu rusak sejak awal. Jadi, wudhu sah sampai muncul salah satu pembatal, dan salat yang dikerjakan sebelumnya tetap sah. (al-Fiqh ‘ala al-Mazāhib al-Arba‘ah (1/73))
Berikut ini adalah jenis-jenis pembatal wudhu yang disepakati para imam mazhab:
Keluarnya Air Kencing atau Kotoran dari Jalan Keluar yang Biasa
Dalil-dalil nya
- Dari al-Qur’an
قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا﴾
“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau datang dari tempat buang air, atau kamu telah menyentuh perempuan, lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik.” (QS. an-Nisā’: 43)
Penjelasan dari dali diatas:.
Maksud kata al-ghā’iṭ dalam ayat tersebut adalah kotoran yang keluar dari manusia, karena makna asal al-ghā’iṭ adalah tempat yang rendah di permukaan tanah (dulu dipakai sebagai tempat buang hajat). Allah mewajibkan wudhu bagi orang yang keluar darinya kotoran itu, dan bila tidak ada air atau tidak mampu menggunakan air, diwajibkan tayamum sebagai gantinya. (Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm” karya Ibnu Katsir (2/314)).
- Dari Sunnah
عن صفوانَ بن عسَّال رَضِيَ اللهُ عنه قال: (كان رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يأمُرُنا إذا كنَّا على سفرٍ أنْ لا ننزِعَ خِفافَنا ثلاثةَ أيَّامٍ ولياليَهنَّ، إلَّا من جنابةٍ، ولكنْ من غائطٍ وبولٍ ونومٍ.
Dari Shafwān bin ‘Assāl radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ memerintahkan kami ketika kami dalam safar agar tidak melepas khuf (sepatu kulit) selama tiga hari tiga malam kecuali karena junub, sedangkan (kalau) karena buang besar, buang air kecil, atau tidur (cukup) mengusap (di atas khuf).” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (96) — dan lafaz ini miliknya kemudian berkata: hadis ini hasan sahih — an-Nasā’ī (127). Dan di hasan oleh al-Bukhari dalam at-Talkhīṣ al-Ḥabīr (1/247).
- Dari Ijma’
قال ابن المُنذِر: (أجمع أهلُ العِلمِ على أنَّ خروجَ الغائِطِ مِن الدُّبُر حدَثٌ ينقُضُ الوضوءَ.
Ibnul Mundzir berkata: “Para ulama sepakat bahwa keluarnya kotoran (tinja) dari dubur adalah hadas yang membatalkan wudhu.” (“Al-Awsath” (1/226)).
وقال النوويُّ: أمَّا الغائِطُ فبنصِّ الكتابِ والسُّنة والإجماع، وأمَّا البَولُ فبالسُّنَّة المستفيضةِ والإجماعِ.
An-Nawawi berkata: “Adapun kotoran (tinja), maka nash al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ menunjukkan ia membatalkan wudhu. Sedangkan kencing, maka ditunjukkan oleh Sunnah yang masyhur dan ijma’.” (Al-Majmū‘” (2/4)).
Keluarnya Angin (Kentut) dari Dubur
Dalil-dalil
- Dari Sunnah
عن أبي هُرَيرةَ رَضِيَ اللهُ عنه قال: قال رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: (لا تُقبَلُ صلاةُ مَن أحْدَثَ حتَّى يتوضَّأَ. قال رجلٌ مِن حَضرمَوت: ما الحدَثُ يا أبا هُرَيرةَ؟ قال: فُساءٌ أو ضُراطٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak diterima salat orang yang berhadas sampai ia berwudhu.”
Lalu ada seorang laki-laki dari Hadhramaut bertanya: “Apakah yang dimaksud hadas itu wahai Abu Hurairah?” Beliau menjawab: “Yaitu kentut ringan (fūsā’) atau kentut keras (dharāt).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (135) — dan lafaz ini miliknya — serta Muslim (225)).
قال الحافظ : والمراد به الخارج من السبيلين، وإنما فسره أبو هريرة بالأخف على الأغلظ؛ ولأنهما قد يقعان في أثناء الصلاة أكثر من غيرهما. فلعله فسر الحدث بالمثال، ولم يقصد الحصر، والله أعلم.
Al-Hāfizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bārī (no. 135) menjelaskan:
“Yang dimaksud hadas adalah segala sesuatu yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur). Abu Hurairah hanya menyebut fūsā’ dan dharāt sebagai contoh yang lebih ringan, karena kedua jenis kentut ini lebih sering terjadi saat salat. Besar kemungkinan beliau menjelaskan dengan contoh, bukan untuk membatasi hanya pada dua itu saja.”
