• Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Membaca Ta’awudz Saat Mengutip Ayat Al-Quran Ketika Ceramah

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
May 11, 2025
in Adab & Akhlak
Reading Time: 4 mins read

Membaca Ta’awudz Ketika Membaca Ayat Al Quran Dalam Ceramah dan Khutbah

Pertanyaan:

Apa hukum membaca isti‘aadah (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم) ketika mengutip ayat Al-Qur’an dalam khutbah, nasihat, dan pembicaraan ?

Jawaban:

Al-ḥamdulillahi rabbil-‘alamin, was-shalatu was-salamu ‘ala sayyidil-mursalin, wa ‘ala alihi wa ṣaḥbihi ajma‘in.

Sebelum memasuki pembahasan inti, saya akan terlebih dahulu menjelaskan batasan inti dari masalah ini, maka saya katakan: orang yang ingin membaca sebagian dari Al-Qur’an, maka ia tidak lepas dari tiga kemungkinan:

Pertama: Jika pembacaan tersebut dimaksudkan sebagai tilawah seperti mlantunkan ayat Al Quran untuk mengaji atau yang semisalnya, maka pada kondisi ini disyariatkan untuk membaca isti’adzah (ta‘awudz), bahkan mayoritas ulama berpendapat bahwa membaca isti’adzah (ta’awudz) hukumnya sunnah ketika hendak membaca Al-Qur’a. (Lihat: Tafsir ath-Thabari (17/294), Al-Muḥallā (3/247), Al-Mabsūṭ (1/88), Al-Adzkar karya An-Nawawi, (hlm. 68), Tafsir Ibnu Katsir (2/586), dan Aḍwā’ul-Bayān (1/325))

Keadaan kedua: Jika bacaan tersebut adalah bacaan Surah Al-Fatihah dalam shalat. Bila itu terjadi pada rakaat pertama, maka membaca isti’adzah disunnahkan menurut semua ulama. Namun, ada riwayat dari Imam Mālik bahwa beliau tidak membaca isti’adzah dalam shalat fardhu. Adapun jika bacaan Al-Fatihah tersebut terjadi pada rakaat kedua dan seterusnya, maka terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Keadaan ini juga bukan bagian dari pokok pembahasan kita. (lihat: al-Mawsū‘ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (4/11-13)

Keadaan ketiga: Jika pembacaan ayat tidak dimaksudkan sebagai tilawah dan bukan dalam shalat, melainkan hanya untuk dijadikan sebagai kutipan atau dalil dalam sebuah hujjah, nasihat, khutbah, dan yang semisalnya, maka inilah yang jadi inti dari pembahaan kita.

Pertama tama perlu diketahu para ulama sepakat bahkan mereka berijma’ bahwasanya bacaan isti’adzah bukan bagian dari Al Quran, Al Qurtubi berkata:

وقد أجمع العلماء على ‌أن ‌التعوذ ‌ليس ‌من ‌القرآن ولا آية منه، وهو قول القارئ: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Artinya: Para ulama telah sepakat bahwa ta’awwudz (isti’adzah) bukan bagian dari Al-Qur’an dan bukan merupakan salah satu ayat darinya. Yang dimaksud dengan ta’awwudz adalah ucapan seorang qari’: ‘A‘ūdzu billāhi min asy-syayṭāni r-rajīm’.”
(Tafsir Al-Qurṭubī = Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, 1/86).

Maka dari sini tidak disyariatkan seseorang membaca isti’adzah ketika mengutip ayat Al-Qur’an sebagai bentuk istidlal (pengambilan dalil) atau hujjah (argumen), agar dapat membedakan antara kalam Allah dan ucapan selain-Nya. Karena ta’awudz sebagaimana yang sudah kita sampaikan diatas bukanlah bagian dari Al Quran, sehingga cukup dia mengatakan: ‘Allah Ta‘ala berfirman’ atau ungkapan semisalnya.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وإنما يكتفي بــ ” قال الله تعالى ” ، أو ما أشبه ذلك، مما يميز القرآن الكريم عن غيره ” انتهى.

Artinya: “maka cukup baginya mengatakan: ‘Allah Ta‘ala berfirman’ atau semisalnya, sehingga  dapat  dibedakan antara Al-Qur’an dari selainnya.“ (Syarḥ al-Arba‘īn an-Nawawiyyah, hlm. 301)

As Suyuthi berkata: “Telah sampai kepadaku pertanyaan tentang sesuatu yang sering terjadi, yaitu ketika seseorang ingin menyebutkan suatu ayat, ia berkata: ‘Allah Ta‘ala berfirman a‘ūdzu billāhi min asy-syayṭānir-rajīm lalu ia menyebutkan ayat tersebut. Apakah apakah orang yang membacanya dengan cara seperti itu benar atau keliru?”

Maka beliau menjawab: “Pendapat yang tampak benar menurut saya, dan berdasarkan riwayat dan dalil, adalah bahwa seharusnya seseorang cukup mengatakan: ‘Allah Ta‘ala berfirman’ lalu menyebutkan ayat, tanpa menyebut isti’adzah. Karena inilah yang diriwayatkan secara sahih dalam hadis-hadis dan atsar dari perbuatan Nabi ﷺ, para sahabat, para tabi‘in, dan generasi setelah mereka.

