Tafsir Surat An-Naba’ 27: Mengapa Orang Kafir Tidak Takut Hisab?
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Al Qur-an tidak sekadar mengabarkan adanya azab, tetapi juga menjelaskan sebab-sebabnya secara rinci. Salah satu sebab utama yang Allah ﷻ sebutkan adalah hilangnya keyakinan terhadap hari perhitungan. Dalam Surah An-Naba’ ayat 27, Allah ﷻ menyingkap akar kerusakan akidah yang melahirkan kelalaian total terhadap akhirat. Allah ﷻ berfirman:
﴿ إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا ﴾
“Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,” (QS. an Naba’: 27)
Akar Masalah: Tidak Takut Hisab
Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) menjelaskan:
إِنَّ هَؤُلَاءِ الْكُفَّارَ كَانُوا فِي الدُّنْيَا لَا يَخَافُونَ مُحَاسَبَةَ اللَّهِ إِيَّاهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَلَى نِعَمِهِ عَلَيْهِمْ، وَإِحْسَانِهِ إِلَيْهِمْ، وَسُوءِ شُكْرِهِمْ لَهُ عَلَى ذٰلِكَ
“Bahwasanya orang-orang kafir itu ketika di dunia tidak takut akan perhitungan Allah ﷻ terhadap mereka di akhirat atas nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada mereka, kebaikan-Nya kepada mereka, serta buruknya rasa syukur mereka kepada-Nya atas semua itu.” [Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an, 24/34, cet. Dar Hajar, Kairo].
Menurut Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H), masalahnya bukan sekadar maksiat, tetapi ketiadaan rasa takut terhadap hisab. Mereka hidup menikmati nikmat Allah ﷻ, namun tidak pernah membayangkan akan dimintai pertanggungjawaban atas nikmat tersebut. Nas-alullah as Salamah wal ‘afiyah fid dun-ya wal akhirah.
Hisab yang Tidak Ditakuti dan Pahala yang Tidak Diharapkan
Imam al Qurthubi رحمه الله (w. 671 H) menjelaskan:
﴿ إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ ﴾ أَيْ لَا يَخَافُونَ ﴿ حِسَابًا ﴾ أَيْ مُحَاسَبَةً عَلَى أَعْمَالِهِمْ، وَقِيلَ: مَعْنَاهُ لَا يَرْجُونَ ثَوَابَ حِسَابٍ، الزَّجَّاجُ: أَيْ إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يُؤْمِنُونَ بِالْبَعْثِ فَيَرْجُونَ حِسَابَهُمْ
““Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut),” maksudnya ialah mereka tidak merasa takut.
“kepada hisab,” yakni pertanggungjawaban atas amal perbuatan mereka. Ada pula yang mengatakan, maknanya adalah mereka tidak mengharapkan pahala dari adanya perhitungan.
Az Zajjaj رحمه الله (w. 311 H) menjelaskan bahwa maksud ayat ini adalah sesungguhnya mereka tidak beriman kepada kebangkitan, sehingga mereka tidak mengharapkan dan tidak mempercayai adanya perhitungan amal.” [Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an, 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].
Imam al Qurthubi رحمه الله (w. 671 H) menegaskan dua sisi kehancuran akidah:
- Tidak takut hukuman Allah ﷻ;
- Tidak berharap pahala dari Allah ﷻ.
Orang yang tidak berharap pahala, tidak memiliki motivasi amal. Inilah kematian spiritual sebelum kematian jasad.
Penolakan Akhirat: Sumber Segala Kerusakan
Imam Ibnu Katsir رحمه الله (w. 774 H) menyampaikan:
أَيْ: لَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ أَنَّ ثَمَّ دَارًا يُجَازَوْنَ فِيهَا وَيُحَاسَبُونَ
“Maksudnya, mereka tidak meyakini bahwa terdapat suatu negeri (kehidupan akhirat) tempat mereka akan dibalas dan diperhitungkan amal perbuatannya.” [Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].
Imam Ibnu Katsir رحمه الله (w. 774 H) menegaskan bahwa ayat ini berbicara tentang kerusakan akidah yang mendasar yaitu mereka tidak meyakini adanya negeri akhirat sama sekali.
Jika akhirat dianggap mitos, maka:
- Maksiat menjadi wajar;
- Kezhaliman terasa aman;
- Amal shaleh dianggap sia-sia.
Dampak Nyata: Mengabaikan Amal Akhirat
Syaikh as Sa‘di رحمه الله (w. 1376 H) menyampaikan:
وَذَكَرَ أَعْمَالَهُمْ، الَّتِي اسْتَحَقُّوا بِهَا هٰذَا الْجَزَاءَ، فَقَالَ: ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا﴾ أَيْ: لَا يُؤْمِنُونَ بِالْبَعْثِ، وَلَا أَنَّ اللَّهَ يُجَازِي الْخَلْقَ بِالْخَيْرِ وَالشَّرِّ، فَلِذٰلِكَ أَهْمَلُوا الْعَمَلَ لِلْآخِرَةِ
“Allah menyebutkan amal perbuatan mereka yang dengannya mereka pantas menerima balasan tersebut. Lalu Dia berfirman, “Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,” yakni mereka tidak beriman kepada kebangkitan dan tidak pula meyakini bahwa Allah membalas seluruh makhluk dengan kebaikan maupun keburukan. Oleh karena itu, mereka mengabaikan amal perbuatan untuk kehidupan akhirat.” [Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].
Syaikh as Sa‘di رحمه الله (w. 1376 H) menjelaskan dampak praktisnya:
Kerusakan akidah akan menyebabkan kelalaian dalam beramal, bukan karena mereka tidak tahu,
akan tetapi karena mereka tidak percaya bahwa amal tersebut akan dibalas.
Surah an Naba’ ayat 27 menyingkap akar kehancuran moral dan spiritual manusia, yaitu hilangnya iman kepada hisab (pembalasan) dan akhirat. Empat tafsir utama Ahlus Sunnah sepakat bahwa orang yang tidak mengharapkan hisab maka ia:
- Tidak takut akan dosa;
- Tidak berharap pahala atas amal mereka;
- Tidak meyakini kebangkitan setelah kematian;
- Dan akhirnya mengabaikan amal akhirat.
Inilah sebab mengapa azab Allah ﷻ datang bukan secara tiba-tiba, tetapi sebagai konsekuensi logis dari akidah yang rusak. Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa iman kepada hari perhitungan adalah pondasi utama keshalihan seorang hamba.
Wallahu a’lamu bishshawab.





