Tanya.Islam
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
Tanya.Islam
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
Tanya.Islam
No Result
View All Result

Adab Ziarah Kubur (Bag. 1)

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
July 1, 2025
in Fiqih, Jenazah
Reading Time: 6 mins read

ADAB BERZIARAH KUBUR (bag. 1)

Ustadz Muhammad Faqihudin Ismail, B.A, M.A

Sesungguhnya di antara hal yang dianjurkan oleh Islam dan ditekankan kepada umatnya adalah menziarahi kubur kaum Muslimin. Ziarah kubur merupakan sunah yang sangat dianjurkan, berdasarkan perbuatan dan perkataan Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini dikarenakan ziarah kubur mengandung pengingat akan kematian dan kehidupan akhirat. Sehingga sunahnya, seorang mukmin menziarahi kubur dengan penuh khusyuk, disertai kerinduan terhadap akhirat, dengan tujuan untuk mengambil pelajaran dan peringatan, serta menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang yang telah meninggal dan mendoakan mereka. Olehkrnanya seorang muslim hendaknya memperhatikan adab- adab berziarah agar ibadah ziarahnya sesuai dengan tuntunan nabi ﷺ .

Diantara adab adab dalam berziarah kubur adalah:

  • Berziarah Kubur untuk mengingat kematian

Ziarah kubur disyariatkan untuk mengambil pelajaran dan mengingat akhirat, Terdapat beberapa hadis tentang hal ini diantaranya:

Dari Buraidah bin al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

«إني كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها، فإنها تذكركم الاخرة، ولتزدكم زيارتها خيرا، فمن أراد أن يزور فليزر، ولا تقولوا هجرا».

“Dulu aku telah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah kubur, karena ia mengingatkan kalian pada akhirat, dan agar ziarah itu menambah kebaikan bagi kalian, maka barang siapa ingin berziarah, hendaklah ia berziarah, dan janganlah kalian mengucapkan perkataan yang batil (keji)”. (H.R Imam Ahmad dalam Musnad-nya (5/ 361), dan An-Nasa’i dalam Sunan-nya (no. 2033).. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Khulāṣah (2, hal 1060), dan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Irwā’ al-Ghalīl (jilid 3, hal 226).”

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab al-Majmu‘ (5/310): makna “Al-Hajr (الهجر) adalah perkataan yang batil. Dahulu larangan menziaraihi kubur disebabkan karena mereka baru saja terlepas dari masa jahiliah, yang mana memungkinkan mereka mengucapkan perkataan batil jahiliah. Namun setelah Islam kokoh, hukum-hukumnya mapan, dan syiarnya tersebar, maka dibolehkan bagi mereka untuk berziarah.dan Nabi ﷺ tetap mewanti wanti dengan bersabda: ‘Dan janganlah kalian mengucapkan perkataan yang batil’.”

As-Shan’ani dalam Subul as-Salām (2/162), setelah menyebutkan hadis-hadis tentang ziarah kubur dan hikmahnya, berkata:

«الكل دال على مشروعية زيارة القبور وبيان الحكمه فيها، وأنها للاعتبار – … ، فإذا خلت من هذه لم تكن مرادة شرعا»

“Semua itu menunjukkan disyariatkannya ziarah kubur dan penjelasan hikmahnya, yaitu untuk mengambil pelajaran. Maka apabila ziarah tidak mengandung hal itu, maka tidak termasuk yang dimaksud secara syar‘i.”

  • Mendo’akan ampunan untuk si Mayit

Tujuan dari ziarah adalah berbuat baik kepada mayit dengan memberikan salam kepadanya dan mendoakan rahmat serta ampunan untuknya, dan memohonkan keselamatan baginya. Dalam hadis sahih dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa beliau mengajarkan mereka (para sahabat) apabila keluar menuju kuburan, hendaknya mengucapkan:

“السلام عليكم يا أهل الديار من المسلمين والمؤمنين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون أنتم لنا سلف ونحن لكم تبع نسأل الله لنا ولكم العافية”.

“Assalamu ‘alaikum ya ahlad diyār minal muslimīn wal mu’minīn, wa innā in syā’ Allāh bikum lāhiqūn, antum lanā salafun wa naḥnu lakum taba‘, nas’alullāha lanā wa lakumul ‘āfiyah.” (Artinya: Semoga keselamatan tercurah atas kalian, wahai penghuni negeri akherat dari kalangan muslimin dan orang-orang beriman. Sesungguhnya kami – insya Allah – akan menyusul kalian. Kalian telah mendahului kami, dan kami akan mengikuti kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian). (H.R.  Muslim (975).