Kemudian beliau melanjutkan: Hadis-hadis dan atsar dalam masalah ini sangatlah banyak dan tidak dapat dihitung. Maka yang wajib adalah cukup menyebutkan ayat tanpa isti’adzah, mengikuti apa yang diriwayatkan dalam hal itu. Sebab perkara ini adalah perkara ittiba‘ (mengikuti tuntunan). Sedangkan perintah membaca isti’adzah dalam firman Allah Ta‘ala: “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” [Q.S An-Nahl : 98]. itu ditujukan untuk membaca Al-Qur’an dalam rangka tilawah (melantunkan Al Qur’an, adapun menyebutkan satu ayat untuk dijadikan dalil atau hujjah terhadap suatu hukum, maka tidak disyariatkan membaca isti’adzah.”

Maka kesimpulanya adalah tidak diragukan lagi bahwa perbuatan tersebut (mebaca isti’adzah sebelum mengutip ayat dalam khutbah atau nasehat dan yang semisalnya) tidaklah disyariatkan karena tiga alasan:

Pertama: Perbuatan itu bukanlah bertujuan melatuntan Al Quran (tilawah), melainkan hanya mengutip ayat sebagai dalil. Sedangkan Allah berfirman:
‘Apabila kamu membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk’ (Surat An-Nahl, ayat 98). Dan yang dimaksud dengan ‘membaca’ dalam ayat ini adalah tilawah bukan membaca yang tujuanya mengutip.

Kedua: Nabi ﷺ  dalam hadis hadisnya yang sahih tatkala hendak mengutip ayat beliau tidak pernah melakukan hal tersebut, berdasarkan sejauh penelitian terhadap semua riwayat yang ada tentang cara beliau mengutip ayat. Tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau membaca isti’adzah saat hendak mengutip ayat dengan tujuan beristidlal (berdalil) dengan ayat Al Quan.

Ketiga: Para khatib kebanyakn dari mereka melakukan hal ini, biasanya hanya menyertakan isti’adzah dipotongan ayat bagian terakhir saja, bukan pada ayat-ayat sebelumnya. Ini jelas merupakan tindakan mengkhususkan sesuatu tanpa dasar yang sah. Dan di sinilah letak kekeliruan dan kekurangannya, dan perlu diketahu Nabi ﷺ  beliau sering berkhutbah dihadapan para sahabatnya dan tentu khutbah beliau penuh dengan kutipan ayat-ayat Al Quran akan tetapi tidak ada riwayat beliau membaca istiadzah sebelum mengutip sebuah ayat (Lihat: Al-Shāmil fī Fiqh al-Khaṭīb wa al-Khuṭbah, Syaikh Saud bin Ibrāhīm al-Shuraim, hal. 353).

Wallāhu a‘lam.

Dijawab oleh: Ustadz Muhammad Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

SummarizeShare236
Previous Post

Ayah Tidak Ada, Siapa Wali Nikah yang Sah? Ini Urutan Lengkap dan Ketentuannya 

Next Post

Memahami Hari-Hari Tasyriq di Bulan Dzulhijjah

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. S1 hadis UIM, S2 Aqidah UIM. Saat ini menempuh program S3 Aqidah di UIM.

Related Stories

bulan muharram

Kesempatan Menjalankan Sunnah di Bulan Muharram

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
June 25, 2026
0

Ketika Ia Datang, Tetapi Hampir Tidak Terasa Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Setiap tahun kaum muslimin memasuki bulan Muharram. Kalender Hijriah berganti, berbagai ‎ucapan tahun baru Islam beredar, namun ada satu hal...

Larangan Mencela Sahabat Nabi ﷺ dan Kedudukan Mereka dalam Islam

Larangan Mencela Sahabat Nabi ﷺ dan Kedudukan Mereka dalam Islam

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
June 22, 2026
0

Larangan Mencela Sahabat Nabi ﷺ dan Kedudukan Mereka dalam Islam Di antara prinsip penting dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah menjaga hati dan lisan terhadap para sahabat...

husnul khatimah

Husnul Khatimah: Puncak Harapan Orang Beriman di Akhir Kehidupan

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
June 12, 2026
0

Husnul Khatimah: Puncak Harapan Orang Beriman di Akhir Kehidupan Kehidupan dunia, sepanjang apa pun usianya dan sebanyak apa pun kesenangannya, pasti akan berakhir. Setiap manusia akan meninggalkan dunia...

masuk kota mekkah

Langkah Pertama Saat Tiba Di Mekkah

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
April 23, 2026
0

Langkah Pertama Saat Tiba Di Mekkah Antara Sunnah Nabi ﷺ Dan Kesalahan Jamaah Masa Kini Datang ke Makkah untuk Apa? Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du.  Tidak sedikit jamaah haji dan umrah yang...

Next Post

Memahami Hari-Hari Tasyriq di Bulan Dzulhijjah

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Suka Kepada Sesama Jenis, Apakah Berdosa?
  • Benarkah Syi’ah Sudah Ada Sejak Zaman Nabi – Part 2
  • Benarkah Syi’ah Sudah Ada Sejak Zaman Nabi – Part 1

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Firqah
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Uncategorized
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official