وعَن عبدِ اللهِ بن زيدٍ، أنه شكا إلى رسول الله ﷺ الرجلَ الذي يُخَيَّلُ إليه أنه يجد الشيءَ في الصلاة، فقال: (لا ينفتل أو لا ينصرف حتى يسمع صوتاً أو يجد ريحاً).
Dari ‘Abdullah bin Zaid, ia mengadukan kepada Rasulullah ﷺ tentang seorang lelaki yang seakan-akan merasa ada sesuatu keluar ketika salat. Beliau ﷺ bersabda: “Janganlah ia berpaling (membatalkan salat) sampai ia mendengar suara (kentut) atau mencium baunya.” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (137), dan Muslim (361)).
- Dari Ijma’
قال ابن المُنذِر: أجمع أهلُ العلم على أنَّ خروجَ الرِّيح من الدُّبُرِ حدَثٌ ينقُضُ الوضوء.
Ibnul Mundzir berkata: “Para ulama sepakat bahwa keluarnya angin (kentut) dari dubur adalah hadas yang membatalkan wudhu.” (Al-Awsath” (1/245))
وقال ابن قدامة: الخارِجُ من السَّبيلين على ضَربينِ: معتادٌ كالبَولِ والغائط… والرِّيح؛ فهذا ينقُضُ الوضوءَ إجماعًا.
Ibnu Qudāmah berkata: “Segala yang keluar dari dua jalan ada dua jenis: yang biasa, seperti kencing, kotoran, … dan angin (kentut); maka ini semua membatalkan wudhu berdasarkan ijma’.”( Al-Mughnī” (1/125)).
Keluarnya Madzi
Madzi adalah cairan bening, lengket, yang keluar dari kemaluan laki-laki setelah adanya rangsangan syahwat. (Lihat: “Al-Zāhir fī Gharīb Alfāẓ al-Syāfi‘ī” karya al-Azhari (hlm. 30), dan “Al-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīth wa al-Atsar” karya Ibn al-Atsir (4/312)).
Dalil-dalil
- Dari Sunnah
عن عليٍّ رَضِيَ اللهُ عنه قال: (كنتُ رجلًا مذَّاءً، وكنتُ أستحيِي أنْ أسألَ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم؛ لِمكانِ ابنَتِه، فأمرتُ المِقدادَ بنَ الأسودِ، فسأَلَه، فقال: يَغسِلُ ذَكَرَه ويتوضَّأُ.
Dari ‘Ali radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Aku adalah seorang yang banyak keluar madzi, tetapi aku malu bertanya langsung kepada Nabi ﷺ karena posisi beliau sebagai suami putriku. Maka aku menyuruh al-Miqdād bin al-Aswad untuk menanyakannya. Nabi ﷺ pun menjawab: ‘Hendaklah ia membasuh kemaluannya dan berwudhu.’(HR. al-Bukhari (132), dan Muslim (303) — dan lafaz ini milik Muslim).
وعن ابن عباس، قال في المذي والودي والمني: (من المني الغسل، ومن المذي والودي الوضوء، يغسل حشفته ويتوضأ.
Dari Ibnu ‘Abbās, ketika ditanya tentang madzi, wadi, dan mani, beliau berkata: “Dari mani diwajibkan mandi besar, sedangkan dari madzi dan wadi diwajibkan wudhu. Ia membasuh kepala kemaluannya lalu berwudhu.” (“Al-Muṣannaf” (608)).
- Dari Ijma’
قال ابن عبدِ البَرِّ: لا رخصةَ عند أحدٍ من علماء المسلمين في المَذْي الخارج على الصِّحَّة، كلُّهم يوجِبُ الوضوءَ منه، وهي سنَّةٌ مُجمَعٌ عليها، لا خلافَ –والحمد لله– فيها.
Ibn ‘Abdil Barr berkata: “Tidak ada keringanan menurut satu pun ulama dalam masalah madzi yang keluar pada orang yang sehat; semuanya mewajibkan wudhu karenanya. Ini adalah Sunnah yang disepakati, tidak ada khilaf –alhamdulillah– di dalamnya.” (Al-Istidzkar” (1/242)).
قال ابن قدامة: الخارجُ مِن السَّبيلين على ضَربينِ: معتادٌ كالبَولِ والغائِطِ، والمنيِّ والمذي… فهذا ينقُضُ الوضوءَ إجماعًاز
Ibnu Qudāmah berkata: “Apa yang keluar dari dua jalan ada dua jenis: yang biasa terjadi seperti kencing, kotoran, mani, dan madzi… semua ini membatalkan wudhu berdasarkan ijma’.”( Al-Mughnī” (1/125)).
Bersambung insya Allah…



