Tafsir Surat An-Naba’ 29: Ketelitian Allah ﷻ dalam Mencatat Setiap Amal
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Allah ﷻ berfirman:
﴾وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴿
“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.” [QS. an Naba’: 29]
Ayat ini menjadi pondasi penting dalam akidah tentang ilmu Allah, pencatatan amal dan keadilan-Nya pada hari pembalasan, maka mari kita tadabburi lebih dalam lagi.
Ketelitian Allah ﷻ yang Total
Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) berkata:
وَقَوْلُهُ: ﴿وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴾ يَقُولُ تَعَالَىٰ ذِكْرُهُ: وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فَكَتَبْنَاهُ كِتَابًا، كَتَبْنَا عَدَدَهُ وَمَبْلَغَهُ وَقَدْرَهُ، فَلَا يَعْزُبُ عَنَّا عِلْمُ شَيْءٍ مِنْهُ، وَنَصَبَ ﴿كِتَابًاُ﴾ ؛ لِأَنَّ فِي قَوْلِهِ: ﴿أَحْصَيْنَاهُ﴾ مَصْدَرًا أَثْبَتْنَاهُ وَكَتَبْنَاهُ، كَأَنَّهُ قِيلَ: وَكُلَّ شَيْءٍ كَتَبْنَاهُ كِتَابًا
“Dan firman-Nya: ‘Dan segala sesuatu telah Kami hitung dan Kami catat dalam suatu kitab,’ maksudnya: Kami telah menghitung segala sesuatu lalu Kami menuliskannya sebagai suatu penulisan; Kami tuliskan jumlahnya, batasnya dan ukurannya. Maka tidak ada satu pun darinya yang luput dari pengetahuan Kami. Lafal kitaban dibaca dalam bentuk manshub karena pada firman-Nya ahshaynahu terkandung makna mashdar, yaitu “Kami menetapkannya dan Kami menuliskannya,” seakan-akan dikatakan: “Dan setiap sesuatu Kami tuliskan dalam sebuah kitab.”” [Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an, 24/36, cet. Dar Hajar, Kairo].
Beliau menekankan betapa totalitasnya ilmu Allah ﷻ, dimana jumlah, batas dan kadar semuanya presisi. Tidak ada yang samar dan luput dari pencatatan dan ilmu-Nya.
Imam al Qurthubi رحمه الله (w. 671 H) menjelaskan:
““Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.” Lafal kulla dibaca manshub karena adanya fi‘il yang diperkirakan, yang ditunjukkan oleh kata ahshaynahu, yaitu: “Dan Kami telah menghitung setiap sesuatu, Kami menghitungnya.” Abus Sammal رحمه الله (w. ±160 H) membacanya wa kullu syai-in dengan rafa‘ sebagai mubtada’. Lafaz kitaban dibaca manshub sebagai mashdar karena makna ahshayna adalah “Kami menulis,” yaitu “Kami menuliskannya sebagai suatu penulisan.” Kemudian dikatakan: yang dimaksud adalah ilmu, sebab sesuatu yang ditulis lebih jauh dari kelupaan. Ada pula yang mengatakan: maksudnya Kami menuliskannya di Lauhul Mahfuz agar para malaikat mengetahuinya. Dan ada yang berpendapat: yang dimaksud adalah apa yang dituliskan atas para hamba berupa amal-amal mereka. Maka ini adalah pencatatan yang dilakukan para malaikat yang ditugaskan atas para hamba, berdasarkan perintah Allah ﷻ kepada mereka untuk menulis; dalilnya adalah firman-Nya, “Sesungguhnya atas kalian ada para penjaga, yang mulia lagi mencatat.” [Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an, 19/182, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].
Beliau رحمه الله membuka tiga kemungkinan makna atau maksud dari ayat ini:
- Ilmu Allah ﷻ;
- Lauhul Mahfuzh;
- Catatan malaikat atas amal manusia.
Semuanya menunjukkan akan sistem dokumentasi Allah ﷻ yang sangat sempurna, sehingga tidak ada celah bagi manusia untuk mengelak dari catatan amalnya.
Imam Ibnu Katsir رحمه الله (w. 774 H) berkata:
أَيْ: وَقَدْ عَلِمْنَا أَعْمَالَ الْعِبَادِ كُلَّهُمْ، وَكَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ، وَسَنَجْزِيهِمْ عَلَىٰ ذَلِكَ، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ
“Sungguh, Kami telah mengetahui seluruh amal para hamba dan Kami telah mencatatnya atas mereka, dan Kami pasti akan membalas mereka berdasarkan hal itu; jika (amalnya) baik maka (balasannya) kebaikan, dan jika (amalnya) buruk maka (balasannya) keburukan.” [Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].
Beliau رحمه الله menjelaskan bahwa pencatatan bukan sekadar dokumentasi, akan tetapi ia adalah dasar keadilan pembalasan yang menegaskan bahwasanya setiap balasan yang diterima oleh seorang hamba merupakan akibat dari perbuatannya dan Allah ﷻ tidak akan menzhalimi hambanya .
Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (w. 1376 H) menjelaskan:
﴿وَكُلُّ شَيْءٍ﴾ مِنْ قَلِيلٍ وَكَثِيرٍ… ﴿أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴾ أَيْ: كَتَبْنَاهُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ… فَلَا يَخْشَى الْمُجْرِمُونَ أَنَّا عَذَّبْنَاهُمْ بِذُنُوبٍ لَمْ يَعْمَلُوهَا…
“Dan segala sesuatu”, baik yang kecil maupun yang besar,
“telah Kami hitung dalam sebuah kitab”, yaitu: Kami telah menuliskannya di dalam Lauh Mahfuzh.
Maka para pelaku kejahatan tidak perlu khawatir bahwa Kami akan mengazab mereka atas dosa-dosa yang tidak mereka lakukan (karena semuanya telah tercatat dengan sangat teliti). (Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hlm. 906 (Mu’assasah ar-Risālah).
Beliau mengaitkannya dengan firman Allah:
﴿وَوُضِعَ الْكِتَابُ… لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا﴾ (QS. Al-Kahfi: 49)
“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu kamu akan melihat orang-orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya’” (QS. Al-Kahfi: 49)