Maka, diperintahkan kepada kita ketika berziarah kubur untuk memberi salam kepada mereka dan mendoakan mereka.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah berkata:

“زيارة أهل التوحيد لقبور المسلمين تتضمن السلام عليهم، والدعاء لهم”

“Ziarahnya kaum muslimin yang bertauhid kepada kubur saudara-saudaranya yang muslim mencakup memberi salam kepada mereka dan mendoakan mereka.” (al-Radd ‘alā al-Akhna’ī, hal. 124)

Allah Ta‘ala juga berfirman:

( وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ)

 “Dan orang-orang yang datang setelah mereka (muhajirin dan anshar) mengatakan: ‘Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman sebelum kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’ [Q.S.  Al Hasyr: 10]

Allah ﷻ dalam ayat ini menyebut golongan ketiga dari kalangan orang beriman, setelah menyebutkan kaum Muhajirin dan Anshar. Golongan ketiga ini cirinya adalah mendoakan ampunan untuk orang-orang beriman yang telah wafat mendahului mereka.

  • Ziarah Tidak Dimaksudkan untuk Berdoa kepada Mayit dan yang semisalnya

Tidaklah dimaksudkan dari ziarah ini untuk berdoa di sisi kuburan, meminta pertolongan kepada mayit, bertawassul dengannya, atau memohon kebutuhan padanya, karena ia (mayit) sendiri sedang memerlukan doa dari orang hidup dan bukan sebaliknya. Semua ini termasuk perkara kesyirikan.

Allah ﷻ berfirman:

(ولَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصَيبُ بِهِ مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ)

“Dan janganlah kamu menyeru (berdoa) kepada selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat maupun mudarat kepadamu. Jika kamu melakukannya, maka sungguh kamu termasuk orang-orang yang zalim. Dan jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan untukmu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Q.S.  Yunus: 106–107]

Syaikhul Islam berkata:

“وزيارة أهل الشرك تتضمن أنهم يشبّهون الخلوق بالخالق، ينذرون له، ويسجدون له، ويدعونه ويحبونه كما يحبون الله، فيكونون قد جعلوه لله ندّا، وسووه برب العالمين “

“Ziarah orang-orang musyrik mencakup penyerupaan antara makhluk dan Khalik. Mereka bernazar untuk mayit, sujud padanya, berdoa kepadanya, dan mencintainya seperti mencintai Allah. Mereka telah menjadikannya sekutu bagi Allah dan menyamakan kedudukannya dengan Rabb semesta alam.” (al-Radd ‘alā al-Akhna’ī, hal. 124)

Beliau juga berkata: “Demikian pula para nabi dan orang-orang saleh, walaupun mereka hidup di dalam kuburnya, dan seandainya mereka bisa mendoakan orang hidup (sebagaimana ada riwayat yang menyebutkan), tetap saja tidak boleh seorang pun meminta doa kepada mereka, dan para salaf tidak melakukan hal itu, karena hal tersebut adalah jalan menuju syirik dan bentuk ibadah kepada mereka untuk selain Allah. Berbeda halnya jika meminta kepada mereka sewaktu masih hidup, maka itu tidak membawa kepada syirik.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 1/330)

Maka meminta pertolongan kepada orang-orang yang telah dikubur, siapa pun mereka, meminta agar kebutuhannya dipenuhi oleh mereka — baik dari jarak dekat maupun jauh — serta bernazar untuk mereka, bersumpah dengan selain nama Allah kepada mereka, dan hal-hal lain yang semisal maka ini dilarang dan sebagai bentuk penutupan pintu menuju kemusyrikan. 

  • Tidak Boleh Mengkhususkan Hari Tertentu untuk Ziarah

Mengkhususkan hari tertentu seperti hari Jumat atau hari raya untuk ziarah kubur tidak ada dasarnya. Yang disyariatkan adalah menziarahi kubur kapan saja waktu yang memungkinkan, baik malam maupun siang.

Adapun mengkhususkan hari atau malam tertentu adalah termasuk perkara tidak diajarkan  dan tidak ada asal-usulnya dalam syariat Nabi ﷺ  bersabda:

«من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد »

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka perbuatan itu tertolak.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan sabda beliau ﷺ:

«من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد »

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)

  • Tidak disyariatkan meletakkan bunga di atas kubur (nyekar).

Masyarakat awam di banyak daerah biasanya meletakkan bunga atau yang semisalnya di atas kubur mayit dan nampaknya mereka mengira bahwa perbuatan ini sesuai denga yang dikerjakan Nabi ﷺ dan berdalil dengan hadis dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi ﷺ melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda:

“‌إنَّهُمَا ‌يعذبان ‌وَمَا ‌يعذبان ‌فِي ‌كَبِير. أما أَحدهمَا فَكَانَ يمشي بالنميمة، وَأما الآخر فَكَانَ لَا يستنزه من بَوْله ” قَالَ: فَدَعَا بعسيب رطب فشقه بِاثْنَيْنِ ثمَّ غرس على هَذَا وَاحِد وعَلى هَذَا وَاحِدًا ثمَّ قَالَ لَعَلَّه أَن يُخَفف عَنْهُمَا مَا لم ييبسا “

“Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Adapun yang satu, ia tidak menjaga dirinya dari najis ketika buang air kecil. Dan yang satu lagi, ia suka mengadu domba. Lalu beliau meminta pelepah kurma basah, lalu membelahnya menjadi dua bagian, dan meletakkan satu pada kubur ini, dan satu pada kubur itu, kemudian bersabda: ‘Semoga dengannya diringankan siksa keduanya selama pelepah itu belum mengering.’”( muttafaqu’alaih)

Al-Khaththabi memberikan penjelasan terhadap hadis ini, ia berkata:

“Adapun tindakan beliau ﷺ yang menanam belahan pelepah kurma basah pada kedua kubur, serta sabda beliau: ‘Semoga denganya diringankan siksa keduanya selama belum mengering,’ maka itu dari sisi tabarruk (mengharap keberkahan) dengan bekas Nabi ﷺ dan doa beliau agar siksa keduanya diringankan. Seakan-akan beliau ﷺ menjadikan lamanya basahnya pelepah itu sebagai batas waktu untuk berlakunya keringanan siksa tersebut.

