Tanya.Islam
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
Tanya.Islam
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
Tanya.Islam
No Result
View All Result

Tafsir Surat An-Naba’ 28

Ustadz Dhiaurrahman, Lc by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
February 25, 2026
in An-Naba'
Reading Time: 3 mins read
Tafsir Surat An-Naba’ 28 Pendustaan yang Disengaja dan Membangkang

Tafsir Surat An-Naba’ 28: Pendustaan yang Disengaja dan Membangkang

Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.

Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾

“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.” [QS. an Naba’: 28]

Ayat ini menyingkap hakikat sikap orang-orang kafir terhadap wahyu bukan sekadar ragu atau lalai, tetapi sebuah pendustaan yang sadar, keras dan penuh perlawanan. Para ulama tafsir memberikan penjelasan yang saling melengkapi tentang makna kata كِذَّابًا (kidzdzaban). Mari kita simak penjelasannya.

Pendustaan yang Sangat Keras dan Disengaja

Imam ath Thabari رحمه الله  (w. 310 H) menjelaskan:

وَقَوْلُهُ تَعَالَى ﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: وَكَذَّبَ هَؤُلَاءِ الْكُفَّارُ بِحُجَجِنَا وَأَدِلَّتِنَا تَكْذِيبًا، وَقِيلَ: كِذَّابًا وَلَمْ يُقَلْ: تَكْذِيبًا، تَصْدِيرًا عَلَى فِعْلِهِ؛

“Firman-Nya “Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.”: (Maksudnya) Allah ﷻ menjelaskan bahwa orang-orang kafir itu mendustakan hujah-hujah dan dalil-dalil Kami dengan pendustaan; dan dikatakan “kidzdzaban”, bukan “takdziban”, sebagai penegasan yang mengikuti perbuatannya.” [Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an, 24/35, cet. Dar Hajar, Kairo].

Beliau menjelaskan bahwa kata “kidzdzaban” digunakan sebagai bentuk penegasan pendustaan. Sebagian ulama bahasa menjelaskan bahwa bentuk ini mengikuti pola bahasa Arab tertentu, termasuk dialek Yaman yang fasih. Karena pada ayat ini kata “kadzdzabu” hadir, para qari’ sepakat membaca “kidzdzaban” dengan penegasan (tasydid), sementara pada ayat lain yang tidak terikat oleh kata kerja, sebagian ulama—seperti al-Kisā’ī—membacanya dengan peringanan. [Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an, 24/35-36, cet. Dar Hajar, Kairo].

Pendustaan Besar dan Berlapis Makna

Imam al Qurthubi رحمه الله (w. 671 H) menjelaskan:

﴿وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا﴾ أَيْ: بِمَا جَاءَتْ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ، وَقِيلَ: بِمَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْكُتُبِ، وَقِرَاءَةُ الْعَامَّةِ كِذَّابًا بِتَشْدِيدِ الذَّالِ وَكَسْرِ الْكَافِ، عَلَى كَذَبَ؛ أَيْ: كَذَّبُوا تَكْذِيبًا كَبِيرًا، قَالَ الْفَرَّاءُ رحمه الله (ت ٢٠٧ هـ): هِيَ لُغَةٌ يَمَانِيَّةٌ فَصِيحَةٌ، يَقُولُونَ: كَذَبْتُ بِهِ كِذَّابًا، وَخَرَقْتُ الْقَمِيصَ خِرَاقًا، وَكُلُّ فِعْلٍ عَلَى وَزْنِ فَعَّلَ فَمَصْدَرُهُ فِعَّالٌ مُشَدَّدٌ فِي لُغَتِهِمْ؛

“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni terhadap apa yang dibawa oleh para nabi dan dikatakan pula: terhadap apa yang Kami turunkan berupa kitab-kitab. Bacaan kebanyakan qari’ adalah “kidzdzaban” dengan penegasan huruf dzal dan kasrah pada kaf, dari kata “kadzaba”, maksudnya mereka mendustakan dengan pendustaan yang besar. Al Farra’ رحمه الله (w. 207 H) berkata: ini adalah bahasa Yaman yang fasih; mereka mengatakan ‘aku mendustakannya dengan kidzdzaban’ dan ‘aku merobek baju dengan khiraqan’; setiap fi‘il pada pola fa’‘ala bermashdar fi‘‘al dalam bahasa mereka.” [Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an, 19/181, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh].

Ini menunjukkan bahwa pendustaan mereka bukan insidental, melainkan sikap permanen dan ideologis.

Pendustaan yang Disertai Pengingkaran Akhirat

Imam Ibnu Katsir رحمه الله (w. 774 H) menyampaikan:

“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni mereka mendustakan hujjah-hujjah Allah ﷻ dan dalil-dalil-Nya atas makhluk-Nya yang Dia turunkan kepada para rasul-Nya, lalu mereka menyambutnya dengan pendustaan dan sikap membangkang. Firman-Nya kidzdzaban bermakna ‘pendustaan’ dan ia adalah mashdar yang tidak berasal dari bentuk fi‘ilnya. Disebutkan bahwa pernah terdengar seorang Arab Badui meminta fatwa kepada al Farra’ رحمه الله (w. 207 H) di Bukit Marwah: “Al Halq (mencukur rambut) atau al qishar (memendekkan rambut), mana yang lebih engkau sukai?” Dan sebagian mereka melantunkan syair: ‘Sungguh telah lama ia menghalangiku dari sahabat-sahabatku, dan dari kebutuhan yang qadha-uha (pemenuhannya) menjadi kesembuhanku.’” [Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh].