Hal itu bukan karena pada pelepah kurma basah terdapat suatu keistimewaan tertentu yang tidak ada pada pelepah kering lainya.”

Apa yang dikatakan oleh al-Khaththabi itu benar, dan inilah yang dipahami oleh para sahabat Rasulullah ﷺ. Hal ini terlihat dari tidak adanya riwayat dari salah seorang pun dari mereka yang meletakkan pelepah kurma atau bunga di atas kubur.

Ibnu Rusyd berkata:

“Nampak dari cara al-Bukhari menyusun hadis hadis dala bab ini dalam sahihnya bahwa beliau memahami bahwa peristiwa itu khusus untuk dua orang yang disebutkan dalam hadis.”

Karena itu, al-Bukhari langsung menyebutkan setelah hadis tersebut perkataan Ibnu ‘Umar, yaitu ketika ia melihat sebuah tenda (naungan) di atas kubur ‘Abdurrahman, ia berkata:

“انزعه يا غلام فإنما يظله عمله”

“Angkatlah (naungan) itu, wahai anak muda. Sesungguhnya yang menaungi (melindungi) dirinya hanyalah amalnya.”  (fathul Baari (3/466).

Perkataan Ibnu ‘Umar ini menunjukkan bahwa apa pun yang diletakkan di atas kubur tidak memberikan pengaruh apa-apa. Yang memberi pengaruh dan manfaat adalah amal saleh si mayit sendiri. Sehingga  tidak ada dasar (dalil) yang sah untuk amalan ini.

Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Ahkām al-Janā’iz, halaman 201. berkata: “Seandainya kelembapan (basahnya ranting atau pelepah) itu memang dimaksudkan secara zat (tujuan utama) dalam syariat, tentu para salafus shalih akan memahaminya, lalu mereka akan mengamalkannya — yakni dengan meletakkan pelepah kurma basah, daun-daun pohon (seperti daun ās), dan semisalnya di atas kubur ketika mereka menziarahinya.
Dan seandainya mereka melakukannya, niscaya hal itu akan masyhur dari mereka, dan pasti akan diriwayatkan kepada kita oleh para perawi yang terpercaya, karena hal itu termasuk perkara yang menarik perhatian dan banyak yang akan meriwayatkannya. Maka, ketika hal itu tidak diriwayatkan, hal ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut memang tidak pernah terjadi (di kalangan salaf).”

Bersambung insya Allah.

SummarizeShare234
Previous Post

Tafsir An-Naba’ 6

Next Post

Adab Ziarah Kubur (Bag. 2 – Selesai)

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. S1 hadis UIM, S2 Aqidah UIM. Saat ini menempuh program S3 Aqidah di UIM.

Related Stories

Bolehkah Tarawih dan Tahajjud Digabung

Bolehkah Tarawih dan Tahajjud Digabung?

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
February 24, 2026
0

Bolehkah Tarawih dan Tahajjud Digabung? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Banyak pertanyaan yang muncul pada bulan Ramadhan: “apakah shalat Tarawih boleh digabung dengan Tahajjud dalam satu rangkaian ibadah malam?” Ataukah justru keduanya adalah...

janda nikah tanpa wali

Benarkah Janda Bisa Menikah Tanpa Wali?

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
January 19, 2026
0

Benarkah Janda Bisa Menikah Tanpa Wali? Akad nikah merupakan salah satu akad paling agung dalam syariat Islam, karena mengandung konsekuensi agama dan sosial yang sangat besar. Oleh sebab...

macam-macam najis

Macam-Macam Najis Dan Cara Mencucikannya

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
December 8, 2025
0

Hukum Seputar Najis Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Dalam agama Islam, memahami konsep najis sangat penting, karena suci dan bersih dari najis adalah syarat sahnya ibadah terutama shalat, wudhu, mandi junub, dan...

Was-was Kentut Saat Shalat

Was-was Kentut Saat Shalat

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
November 28, 2025
0

Hukum Orang yang Ragu dan Was-Was Telah Keluar Angin Saat Shalat Pernahkah Anda sedang khusyuk dalam shalat, lalu tiba-tiba merasakan gerakan di perut dan muncul pertanyaan: “Apakah tadi...

Next Post

Adab Ziarah Kubur (Bag. 2 - Selesai)

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Menjaga Nyala Iman Sepanjang Tahun
  • Ramadhan Pergi, Masjid Sepi, Apa yang Terjadi?
  • Hukum Menggabungkan Puasa Sunnah Syawwal dengan Puasa Qadha

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official