Kata kidzdzaban di sini dipahami sebagai mashdar yang menunjukkan intensitas dan kesinambungan pendustaan.

Pendustaan yang Jelas dan Sadar

Syaikh as Sa‘di رحمه الله (w. 1376 H) menyampaikan:

﴿ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴾ أَيْ: كَذَّبُوا بِهَا تَكْذِيبًا وَاضِحًا صَرِيحًا، وَجَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَانَدُوهَا

“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan; yakni mereka mendustakannya dengan pendustaan yang jelas dan tegas, padahal bukti-bukti yang nyata telah datang kepada mereka, lalu mereka menyikapinya dengan penentangan.” [Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam].

Beliau menegaskan bahwa:

  • Al Bayyinat(bukti-bukti) dari Allah ﷻ melalui rasul-Nya telah datang kepada mereka;
  • Kebenaran sudah nyata bagi mereka tanpa sedikitpun keraguan;
  • Namun mereka tetap memilih sikap ‘inad(keras kepala dan membangkang).

Ini menunjukkan bahwa masalah utama mereka bukan kurangnya bukti, melainkan rusaknya sikap hati.

Kesimpulan: Pendustaan yang Mengantarkan pada Kebinasaan

Dari keempat tafsir di atas, dapat disimpulkan bahwa kata كِذَّابًا dalam an Naba’: 28 menggambarkan pendustaan yang disengaja, kuat dan berulang, yang lahir dari penolakan terhadap hari hisab dan sikap membangkang terhadap kebenaran yang sudah jelas.

Pendustaan ini bukan karena kurangnya dalil, melainkan karena hati yang menolak tunduk kepada Allah ﷻ. Inilah sebab mengapa ayat ini menjadi landasan penting dalam memahami hubungan antara akidah akhirat, penerimaan wahyu dan keselamatan manusia.

Pemahaman ini relevan sepanjang zaman, siapa pun yang menolak kebenaran setelah jelas baginya, sejatinya sedang mengulang sikap kaum yang Allah ﷻ cela dalam ayat ini, wal’iyadzu billah semoga kita dijauhkan dan terlindungi dari sikap demikian.

Wallahu a’lamu bishshawab.

Tags: ancaman bagi pendustakajian Islammakna an naba 28pembangkangan terhadap ayat Allahpendustaan yang disengajatadabbur qurantafsir al qurantafsir an naba 28tafsir ayattafsir surat an-naba
SummarizeShare234
Previous Post

Bolehkah Tarawih dan Tahajjud Digabung?

Next Post

Hukum Menghirup Inhaler Saat Puasa

Ustadz Dhiaurrahman, Lc

Ustadz Dhiaurrahman, Lc

Ustadz Dhiaurrahman, Lc. S1 Hadits Al Azhar - Mesir. Pengajar diniyah di Gistrav Islamia School

Related Stories

Tafsir Surat An-Naba’ 30

Tafsir Surat An-Naba’ 30

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
April 17, 2026
0

Tafsir Surah an Naba’: 30 - Ketika Azab Tidak Pernah Berhenti Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Allah ﷻ berfirman:  فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا “Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan...

Tafsir Surat An-Naba’ 29

Tafsir Surat An-Naba’ 29

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
April 15, 2026
0

Tafsir Surah an Naba’: 29 - Ketelitian Allah ﷻ dalam Mencatat Setiap Amal Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Allah ﷻ berfirman: ﴾وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴿ “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam...

Tafsir Surat An-Naba 27

Tafsir Surat An-Naba’ 27

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
February 15, 2026
0

Tafsir Surat An-Naba’ 27: Mengapa Orang Kafir Tidak Takut Hisab? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Al Qur-an tidak sekadar mengabarkan adanya azab, tetapi juga menjelaskan sebab-sebabnya secara rinci. Salah satu sebab utama...

Tafsir Surat An-Naba’ 26

Tafsir Surat An-Naba’ 26

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
February 15, 2026
0

Tafsir Surat An-Naba’ 26: Balasan yang Setimpal Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Surah an Naba’: 26 menegaskan prinsip agung dalam al Qur-an yaitu keadilan Allah yang sempurna. adalah Allah ﷻ berfirman: ﴿...

Next Post
Hukum Menghirup Inhaler Saat Puasa

Hukum Menghirup Inhaler Saat Puasa

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Tafsir Surat An-Naba’ 30
  • Menjaga Nyala Iman Sepanjang Tahun
  • Ramadhan Pergi, Masjid Sepi, Apa yang Terjadi?

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official